Liturgia Verbi 2026-08-16 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
HR SP Maria Diangkat Ke Surga

Minggu, 16 Agustus 2026



Bacaan Pertama
Why 11:19a;12:1.3-6a.10ab

"Seorang perempuan berselubungkan matahari
dengan bulan di bawah kakinya."

Pembacaan dari Kitab Wahyu:

Aku, Yohanes, melihat Bait Suci Allah yang di surga,
dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu.
Lalu tampaklah suatu tanda besar di langit:
Seorang perempuan berselubungkan matahari,
dengan bulan di bawah kakinya,
dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.
Ia sedang mengandung.
Dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan,
ia berteriak kesakitan.

Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit:
Seekor naga merah padam yang besar,
berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh,
dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.
Ekornya menyapu sepertiga dari bintang-bintang di langit
dan melemparkannya ke atas bumi.

Naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu,
untuk menelan Anaknya,
segera sesudah perempuan itu melahirkannya.
Dan perempuan itu melahirkan seorang Anak laki-laki,
yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi.
Tetapi tiba-tiba Anak itu direngut dan dibawa lari
kepada Allah dan ke hadapan takhta-Nya.
Lalu perempuan itu lari ke padang gurun,
di mana Allah telah menyediakan suatu tempat baginya.

Kemudian aku mendengar suara yang nyaring di surga,
"Sekarang telah tiba  keselamatan,
kuasa  dan pemerintahan Allah kita!
Sekarang telah tiba kekuasaan Dia yang diurapi Allah!
Sebab para pendakwa
yang siang malam mendakwa saudara-saudara kita di hadapan Allah,
telah dilemparkan ke bawah!"

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 45:10c-12.16,R:10d

Refren: Di sebelah kananmu berdiri permaisuri
berpakaian emas dari Ofir.

*Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu,
lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu!
Biarlah raja menjadi bergairah karena keelokanmu,
sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!

*Dengan sukacita dan sorak-sorai mereka dibawa,
mereka masuk ke dalam istana raja.



Bacaan Kedua
1Kor 15:20-26

"Kristus sebagai buah sulung,
sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya"

Pembacaan dari Surat pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati,
sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia,
demikian juga
kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.
Karena sama seperti semua orang mati
dalam persekutuan dengan Adam,
demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali
dalam persekutuan dengan Kristus.
Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya:
Kristus sebagai buah sulung;
sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya
pada waktu kedatangan-Nya.
Kemudian tibalah kesudahannya,
yaitu bilamana Kristus menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa,
sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan,
kekuasaan dan kekuatan.
Karena Kristus harus memegang pemerintahan sebagai Raja
sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.
Musuh yang terakhir, yang Ia binasakan ialah maut.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil


Maria diangkat ke surga,
para malaikat bersukacita.



Bacaan Injil
Luk 1:39-56

"Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku
dan meninggikan orang-orang yang rendah."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Beberapa waktu sesudah kedatangan malaikat Gabriel,
bergegaslah Maria ke pegunungan
menuju sebuah kota di Yehuda.
Ia masuk ke rumah Zakharia
dan memberi salam kepada Elisabet.

Ketika Elisabet mendengar salam Maria,
melonjaklah anak yang di dalam rahimnya,
dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,
lalu berseru dengan suara nyaring,
"Diberkatilah engkau di antara semua wanita,
dan diberkatilah buah rahimmu.
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Sebab sesungguhnya,
ketika salammu sampai kepada telingaku,
anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya,
sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana."

Lalu kata Maria,
"Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.
Sesungguhnya,
mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku,
dan nama-Nya adalah kudus.
Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya,
dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya,
dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Ia menolong Israel, hamba-Nya,
karena Ia mengingat rahmat-Nya,
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita,
kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."

Kira-kira tiga bulan lamanya
Maria tinggal bersama dengan Elisabet,
lalu pulang ke rumahnya.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Dalam Bacaan Pertama, Yohanes melihat seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Gambaran ini memperlihatkan kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi mereka yang setia kepada-Nya.

Dalam Bacaan Kedua, Santo Paulus menegaskan bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa kematian bukanlah akhir kehidupan kita. Musuh terakhir yang akan dikalahkan adalah maut.

Kedua bacaan ini mengarahkan pandangan kita kepada surga dan kehidupan kekal. Namun, Bacaan Injil justru membawa kita kembali kepada kehidupan yang sangat membumi.

Setelah menerima kabar bahwa Elisabet sedang mengandung, Maria segera berangkat menuju pegunungan. Maria tidak larut dalam kebahagiaannya sendiri karena telah dipilih menjadi Bunda Tuhan. Ia memikirkan Elisabet yang sudah lanjut usia dan mungkin memerlukan pertolongan.

Maria yang kelak dimuliakan di surga ternyata menempuh jalan menuju kemuliaan itu melalui pelayanan yang sederhana. Ia berjalan jauh, memasuki rumah Elisabet, menyampaikan salam, lalu tinggal bersamanya.

Maria tidak datang dengan tangan kosong. Di dalam rahimnya, ia membawa Yesus. Itulah sebabnya, ketika salam Maria sampai ke telinga Elisabet, anak yang berada dalam kandungannya melonjak kegirangan. Kehadiran Maria mendatangkan sukacita karena ia membawa Kristus bersamanya.

Di sinilah kita menemukan hubungan yang indah antara surga dan kehidupan kita sehari-hari. Maria tidak hanya merindukan kemuliaan surgawi. Selama hidupnya, ia menghadirkan suasana surga bagi orang-orang yang dijumpainya.

Surga bukan hanya sesuatu yang kita nantikan setelah kehidupan di dunia ini berakhir. Nilai-nilai surgawi sudah dapat kita hadirkan sekarang melalui kasih, perhatian, pengampunan, pelayanan, dan kesediaan untuk membawa Kristus kepada sesama.

Terkadang kita begitu bersemangat berbicara tentang kehidupan kekal. Kita berdoa agar kelak diperkenankan masuk surga. Namun, kita lupa bertanya: apakah kehadiran kita sekarang membuat orang lain merasakan kedamaian, atau justru merasa tertekan? Apakah tutur kata kita membawa penghiburan, atau malah menambah luka? Apakah orang merasa diterima ketika berada di dekat kita, atau harus selalu berhati-hati karena takut dipersalahkan?

Kerinduan akan surga semestinya terlihat dari cara kita memperlakukan orang lain di dunia ini.

Kita tidak perlu melakukan sesuatu yang luar biasa untuk menghadirkan suasana surga. Maria hanya datang, menyampaikan salam, menemani, dan melayani Elisabet. Namun, kehadirannya membuat rumah itu dipenuhi sukacita dan Roh Kudus.

Saya lalu merefleksikan diri saya sendiri. Saya tentu ingin masuk surga, tetapi sudahkah suasana yang saya bangun di dalam rumah mencerminkan suasana surga? Apakah orang-orang terdekat merasa damai ketika berbicara dengan saya? Ataukah saya justru lebih ramah kepada orang lain, tetapi lebih mudah marah kepada anggota keluarga sendiri?

Bisa jadi kita aktif melayani di gereja dan dikenal sebagai orang baik di tengah masyarakat, tetapi di rumah kita sulit mendengarkan. Kita ingin membawa banyak orang kepada Tuhan, tetapi kehadiran kita sendiri belum membuat orang-orang terdekat merasakan kasih Tuhan.

Hari ini Bunda Maria mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya soal apa yang kita yakini, melainkan juga tentang apa yang dirasakan orang lain melalui kehadiran kita.

Ketika kita mau mendengarkan orang yang sedang menghadapi persoalan, kita sedang menghadirkan sedikit suasana surga. Ketika kita mengampuni kesalahan yang selama ini membebani hubungan, kita sedang membuka pintu bagi damai Tuhan. Ketika kita memberi perhatian kepada orang yang merasa sendirian, kita sedang membawa Kristus datang mengunjunginya.

Kita memang belum dapat membawa orang lain ke surga. Namun, melalui kehadiran kita, mereka dapat merasakan sedikit suasana surga.

Maria kemudian berkata, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Maria tidak memuliakan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa segala kemuliaan yang diterimanya berasal dari Tuhan.

Karena itu, menghadirkan surga juga berarti tidak menjadikan diri kita pusat dari segala sesuatu. Kita belajar seperti Maria: membesarkan nama Tuhan, bukan nama sendiri; mengutamakan pelayanan, bukan pujian; serta membawa Kristus, bukan menonjolkan diri.

