Liturgia Verbi 2026-10-16 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)

Hari Biasa, Pekan Biasa XXVIII

Jumat, 16 Oktober 2026

PF S. Margareta Maria Alacoque, Perawan
PF S. Hedwig, Biarawati



Bacaan Pertama
Ef 1:11-14

"Kami sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus,
dan kalian pun telah dimeteraikan dengan Roh Kudus."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus:

Saudara-saudara,
dalam Kristus kami mendapat bagian yang dijanjikan Allah,
yakni kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu
sesuai dengan maksud Allah,
yang dalam segala sesuatu
bekerja menurut keputusan kehendak-kehendak-Nya;
kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus,
ditentukan supaya menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya.
Tetapi di dalam Dia kalian pun telah mendengar sabda kebenaran,
yaitu Injil keselamatan;
dan setelah percaya akan Injil itu,
kalian pun dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu.
Dan Roh Kudus ini adalah jaminan
bahwa kita akan memperoleh seluruh warisan,
yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah,
untuk memuji kemuliaan-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 33:1-2.4-5.12-13,R:12b

Refren: Berbahagialah bangsa
yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya.

*Bersorak-sorailah dalam Tuhan,  hai orang-orang benar!
Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur.
Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi,
bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!

*Sebab firman Tuhan itu benar,
segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
Ia senang kepada keadilan dan hukum;
bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

*Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan,
suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya!
Tuhan memandang dari surga,
dan melihat semua anak manusia.



Bait Pengantar Injil
Mzm 33:22

Tunjukkanlah kiranya kasih setia-Mu, ya Tuhan,
sebab pada-Mulah kami berharap.



Bacaan Injil
Luk 12:1-7

"Rambut kepalamu terhitung semuanya."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa,
Berkerumunlah beribu-ribu orang, sehingga mereka berdesak-desakan.
Yesus lalu mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya,
"Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.
Tiada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka,
dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi yang takkan diketahui.
Karena itu apa yang kalian katakan dalam gelap
akan kedengaran dalam terang,
dan yang kalian bisikkan ke telinga di dalam kamar
akan dimaklumkan dari atas atap rumah.

Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku,
janganlah kalian takut terhadap mereka
yang dapat membunuh tubuh
tetapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kalian takuti.
Takutilah Dia yang setelah membunuh,
mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.
Sungguh, Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!
Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit?
Sungguhpun demikian tidak seekor pun dilupakan Allah.
Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya.
Karena itu jangan takut,
karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah mengingat orang-orang yang terkenal, berprestasi, atau memiliki kedudukan penting. Sementara mereka yang dianggap biasa-biasa saja sering luput dari perhatian. Bahkan terkadang, seseorang baru merasa dihargai ketika ia berhasil melakukan sesuatu yang membanggakan.

Tanpa disadari, cara pandang seperti ini juga memengaruhi bagaimana kita menilai diri sendiri. Ketika mengalami kegagalan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut, atau merasa tidak lagi dibutuhkan, kita mulai bertanya: Apakah hidup saya masih berarti? Apakah masih ada yang peduli?

Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan gambaran yang sangat sederhana. Lima ekor burung pipit dijual dengan harga yang begitu murah. Namun, Yesus menegaskan bahwa tidak seekor pun dilupakan Allah. Bahkan rambut di kepala kita pun terhitung semuanya.

Lalu Yesus berkata, "Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."

Betapa luar biasanya pernyataan ini. Sesuatu yang dianggap begitu kecil dan murah oleh manusia ternyata tetap berada dalam perhatian Allah. Apalagi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.

Di mata Allah, nilai seseorang tidak bergantung pada kekayaan, jabatan, kepandaian, atau keberhasilannya. Orang yang hidup sederhana sama berharganya dengan orang yang memiliki kedudukan tinggi. Mereka yang sedang sakit, lanjut usia, atau tidak mampu lagi bekerja tetap memiliki martabat yang sama.

