Liturgia Verbi 2026-05-03 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Paskah V

Minggu, 3 Mei 2026



Bacaan Pertama
Kis 6:1-7

"Mereka memilih tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Di kalangan jemaat di Yerusalem,
ketika jumlah murid makin bertambah,
timbullah sungut-sungut
di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani
terhadap orang-orang Ibrani,
karena dalam pelayanan sehari-hari
pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan.

Berhubung dengan itu
kedua belas rasul memanggil semua murid berkumpul dan berkata,
"Kami tidak merasa puas,
karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.
Karena itu, saudara-saudara,
pilihlah tujuh orang dari antaramu,
yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat,
supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
sehingga kami sendiri dapat memusatkan pikiran
dalam doa dan pelayanan Firman."

Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat.
Lalu mereka memilih Stefanus,
seorang yang penuh iman dan Roh Kudus,
dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas,
dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
Mereka itu dihadapkan kepada para rasul,
lalu para rasul pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.

Firman Allah makin tersebar,
dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak,
juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 33:1-2.4-5.18-19,R:22

Refren: Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami,
seperti kami berharap kepada-Mu.

*Bersorak-sorailah dalam Tuhan, hai orang-orang benar!
Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur.
Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi,
bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!

*Sebab firman Tuhan itu benar,
segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
Ia senang pada keadilan dan hukum;
bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

*Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa,
kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya;
Ia henda melepaskan jiwa mereka dari maut
dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.



Bacaan Kedua
1Ptr 2:4-9

"Kamulah bangsa yang terpilih, kaum imam yang rajawi."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:

Saudara-saudara terkasih,
datanglah kepada Kristus, batu yang hidup,
yang dibuang oleh manusia,
tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah.
Biarlah kamu pun dipergunakan sebagai batu hidup
untuk pembangunan suatu rumah rohani
bagi suatu imamat kudus,
untuk mempersembahkan persembahan rohani,
yang berkenan kepada Allah karena Yesus Kristus.
Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci:
   Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion
   sebuah batu yang terpilih,
   sebuah batu penjuru yang mahal,
   dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.

Karena itu, bagi kamu yang percaya, ia mahal,
tetapi bagi mereka yang tidak percaya,
"Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan
telah menjadi batu penjuru;
juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan."
Mereka tersandung padanya,
karena mereka tidak taat kepada Firman Allah;
dan memang sudah ditentukan untuk itu.
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,
kaum imam yang rajawi,
bangsa yang kudus,
umat kepunyaan Allah sendiri.
Maka kamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah.
Ia telah memanggil kamu keluar dari kegelapan
masuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Yoh 14:6

Akulah jalan, kebenaran dan hidup, sabda Tuhan.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa
kalau tidak melalui Aku.



Bacaan Injil
Yoh 14:1-12

"Akulah jalan, kebenaran dan hidup."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam amanat perpisahan-Nya
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Janganlah gelisah hatimu;
percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke sana
dan telah menyediakan tempat bagimu,
Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku,
supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada.
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana."
Kata Tomas kepada-Nya,
"Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi;
jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?"
Kata Yesus kepadanya,
"Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.
Sekiranya kamu mengenal Aku,
pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku.
Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
Kata Filipus kepada-Nya,
"Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami,
dan itu sudah cukup bagi kami."
Kata Yesus kepadanya,
"Telah sekian lama Aku bersama-sama engkau, Filipus,
namun engkau tidak mengenal Aku?
Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;
bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa kepada kami.
Tidak percayakah engkau
bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?
Apa yang Aku katakan kepadamu,
tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri,
tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku,
Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
Percayalah kepada-Ku
bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku;
atau setidak-tidaknya
percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku,
ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan,
bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.
Sebab Aku pergi kepada Bapa.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Minggu ini kita akan merenungkan ajaran-ajaran penting dari Yesus, bukan hanya untuk mencapai kehidupan kekal kelak di Surga, melainkan juga sebagai pedoman hidup selama kita masih berada di dunia ini.

Ajaran Yesus bukan sekadar ajaran untuk nanti, setelah kita meninggalkan dunia ini. Ajaran Yesus adalah pedoman untuk hari ini, untuk keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari, untuk sikap kita terhadap sesama, untuk cara kita menghadapi persoalan, untuk cara kita memperlakukan orang lain, dan untuk cara kita menentukan arah hidup.
Dengan kata lain, pengajaran Yesus adalah the way of our life, jalan hidup kita, bagaimana sepatutnya kita melewati hari demi hari sampai pada penghujung perjalanan kita nanti.