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga memberi kita harapan bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak akan berakhir sia-sia. Ke mana Maria telah pergi, ke sanalah kita pun dipanggil. Namun, jalan menuju surga bukanlah jalan untuk melarikan diri dari dunia. Jalan itu ditempuh dengan setia menjalankan kehendak Tuhan di tengah keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan setiap perjumpaan kita.

Maka, jangan hanya merindukan surga. Marilah kita mulai menghadirkannya.

Biarlah rumah kita menjadi tempat orang merasa diterima. Biarlah perkataan kita membawa pengharapan. Biarlah pelayanan kita menghadirkan kasih Kristus. Dan biarlah setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan bahwa Tuhan sungguh dekat dan tidak pernah meninggalkan mereka.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Benediktus Yoseph Labre, Pengaku Iman
Benediktus Yoseph Labre, putera tertua dari limabelas bersaudara, lahir di Ammettes, Flanders, Prancis pada tanggal 26 Maret 1748. Ayah dan ibunya, Yohanes Baptista Labre dan Anne Barbe Grandsire adalah petani sederhana di desa Ammettes. Pendidikan keras ayahnya membuat Benediktus bertumbuh menjadi seorang pekerja keras, cermat, cekatan dan beriman.
Satu-satunya cita-cita yang membakar hatinya ialah menjadi Abdi Allah sebagai imam atau biarawan. Pada umur 12 tahun, ia mulai menjalani pendidikan imamatnya di bawah bimbingan pamannya, Pater Francois Labre. Empat tahun kemudian, ia diterima di biara pertapaan Kartusian di Montreul-sur-Mer. Aturan hidup di biara ini terkenal keras. Di biara ini Benediktus hanya bertahan 1 bulan lamanya karena gangguan kesehatan. Tak lama kemudian ia mengajukan permohonan ke sebuah biara di La Trappe, tetapi permohonannya ditolak karena ia masih muda. Benediktus kemudian diterima di sebuah biara Trapist di Sept Fonts. Enam bulan kemudian ia terpaksa meninggalkan biara itu karena gangguan kesehatannya.
Sejak itu Benediktus mulai sadar bahwa panggilannya untuk menjadi Abdi Allah harus ditempuhnya dengan tetap menjadi seorang awam sebagaimana Yesus dan para Rasul. Karena itu ia berkeputusan untuk menjadi peziarah. Antara tahun 1770 dan 1777, ia menjelajahi semua kota besar di Eropa Barat seperti: Jerman, Prancis, Spanyol dan Italia. Akhirnya ia menetap di Roma. Di sana Benediktus menjadi pengemis yang hidup dari belas kasihan orang lain. Ia rajin mengunjungi gereja­gereja untuk berdoa dan merayakan Ekaristi. Pada awal masa Puasa tahun 1783, ia jatuh sakit lalu meninggal dunia pada hari Jumat Agung, tanggal 7 April 1783.
Benediktus Yoseph Labre dikagumi banyak orang karena kesalehannya, tetapi sekaligus diejek dan diolok-olok oleh orang-orang yang mengenalnya. Keramahan dan kerendahan hatinya, cinta dan kesalehannya mengilhami banyak orang di kota Roma. Selama masa hidupnya yang diliputi kesengsaraan itu, ia dikaruniai banyak penglihatan ajaib. Satu abad setelah kematiannya, Benediktus dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII (1878-1903).

Santo Stefanus, Raja Hungaria
Stefanus lahir pada tahun 969. Ketika itu agama Kristen baru mulai menanamkan pengaruhnya di Hungaria. Ayahnya, raja Hungaria, dan ibunya sendiri belum menjadi Kristen. Pada umur 10 tahun, Stefanus baru dipermandikan bersama kedua orangtuanya.
Ketika ayahnya meninggal dunia, ia menggantikannya sebagai raja Hungaria. Stefanus yang masih muda ini - didukung oleh permaisurinya Santa Gisela - ternyata tampil sangat bijaksana dan tegas dalam memimpin rakyatnya. Ia disenangi rakyatnya karena selalu memperhatikan kepentingan mereka. Setelah kedudukan dan kuasanya tidak lagi dirongrong oleh para lawannya, ia mulai memusatkan perhatian pada kemajuan Gereja dan pewartaan Injil di seluruh wilayah kerajaan. Upacara-upacara kekafiran perlahan-lahan diberantas dan diganti upacara­upacara iman Kristiani. Hari minggu diumumkannya sebagai hari yang khusus untuk Tuhan. Orang tidak boleh bekerja.
Untuk mendukung usahanya itu, ia berusaha mendirikan banyak gereja dan biara yang kelak menjadi pusat kebudayaan di Hungaria. Ia mengutus beberapa pembantu dekatnya kepada Sri Paus Silvester II (999-1003) untuk meminta tenaga-tenaga imam dan memohon agar kiranya Sri Paus mengurapinya menjadi raja Hungaria. Sri Paus dengan senang hati mengabulkan dua permohonan itu.
Pembentukan Kerajaan Hungaria sebagai satu Kerajaan Kristen yang berdaulat dan merdeka merupakan jasa terbesar dari Stefanus. Seluruh negeri dipersembahkan kepada perlindungan Santa Perawan Maria. Stefanus sendiri terus memohon kepada Tuhan umur yang panjang dan jangan dulu mati sebelum seluruh negerinya dikristenkan. Penghormatannya kepada Santa Perawan Maria diabadikannya dengan mendirikan sebuah gereja yang luas dan indah, gereja Santa Perawan Maria.
Puteranya, Santo Emerikus, dididiknya dengan sungguh-sungguh mengikuti tata cara Kristiani karena ia berharap bahwa kelak ia dapat menggantikannya sebagai raja. Namun sayang, maut terlalu cepat datang menjemput dia. Emerikus mati dalam suatu kecelakaan tak terduga ketika sedang berburu.
Kematian Emerikus menimbulkan penderitaan batin yang luar biasa bagi Stefanus. Hilanglah segala harapannya akan Emerikus sebagai penggantinya. Di antara kaum kerabatnya timbullah percekcokan tentang siapa yang pantas menggantikannya kelak bila dia meninggal. Sehubungan dengan itu, Stefanus mendesak para pembantunya agar mereka tetap adil dan jujur serta taat kepada undang-undang kerajaan dan kepada Sri Paus di Roma. Raja yang suci ini meninggal dunia pada tanggal 15 Agustus 1038. Bersama puteranya Emerikus, Stefanus dihormati Gereja sebagai orang kudus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-15 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIX

Sabtu, 15 Agustus 2026

PF S. Tarsisius, Martir Ekaristi.  Pelindung putra-putri altar dan penerima komuni pertama.



Bacaan Pertama
Yeh 18:1-10.13b.30-32

"Aku menghukum kalian sesuai dengan tindakanmu sendiri."

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Tuhan bersabda kepadaku,
"Apakah maksudnya kalian mengucapkan pepatah ini di Israel,
'Ayah-ayah makan buah mentah,
dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu?'
Demi Aku yang hidup, demikianlah sabda Tuhan,
kalian tidak akan mengucapkan pepatah itu lagi di Israel.
Sungguh, semua jiwa itu Aku yang punya!
Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Akulah yang  punya!
Dan orang yang berbuat dosa, dia sendirilah yang harus mati.

Orang benar ialah yang melakukan keadilan dan kebaikan.
Ia tidak makan daging persembahan di atas gunung.
Ia tidak memuja-muja berhala-berhala kaum Israel.
Ia tidak mencemari isteri sesamanya
dan tidak menghampiri wanita yang sedang haid.
Ia tidak menindas orang lain.
Ia mengembalikan gadaian orang dan tidak merampas apa-apa.
Ia memberi makan orang lapar
dan memberi pakaian kepada orang telanjang.
Ia tidak memungut bunga dan memakan riba.
Ia menjauhkan diri dari kecurangan
dan melakukan hukum yang benar
dalam hubungan dengan sesama manusia.
Ia hidup menurut ketetapan-Ku, dan tetap mentaati peraturan-Ku;
ia berlaku setia.
Orang demikianlah orang yang benar, dan ia pasti hidup,"
demikianlah sabda Tuhan Allah.

"Tetapi kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok,
dan yang suka menumpahkan darah
atau melakukan salah satu dari kejahatan tersebut,
maka anak itu sendirilah yang harus mati,
dan darahnya tertumpah pada dia sendiri.

