Liturgia Verbi 2026-09-20 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Biasa XXV

Minggu, 20 September 2026



Bacaan Pertama
Yes 55:6-9

"Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu."

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui,
berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya,
dan orang jahat meninggalkan rancangannya.
Baiklah ia kembali kepada Tuhan,
maka Tuhan akan mengasihaninya;
baiklah ia kembali kepada Allah kita,
sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah.
"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu,
dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,"
demikianlah firman Tuhan.
"Seperti tingginya langit dari bumi,
demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu,
dan rancangan-Ku di atas rancanganmu."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 145:2-3.8-9.17-18,R:18a

Refren: Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya.

*Setiap hari aku hendak memuji Engkau,
dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.
Besarlah Tuhan dan sangat terpuji,
kebesaran-Nya tidak terselami.

*Tuhan itu pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.
Tuhan itu baik kepada semua orang,
penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

*Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya
dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.
Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya,
pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.



Bacaan Kedua
Flp 1:20c-24.27a

"Bagiku hidup adalah Kristus."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:

Saudara-saudara,
dengan nyata Kristus dimuliakan di dalam tubuhku,
baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
Karena bagiku hidup adalah Kristus,
dan mati adalah keuntungan.
Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini,
itu berarti bagiku bekerja memberi buah.
Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
Aku didesak dari dua pihak:
Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus
-- ini memang jauh lebih baik;
tetapi demi kamu
lebih berguna aku tinggal di dunia ini.
Maka hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Kis 16:14b

Tuhan, bukalah hati kami,
sehingga kami memperhatikan sabda Putera-Mu.



Bacaan Injil
Mat 20:1-16

"Iri hatikah engkau karena aku murah hati?"

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus mengemukakan perumpamaan berikut
kepada murid-murid-Nya,
"Hal Kerajaan Surga itu
sama seperti seorang pemilik kebun anggur
yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja
untuk kebun anggurnya.
Setelah sepakat dengan para pekerja
mengenai upah satu dinar sehari,
ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi,
dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar.
Katanya kepada mereka:
'Pergilah juga kamu ke kebun anggurku,
dan aku akan memberimu apa yang pantas.'
Lalu mereka pun pergi.

Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar lagi,
dan melakukan hal yang sama.
Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi
dan mendapati orang-orang lain pula;
lalu katanya kepada mereka:
'Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?'
Jawab mereka: 'Tidak ada orang yang mengupah kami.'
Kata orang itu: 'Pergilah juga kamu ke kebun anggurku.'

Ketika hari sudah malam,
berkatalah pemilik kebun anggur itu itu kepada mandornya:
'Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarlah upah mereka,
mulai dari yang masuk terakhir
sampai kepada yang masuk pertama.'
Lalu datanglah mereka,
mulai yang bekerja kira-kira pukul lima sore,
dan mereka masing-masing menerima satu dinar.

Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama.
Mereka mengira akan mendapat lebih besar.
Tetapi mereka pun menerima
masing-masing satu dinar juga.
Ketika menerimanya,
mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya:
'Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam,
dan engkau menyamakan mereka dengan kami
yang sehari suntuk bekerja berat
dan menanggung panas terik matahari.'
Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka:
'Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau.
Bukankah kita telah sepakat satu dinar sehari?
Ambillah bagianmu dan pergilah!
Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini
sama seperti kepadamu.
Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku
menurut kehendak hatiku?
Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?'
Demikianlah orang yang terakhir
akan menjadi yang pertama 
dan yang pertama menjadi yang terakhir."

Demikianlah Sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan tentang seorang pemilik kebun anggur yang mencari pekerja. Ada yang mulai bekerja sejak pagi, ada yang mulai siang, bahkan ada yang baru bekerja menjelang sore. Ketika hari berakhir, semuanya menerima upah yang sama.

Pekerja yang datang sejak pagi merasa keberatan. Mereka berpikir, karena sudah bekerja lebih lama dan menanggung panas sepanjang hari, semestinya mereka menerima lebih banyak. Padahal pemilik kebun tidak melanggar kesepakatan. Mereka tetap menerima upah yang sudah disepakati sejak awal.
Persoalan muncul ketika mereka mulai membandingkan bagian mereka dengan bagian orang lain.

Ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Sering kali kita sebenarnya baik-baik saja dengan apa yang kita miliki. Kita bersyukur atas pekerjaan, keluarga, kesehatan, usaha, pelayanan, bahkan berbagai kesempatan yang Tuhan berikan. Tetapi rasa syukur itu bisa berubah ketika kita melihat orang lain menerima sesuatu yang menurut kita lebih baik.

Kita melihat teman lebih cepat berhasil. Orang lain lebih cepat naik jabatan. Usahanya berkembang lebih pesat. Anak orang lain tampak lebih sukses. Pelayanan orang lain lebih dikenal. Ada orang yang sepertinya mendapatkan banyak hal dengan perjuangan yang menurut kita tidak seberat perjuangan kita.

Lalu mulai muncul pertanyaan dalam hati: Mengapa dia? Mengapa bukan saya? Saya sudah bekerja lebih lama. Saya sudah berusaha lebih keras. Saya sudah lebih dahulu memulai.

Tanpa sadar kita berhenti melihat berkat kita sendiri karena terlalu sibuk menghitung berkat orang lain.
Pemilik kebun berkata, “Bukankah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”

Kalimat ini menyingkap persoalan yang sebenarnya. Masalahnya bukan karena pekerja pertama menerima terlalu sedikit. Masalahnya adalah mereka tidak nyaman melihat orang lain menerima kemurahan hati yang sama.

Kita pun bisa mengalami hal yang serupa. Kita tidak kehilangan apa-apa, tetapi tetap merasa dirugikan karena orang lain memperoleh sesuatu. Kita tidak kekurangan berkat, tetapi menjadi kecewa karena melihat berkat orang lain.

Padahal kemurahan Tuhan kepada orang lain tidak pernah mengurangi kemurahan Tuhan kepada kita.

Tuhan mempunyai cara sendiri dalam bekerja di dalam hidup setiap orang. Ada yang menerima kesempatan lebih cepat, ada yang harus menunggu. Ada yang perjalanan hidupnya terlihat lancar, ada yang harus melewati banyak tikungan. Kita sering hanya melihat hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui seluruh perjalanan yang sudah dilalui orang itu.

Bacaan pertama hari ini mengingatkan bahwa pikiran Tuhan bukan pikiran kita, dan jalan Tuhan bukan jalan kita. Kita melihat hidup dari bagian kecil yang sedang kita jalani. Tuhan melihat keseluruhan perjalanan.

Karena itu, hidup akan jauh lebih damai ketika kita belajar mensyukuri bagian kita.

Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Kita tetap bekerja, berkembang, belajar, dan memperjuangkan yang terbaik. Tetapi kita melakukannya tanpa menjadikan hidup orang lain sebagai ukuran kebahagiaan kita.

Setiap kali kita terus membandingkan diri dengan orang lain, selalu ada alasan untuk merasa kurang. Akan selalu ada orang yang lebih berhasil, lebih kaya, lebih terkenal, lebih sehat, atau lebih cepat mencapai sesuatu.

Sebaliknya, ketika kita melihat hidup kita sendiri dengan rasa syukur, kita mulai menyadari begitu banyak hal yang sebenarnya sudah Tuhan berikan.

Ada berkat yang mungkin sudah terlalu biasa sehingga tidak lagi kita sadari sebagai berkat. Ada keluarga yang masih bersama kita. Ada tubuh yang masih mampu bekerja. Ada kesempatan memperbaiki kesalahan. Ada orang-orang yang menyayangi kita. Ada pintu yang pernah Tuhan bukakan ketika kita hampir kehilangan harapan.

Syukuri bagian kita.

Dan ketika Tuhan memberkati orang lain, belajarlah ikut bersukacita. Keberhasilan mereka tidak mengurangi kesempatan kita. Berkat mereka tidak mengambil jatah kita.

Tuhan tidak pernah kehabisan kemurahan hati.
Maka hari ini Yesus mengajak kita mengubah cara memandang hidup. Dari membandingkan menjadi mensyukuri. Dari menghitung milik orang lain menjadi menghargai apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Kita akan lebih mudah menikmati berkat ketika berhenti menghitung berkat orang lain.
Syukuri bagian kita, jalani dengan setia, dan percayalah bahwa Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi setiap anak-Nya.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Kolumba dan Pamposa, Martir
Kolumba dan Pamposa adalah dua orang biarawati Benediktin. Ketika biara mereka diserang dan dihancurkan oleh Sultan Muhammed I dari Cordova, Spanyol, semua suster lain melarikan diri, kecuali Suster Kolumba. Di hadapan para penangkapnya ia mengakui diri sebagai biarawati. Oleh karena itu dia dipenggal kepalanya. Menyaksikan peristiwa itu, Pamposa menghadap raja untuk mempertobatkannya, tetapi ia mengalami nasib yang sama seperti Suster Kolumba. Peristiwa berdarah itu terjadi atas diri kedua suster itu pada tahun 853.

