Liturgia Verbi 2026-07-02 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Kamis, 2 Juli 2026



Bacaan Pertama
Am 7:10-17

"Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku"

Pembacaan dari Nubuat Amos:

Sekali peristiwa Amazia, imam di Betel,
menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan,
"Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku
di tengah-tengah kaum Israel.
Negeri ini tidak dapat menahan segala perkataannya.
Sebab beginilah kata Amos,
'Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang
dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan."

Lalu berkatalah Amazia kepada Amos,
"Hai Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda!
Carilah di sana makananmu! Dan bernubuatlah di sana!
Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel,
sebab inilah tempat kudus raja dan bait suci kerajaan."

Jawab Amos kepada Amazia,
"Aku ini bukan nabi, dan bukan termasuk golongan para nabi,
melainkan hanya seorang peternak dan pemungut buah ara hutan.
Tetapi Tuhanlah yang mengambil aku
dari pekerjaan menggiring kambing domba,
Tuhan bersabda kepadaku,
'Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.'

Maka sekarang dengarkanlah sabda Tuhan.
Engkau berkata, 'Janganlah bernubuat menentang Israel,
dan jangan ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak.'
Sebab itu beginilah sabda Tuhan,
'Isterimu akan bersundal di kota,
dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang.
Tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur.
Engkau sendiri akan mati di tanah yang najis,
dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 19:8.9.10.11,R:10

Refren: Keputusan Tuhan itu benar, adil selalu.

*Taurat Tuhan itu sempurna,
menyegarkan jiwa;
peraturan Tuhan itu teguh,
memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

*Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati;
perintah Tuhan itu murni, membuat mata berseri.

*Takut akan Tuhan itu suci,
tetap untuk selamanya;
hukum-hukum Tuhan itu benar,
adil selalu.

*lebih indah dari pada emas,
bahkan daripada emas tua;
dan lebih manis daripada madu,
bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.



Bait Pengantar Injil
2Kor 5:19

Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya dalam diri Kristus
dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.



Bacaan Injil
Mat 9:1-8

"Mereka memuliakan Allah
karena Ia telah memberikan kuasa sedemikian besar kepada manusia."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu lalu menyeberang.
Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri.
Maka dibawalah kepadanya seorang lumpuh
yang terbaring di tempat tidurnya.
Ketika Yesus melihat iman mereka,
berkatalah Ia kepada orang lumpuh,
"Percayalah, anak-Ku, dosamu sudah diampuni."

Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya,
"Ia menghujat Allah!"
Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata,
"Mengapa kalian memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?
Manakah lebih mudah,
mengatakan, 'Dosamu sudah diampuni'
atau mengatakan, 'Bangunlah dan berjalanlah?'
Tetapi supaya kalian tahu,
bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa"
lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh,
"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu,
dan pulanglah ke rumahmu!"
Dan orang itu pun bangun, lalu pulang.

Maka orang banyak yang melihat hal itu takut,
lalu memuliakan Allah,
karena Ia telah memberikan kuasa sedemikian besar kepada manusia.

Demikianlah sabda Tuhan

image.png



Renungan Injil
Hari ini renungan saya ambilkan dari renungan *The power of Word* berikut ini:

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Dalam Bacaan Injil hari ini, dikisahkan seorang lumpuh dibawa kepada Yesus.
Orang itu tidak datang sendiri. Ia dibawa oleh beberapa orang.
Injil tidak menyebutkan siapa mereka, tetapi tindakan mereka sudah cukup memperlihatkan kepedulian mereka. Mereka melihat orang lumpuh itu tidak berdaya, lalu membawanya kepada Yesus.

Saya membayangkan, orang lumpuh ini sudah lama hidup dalam keterbatasan. Ia tidak bisa pergi ke mana ia mau. Ia bergantung kepada orang lain, bahkan untuk datang kepada Yesus pun ia mesti dibawa.
Tetapi justru di situ kita melihat indahnya kasih. Ketika seseorang tidak sanggup datang kepada Tuhan dengan kekuatannya sendiri, kasih dari orang lain dapat menolongnya sampai ke hadapan Tuhan.

