Liturgia Verbi 2026-05-18 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah VII

Senin, 18 Mei 2026

PF S. Yohanes I, Paus dan Martir



Bacaan Pertama
Kis 19:1-8

"Sudahkah kamu menerima Roh Kudus,
ketika kamu menjadi percaya?"

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Ketika Apolos masih berada di kota Korintus,
Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman Asia,
dan tiba di Efesus.
Di situ didapatinya beberapa orang murid.
Katanya kepada mereka, "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus,
ketika kamu menjadi percaya?"
Akan tetapi mereka menjawab dia,
"Belum, bahkan kami belum pernah mendengar,
bahwa ada Roh Kudus."
Lalu kata Paulus kepada mereka,
"Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?"
Jawab mereka, "Dengan baptisan Yohanes."
Kata Paulus, "Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat,
dan Yohanes sendiri berkata kepada orang banyak,
bahwa mereka harus percaya kepada Dia
yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus."

Ketika mereka mendengar hal itu,
mereka memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka,
turunlah Roh Kudus ke atas mereka,
dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ
dan mengajar dengan berani.
Lewat pemberitaannya
ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 68:2-3.4-5ac.6-7b,R:33a

Refren: Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi Allah.

*Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya,
orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya.
Seperti asap hilang tertiup,
seperti lilin meleleh di depan api,
demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah.

*Tetapi orang-orang benar bersukacita,
mereka beria-ria di hadapan Allah,
bergembira dan bersukacita.
Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya!
Nama-Nya ialah Tuhan!

*Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda,
itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;
Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara,
Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.



Bait Pengantar Injil
Kol 3:1

Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,
carilah perkara yang di atas,
di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.



Bacaan Injil
Yoh 16:29-33

"Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam amanat perpisahan-Nya
Yesus berkata bahwa akan tiba saat-Nya
bahwa Ia tidak lagi berbicara dengan memakai kiasan.
Maka para murid berkata kepada Yesus,
"Lihat sekarang Engkau berkata-kata terus terang
dan Engkau tidak memakai kiasan.
Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu
dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu.
Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."

Jawab Yesus kepada mereka,
"Percayakah kamu sekarang?
Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang,
bahwa kamu dicerai-beraikan, masing-masing ke tempatnya sendiri
dan kamu meninggalkan Aku seorang diri.
Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.
Semuanya itu Kukatakan kepadamu,
supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku.
Dalam dunia kamu menderita penganiayaan,
tetapi kuatkanlah hatimu,
Aku telah mengalahkan dunia."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Pada Bacaan Injil hari ini, para murid berkata kepada Yesus, "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu... Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah." Lalu Yesus menjawab mereka, "Percayakah kamu sekarang?"

Pertanyaan Yesus ini sederhana, tetapi sangat dalam. Sebab percaya itu mudah diucapkan ketika hati sedang tenang, ketika keadaan masih baik-baik saja, ketika kita belum berhadapan dengan ancaman, ketakutan, penderitaan, atau kehilangan. Tetapi iman yang sesungguhnya baru terlihat ketika keadaan mulai mengguncang hidup kita.

Yesus lalu berkata, "Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri." Saya tidak melihat perkataan ini sebagai gambaran bahwa Yesus sendirian di gereja karena tidak ada umat yang datang. Bukan itu maksudnya. Yang dimaksud Yesus adalah saat sengsara-Nya sudah tiba, saat Ia mesti menyerahkan nyawa-Nya. Dan jalan salib itu memang harus ditempuh-Nya sendiri. Para murid akan tercerai-berai. Mereka akan menyelamatkan diri masing-masing. Mereka akan meninggalkan Yesus seorang diri.

Tetapi Yesus tidak berhenti pada kenyataan yang pahit itu. Ia melanjutkan, "Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku." Inilah iman Yesus kepada Bapa-Nya. Ia tahu, manusia bisa meninggalkan-Nya, murid-murid bisa tercerai-berai, sahabat-sahabat dekat bisa menjadi takut, tetapi Bapa tidak pernah meninggalkan-Nya.

Di sinilah kita menemukan pegangan penting bagi hidup kita. Kita pun bisa mengalami saat-saat ketika merasa ditinggalkan, merasa harus menanggung beban seorang diri, merasa tidak ada orang yang benar-benar memahami pergumulan kita. Ada penderitaan yang memang tidak bisa dipikul orang lain menggantikan kita. Ada salib yang tetap harus kita pikul sendiri. Tetapi iman mengajarkan kepada kita: kita tidak pernah benar-benar sendirian, sebab Allah menyertai kita.

Bacaan Pertama hari ini memperdalam renungan ini. Rasul Paulus bertanya kepada para murid di Efesus, "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Pertanyaan ini juga layak kita dengarkan hari ini. Kita sudah percaya kepada Kristus. Kita juga sudah menerima Sakramen Baptis, dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Tetapi apakah Roh Kudus sungguh kita beri tempat untuk bekerja di dalam hati kita?

Sebab bisa saja kita sudah percaya, tetapi masih hidup seolah-olah sendirian. Bisa saja kita sudah dibaptis, tetapi ketika menghadapi masalah, kita tetap panik seperti orang yang tidak punya pegangan. Bisa saja kita sudah mengaku beriman, tetapi hati kita tetap dikuasai ketakutan, kegelisahan, kemarahan, dan keputusasaan.

Roh Kudus tidak membuat hidup kita bebas dari masalah. Roh Kudus juga tidak membuat kita kebal terhadap penderitaan. Tetapi Roh Kudus meneguhkan hati kita, menyalakan kembali harapan kita, dan mengingatkan kita bahwa Bapa tidak pernah meninggalkan kita. Roh Kudus menolong kita untuk tetap percaya, bukan hanya ketika keadaan baik-baik saja, tetapi juga ketika hidup terasa berat dan jalan terasa gelap.

Maka pertanyaan Yesus, "Percayakah kamu sekarang?" jangan kita jawab hanya dengan kata-kata, "Ya, saya percaya." Jawaban itu mesti tampak dalam sikap hidup kita. Ketika kita tetap berdoa di tengah kesulitan, itu jawaban iman. Ketika kita tetap jujur di tengah tekanan, itu jawaban iman. Ketika kita tetap mengasihi meskipun kecewa, itu jawaban iman. Ketika kita tetap berharap meskipun belum melihat jalan keluar, itu pun jawaban iman.

Yesus menutup Bacaan Injil hari ini dengan sabda yang sangat menguatkan, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

Inilah damai sejahtera Kristus. Bukan damai karena tidak ada masalah, melainkan damai karena kita tahu kepada siapa kita berpegang. Bukan damai karena semua sudah selesai, melainkan damai karena Kristus telah mengalahkan dunia.

Maka hari ini, marilah kita saling meneguhkan. Jangan biarkan siapa pun merasa berjalan sendirian. Dan ketika kita sendiri merasa lemah, takut, atau tercerai-berai oleh berbagai persoalan hidup, marilah kita kembali kepada sabda Yesus: "Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yohanes I, Paus dan Martir
Yohanes lahir di Tuscany, kira-kira pada tahun 470. Sebelum diangkat sebagai Paus di Roma menggantikan Paus Hormisdas (514-523) pada tanggal 13 Agustus 523, ia melayani umat Roma sebagai diakon agung. Sebagai Paus, ia adalah Uskup dioses Roma ke-53. Masa kepausannya yang singkat itu (523-526) diisinya dengan berbagai tindakan untuk membela kebenaran agama di hadapan para penganut Arianisme. Di kalangan umat, ia dikenal sebagai Paus yang ramah. Dengan Theodorikus, raja Ostrogotik di Italia, ia menjalin hubungan baik tetapi segera berubah menjadi permusuhan karena dia tidak membela kepentingan Theodorikus yang Arian itu.
Permusuhan itu berawal dari keberhasilan Paus Hormisdas mengakhiri skisma antara Gereja Barat dan Gereja Timur berkat kerjasama yang baik dengan kaisar Yustinus I pada tahun 519. Perbaikan hubungan ini membawa serta sejumlah hukum baru yang tidak menguntungkan Theodorikus bersama pengikut-pengikutnya yang menganut ajaran sesat Arianisme. Untuk memperbaiki posisi mereka, Theodorikus yang bersahabat baik dengan Yohanes itu mendesak Paus Yohanes untuk memimpin sebuah delegasi menghadap kaisar. Misi ini tidaklah tercapai seluruhnya seperti diinginkan Theodorikus. Dalam kunjungan ke Konstantinopel Paus Yohanes bersama delegasinya diterima dengan senang hati oleh Yustinus, Patriarkh Timur bersama umatnya. Bahkan di sana Yohanes diperkenankan merayakan Paskah.
Selama beberapa waktu, Theodorikus menaruh curiga besar pada Yohanes tentang segala hal yang dibicarakan di Konstantinopel. Ia mencurigai bahwa Yohanes telah mengadakan persekongkolan untuk mengembalikan lagi kuasa kaisar Byzantium di Italia. Keberhasilan Paus Yohanes dalam kunjungannya ke Konstantinopel dilihatnya sebagai suatu tanda perlawanan terhadap dirinya. Oleh karena itu, sekembalinya delegasi itu ke Ravenna, Paus Yohanes ditangkap dan dipenjarakan di Ravenna. Ia disiksa hingga mati. Jenazah Yohanes dibawa ke Roma untuk dimakamkan di Basilik Santo Petrus.

Santo Venantius, Martir
Menurut cerita, Santo Venantius adalah seorang pemuda yang disiksa karena iman akan Kristus. Peristiwa ini terjadi kira-kira pada pertengahan abad ketiga. Dikatakan, Venantius dianiaya dan dipenggal kepalanya.
Cerita mengenai dirinya beredar di kalangan orang-orang Kristen dalam hubungannya dengan Santo Venantius yang lain, Uskup dari Salona di Dalmatia, yang disiksa pada masa yang sama.