Perhatian Allah juga tidak berhenti ketika hidup kita mengalami kesulitan. Yesus tidak mengatakan bahwa orang yang berharga di mata Allah akan terbebas dari penderitaan. Ia justru menguatkan para murid agar tidak takut menghadapi ancaman dan kesulitan.

Artinya, ketika keadaan hidup membuat kita merasa sendirian, kita boleh tetap percaya bahwa Allah mengenal dan memperhatikan kita. Bahkan ketika orang lain tidak mengetahui pergumulan yang sedang kita hadapi.

Namun, ada satu hal penting yang perlu kita renungkan lebih jauh.

Kalau setiap manusia begitu berharga di hadapan Allah, bagaimana selama ini kita memperlakukan sesama?

Mungkin ada orang di sekitar kita yang selama ini kurang mendapat perhatian. Orang tua yang kesepian, anggota keluarga yang merasa diabaikan, pekerja sederhana yang jarang mendapat penghargaan, atau seseorang yang sedang berjuang menghadapi kegagalan.

Mereka semua berharga di mata Allah. Maka, sudah sepantasnya kita pun belajar memandang dan memperlakukan mereka dengan penuh penghargaan.

Terkadang, perhatian sederhana sudah cukup untuk membuat seseorang merasa bahwa dirinya berarti. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menyapa dengan tulus, atau menyediakan waktu bagi mereka yang membutuhkan kehadiran kita.

Injil hari ini mengajak kita menyadari dua hal: betapa berharganya diri kita di hadapan Allah, dan betapa berharganya setiap orang yang kita jumpai.

Karena itu, ketika kita merasa kecil dan tidak berarti, ingatlah bahwa nilai diri kita tidak berkurang hanya karena orang lain tidak menghargainya.

Dan ketika kita berhadapan dengan seseorang yang dianggap tidak penting, ingatlah bahwa Allah tetap memandangnya sebagai pribadi yang berharga.