Dalam hidup ini, iman kita tidak selalu kuat. Kadang kita bisa berdoa dengan penuh semangat, tetapi di waktu lain doa terasa kering. Kadang kita bisa menguatkan orang lain, tetapi pada saat tertentu kitalah yang perlu dikuatkan. Karena itu, jangan meremehkan kehadiran orang-orang yang menolong kita mendekat kepada Tuhan: keluarga, sahabat, komunitas, atau siapa saja yang Tuhan pakai untuk mengangkat kita ketika kita tidak sanggup berjalan sendiri.
Dan jangan lupa, kita pun bisa menjadi orang seperti itu bagi sesama. Mungkin kita tidak bisa menyelesaikan persoalan mereka, tetapi kita dapat membawa mereka kepada Tuhan melalui doa, perhatian, dan kasih yang tulus.

Ketika orang lumpuh itu sudah berada di hadapan-Nya, Yesus tidak langsung berkata, “Sembuhlah kakimu.” melainkan Yesus berkata, “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

Ini sangat menarik.
Orang itu datang dengan persoalan yang tampak jelas: ia lumpuh. Tetapi Yesus melihat lebih dalam daripada yang dilihat orang banyak. Bagi Yesus, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh yang sakit atau kaki yang tidak dapat berjalan. Ada batin yang perlu dipulihkan, ada relasi dengan Allah yang perlu dibereskan, ada martabat sebagai anak Allah yang perlu dikembalikan.
Maka Yesus menyapanya dengan lembut, “hai anak-Ku.”
Orang banyak mungkin melihat dia sebagai orang sakit, orang lemah, orang yang merepotkan. Tetapi di hadapan Yesus, ia tetap anak. Ia tetap berharga. Ia tetap dikasihi.
Sabda Yesus tidak berhenti di permukaan. Ia masuk sampai ke dalam hidup manusia. Ia mengampuni, memulihkan, lalu membangunkan.

Setelah itu Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu.”
Kalimat ini singkat, tetapi kuat sekali.
Bagi orang lumpuh, bangun bukan perkara biasa. Selama ini ia terbaring. Hidupnya seolah berhenti di tempat yang sama. Tetapi ketika Yesus bersabda, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ia bangun bukan karena tiba-tiba menjadi hebat, melainkan karena Sabda Tuhan memberi kekuatan.
Lalu ia disuruh mengangkat tempat tidurnya dan pulang.

Pembaringan yang sebelumnya menjadi tanda kelemahan, sekarang dibawa pulang sebagai tanda bahwa hidupnya telah berubah. Ia tidak lagi dikuasai oleh kelumpuhan itu. Ia tidak lagi menetap di tempat yang lama.

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Kita mungkin tidak lumpuh secara fisik. Kita masih bisa bekerja, beraktivitas, melayani, bahkan tersenyum di depan orang lain. Tetapi diam-diam, hidup kita bisa saja tertahan oleh masa lalu, luka batin, rasa bersalah, atau kekecewaan yang membuat kita enggan memulai lagi.

Yesus tidak datang untuk mempermalukan kita. Ia tidak mengorek-orek kelemahan kita supaya kita makin terpuruk. Ia datang untuk mengampuni dan memulihkan. Setelah itu Ia mengajak kita bangkit.

Bangunlah.
Artinya, jangan terus tinggal di tempat kelumpuhan. Jangan biarkan luka lama menjadi rumah tinggal. Jangan membiarkan dosa membuat kita merasa tidak layak lagi datang kepada Tuhan. Jangan menyerah hanya karena perjalanan hidup pernah membuat kita jatuh.

Mengangkat tempat tidur berarti berani melihat masa lalu dengan cara yang baru. Memang pernah ada kelemahan, kegagalan, dan luka. Tetapi setelah bertemu Yesus, semua itu tidak lagi menjadi penguasa hidup kita. Yang dulu menahan langkah, sekarang menjadi kesaksian bahwa Tuhan sanggup memulihkan.