Oleh karena itu
Aku akan menghukum kalian
masing-masing menurut tindakanmu, hai kaum Israel,"  demikianlah sabda Tuhan Allah.
"Maka bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu,
jangan sampai itu menjadi batu sandungan,
yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan.
Buanglah daripadamu
segala durhaka yang kalian lakukan terhadap-Ku
dan perbaharuilah hati serta rohmu!
Mengapakah kalian mau mati, hai kaum Israel?
Aku tidak berkenan akan kematian seseorang
yang harus ditanggungnya,"
demikianlah sabda Tuhan Allah.
"Oleh karena itu bertobatlah, supaya kalian hidup."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 51:12-15.18-19,R:12a

Refren: Ciptakanlah hati murni dalam diriku, ya Allah.

*Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah,
dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku.
Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu,
dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

*Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu,
dan teguhkanlah  roh yang rela dalam diriku.
Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu
kepada orang-orang durhaka,
supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

*Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan;
dan kalaupun kupersembahkan kurban bakaran,
Engakau tidak menyukainya.
Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur;
hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:25

Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi,
sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.



Bacaan Injil
Mat 19:13-15

"Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku,
sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus,
supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka
dan mendoakan mereka.
Tetapi murid-murid Yesus memarahi orang-orang itu.
Maka Yesus berkata,
"Biarkanlah anak-anak itu,
janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku.
Sebab orang-orang seperti merekalah
yang empunya Kerajaan Surga."
Lalu Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka
dan kemudian Ia berangkat dari situ.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Bacaan Injil hari ini, orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Namun, para murid memarahi orang-orang itu.

Mungkin para murid merasa sedang membantu Yesus. Bisa jadi mereka menganggap anak-anak itu hanya akan mengganggu, sedangkan Yesus mempunyai urusan yang lebih penting. Namun, Yesus justru berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku.”

Perkataan Yesus ini mengingatkan kita bahwa setiap orang berhak datang kepada Tuhan, termasuk mereka yang dianggap kecil, belum mengerti apa-apa, atau tidak terlalu penting menurut pandangan manusia.

Tentu kita tidak pernah dengan sengaja melarang anak-anak datang kepada Tuhan. Kita menyuruh mereka berdoa, mengajak mereka ke gereja, dan mengajarkan pengetahuan tentang iman. Namun, tanpa kita sadari, perilaku kita sendiri bisa menjadi penghalang bagi mereka.

Kita mengajarkan bahwa Tuhan itu penuh kasih, tetapi anak-anak melihat kita mudah marah dan sulit memaafkan. Kita meminta mereka berkata jujur, tetapi mereka menyaksikan kita mencari alasan untuk menutupi kesalahan. Kita mengajak mereka rajin berdoa, tetapi setelah berdoa, sikap kita kepada anggota keluarga tetap kasar dan menyakitkan.

Anak-anak mungkin tidak mampu menjelaskan pertentangan itu dengan kata-kata, tetapi mereka dapat merasakannya. Mereka belajar mengenal Tuhan bukan hanya dari apa yang kita ajarkan, melainkan terutama dari bagaimana kita menjalani kehidupan.

Jangan sampai anak-anak mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang suka menghukum karena kita terlalu sering menakut-nakuti mereka dengan nama Tuhan. Jangan pula membuat mereka merasa tidak layak datang kepada-Nya hanya karena mereka belum mampu duduk tenang, belum hafal doa-doa, atau masih sering melakukan kesalahan.

Yesus tidak menunggu anak-anak itu menjadi dewasa, tertib, dan mengerti segala sesuatu terlebih dahulu. Yesus menerima mereka, meletakkan tangan-Nya atas mereka, lalu memberkati mereka.

Bacaan Injil hari ini juga mengajak saya untuk bertanya: selama ini, apakah kehadiran saya membuat orang lain semakin dekat kepada Tuhan, atau justru membuat mereka menjauh?

Pertanyaan ini tidak hanya menyangkut anak-anak. Bisa jadi ada anggota keluarga yang mulai menjauh dari kehidupan menggereja karena pernah terluka oleh perkataan atau sikap orang yang mengaku beriman. Bisa jadi ada orang yang sebenarnya ingin mengenal Tuhan, tetapi mengurungkan niatnya karena merasa dihakimi, tidak diterima, atau dianggap tidak pantas.

Terkadang kita terlalu cepat menilai siapa yang layak datang kepada Tuhan. Padahal, tugas kita bukan menjaga pintu dan menentukan siapa yang boleh masuk. Tugas kita adalah membuka jalan agar semakin banyak orang dapat mengalami kasih-Nya.

Iman memang perlu diajarkan melalui kata-kata, tetapi iman akan lebih mudah diterima ketika tampak dalam keteladanan. Anak-anak akan lebih mudah percaya bahwa Tuhan itu penuh kasih ketika mereka mengalami kasih di dalam rumah. Mereka akan lebih mudah percaya bahwa Tuhan mengampuni ketika melihat orangtuanya bersedia meminta maaf dan memaafkan. Mereka akan lebih mudah mencintai doa ketika melihat bahwa doa sungguh mengubah sikap dan perilaku kita.

Maka, janganlah kita hanya sibuk mengantar anak-anak datang kepada Tuhan. Pastikan bahwa kehidupan kita sendiri tidak menghalangi perjalanan mereka.

Semoga melalui tutur kata, sikap, dan keteladanan kita, orang lain—terutama anak-anak dan anggota keluarga kita—semakin mengenal Tuhan sebagai Bapa yang menerima, mengasihi, dan memberkati mereka.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga
Pada hari ini, kita merayakan peristiwa iman "Maria Diangkat Ke Surga". Kita diajak Gereja untuk merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman. Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda PuteraNya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaekat dan orang-orang kudus.
Gereja percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar bisa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII (1939-1958) pada tanggal 1 Nopember 1950. Maklumat ini dapat dipandang sebagai 'mahkota' perkembangan devosi dan teologi seputar masalah ini.
Dogma ini sama sekali tidak menentukan apa-apa sehubungan dengan kematian Maria. Tidak diketahui secara pasti apakah Perawan terberkati ini meninggal; tetapi kalau toh terjadi, kematiannya tentu tidak disertai dengan ketakutan dan penderitaan sebagaimana biasanya dialami manusia, bahkan sebaliknya diliputi ketenteraman dan kegembiraan sebagai suatu perpindahan dari dunia ke dalam keabadian. Dogma ini pada hakekatnya bertumpu pada iman umat sejak dahulu kala, bukannya pada satu teks Alkitab tertentu.
Dalam Konstitusi Apostolik itu, Sri Paus menyatakan: "Kami memaklumkan, menyatakan, dan menentukannya menjadi suatu dogma wahyu ilahi: bahwa Bunda Allah yang Tak Bernoda, Perawan Maria, setelah menyelesaikan hidupnya di dunia ini, diangkat dengan badan dan jiwa ke dalam kemuliaan surgawi".
Di antara tahun 1849-1950, Vatikan dikirimi banyak sekali permohonan dari segala penjuru dunia agar kepercayaan akan Maria Diangkat ke Surga diumumkan secara resmi sebagai dogma. Pada tanggal 1 Mei 1946, Paus Pius XII (1939-1958) mengirim kepada para uskup sedunia Ensiklik Deiparae Virginis; di dalamnya paus menanyakan para uskup sedunia sejauh manakah mereka setuju agar dogma itu benar­benar dimaklumkan. Jawaban para uskup hampir senada, yaitu positif.
Paus bertitik tolak dari persatuan mesra antara Maria dengan Yesus, Puteranya, khususnya semasa Yesus masih kecil. Persatuan itu diyakini sebagai tidak mungkin tidak diteruskan selama-lamanya; tak mungkin Maria yang melahirkan Yesus dapat terpisah dari Yesus secara fisik. Selaku Puteranya, Yesus tentu menghormati ibuNya, bukan hanya BapaNya.
Tanda-tanda pertama ibadat kepada Santa Maria Diangkat ke Surga, ditemukan para ahli di kota Yerusalem dalam masa awal Gereja Kristen. Pesta Maria Diangkat ke Surga sudah populer sekali di kalangan Gereja Timur pada abad VIII.
Konsili Vatikan II bicara juga tentang Dogma Maria Diangkat ke Surga. Konsili mengatakan: "Akhirnya, sesudah menyelesaikan jalan kehidupannya yang fana, Perawan Tak Tercela, yang senantiasa kebal terhadap semua noda dosa asal, diangkat ke kejayaan surgawi dengan badan dan jiwanya" (LG No. 59). Dalam Lumen Gentium No. 68 tertulis: "Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwa, dan menjadi citra serta awal penyempurnaan Gereja di masa datang. Begitu pula dalam dunia ini - sampai tiba hari Tuhan (bdk. 2Ptr 3:10), ia bersinar gemilang sebagai tanda harapan yang pasti dan tanda hiburan bagi Umat Allah yang sedang berziarah".
Yesus yang sungguh Allah dan sungguh Manusia sekarang bertakhta di surga sebagai Raja yang kepadaNya telah diserahkan segala kekuasaan di surga dan di dunia. Dan Maria, ibuNya yang menyertai Dia dengan setia dalam seluruh karyaNya di tengah-tengah manusia kini bertakhta juga di surga sebagai Ratu Surgawi, yang mendoakan kita di hadapan PuteraNya dan menolong kita dalam semua kedukaan kita. Di dalam Yesus dan Maria, keluhuran martabat manusia tampak dengan cemerlang. Kecemerlangan martabat manusia itu bukan terutama karena keagungan manusia di antara ciptaan lainnya melainkan terutama karena karya penebusan Yesus Kristus, Putera Maria, dan persatuan mesra denganNya.
Pengangkatan Maria ke Surga dengan badan dan jiwa menunjukkan juga kepada kita betapa tingginya nilai tubuh manusia di hadapan Allah karena penebusan Kristus dan persatuan erat mesra denganNya. Oleh penebusan dan persatuan itu, tubuh kita tidak sehina tubuh hewan karena sudah dikuduskan oleh Kristus. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menghormati tubuh kita dan tubuh orang lain. Sehubungan dengan itu, biasanya kita berdoa: "Bunda Maria yang tak bernoda, murnikanlah badanku dan sucikanlah jiwaku!"