Santo Eustakius, Martir
Eustakius berasal dari Madrid, Spanyol. Dalam jajaran para kudus, ia dihormati sebagai salah seorang santo pelindung bagi para pemburu dan penolong dalam kesukaran hidup. Kisah hidupnya tidak cukup jelas diketahui. Namun dari cerita yang berkembang di kalangan umat beriman, diketahui bahwa ia adalah seorang panglima militer Romawi yang sangat masyhur.
Keanggotaannya di dalam Gereja Kristus terjadi secara ajaib. Konon sementara ia berburu di Guadagnolo, Italia Tengah, tampaklah padanya seekor rusa jantan yang menyandang sebuah 'salib' di antara tanduk­tanduknya. Ia terpaku memandang rusa itu dan tidak berani membunuhnya. Semenjak itu ia mulai banyak merenung perihal arti penglihatan ajaib itu. Lalu ia memutuskan untuk menjadi Kristen bersama anak­isterinya. Keputusan ini mengakibatkan ia dipecat dari jajaran militer Romawi dan dari jabatannya sebagai panglima perang. Ia kemudian mengalami banyak kesulitan hidup, menjadi miskin dan melarat. Isteri dan anak-anaknya dipisahkan dari padanya.
Krisis di dalam kekaisaran Romawi menyebabkan ia dipanggil kembali oleh Kaisar Trajanus untuk memimpin pasukan ke Eropa Timur. Dalam ekspedisi itu secara tak terduga ia bertemu kembali dengan isteri dan anak-anaknya jauh dari Roma. Dalam peperangan itu, Eustakius memperoleh kemenangan yang gemilang atas pasukan musuh, dan disambut dengan meriah oleh rakyat Roma.
Sebagai ucapan syukur kaisar mengadakan upacara korban untuk menghormati dewa-dewi Romawi. Eustakius menolak mengikuti upacara kafir itu justru karena imannya akan Kristus. Ia memang sadar sepenuhnya bahwa kekafiran merupakan lawan yang berat dan berbahaya, namun demi imannya ia dengan tegas menolak setiap bujukan kaisar untuk ikut serta di dalam upacara syukur kafir itu. Karena pendiriannya yang tegas itu, akhirnya ia bersama keluarganya dicampakkan ke dalam api hingga hangus terbakar pada tahun 120.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-09-19 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV

Sabtu, 19 September 2026

PF S. Yanuarius, Uskup dan Martir



Bacaan Pertama
1Kor 15:35-37.42-49

"Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidak-binasaan."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara, mungkin ada orang bertanya,
"Bagaimanakah orang mati dibangkitkan?
Dan dengan tubuh apa mereka akan datang kembali?"
Hai orang bodoh!
Benih yang kautaburkan, tidak akan tumbuh dan hidup,
jika tidak mati dahulu.
Dan yang kautaburkan itu
bukanlah rupa tanaman yang akan tumbuh,
melainkan biji yang tidak berkulit,
umpamanya biji gandum atau biji lain.

Demikian pulalah halnya dengan kebangkitan orang mati:
Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan;
ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan;
ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.
Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah,
yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.
Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.
Seperti ada tertulis,
'Manusia pertama, Adam, menjadi makhluk yang hidup.'
tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah,
tetapi yang alamiah;
barulah kemudian yang rohaniah.
Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani;
manusia kedua berasal dari surga.
Makhluk-makhluk alamiah
sama dengan yang berasal dari debu tanah,
dan makhluk-makhluk surgawi
sama dengan Dia yang berasal dari surga.

Jadi seperti kini kita mengenakan rupa dari manusia duniawi,
demikian pula kita akan mengenakan rupa dari yang surgawi.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 56:10-14,R:14b

Refren: Aku berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.

*Musuhku akan mundur pada waktu aku berseru;
aku yakin bahwa Allah berpihak kepadaku.

*Kepada Allah, yang firman-Nya kupuji,
kepada Tuhan, yang sabda-Nya kujunjung tinggi,
kepada-Nya aku percaya, aku tidak takut.
Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku?

*Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kupenuhi,
dan kurban syukur akan kupersembahkan kepada-Mu.
Sebab Engkau telah meluputkan daku dari maut,
dan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung;
sehingga aku boleh berjalan di hadapan Allah
dalam cahaya kehidupan.



Bait Pengantar Injil
Luk 8:15

Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah
dalam hati yang baik dan tulus ikhlas
dan menghasilkan buah dalam ketekunan.



Bacaan Injil
Luk 8:4-15

"Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan sabda itu
dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Banyak orang datang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus.
Maka kata Yesus dalam suatu perumpamaan,
"Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih.
Waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,
lalu diinjak-injak orang
dan dimakan burung-burung di udara sampai habis.
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,
dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri,
sehingga terhimpit sampai mati
oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama.
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik,
lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat."

Setelah itu Yesus berseru,
"Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah mendengar."

Para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu.
Yesus menjawab,
"Kalian diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah,
tetapi hal itu diwartakan kepada orang lain dalam perumpamaan,
supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat,
dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.

Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah sabda Allah.
Yang jatuh di pinggir jalan
ialah orang yang telah mendengarnya,
kemudian datanglah Iblis,
lalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka,
supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu,
ialah orang yang setelah mendengar sabda itu,
menerimanya dengan gembira,
tetapi mereka tidak berakar.
Mereka hanya percaya sebentar saja
dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
Yang jatuh dalam semak duri,
ialah orang yang mendengar sabda itu,
dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit
oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup,
sehingga tidak menghasilkan buah yang matang.

Yang jatuh di tanah yang baik
ialah orang yang mendengar sabda itu
dan menyimpannya dalam hati yang baik,
dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan tentang seorang penabur. Benih yang sama jatuh di tempat yang berbeda: di pinggir jalan, di tanah berbatu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik.

Yesus menjelaskan bahwa benih itu adalah Firman Tuhan. Maka persoalannya bukan apakah Tuhan masih menaburkan Firman-Nya, tetapi bagaimana keadaan hati kita ketika Firman itu datang.

Ada hati seperti pinggir jalan: mendengar, tetapi Firman lewat begitu saja. Ada hati seperti tanah berbatu: menerima dengan semangat, tetapi tidak cukup dalam, sehingga mudah goyah ketika kesulitan datang. Ada pula hati yang dipenuhi semak duri: Firman mulai tumbuh, tetapi terdesak oleh kekhawatiran, kesibukan, ambisi, dan keinginan lain.

Lalu ada tanah yang baik.

Tanah yang subur bukan tanah yang sejak awal sempurna. Tanah menjadi subur karena terus diolah: batu dibuang, semak dibersihkan, tanah digemburkan, lalu benih dipelihara.

Begitu pula hati kita.

Menjadi tanah yang subur berarti terus memberi ruang bagi Firman Tuhan. Kita bersedia membuang hal-hal yang menghambat, memperdalam iman, dan membiarkan Firman itu bekerja dalam hidup kita.

Firman Tuhan memerlukan tempat untuk tinggal, bukan hanya tempat untuk singgah.

Yesus juga mengatakan bahwa tanah yang baik menghasilkan buah dalam ketekunan. Benih tidak langsung menjadi pohon pada hari ketika ditanam. Ada proses untuk berakar, bertumbuh, lalu menghasilkan buah.

Demikian pula hidup kita. Terkadang kita sudah berdoa tetapi keadaan belum berubah. Kita sudah berusaha memperbaiki diri tetapi kelemahan lama masih muncul. Itu bukan berarti Firman Tuhan tidak bekerja.

Teruslah mengolah tanah hati kita.

Tuhan terus menaburkan benih yang baik. Bagian kita adalah menyediakan hati yang subur agar Firman itu dapat berakar, bertumbuh, dan akhirnya terlihat buahnya dalam cara kita hidup.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yanuarius, Martir
Konon Yanuarius lahir di Napoli, Italia pada akhir abad keempat. Beliau adalah Uskup Beneventum, Italia Selatan pada masa penganiayaan terhadap orang Kristen di bawah pemerintahan Kaisar Diokletianus.
Pembunuhan atas dirinya bermula dari kunjungannya ke penjara untuk menengok sahabat-sahabatnya yang dipenjarakan: Sossus, seorang diakon dari Miseno, bersama dengan Proculus, diakon dari Pozzuoli, dan dua orang awam lainnya: Euticius dan Acutius. Sedang ia menghibur rekan-rekannya itu, ia ditangkap dan diseret masuk penjara. Ia ditangkap oleh kaki tangan Gubernur Campania, bersama-sama dengan teman seperjalanannya diakon Festus dan Desiderius.
Setelah mengalami aneka siksaan fisik, mereka semua dibawa ke kandang binatang buas yang kelaparan. Aneh sekali bahwa binatang­binatang buas yang kelaparan itu seolah-olah takut menyentuh tubuh mereka. Melihat itu, rakyat bersama gubernurnya malu dan menuduh mereka menggunakan ilmu gaib untuk membungkam binatang-binatang garang itu. Segera para penguasa memutuskan hukuman penggal kepala atas mereka. Mereka mati terbunuh pada tahun 305 di Pozzuoli. Jenazah Uskup Yanuarius dibawa ke Napoli dan dimakamkan di dalam katedral.
Pada abad ke lima relikui Santo Yanuarius dipindahkan ke San Gennaro, dekat Solfatara. Selama perang Norman, relikui itu dipindahkan ke Beneventum, lalu kemudian ke Monte Virgine. Pada tahun 1491, relikui itu dibawa ke Napoli dan dimakamkan di sana.
Yanuarius dihormati sebagai pelindung kota Napoli. Selama abad ke-4, sebuah tempat yang berisi darah diperkirakan berasal dari Yanuarius. Darah itu tersimpan di dalam katedral Napoli. Setiap tahun, darah itu mencair kembali pada tanggal pestanya, 19 September. Mengenai hal itu, tak ada suatu pembuktian ilmiah yang dapat menjelaskan hal itu. Tetapi oleh umat kota Napoli, kejadian aneh itu merupakan sebuah mujizat.