Yesus juga berkata, “Pulanglah ke rumahmu.”
Pulang bukan hanya kembali ke alamat rumah. Pulang berarti kembali kepada hidup yang benar. Pulang kepada kasih. Pulang kepada Tuhan. Pulang kepada harapan yang sempat redup.

Orang lumpuh itu datang kepada Yesus dalam keadaan tidak berdaya, tetapi ia pulang sebagai orang yang dipulihkan. Semoga Sabda Tuhan hari ini juga terjadi dalam hidup kita.
Barangkali keadaan kita belum langsung berubah. Persoalan mungkin masih tetap harus dihadapi. Tetapi kalau hati sudah dijamah oleh Tuhan, kita tidak lagi menjalani hidup dengan cara yang sama.

Semoga sabda Yesus hari ini menjadi kekuatan bagi kita:
“Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu.”
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Bernardinus Realino, Pengaku Iman
Bernardinus lahir di Carpi, lembah sungai Po, Italia Utara pada tahun 1530. Setelah belajar ilmu kedokteran dan hukum, ia berturut-turut diangkat menjadi walikota di Fellizano, jaksa di Aleksandria dan sekretaris pada kedutaan di Napoli.
Setelah Kloside, istrinya meninggal dunia, ia berkenalan dengan Serikat Yesus di Napoli. Perkenalan itu berawal dari kotbah-kotbah seorang imam Yesuit yang diikutinya dengan rajin. Kotbah-kotbah ini sungguh menarik sehingga ia memutuskan untuk lebih memperhatikan kehidupan rohaninya. Keputusan ini semakin diperkuat oleh penampakan istrinya sebanyak tiga kali dengan pesan supaya ia meninggalkan karier duniawinya. Pesan istrinya itu pun kemudian dikuatkan lagi oleh penampakan Bunda Maria, padanya.
Terdorong oleh hal-hal di atas, Bernardinus memutuskan untuk mengajukan permohonan untuk menjadi anggota Serikat Yesus. Permohonannya diterima dan setelah mengikuti suatu pendidikan khusus, Bernardinus ditahbiskan menjadi imam. Selama beberapa tahun ia bekerja di Napoli.
Sifatnya yang sopan dan ramah, penuh cinta dan pengertian kepada umatnya menyebabkan dia sangat dicintai oleh umat Napoli. Umat dengan berat hati melepaskan dia ketika ia dipindahkan ke Lecce, Propinsi Apulia, untuk mendirikan sebuah kolese. Di kolese Yesuit ini, Bernardinus memberi kuliah-kuliah filsafat dan teologi. Hingga akhir hidupnya dalam masa kerja selama 42 tahun, Bernardinus menetap di Lecce.
Sebagaimana di Napoli, di Lecce pun Bernardinus sungguh dicintai. Ia menampilkan diri sebagai seorang pewarta iman yang tangguh, pengkotbah ulung, pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang disenangi umat. Kemasyhuran namanya bukan saja karena gaya kepemimpinannya yang penuh kesabaran, pengertian dan cinta, tetapi juga lebih-lebih karena kesalehan hidupnya dan mujizat-mujizat penyembuhan yang dilakukannya.
Bernardinus sangat akrab dengan anak-anak dan muda-mudi. Ia menjadi penolong dan penghibur yang tak kenal lelah bagi orang-orang yang malang. Ketika ajalnya mendekat, Walikota Lecce mengumpulkan semua pembantunya dan pemimpin-pemimpin masyarakat setempat untuk berdoa bagi keselamatan jiwa Bernardinus. Kepada mereka ia berkata: "Kota kita telah diberkati Allah dengan satu anugerah istimewa, yakni Pater Bernardinus Realino. Beliau telah mengabdi kota ini selama 40 tahun dan telah melakukan banyak hal dengan hidupnya yang suci, karunia-karunia dan berbagai mujizat. Setiap orang dari kota ini, juga mereka yang berasal dari kota lain telah menikmati sedikit kebaikan hati Pater Bernardinus. Oleh karena itu saya mengusulkan agar Pastor Bernardinus diangkat sebagai pelindung kota Lecce".
Ketika tiba saat terakhir hidupnya, Bernardinus berkata kepada para pemimpin masyarakat: "Dari surga, kediamanku yang abadi, Aku akan selalu melindungi kota Lecce dan seluruh umat". Bernardinus Realino meninggal dunia pada tanggal 2 Juli 1616.