Santo Feliks OFMCap, Pengaku Iman
Feliks adalah seorang Bruder dari Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin. Ia dijuluki Bruder Deo Gratias, karena selalu mengucapkan 'Syukur kepada Allah' atas segala perlakuan yang diterimanya dari orang lain. Hidupnya sangat sederhana, banyak berdoa dan selalu sopan sehingga ia disenangi rakyat kecil.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-17 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Paskah VII

Minggu, 17 Mei 2026



Bacaan Pertama
Kis 1:12-14

"Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Setelah Yesus diangkat ke surga,
dari bukit yang disebut Bukit Zaitun
kembalilah para rasul ke Yerusalem
yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya.
Setelah tiba di kota,
naiklah mereka ke ruang atas tempat mereka menumpang.
Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes,
Yakobus dan Andreas,
Filipus dan Tomas,
Bartolomeus dan Matius,
Yakobus bin Alfeus,
Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa
bersama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus,
dan dengan saudara-saudara Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 27:1.4.7-8a,

Refren: Aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan
di negeri orang-orang yang hidup.

*Tuhan adalah terang dan keselamatanku,
kepada siapakah aku harus takut?
Tuhan adalah benteng hidupku,
terhadap siapakah aku harus gemetar?

*Satu hal telah kuminta kepada Tuhan,
satu inilah yang kuingini;
diam di rumah Tuhan seumur hidupku,
menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya.

*Dengarlah, ya Tuhan, seruan yang kusampaikan,
kasihanilah aku dan jawablah aku!
Wajah-Mu kucari, ya Tuhan,
seturut firman-Mu, "Carilah wajah-Ku!"



Bacaan Kedua
1Ptr 4:13-16

"Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:

Saudara-saudara terkasih,
bersukacitalah sesuai dengan bagian yang kamu dapat
dalam penderitaan Kristus.
Dengan demikian kamu pun boleh bergembira dan bersukacita
pada waktu Kristus menyatakan kemuliaan-Nya.
Berbahagialah kamu, jika dinista karena nama Kristus,
sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah, ada padamu.
Janganlah ada di antara kamu
yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri,
penjahat atau pengacau.
Tetapi, jika kamu harus menderita sebagai orang Kristen,
maka janganlah malu karena hal itu.
Malah kamu harus memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Yoh 14:18

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu;
Aku akan datang kembali kepadamu.



Bacaan Injil
Yoh 17:1-11a

"Bapa, permuliakanlah Anak-Mu."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam perjamuan malam terakhir
Yesus menengadah ke langit dan berdoa,
"Bapa, telah tiba saatnya:
permuliakanlah Anak-Mu,
supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.
Sama seperti Engkau telah memberi kepada-Nya
kuasa atas segala yang hidup,
demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal
kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

Inilah hidup yang kekal itu,
yaitu bahwa mereka mengenal Engkau,
satu-satunya Allah yang benar,
dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi
dengan jalan menyelesaikan pekerjaan
yang Engkau berikan kepada-Ku untuk Kulakukan.
Oleh sebab itu, ya Bapa,
permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri
dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang,
yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia.
Mereka itu milik-Mu
dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku,
dan mereka telah menuruti firman-Mu.
Sekarang mereka tahu
bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu
berasal dari pada-Mu.
Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku
telah Kusampaikan kepada mereka
dan mereka telah menerimanya.
Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari pada-Mu,
dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Aku berdoa untuk mereka.
Bukan untuk dunia Aku berdoa,
tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku,
sebab mereka adalah milik-Mu,
dan segala milik-Mu adalah milik-Ku,
dan milik-Ku adalah milik-Mu,
dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
Dan Aku tidak lagi ada di dalam dunia,
tetapi mereka masih ada di dalam dunia,
dan Aku datang kepada-Mu."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *Daily Fresh Juice*:

*Ketika Yesus Mendoakan Kita*
________________________________________

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Sebelum kita mendengarkan Injil hari ini, yakni dari Injil Yohanes Bab 17 Ayat 1 sampai ayat 11a, baiklah kita mempersiapkan hati untuk masuk ke dalam suasana perjamuan malam terakhir.
Yesus tahu bahwa saat sengsara-Nya sudah semakin dekat.
Ia tahu bahwa para murid-Nya akan tetap tinggal di dunia, menghadapi ketakutan, tekanan, dan berbagai tantangan karena iman mereka.
Maka Yesus berdoa kepada Bapa.
Marilah kita mendengarkan dengan hati terbuka,
bagaimana Yesus menyerahkan murid-murid-Nya kepada Bapa,
dan bagaimana doa Yesus itu menjadi kekuatan bagi kita sampai hari ini.

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
[Bacaan Injil]
Demikianlah sabda Tuhan.

________________________________________
Renungan:
Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Pada perjamuan malam terakhir,
Yesus berdoa kepada Bapa-Nya.
Yang sangat menyentuh,
Yesus tidak hanya berdoa untuk diri-Nya sendiri,
padahal Ia tahu bahwa saat sengsara-Nya sudah semakin dekat.
Yesus justru berdoa secara khusus bagi para murid dan pengikut-Nya,
yaitu mereka yang telah mendengar firman Tuhan,
yang telah menerima-Nya,
dan yang berusaha hidup menurut ajaran-Nya.

Yesus berkata,
"Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku." [Yoh 17:9]
Biasanya, orang berdoa setelah suatu peristiwa terjadi.
Kita baru berdoa ketika ada kesusahan.
Tetapi Yesus berbeda.
Yesus berdoa untuk sesuatu yang belum terjadi,
tetapi Ia tahu akan terjadi.
Yesus tahu bahwa Ia akan memasuki sengsara-Nya.
Ia tahu bahwa Ia akan ditangkap, dihina, disiksa, disalibkan, wafat, lalu bangkit,
dan kembali kepada Bapa.
Tetapi murid-murid-Nya masih akan tetap tinggal di dunia.
Mereka tidak ikut naik ke Surga bersama Yesus.
Mereka masih harus menghadapi dunia,
dengan segala tantangan, ancaman, penolakan,
dan penderitaan karena iman mereka.

Karena itulah Yesus berdoa bagi mereka.
Yesus menyerahkan mereka kepada Bapa.
Yesus memohon agar mereka tetap dijaga, tetap dipelihara, tetap dikuatkan,
dan tetap menjadi milik Bapa,
walaupun mereka masih hidup di tengah dunia yang tidak selalu ramah terhadap iman.

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Mari kita lihat apa yang terjadi dengan para murid setelah Yesus disalibkan.
Mereka dilanda ketakutan yang sangat besar.
Mereka takut ditangkap.
Mereka takut ikut dihukum.
Mereka takut mengalami nasib yang sama seperti Guru mereka.

Mereka bukan orang-orang yang tiba-tiba menjadi gagah berani.
Mereka juga manusia biasa.
Mereka punya rasa takut, punya kekhawatiran, punya kelemahan,
dan punya batas kemampuan.
Tetapi Yesus tidak meninggalkan mereka.
Sesudah kebangkitan-Nya,
Yesus menampakkan diri kepada mereka.
Ia meneguhkan mereka.
Ia menguatkan mereka.
Dan sebelum naik ke Surga,
Yesus meminta mereka menantikan kuasa dari tempat tinggi.
Maka para murid berkumpul.
Mereka bertekun dalam doa.
Mereka tidak langsung bergerak dengan kekuatan sendiri.
Mereka tidak mengandalkan keberanian manusiawi.
Mereka menunggu, mereka berdoa,
dan mereka membuka diri kepada karya Allah.

Lalu pada hari Pentakosta,
Roh Kudus turun atas mereka.
Hari itu menjadi titik balik.
Murid-murid yang tadinya takut, menjadi berani.
Murid-murid yang tadinya bersembunyi,
mulai keluar dan tampil di depan umum.
Murid-murid yang tadinya gentar,
mulai mewartakan kemuliaan Tuhan.
Dan hasilnya luar biasa.
Banyak orang mendengar pewartaan mereka,
bertobat, dan dibaptis.
Inilah buah dari doa Yesus.

Doa Yesus tidak membuat para murid bebas dari semua masalah.
Mereka tetap harus menghadapi penolakan.
Mereka tetap harus mengalami penderitaan.
Mereka tetap harus memikul salib sebagai pengikut Kristus.
Tetapi doa Yesus membuat mereka tidak hancur oleh ketakutan.
Doa Yesus membuat mereka dikuatkan.
Doa Yesus membuka jalan bagi Roh Kudus untuk bekerja dalam diri mereka.

