Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Prapaskah IV
Minggu, 15 Maret 2026
Pada Minggu Prapaskah ke-4 ("Laetare") dan pada Hari Raya dan Pesta, orgel dan alat-alat musik lain dapat dimainkan dan altar dapat dihias dengan bunga-bunga. Pada Minggu ini dapat juga dipakai busana berwarna merah muda (PPP 25).
Bacaan Pertama
1Sam 16:1b.6-7.10-13a
"Daud diurapi menjadi raja Israel."
Pembacaan dari Kitab Pertama Samuel:
Setelah Raja Saul ditolak,
berfirmanlah Tuhan kepada Samuel,
"Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah.
Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu,
sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."
Ketika anak-anak Isai itu masuk,
dan ketika melihat Eliab, Samuel berpikir,
"Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya."
Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel,
"Janganlah terpancang pada paras atau perawakan yang tinggi,
sebab Aku telah menolaknya.
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;
manusia melihat apa yang di depan mata,
tetapi Tuhan melihat hati."
Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel,
tetapi Samuel berkata kepada Isai,
"Semuanya ini tidak dipilih Tuhan."
Lalu Samuel berkata kepada Isai,
"Inikah semua anakmu?"
Jawab Isai, "Masih tinggal yang bungsu,
tetapi ia sedang menggembalakan kambing domba."
Kata Samuel kepada Isai, "Suruhlah memanggil dia,
sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."
Kemudian disuruhnyalah menjemput dia.
Kulitnya kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok.
Lalu Tuhan berfirman,
"Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."
Samuel mengambil tabung tanduknya yang berisi minyak itu,
dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya.
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan
Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6,R:1
Refren: Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.
*Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.
Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau.
Ia membimbing aku ke air yang tenang
dan menyegarkan daku.
*Ia menuntun aku di jalan yang lurus
demi nama-Nya yang kudus.
Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.
Tongkat gembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
*Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan segala lawanku.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak,
pialaku penuh melimpah.
*Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku,
seumur hidupku.
Aku akan diam di dalam rumah Tuhan
sepanjang masa.
Bacaan Kedua
Ef 5:8-14
"Bangkitlah dari antara orang mati,
maka Kristus akan bercahaya atas kamu."
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus:
Saudara-saudara,
memang dahulu kamu adalah kegelapan,
tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.
Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.
Karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran.
Ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan kegelapan
yang tidak berbuahkan apa-apa,
tetapi sebaliknya, telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
Sebab menyebutkan saja apa yang mereka buat di tempat-tempat yang tersembunyi
telah memalukan.
Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu
menjadi nampak,
sebab semua yang nampak adalah terang.
Itulah sebabnya dikatakan,
"Bangunlah, hai kamu yang tidur,
dan bangkitlah dari antara orang mati,
maka Kristus akan bercahaya atas kamu."
Demikianlah sabda Tuhan.
Bait Pengantar Injil
Yoh 8:12b
Akulah terang dunia, sabda Tuhan.
Barangsiapa mengikuti Aku mempunyai terang hidup.
Bacaan Injil
Yoh 9:1-41
"Orang itu pergi, membasuh diri, dan dapat melihat."
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Sekali peristiwa,
ketika Yesus sedang berjalan lewat,
Ia melihat seorang yang buta sejak lahir.
Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya,
"Rabi, siapakah yang berbuat dosa,
orang ini sendiri atau orang tuanya,
sehingga ia dilahirkan buta?"
Jawab Yesus,
"Bukan dia dan bukan juga orang tuanya,
tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,
selama masih siang.
Akan datang malam, di mana tak seorang pun dapat bekerja.
Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."
Sesudah mengatakan semua itu,
Yesus meludah ke tanah,
dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah,
lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
dan berkata kepadanya,
"Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam."
Siloam artinya: "Yang diutus."
Maka pergilah orang itu.
Ia membasuh dirinya,
lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Maka tetangga-tetangganya,
dan mereka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata,
"Bukankah dia ini yang selalu mengemis?"