Santo Fransiskus di Girolamo, Imam
Imam Yesuit ini lahir pada tahun 1642. la berkarya sebagai pengkotbah di sekitar Napoli, Italia. la rajin mengunjungi penjara dan mencari orang-orang di tempat-tempat pelacuran dan di gang-gang gelap untuk dibina menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat. Kotbah-kotbahnya sungguh menarik dan karenanya ia banyak mentobatkan orang-orang berdosa. Pernah ia mentobatkan seorang wanita yang membunuh ayahnya dan kemudian melarikan diri ke luar negeri menjadi tentara. Fraasiskus meninggal dunia pada tahun 1716.

Santo Yohanes Fransiskus Regis, Imam
Yohanes Fransiskus Regis lahir di Fontcourverte,wilayah Keuskupan Narbonne, Prancis pada tahun 1579. la dididik di Kolese Beziers, milik Serikat Yesus. Pada tahun 1615, ketika berumur 18 tahun, ia masuk Serikat Yesus. Setelah mendapat pendidikan intensif di dalam tarekat itu, ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1631.
Awal kariernya sebagai imam dimulainya di Languedoc. Wilayah kerja ini tergolong sulit, baik geografiknya maupun penduduknya. Keadaan geografisnya bergunung-gunung, baik di Prancis Tenggara maupun di perbatasan Swiss. Sedangkan penduduknya masih buta huruf, kurang beradab dan kasar tingkah lakunya. Banyak tantangan yang dihadapinya dalam karya pelayanan umat.
Meskipun demikian, Yohanes yang ramah, sopan dan lembut hati ini sungguh kuat pendiriannya dan pantang mundur dalam menghadapi semua kesulitan itu. la dengan penuh semangat naik-turun gunung untuk mengajar agama dan melayani Sakramen-sakramen demi membawa kembali mereka kepada Kristus. Pada musim panas, ia bekerja di kota, mengunjungi rumah-rumah sakit dan penjara-penjara. Di sana ia mengajar, berkotbah dan mendengarkan pengakuan. Ia membantu siapa saja yang datang kepadanya meminta bantuan.
Kesuksesannya di Montpellier dan Sommieres mendorong Uskup de la Baume dari Viviers memanfaatkan tenaga Yohanes sebaik-baiknya guna melayani umat. Yohanes bekerja keras selama lima tahun di dua wilayah itu untuk membawa kembali umat kepada penghayatan iman yang benar. Ia berhasil mentobatkan sejumlah besar penganut agama Protestan.
Empat tahun terakhir hidupnya, Yohanes tinggal di Velay. Di sana ia mendirikan satu perkumpulan yang giat dalam karya sosial untuk membantu para miskin. Ia meninggal dunia pada tahun 1640 di La Louvesc.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-07-01 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Rabu, 1 Juli 2026

Ujud Gereja Universal: Penghargaan terhadap kehidupan manusia.
Semoga semua orang semakin menghargai dan melindungi kehidupan manusia pada setiap tahap perkembangan, serta menyadari bahwa hidup merupakan anugerah dari Tuhan.

Ujud Gereja Indonesia: Kebiasaan hening dan diskresi.
Semoga setiap orang berani membangun kebiasaan hening di tengah hiruk pikuk dunia yang cepat dan dinamis sehingga mampu mengenali kehendak Tuhan dalam hidup mereka dan siap melaksanakannya.



Bacaan Pertama
Am 5:14-15.21-24

"Jauhkanlah daripadaku keramaian nyanyianmu,
dan biarlah keadilan selalu mengalir seperti sungai."