Santo Theodorus, Uskup dan Pengaku Iman
Sepeninggal Uskup Canterbury, Inggris, Sri Paus memilih Theodorus sebagai penggantinya meskipun usianya sudah 66 tahun. Theodorus yang dikenal sebagai seorang biarawan awam ini lahir pada tahun 602 di Tarsus (Turki Timur), kota kelahiran Santo Paulus Rasul.
Sebagai gembala umat, Theodorus menyadari situasi umum Gereja di Inggris. Gereja belum benar-benar berakar di tanah Inggris. Oleh karena itu ia berusaha keras untuk memecahkan berbagai masalah yang ada dalam tubuh Gereja. Ia memanggil sinode para uskup Inggris untuk mendiskusikan masalah-masalah itu sampai tuntas. Tata cara hidup para imam, rohaniwan/wati dan lembaga-lembaga gerejawi dibaharuinya. Di bidang pendidikan ia membuka sekolah-sekolah di bawah pimpinan Santo Adrianus dari Afrika. Ia membaharui liturgi, nyanyian-nyanyian koral dan menegakkan hukum Gereja, serta berusaha mempererat hubungan Gereja di Inggris dengan Roma. Theodorus meninggal dunia pada tahun 690.

Santa Emilia de Rodat, Pengaku Iman
Emilia lahir di Rodez, sebuah kota di Prancis Selatan pada tahun 1787. Semenjak kecil dia dididik dan dibesarkan oleh neneknya di Villefranche-de-Rouergue, tak jauh dari Rodez. Di sana pada usia mudanya ia dikenal sebagai seorang gadis periang, penuh optimisme. Tetapi pada usia 17 tahun ia mengalami suatu perubahan yang mendalam, lalu memutuskan untuk mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Mula-mula ia berkarya sebagai seorang guru bantu di sekolah Maison Saint-Cyr, Villefranche. Tetapi kemudian ia memprakarsai pendirian sebuah sekolah khusus untuk anak-anak dari keluarga-keluarga miskin tanpa memungut biaya. Sekolah ini dimulainya pada tahun 1815 dengan dukungan kuat dari Abbe Marty, kepala sekolah Maison Saint-Cyr, Villefranche.
Sekitar tahun itu ia menjadi suster. Beberapa tahun kemudian ia kemudian mendirikan sebuah kongregasi baru: 'Kongregasi Keluarga Kudus dari Villefranche'. Kongregasi ini berkarya di bidang pendidikan, perawatan kesehatan dan pemeliharaan orang-orang miskin. Rumah biaranya didirikan di Aubin, dekat Rodez. Emilia meninggal dunia pada tanggal 19 September 1852. Ia dinyatakan 'kudus' pada tahun 1950.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-09-18 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV

Jumat, 18 September 2026



Bacaan Pertama
1Kor 15:12-20

"Andaikata Kristus tidak bangkit, sia-sialah kepercayaan kita."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
jika kami wartakan,
bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati,
bagaimana mungkin ada di antara kalian
yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?
Kalau tidak ada kebangkitan orang mati,
maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
Dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan,
sia-sialah pewartaan kami, dan sia-sialah pula kepercayaanmu.
Apalagi andaikata demikian, kami ternyata berdusta terhadap Allah,
karena tentang Dia kami katakan,
bahwa Ia telah membangkitkan Kristus,
padahal Ia tidak membangkitkan-Nya,
andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan.

Sebab andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan,
maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
Dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan,
maka sia-sialah kepercayaanmu,
dan kalian masih hidup dalam dosamu.
Dengan demikian,
binasa pulalah orang-orang yang meninggal dalam Kristus.
Dan jikalau kita berharap pada Kristus hanya dalam kehidupan ini,
kita ini orang-orang yang paling malang di antara semua manusia.

Namun ternyata Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati
sebagai yang sulung
dari antara orang-orang yang telah meninggal dunia.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 17:1.6-7.8b.15,R:15b

Refren: Pada waktu bangun aku menikmati hadira-Mu, ya Tuhan.

*Dengarkanlah, Tuhan pengaduan yang jujur,
perhatikanlah seruanku;
berilah telinga kepada doaku,
doa dari bibir yang tidak menipu.

*Aku berseru kepada-Mu karena Engkau menjawab aku, ya Allah;
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.
Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib,
ya Engkau yang menyelamatkan orang-orang
yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.

*Peliharalah aku seperti biji mata,
sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.
Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu,
dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:25

Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi
sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.



Bacaan Injil
Luk 8:1-3

"Beberapa wanita menyertai Yesus dan melayani Dia dengan harta bendanya."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa
memberitakan Injil Kerajaan Allah.
Kedua belas murid menyertai Dia,
dan juga beberapa wanita,
yang telah disembuhkan-Nya dari roh-roh jahat serta berbagai macam penyakit,
selalu menyertai Dia.
Pada wanita itu ialah:
Maria yang disebut Magdalena,
yang telah dibebaskan dari tujuh setan;
Yohana, isteri Khuza, bendahara Herodes,
Susana dan banyak lagi yang lain.
Wanita-wanita itu melayani seluruh rombongan
dengan harta kekayaan mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Injil hari ini, Lukas menceritakan bahwa Yesus berjalan dari kota ke kota dan dari desa ke desa untuk memberitakan Kerajaan Allah. Kedua belas murid menyertai-Nya. Tetapi ternyata bukan hanya mereka. Ada pula beberapa perempuan, seperti Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak perempuan lainnya. Mereka ikut mendukung pelayanan Yesus dengan apa yang mereka miliki.

Bagian ini menarik karena Lukas secara khusus menyebut mereka. Mereka bukan sekadar orang yang kebetulan berada di sekitar Yesus. Mereka ikut mengambil bagian dalam karya-Nya.

Kita sering menghubungkan pelayanan dengan orang-orang yang terlihat di depan. Yang berkhotbah, memimpin, mengajar, atau menjadi pengurus. Padahal sebuah karya besar hampir selalu ditopang oleh banyak orang yang mungkin namanya tidak pernah disebut.

Dalam keluarga pun demikian. Ada orang yang bekerja mencari nafkah, ada yang mengurus rumah, mendampingi anak, menjaga orangtua, mengatur kebutuhan sehari-hari. Perannya berbeda, tetapi semuanya ikut membangun kehidupan keluarga.

Dalam komunitas, paroki, organisasi, maupun pekerjaan, pola yang sama terjadi. Ada yang mempunyai kemampuan berbicara. Ada yang ahli mengatur. Ada yang punya waktu. Ada yang memiliki jaringan. Ada yang mampu memberi dukungan finansial. Ada pula yang tekun mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil yang hampir tidak pernah terlihat.
Semua itu dapat menjadi bagian dari karya Tuhan.

Masalahnya, terkadang kita terlalu cepat membandingkan bagian kita dengan bagian orang lain. Kita melihat orang lain mampu melakukan sesuatu yang besar, lalu merasa kontribusi kita terlalu kecil. Padahal Tuhan tidak meminta semua orang melakukan hal yang sama.
Para perempuan yang disebut dalam Injil hari ini tidak mengambil alih tugas kedua belas rasul. Mereka melakukan bagian mereka sendiri. Dan bagian itu penting.

Tuhan pun dapat memakai apa yang ada pada kita sekarang.
Mungkin kita tidak mempunyai banyak waktu, tetapi kita masih dapat memberi perhatian. Mungkin kemampuan kita terbatas, tetapi ada sesuatu yang tetap dapat kita kerjakan. Mungkin kita tidak berada di posisi yang menentukan, tetapi kita dapat membantu agar pekerjaan orang lain berjalan lebih baik.
Yang Tuhan cari bukan selalu sesuatu yang besar. Tuhan mencari kesediaan.