Santo Tarsisius, Martir
Tarsisius dihormati Gereja sebagai pelindung para akolit dan pelayan Misa. Menurut tradisi abad ketiga, yang didasarkan pada sebuah syair dari Paus Santo Damascus (366-384), Tarsisius adalah seorang martir yang mati di tangan orang-orang kafir karena ia menolak menyerahkan Tubuh Kristus kepada anjing-anjing penindas itu. Sedangkan menurut tradisi abad keenam, Tarsisius dikenal sebagai seorang akolit muda yang ditugaskan membawa Komuni Kudus kepada orang-orang Kristen yang dipenjarakan selama masa penganiayaan yang dilancarkan oleh kaisar Valerianus (253-260). Penghormatan dan kebaktian kepada Sakramen Mahakudus didasarkan pada kesaksian iman Tarsisius. Tarsisius dikuburkan di pekuburan Santo Kallistus di Roma.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-14 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIX

Jumat, 14 Agustus 2026

PW S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir



Bacaan Pertama
Yeh 16:1-15.60.63

"Engkau sangat sempurna berkat perhiasan-Ku yang Kukenakan padamu;
tetapi engkau telah berzinah."

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Tuhan bersabda kepadaku,
"Hai anak manusia, beritahukanlah kepada Yerusalem
perbuatan-perbuatannya yang keji.
Katakanlah: Beginilah sabda Tuhan Allah kepada Yerusalem,
'Engkau berasal dan lahir dari tanah Kanaan.
Ayahmu orang Amori, ibumu orang Het.
Kelahiranmu begini:
Waktu engkau dilahirkan, pusarmu tidak dipotong.
Engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih;
juga tidak digosok dengan garam atau dibedung dengan kain lampin.
Tidak seorang pun merasa sayang kepadamu;
tak seorang pun melakukan hal-hal itu kepadamu
terdorong rasa belas kasihan.
Malahan engkau dibuang ke ladang,
karena orang memandang engkau hina pada hari lahirmu.

Aku lewat di situ
dan melihat engkau menendang-nendang dengan kakimu
sambil berlumuran darah,
dan Aku berkata kepadamu dalam keadaan berlumuran darah itu,
Engkau harus hidup dan menjadi besar
seperti tumbuh-tumbuhan di ladang!
Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur,
bahkan sudah sampai pada masa mudamu.
Buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh,
tetapi engkau dalam keadaan telanjang bulat.

Ketika Aku lewat di situ, Aku melihat engkau.
Sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta birahi.
Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi tubuhmu.
Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan dikau,
demikianlah sabda Tuhan Allah,
dan demikian engkau menjadi kepunyaan-Ku.

Aku membasuh engkau dengan air untuk membersihkan darahmu,
dan Aku mengurapi engkau dengan minyak.
Aku mengenakan pakaian berwarna-warni kepadamu
dan memberi engkau sandal dari kulit lumba-lumba
dan tutup kepala dari lenan halus serta selendang sutera.

Aku menghiasi engkau dengan hiasan
dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu.
Dan Aku mengenakan anting-anting
pada hidung dan pada telingamu
serta mahkota kemuliaan di atas kepalamu.
Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak;
pakaianmu lenan halus dan sutera serta kain berwarna-warni;
makananmu tepung yang terbaik, madu dan minyak;
dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu.
Namamu menjadi termasyhur di antara para bangsa
karena kecantikanmu,
sebab engkau sangat sempurna berkat perhiasan-Ku
yang Kuberikan kepadamu,'
demikianlah sabda Tuhan.

"Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu,
dan kemasyhuranmu kaugunakan untuk bersundal;
dan nafsu sundalmu kaulampiaskan dengan setiap orang yang lewat.
Meskipun demikian
Aku akan mengingat perjanjian-Ku denganmu pada masa mudamu
dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal.
Dengan demikian engkau akan teringat-ingat akan masa lampau dan merasa malu.
Karena nodamu itu mulutmu terkatup sama sekali,
waktu Aku mengampuni segala sesuatu yang telah kaulakukan."

Demikianlah sabda Tuhan.


ATAU BACAAN SINGKAT:
Yeh 16:59-63

"Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan dikau,
dan engkau akan merasa malu."

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Beginilah sabda Tuhan kepada Yerusalem:
"Aku akan memperlakukan dikau seperti engkau sendiri berlaku,
yakni engkau telah meremehkan sumpah
dengan mengingkari perjanjian.

Meskipun demikian
Aku akan mengingat perjanjian-Ku denganmu pada masa mudamu,
dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal.
Barulah engkau teringat akan kelakuanmu,
dan engkau akan merasa malu,
pada waktu Aku mengambil kakak-kakakmu,
baik yang tertua maupun yang termuda,
dan memberikan mereka kepadamu menjadi anakmu,
tetapi bukan karena engkau setia memegang perjanjian.

Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan dikau,
dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan.
Dengan demikian engkau akan teringat-ingat akan masa lampau
dan akan merasa malu.
Karena nodamu itu mulutmu terkatup sama sekali,
waktu Aku mengampuni segala sesuatu yang telah kaulakukan.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Yes 12:2-3.4bcd.5-6,R:1c

Refren: Murka-Mu telah surut dan aku terhibur.

*Sungguh, Allah itu keselamatanku,
aku percaya dengan tidak gementar;
sebab Tuhan Allah itu kekuatan dan mazmurku,
Ia telah menjadi keselamatanku.
Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan
dari mata air keselamatan.

*Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya,
beritahukanlah karya-Nya di antara bangsa-bangsa,
masyhurkanlah bahwa nama-Nya tinggi luhur!

*Bermazmurlah bagi Tuhan, sebab mulialah karya-Nya;
baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!
Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion,
sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!"



Bait Pengantar Injil
1Tes 2:13

Sambutlah pewartaan ini sebagai sabda Allah,
bukan sebagai perkataan manusia.



Bacaan Injil
Mat 19:3-12

"Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu,
tetapi semula tidaklah demikian."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari
datanglah orang-orang Farisi kepada Yesus, untuk mencobai Dia.
Mereka bertanya,
"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya
dengan alasan apa saja?"
Yesus menjawab, "Tidakkah kalian baca,
bahwa Ia yang menciptakan manusia,
sejak semula menjadikan mereka pria dan wanita?
Dan Ia bersabda,
Sebab itu pria akan meninggalkan ayah dan ibunya,
dan bersatu dengan isterinya,
sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah,
tidak boleh diceraikan manusia."

Kata mereka kepada Yesus,
"Jika demikian,
mengapa Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai
jika orang menceraikan isterinya?"
Kata Yesus kepada mereka,
"Karena ketegaran hatimu
Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu,
tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Tetapi Aku berkata kepadamu,
'Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah,
lalu kawin dengan wanita lain, ia berbuat zinah'."

Maka murid-murid berkata kepada Yesus,
"Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri,
lebih baik jangan kawin."
Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka,
"Tidak semua orang dapat mengerti perkataan ini,
hanya mereka yang dikaruniai saja.
Ada orang yang tidak dapat kawin
karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya,
dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain;
dan ada orang yang membuat dirinya demikian
karena kemauannya sendiri, demi Kerajaan Surga.
Siapa yang dapat mengerti, hendaklah ia mengerti."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Bacaan Injil hari ini, orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perceraian. Namun, Yesus tidak terjebak dalam perdebatan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Yesus justru membawa mereka kembali kepada kehendak Allah sejak semula:
“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Perkataan Yesus ini bukan hanya berbicara mengenai larangan untuk berpisah, melainkan mengenai pentingnya menjaga apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita.