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Kita masih hidup di dunia,
masih menghadapi banyak hal yang bisa membuat kita takut,
entah karena penyakit, bencana, keadaan ekonomi atau yang lainnya.
Dalam keadaan seperti itu,
Injil hari ini memberi penghiburan yang sangat besar.
Yesus berdoa untuk kita.
Yesus tahu kita masih berada di dunia.
Yesus tahu dunia ini tidak selalu mudah.
Yesus tahu iman kita sering diuji.
Yesus tahu kita bisa takut, lelah, bingung, dan merasa tidak sanggup.
Tetapi Yesus tidak membiarkan kita berjalan sendirian.
Ia mendoakan kita kepada Bapa.
Ia menyerahkan kita ke dalam perlindungan Bapa.
Ia menghendaki agar kita tetap menjadi milik Bapa,
tetap setia kepada firman-Nya,
dan tetap kuat menjalani hidup sebagai murid-Nya.
Maka,
kalau hari ini kita sedang takut,
marilah kita kembali bertekun dalam doa,
marilah kita kembali mendekat kepada Tuhan.
Sebab doa bukan hanya tempat kita meminta pertolongan.
Doa adalah tempat kita dikuatkan.
Doa adalah tempat ketakutan kita pelan-pelan diserahkan kepada Tuhan.
Doa adalah tempat Roh Kudus bekerja,
mengubah hati yang takut menjadi hati yang percaya.
Kita mungkin tidak langsung melihat semua masalah selesai.
Tetapi kita akan menerima kekuatan untuk menghadapinya.
Kita tidak pernah sendirian.
Yesus telah berdoa untuk kita.
Marilah kita tetap percaya, tetap bertekun dalam doa,
tetap membuka diri kepada Roh Kudus,
dan tetap berjalan sebagai murid-murid Yesus.
Sebab kita adalah milik Bapa,
yang telah dipercayakan kepada Yesus,
dan dijaga dalam kasih-Nya.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Paskalis Baylon, Pengaku Iman
Paskalis lahir di Torre Hermosa, kerajaan Aragon (sekarang Timurlaut Spanyol) pada tanggal 24 Mei 1540. Kelahiran dan kematiannya tepat pada Hari Raya Pentakosta. Keluarganya amat miskin. Sampai umur 24 tahun, Paskalis menjadi gembala domba.  Di tengah kesibukannya memperhatikan domba-dombanya, Paskalis selalu menyempatkan diri berdoa dan membaca Kitab Suci. Kebiasaan berdoa dan membaca Kitab Suci ini menumbuhkan dalam hatinya keinginan menjadi biarawan. la bercita-cita masuk biara yang lebih mengutamakan kemiskinan. Untuk itu, ia menjelajahi seluruh Spanyol selama 4 tahun untuk mengenal setiap biara yang ada di sana. Akhirnya ia memutuskan masuk biara Saudara-saudara Dina Santo Fransiskus di Montforte sebagai seorang bruder. Pada tahun 1565 ia mengikrarkan kaulnya dalam ordo itu.
Pemimpin biara sangat menyukai dia. Pater Ximenes, pemimpin biara itu mengatakan bahwa ia belum pernah menyaksikan seorang biarawan Fransiskan yang benar-benar menghayati kemiskinan seperti Paskalis. Kamarnya sangat sederhana. Di dalamnya tidak terdapat apa pun juga selain sebuah salib Yesus, patung Bunda Maria, sebuah meja kecil dan sepotong kayu sebagai tempat duduk sekaligus bantaanya. Tidurnya semalam hanya tiga jam lamanya. Tengah malam ia selalu ha­dir dalam doa ofisi bersama rekan-rekannya. Sesudah Ofisi malam, ia terus tinggal di dalam gereja untuk berdoa dan bermeditasi. Pagi-pagi benar ia sudah membuka pintu gereja dan menyiapkan semua yang di­butuhk an untuk perayaan Ekaristi.
Di dalam biara ia dikenal sebagai seorang biarawan yang taat dan yang menjalankan disiplin diri yang keras. la menjadi sosok biarawan Fransiskan yang penuh kebajikan dan cinta kasih. la menyambut gembira semua orang yang datang kepadanya untuk meminta doa dan bimbingannya. Diceritakan bahwa ia melakukan sejumlah mujizat teristimewa untuk orang-orang sakit dan miskin.
Suatu kali ketika menjalankan tugas misioner di Prancis, ia dengan tegas melawan penganut Protestan Prancis yang menolak mengakui kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi kudus. Karena itu, ia diusir oleh orang-orang Protestan Prancis. Ia kembali ke biara Fransiskan di Villareale dan menetap di sana hingga kematiannya pada tanggal 15 Mei 592.
Hari kelahiran dan kematiannya yang tepat pada hari raya Pentakosta memberi kesan bahwa ia sungguh-sungguh dinaungi oleh Roh Kudus, dan panggilannya merupakan panggilan Roh Kudus. Kekuatan fisik dan rohnya adalah anugerah Roh Kudus. Pater Emmanuel Rodriquez, seorang teolog ternama mengatakan bahwa ia banyak berbicara dengan Bruder Paskalis mengenai pokok-pokok iman yang sukar dimengerti. Betapa herannya bahwa Bruder Paskalis yang tidak pernah bersekolah itu dapat menerangkan soal-soal yang sukar itu dengan lebih jelas daripada dia sendiri.
Santo Paskalis Baylon dihormati terutama sebagai pelindung dari Persekutuan-persekutuan yang memberi devosi kepada Sakramen Maha­kudus. Sebagai penjaga pintu biara, Paskalis tinggal dekat pintu biara dan gereja. Setiap waktu senggangnya dimanfaatkannya untuk berdoa didepan tabernakel. Tidaklah mengherankan bahwa kemudian Bruder Paskalis yang rendah hati ini dikaruniai penglihatan-penglihatan ajaib dan ekstase-ekstase luar biasa.
Seat kematiannya diketahuinya sendiri dengan pasti. Seminggu se­belum kematiannya, ia pergi ke kota untuk mengadakan kunjungan per­pisahan dengan semua rekannya.
Jenazahnya disemayamkan di gereja dan dihormati dengan perayaan Ekaristi. Pada saat konsekrasi, Paskalis membuka matanya dua kali sebagai tanda penghormatannya yang terakhir kepada Sakramen Mahakudus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-16 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah VI

Sabtu, 16 Mei 2026



Bacaan Pertama
Kis 18:23-28

"Apolos membuktikan dari Kitab Suci, bahwa Yesus adalah Mesias."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Paulus meninggalkan Korintus
dan kembali ke kota Antiokhia di Siria.
Setelah beberapa hari lamanya tinggal di Antiokhia,
ia berangkat, dan menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia
untuk meneguhkan hati semua murid.
Sementara itu datanglah ke Efesus
seorang Yahudi bernama Apolos,
yang berasal dari Aleksandria.
Ia seorang yang fasih berbicara
dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.
Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan.
Dengan bersemangat ia berbicara
dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus;
tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes.
Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat.
Setelah Priskila dan Akwila mendengarnya,
mereka membawa Apolos ke rumah mereka
dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.

Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya,
saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ,
supaya mereka menyambut dia.
Setibanya di Akhaya,
Apolos oleh kasih karunia Allah,
menjadi seorang yang sangat berguna
bagi orang-orang yang percaya.
Sebab dengan tak jemu-jemunya
ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum
dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 47:2-3.8-9.10,R:8a

Refren: Allah adalah Raja seluruh bumi!

*Hai segala bangsa, bertepuktanganlah,
elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!
Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat,
Raja agung atas seluruh bumi.

*Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi,
bermazmurlah dengan lagu yang paling indah!
Allah merajai segala bangsa,
di atas takhta-Nya yang kudus Ia bersemayam.

*Para pemimpin bangsa-bangsa berdatangan
bergabung dengan umat Allah Abraham.
Sebab segala perisai di atas bumi adalah milik-Nya;
sangat agunglah Dia!



Bait Pengantar Injil
Yoh 16:28

Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia;
kini Aku meninggalkan dunia lagi dan pergi kepada Bapa.



Bacaan Injil
Yoh 16:23b-28

"Bapa mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam amanat perpisahan-Nya
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa,
akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.
Sampai sekarang
kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku.
Mintalah maka kamu akan menerima,
supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan.
Akan tiba saatnya
Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan,
tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu.
Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku.
Dan tidak Kukatakan kepadamu,
bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,
sebab Bapa sendiri mengasihi kamu,
karena kamu telah mengasihi Aku
dan percaya bahwa Aku datang dari Allah.

Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia;
kini Aku meninggalkan dunia lagi dan pergi kepada Bapa."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari-hari ini kita telah merenungkan karya Roh Kudus di dalam hidup kita. Roh Kudus menajamkan mata hati kita, meneguhkan iman kita, dan memampukan kita menjalankan ajaran Yesus, bukan hanya ketika hidup sedang mudah, tetapi juga ketika kita harus menghadapi kesusahan, penolakan, atau pergumulan yang tidak ringan.

Hari ini Yesus membawa kita kepada satu hal yang sangat penting, yakni doa. Yesus berkata, "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku." [Yoh 16:23b] Lalu Ia menambahkan, "Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu." [Yoh 16:24]

Ini bukan ajakan untuk meminta apa saja sesuka hati kita. Ini juga bukan janji bahwa semua keinginan kita akan segera dipenuhi seperti yang kita mau. Meminta dalam nama Yesus berarti datang kepada Allah Bapa dengan iman kepada Kristus, dengan hati yang mengasihi Kristus, dan dengan kesediaan untuk menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya.

Kita boleh berdoa kapan saja dan di mana saja. Kita boleh datang langsung kepada Allah Bapa dalam nama Yesus. Kita juga boleh meminta Bunda Maria dan para kudus untuk ikut mendoakan kita. Tetapi inti dari doa tetaplah sama: kita datang sebagai anak-anak Allah, bukan untuk memaksa Bapa, melainkan untuk menyerahkan hidup kita kepada kasih dan kebijaksanaan-Nya.

Pada Bacaan Pertama hari ini, kita mendengar kisah Apolos. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. Ia bersemangat mengajar tentang Yesus, tetapi ternyata pengetahuannya masih belum lengkap. Ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. Maka Priskila dan Akwila membimbingnya, menjelaskan kepadanya Jalan Allah dengan lebih teliti.