*Sebab di mata Allah, tak seorang pun terlupakan.*



Peringatan Orang Kudus
Santo Gerardus dari Mayella
Gerardus lahir di Muro Lucano, Napoli Selatan, Italia pada bulan April 1726. Beliau dikenal sebagai seorang bruder awam dalam Tarekat Redemptoris yang didirikan oleh Santo Alfonsus Liguori. Ia membuat banyak mujizat dan tanda heran baik selagi masih hidup maupun sesudah kematiannya.
Semua karunia adikoderati itu sesungguhnya sudah dialami Gerardus sejak masa kecilnya. Sewaktu kecil Gerardus biasa suka bermain dengan kawan-kawannya. Hal ini merupakan pengalaman umum anak­anak. Apabila kawan-kawannya tidak mau bermain dengannya, ia biasa masuk ke kapela untuk sekedar melihat-lihat patung Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus yang ada di sana. Konon pada suatu hari, Kanak-kanak Yesus turun dari gendongan Maria dan bermain-main dengan Gerardus. Pengalaman ini menumbuhkan dalam hatinya cinta dan kerinduan besar pada Yesus. Karena cinta dan kerinduan itu, ia ingin sekali cepat menyambut Tubuh Yesus. Konon pada umur 7 tahun Malaekat Agung Mikhael memberinya Komuni Kudus secara ajaib, meskipun aturan Gereja pada masa itu belum mengizinkan dia menerima Komuni Kudus.
Ketika berusia 12 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia terpaksa berhenti sekolah karena harus menggantikan ayahnya mencari nafkah bagi ibu dan adik-adiknya. Ia menjadi pelayan seorang tukang jahit. Sambil melayani majikannya, ia juga belajar menjahit pakaian. Ia memperoleh manfaat ganda dari pekerjaannya itu, yaitu dapat menghidupi ibu dan adik-adiknya dan mahir/trampil menjahit pakaian. Setelah itu, ia berhenti bekerja pada majikan itu dan menjadi pelayan di istana Uskup Lacedonia. Di sini ia semakin berkembang dalam kehidupan rohaninya karena mempunyai banyak waktu yang tenang untuk berdoa. Pada suatu hari, kunci rumah yang ada di saku bajunya jatuh ke dalam sumur ketika ia sedang menimba air. Pelayan yang lain berdiri mengelilingi sumur itu sambil memarahi dia. Tetapi dia sendiri tidak hilang akal. Ia segera berlari ke dalam kapela dan mengambil patung anak Yesus. Patung itu diikatkannya pada timba lalu diturunkannya ke dalam sumur. Sungguh mengherankan bahwa ketika ditariknya kembali timba itu, kunci itu melekat erat pada tangan Yesus. Yesus memberi kembali kunci itu kepadanya. Kawan-kawannya terheran-heran karena tanda heran itu. Bagi Gerardus sendiri, pengalaman ini semakin menebalkan imannya dan mendorongnya lebih kuat untuk menjalani hidup bakti kepada Tuhan di dalam biara. Sepeninggal Uskup Lacedonia, Gerardus kembali ke kampung halamannya dan mendirikan usaha jahit-menjahit bagi penghidupan keluarganya.
Di Muro Lucano, usahanya berkembang baik. Dengan pendapatannya ia lebih banyak membantu ibu dan adik-adiknya, orang-orang miskin bahkan juga Gereja. Sementara itu, cita-citanya menjadi biarawan terus rnengusik batinnya. Ia lalu mengajukan permohonan kepada pimpinan tarekat Redemptoris tetapi ditolak karena kesehatannya kurang baik. Namun karena niatnya yang benar-benar tulus dan murni, akhirnya pada tahun 1749, ia diterima juga dalam tarekat itu di Deliceto. Santo Alfonsus Liguori, pendiri tarekat Redemptoris, benar-benar kagum pada Gerardus karena saleh dan rajin dalam tugas-tugasnya. Oleh karena itu, Alfonsus memperpendek masa novisiatnya tidak sebagaimana biasanya menurut aturan yang ada. Pada tahun 1752 ia mengucapkan kaulnya sebagai bruder awam dalam tarekat Redemptoris.
Di dalam biara, Geradus ditugaskan menjadi penjaga pintu, koster, perawat rekan-rekannya yang sakit dan menjahit pakaian bagi semua penghuni biara. Tiga tahun berikutnya, ia mulai terkenal luas karena berbagai tanda heran yang dilakukannya. Ia pandai meramal, dapat berada sekaligus di dua tempat pada saat yang sama (bilokasi), membaca pikiran dan hati nurani seseorang, dan dapat berkomunikasi dengan binatang-binatang. Pernah dalam suatu keadaan ekstase, ia terbang sejauh setengah mil jauhnya.
Karena semua karunia adikoderati itu, Gerardus ditunjuk menjadi pembimbing rohani untuk beberapa biara dan diangkat sebagai penasehat rohani bagi rohaniwan lainnya. Ia bekerja di biara Napoli dan Caposele dan sering mendampingi para misionaris dalam perjalanan­perjalanan misioner mereka ke berbagai tempat. Ia sendiri mengadakan beberapa kali penyembuhan orang sakit secara ajaib. Hari dan jam kematiannya diketahui pasti jauh sebelum terjadi. Gerardus meninggal dunia pada tanggal 15 Oktober 1755 di biara Caposele, Italia. Pada tanggal 29 Januari 1893 ia dinyatakan sebagai 'beato' oleh Sri Paus Leo XIII (1878-1903) dan dinyatakan 'santo' oleh Paus Pius X (1903-1914) pada tanggal 11 Desember 1904.