Ada yang berkata, "Benar, dialah ini!"
Ada pula yang berkata,
"Bukan, tetapi ia serupa dengan dia."
Orang itu sendiri berkata, "Benar, akulah dia."
Kata mereka kepadanya, "Bagaimana matamu menjadi melek?"
Jawabnya, "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah,
mengoleskannya pada mataku,
dan berkata kepadaku:
Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu.
Lalu aku pergi, dan setelah membasuh diri,
aku dapat melihat."
Lalu mereka berkata kepadanya, "Di manakah Dia?"
Jawabnya, "Aku tidak tahu."
Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu
kepada orang-orang Farisi.
Adapun hari
waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu,
adalah hari Sabat.
Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya,
bagaimana matanya menjadi melek.
Jawabnya, "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku,
lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat."
Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu,
"Orang ini tidak datang dari Allah,
sebab Ia tidak memelihara hari Sabat."
Sebagian pula berkata,
"Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?"
Maka timbullah pertentangan di antara mereka.
Lalu kata mereka pula kepada orang yang tadinya buta itu,
"Dan engkau, karena Ia telah memelekkan matamu,
apakah katamu tentang Dia?"
Jawabnya, "Ia seorang nabi!"
Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya,
bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat.
Maka mereka memanggil orangtuanya, dan bertanya kepada mereka,
"Inikah anakmu yang kamu katakan lahir buta?
Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?"
Jawab orangtua itu,
"Yang kami tahu dia ini anak kami,
dan ia memang lahir buta.
Tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu;
dan siapa yang memelekkan matanya, kami juga tidak tahu.
Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa;
ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri."
Orangtuanya berkata demikian,
karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi,
sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat
bahwa setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias,
akan dikucilkan.
Itulah sebabnya maka orangtua itu berkata,
"Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri."
Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu,
dan berkata kepadanya,
"Katakanlah kebenaran di hadapan Allah:
Kami tahu bahwa orang itu orang berdosa."
Jawabnya, "Apakah Dia itu orang berdosa, aku tidak tahu!
Tetapi satu hal yang aku tahu,
yaitu: Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat."
Kata mereka kepadanya,
"Apakah yang diperbuat-Nya padamu?
Bagaimana Ia dapat memelekkan matamu?"
Jawabnya, "Telah kukatakan kepadamu,
dan kamu tidak mendengarkannya.
Mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi?
Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?"
Sambil mengejek, orang-orang Farisi berkata kepadanya,
"Engkau saja murid orang itu, tetapi kami murid-murid Musa.
Kami tahu bahwa Allah telah berfirman kepada Musa,
tetapi tentang Dia itu, kami tidak tahu dari mana Ia datang."
Jawab orang itu kepada mereka,
"Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang,
padahal Ia telah memelekkan mataku.
Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa,
melainkan orang-orang yang saleh
dan yang melakukan kehendak-Nya.
Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar,
bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.
Jikalau orang itu tidak datang dari Allah,
Ia tidak dapat berbuat apa-apa."
Jawab mereka,
"Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa,
dan engkau hendak mengajar kami?"
Lalu mereka mengusir dia ke luar.
Yesus mendengar bahwa orang itu telah diusir ke luar oleh orang-orang Farisi.
Maka, ketika bertemu dengan dia, Yesus berkata,
"Percayakah engkau kepada Anak Manusia?"
Jawabnya, "Siapakah Dia, Tuhan?
Supaya aku percaya kepada-Nya."
Kata Yesus kepadanya, "Engkau bukan saja melihat Dia!
Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!"
Kata orang itu, "Aku percaya, Tuhan!"
Lalu ia sujud menyembah Yesus.
Kata Yesus, "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi,
supaya barangsiapa tidak melihat dapat melihat,
dan supaya yang dapat melihat menjadi buta."
Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi
yang berada di situ,
dan mereka berkata kepada Yesus,
"Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?"
Jawab Yesus kepada mereka,
"Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa.