Di sini kita melihat karya Roh Kudus yang indah. Roh Kudus tidak selalu membimbing seseorang secara langsung melalui tanda-tanda yang luar biasa. Seringkali Roh Kudus membimbing kita melalui orang lain, melalui nasihat yang baik, melalui teguran yang lembut, melalui orang-orang sederhana yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Apolos tidak menjadi kecil hati karena dilengkapi oleh Priskila dan Akwila. Ia tidak merasa direndahkan. Ia justru menerima bimbingan itu, lalu menjadi semakin berguna bagi pewartaan Injil. Ini pelajaran penting bagi kita. Orang yang sungguh beriman tidak takut dikoreksi. Orang yang sungguh ingin melayani Tuhan tidak malu untuk belajar. Sebab dalam hidup rohani, karunia yang besar tetap perlu disempurnakan oleh kerendahan hati.

Begitu juga dalam doa. Kita mungkin sudah sering berdoa, tetapi belum tentu doa kita sudah sungguh selaras dengan kehendak Tuhan. Kita mungkin meminta dengan tekun, tetapi masih bercampur dengan keinginan untuk mengatur Tuhan. Kita mungkin berkata, "Jadilah kehendak-Mu," tetapi dalam hati masih berharap Tuhan mengikuti semua rencana kita.

Yesus memang mengajarkan agar kita berdoa dengan tidak jemu-jemu. Ia berkata, "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" [Luk 18:7] Tetapi ketekunan dalam doa bukan berarti memaksa Allah. Ketekunan dalam doa adalah kesetiaan untuk tetap percaya, sekalipun jawaban Tuhan belum datang, atau datang dalam bentuk yang tidak kita duga.

Ada juga hal-hal yang dapat menghalangi doa kita. Yesus mengingatkan agar kita tidak berdoa seperti orang munafik, yang berdoa supaya dilihat orang. Ia berkata, "Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." [Mat 6:6]

Doa bukan panggung untuk menunjukkan kesalehan. Doa adalah ruang perjumpaan yang jujur antara kita dengan Allah. Di hadapan Allah, kita tidak perlu berpura-pura kuat, tidak perlu menyusun kata-kata indah untuk terlihat saleh. Kita cukup datang dengan hati yang tulus, mengakui kelemahan kita, menyampaikan permohonan kita, lalu menyerahkan semuanya kepada kasih Bapa.

Tetapi ada satu hal lagi yang perlu kita renungkan. Mungkinkah kita terus-menerus meminta pertolongan Allah, sementara kita sendiri tidak mau menjadi saluran pertolongan bagi orang lain? Apa iya, kita maunya ditolong, tetapi tidak mau menolong?

Ini sering terjadi dalam hidup kita. Ketika sedang susah, kita merasa pantas ditolong. Tetapi ketika orang lain susah, kita punya segudang alasan untuk tidak menolong. Kita berkata tidak punya waktu, tidak punya tenaga, tidak punya cukup uang, atau merasa bahwa itu bukan urusan kita.

Padahal doa yang benar mestinya membuat hati kita semakin peka. Kalau kita sungguh mengalami kasih Allah, maka kasih itu semestinya mengalir juga kepada orang lain. Kalau kita sungguh percaya bahwa Bapa menolong kita, maka kita pun dipanggil untuk menjadi tanda pertolongan Bapa bagi sesama.

Dalam hal menolong, ukurannya bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa besar pertolongan itu sungguh bermanfaat bagi yang menerima. Kadang-kadang pertolongan itu bukan uang. Bisa berupa waktu untuk mendengarkan. Bisa berupa nasihat yang meneguhkan. Bisa berupa kehadiran yang membuat orang lain tidak merasa sendirian. Bisa juga berupa kerelaan untuk membuka jalan, seperti Priskila dan Akwila yang membuka jalan bagi Apolos.

Maka hari ini kita diajak untuk berdoa dengan iman, tetapi juga hidup dengan kasih. Kita meminta kepada Bapa dalam nama Yesus, tetapi kita juga belajar menjadi pribadi yang siap dipakai Tuhan untuk menjawab doa orang lain.

Semoga doa-doa kita tidak hanya naik ke surga sebagai permohonan, tetapi juga turun kembali ke bumi sebagai perbuatan kasih. Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang rajin meminta pertolongan Tuhan, tetapi juga menjadi orang yang rela dipakai Tuhan untuk menolong sesama.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Ubaldus, Uskup dan Pengaku Iman
Anak yatim ini kemudian menjadi seorang Uskup yang terkenal berani. Bagi umatnya ia seorang pendoa dan pencinta perdamaian. Pendidikan masa kecilnya ditangani langsung oleh pamannya yang menjabat sebagai Uskup di Gubio. Ternyata pamannya berhasil menumbuhkan dalam dirinya benih panggilan hidup imamat. Ubaldus sendiri tertarik sekali dengan cara hidup seperti yang dijalani pamannya. la berusaha keras agar kemudian bisa menjadi seperti pamannya.
Beberapa waktu setelah ditahbiskan menjadi imam, ia diangkat sebagai pastor di paroki Katedral kota itu, dan menjadi anggota biara Kanonic Regulir. la benar-benar menghayati panggilannya dengan karya dan hidup doanya. Karena kesucian hidupnya, ia kemudian ditugaskan oleh Uskupnya untuk memulihkan tata tertib Dewan para Kanonik. Untuk menjalankan tugas yang berat itu, Ubaldus bertapa dan banyak berdoa. Dengan doa dan tapa itu, ia bermaksud melibatkan Tuhan dalam tugas yang berat itu. Dia sadar sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah alat Tuhan, Tuhan sendirilah pelaksana utama tugas yang ditanggungkan padanya. Tapa dan doa-doanya membuatnya menjadi seorang yang bijaksala dalam menempuh tindakan-tindakan akurat untuk memulihkan ketertiban dalam Dewan Kanonik itu. Ia berhasil dengan gemilang menangani tugas berat itu, dengan mempersatukan para anggota dewan dan menghimbau mereka untuk hidup sesuai dengan aturan-aturan biara.
Sejak umur mudamya Ubaldus sangat menginginkan hidup sunyi sebagai seorang pertapa. Tetapi jalan Tuhan selalu lain dari rencana manusia. Cita-citanya untuk menjadi seorang pertapa tidak tercapai karena ia diangkat menjadi Uskup di Gubio menggantikan pamannya. Jabatan Uskup ini dijalankannya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan dan doa. la melayani umatnya sebagai gembala dengan sebaik-baiknya. Sekali perisitiwa ketika terjadi kekacauan di kota, ia dengan berani berdiri di antara dua pihak yang bertentangan tanpa mempedulikan ancaman pedang dan lemparan batu. la berhasil meredakan perkelahian hebat itu. Ketika kota Gubio diporak porandakan oleh pasukan Frederik Barbarosa, Ubaldus dengan berani menemui tentara-tentara Jerman yang bengis itu dan meyakinkan kaisar untuk tidak meneruskan niatnya menguasai kota Gubio.
Selama bertahun-tahun hidupnya, Ubaldus menderita karena penyakit yang diidapnya. Namun ia tetap sabar, tabah dan gembira dalam tugasnya. Akhirnya ia meninggal dunia pada tahun 1160.


Santo Yohanes Nepomuk, Martir
Yohanes Nepomuk lahir di Nepomuk atau Pomuk, Bohemia, Cekoslovakia Barat pada tahun 1340. Nama kecilnya ialah Wolflein atau Welflin. Ia belajar Teologi dan Hukum di Universitas Praha. Pada tahun 1373 ia ditahbiskan menjadi imam. Cita-citanya menjadi imam ini sudah terkobar dalam hatinya semenjak umur mudanya. Hal ini pun sangat didukung oleh kedua orangtuanya karena mereka telah mempersembahkan Yohanes kepada Tuhan ketika Tuhan mengabulkan doa-doa mereka bagi kesembuhan Yohanes dari penyakit yang menimpanya.
Pada tahun 1374, Yohanes Genzenstein, Uskup Agung Praha, yang mengenal baik kemampuan Yohanes Nepomuk, mengangkat dia menjadi sekretaris Jenderalnya. Enam tahun kemudian, Yohanes diangkat sebagai Pastor Paroki Santo Gallus di Praha sambil meneruskan studi hukumnya di Universitas Praha sampai meraih gelar Doktor Hukum pada tahun 1387. Tiga tahun setelah ia menamatkan studinya, ia diangkat sebagai Ketua Pengadilan Gereja. Kemudian pada tahun 1393 ia diangkat menjadi Vikaris Jenderal oleh Uskup Agung Yohanes Genzenstein.
Dalam tugasnya sebagai seorang imam, Yohanes menjadi seorang pengkotbah ulung. Ia berhasil mentobatkan banyak orang dengan kotbah-kotbahnya. Relasinya dengan tokoh-tokoh masyarakat di jajaran pemerintahan sangat baik berkat keakrabannya dengan Raja Wenseslaus dan permaisurinya.
Pembunuhan atas dirinya berawal dari rencana Raja Wenseslaus IV untuk mendirikan sebuah keuskupan baru yang berpusat di Kladrau dan rnengangkat seorang pendukungnya sebagai pemimpin atas keuskupan itu. Sedangkan keuangan keuskupan baru ini, menurut rencana Wenseslaus, akan diambil dari pendapatan biara Kladrau setelah kematian pemimpin biara itu.
Rencana raja Wenseslaus ini ditentang oleh Uskup Agung Yohanes Genzenstein dan Yohanes Nepomuk, karena rencana itu tidak sah secara hukum. Ketika pemimpin biara Kladrau itu meninggal dunia, kedua petinggi keuskupan itu segera memerintahkan para biarawan untuk segera memilih pemimpin yang baru. Semuanya ini tidak diberitahukan kepada raja Wenseslaus hingga pemimpin baru terpilih. Karena itu, ketika mendengar berita pengangkatan itu Wenseslaus marah dan segera memerintahkan penangkapan atas diri Nepomuk dan beberapa pejabat Gereja lainnya.
Setelah beberapa lama mendekam di dalam penjara dengan berbagai siksaan berat, para pejabat Gereja itu dilepaskan, dengan syarat bahwa mereka harus tutup mulut tentang semua perlakuan kasar atas diri mereka. Sedangkan Yohanes Nepomuk dibunuh dan mayatnya ditenggelamkan di sungai Moldau dalam keadaan terikat erat. Pada keesokan harinya, jenazahnya ditemukan kembali, lalu disemayamkan di Katedral Santo Vitus hingga sekarang. Berbagai cerita tentang pembunuhan Yohanes berkembang di kalangan umat. Salah satu cerita itu ialah bahwa ia dibunuh karena tidak bersedia menyingkapkan rahasia pengakuan permaisuri raja Wenseslaus sesuai permintaan raja.
Yohlanes Nepomuk dinyatakan sebagai Beato pada tahun 1721 dan kemudian pada tahun 1729 dinyatakan sebagai Santo. Kecuali itu, ia diangkat sebagai pelindung kota Bohemia, pelindung para pendosa dan pelindung orang-orang yang terancam hanyut dalam sungai.