Ketika setiap orang mau melakukan bagian yang dipercayakan kepadanya, sebuah karya dapat bertumbuh jauh melampaui kemampuan satu orang.
Begitu pula dalam kehidupan beriman. Kita tidak hanya dipanggil untuk menerima berkat, mendengarkan firman, atau menikmati kebaikan Tuhan. Kita juga dipanggil untuk ikut mengambil bagian dalam karya-Nya.
Maka pertanyaannya bukan, “Mengapa saya tidak mendapat peran seperti orang lain?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa bagian yang dapat saya kerjakan hari ini?”

Kita tidak harus melakukan semuanya. Cukup setia melakukan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita. Sebab ketika kita menyerahkan waktu, kemampuan, tenaga, perhatian, dan apa pun yang kita miliki kepada Tuhan, sesuatu yang sederhana dapat menjadi bagian dari karya-Nya yang jauh lebih besar.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yosef Cupertino, Pengaku Iman
Yosef lahir di Cupertino, Lecce, Italia Selatan pada tanggal 17 Juni 1603. Keluarganya miskin sesuai dengan pendapatan ayahnya sebagai seorang tukang sepatu. Namanya sejak kecil adalah Yosef Desa. Di sekolah ia terkenal bodoh dan lamban. Tugas-tugas sekolah yang paling mudah pun tak mampu diselesaikannya. Kesehatannya pun selalu terganggu hingga ia berusia 10 tahun. Meskipun begitu ia bercita-cita tinggi. Tuhan kiranya mempunyai rencana khusus atas dirinya dengan menganugerahkan kepadanya kemampuan ber-ekstase. Karena itu kawan­kawan sekolahnya menjuluki dia: "Si mulut ternganga" (kebiasaan orang berekstase).
Kesehatannya, yang selalu terganggu oleh berbagai penyakit, membuat ibunya hampir-hampir putus asa. Banyak uang dihabiskan untuk biaya perawatan. Suatu hari ibunya membawa dia kepada seorang pertapa yang tinggal tak jauh dari Kupertino, untuk meminta doa penyembuhan. Akhirnya berkat doa-doa sang pertapa dan iman ibunya, Yosef dapat sembuh dari penyakitnya.
Cita-citanya menjadi seorang biarawan mulai dipikirkannya lagi. Ia lebih tertarik pada cara hidup Santo Fransiskus Asisi dan bermaksud menjadi pengikutnya. Pada usia 17 tahun ia diterima dalam novisiat bruder-bruder Kapusin. Tetapi segera tampak bahwa Yosef adalah pemuda yang minder, bodoh, banyak melakukan kesalahan dalam tugasnya. Oleh karena itu setelah 8 bulan di dalam biara, Yosef dikeluarkan. Memang ia sedih namun tidak berputus asa. Ia tetap berusaha untuk meraih cita-citanya. Dengan pertolongan pamannya, seorang imam Konventual, ia diterima di dalam biara itu. Ia ditugaskan menjaga kuda-kuda di Grotela dan sesekali ditugaskan mengemis di kota untuk kepentingan biara. Tugas-tugas ini dilaksanakannya dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Kehidupan doa tidak pernah dilupakannya. Lama-kelamaan ia mulai dikenal oleh seluruh penduduk kota dan rekan-rekannya sebiara sebagai seorang biarawan yang saleh. Oleh rekan-rekannya, Yosef dianggap sebagai teladan kesucian hidup. Melihat kemajuan hidup rohaninya yang besar, pimpinan biara mengizinkan dia memasuki masa novisiat dan selanjutnya mengizinkan dia mempersiapkan diri untuk menjadi imam. Berkat Tuhan menyertai dia. Pada ujian penghabisan, Yosef dinyatakan lulus dengan baik dan layak ditahbiskan menjadi imam, pada tahun 1628. Anehnya, walaupun Yosef sulit sekali membaca namun ia dapat memecahkan masalah teologi yang rumit-rumit. Rahmat Tuhan pun makin lama makin berlimpah. Ia dianugerahi karisma dapat terbang, mampu meramal dan menyembuhkan penyakit.
Ada suatu kejadian luar biasa yang disaksikan orang banyak: pada suatu hari, ia terbang di atas kepala orang-orang yang ada di dalam gereja dari pintu gereja sampai ke altar. Ia pernah terbang ke puncak pohon zaitun dan bergantung di situ sambil bermeditasi. Anehnya dahan pohon itu tidak melengkung sama sekali. Semuanya itu menarik minat banyak orang termasuk rekan-rekannya. Dengan sendirinya rumah biara selalu dikerumuni banyak orang untuk menemui Yosef. Oleh sebab itu, pemimpin biara memindahkan dia ke biara yang terpencil selama 35 tahun hingga wafatnya. Yosef meninggal di Osimo, Italia, pada tanggal 18 September 1663.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-09-17 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV

Kamis, 17 September 2026

PF S. Robertus Bellarmino, Uskup dan Pujangga Gereja



Bacaan Pertama
1Kor 15:1-11

"Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kalian mengimani."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
aku mau mengingatkan kalian akan Injil
yang sudah kuwartakan kepadamu dan sudah kalian terima,
dan yang di dalamnya kalian teguh berdiri.
Oleh Injil itu kalian diselamatkan,
asal kalian berpegang teguh padanya
sebagaimana kuwartakan kepadamu;
kecuali kalau kalian sia-sia saja menjadi percaya.

Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu,
yaitu apa yang telah kuterima sendiri,
ialah bahwa Kristus telah wafat karena dosa kita,
sesuai dengan Kitab Suci;
bahwa Ia telah dimakamkan,
dan pada hari ketiga telah dibangkitkan,
sesuai dengan Kitab Suci;
bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas
dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
Sesudah itu Ia menampakkan diri
kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus;
kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang,
tetapi beberapa di antaranya sudah meninggal dunia.

Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus,
kemudian kepada semua rasul.
Dan yang paling akhir Ia menampakkan diri juga kepadaku,
seperti kepada anak yang paling hina dari semua rasul
dan tak layak disebut rasul,
sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
Tetapi berkat kasih karunia Allah,
aku menjadi sebagaimana aku sekarang,
dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku
tidak sia-sia.
Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua;
tetapi bukannya aku,
melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
Sebab itu entah aku, entah mereka, begitulah kami mengajar,
dan begitu pulalah kalian mengimani.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 118:1-2.16a-17.28,R:1a

Refren: Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.

*Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik!
Kekal abadi kasih setia-Nya.
Biarlah Israel berkata,
"Kekal abadi kasih setia-Nya!"

*Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan,
tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan!
Aku tidak akan mati, tetapi hidup,
dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan!

*Allahkulah Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu,
Allahku, aku hendak meninggikan Dikau.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:28

Datanglah kepada-Ku,
kalian semua yang letih dan berbeban berat.
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.



Bacaan Injil
Luk 7:36-50

"Dosanya yang banyak telah diampuni,
karena ia telah banyak berbuat kasih."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Pada suatu ketika
seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya.
Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa.
Ketika mendengar
bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu,
datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi.
Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya,
lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya,
dan menyekanya dengan rambutnya.
Kemudian ia mencium kaki Yesus
dan meminyakinya dengan minyak wangi.

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu,
ia berkata dalam hati,
"Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu,
siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya ini;
Mestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa."

Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu,
"Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu."
Sahut Simon, "Katakanlah, Guru."
"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang.
Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
Karena mereka tidak sanggup membayar,
maka utang kedua orang itu dihapuskannya.
Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?"

Jawab Simon,
"Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!"
Kata Yesus kepadanya, "Betul pendapatmu itu!"
Dan sambil berpaling kepada wanita itu,
Yesus berkata kepada Simon, "Engkau melihat wanita ini?
Aku masuk ke dalam rumahmu,
namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku;
tetapi wanita ini membasahi kaki-Ku dengan air mata
dan menyekanya dengan rambutnya.
Engkau tidak mencium Aku,
tetapi sejak Aku masuk, ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.
Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak,
tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
Sebab itu Aku berkata kepadamu,
'Dosanya yang banyak itu telah diampuni,
karena ia telah banyak berbuat kasih.
Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih!"

Lalu Yesus berkata kepada wanita itu, "Dosamu telah diampuni."
Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati,
"Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?"
Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu,
"Imanmu telah menyelamatkan dikau.   Pergilah dengan selamat!"

Demikianlah Sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan *Daily Fresh Juice*:

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Yesus sedang makan di rumah seorang Farisi bernama Simon.
Tiba-tiba datang seorang perempuan yang dikenal sebagai orang berdosa.
Ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi,
berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya sambil menangis,
membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, mencium kaki-Nya dan meminyakinya.

Simon melihat perempuan itu lalu langsung membuat penilaian.
Dalam pikirannya, kalau Yesus benar-benar seorang nabi,
seharusnya Ia tahu siapa perempuan yang menyentuh-Nya: seorang berdosa.

Menariknya, Yesus tahu bukan hanya siapa perempuan itu.
Yesus juga tahu apa yang sedang dipikirkan Simon.