Tetapi karena kamu berkata 'Kami melihat',
maka tetaplah dosamu."
Demikianlah sabda Tuhan.
ATAU BACAAN SINGKAT:
Yoh 9:1.6-9.13-17.34.38
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Sekali peristiwa,
ketika Yesus sedang berjalan lewat,
Ia melihat seorang yang buta sejak lahir.
Maka Ia meludah ke tanah,
dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah,
lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
dan berkata kepadanya,
"Pergilah, basuhlah dirimu di kolam Siloam."
Siloam artinya: "Yang diutus."
Maka pergilah orang itu.
Ia membasuh dirinya, lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Maka tetangga-tetangganya,
dan mereka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata,
"Bukankah dia ini yang selalu mengemis?"
Ada yang berkata, "Benar, dialah ini!"
Ada pula yang berkata,
"Bukan, tetapi ia serupa dengan dia."
Orang itu sendiri berkata, "Benar, akulah dia."
Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu
kepada orang-orang Farisi.
Adapun hari
waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu,
adalah hari Sabat.
Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya,
bagaimana matanya menjadi melek.
Jawabnya, "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku,
lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat."
Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu,
"Orang ini tidak datang dari Allah,
sebab Ia tidak memelihara hari Sabat."
Sebagian pula berkata,
"Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?"
Maka timbullah pertentangan di antara mereka.
Lalu kata mereka pula kepada orang yang tadinya buta itu,
"Dan engkau, karena Ia telah memelekkan matamu,
apakah katamu tentang Dia?"
Jawabnya, "Ia seorang nabi!"
Tetapi orang-orang Farisi menegur dia,
"Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa,
dan engkau hendak mengajar kami?"
Lalu mereka mengusir dia ke luar.
Yesus mendengar
bahwa orang itu telah diusir ke luar oleh orang-orang Farisi.
Maka, ketika bertemu dengan dia, Yesus berkata,
"Percayakah engkau kepada Anak Manusia?"
Jawabnya, "Siapakah Dia, Tuhan?
Supaya aku percaya kepada-Nya."
Kata Yesus kepadanya, "Engkau bukan saja melihat Dia!
Dia yang sedang berbicara dengan engkau, Dialah itu!"
Kata orang itu, "Aku percaya, Tuhan!"
Lalu ia sujud menyembah Yesus.
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan Injil
Dari Bacaan Injil hari ini kita mendapat sebuah pencerahan yang sangat kuat.
Ada seorang yang buta sejak lahir.
Lalu orang-orang pun mengkait-kaitkan keadaannya dengan dosa orang tuanya.
Mereka bertanya kepada Yesus:
"Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" [Yoh 9:2]
Jawaban Yesus sangat jelas dan tegas:
"Bukan dia dan bukan juga orang tuanya." [Yoh 9:3]
Artinya, tidak semua penderitaan atau keterbatasan hidup manusia merupakan hukuman atas dosa.
Seseorang dilahirkan buta tentu ada penyebabnya, tetapi tidaklah benar kalau langsung dikaitkan dengan kutukan, dosa orang tua, atau dianggap sebagai takdir buruk.
Dalam banyak hal, penyebabnya memang tidak selalu dapat dijelaskan secara gamblang.
Seringkali tetap menjadi misteri bagi manusia.
Namun satu hal yang Yesus tegaskan:
melalui keadaan itu, karya Allah dapat dinyatakan.
Seringkali kita juga salah memahami disabilitas.
Seolah-olah orang yang memiliki keterbatasan fisik pasti bernasib malang.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Lihat saja Stevie Wonder, penyanyi tuna-netra legendaris dari Amerika.
Atau Andrea Bocelli dari Italia, yang suaranya begitu indah ketika menyanyikan lagu "The Prayer".
Franklin Delano Roosevelt memang tidak buta, tetapi mengalami gangguan fisik yang berat, namun mampu menjadi Presiden Amerika Serikat ke-32.