Santo Simon Stock, Biarawan
Simon Stock dikenal sebagai pemimpin biara-biara Karmelit dari tahun 1274 sampai 1265 dalam kedudukan sebagai Superior Jenderal. Kisah kelahiran dan rnasa mudanya tidak banyak diketahui. Yang diketahui pasti ialah bahwa ia meninggal dunia pada tahun 1265 di Bordeaux, Prancis. Kecuali itu diberitakan bahwa setelah menjalani hidup sebagai pertapa di Inggris, tanah kelahirannya, ia pergi ke Tanah Suci Yerusalem. Di sana ia bergabung dengan sekelompok biarawan Karmelit yang sudah lama menjalani hidup pertapaan di sana.  Setelah beberapa lama tinggal di Tanah Suci, ia rupanya kembali ke Inggris ketika terjadi serangan dari orang-orang Saracen (suku bangsa nomaden di padang gurun antara Syria dan Arab Saudi) atas komunitas-komunitas religius di Tanah Suci.
Sekembalinya ke Inggris, ia diangkat menjadi Superior Jenderal Ordo Karmelit, bertempat di Aylesford, Inggris. Dalam masa kepemimpinannya ia melakukan banyak hal bagi perkembangan biara Karmelit. Antara lain, penyesuaian aturan-aturan Ordo dengan kebutuhan zaman. Dalam rangka itu, Simon mewajibkan para biarawannya terjun ke dalam masyarakat untuk mewartakan Injil dan melaksanakan berbagai karya pastoral. Dengan kebijaksanaan ini, para biarawan Karmelit tidak lagi semata-mata menjalani kehidupan sebagai pertapa yang hanya mengusahakan dan memperhatikan kekudusan dan keselamatan diri pribadi, Kecuali itu, dengan kebijaksanaan baru ini, Ordo Karmelit tampil sebagai Ordo yang menggabungkan secara seimbang kegiatan kontemplatif dengan kegiatan pewartaan Sabda di luar tembok biara. Perubahan aturan ini sangat direstui oleh Sri Paus Innocentius IV (1243-1254) pada tahun 1247. Akibat selanjutnya dari kebijaksanaan itu, biara-biara Karmelit mulai ditempatkan juga di kota-kota Universitas seperti Oxford, Cambridge, Paris dan Bologna, juga di Irlandia, Skotlandia dan Spanyol. Di sini para biarawan memberi sumbangan besar pada kehidupan Universitas.
Tentang pengalaman Simon diberitakan pula bahwa Bunda Maria pernah menampakkan diri padanya di Aylesford pada tanggal 16 Juli 1251. Kepadanya Bunda Maria menyerahkan sebuah skapular berwarna coklat sambil berkata: "Skapular ini akan menjadi keselamatan bagimu dan bagi semua biarawan Karmelit lainnya. Orang yang mati dalam k­biasaan berdoa dengan skapular ini akan diselamatkan".
Meskipun Simon tidak secara resmi digelari Santo oleh Gereja, namun para biarawan Karmelit menganggap dia sebagai Orang Kudus. Atas izin khusus dari Takhta Suci, mereka merayakan pestanya pada tanggal 16 Mei.


Santo Andreas Bobola SJ, Martir
Andreas Bobola lahir di Sandomir pada tahun 1591 dalam sebuah keluarga aristokrat di Polandia. Pada usianya 19 tahun, Andreas masuk novisiat Serikat Yesuit di Vilna, Lithuania. Pada tahun 1622 ia ditahbiskan menjadi imam.
Sebagai imam baru, Andreas bekerja di Paroki Santo Kasimir di Vilna sampai tahun 1630. Ia dikenal sebagai seorang pengkotbah ulung yang mempertobatkan banyak orang dengan ajaran-ajaran dan cara hidupnya. la juga memimpin Kongregasi Maria di Polandia. Setelah enam tahun menjadi pemimpin biara Yesuit di Bobrinsk, ia kembali melanjutkan karya misionernya.
Pada waktu itu Polandia dan Lithuania dilanda suatu skisma besar. Banyak orang Katolik bergabung dengan Gereja Ortodoks yang memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma. Skisma ini terus berkembang luas karena didukung oleh kekuatan militer Rusia. Menghadapi skisma ini, Andreas meningkatkan usaha-usahanya untuk mempertobatkan banyak orang dan mempersatukan kembali Gereja Polandia dan Lithuania di bawah naungan Gereja Katolik Roma. Karena usaha-usahanya ini, para serdadu menangkap dia, menyiksa dan membunuhnya dengan kejam. Mereka menamakan Andreas 'Duszochivat', yang berarti 'pemburu jiwa-jiwa'.  Andreas mati sebagai martir Kristus di Janow pada tanggal 26 Mei 1657. Bangsa Slavia menghormatinya sebagai pelindung semua orang yang menderita penganiayaan karena kesetiaannya pada satu Gereja Universal. Andreas digelari 'Beato' pada tahun 1853 dan kemudian dinyatakan sebagai 'Santo' pada tahun 1938.


Santo Yulianus Demoustier, Pengaku Iman
Yulianus lahir di kota Redom, Prancis pada tanggal 17 Juli 1728. Ia dikenal sebagai seorang imam biarawan di keuskupan Vannes yang sangat besar pengabdiannya di dalam bidang pendidikan dan pembangunan bangsanya. Ia memberikan teladan hidup baik, penuh kebajikan dan kemiskinan. Pengabdiannya dilandasinya dengan kerendahan hati dan hidup rohani yang mendalam. Di tengah kesibukannya ia senantiasa menyisihkan waktu untuk menyepi dalam keheningan doa bagi kekudusan dirinya dan bagi perkembangan Gereja. Kekayaan pribadinya dipergunakan untuk membangun gereja, rumah biara dan rumah sakit di keuskupannya. Dalam ketenangan dan kesucian hidupnya itu ia wafat pada tanggal 16 Mei 1781.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-15 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah VI

Jumat, 15 Mei 2026



Bacaan Pertama
Kis 18:9-18

"Banyak umat-Ku di kota ini!"

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Ketika Paulus ada di kota Korintus,
Tuhan berfirman kepadanya pada suatu malam
di dalam suatu penglihatan,
"Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!
Sebab Aku menyertai engkau
dan tidak ada seorang pun
yang akan menjamah dan menganiaya engkau,
sebab banyak umat-Ku di kota ini."
Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan,
dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka.

Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya,
bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus.
Mereka membawa dia ke depan pengadilan.
Kata mereka,
"Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah
dengan jalan yang bertentangan dengan hukum."

Ketika Paulus hendak mulai berbicara,
berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu,
"Hai orang-orang Yahudi,
sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan,
sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu.
Tetapi kalau hal ini adalah perselisihan tentang perkataan,
nama, atau hukum yang berlaku di antara kamu,
maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya;
aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian."

Lalu Galio mengusir mereka dari ruang pengadilan.
Maka semua orang menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat,
lalu memukulinya di depan pengadilan itu;
tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.

Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus.
Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ,
dan berlayar ke Siria,
sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea,
karena ia telah bernazar.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 47:2-3.4-5.6-7,R:8a

Refren: Allah adalah Raja seluruh bumi.

*Hai segala bangsa, bertepuktanganlah,
elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!
Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat,
Raja agung atas seluruh bumi.

*Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita,
Ia menundukkan suku-suku bangsa ke bawah telapak kaki kita;
Ia memilih bagi kita tanah pusaka kita,
kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya.

*Allah telah naik diiringi sorak-sorai,
Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala.
Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah,
Kidungkanlah mazmur bagi Raja kita, kidungkanlah mazmur!



Bait Pengantar Injil
Luk 24:46.26

Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya.



Bacaan Injil
Yoh 16:20-23a

"Tidak ada seorang pun
yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam amanat perpisahan-Nya
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap,
tetapi dunia akan bergembira;
kamu akan berdukacita,
tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan,
tetapi sesudah ia melahirkan anaknya,
ia tidak ingat lagi akan penderitaannya,
karena kegembiraan bahwa
seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.
Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita,
tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira,
dan tidak ada seorang pun
yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.
Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Sebelumnya telah kita renungkan, bahwa Roh Kudus itu tidak kasat mata, tidak dapat kita lihat dengan mata jasmani kita. Roh Kudus itu seperti angin. Kita tidak tahu dari mana ia datang dan ke mana ia pergi, tetapi kita dapat merasakan kehadirannya. Kita tidak melihat angin, tetapi kita melihat daun-daun bergerak. Kita tidak melihat angin, tetapi kita merasakan kesejukannya. Begitu pula Roh Kudus. Kita tidak melihat-Nya secara kasat mata, tetapi dengan iman kita dapat mengenali kehadiran-Nya, bahkan dapat menangkap “bisikan”-Nya di dalam hati kita.