Terkadang kita menganggap kesulitan sebagai pertanda bahwa kita telah mengambil pilihan yang salah. Ketika muncul perbedaan, kekecewaan, atau kelelahan, kita mulai berpikir untuk meninggalkannya. Padahal, tidak setiap kesulitan berarti bahwa semuanya harus diakhiri. Bisa jadi, Tuhan sedang mengajak kita bertumbuh menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih dewasa dalam mengasihi.

Dalam Bacaan Pertama, bangsa Israel digambarkan telah melupakan Tuhan dan mengkhianati perjanjian dengan-Nya. Namun Tuhan berkata, “Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan dikau.”

Manusia bisa berubah, mengecewakan, bahkan tidak setia, tetapi Tuhan tetap mengingat perjanjian-Nya. Jika Tuhan hanya mengasihi kita ketika kita berlaku baik, barangkali tidak seorang pun layak menerima kasih-Nya. Justru kesetiaan Tuhan itulah yang memberi kita kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.

Kesetiaan bukan berarti tidak pernah mengalami masalah. Dalam perkawinan, kesetiaan dapat diwujudkan dengan kesediaan untuk memperbaiki komunikasi, mengakui kesalahan, serta belajar memaafkan. Dalam keluarga, kesetiaan berarti tetap peduli meskipun perhatian kita terkadang tidak dihargai. Dalam pelayanan, kesetiaan berarti tetap melakukan yang baik, sekalipun tidak selalu mendapatkan pujian atau ucapan terima kasih.

Tentu saja, setia bukan berarti membiarkan kekerasan atau perbuatan yang merusak terus berlangsung. Mengupayakan keselamatan dan mencari pertolongan bukanlah bentuk ketidaksetiaan. Kesetiaan yang dikehendaki Tuhan selalu berjalan bersama kebenaran, pertobatan, dan penghargaan terhadap martabat manusia.

Saya pun diajak untuk bertanya kepada diri sendiri: ketika saya ingin meninggalkan suatu tanggung jawab atau komitmen, apakah memang Tuhan meminta saya berhenti, atau saya hanya sedang kecewa dan lelah? Jangan-jangan yang saya perlukan bukan mengakhirinya, melainkan beristirahat sejenak, berbicara dengan jujur, meminta maaf, atau memperbarui kembali komitmen saya.

Setia memang mudah ketika semuanya berjalan sesuai keinginan. Kesetiaan baru sungguh-sungguh diuji ketika kita tidak lagi mendapatkan apa yang kita harapkan.

Hari ini Gereja juga memperingati Santo Maksimilianus Maria Kolbe. Di tengah kekejaman kamp konsentrasi, ia bersedia menyerahkan nyawanya untuk menggantikan seorang tahanan lain yang telah berkeluarga. Kesetiaannya kepada Kristus tidak berhenti pada perkataan. Ia menghidupi kasih sampai harus membayar harga yang sangat mahal.

Kita mungkin tidak diminta untuk menyerahkan nyawa seperti Santo Maksimilianus Kolbe. Namun, kita diminta menyerahkan ego, waktu, kenyamanan, dan keinginan untuk selalu dimengerti.

Sebelum kita meninggalkan sesuatu yang sedang terasa berat, marilah kita bertanya sekali lagi: mungkinkah Tuhan sedang memperjuangkan sesuatu melalui kesulitan ini? Barangkali yang sedang kita hadapi bukanlah tanda bahwa semuanya harus diakhiri, melainkan kesempatan agar kasih dan kesetiaan kita bertumbuh menjadi semakin dewasa.

Sebab kesetiaan bukan hanya bertahan ketika semuanya mudah. Kesetiaan justru menjadi nyata ketika kita tetap memilih mengasihi, sekalipun mengasihi itu tidak lagi mudah.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Maximillian Kolbe, Martir
Maximillian Kolbe lahir di Zdunska-Wola, dekat Lodz Polandia pada tanggal 7 Januari 1894. Ia kemudian dipermandikan dengan nama Raymond. Setelah dewasa, ia masuk biara Fransiskan dan mengambil nama: Maximillianus. Kaul kebiaraannya yang pertama diucapkannya pada tahun 1911. Sebagai seorang biarawan Fransiskan, Maximillian dikenal sebagai seorang yang saleh. Pada tahun 1917, ia mendirikan Militia Maria Immaculata di Roma untuk memajukan kebaktian kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda. Pada tahun 1918, Maximillian ditahbiskan menjadi imam dan kemudian kembali ke Polandia untuk berkarya di sana. Di Polandia, ia menyebarkan berbagai tulisan tentang Bunda Maria dalam buletin 'Militia Maria Immaculata'. Selain itu ia mendirikan biara di Niepokalanov pada tahun 1927 untuk memberi tempat bagi 800 biarawan. Biara yang sama didirikannya di Jepang dan India. Di kemudian hari, ia menjadi superiornya sendiri. Itulah sekilas kebesaran dan karya Maximillian.
Tuhan mencobai Maximillian yang saleh dan setia ini melebihi orang-orang lain. Kiranya benar juga bahwa semakin kuat dan besar iman seseorang, semakin berat juga cobaan yang harus dialami, demi memurnikan imannya dan mempertinggi kesuciannya. Pada tahun 1939 Gestapo Jerman yang keji itu memasuki wilayah Polandia. Diktator Jerman itu yakin bahwa untuk mematahkan semangat orang Polandia perlulah menahan, memenjarakan dan membunuh para pemimpinnya, baik pemimpin politik, maupun pemimpin keagamaan dan para ahlinya. Lebih-lebih jajaran pers Polandia harus dihancurkan.
Maximillian Kolbe dikenal sebagai seorang penulis dan editor majalah. Maka ia ditangkap oleh Gestapo dan diasingkan ke Lamsdorf Jerman dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Amstitz. Pernah ia dilepaskan, tetapi kemudian ditangkap lagi pada tahun 1941, dan dipenjarakan di Pawiak, lalu dipindahkan ke kamp konsentrasi Auscwitz. Di kamp konsentrasi ini, Maximillian dengan diam-diam menjalankan tugasnya sebagai imam bagi para tahanan yang ada di sana. Dengan kondisi tubuh yang kurus kering, Maximillian turut serta dalam kerja paksa. Penyakit TBC yang dideritanya semakin menjadi parah karena kerja paksa itu.
Pada suatu hari seorang sersan bernama Gajowniczek dijatuhi hukuman mati. Karena sangat takut, ia berteriak-teriak menyebut anak­anak dan istrinya. Mendengar teriakan sersan itu, Maximillian Kolbe maju dengan tegap untuk meminta menggantikan sersan malang itu. "Daripada sersan yang beranak-istri ini mati, lebih baiklah saya yang mati. Karena toh saya tidak beranak-isteri" kata Maximillian. Bersama dengan para sandera lainnya, Maximillian tidak diberi makan dan minum. Namun ia bisa bertahan sebagai korban terakhir, dan baru mati setelah disuntik dengan carbolic acid.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-13 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIX

Kamis, 13 Agustus 2026

PF S. Hippolitus, Imam dan Martir
PF S. Pontianus, Paus



Bacaan Pertama
Yeh 12:1-12

"Berjalanlah seperti orang buangan di depan mereka pada siang hari."

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Tuhan bersabda kepadaku,
"Hai anak manusia,
engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak.
Mereka mempunyai mata, tetapi tidak melihat.
Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar,
sebab mereka itu kaum pemberontak.
Maka engkau, anak manusia,
siapkanlah bagimu barang-barang seperti seorang buangan,
dan berjalanlah seperti seorang buangan di hadapan mereka pada siang hari.
Berangkatlah dari tempatmu sekarang ini ke tempat yang lain
seperti seorang buangan di depan mata mereka.
Barangkali mereka akan insaf
bahwa mereka adalah kaum pemberontak.
Bawalah barang-barangmu itu ke luar
seperti barang-barang seorang buangan pada siang hari
di depan mata mereka.
Dan engkau sendiri harus keluar pada malam hari
di depan mata mereka,
seperti seorang yang harus keluar dan pergi ke pembuangan.
Di depan mata mereka buatlah sebuah lubang,
dan keluarlah dari situ.
Di depan mata mereka taruhlah barang-barangmu di atas bahumu,
dan bawalah itu ke luar pada malam gelap.
Engkau harus menutupi mukamu,
sehingga engkau tidak melihat tanah.
Sebab Aku membuat engkau menjadi lambang bagi kaum Israel."