Hari ini kita mencermati pernyataan Yesus yang sangat penting, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” [Yoh 14:6]
Pernyataan ini memang mengarahkan kita kepada kehidupan kekal di rumah Bapa. Tetapi hari ini saya ingin merenungkannya juga dalam perspektif kehidupan kita di dunia ini, sebab justru di dunia inilah kita sedang berjalan, sedang memilih arah, sedang menghadapi persimpangan, dan sedang menentukan apakah kita sungguh berjalan bersama Kristus atau berjalan menurut kehendak kita sendiri.

Kita semua sedang berada dalam perjalanan hidup.
Perjalanan itu telah dimulai bahkan sejak kita masih berada di dalam rahim ibu kita. Lalu kita dilahirkan, bertumbuh, belajar berjalan, belajar berbicara, belajar mengenal dunia, belajar menghadapi suka dan duka, belajar mencintai, belajar kehilangan, belajar percaya, dan belajar menyerahkan diri kepada Tuhan.
Kalau kita menoleh ke belakang, sangat mungkin kita akan menemukan bahwa tidak selalu kita berjalan di jalan yang ditunjukkan oleh Yesus. Kadang kita berjalan menurut jalan kita sendiri. Kadang kita memilih jalan yang tampaknya lebih mudah, lebih cepat, lebih menguntungkan, lebih menyenangkan. Kadang kita bahkan tidak sadar sedang berada di jalan yang mana.
Tetapi dari tempat kita berdiri saat ini, Yesus kembali menegaskan arah yang benar, “Akulah jalan.”
Artinya, jalan itu bukan sekadar petunjuk, bukan sekadar peta, bukan sekadar nasihat, melainkan pribadi Yesus sendiri.
Jalan Yesus bukan jalan tol yang lebar, mulus, cepat, dan bebas hambatan. Jalan Yesus seringkali justru jalan yang sempit dan sesak. Jalan yang menuntut kesabaran. Jalan yang menuntut kerendahan hati. Jalan yang menuntut pengampunan. Jalan yang menuntut pengorbanan. Jalan yang menuntut kita untuk tidak selalu menjadi pusat perhatian, tidak selalu menang sendiri, tidak selalu membalas perlakuan orang lain dengan cara yang sama.
Tetapi jalan yang sempit itu mengarah kepada tujuan.

Percuma saja kita melaju cepat di jalan tol, kalau jalan itu tidak membawa kita kepada tujuan. Lebih baik kita berjalan pelan, kadang tertatih, kadang harus berhenti sejenak, tetapi kita tahu bahwa kita sedang berjalan di jalan yang benar, jalan yang membawa kita kepada Bapa.

Bacaan Pertama hari ini menjadi sangat menarik.
Dalam Kisah Para Rasul, jemaat perdana menghadapi persoalan yang sangat manusiawi. Ada keluhan bahwa para janda dari kelompok tertentu kurang diperhatikan dalam pelayanan sehari-hari. Ini bukan persoalan kecil, sebab menyangkut keadilan, perhatian, dan pelayanan kepada mereka yang lemah.
Para rasul tidak mengabaikan persoalan itu. Mereka tidak mengatakan, “Yang penting kami berdoa dan mewartakan firman, urusan pembagian makanan bukan urusan rohani.” Tidak. Mereka mencari jalan keluar. Mereka memilih orang-orang yang baik, penuh Roh dan hikmat, untuk menangani pelayanan itu.

Kita melihat bahwa jalan Yesus bukan hanya jalan doa, tetapi juga jalan pelayanan. Bukan hanya jalan ke altar, tetapi juga jalan ke meja makan orang miskin. Bukan hanya jalan pewartaan, tetapi juga jalan kepedulian. Bukan hanya jalan yang mengangkat tangan kepada Tuhan, tetapi juga jalan yang mengulurkan tangan kepada sesama.
Maka kalau Yesus berkata, “Akulah jalan,” kita tidak bisa mengartikan jalan itu hanya sebagai jalan batin yang tersembunyi di dalam hati. Jalan Yesus harus tampak dalam cara kita hidup. Tampak dalam cara kita melayani. Tampak dalam cara kita memperhatikan orang yang terabaikan. Tampak dalam cara kita menyelesaikan konflik. Tampak dalam cara kita menjaga agar pelayanan tetap adil, tertib, dan penuh kasih.