Nick Vujicic dari Australia bahkan lahir tanpa tangan dan kaki, tetapi justru menjadi pembicara motivasi yang menginspirasi dunia.
Dan siapa yang tidak mengenal Louis Braille dari Prancis.
Ia tidak dilahirkan buta, tetapi mengalami kecelakaan pada usia tiga tahun sehingga kehilangan penglihatannya.
Justru dari keterbatasannya itu lahirlah sistem huruf Braille yang sampai hari ini memungkinkan para tuna-netra membaca.
Keterbatasan ternyata tidak selalu menjadi penghalang.
Seringkali justru menjadi jalan bagi karya besar Tuhan.
Hal yang sama juga dapat kita lihat dalam Bacaan Pertama hari ini.
Ketika Nabi Samuel mencari calon raja bagi Israel, ia sempat terpikat oleh penampilan kakak-kakak Daud yang tampak gagah dan meyakinkan.
Tetapi Tuhan berkata kepada Samuel:
"Jangan pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi besar, sebab Aku telah menolaknya.
Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati." [1Sam 16:7]
Akhirnya pilihan Tuhan jatuh kepada Daud, seorang anak bungsu yang bahkan tidak dianggap penting oleh keluarganya sendiri.
Ia hanya seorang penggembala domba di Betlehem, desa kecil yang jauh dari pusat kekuasaan.
Namun justru dari Daud inilah lahir sebuah sejarah besar.
Nama Betlehem menjadi terkenal ke seluruh dunia, karena kelak di sanalah Yesus, Sang Mesias, lahir sebagai Anak Daud.
Sekarang kita sampai pada inti renungan hari ini.
Bisa jadi kita merasa diri kita normal.
Tidak buta, tidak lumpuh, tidak memiliki disabilitas fisik.
Kita merasa sehat jasmani dan rohani.
Tunggu dulu.
Saya justru yakin bahwa kita semua sebenarnya adalah *difabel*.
Masing-masing dari kita memiliki keterbatasan tertentu.
Ada yang difabel dalam hal empati, sulit merasakan penderitaan orang lain.
Ada yang difabel dalam hal kasih, mudah menghakimi tetapi sulit mengasihi.
Ada yang difabel dalam hal kejujuran, atau dalam hal kesetiaan.
Saya sendiri pernah mengalami satu bentuk disabilitas yang sangat serius.
Bukan buta secara fisik, tetapi *buta secara rohani*.
Dulu saya hidup seperti orang yang bisa melihat,
tetapi sebenarnya saya tidak menyadari bahwa hati saya sedang mengalami kebutaan batin.
Saya merasa sudah benar, merasa sudah tahu, merasa sudah melihat.
Padahal sebenarnya saya belum benar-benar melihat dengan hati.
Baru setelah mengalami berbagai proses kehidupan,
saya mulai menyadari bahwa saya pun pernah seperti orang buta dalam Injil hari ini.
Bedanya, orang itu tahu bahwa ia buta.
Sedangkan kita sering tidak sadar bahwa kita sedang buta.
Justru yang paling berbahaya adalah kebutaan yang tidak disadari.
Orang Farisi dalam Injil ini merasa dirinya paling benar.
Mereka merasa paling tahu tentang Allah.
Namun justru mereka tidak mampu melihat karya Allah yang sedang terjadi di depan mata mereka.
Yesus bahkan berkata kepada mereka di bagian akhir Injil:
"Jika kamu buta, kamu tidak berdosa; tetapi karena kamu berkata: kami melihat, maka tetaplah dosamu." [Yoh 9:41]
Karena itu, pertanyaan penting bagi kita hari ini bukanlah:
apakah kita memiliki keterbatasan atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
apakah kita menyadari keterbatasan itu?
Apakah kita berani melongok ke dalam diri kita sendiri,
mencari tahu keterbatasan apa saja yang masih membelenggu hati kita?
Jika kita mau jujur dan rendah hati,
maka Tuhan sanggup menyembuhkan disabilitas batin kita.