Pembacaan dari Nubuat Amos:

Carilah yang baik dan jangan yang jahat,
agar kalian hidup.
Dengan demikian Tuhan, Allah semesta alam, akan menyertai kalian
seperti yang kalian katakan.
Bencilah yang jahat, cintailah yang baik,
dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang.
Mungkin Tuhan, Allah semesta alam,
akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf.
Tuhan bersabda,
"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu,
dan Aku tidak senang akan kumpulan rayamu.
Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku
kurban bakaran dan kurban sajianmu,
Aku tidak suka,
Aku tidak mau  memandang kurban keselamatan
yang berupa ternak tambun.
Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyianmu.
Aku tidak mau mendengar lagu gambusmu.
Tetapi hendaknya keadilan bergulung-gulung seperti air,
dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 50:7.8-9.10-11.12-13.l6bc-17,R:23b

Refren: Aku akan memperlihatkan keselamatan Allah
kepada yang jujur jalannya.

*Dengarlah, hari Umat-Ku, aku hendak berfirman!
Dengarlah hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu;
Akulah Allah, allahmu!

*Bukan karena kurban sembelihan engkau dihukum,
sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapan-Ku!
Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu
atau kambing jantan dari kandangmu.

*Sebab segala binatang hutan adalah milik-Ku,
dan ribuan hewan di gunung adalah kepunyaan-Ku.
Aku kenal segala burung di udara,
dan semua yang bergerak di padang adalah milik-Ku.

*Jika aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu,
sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.
Daging lembu jantankah makanan-Ku?
Atau darah kambing jantankah minuman-Ku?

*Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku,
dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,
padahal engkau membenci teguran,
dan mengesampingkan firman-Ku?



Bait Pengantar Injil
Yak 1:18

Atas kehendak-Nya sendiri
Allah telah menciptakan kita dengan kebenaran,
agar kita menjadi yang pertama dari ciptaan-Nya.



Bacaan Injil
Mat 8:28-34

"Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus menyeberang danau Genesaret
dan tiba di daerah orang Gadara.
Maka datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan,
menemui Dia.
Mereka itu sangat berbahaya,
sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu.
Dan mereka itu pun berteriak, katanya,
"Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah?
Adakah Engkau ke mari
untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"

Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi
sedang mencari makan.
Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya,
"Jika Engkau mengusir kami,
suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu."
Yesus berkata kepada mereka, "Pergilah!"
Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu.
Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang
ke dalam danau,
dan mati di dalam air.
Para penjaga babi lari,
dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu,
juga tentang dua orang yang kerasukan itu.
Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus
dan setelah mereka berjumpa dengan Dia,
mereka mendesak supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambilkan dari renungan *The Power of Word* berikut ini:

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus datang ke daerah orang Gadara.
Di sana ada dua orang yang kerasukan setan.
Mereka tinggal di pekuburan.
Mereka begitu berbahaya, sampai-sampai tidak ada orang yang berani melewati jalan itu.

Bayangkan keadaannya.
Dua orang itu bukan hanya sakit.
Mereka tersingkir, tak lagi tinggal di tengah keluarga, tak lagi tinggal di tengah masyarakat.
Mereka tinggal di pekuburan, seolah-olah hidup tetapi sudah dianggap seperti orang mati.
Lalu Yesus datang.
Dan Yesus membebaskan mereka.

Tetapi yang menarik, setelah orang-orang sekota itu mendengar apa yang terjadi,
mereka datang kepada Yesus.
Bukannya untuk berterima kasih, atau untuk bersyukur karena dua orang yang selama ini menakutkan akhirnya dipulihkan.
Mereka malah meminta Yesus pergi dari daerah mereka.

Ini yang membuat saya merenung.
Mengapa mereka meminta Yesus pergi?
Kemungkinan besar karena mereka merasa dirugikan.
Kawanan babi mereka mati tercebur ke danau.
Mereka melihat karya pembebasan Yesus, tetapi yang lebih mereka rasakan adalah kerugiannya.

Dua orang diselamatkan, tetapi harta mereka hilang.
Dua orang dipulihkan martabatnya, tetapi usaha mereka terganggu.
Maka mereka memilih: lebih baik Yesus pergi saja.