Lalu Yesus menceritakan perumpamaan tentang dua orang yang berutang.
Yang satu berutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
Keduanya tidak sanggup membayar, sehingga utang mereka dihapuskan.
Yesus bertanya,
siapa yang akan lebih mengasihi orang yang membebaskan utangnya?
Simon menjawab, tentu orang yang mendapat penghapusan utang lebih besar.

Dari sana Yesus memperlihatkan perbedaan besar antara cara Simon melihat perempuan itu dan cara Tuhan melihatnya.
Simon melihat masa lalunya. Yesus melihat hatinya sekarang.
Simon melihat label: perempuan berdosa. Yesus melihat pertobatan.
Simon melihat seseorang yang tidak pantas mendekat.
Yesus melihat seseorang yang datang dengan iman, kasih, kerendahan hati, dan air mata.

Inilah salah satu persoalan dalam hidup kita.
Manusia sering mengunci seseorang pada masa lalunya.
Sekali pernah gagal, namanya terus dikaitkan dengan kegagalan itu.
Sekali pernah melakukan kesalahan, orang sulit percaya bahwa ia dapat berubah.
Sekali pernah jatuh, semua langkah berikutnya dinilai melalui cerita lama.

Bahkan terkadang bukan orang lain yang melakukan itu kepada kita.
Kita sendiri yang terus mengunci diri pada masa lalu.
Kita berkata dalam hati,
“Saya memang seperti ini.”
“Saya sudah terlalu jauh.”
“Kesalahan saya terlalu besar.”
“Hidup saya sudah telanjur berantakan.”
“Tidak mungkin Tuhan masih mau memakai saya.”

Tanpa sadar, masa lalu yang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan hidup berubah menjadi penjara.

Injil hari ini mengatakan sesuatu yang sangat penting:
masa lalu memang nyata, tetapi masa lalu bukan akhir.

Yesus tidak menyangkal bahwa perempuan itu mempunyai sejarah hidup yang buruk.
Yesus juga tidak mengatakan bahwa dosa tidak penting.
Justru karena dosa itu serius, pengampunan menjadi begitu berarti.

Pertobatan bukan berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah terjadi.
Pertobatan adalah membiarkan Tuhan menulis kelanjutan cerita kita.

Kita tidak dapat kembali ke masa lalu untuk mengubah apa yang sudah terjadi.
Tetapi bersama Tuhan,
kita dapat menentukan apa yang akan kita lakukan setelahnya.

Kesalahan dapat menjadi pelajaran.
Luka dapat menjadi tempat pertumbuhan.
Kegagalan dapat melahirkan kerendahan hati.
Bahkan pengalaman jatuh dapat membuat seseorang lebih mudah memahami orang lain yang sedang berjuang.

Perempuan dalam Injil itu tidak datang dengan pembelaan.
Ia tidak menjelaskan alasan di balik kehidupannya.
Ia tidak mencoba meyakinkan semua orang bahwa dirinya sebenarnya baik.
Ia datang kepada Yesus.
Dan itu cukup.

Ada waktunya
kita juga perlu berhenti sibuk menjelaskan masa lalu kepada semua orang.
Kita tidak akan pernah mampu mengendalikan
bagaimana setiap orang memandang kita.
Akan selalu ada orang yang mengingat versi lama dari diri kita.

Yang jauh lebih penting adalah: siapa kita di hadapan Tuhan hari ini?
Apakah hati kita sedang berubah?
Apakah kita berani mengakui kesalahan?
Apakah kita masih mau kembali?
Apakah kita bersedia memulai lagi?

Simon merasa dirinya lebih baik daripada perempuan itu.
Tetapi justru perempuan itulah yang memperlihatkan kasih lebih besar.
Ada bahaya ketika kita terlalu sibuk melihat dosa orang lain
sampai lupa bahwa kita sendiri hidup karena belas kasih Tuhan.
Kita mungkin tidak mempunyai masa lalu seperti perempuan itu.
Namun setiap orang tetap membutuhkan pengampunan.

Semakin kita menyadari betapa besar belas kasih Tuhan kepada kita,
semakin kecil keinginan kita untuk menghakimi orang lain.

Yesus akhirnya berkata kepada perempuan itu,
“Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat.”

Bukan masa lalunya yang mendapat kata terakhir.
Tuhanlah yang mendapat kata terakhir.

Mungkin hari ini
ada bagian hidup kita yang masih terus dihantui oleh kesalahan lama.
Mungkin ada rasa malu, rasa bersalah, kegagalan, keputusan buruk,
atau pengalaman yang ingin kita hapus dari kehidupan.

Kita memang tidak bisa menghapus sejarah.
Tetapi Tuhan dapat mengubah maknanya.

Masa lalu dapat menjadi tempat kita belajar betapa besar belas kasih Tuhan.
Masa lalu dapat menjadi alasan untuk hidup lebih bijaksana.
Masa lalu dapat menjadi kesaksian bahwa seseorang sungguh bisa berubah.

Karena itu, kita juga perlu berhati-hati agar tidak mengunci orang lain pada kesalahannya.
Kalau Tuhan memberi ruang untuk pertobatan, kita pun perlu belajar memberi ruang bagi seseorang untuk berubah.

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
siapa kita kemarin memang bagian dari diri kita.
Tetapi itu bukan satu-satunya bagian.
Tuhan melihat siapa kita hari ini, dan Tuhan melihat siapa kita
dapat menjadi ketika kita bersedia berjalan bersama-Nya.

Masa lalu bukan akhir.
Selama kita masih mau kembali kepada Tuhan, cerita kita masih terus ditulis.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Robertus Bellarminus, Uskup dan Pujangga Gereja
Robertus Bellarminus lahir di Montepulciano, dekat Siena, Italia pada tanggal 4 Oktober 1542. Oleh ibunya, adik Sri Paus Marsellus II, Robertus memperoleh pendidikan dasar yang sangat baik. Di kolese Yesuit setempat, Robertus terkenal cerdas dan ramah. Semua guru dan kawannya senang padanya. Ia senang berorganisasi dan menghimpun kawan-kawannya untuk mendiskusikan berbagai persoalan penting. Sastera Latin sangat digemarinya sehingga kadang-kadang ia semalaman sibuk mengarang dan membaca.
Ayahnya menginginkan dia menjadi dokter agar kelak dapat merawat para raja dan pangeran. Semua angan-angan ayahnya seolah sirna seketika pada waktu dia menyatakan keinginannya untuk menjalani hidup membiara dalam Serikat Yesus. Dengan tegas ayahnya menolak cita-citanya itu. Sebaliknya ibunya sangat mendukung bahkan menghendaki agar kelima anaknya menjadi imam dalam Serikat Yesus. Dengan berbagai cara ayahnya menghalangi dia.
Robertus tetap tenang menghadapi ayahnya. "Aku rasa, tugas seorang imam pun tidak jauh berbeda dengan tugas seorang dokter. Bukankah banyak orang membutuhkan pertolongan seorang imam? Lihat! Betapa banyak orang yang terlantar jiwanya karena kekurangan imam," demikian kata-kata Robert kepada ayahnya. "Baiklah Robert, kalau itulah yang kaukehendaki. Ayah tidak bisa menghalang-halangi kehendak Tuhan atas dirimu," jawab ayahnya.
Pada tanggal 19 September 1560, Robertus meninggalkan Montepulciano menuju Roma. Ketika itu ia berumur 18 tahun. Setibanya di Roma, ia menghadapi Pater Laynez, Jenderal Serikat Yesus masa itu. Pater Laynez menerima dia dengan senang hati dalam pangkuan Serikat Yesus. Ia diizinkan menjalani masa novisiat bersama rekan-rekannya yang lain. Masa novisiat ini dipersingkat karena kepintaran dan kepribadiannya yang mengesankan. Ia lalu disuruh belajar Filsafat di Collegium Romanum di Roma selama tiga tahun, dan belajar Teologi di Universitas Padua selama dua tahun.
Karya imamatnya dimulai dengan mengajar Teologi di Universitas Louvain, Belgia. Di sini ia meningkatkan pengajaran bahasa Hibrani dan mempersiapkan perbaikan terjemahan Alkitab Vulgata. Dari Universitas ini pula, ia melancarkan perlawanan gencar terhadap ajaran Protestan dengan menerbitkan bukunya berjudul "Disputationes." Dari Louvain, Pater Robertus dipindahkan ke Collegium Romanum, alma maternya dahulu. Di sana ia diangkat menjadi pembimbing rohani, rektor sekaligus Provinsial Yesuit. Di kalangan istana kepausan, Robertus dikenal sebagai penolong dalam memecahkan berbagai persoalan iman dan soal-soal lain yang menyangkut keselamatan umum. Ia juga biasa dimintai nasehatnya oleh Sri Paus dan dipercayakan menangani perkara-perkara Gereja yang penting.
Menyaksikan semua prestasinya, Sri Paus Klemens VIII (1592-1605) mengangkatnya menjadi Kardinal pada tahun 1599 dan tak lama kemudian ia ditahbiskan menjadi Uskup Capua. Tugas baru ini dilaksanakannya dengan mengadakan kunjungan ke semua paroki yang ada di dalam keuskupannya. Tugas sebagai mahaguru ditinggalkannya. Masa kerja di Capua tidak terlalu lama, karena dipanggil oleh Paus Paulus V (1605-1621) ke Roma untuk menangani beberapa tugas yang penting bagi Gereja. Di sana ia mulai kembali menekuni kegemarannya menulis buku-buku rohani. Tahun-tahun terakhir hidupnya diisinya dengan menulis tafsiran Kitab Mazmur dan 'Ketujuh Sabda Terakhir Yesus' sebelum wafat di kayu salib. Dua buku katekismus yang dikarangnya sangat laris dan beredar luas di kalangan umat sebagai bahan pengajaran bagi para katekumen. Buku terakhir yang ditulisnya ialah 'Ars Moriendi' yang melukiskan persiapannya menghadapi kematiannya yang sudah dekat. Buku ini ditulis pada saat-saat terakhir hidupnya di novisiat St. Andreas di Roma.
Setelah membaktikan seluruh dirinya demi kepentingan Gereja, Robertus Bellarminus menghembuskan nafasnya terakhir pada tanggal 17 September 1621 di novisiat St. Andreas, Roma. Beliau dikenal luas sebagai seorang ahli teologi yang sangat gigih membela Gereja dan jabatan kepausan dalam kemelut zaman Reformasi Protestan. Ia hidup sederhana dan suci serta mempunyai pengaruh yang sangat besar. Ia dinyatakan sebagai 'Beato' oleh Paus Pius XI (1922-1939) pada tanggal 13 Mei 1923, dan sebagai 'Santo' pada tanggal 29 Juni 1930, lalu sebagai 'Pujangga Gereja' pada tanggal 17 September 1931.