Lalu kulakukan seperti diperintahkan kepadaku:
Aku membawa pada siang hari
barang-barang seperti perlengkapan seorang buangan,
dan pada malam hari
aku membuat lubang di tembok dengan tanganku;
pada malam gelap aku keluar
dan di hadapan mata mereka
aku menaruh barang-barangku ke atas bahuku.
Keesokan harinya, turunlah sabda Tuhan kepadaku,
"Hai anak manusia,
bukankah kaum Israel, kaum pemberontak itu bertanya kepadamu,
'Apakah yang kaulakukan ini?'
Katakanlah kepada mereka, beginilah sabda Tuhan Allah,
'Ucapan ilahi ini mengenai raja di Yerusalem
dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana.'
Katakanlah, 'Aku menjadi lambang bagimu,
Seperti yang Kulakukan ini, begitulah akan berlaku bagi mereka;
sebagai orang buangan mereka akan pergi ke pembuangan.
Dan raja mereka akan menaruh barang-barangnya ke atas bahunya pada malam gelap,  dan akan pergi ke luar.
Orang akan membuat sebuah lubang di tembok
supaya baginya ada jalan keluar,
ia akan menutupi mukanya supaya ia tidak akan melihat tanah itu'."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 78:56-59.61-62,R:7c

Refren: Janganlah kita melupakan karya-karya Allah.

*Mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah,
Yang Mahatinggi,
dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya,
mereka murtad dan berkhianat seperti moyang mereka,
mereka menyimpang seperti busur yang tak dapat dipercaya.

*Mereka menyakiti hati Allah
dengan mendirikan bukit-bukit pengorbanan,
membuat Dia cemburu karena patung-patung pujaan mereka.
Mendengar hal itu, allah menjadi geram,
Ia menolak Israel sama sekali.

*Ia membiarkan andalan-Nya tertawan,
membiarkan kebanggaan-Nya jatuh ke tangan lawan;
Ia membiarkan umat-Nya dimangsa pedang,
dan murkalah Ia terhadap milik pusaka-Nya.



Bait Pengantar Injil
Mzm 119:135

Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu,
dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.



Bacaan Injil
Mat 18:21-19:1

"Aku berkata kepadamu,
'Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali
kalian harus mengampuni.'"

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata,
"Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kalikah?"

Yesus menjawab,
"Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja
yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan,
dihadapkanlah kepadanya
seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya,
raja lalu memerintahkan,
supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual
untuk membayar utangnya.
Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya,
"Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi."
Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu,
sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.

Tetapi ketika hamba itu keluar,
ia bertemu dengan seorang hamba lain
yang berutang seratus dinar kepadanya.
Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya,
"Bayarlah hutangmu!
Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya,
"Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi.
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara
sampai semua utangnya ia lunasi.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih,
lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu
dan berkata kepadanya,
"Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan
karena engkau memohonnya.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihani engkau?"
Maka marahlah tuannya
dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo,
sampai ia melunasi seluruh utangnya.
Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu,
jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya
berangkatlah Ia dari Galilea,
dan tiba di daerah Yudea, di seberang sungai Yordan.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari ini giliran saya membawakan renungan *The Power of Word" berikut ini.

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara seiman dalam Kasih Kristus,
Dalam Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus, sampai berapa kali ia harus mengampuni saudaranya yang berbuat dosa kepadanya. Apakah sampai tujuh kali?
Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Kemudian Yesus bercerita tentang seorang hamba yang memiliki utang sangat besar. Karena tidak mampu membayar, ia memohon belas kasihan. Raja pun tergerak hatinya dan menghapus seluruh utangnya.
Namun, setelah keluar, hamba itu bertemu dengan temannya yang berutang jauh lebih sedikit kepadanya. Ia menangkap dan mencekiknya sambil berkata, “Bayarlah utangmu!”

Hamba itu ingin kesalahannya dimaklumi, tetapi tidak mau memahami kesalahan orang lain. Bukankah terkadang kita juga seperti itu?

Ketika kita berbuat salah, kita mempunyai banyak alasan: sedang lelah, terpaksa, tidak sengaja, atau karena keadaan. Namun, ketika orang lain melakukan kesalahan, kita dengan mudah menilai wataknya dan sulit memberinya kesempatan untuk berubah.

Mengampuni bukan berarti membenarkan perbuatan yang telah melukai kita. Mengampuni juga tidak berarti kepercayaan harus langsung dipulihkan. Mengampuni berarti kita berhenti menjadikan kesalahan orang lain sebagai utang yang harus terus dibayarnya melalui kemarahan, sindiran, sikap dingin, atau pembalasan kita.

Kita mengampuni bukan karena orang itu pantas menerima pengampunan, melainkan karena kita sendiri telah lebih dahulu menerima pengampunan Tuhan.

Marilah kita memeriksa hati. Adakah seseorang yang sampai hari ini masih terus kita “tagih”? Mungkin kita belum mampu melupakan lukanya. Namun, kita dapat mulai berkata, “Tuhan, aku belum sepenuhnya mampu mengampuni, tetapi aku tidak ingin terus memelihara dendam ini.”

Jangan sampai kita setiap hari menikmati pengampunan Tuhan, tetapi membuat orang lain membayar kesalahannya seumur hidup.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Hippolitus, Martir
Hippolitus adalah imam dan murid Santo Ireneus. Ia dikenal sebagai seorang pengarang terpelajar di Roma yang mempunyai sikap keras. Sikapnya yang keras itu tampak dalam peristiwa pemilihan Kalistus sebagai Paus. Hippolitus bukan saja melawan Kalistus sebagai Paus terpilih (217-222), tetapi juga menolak mengakuinya sebagai Paus yang sah. Dalam sejarah kepausan, Hippolitus dikenal sebagai paus tandingan pertama (217-222) di dalam sejarah Gereja.
Dalam masa pemerintahan Kaisar Maksimianus, Hippolitus bersama temannya Pontianus - yang kemudian menjadi pengganti Paus Kalistus dibuang jauh dari Roma. Namun ia tetap teguh dan menanggung penderitaan yang menimpa dirinya dengan sabar. Setelah paus meninggal, Hippolitus tunduk pada Paus Pontianus, yang menggantikan Kalistus. Hippolitus bersama Pontianus kemudian dibunuh bersama-sama oleh kaisar pada tahun 235.