Santa Hedwiq, Janda
Puteri keturunan bangsawan Hungaria dan tante dari Santa Elisabeth Hungaria ini lahir pada tahun 1174. Ketika berusia 12 tahun ia kawin dengan Hendrikus, seorang Pangeran Polandia. Tuhan mengaruniakan kepada mereka 7 orang anak. Setelah suaminya gugur dalam peperangan melawan tentara Dschengis Khan, ia masuk biara Suster­suster Benediktin. Dengan harta kekayaannya ia banyak membantu orang-orang miskin dan penderita kusta, mendirikan biara serta meningkatkan taraf pendidikan dan kebudayaan warga penduduk Silesia (Jer­man Timur/Polandia). Ia meninggal dunia pada tahun 1243.

Santa Margaretha Maria Alacoque, Perawan
Margaretha Maria Alacoque lahir pada tanggal 22 Juli 1647 di kota Janots Burgundia, Lhautecour, Prancis. Nama 'Maria' yang dikenakannya adalah nama Krismanya. Ayahnya, Alacoque, adalah seorang notaris. Ibunya bernama Filibertha Lamyn. Pasangan saleh ini dikaruniai tujuh orang anak, yang hampir semuanya mati dalam usia muda. Hanya Margaretha yang hidup agak lebih lama.
Margaretha berwatak tenang, manis dan saleh. Ia lebih suka akan kesunyian daripada bermain-main dan berhura-hura. Oleh karena itu ia sangat dikasihi bahkan dimanjakan oleh ibu-bapaknya. Tetapi Tuhan rupanya mempunyai suatu rencana khusus atas dirinya. Untuk memperkuat mental dan imannya dalam rangka rencana rahasia itu, Tuhan mencobai dia dengan berbagai peristiwa yang menekan batin. Ayahnya meninggal dunia, dan ibunya jatuh sakit berat. Dalam situasi demikian, nenek dan bibinya sendiri tidak bersikap ramah padanya. Namun semua perlakuan itu tidak diperdulikannya karena ia tidak mau menyakiti hati ibunya yang sedang sakit itu. Sementara itu kesukaannya dalam kesunyian semakin membawa dia ke dalam kebiasaan untuk berdoa lebih kusuk lagi. Besar cinta bakti dan hormatnya kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang hadir di dalam Sakramen Mahakudus. Untuk memperkuat kehidupan rohaninya ia menjalankan matiraga yang keras dan tanpa memahami benar-benar apa artinya sebuah kaul, ia selagi masih muda telah menjanjikan kemurniannya sepanjang hidup kepada Allah.
Ketika masih kecil, ia dididik oleh Suster-suster Klaris di Charolles, Prancis. Dari usia 11-15 tahun, ia menderita sakit reumatik yang hebat sehingga terpaksa harus terus berbaring di atas tempat tidur. Semua peristiwa yang menimpa dirinya boleh dikatakan merupakan penyelenggaraan ilahi atas dirinya, karena sesudah sembuh dari sakit itu, ia mengalami penampakan-penampakan Tuhan Yesus.
Dalam penampakan-penampakan itu, Yesus biasanya tampak dalam keadaan bermahkota duri atau disalibkan. Pengalamannya akan penampakan-penampakan itu seolah terus mendesak dia untuk memasuki cara hidup membiara demi bakti yang menyeluruh kepada Allah. Oleh karena itu, pada tahun 1671 ia masuk biara Visitasi di Paray le Monial. Di sini Tuhan menampakan diri kepadanya dan menyampaikan wahyu tentang devosi kepada Hati Kudus Yesus. Pada bulan Desember 1673, ia mendapat wahyu pertama berkenaan dengan penghormatan kepada Hati Kudus Yesus. Mulai saat itu hatinya sendiri dipenuhi cinta ilahi Yesus. Selama 18 bulan Yesus terus-menerus menampakan diri kepadanya untuk menjelaskan apa yang telah dikatakanNya pada wahyu pertama.