Yang namanya mata hati, atau sering juga disebut mata batin, memang tidak seperti mata jasmani. Mata jasmani dapat kita buka dengan kehendak kita. Begitu kita berkata dalam hati, “Saya mau membuka mata,” maka mata pun terbuka. Kita sendiri tidak memahami sepenuhnya bagaimana prosesnya, bagaimana kehendak dapat menggerakkan kelopak mata, tetapi itulah yang terjadi. Setiap kali kita ingin membuka mata, mata pun terbuka.

Tetapi kita juga tahu, ketika kita sedang sangat mengantuk, kelopak mata tidak lagi mudah menurut. Kita ingin tetap membuka mata, tetapi mata terasa berat. Kita ingin tetap terjaga, tetapi tubuh seperti menarik kita untuk tertidur. Sampai-sampai kita perlu mengucek-ngucek mata agar tetap terbuka.

Nah, mata hati kita pun dapat mengalami hal seperti itu. Ada kalanya mata hati kita terbuka, sehingga kita peka terhadap kehendak Tuhan. Tetapi ada kalanya mata hati kita menjadi berat, tertutup oleh rasa kecewa, tertutup oleh kesibukan, tertutup oleh kepentingan diri sendiri, atau tertutup oleh dosa yang belum kita sesali.

Lalu bagaimana caranya agar mata hati kita menjadi selaras dengan kehendak kita, agar dapat kita gunakan untuk “melihat” kehadiran Roh Kudus?

Berdoa sambil memejamkan mata adalah salah satu upaya awal yang baik. Dengan mata terpejam, kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk yang kelihatan. Kita tidak lagi sibuk melihat hal-hal di luar diri kita. Kita mulai masuk ke dalam batin, mencoba melihat dengan mata hati. Tetapi itu saja belum cukup. Memejamkan mata jasmani belum tentu membuat mata hati terbuka.

Mata hati terbuka ketika iman kita hidup. Bukan iman yang setipis kulit ari, yang mudah terkoyak oleh masalah kecil, yang mudah hilang ketika doa belum dikabulkan, yang mudah goyah ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan kita. Mata hati terbuka ketika iman kita mulai sungguh-sungguh percaya, bahwa Tuhan tetap hadir, juga ketika kita sedang tidak melihat jalan keluar.

Selain iman, kita juga memerlukan kasih Kristus yang tinggal di dalam diri kita. Tinggal di dalam diri artinya selalu ada di situ, bukan hanya datang sesekali ketika kita sedang berdoa, bukan hanya muncul ketika kita sedang berada di gereja, bukan hanya terasa ketika hidup sedang baik-baik saja. Kasih Kristus mesti tinggal menetap di dalam hati kita.

Kasih Kristus itu tumbuh dalam diri kita melalui pertobatan. Ketika kita berani mengakui kesalahan, memohon ampun, dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa yang sama, maka hati kita mulai dibersihkan. Dan ketika hati mulai dibersihkan, mata hati pun mulai melihat lebih terang.

Tetapi Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita satu hal yang sangat penting. Kasih Kristus tidak hanya tumbuh melalui suasana yang nyaman, tetapi juga melalui pengorbanan, melalui kesusahan, melalui air mata, bahkan melalui dukacita.

Yesus berkata, “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” [Yoh 16:20]

Yesus tidak berkata bahwa para murid tidak akan mengalami dukacita. Yesus tidak menjanjikan hidup yang selalu mudah. Yesus tidak berkata bahwa orang yang percaya kepada-Nya akan bebas dari air mata. Justru Yesus mengatakan dengan terus terang, “Kamu akan menangis dan meratap.” Tetapi Yesus tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan, “Dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”

Di sinilah karya Roh Kudus menjadi nyata. Roh Kudus tidak selalu menghapus masalah kita seketika. Roh Kudus tidak selalu membuat penderitaan langsung lenyap. Tetapi Roh Kudus memberi kekuatan dari dalam, agar kita tidak hancur oleh penderitaan itu. Roh Kudus membuka mata hati kita, agar kita dapat melihat bahwa dukacita bukanlah akhir dari perjalanan iman kita.

Yesus memakai gambaran seorang ibu yang hendak melahirkan. Seorang ibu mengalami sakit, takut, dan tegang ketika saat melahirkan tiba. Tetapi setelah anaknya lahir, rasa sakit itu tidak lagi menjadi pusat perhatiannya. Yang memenuhi hatinya adalah sukacita, karena seorang anak telah lahir ke dunia.

Gambaran ini sangat indah. Sebab tidak semua penderitaan itu sia-sia. Ada penderitaan yang melahirkan kehidupan baru. Ada air mata yang melahirkan kedewasaan iman. Ada pergumulan yang membuat kita menjadi lebih rendah hati. Ada luka yang justru membuat kita lebih peka terhadap luka orang lain.

Dalam hidup sehari-hari, kita pun sering mengalami hal seperti itu. Ketika kita menghadapi masalah keluarga, kita mungkin menangis dan merasa tidak sanggup. Tetapi setelah melewatinya bersama Tuhan, kita menjadi lebih sabar, lebih memahami orang lain, dan lebih menghargai kasih dalam keluarga. Ketika kita mengalami kegagalan dalam pekerjaan, kita mungkin merasa kecewa dan malu. Tetapi setelah melewatinya, kita belajar menjadi lebih tekun, lebih bijaksana, dan tidak lagi terlalu mengandalkan kemampuan sendiri. Ketika kita difitnah, disalahpahami, atau tidak dihargai, kita mungkin merasa terluka. Tetapi jika kita tetap tinggal dalam kasih Kristus, luka itu tidak membuat kita menjadi pahit, melainkan membuat kita belajar mengampuni.

Di sinilah mata hati sangat diperlukan. Mata jasmani hanya melihat peristiwanya: ada masalah, ada kegagalan, ada penderitaan. Tetapi mata hati yang diterangi Roh Kudus dapat melihat lebih dalam: ada Tuhan yang sedang bekerja, ada kasih Kristus yang sedang memurnikan, ada sukacita yang sedang dipersiapkan.

Maka setiap kali kita melalui kesusahan, jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa Tuhan meninggalkan kita. Jangan buru-buru berkata bahwa doa kita tidak didengar. Bisa jadi justru pada saat itulah Roh Kudus sedang bekerja paling dalam di hati kita. Bisa jadi pada saat itulah kasih Kristus sedang bertambah kuat dalam diri kita. Bisa jadi pada saat itulah mata hati kita sedang dilatih untuk melihat bukan hanya yang tampak, tetapi juga yang Tuhan kerjakan secara tersembunyi.

Sebab iman tidak hanya diuji ketika kita berdoa dalam suasana tenang. Iman justru sering dibentuk ketika kita tetap percaya di tengah dukacita. Kasih Kristus tidak hanya kita rasakan ketika hidup menyenangkan. Kasih Kristus justru menjadi nyata ketika kita tetap mampu mengasihi, walau hati sedang terluka.

Maka marilah kita mohon kepada Roh Kudus, agar mata hati kita tetap terbuka. Jangan sampai kita hanya membuka mata jasmani untuk melihat dunia, tetapi menutup mata hati terhadap kehadiran Tuhan. Jangan sampai kita hanya sibuk mendengar suara dunia, tetapi tidak lagi peka terhadap bisikan Roh Kudus.

Dan ketika hari ini kita masih harus menangis, masih harus berjuang, masih harus menanggung beban hidup, marilah kita percaya kepada janji Yesus: dukacita kita tidak akan tinggal selamanya sebagai dukacita. Dalam kasih Kristus, dukacita itu akan diubah menjadi sukacita, sukacita yang tidak mudah dirampas oleh dunia, karena sumbernya bukan dari dunia, melainkan dari Tuhan sendiri.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Pakomius, Rahib dan Pengaku Iman
Pakomius lahir di Thobaid Utara, Mesir pada tahun 287. Keluarganya masih tergolong kafir. Pada umur 20 tahun, ia masuk dinas ketentaraan atas perintah rajanya. Dalam suatu perjalanan dinas melintasi lembah sungai Nil, ia bersama rekan-rekannya disambut dengan ramah oleh orang-orang Kristen di Latopolis (Esneh). Penyambutan ini sangat mengesankan bagi Pakomius dan menjadi baginya saat ber-rahmat.
Segera setelah ia mengakhiri masa baktinya dalam dinas ketentaraan, ia pergi ke Khenoboskiaon, satu daerah yang dihuni oleh orang-orang Kristen. Di sana ia mendaftarkan diri sebalgai katekumen (calon permandian). Dia mengikuti pelajaran agama dan kemudian menerima Sakramen Permandian.
Ketika ia mendengar bahwa ada seorang pertapa saleh di padang gurun, ia segera ke sana untuk menjadi murid pertapa itu.  Palaemon - demikian nama pertapa saleh itu menerima dia dengan senang hati dan memberinya tugas-tugas berat. Melihat ketahanan mental Pakomius, Palaemon memperkenankan dia mengenakan pakaian pertapaan. Pada suatu kali ketika sedang berjalan-jalan di pesisir sungai Nil, Pakomius mendengar suatu suara ajaib. Suara itu menyuruh dia mendirikan sebuah biara di Tabennisi, tepi sungai Nil. la mengikuti suruhan suara ajaib itu.
Yohanes, saudara kandungnya menjadi muridnya yang pertama. Dalam perkembangan selanjutnya, jumlah muridnya terus bertambah. Besarnya jumlah murid ini mendorong Pakomius untuk menciptakan aturan hidup bersama sebagai pedoman hidup dalam usaha mencapai cita-citanya. Pakomius menjadi pembimbing mereka dengan contoh dan teladan hidupnya.
Pakomius mendirikan lagi enam buah biara di Thebaid untuk menampung semua muridnya yang terus saja bertambah. la sendiri menjadi pemimpin biara yang ada di Pabau, dekat Thebes. Dalam kepemimpinannya, Pakomius dengan tegas melawan ajaran bidaah Arianisme. Ia meninggal dunia pada tahun 347.