Yang kedua, Yesus berkata, “Akulah kebenaran.”
Kita sering memakai kata benar dalam hidup sehari-hari. Ada jawaban yang benar. Ada data yang benar. Ada perhitungan yang benar. Ada berita yang benar. Ada juga orang yang merasa dirinya benar.
Tetapi kebenaran yang dimaksud Yesus jauh lebih dalam daripada sekadar betul secara logika atau cocok dengan data. Kebenaran Yesus adalah kebenaran yang berasal dari Allah, kebenaran yang menyelamatkan, kebenaran yang membebaskan manusia dari kepalsuan, dari kemunafikan, dari tipu daya diri sendiri.

Kata “betul” dapat dihasilkan oleh sesuatu yang benar, tetapi kebenaran tidak sama dengan kebetulan.
Kebenaran adalah sesuatu yang sungguh-sungguh benar, lurus, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Yang sering menjadi persoalan bukan karena kebenaran itu ambivalen, melainkan karena cara manusia memahami, menafsirkan, dan membela kebenaran seringkali berbeda-beda, bahkan bisa saling bertentangan.

Dalam sejarah, seseorang bisa disebut pahlawan oleh bangsanya, tetapi disebut pemberontak oleh penjajahnya. Dalam kehidupan sehari-hari, satu peristiwa yang sama bisa ditafsirkan secara berbeda oleh dua orang yang berbeda. Bahkan dalam kehidupan beriman pun, orang bisa sama-sama merasa membela kebenaran, tetapi caranya tidak selalu mencerminkan kasih Kristus.

Kita perlu berpegang pada Yesus.
Bukan sekadar pada pendapat kita tentang Yesus, tetapi pada Yesus sendiri. Bukan sekadar pada selera kita dalam beragama, tetapi pada kebenaran yang dinyatakan oleh Kristus dan dijaga oleh Gereja-Nya.
Sebab kalau kita hanya berpegang pada pendapat sendiri, iman kita mudah bercabang. Hari ini ikut yang satu, besok ikut yang lain. Hari ini merasa benar karena didukung banyak orang, besok berubah karena tekanan keadaan. Tetapi kalau kita berpegang pada Yesus sebagai kebenaran, maka kita tidak mudah terombang-ambing.
Kebenaran Kristus tidak selalu menyenangkan telinga kita. Kadang kebenaran itu menegur. Kadang kebenaran itu membongkar kesombongan kita. Kadang kebenaran itu membuat kita harus mengakui bahwa kita keliru. Tetapi justru kebenaran Kristus itulah yang menyelamatkan kita.

Yang terakhir, Yesus berkata, “Akulah hidup.”
Kita juga perlu berhati-hati memahami kata “hidup” ini.
Orang bisa saja berkata, “Tanpa berjalan di jalan Yesus pun saya tetap hidup. Tanpa menjalankan kebenaran Yesus pun saya tetap bisa bekerja, tetap bisa makan, tetap bisa sukses, bahkan mungkin tetap bisa kaya raya.”
Secara jasmani, memang demikian.

Ada banyak orang yang tidak mengikuti Yesus, tetapi hidupnya tampak baik-baik saja. Ada yang sukses. Ada yang kaya. Ada yang dihormati. Ada yang tampaknya tidak kekurangan apa-apa.
Tetapi hidup yang dimaksud Yesus bukan sekadar hidup biologis. Bukan sekadar jantung masih berdetak, paru-paru masih bernapas, badan masih kuat bekerja, rekening masih terisi, rumah masih berdiri, dan nama masih dihormati orang.
Hidup yang dimaksud Yesus adalah hidup yang berasal dari Allah. Hidup rohani. Hidup yang dijiwai oleh kasih. Hidup yang tidak berhenti pada diri sendiri. Hidup yang tahu dari mana ia berasal dan ke mana ia akan kembali.

Bacaan Kedua dari Surat Pertama Rasul Petrus membantu kita memahami hal ini. Kita disebut sebagai batu-batu hidup, yang dibangun menjadi rumah rohani. Artinya, hidup kita bukan untuk berdiri sendiri-sendiri, bukan untuk menjadi batu yang tergeletak tanpa arah, melainkan untuk dibangun bersama dalam Kristus.
Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup sebagai bagian dari umat Allah. Kita hidup untuk dipakai Tuhan membangun rumah rohani, membangun keluarga, membangun Gereja, membangun masyarakat, membangun pelayanan, membangun harapan.

Maka hidup dalam Kristus bukan hidup yang pasif. Bukan hidup yang hanya menunggu masuk Surga. Hidup dalam Kristus adalah hidup yang terus dibentuk, terus disusun, terus diarahkan, agar menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah.