Inilah isi ringkas pesan Tuhan itu: "Orang harus menghormati HatiNya yang Mahakudus. Bentuk Hati Yesus itu - sebagaimana tergambar jelas dalam penampakan yang dialami Suster Margaretha Maria - ialah sebuah hati manusia yang bermahkota duri, tergores luka, dengan api dan cahaya kemilau. Yesus mengatakan bahwa kendatipun Ia sungguh-sungguh mencintai manusia, tetapi manusia membalas cintaNya dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Secara khusus Ia mengingatkan umat akan bahaya ajaran sesat Yanssenisme yang telah berkembang luas di seluruh Prancis. Adalah tugas Margaretha untuk mengimbangi semua kelemahan dan kekurangan umat manusia. Margaretha harus seringkali menerima Komuni Kudus, teristimewa pada hari Jumat Pertama setiap bulan selama sembilan bulan berturut-turut. Selain itu, ia harus berjaga di hadapan Sakramen Mahakudus pada setiap malam Jumat sebagai kenangan akan penderitaanNya dan pengkhianatan atas diriNya di Taman Getzemani pada hari Kamis Putih.  Pada Oktaf Hari Raya, Tubuh Kristus tahun 1675, Tuhan sekali lagi menampakan diri kepada Margaretha untuk memberikan kepadanya Wahyu Hati Kudus yang terakhir dan yang terpenting: "Ingatlah akan HatiKu yang begitu mencintai manusia hingga habis-habisan, bahkan menjadi lelah dan habis terbakar oleh cinta itu. Sebagai pengganti terimakasih, Aku menerima dari banyak orang hanya sikap acuh tak acuh, ketidaksopanan dan dosa sakrilegi, sikap dingin dan caci maki."
Meskipun Margaretha memberi kesaksian tentang penampakan-penampatan Tuhan padanya, rajin dan tabah dalam menghormati Hati Kudus Yesus, namun devosi khusus terhadap Hati Kudus - sebagaimana diminta langsung oleh Yesus - tidak ditanggapi serius dan tidak diakui oleh Gereja dalam kurun waktu yang cukup lama sesudah kematian Margaretha. Ia sendiri mendapat perlakuan yang kurang simpatik dari rekan-rekan susternya, karena mereka menganggap semua penampakan yang diceritakannya sebagai berita bohong belaka. Untunglah bahwa tidak semua rohaniwan bersikap demikian.
Dalam penyelenggaraan ilahiNya, Tuhan mengirim Pastor Claude de la Colombiera SY menjadi Bapa Pengakuan untuk Suster-suster Visitasi di biara Paray-le-Monial. Dia-lah orang pertama yang menaruh perhatian besar kepada cerita-cerita Suster Margaretha tentang penampakan-penampakan Tuhan serta pesan-pesanNya itu. Beliau menunjukkan sikap simpatik dan memberi dukungan besar kepada Margaretha. Sepeninggal Suster Margaretha, pastor Claude, melalui tulisan-tulisannya dan kotbah-kotbahnya di Inggris dan Prancis, menyebarluaskan berita penampakan-penampakan Tuhan yang dialami Suster Margaretha. Seluruh umat tertarik pada peristiwa itu. Dan sejak itu mulai digalakkan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Jam Suci di hadapan Sakramen Mahakudus sebagaimana dipesankan Tuhan kepada Margaretha. Tak lama kemudian pada tahun 1765. Pesta Hati Kudus Yesus direstui oleh Sri Paus, dan Margaretha menjadi teladannya. Margaretha Maria Alacoque meninggal dunia di biara Paray-le-Monial pada tanggal 17 Oktober 1690. la dinyatakan 'santa' pada tahun 1920.