Santa Dymphna, Pengaku Iman
Riwayat hidup Dimphna tidak diketahui secara pasti. Melalui cerita-cerita yang beredar tentang dirinya, diketahui bahwa ia lahir pada abad ketujuh. Ayahnya yang berkebangsaan Irlandia itu adalah seorang bangsawan kaya raya yang menjabat sebagai Kepala Daerah. Namun ia masih kafir.  Sang ibu yang sudah Katolik mengajari Dimphna ajaran-ajaran iman Katolik dan tata cara hidup Kristen berdasarkan ajaran-ajaran imam itu. Ketika Dimphna berusia 14 tahun, ibunya meninggal dunia. Ayahnya mengalami gangguan jiwa yang cukup parah karena peristiwa duka ini. Ia menyuruh pergi pegawai-pegawainya ke seluruh pelosok wilayah kekuasannya maupun daerah-daerah lainnya untuk mencari wanita-wanita berdarah bangsawan, yang mirip dengan istrinya untuk dinikahinya sebagai istri. Karena tak seorang pun ditemukan, maka dia dinasehatkan untuk mengawini kembali Dimphna anaknya.
Mendengar desas-desus ini, Dimphna ketakutan sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri ke Antwerpen ditemani oleh Bapa Pengakuannya Santo Gerebernus dan dua orang lainnya. Di Antwerpen, mereka mendirikan sebuah rumah doa di Gheel, dekat Amsterdam, dan menjalani hidup sebagai pertapa. Mendengar bahwa anaknya ada di Belgia, Damon ayah Dimphna menyusul ke sana untuk menemui anaknya. Tetapi ketika ia bertemu Dimphna, bukannya ia mengajaknya pulang secara baik-baik melainkan menyuruh pengawal-pengawalnya menyeret Dimphna. MIereka pun diperintahkan membunuh Gerebernus dan dua orang rekannya. Mereka memenggal kepala ketiga pertapa itu, sedangkan Dimphna dibawa pulang ke Irlandia.
Karena ayahnya memperlakukan dia secara kejam, Dimphna dengan tegas rnenolak pulang ke Irlandia. Karena itu Dimphna pun dipenggal kepalanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 620 tatkala Dimphna baru berusia 15 tahun.
Pada abad ke-13, relikui keempat martir ini ditemukan di Gheel. Diceritakan bahwa terjadi banyak mujizat di Gheel setelah relikui ke­empat martir itu ditemukan. Mujizat-mujizat yang terjadi di kuburan Dimphna menunjukkan kesucian dan kesalehan hidup Dimphna. Oleh karena itu Gereja menggelari dia sebagai Orang Kudus dan mengangkatnya sebagai pelindung para penderita sakit epilepsi dan sakit jiwa.


Santa dan Santo Bertha dan Santo Rupertus, Pengaku Iman
Kesaksian tentang hidup Bertha bersama anaknya Rupertus diberikan oleh Santa Hildegardis. Hildegardis yang masih menyaksikan saat­saat terakhir hidup Bertha menulis cerita yang sangat menarik tentang Bertha dan anaknya. Katanya, Rupertus anaknya adalah hasil perkawinan Bertha dengan seorang pria yang masih kafir. Keluarga Bertha tergolong turunan Pangeran Lorraine. Bertha memiliki kekayaan berli­pah di Rhine dan Nahe.
Suaminya mati dalam peperangan ketika Rupertus masih bayi. Sepeninggal suaminya, Bertha mencurahkan seluruh perhatiannya pada pendidikan Rupertus agar dia berkembang menjadi orang Kristen yang taat pada Tuhan. Rahmat Tuhan menaungi Bertha hingga ia berhasil membentuk Rupertus menjadi orang beriman yang baik. Bahkan di kemudian hari, Rupertus balik mempengaruhi ibunya untuk memperhatikan anak-anak miskin di daerah itu. "Lihat, siapa anak-anak itu? Anak-anak miskin itu adalah anakmu juga" kata Rupertus kepada ibunya ketika ia melihat kerumunan anak-anak miskin di kotanya. "Tetapi pertama-tama kita harus lebih mentaati Tuhan dan membagikanmakanan kita kepada mereka yang kelaparan, dan pakaian kepada mereka yang tidak memilikinya" lanjut Rupertus kepada ibunya.
Kata-kata Rupertus ini menyentuh hati keibuan Bertha sehingga Bertha langsung mendirikan beberapa rumah penginapan bagi anak-anak malang itu. Ketika Rupertus berusia 12 tahun, ia bersama ibunya berziarah ke makam para Rasul di Roma. Sekembali mereka dari ziarah itu, keduanya hidup sebagai pertapa di pegunungan dekat Bingen. Mereka membagikan harta kekayaannya kepada orang-orang miskin, sedangkan mereka sendiri menjalani hidup miskin di pertapaannya itu.
Pada umur 20 tahun, Rupertus meninggal dunia. Ibunya Bertha terus melanjutkan hidup bertapa di pegunungan itu selama 25 tahun. Ketika meninggal dunia Bertha dikuburkan di samping anaknya di dalam biara yang didirikannya di kota Nahe.


Santo Isidor(us), Pengaku Iman
Isidor hidup antara tahun 1070-1130. la seorang petani upahan yang saleh, ringan tangan dalam membantu sesama dan banyak berdoa. Isterinya, Santa Maria Toribia dihormati juga sebagai orang kudus. Makam santo pelindung para petani ini terdapat di dalam gereja Santo Andreas di Madrid, Spanyol.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-14 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
HR Kenaikan Tuhan

Kamis, 14 Mei 2026



Bacaan Pertama
Kis 1:1-11

"Mereka melihat Dia terangkat ke Surga."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Hai Teofilus,
dalam bukuku yang pertama
aku menulis tentang segala sesuatu
yang dikerjakan dan diajarkan Yesus
sampai pada hari Ia terangkat.
Sebelum itu, berkat kuasa Roh Kudus,
Ia telah memberi perintah kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.
Setelah penderitaan-Nya selesai,
Ia menampakkan diri kepada mereka,
dan dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup.
Sebab selama empat puluh hari
Ia berulang-ulang menampakkan diri
dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Pada suatu hari,
ketika makan bersama-sama dengan mereka,
Yesus melarang mereka meninggalkan Yerusalem,
dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa,
yang -"telah kamu dengar dari pada-Ku.
Sebab  --- beginilah kata-Nya ---
"Yohanes membaptis dengan air,
tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus."

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ,
"Tuhan,
pada masa inikah Engkau mau memulihkan Kerajaan bagi Israel?"
Jawab-Nya,
"Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu,
yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Tetapi kamu akan menerima kuasa,
dan kamu akan menjadi saksi-Ku
di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria,
bahkan sampai ke ujung bumi."
Sesudah mengatakan demikian,
terangkatlah Yesus disaksikan oleh murid-murid-Nya,
sampai awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Yesus naik,
tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
dan berkata kepada mereka,
"Hai orang-orang Galilea,
mengapakah kamu berdiri menatap langit?
Yesus yang terangkat ke surga meninggalkan kamu ini,
akan datang kembali
dengan cara yang sama seperti kamu lihat Dia naik ke surga."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 47:2-3.6-7.8-9,R:6

Refren: Allah telah naik diiringi sorak-sorai,
Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangsakala.

*Hai segala bangsa, bertepuk-tanganlah,
elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!
Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat,
Raja agung atas seluruh bumi.

*Allah telah naik diiringi sorak-sorai,
Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala.
Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah,
Kidungkanlah mazmur bagi Raja kita, kidungkanlah mazmur!

*Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi,
bermazmurlah dengan lagu yang paling indah!
Allah merajai segala bangsa,
di atas takhta-Nya yang kudus Ia bersemayam.



Bacaan Kedua
Ef 1:17-23

"Allah mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya dalam surga."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus:

Saudara-saudara,
kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus,
yaitu Bapa yang mahamulia,
aku memohon supaya Ia memberikan kamu Roh hikmat dan wahyu
untuk mengenal Dia dengan benar;
supaya Ia menjadikan mata hatimu terang,
agar kamu mengerti
pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya;
yaitu betapa kaya kemuliaan yang dijanjikan-Nya
untuk diwarisi oleh orang-orang kudus,
dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya.
Kekuatan itu sesuai dengan daya kuasa Allah,
yang bekerja dalam Kristus,
yakni kuasa yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati
dan mendudukkan Dia di sebelah kanan Allah dalam surga.
Di situ
Kristus jauh lebih tinggi dari segala pemerintahan dan penguasa,
kekuasaan dan kerajaan
serta tiap-tiap nama yang dapat disebut,
bukan hanya di dunia ini
melainkan juga di dunia yang akan datang.
Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus
dan Dia telah diberikan allah kepada jemaat
sebagai Kepala dari segala yang ada.
Jemaat itulah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Diri-Nya,
yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 28:19a.20b

Pergilah, dan ajarlah semua bangsa, sabda Tuhan.
Aku menyertai kamu sampai akhir zaman.



Bacaan Injil
Mat 28:16-20

"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati,
kesebelas murid berangkat ke Galilea,
ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya,
tetapi beberapa orang ragu-ragu.