Saya teringat kepada orangtua saya.
Mereka tidak mewarisi saya dengan harta kekayaan duniawi. Tetapi mereka telah melimpahi saya dengan harta rohani yang luar biasa. Harta rohani itulah yang pelan-pelan membentuk jalan hidup saya. Harta rohani itulah yang membuat saya lebih mudah memahami bahwa hidup bukan hanya soal apa yang kita miliki, tetapi juga soal ke mana kita sedang berjalan. Bukan hanya soal apa yang kita capai, tetapi juga soal siapa yang kita ikuti.

Warisan rohani itu memudahkan saya untuk mengamini perkataan Yesus hari ini, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.” [Yoh 14:1-2]
Rumah kita yang sekarang ini hanya sementara. Sebagus apa pun rumah kita, senyaman apa pun tempat tinggal kita, semuanya tetap sementara. Suatu hari nanti semuanya akan kita tinggalkan.
Tetapi Yesus tidak meninggalkan kita tanpa arah. Ia tidak hanya berkata, “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal,” lalu membiarkan kita mencari jalan sendiri. Ia sendiri menjadi jalan. Ia sendiri menjadi kebenaran. Ia sendiri menjadi hidup.

Maka pertanyaan bagi kita hari ini bukan sekadar, “Apakah saya percaya kepada Yesus?”
Pertanyaannya juga, “Apakah saya sungguh berjalan di jalan Yesus? Apakah saya sungguh membiarkan kebenaran Yesus menuntun keputusan saya? Apakah hidup saya sungguh hidup yang dijiwai oleh Kristus?”
Sebab percaya kepada Yesus tidak berhenti pada pengakuan di mulut. Percaya kepada Yesus harus tampak dalam arah hidup kita.
Kalau Yesus adalah jalan, maka jangan berjalan menjauh dari-Nya.
Kalau Yesus adalah kebenaran, maka jangan membangun hidup di atas kepalsuan.
Kalau Yesus adalah hidup, maka jangan menghabiskan hidup hanya untuk hal-hal yang suatu hari nanti pasti kita tinggalkan.

Hari ini Yesus tidak hanya menunjukkan jalan kepada kita. Ia sendiri menjadi jalan itu.
Ia tidak hanya mengajarkan kebenaran kepada kita. Ia sendiri adalah kebenaran itu.
Ia tidak hanya menjanjikan hidup kepada kita. Ia sendiri adalah hidup itu.
Maka marilah kita berjalan bersama Dia, berpegang pada kebenaran-Nya, dan membiarkan hidup kita dibangun menjadi rumah rohani yang berkenan kepada Allah.
Sebab hanya dengan demikian, perjalanan hidup kita di dunia ini tidak menjadi perjalanan yang sia-sia, melainkan perjalanan yang pelan-pelan, setapak demi setapak, membawa kita pulang ke rumah Bapa.