Santo Gallus, Pengaku Iman
Di antara 12 rahib terkenal dari Irlandia yang berkarya di Eropa sebagai misionaris pengikut Santo Kolumbanus, Gallus diakui sebagai rasul pertama dan utama negeri Swiss. Ia mendirikan sebuah biara pertapaan yang kemudian menjadi terkenal karena menaruh perhatian khusus pada studi ilmu-ilmu klasik. Gallus lahir di Irlandia kira-kira pada tahun 550, dan meninggal dunia pada tahun 635 di Sint. Gall, sebuah kota di Swiss yang dinamai dengan namanya.
Setelah dididik bersama dengan Santo Kolumbanus di biara Bangor, Irlandia, Gallus membantu Kolumbanus untuk membangun biara-biara di Annegray dan Luxeuil, Prancis. Ia dengan setia menemani Kolumbanus dan rahib-rahib lainnya ketika mereka diusir dari Luxeuil oleh Raja Burgundy; bersama mereka pun Gallus selamat dari kecelakaan kapal yang mereka tumpangi dan mendarat di Swiss. Pada tahun 1612 Gallus berpisah dengan rekan-rekannya karena Kolumbanus memutuskan untuk pergi ke arah selatan yaitu ke Italia. Gallus tidak turut bersama mereka ke Italia karena ia jatuh sakit pada hari keberangkatan mereka. Gallus kemudian memutuskan untuk tinggal menetap di daerah sekitar Danau Konstance sebagai seorang pertapa. Di daerah ini ia mendirikan sebuah biara pertapaan. Pertapaan ini berkembang menjadi sebuah perkampungan monastik dengan gubuk-gubuk untuk para rahib yang menjadi muridnya.  Sekarang daerah ini sudah menjadi satu kota di Swiss yang dikenal dengan nama kota Sint Gall.
Gallus senantiasa menjalin hubungan dengan rekan-rekannya yang tinggal di biara Bangor, Irlandia, dan juga dengan para rahib yang tinggal di biara-biara yang dibangunnya bersama Kolumbanus. Kepada rekan-rekannya ia mengatakan bahwa kematian Kolumbanus telah diketahuinya melalui suatu penglihatan ajaib yang dialaminya. Rekan-rekan Gallus di biara Luxeuil ingin mengangkat dia menjadi pemimpin mereka, namun Gallus dengan tegas menolak karena Luxeuil sudah menjadi komunitas yang tidak memperhatikan lagi nilai kesederhanaan dan kemiskinan hidup menurut semangat Injil. Baginya Luxeuil tidak lagi menarik perhatiannya. Ia lebih suka dengan kesederhanaan dan kemiskinan. Dengan alasan yang sama ia juga menolak ketika ia diminta menjadi Uskup.
Hampir semua cerita tentang Gallus mengisahkan tentang danau dan jala ikan, perahu dan alat-alat perlengkapan lainnya. Oleh karena itu orang beranggapan bahwa Gallus adalah seorang nelayan yang memanfaatkan keahliannya menangkap ikan untuk memperoleh nafkah bagi kehidupan murid-muridnya. Tahun-tahun terakhir hidupnya dimanfaatkannya untuk berdoa, meditasi dan menangkap ikan.
Cendera mata populer yang diberikan kepada para wisatawan yang berkunjung ke kota Sint Gallus ialah ukiran seekor beruang dari kayu.  Ukiran beruang ini mengisahkan tentang suatu peristiwa yang dialami oleh Santo Gallus, bahwa ia pernah menjinakkan seekor beruang sewaktu ia memulai pembangunan biara pertapaannya di pesisir Sungai Steinnach. Konon, setelah Gallus menyelidiki pesisir sungai itu, ia bersama pembantunya mendirikan sebuah pondok di situ; pada malam pertama tiba-tiba seekor beruang menyelinap masuk karena melihat cahaya api unggun di dalam pondok itu. Pembantunya gemetar ketakutan dan berteriak minta tolong pada Gallus yang sedang berdoa. Dengan tenang Gallus menghadap beruang itu, membelai-belai punggungnya lalu menyuruhnya menaruh kayu bakar ke dalam api unggun itu. Beruang itu taat pada perintah Gallus,
Sepeninggal Gallus pada tahun 635, biara pertapaannya berkembang pesat. Perpustakaannya tergolong sangat baik di seluruh Eropa pada Abad Pertengahan; sekolahnya terkenal karena studi ilmu-ilmu klasik, musik, dan kesenian.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/