Dengan pertolongan Allah Bapa,
separah apa pun keterbatasan yang kita miliki dapat dipulihkan.
Maka janganlah kita menyalahkan keadaan,
jangan menyalahkan orang tua,
jangan menyalahkan masa lalu.
Sebaliknya, mari kita belajar melihat dengan hati.
Melihat orang lain dengan kasih.
Melihat diri sendiri dengan kerendahan hati.
Dan ketika Tuhan membuka mata batin kita,
barulah kita benar-benar dapat berkata seperti orang yang disembuhkan Yesus itu:
"Dahulu aku buta, tetapi sekarang aku dapat melihat." [Yoh 9:25]
Amin.
Peringatan Orang Kudus
Santa Louisa de Marillac, Janda
Louisa tergolong anak malang. Ibunya meninggal dunia ketika ia baru berumur tiga tahun. Ayahnya menikah lagi dengan seorang janda dengan empat orang anak. Perkembangannya tidak dipedulikan oleh ibu tirinya itu. Setelah beberapa tahun, ia dimasukkan ke sebuah asrama putri, milik Suster-suster. Di sinilah mulai tumbuh minatnya pada kehidupan membiara, Tetapi karena kesehatannya selalu terganggu, ia keluar lagi dari asrama itu.
Pada umur 22 tahun, ia menikah dengan seorang pemuda bangsawan bernama Antonius Legras, sekretaris istana Ratu Prancis. Kepada mereka, Tuhan mengaruniakan seorang anak laki-laki yang dipermandikan dengan nama Mikhael. Sebagai ibu rumah tangga, Louisa selalu melayani suami dan anaknya dengan penuh cinta. Meskipun demikian kesulitan keluarga pun sering dialaminya. Suaminya sering tidak berada di rumah karena tuntutan tugasnya. Sedangkan dia sendiri pun kerap ketakutan karena merasa berat menangani anaknya. Kekuatiran akan kemerosotan hidup rohaninya menjadi suatu sumber ketakutan lain baginya.
Untuk mengatasi semuanya itu, ia giat melakukan pekerjaan-pekerjaan amal dan rajin berdoa. Kegemarannya melukis terus dilakukannya dalam waktu-waktu senggang. Pekerjaan-pekerjaan amal yang dilakukannya bagi orang-orang sakit dan miskin membuatnya sangat dekat dengan mereka. Atas penyelenggaraan ilahi, ia bertemu dengan Santo Fransiskus dari Sales.
Pada hari raya Pentekosta tahun 1623, ia mengalami suatu peristiwa ajaib: ia mendengar suatu suara ajaib yang memberitahukan kepadanya tentang kehidupannya di masa yang akan datang sebagai salah seorang anggota sebuah serikat religius yang mengabdikan diri kepada kaum miskin. Suara itu pun menjanjikan kepadanya seorang bapa pengakuan yang saleh. Dalam suatu penglihatan, ia menyaksikan sejumlah besar suster keluar masuk sebuah biara.
Pengalaman ini akhirnya menjadi kenyataan baginya. Pada tahun 1625 ketika suaminya meninggal dunia, Louisa mulai memasuki corak hidup baru seperti dikatakan oleh suara ajaib itu. Tuhan mengirimkan kepadanya Santo Vinsensius a Paulo sebagai bapa pengakuannya. Oleh Vinsensius, ia ditugaskan untuk mengambil bagian dalam aksi amal yang dilakukan oleh perkumpulan Vinsensius di Prancis. Pada tahun 1633, Vinsensius menugaskan Louisa mendidik gadis-gadis agar kemudian mendampinginya dalam karya amal itu.