Santa Hildegardis, Martir
Hildegardis lahir di Bockelheim, Jerman pada tahun 1098. Ia seorang biarawati Ordo Benediktin yang saleh, di bawah bimbingan Santa Yutta. Santa Yutta sendiri dikenal sebagai seorang rubiah dan penghimpun para wanita yang ingin bersemadi, hidup tenang dan banyak berdoa. Setelah Yutta meninggal dunia, Hildegradis menggantikannya sebagai pemimpin biara Benediktin di Diessenberg, dekat tempat kelahirannya. Pada tahun 1148 ia memindahkan biara itu ke Rupertsberg, dekat Bingen, Jerman. Sekalipun usianya mencapai 80 tahun, namun kesehatannya sangat rapuh: sering sakit dan sangat emosional.
Semenjak usia mudanya ia dianugerahi pengalaman rohani yang luar biasa: dapat meramalkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, mengalami berbagai penglihatan, dan banyak membuat mujizat. Biarawati Benediktin ini senantiasa mengajak orang lain agar mau merubah cara hidupnya, menerima penderitaan dan bersemangat tobat. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta bimbingan rohani padanya: para bangsawan, uskup-uskup, rahib-rahib dan suster-suster. Meskipun demikian banyak pula orang yang bersikap sinis padanya. Mereka ini menganggap Hildegardis sebagai wanita yang tidak waras. Memang, Hildegardis adalah biarawati yang sungguh luar biasa pada Abad Pertengahan. Buah penanya sangat banyak. Biasanya ia mendiktekan pikiran-pikirannya kepada seorang biarawati pembantunya, yang kemudian mengalihbahasakannya ke dalam bahasa Latin. Salah satu bukunya ialah 'Scivias' (= Semoga Anda Tahu) yang berisi tentang berbagai pengalaman mistiknya. Buku yang lain berisi penjelasan tentang Injil, kehidupan rohani dan peraturan Santo Benediktus. Ia menulis juga mengenai ilmu pengetahuan alam, tentang tubuh manusia, penyakit serta obat-obatnya. Kisah Orang-orang Kudus tidak luput dari perhatiannya, sehingga ia bukukan juga. Ia menggubah syair, berbagai hymne dan musik.
Hildegardis selalu sibuk. Namun ia masih juga menyempatkan diri melakukan perjalanan keliling Jerman untuk memperingatkan para bangsawan, imam dan uskup tentang cara hidup mereka yang tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen dan semangat Injil. Keprihatinannya terhadap keadaan Gereja yang bobrok mendorong dia rajin berkotbah di alun-alun. Orang-orang yang mendengar kotbahnya terpukau, insyaf lalu bertobat. Ia tak jemu jemunya menyurati para pemimpin seperti paus, kaisar, raja dan tokoh-tokoh masyarakat yang besar pengaruhnya, seperti misalnya Santo Bernardus Clairvaux. Hildegardis akhirnya meninggal dunia di Rupertsberg, Jerman pada tanggal 17 September 1179.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-09-16 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV

Rabu, 16 September 2026

PW S. Kornelius, Paus, dan Siprianus, Uksup; Martir



Bacaan Pertama
1Kor 12:31-13:13

"Sekarang tinggal iman, harapan dan cinta kasih,
namun yang terlihat ialah cinta kasih."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama.
Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.
Sekalipun aku dapat berbicara
dalam semua bahasa manusia dan malaikat,
tetapi jika tidak mempunyai kasih,
aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing.
Sekali pun aku mempunyai karunia bernubuat
dan aku tahu segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan;
sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung,
tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku,
bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar,
tetapi jika tidak mempunyai kasih,
sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar, murah hati, dan tidak cemburu.
Kasih tidak memegahkan diri,
tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan.
Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri,
tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran.
Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan.
Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti,
dan pengetahuan akan lenyap.
Sebab pengetahuan kita tidak lengkap
dan nubuat kita tidak sempurna.
Tetapi bila yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna.

Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak,
merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula.
Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa,
aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Sekarang ini kita melihat gambaran samar-samar seperti dalam cermin,
tetapi nanti dari muka ke muka.
Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna,
tetapi nanti aku akan mengenal secara sempurna,
sebagaimana aku sendiri dikenal.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan dan kasih;
Namun yang terbesar di antaranya ialah kasih!

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 33:2-5.12.22,R:12b

Refren: Berbahagialah bangsa
yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya.

*Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi,
bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!
Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru;
petiklah kecapi baik-baik mengiringi sorak dan sorai!

*Sebab firman Tuhan itu benar,
segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
Ia senang pada keadilan dan hukum;
bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

*Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan,
suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya!
Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami,
seperti kami berharap kepada-Mu.



Bait Pengantar Injil
Yoh 6:64b.69b

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.
Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.



Bacaan Injil
Luk 7:31-35

"Hikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak,
"Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?
Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru,
'Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari.
Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.'

Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang,
dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur,
kalian berkata, 'Ia kerasukan setan.'

Kemudian Anak Manusia datang,
Ia makan dan minum, dan kalian berkata,
'Lihatlah, seorang pelahap dan peminum,
sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.'
Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Kita berdoa memohon petunjuk Tuhan. Namun, ketika petunjuk itu datang melalui seseorang yang kurang kita sukai, kita sulit menerimanya. Ketika jawaban-Nya menuntut perubahan rencana, kita mencari pilihan lain. Kita ingin Tuhan membimbing, tetapi terkadang kita sudah menyiapkan jalur yang harus Ia tempuh.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegur sikap orang-orang yang selalu menemukan alasan untuk menolak. Yohanes Pembaptis datang dengan hidup penuh pantang, lalu mereka berkata bahwa ia kerasukan setan. Yesus datang, makan dan minum bersama orang-orang, lalu mereka menyebut-Nya pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Yohanes ditolak. Yesus pun ditolak. Cara mereka berbeda, tetapi tanggapan yang diterima sama. Persoalannya terletak pada hati yang enggan menyambut panggilan Allah. Apa pun caranya, selalu tersedia alasan untuk menutup diri.

Yesus menggambarkan mereka seperti anak-anak di pasar yang berseru kepada teman-temannya: seruling ditiup, mereka tidak menari; nyanyian duka dilagukan, mereka tidak menangis. Gambaran ini memperlihatkan betapa sulitnya menyentuh hati yang sudah memutuskan untuk tidak menanggapi.

Sikap seperti itu dapat tumbuh dalam diri kita tanpa kita sadari. Ketika pasangan menyampaikan keberatan dengan lembut, kita menganggap persoalannya sepele. Setelah ia berbicara tegas, kita mempermasalahkan nada suaranya. Akhirnya, yang dibicarakan hanya cara ia menyampaikan, sementara persoalan yang perlu diperbaiki tetap dibiarkan.

Dalam pelayanan pun demikian. Kita meminta masukan, tetapi merasa terganggu ketika seseorang menunjukkan kekurangan. Kita menghendaki pembaruan, asalkan kebiasaan kita sendiri tetap dipertahankan. Pelan-pelan, keinginan untuk bertumbuh dikalahkan oleh kebutuhan untuk merasa benar.