Beato Innosensius XI, Paus
Benedetto Odescalchi - demikian nama Innosensius - lahir di Como, Italia pada tanggal 19 Mei 1611. Masa pontifikatnya (1676-1689) ditandai dengan suatu perjuangan panjang lagi berat melawan campur tangan Raja Louis XIV dari Prancis (1643-1715) dalam urusan-urusan Gereja. Innosensius terkenal saleh, hemat dan rajin beramal demi membaharui semangat iman umatnya di Keuskupan Roma. Kecuali itu ia dikenal luas karena mengutuk ajaran-ajaran sesat Laxisme dan Quietisme, dan menggalang persatuan di antara raja-raja Kristen menghadapi serangan bangsa Turki.
Semenjak kecil Odescalchi dididik oleh imam-imam Yesuit di Como. Ketika menanjak dewasa, ia sibuk berdagang dan menjadi militer. Kemudian ia belajar ilmu hukum di Roma dan Napoli, hingga selesai pada tahun 1639. Hasratnya untuk mengabdi Tuhan dengan hidup sebagai imam tercapai ketika ia ditahbiskan imam beberapa waktu setelah menyelesaikan studinya.
Karier imamat Odescalchi dimulai pada bulan Juli 1643, tatkala Paus Urbanus VII (1623-1644) menunjuk dia sebagai presiden Kamera Apostolik, lembaga yang mengurus seluruh harta milik Takhta Suci. Beberapa tahun berikutnya, Paus Urbanus mengangkatnya menjadi Komisaris Apostolik untuk urusan pajak di Matches (1641-1655) dan menjadi Gubernur Macerata, Italia. Pada masa kepemimpinan Paus Innosensius X (1644-1655), Odescalchi diangkat menjadi diakon kardinal pada tanggal 6 Maret 1645 dan tak lama kemudian menjadi imam kardinal. Kecerdasannya dalam menangani berbagai urusan mendorong Paus Innosensius X (1644-1655) memilih dia sebagai utusan paus ke Ferrara, Italia untuk melayani kepentingan Gereja di sana.
Dari Ferrara, ia mendengar berita pengangkatannya sebagai Uskup Novara, Italia. Ia kemudian ditahbiskan menjadi Uskup Novara pada tanggal 30 Januari 1651. Kariernya ditandai dengan berbagai usaha keras untuk memperbaiki kesejahteraan jasmani-rohani umatnya. Berbagai proyek pekerjaan umum diadakannya di samping pembinaan rohani umat. Atas permintaan Paus Aleksander VII (1655-1667), Odescalchi menetap di Roma sesudah konklav. Jabatannya sebagai Uskun Novara diletakkannya pada tahun 1656. Tugasnya yang baru ialah membimbing beberapa kongregasi di Roma dan mengatur administrasi Gereja. Sepeninggal Paus Klemens IX (1667-1669) pada tahun 1669, Odescalchi diajukan sebagai calon paus. Namun Konklav, yang dipengaruhi oleh veto pihak Prancis, memilih Emilio Kardinal Altieri menjadi Paus dengan nama Klemens X (1670-1676). Pada sidang Konklav berikutnya menyusul kematian Paus Klemens X, Odescalchi sekali lagi diajukan sebagai calon satu-satunya. Ia lalu diangkat menjadi paus pada tanggal 21 September 1676 dengan nama Innosensius XI.
Sepanjang masa pontifikatnya, Innosensius dihadapkan pada masalah campur tangan Raja Louis XIV dari Prancis dalam urusan-urusan Gereja. Pertentangan ini memuncak tatkala Raja Louis memanggil suatu pertemuan rohaniwan-rohaniwan Prancis pada bulan Maret 1682. Pertemuan ini menyetujui empat usulan antipaus yang dinamakan "Kebebasan-kebebasan Prancis". Empat usulan itu meliputi: deklarasi tentang supremasi konsili-konsili ekumenis Gereja di atas Paus; penyangkalan terhadap hak-hak Paus untuk memecat raja-raja dan membebaskan bawahan-bawahannya dari ketaatan; dan desakan bahwa penilaian Paus dalam masalah-masalah iman memang menduduki peringkat tertinggi namun bukan tidak dapat salah tanpa persetujuan seluruh Gereja.
Innosensius mencela Kebebasan-kebebasan Prancis pada bulan April 1682, dan mengumumkan celaan-celaannya terhadap rohaniwan-rohaniwan Prancis yang mengikuti pertemuan itu. Hubungan antara Paus dan Louis semakin runcing pada tahun 1685, tatkala Raja Prancis melancarkan suatu penganiayaan kejam terhadap kaum Protestan yang dihukum Innosensius sebagai ektrimis.
Paus menolak calon yang diajukan Louis untuk menduduki takhta keuskupan agung Cologne, Jerman dan menunjuk seorang utusan yang tidak simpatik kepada Prancis. Monarki Prancis mengambil alih wilayah kepausan Avignon, Prancis, dan menangkap semua utusan paus yang ada di sana. Perselisihan ini terus berlangsung hingga masa pontifikat Aleksander VIII (1689-1691), pengganti Innosensius.
Masa kepemimpinan Innosensius ditandai dengan berbagai usaha pembaharuan Gereja, dua dekrit terkenal melawan bidaah Laxisme dan Quietisme, dan perlawanan Eropa terhadap serangan bangsa Turki yang Islam. Tak lama sesudah ia menduduki takhta kepausan, ia melancarkan program ekonomi untuk membatasi anggaran Kuria Roma. Dengan tegas ia melawan praktek nepotisme, membaharui cara hidup biarawan/ wati di semua biara Roma dan mengajak seluruh umat untuk menerima Komuni Suci sesering mungkin.
Dengan berbagai bantuan, diplomasi dan usaha pastoral, Innosensius berhasil menghadang serangan bangsa Turki di Vienna pada 12 September 1683, di Budapest pada 2 September 1686, dan pada tahun 1689 di seluruh wilayah Balkan. Setelah mengalami penderitaan panjang karena penyakitnya, Innosensius akhirnya meninggal dunia pada 12 Agustus 1689.

Santo Pontianus, Paus dan Martir
Paus berkebangsaan Roma dan putera Calpurnius ini memimpin Gereja Kristus dari tahun 230 sampai 235. Hari kelahirannya dan kisah hidup masa mudanya tidak diketahui. Masa awal pontifikatnya ditandai dengan perlawanan keras terhadap skisma yang ditimbulkan oleh Hipolitus, seorang penulis terkenal pada masa Gereja Purba. Kecuali itu, ia mengadakan sebuah sinode untuk memperkuat hukuman terhadap Origenes yang menyebarkan ajaran sesat.
Pontianus kemudian dijatuhi hukuman pembuangan oleh kaisar Maximinus Thracianus (235-238) yang melancarkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Bersama Hipolitus dan jemaat Kristen lainnya, Pontianus dibuang ke Sardinia. Agar supaya Gereja tidak mengalami kekosongan kepemimpinan, Pontianus melepaskan jabatannya sebagai Paus dan diganti oleh Anterus pada tanggal 21 Nopember 235. Di Sardinia, Pontianus mengalami banyak penderitaan dan akhirnya menghembuskan nafasnya karena berbagai penganiayaan atas dirinya. Hipolitus juga meninggal di Sardinia. Sebelumnya, ia mengakui kesalahannya dan berdamai dengan Gereja.
Pada masa kepemimpinan Paus Fabianus (236-250), jasad Pontianus dipindahkan ke Roma dan dikebumikan di pekuburan Santo Kalistus. Dari batu nisannya yang ditemukan pada tahun 1909, Pontianus dikenal sebagai seorang martir.

Santo Maximus, Pengaku Iman
Maximus lahir di Konstantinopel (sekarang: Istambul, Turki) pada tahun 580 dan meninggal dunia pada tahun 662. Ia dikenal luas sebagai seorang teolog ulung pada abad ke-7, pembela ortodoksi Kristen dan otoritas Gereja Roma.
Setelah meletakkan jabatannya sebagai sekretaris kaisar Heraklius (610-641), Maximus menjadi biarawan dan Abbas di biara Chrysopolis (sekarang: Scutari, Turki). Ia menulis banyak buku teologi, mistik dan askese yang sangat berpengaruh terhadap mistisisme Byzantium saat itu. Sesudah tahun 638, ia dikenal luas sebagai seorang penyerang heresi Monotheletisme, yang mengajarkan bahwa Kristus hanya mempunyai satu kehendak, yaitu kehendak ilahi. Serangannya terhadap heresi itu memuncak tatkala Kaisar Konstans II (641-668) menerbitkan satu dekrit yang membela keberadaan dan ajaran heresi Monoteletisme.
Terbitnya dekrit kaisar itu menimbulkan kemarahan pihak Gereja. Paus Martinus I (649-655) segera mengadakan sebuah konsili di Roma untuk menghukum heresi Monoteletisme sekaligus dekrit kaisar. Maximus tampil sebagai seorang peserta konsili yang vokal dan gigih mendukung Paus. Karena pandangan-pandangannya, ia dibuang Kaisar Konstanz pada tahun 655 di kota Bizya, Turki Barat. Pada tahun 662 ia dikembalikan ke Konstantinopel, tempat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengalami penganiayaan berat dari pihak kaisar. Karena kegigihannya membela iman Kristen dan Paus, Maximus dijuluki 'Confessor' (= Pengaku Iman).



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-12 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIX

Rabu, 12 Agustus 2026

PF S. Yohana Frasiska dari Chantal



Bacaan Pertama
Yeh 9:1-7;10:18-22

"Tulislah huruf T pada dahi orang-orang
yang berkeluh kesah karena segala perbuatan keji di Yerusalem."

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Aku mendengar Tuhan berseru dengan suara nyaring,
"Majulah ke mari, hai para penghukum Yerusalem!
Bawalah masing-masing alat pemusnah."
Dan lihat, enam orang pria datang
dari jurusan pintu gerbang Atas,
yang menghadap ke utara,
masing-masing dengan alat pemukul di tangannya.
Seorang di antara mereka berpakaian lenan,
dan di sisinya terdapat suatu alat tulis.
Mereka ini masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga.

Pada saat itu
kemuliaan Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub,
tempatnya semula,
ke atas ambang pintu Bait Suci.
Allah memanggil orang yang berpakaian lenan,
yang mempunyai alat tulis di sisinya.
Lalu Tuhan bersabda kepadanya,
"Berjalanlah dari tengah-tengah kota Yerusalem
dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang
yang berkeluh kesah karena segala perbuatan keji
yang terjadi di sana."

Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Tuhan berkata,
"Ikutilah dia dari belakang melintasi kota itu,
dan pukullah sampai mati
[semua orang yang tidak ditandai T.
Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan!
Orang-orang tua, teruna dan dara-dara,
anak-anak kecil dan para wanita,
bunuh dan musnahkanlah!
Tetapi semua orang yang ditandai huruf T, jangan kalian sentuh!
Dan mulailah dari tempat kudus-Ku."

Maka mulailah mereka dengan tua-tua
yang berada di depan Bait Suci.
Kemudian Ia bersabda kepada mereka,
"Najiskanlah Bait Suci itu
dan penuhilah pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh.
Ayo, pergilah!"
Mereka pergi ke luar
dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota.
Lalu kemuliaan Tuhan pergi dari ambang pintu Bait Suci
dan hinggap di atas kerub-kerub.
Kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka,
dan waktu mereka pergi, aku melihat mereka naik dari tanah
dan roda-rodanya bersama dengan mereka.
Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah Tuhan
di sebelah timur,
sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka.
Itulah makhluk-makhluk hidup
yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar.
Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub.
Masing-masing mempunyai empat muka dan empat sayap,
dan di bawah sayap mereka
ada bagian yang berbentuk tangan manusia.
Kelihatannya muka mereka serupa dengan muka makhluk-makhluk
yang kulihat di tepi sungai Kebar.
Masing-masing berjalan lurus ke depan.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 113:1-2.3-4.5-6,R:4b

Refren: Kemuliaan Tuhan mengatasi langit.

*Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan,
pujilah nama Tuhan!
Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan,
sekarang dan selama-lamanya.
*Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya
terpujilah nama Tuhan.
Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa,
kemuliaan-Nya mengatasi langit.

*Siapakah seperti Tuhan, Allah kita,
yang diam di tempat tinggi,
yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?



Bait Pengantar Injil
2Kor 5:19

Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Yesus Kristus
dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.



Bacaan Injil
Mat 18:15-20

"Jika saudaramu yang berbuat dosa mendengarkan teguranmu,
engkau telah mendapatnya kembali."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,
"Apabila saudaramu berbuat dosa,
tegurlah dia di bawah empat mata.
Jika ia mendengarkan nasihatmu
engkau telah mendapatnya kembali.
Jika ia tidak mendengarkan dikau,
bawalah seorang atau dua orang lain,
supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi,
perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka,
sampaikanlah soalnya kepada jemaat.
Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat,
pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah
atau seorang pemungut cukai.

Aku berkata kepadamu:
Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga,
dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.

Dan lagi Aku berkata kepadamu,
Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun,
permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.
Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,
Aku hadir di tengah-tengah mereka."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali.”Yesus tidak berkata, “Apabila saudaramu berbuat dosa, ceritakanlah kesalahannya kepada orang lain.”
Yesus juga tidak menyuruh kita mempermalukannya di depan banyak orang. Yesus meminta kita mendatanginya dan berbicara langsung kepadanya, di bawah empat mata.
Nasihat ini terdengar sederhana, tetapi rupanya tidak selalu mudah untuk dilakukan.

Ketika seseorang mengecewakan kita, terkadang kita lebih berani membicarakannya daripada berbicara langsung kepadanya. Kita menceritakan perbuatannya kepada teman, keluarga, atau anggota komunitas yang lain. Kita mengulang-ulang kesalahannya, lengkap dengan penilaian kita tentang dirinya.

Kita diam ketika berhadapan dengannya, tetapi menjadi sangat ramai ketika berada di belakangnya.

Mungkin kita merasa sedang mencari dukungan. Kita ingin orang lain mengetahui bahwa kita berada di pihak yang benar. Namun tanpa kita sadari, persoalan yang semula hanya melibatkan dua orang kemudian melebar. Kesalahan seseorang menjadi bahan percakapan, nama baiknya rusak, dan orang-orang yang sebelumnya tidak mengetahui persoalannya ikut memberikan penilaian.

Karena itu, sebelum menegur seseorang, kita perlu memeriksa terlebih dahulu isi hati kita.
Apakah kita sungguh ingin membantunya menjadi lebih baik?
Ataukah kita hanya ingin melampiaskan kejengkelan?
Apakah kita ingin memperoleh kembali saudara kita?
Ataukah kita ingin membuktikan bahwa kita benar dan dia salah?
Tujuan teguran menurut Yesus sangat jelas: “Engkau telah mendapatnya kembali.”

Jadi, tujuan menegur bukanlah memenangkan pertengkaran, melainkan memenangkan kembali seorang saudara. Bukan untuk menjatuhkannya, melainkan untuk memulihkan hubungan dengannya.

Cara kita menegur akan menunjukkan apa yang sesungguhnya ada di dalam hati kita. Jika kita menegur dengan kemarahan, kata-kata kasar, atau nada merendahkan, mungkin kita bukan sedang berusaha memperbaikinya. Kita hanya sedang menghukumnya.

Teguran yang disampaikan dalam kasih tetap dapat terasa tegas, tetapi tidak merendahkan. Kita membicarakan perbuatannya tanpa menyerang harga dirinya. Kita mengatakan apa yang menjadi persoalan tanpa mengumbar semua kelemahannya. Kita memberi kesempatan kepadanya untuk menjelaskan, sebab mungkin ada sesuatu yang belum kita ketahui.

Berbicara langsung tidak berarti kita pasti benar. Pertemuan di bawah empat mata juga memberi kita kesempatan untuk mendengarkan. Bisa jadi setelah mendengar penjelasannya, kita menyadari bahwa persoalannya tidak sepenuhnya seperti yang kita bayangkan. Bisa juga ternyata kita sendiri memiliki andil dalam terjadinya persoalan itu.

Dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, maupun lingkungan Gereja, perselisihan tidak selalu dapat dihindari. Kita dapat berbeda pendapat, melakukan kesalahan, atau tanpa sengaja melukai perasaan orang lain. Tetapi janganlah perbedaan itu semakin membesar hanya karena kita memilih membicarakan seseorang kepada banyak orang, kecuali kepada orang yang bersangkutan.

Memang, tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan satu kali percakapan. Yesus pun memberikan langkah berikutnya jika orang itu tidak mau mendengarkan. Namun langkah pertama tetaplah percakapan pribadi. Orang lain dilibatkan untuk membantu menyelesaikan persoalan, bukan untuk membentuk kelompok yang memusuhi dia.

Hari ini saya pun diajak untuk melihat kembali cara saya menyikapi kesalahan orang lain.
Ketika saya kecewa kepada seseorang, siapa yang pertama kali saya datangi? Orang itu sendiri, atau justru orang-orang lain?
Ketika saya menceritakan kesalahannya, apakah saya sedang mencari jalan keluar, atau hanya sedang mencari teman yang mau membenarkan saya?
Dan ketika saya menegurnya, apakah kata-kata saya masih menjaga martabatnya sebagai saudara?

Kasih tidak selalu berarti membiarkan kesalahan. Terkadang kasih justru menuntut keberanian untuk menegur. Namun kasih juga mengajarkan bagaimana teguran itu disampaikan: secara langsung, secara pribadi, dengan jujur, dan tetap menjaga martabat orang yang kita tegur.

Kalau kita sungguh mengasihi seseorang, kita akan membicarakan kesalahannya kepada dia, bukan kepada semua orang kecuali dia.

Maka, apabila ada persoalan yang belum terselesaikan dengan seseorang, janganlah terus menyimpannya di dalam hati atau membawanya ke mana-mana sebagai bahan cerita. Datanglah kepadanya. Bicaralah kepadanya, bukan tentangnya.

Sebab bagi Yesus, orang yang berbuat salah bukanlah musuh yang harus dikalahkan. Ia tetaplah saudara yang perlu kita dapatkan kembali.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Radegundis dari Turingia, Pengaku Iman
Puteri raja Turingia ini lahir pada tahun 518. Dikatakan bahwa ia diculik oleh raja Klotar I dari Franken. Setelah dibaptis dalam tahanan, ia dipaksa menjadi isteri Klotar yang berwatak kasar dan jahat. Sepuluh tahun lamanya Radegundis bersikap sabar terhadap semua perlakuan Klotar yang biadab itu.
Suatu ketika Klotar membunuh saudaranya. Lalu Radegundis melarikan diri dari istana dan minta supaya diberkati menjadi diakones. Kemudian ia pindah ke suatu tempat lain yang lebih aman untuk mendirikan biara. la bersahabat dengan imam Venansius Fortunatus, dan memperoleh hadiah kidung 'Vixilla Regis', yang hingga kini masih digunakan dalam ibadat Jumat Suci dan laudes (pujian). Radegundis meninggal dunia pada tahun 587.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/