Tugas ini perlahan-lahan menjadikan dia pembina dan ibu bagi sebuah tarekat baru: Tarekat Putri-putri Kasih. Tarekat ini berkembang pesat dan menyebar ke seluruh pelosok Prancis. Mereka mengabdikan diri secara khusus pada pelayanan orang-orang sakit. Kemudian tarekat ini mengembangkan sayapnya sampai Italia dan Polandia. Louisa tetap menjadi pemimpin dan pembina tarekat ini selama 35 tahun. Sebelum menghembuskan nafasnya, ia berpesan kepada para susternya agar selalu bermurah hati penuh cinta kepada para miskin dan pengemis. Sebab di dalam mereka, Kristus tampak secara paling nyata. Louisa meninggal dunia pada tanggal 15 Maret 1660. la meninggal dengan tenang dan pergi menemui Yesus yang selalu dilayaninya dengan penuh kasih dalam diri para miskin dan orang sakit. Putri-putri Kasih ini berkarya juga di Indonesia, yakni di Surabaya.
Santo Klemens Maria Hofbauer, Pengaku Iman
Kehidupan Klemens dihiasai dengan rentetan kesukaran dan kegagalan. Namun menurut Sri Paus Pius VII (1800-1823), sahabat karib Klemens, ia adalah seorang rasul yang tangguh, suci dan tiang penyanggah Gereja. la dikenal sebagai "Rasul Gereja Vienna".
la lahir pada tanggal 26 Desember 1751 di Tasswitz, Moravia, bagian dari wilayah Cekoslovakia. Sejak masa mudanya, ia bercita-cita menjadi imam. Tetapi keluarganya yang hidup dari hasil peternakan sapi tidak mempunyai apa-apa untuk menyekolahkan dia. Oleh karena itu, ia menjadi tukang roti semenjak berumur 15 tahun. Beberapa tahun berikutnya, ia menjalani corak hidup baru sebagai pertapa sambil tetap melakukan pekerjaannya sebagai tukang roti.
Sekitar tahun 1780, Yoseph II sebagai Kaisar Romawi membumi-hanguskan pertapaan-pertapaan yang ada. Karena peristiwa ini Klemens pergi ke Vienna. Di sana ia terus melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang roti. Sementara itu ia mengikuti kuliah di Roma dan Vienna dari tahun 1780 sampai 1784. Kemudian ia masuk biara Redemptoris di Roma dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun berikutnya.
Sebagai imam baru, Klemens dikirim ke Vienna untuk mendirikan sebuah biara Redemptoris. Namun usahanya ini gagal karena perlawanan dari pengikut-pengikut kaisar Yoseph yang ingin menundukkan para imam ke bawah pemerintahan absolut negara. Sebagai gantinya, ia dikirim ke Warsaw untuk memimpin kelompok umat Katolik yang berbahasa Jerman. la mengirim para misionaris untuk mendirikan biara-biara Redemptoris di Jerman, Swiss, daerah-daerah Baltik, dan berbagai daerah di Polandia.
Kira-kira pada tahun 1808, ia dipaksa oleh hukum antiklerus dari Napoleon I untuk meninggalkan Warsaw. la kembali ke Vienna, dan di sana diangkat menjadi pastor pembantu untuk biara Suster-suster Ursulin dan rektor untuk Gereja mereka yang mulai dibuka untuk umum. la bersama pembantunya bekerja dengan giat untuk menghidupkan kembali Gereja Vienna dengan mempertobatkan umat dan menolong orang-orang sakit dan miskin. Akhirnya, namanya mulai dikenal banyak orang, termasuk para pembesar negara, dan professor-profesor universitas.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, sebagai bagian dari rencananya untuk mewariskan iman Katolik yang benar di Vienna, Klemens mendirikan sebuah sekolah Katolik untuk para imam dan awam. Kecuali itu, pada Konggres di Vienna, ia dengan gigih berusaha untuk menggagalkan gerakan Gereja Nasional. Ia juga berusaha mendapatkan izin pemerintah untuk mendirikan sebuah perkumpulan Redemptoris di Vienna. Usahanya ini membuat dia dikenal sebagai pendiri Ordo Redemptoris kedua.
Klemens meninggal dunia di Vienna pada tanggal15 Maret 1820, dan digelari "Rasul Gereja Vienna".