Memberi ruang bagi cara Tuhan berarti bersedia memeriksa sikap kita sebelum menolak sesuatu. Apakah nasihat ini memang keliru, atau saya merasa tidak nyaman karena ada kebenaran yang menyentuh kelemahan saya? Apakah saya sedang mempertimbangkan isinya, atau langsung menutup telinga karena mengenal siapa yang mengatakannya?

Tentu, kita perlu menimbang setiap nasihat dengan jernih. Tidak setiap perkataan orang merupakan kehendak Tuhan. Kita mengujinya dalam terang Injil, kebenaran, dan kasih. Namun, penilaian yang jernih memerlukan kerendahan hati. Sulit menemukan kebenaran kalau sejak awal tujuan kita hanya mempertahankan pendapat sendiri.

Bacaan pertama hari ini menolong kita melihat sikap yang diperlukan. Santo Paulus mengajarkan bahwa kasih itu sabar, murah hati, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih memberi kita kelapangan untuk mendengarkan. Kita dapat menerima koreksi tanpa harus merasa kehilangan harga diri, karena kita tahu bahwa diri kita masih perlu dibentuk.

Tuhan dapat menuntun kita melalui nasihat yang sederhana, pertanyaan seorang anak, atau teguran yang membuat kita berpikir kembali. Kehadiran-Nya tidak selalu disertai pengalaman luar biasa. Dalam keseharian, kita diajak mengenali kebenaran yang perlu diterima dan langkah baik yang perlu dijalankan.

Hari ini, cobalah mengingat satu masukan yang selama ini kita tepis. Dengarkan kembali isinya dengan tenang. Barangkali ada permintaan maaf yang perlu kita sampaikan, kebiasaan yang perlu diperbaiki, atau keputusan yang patut kita pertimbangkan ulang. Mulailah dari satu tindakan yang nyata.

Kesediaan mendengarkan Tuhan diuji ketika yang kita dengar berbeda dari yang ingin kita dengar. Iman bertumbuh ketika kita mengizinkan sabda-Nya mengoreksi keinginan kita, mengubah arah langkah kita, dan menuntun kita menuju kebaikan yang belum kita pahami sepenuhnya.

Mari memberi ruang bagi cara Tuhan. Sediakan hati yang siap mendengar, lalu keberanian untuk menanggapi panggilan-Nya dalam tindakan.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Kornelius, Paus dan Martir
Sepeninggal Paus Fabianus pada tahun 250, Takhta Suci mengalami kekosongan kepemimpinan. Masalah-masalah yang menyelimuti Gereja terus saja meningkat. Akhirnya pada 25 Maret 251 kekosongan itu terisi lagi oleh terpilihnya Kornelius sebagai paus.
Kornelius lahir kira-kira pada awal abad ke-3 di Roma. Ia seorang imam yang saleh dan bijaksana. Namun kepilihannya sebagai paus tidak menyelesaikan semua masalah yang melanda Gereja. Gereja terus saja dirongrong baik dari luar maupun dari dalam. Pihak kekaisaran terus melancarkan aksi penganiayaan yang mengakibatkan banyak orang Kristen murtad dari imannya. Dalam tubuh Gereja sendiri, banyak imam baik di Roma maupun di Afrika bersikap keras terhadap orang­orang yang murtad itu. Di bawah kendali Novatianus, imam-imam itu mengajarkan bahwa tak seorang pun yang telah menyangkal imannya dapat diterima kembali dalam persekutuan Gereja Kristus, kendatipun mereka membayarnya dengan sesal dan tobat yang mendalam serta denda yang besar. Ajaran ini dimaksudkan untuk melindungi tata tertib Gereja, namun secara tidak sadar justru bertentangan dengan asas-asas Injil Kristus.
Terhadap ajaran Novatianus, Paus Kornelius tidak segan-segan bertindak. Ia segera memanggil semua uskup untuk mengadakan konsili guna membahas ajaran dan sikap Novatianus dkk demi tegaknya kemurnian ajaran Injil suci. Semua uskup yang hadir dalam konsili itu mengutuk ajaran Novatianus dan mencapnya sebagai bidaah. Hal itu didasarkan pada sikap Kristus sendiri yang datang bukan untuk memanggil orang-orang yang saleh melainkan untuk memanggil orang-orang berdosa.
Sepeninggal Kaisar Gayus Decius, keadaan Gereja bertambah genting. Kaisar baru Gayus Vibius Trebunianus Gallus terus melanjutkan pengejaran terhadap umat Kristen. Atas perintahnya, Paus Kornelius ditangkap pada tahun 253 dan dibuang ke Civita Vecchia, sebelah utara kota Roma. Dari tempat pembuangannya, Kornelius tetap menyurati sahabatnya Siprianus, Uskup Kartago untuk meneguhkan hatinya dalam memimpin umatnya.
Akhirnya Kornelius meninggal dunia di tempat pembuangannya sebagai akibat dari penderitaan hebat yang dialaminya. Jenazahnya dibawa kembali ke Roma dan dimakamkan di pekuburan Santo Kallistus.

Beato Viktor III, Paus
Viktor III lahir di Benevento, Italia pada tahun 1026/1027.  Mulanya ia masuk biara Santa Sophia di Benevento, Italia dan mendapat nama Desiderius. Kemudian ia masuk Ordo Benediktin di Monte Casino. Ia dikenal sebagai seorang rahib yang saleh dan bijaksana. Oleh karena itu pada tahun 1085, ia diangkat menjadi pemimpin biara (= Abbas) Monte Casino. Setahun kemudian ia ditahbiskan menjadi imam kardinal. Sebagai Abbas, ia berusaha memperbaiki kembali gereja biara Monte Casino dan membaharui disiplin hidup para Benediktin di dalam biara itu. Kecuali itu, ia berusaha menciptakan kedamaian bagi orang-orang Normandia.
Pada bulan Mei 1086, Desiderius diminta menjadi paus. Dengan rendah hati, ia menolak jabatan mulia itu karena merasa diri tidak layak. Namun ia dipaksa untuk menjadi paus demi kelanjutan kepemimpinan di dalam Gereja Kristus. Ia akhirnya menerima juga jabatan mulia itu dan mulai mengenakan pakaian kebesaran sebagai paus. Tetapi pada waktu itu, ia tidak bisa dengan leluasa memimpin Gereja karena situasi di dalam Gereja penuh dengan pertikaian antar berbagai pihak. Pertikaian itu memuncak dengan hadirnya Guibertus dari Ravenna sebagai paus tandingan dengan nama Klemens III. Demi menghindari pertikaian yang semakin besar, Desiderius tidak berdiam di Roma sebagaimana mestinya seorang paus. Ia pergi ke biaranya di Monte Casino. Di sana ia meletakkan lencana kepausan.
Setelah orang-orang Normandia berhasil mengusir Klemens III dari Roma, barulah dia datang ke Roma untuk memimpin Gereja Kristus. Di sana ia dilantik secara resmi menjadi paus dengan nama Viktor III. Ia memimpin Gereja Kristus dari tahun 1086 sampai tahun 1087.
Sumbangan terbesar Paus Viktor III ialah melancarkan Perang Salib untuk mengusir orang-orang Muslim dari Tanah Suci. Serdadu-serdadunya tidak saja memaksa orang-orang Muslim dari Tunis membayar upeti kepada Takhta Suci di Roma tetapi juga membebaskan para budak belian yang beragama Kristen dari penguasaan orang-orang Muslim. Paus Viktor III meninggal dunia di Monte Casino pada tanggal16 September 1087.

Santa Eufemia, Perawan dan Martir
Eufemia berarti 'yang mempunyai nama baik'. Perawan dan martir suci ini dibunuh pada abad ke-4 pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus. Ia meninggal dunia karena imannya di Kalsedon setelah dimangsa oleh binatang-binatang buas dalam suatu pertunjukan. Sebuah gereja indah didirikan di Kalsedon untuk menghormati Santa Eufemia. Nama Eufemia semakin harum di dalam Gereja, karena Konsili Kalsedon yang besar itu diselenggarakan di dalam gereja Santa Eufemia itu.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-09-15 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV

Selasa, 15 September 2026

PW S.P. Maria Berdukacita



Bacaan Pertama
Ibr 5:7-9

"Kristus telah belajar menjadi taat,
dan Ia menjadi pokok keselamatan abadi."

Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani:

Saudara-saudara,
dalam hidup-Nya sebagai manusia,
Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan
kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut.
Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan.
Akan tetapi, sekalipun Anak Allah,
Yesus telah belajar menjadi taat,
dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya.
Dan sesudah mencapai kesempurnaan,
Ia menjadi pokok keselamatan abadi
bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20,R:17b

Refren: Kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

*Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung,
janganlah sekali-kali aku mendapat malu.
Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku,
bersegeralah melepaskan daku.

*Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung,
dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku!
Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku;
oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun
dan membimbing aku.

*Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring
yang dipasang orang terhadap aku,
sebab Engkaulah tempat perlindunganku.
Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku;
sudilah membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.

*Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya,
aku berkata "Engkaulah Allahku!"
Masa hidupku ada dalam tangan-Mu,
lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku
dan bebaskanlah aku dari tangan orang-orang yang mengejarku.

*Alangkah limpahnya kebaikan-Mu
yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu,
yang telah Kaulakukan di hadapan manusia
bagi orang yang berlindung pada-Mu!



Bait Pengantar Injil
Luk 7:16

Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,
dan Allah mengunjungi umat-Nya.



Bacaan Injil
Yoh 19:25-27

"Inilah anakmu! - Inilah ibumu!"

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Waktu Yesus bergantung di salib,
didekat salib itu berdirilah ibu Yesus
dan saudara ibu Yesus,
Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya
dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,
berkatalah Ia kepada ibu-Nya,
"Ibu, inilah, anakmu!"
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya,
"Inilah ibumu!"
Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Demikianlah sabda Tuhan.

ATAU BACAAN LAIN:
Luk 2:33-35

"Suatu Pedang akan menembus jiwamu sendiri"

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci,
mereka amat heran
mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka,
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
"Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
-- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita membawa kita ke kaki salib. Injil menggambarkan suasana itu dengan satu kalimat yang singkat, tetapi sangat kuat: “Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya.”

Maria berdiri. Bukan karena ia tidak berduka. Hatinya pasti hancur melihat Putranya dihina, disiksa, dan dipakukan pada salib. Nubuat Simeon bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya kini menjadi kenyataan. Namun, penderitaan itu tidak membuat Maria meninggalkan Yesus. Ia tetap berada di dekat-Nya hingga saat terakhir.

Maria tidak mampu menghentikan para prajurit. Ia tidak dapat mencabut paku-paku itu atau menurunkan Yesus dari salib. Pada saat itu, Maria tidak dapat melakukan apa pun untuk mengubah keadaan. Namun, masih ada satu hal yang dapat ia lakukan: tetap hadir.

Kita terbiasa mengukur kasih dari apa yang dapat kita lakukan. Ketika seseorang menghadapi masalah, kita ingin segera menawarkan jalan keluar. Saat orang lain bersedih, kita berusaha memberikan nasihat. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, kita berharap dapat segera menemukan pengobatan yang menyembuhkan.

Kenyataannya, tidak semua persoalan dapat langsung diselesaikan. Tidak semua kesedihan dapat dihapus dengan kata-kata. Ada penderitaan yang hanya dapat dilalui sedikit demi sedikit. Pada saat seperti itu, kehadiran menjadi bentuk kasih yang sangat berarti.

Orang yang sedang berduka terkadang tidak membutuhkan banyak nasihat. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan. Orang yang sedang sakit membutuhkan seseorang yang tetap menemaninya. Anak yang mengalami kegagalan membutuhkan orangtua yang tetap memeluk dan mempercayainya. Sahabat yang sedang kehilangan harapan membutuhkan seseorang yang berkata, “Aku tetap bersamamu.”

Kehadiran tidak selalu memerlukan kata-kata yang indah. Duduk bersama, mendengarkan tanpa memotong, menelepon untuk menanyakan keadaan, membantu pekerjaan kecil, atau mendoakan dengan setia dapat menjadi sumber kekuatan. Kita mungkin tidak dapat mengangkat salib yang sedang dipikul seseorang, tetapi kita dapat membuatnya merasa bahwa ia tidak memikulnya sendirian.

Dari atas salib, Yesus berkata kepada Maria, “Ibu, inilah anakmu,” lalu kepada murid yang dikasihi-Nya, “Inilah ibumu.” Bahkan dalam penderitaan-Nya, Yesus membangun ikatan baru agar Maria dan murid-Nya saling menjaga. Salib tidak hanya menjadi tempat penderitaan, tetapi juga tempat lahirnya kepedulian.

Bacaan pertama mengingatkan bahwa kita semua adalah satu tubuh dalam Kristus. Ketika satu anggota tubuh menderita, anggota yang lain dipanggil untuk mendekat dan memberikan kekuatan. Iman tidak membiarkan kita hidup hanya untuk diri sendiri. Kita menjadi keluarga yang saling menopang, terutama ketika hidup terasa paling berat.

Maria mengajarkan bahwa kasih yang setia tidak selalu terlihat melalui tindakan besar. Kasih terkadang hadir dalam kesediaan untuk tetap tinggal ketika orang lain mulai menjauh. Ketika kita tidak mampu memperbaiki keadaan, kita masih dapat menemani. Ketika kita tidak mempunyai jawaban, kita masih dapat mendengarkan. Ketika tidak ada lagi yang dapat dikatakan, kita masih dapat berdoa.

Pada saat-saat terberat, kehadiran kita dapat menjadi tanda bahwa Tuhan tetap dekat.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Katarina Fieschi dari Genoa, Janda
Di antara sekian banyak wanita kudus yang menyandang nama Katarina, Katarina Fieschi patut diberi julukan "Pencinta Jiwa-jiwa di Api Penyucian." Katarina berasal dari sebuah keluarga bangsawan kaya raya. Ia cantik sekali dan berpendirian tegas.
Pada umur 13 tahun, ia masuk sebuah ordo yang keras sekali aturannya. Permohonannya ditolak karena umurnya dianggap belum memenuhi syarat. Tiga tahun kemudian, ia menikah dengan Yuliano Adorno, pemuda kebanggaan orangtuanya.
Awal perkawinan mereka tidak begitu bahagia. Yuliano, acuh tak acuh dan sering tidak menghiraukannya. Lima tahun lamanya, ia menanggung penderitaan batin yang luar biasa karena ulah suaminya Yuliano. Tetapi ia menanggung semuanya itu dengan sabar dan tawakal. Secara ekonomi mereka tidak kekurangan apa pun karena harta warisan orangtuanya berlimpah-limpah. Ia hidup berfoya-foya dan menikmati kesenangan duniawi yang tak ada taranya. Namun batinnya tidak tenteram.
Pada usia 36 tahun, ia melepaskan semua kesenangan duniawi itu dan bertobat. Ia mulai lebih banyak berdoa untuk memohon bimbingan Tuhan. Suaminya Yuliano pun ikut bertobat. Keduanya mulai mengenyam suatu hidup yang bahagia dalam cinta dan cita-cita yang luhur untuk mengabdi Tuhan. Mereka pindah ke sebuah rumah yang sederhana dan berkarya di sebuah rumah sakit secara cuma-cuma.
Yuliano meninggal dunia pada tahun 1497. Katarina dengan tekun melanjutkan karya amal itu sambil tetap menjalin hubungan dengan Tuhan dengan doa dan matiraga. Tuhan memperhatikan hambanya dan memberinya banyak karunia istimewa dan kehidupan mistik yang tinggi. Perhatiannya yang lebih besar dicurahkan kepada jiwa-jiwa di api penyucian karena ia berpendapat bahwa penderitaan mereka jauh lebih besar mengingat mereka dianggap belum berkenan kepada Tuhan secara sempurna. Katarina Fieschi meninggal dunia pada tahun 1510.

Maria, Mater Dolorosa
Hari ini juga Gereja mengenangkan 'Kedukaan Santa Perawan Maria'. Banyak sekali penderitaan yang dialami Maria sepanjang perjalanan hidupnya bersama Yesus, Anaknya dalam karya agung penyelamatan umat manusia dari dosa. Maria menyertai Yesus hingga akhir hayatNya di bawah kaki salib. Oleh karena itu Gereja menamai Maria 'Mater Dolorosa', Bunda Dukacita, dan 'Ratu para Martir'.
Seluruh penderitaan Maria diringkas Gereja dalam 7 jenis kedukaan yang diambil dari 7 peristiwa berikut ini:
1. Kedukaan sewaktu Simeon meramalkan apa yang akan terjadi atas diri Yesus, Anaknya sewaktu ia bersama Yusuf mempersembahkan Yesus di Bait Allah.
2. Kedukaan yang dialaminya sewaktu pengungsian ke Mesir.
3. Kedukaan sewaktu ia bersama Yusuf mencari Yesus di Yerusalem.
4. Kedukaan sewaktu bertemu dengan Yesus di jalan salib.
5. Kedukaan sewaktu Yesus disalib dan wafat.
6. Kedukaan sewaktu Yesus dibaringkan di pangkuannya.
7. Kedukaan sewaktu Yesus dimakamkan.
Maria menanggung semua penderitaan itu dengan tabah dan penuh iman karena ia sendiri telah mengatakan dengan bebas kepada malaekat Allah: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Santo Nikomedes, Martir
Sangat sedikit keterangan tentang riwayat Nikomedes, meskipun Gereja menghormatinya sebagai martir Kristus dan kepadanya dipersembahkan sebuah Gereja di Via Nomeritana.
Konon beliau adalah seorang imam di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Domisianus. Ia dipenggal kepalanya karena menguburkan jenazah Santa Felicula. Jenazahnya sendiri dimakamkan di gereja Santa Praksedis di Roma.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/