Peringatan Orang Kudus
Santo Filipus dan Yakobus Muda, Rasul
Filipus Rasul yang berasal dari Betsaida di Galilea adalah seorang murid Yohanes Pemandi.
Ketika Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai anak Domba Allah, Filipus ada di situ.
Penginjil Yohanes mengatakan bahwa Yesus memanggil Filipus menjadi muridNya sehari setelah Ia memanggil Petrus dan Andreas [Yoh 1:35-51].
Meskipun tidak banyak cerita tentang dia sesudah kenaikan Yesus, diketahui bahwa Filipus mewartakan Injil di Frigia, sebuah kota tua di Asia kecil.
Klemens dari Aleksandria mengatakan bahwa Filipus menderita penganiayaan hebat dan disalibkan dengan kepala di bawah, sebagaimana dialami Petrus di Roma pada masa pemerintahan kaisar Domitianus [81-96].
Injil Mateus, Markus dan Lukas memasukkan Filipus dalam daftar para Rasul sebagai orang nomor lima setelah Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes.
Wataknya yang spontan tanpa ragu-ragu terlihat jelas dalam kisah Injil Yohanes.
Ia tanpa ragu-ragu mengikuti Yesus tatkala menerima seruan panggilan Yesus.
Keyakinannya tentang kedudukan Yesus sebagai Mesias yang dinantikan Israel dinyatakan jelas kepada Nathanael, "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret".
Pada peristiwa perbanyakan roti untuk 5000 orang, Filipus dengan spontan menjawab Yesus, "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekali pun masing-masing mendapat sepotong kecil saja". [Yoh 6:7]
Sebuah cerita yang berhubungan dengan kehidupan Filipus sesudah kenaikan Yesus disajikan oleh Eusebius dan penulis Kristen purba lainnya.
Mereka mengatakan bahwa Filipus mewartakan Injil di Frigia dan meninggal di Hierapolis, Asia Kecil.   Jenazahnya dimakamkan pula di Hierapolis.
Kemudian, relikuinya dikirim ke Roma dan sejak tahun 561 disemayamkan di basilik Rasul-rasul.
Polycrates, Uskup Efesus, dalam sebuah suratnya kepada Paus Victor II (1055-1057), menyebutkan bahwa dua orang anak Filipus hidup di Hierapolis, sedangkan yang lainnya di Efesus.
Papias, Uskup Hierapolis mengenal baik anak-anak Filipus.
Dari mereka ia mengetahui bahwa Filipus pernah menghidupkan kembali seorang lelaki yang telah meninggal.
Tentang Yakobus dikatakan bahwa ia termasuk salah seorang Rasul Yesus.
Ia disebut Yakobus Muda untuk membedakan dia dari Yakobus Tua yang sudah lebih dahulu menjadi Rasul.
Ia dikenal sebagai anak Alfeus dan saudara sepupu Yesus.
Ibunya Maria termasuk bilangan wanita-wanita yang senantiasa melayani Yesus.
Maria inilah yang mendampingi Bunda Maria sampai puncak Golgota, bahkan juga pada saat Yesus dimakamkan.
Sebelum menjadi murid Yesus, ia bekerja sebagai petani untuk menghidupi keluarganya.
Dalam Kitab Suci, ia baru dikenal setelah Yakobus Tua dibunuh oleh raja Herodes. Ketika para Rasul terpencar untuk mewartakan peristiwa Kebangkitan Tuhan, dan Petrus mengungsi keluar dari Yerusalem, Yakobus ini tetap tinggal di Yerusalem.
Ia kemudian menjadi Uskup Yerusalem yang pertama.
Di Yerusalem orang-orang Yahudi sungguh menghormati dia.
Dia diberi julukan oleh orang-orang Yahudi sebagai "Yang Adil" karena mengetahui segala hukum Yahudi dan dia sendiri tetap patuh pada Hukum Taurat Musa.
Meskipun demikian, sebagai Rasul dan Uskup, ia sangat menjunjung tinggi segala hukum Kristiani dan tidak berkeberatan kalau orang-orang Kristen bukan keturunan Yahudi dibebaskan dari tuntutan Hukum Taurat, terutama kewajiban sunat.
Hal ini terjadi pada Konsili pertama di Yerusalem, di mana dia juga tampil berbicara dengan penuh wibawa dan kebijaksanaan.
Santo Paulus menyebut Yakobus sebagai seorang Sokoguru Gereja sejajar dengan Petrus dan Yohanes (Gal 2:9).
Dalam masa kepemimpinannya sebagai Uskup Yerusalem, ia berhasil mempertobatkan banyak orang Yahudi di Palestina.
Ketika diadakan Konsili di Yerusalem pada tahun 49, ia berdebat dengan Paulus tentang seberapa jauh orang-orang Kristen keturunan bukan Yahudi harus menghormati beberapa pokok Hukum Taurat.
Karena ulah beberapa kawan Yakobus timbulah keonaran di Antiokia melawan Paulus.
Namun kedua rasul ini bersahabat karib ketika Paulus tiba di Yerusalem, Yakobuslah yang menasehatkan agar Paulus pergi ke Bait Allah untuk mentahirkan diri dan memberi persembahan.
Paulus menuruti nasehat Yakobus.
Tetapi ia ditangkap dan diseret ke hadapan pengadilan.
Paulus sebagai warga negara Romawi minta diadili langsung oleh kaisar sendiri.
Maka ia dikirim ke Roma.
Demikian Paulus, Rasul bangsa-bangsa kafir itu sampai di Roma berkat 'perantaraan' Yakobus.
Tetapi sebaliknya Yakobus dicurigai oleh orang-orang Yahudi karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk membalas Paulus.
Karena itu beberapa tahun kemudian Yakobus ditangkap, dilemparkan dari menara Bait Allah lalu dirajam hingga mati pada tahun 62.
Menurut sejarawan Hegesippus, Rasul Yakobus menghayati suatu cara hidup yang amat keras, antara lain: tidak makan daging dan minum anggur.
Ia juga tidak memakai alas kaki dan pakaiannya hanya selembar saja.
Banyak waktunya digunakan untuk berdoa sambil berlutut sehingga kulit lututnya menjadi sangat tebal dan keras.
Surat-suratnya yang lebih menonjolkan perwujudan cinta kasih kepada sesama, terutama yang miskin dan melarat, dimasukkan dalam Kanon Kitab Suci.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/