Yesus mendekati mereka dan berkata,
"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.
Karena itu pergilah,
jadikanlah semua bangsa murid-Ku,
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu
yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Dan ketahuilah,
Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari ini kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Setelah bangkit dari antara orang mati, Yesus tidak langsung meninggalkan para murid. Selama empat puluh hari Ia menampakkan diri kepada mereka, memberi banyak tanda bahwa Ia hidup, dan berbicara tentang Kerajaan Allah.

Ini penting untuk kita sadari. Kenaikan Tuhan bukan peristiwa Yesus “menghilang” begitu saja. Kenaikan Tuhan adalah bagian dari karya keselamatan. Yesus yang telah wafat dan bangkit, kini kembali kepada Bapa, bukan sebagai tanda bahwa Ia meninggalkan kita, melainkan sebagai tanda bahwa tugas-Nya di dunia telah genap, dan kini para murid diutus untuk melanjutkan karya-Nya.

Dalam Bacaan Pertama dari Kisah Para Rasul, para murid masih bertanya tentang pemulihan kerajaan bagi Israel. Mereka masih berpikir tentang kuasa, kejayaan, dan kemenangan menurut ukuran manusia. Tetapi Yesus mengarahkan mereka kepada sesuatu yang lebih besar: “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku.”

Jadi, pesan terakhir sebelum Yesus terangkat ke surga bukanlah ajakan untuk memandang langit terus-menerus, melainkan ajakan untuk menjadi saksi. Bahkan dua orang berpakaian putih menegur para murid, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” Seolah-olah mereka hendak berkata, jangan hanya terpaku melihat ke atas, sebab tugas kalian ada di bawah, di tengah dunia, di tengah manusia, di tengah kehidupan sehari-hari.

Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus membantu kita memahami makna rohani dari kenaikan Tuhan. Paulus berdoa supaya mata hati kita diterangi, agar kita mengerti pengharapan dari panggilan Tuhan. Kristus yang naik ke surga kini duduk di sebelah kanan Bapa, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah, penguasa, kekuasaan dan kerajaan. Segala sesuatu diletakkan di bawah kaki-Nya, dan Ia menjadi Kepala atas segala sesuatu bagi Gereja.

Artinya, kenaikan Tuhan bukan kekalahan, bukan perpisahan, bukan akhir cerita. Kenaikan Tuhan adalah pemuliaan Kristus. Ia kembali kepada Bapa sebagai Tuhan yang menang, sebagai Kepala Gereja, sebagai Dia yang tetap menyertai umat-Nya dengan cara yang baru.

Lalu dalam Bacaan Injil, Yesus memberi amanat agung kepada para murid: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Para murid tidak diminta mendirikan monumen untuk mengenang Yesus. Mereka tidak diminta hanya berkumpul dan bernostalgia. Mereka diutus. Mereka diminta mewartakan, membaptis, mengajar, dan membawa orang kepada hidup sebagai murid Kristus.

Dan yang paling menguatkan adalah janji Yesus di bagian akhir Injil: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Di sinilah letak keindahan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Yesus naik ke surga, tetapi Ia tidak pergi meninggalkan kita. Ia tidak lagi hadir secara fisik seperti ketika berjalan bersama para murid di Galilea dan Yerusalem, tetapi Ia tetap hadir secara rohani, dalam Gereja-Nya, dalam sabda-Nya, dalam Ekaristi, dalam Roh Kudus, dan dalam setiap orang yang menjalankan perutusan-Nya.

Hari Raya Kenaikan Tuhan sudah diperingati Gereja sejak masa yang sangat awal. Perayaan ini jatuh pada hari keempat puluh sesudah Paskah, sesuai kesaksian Kitab Suci bahwa Yesus menampakkan diri selama empat puluh hari sebelum terangkat ke surga. Tradisi Gereja menyebut perayaan ini sangat kuno. Santo Agustinus bahkan menyebutnya berasal dari tradisi apostolik, dan pada abad keempat serta kelima perayaan ini sudah dikenal luas dalam kehidupan Gereja.

Maka, ketika hari ini kita merayakan Kenaikan Tuhan, kita tidak sedang mengenang Yesus yang jauh di atas sana, sementara kita ditinggalkan sendirian di bawah sini. Kita merayakan Kristus yang dimuliakan, Kristus yang memerintah, Kristus yang tetap menyertai, dan Kristus yang mengutus kita.

Dalam hidup sekarang ini, makna Kenaikan Tuhan menjadi sangat relevan. Banyak orang beriman masih mudah terjebak seperti para murid yang berdiri memandang ke langit. Kita senang berdoa, senang ikut ibadat, senang mendengar sabda Tuhan, tetapi kadang lupa bahwa iman tidak boleh berhenti di ruang doa. Iman mesti turun ke dunia nyata.

Kenaikan Tuhan mengingatkan kita bahwa menjadi orang beriman bukan berarti melarikan diri dari dunia. Justru kita diutus ke dalam dunia. Kita diutus ke keluarga kita, ke tempat kerja kita, ke lingkungan kita, ke organisasi kita, ke masyarakat kita. Kita diutus bukan dengan kesombongan rohani, melainkan dengan kesaksian hidup.

Menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti harus berkhotbah panjang-panjang. Kadang kesaksian itu tampak dalam cara kita bekerja dengan jujur, mengambil keputusan dengan benar, tidak ikut arus ketika orang lain memilih jalan yang keliru, tetap rendah hati ketika dipercaya memimpin, tetap mengasihi ketika dikecewakan, dan tetap setia ketika keadaan tidak mudah.

Kenaikan Tuhan juga mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan iman hanya pada tanda-tanda lahiriah. Para murid dahulu bisa melihat Yesus secara langsung. Tetapi setelah Yesus naik ke surga, mereka harus belajar percaya kepada penyertaan-Nya yang tidak selalu kelihatan. Begitu juga kita. Ada saatnya Tuhan terasa dekat, tetapi ada saatnya seolah-olah Tuhan jauh. Ada saatnya doa kita terasa hangat, tetapi ada saatnya doa terasa kering. Ada saatnya pelayanan membahagiakan, tetapi ada saatnya melelahkan.

Namun janji Yesus tetap sama: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Maka pertanyaan bagi kita hari ini bukan hanya: apakah saya percaya Yesus telah naik ke surga? Pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah saya mau melanjutkan perutusan-Nya di dunia ini?

Sebab Kenaikan Tuhan bukan hanya tentang Yesus yang naik ke surga. Kenaikan Tuhan juga tentang kita yang mesti bangkit dari cara hidup yang sempit, naik dari iman yang hanya mencari kenyamanan, naik dari kebiasaan menunggu dilayani, menuju iman yang siap diutus, siap bersaksi, dan siap menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Yesus naik ke surga, tetapi pekerjaan kasih-Nya belum selesai di bumi. Sekarang, melalui kita, kasih itu mesti terus berjalan. Melalui kita, pengampunan mesti terus diwartakan. Melalui kita, kebenaran mesti terus diperjuangkan. Melalui kita, orang-orang yang letih, kecewa, dan kehilangan arah, dapat melihat bahwa Kristus sungguh hidup dan tetap menyertai umat-Nya.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Matias, Rasul
Sesudah Yesus naik ke surga, para murid dan kesebelas Rasul bersama Bunda Maria kembali ke Yerusalem untuk menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Di sana mereka, yang berjumlah kira­kira 120 orang, berkumpul di tingkat atas sebuah rumah di Yerusalem. Mereka bertekun dalam doa sambil menantikan dengan sabar kedatangan Roh Kudus.
Pada saat itulah Petrus, pemimpin para Rasul, mengusulkan pemilihan seorang murid untuk menduduki jabatan Rasul menggantikan Yudas Iskariot, si pengkhianat Yesus yang sudah mati menggantung diri. Pemilihan ini dimaksudkan agar terpenuhilah nas Kitab Mazmur: "Biarlah jabatannya diambil orang lain". Syaratnya ialah calon haruslah seorang murid yang selalu bersama Yesus sejak pembaptisanNya sampai la naik ke surga. Sebab, seorang Rasul harus dapat bersaksi tentang Sabda, Karya dan Kebangkitan Yesus. Maka mereka mengajukan dua orang murid, yaitu Yosef, yang disebut juga Barsabas atau Yustus (= Yang Adil), dan Matias.
Setelah berdoa bersama-sama, mereka membuang undi. Pilihan jatuh pada diri Matias. Semenjak itu Matias menjadi penggenap bilangan Keduabelas Rasul. Merekalah pengemban utama tugas menyebarkan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia. Nama Matias sekali saja disebut di dalam Kitab Perjanjian Baru. Dalam tulisan-tulisan Apokrif, namanya tidak pernah disebut-sebut. Namun kita yakin bahwa Matias adalah Rasul yang setia, tekun dan bersemangat prihatin. Tahun kematiannya tidak diketahui pasti, namun makamnya terdapat di Trier, Jerman.

Santa Maria Dominika Mazzarello, Pengaku Iman
Maria Dominika Mazzarello memberi devosi khusus kepada Bunda Maria. Dengan mengikuti teladan Bunda Maria, ia menjadi seorang ibu yang saleh. Ia mendidik anak-anaknya secara praktis melalui contoh hidupnya sehari-hari, Tertarik oleh karya dan ajakan Santo Yohanes Don Bosko, wanita petani ini ikut mendirikan dan memimpin sebuah kongregasi suster yang baru.


Santo Mikhael Garicoits, Pengaku Iman
Ia dikenal sebagai seorang mahaguru Teologi dan Rektor Seminari. Ia mendirikan Kongregasi Imam Hati Kudus dan dikenal luas sebagai pembimbing rohani yang saleh.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/