Jangan-jangan, kita pun kadang-kadang seperti itu.
Kita mau Yesus hadir dalam doa kita.
Kita mau Yesus memberkati pekerjaan kita.
Kita mau Yesus menjaga keluarga kita.
Kita mau Yesus menolong ketika kita susah.

Tetapi ketika Yesus mulai menyentuh bagian hidup kita yang salah,
ketika Yesus mulai mengusik kebiasaan buruk kita,
ketika Yesus mulai menegur cara kita memperlakukan orang lain,
ketika Yesus mulai meminta kita melepaskan “kawanan babi” kita,
yakni hal-hal yang sebenarnya tidak berkenan kepada Tuhan,
kita menjadi tidak nyaman.

Kita tidak mengusir Yesus dengan kata-kata.
Tetapi kita bisa mengusir Yesus dengan sikap hidup.

Mungkin saja kita berkata,
“Tuhan, Engkau boleh hadir di gereja,
tetapi jangan terlalu ikut campur dalam urusan bisnis saya.”

“Tuhan, Engkau boleh hadir dalam doa malam saya,
tetapi jangan mengganggu dendam saya kepada orang itu.”

“Tuhan, Engkau boleh memberkati keluarga saya,
tetapi jangan meminta saya berubah.”

“Tuhan, Engkau boleh memberi saya rezeki,
tetapi jangan menegur cara saya mendapatkannya.”

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Hari ini kita diajak untuk jujur bertanya:
Apakah saya sungguh mengundang Yesus masuk ke dalam hidup saya?
Ataukah saya hanya mengundang Yesus sejauh Ia tidak mengganggu kenyamanan saya?

Apakah saya sungguh mau dibebaskan oleh Yesus?
Atau saya lebih memilih mempertahankan hal-hal yang sebenarnya menjauhkan saya dari Tuhan?

Jangan sampai kita rajin berdoa,
tetapi diam-diam meminta Yesus pergi
setiap kali Ia hendak mengubah hidup kita.

Marilah kita berkata kepada Yesus:
“Tuhan, jangan pergi dari hidupku.
Tetaplah tinggal.
Sekalipun aku tidak selalu nyaman,
sekalipun aku harus berubah,
sekalipun ada yang harus kulepaskan,
aku percaya,
Engkau datang bukan untuk mencelakakan aku,
melainkan untuk membebaskan aku.”
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Hari Raya Darah Yesus Yang Mahakudus
Hari Raya Darah Yesus Yang Mahakudus mau mengarahkan hati kita kepada makna peristiwa "Sengsara Kristus", yang diwarnai dengan pertumpahan DarahNya yang kudus demi keselamatan umat manusia. Seluruh umat diajak untuk merenungkan tentang mahalnya harga bayaran yang harus ditanggung oleh Kristus, sekaligus tentang rahasia cinta kasihNya demi penebusan dosa umat manusia. Akhirnya umat juga diajak bersyukur dan berterima kasih kepada Kristus atas kerelaanNya untuk menderita demi keselamatan umat manusia.
Dalam doa sesudah komuni, Gereja berdoa: "Kami menimba air dari Sumber Penyelamat kami dengan sukacita. Kami mohon, moga­moga darahMu menjadi bagi kami sumber air yang memancarkan kehidupan yang kekal".
Pesta ini diresmikan oleh Sri Paus Pius IX (1846-1878), sebagai tanda syukur atas peristiwa kembalinya Sri Paus ke Roma setelah pemberontakan dikalahkan. Ketika Paus Yohanes XXIII naik takhta, beliau tidak saja meningkatkan pesta ini menjadi satu hari raya Gereja, tetapi juga menunjukkan devosi yang besar kepada Darah Yesus yang Maha­kudus itu.

Harun, Imam Agung Israel
Harun atau Aaron dari suku Levi adalah kakak nabi Musa dan Imam Agung pertama bani Israel. Ia dikenal sebagai orang yang pandai bicara. la ditentukan Allah untuk membantu Musa dalam tugasnya membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman penindasan Firaun di Mesir. Ia diangkat Allah menjadi Imam Agung ketika bangsa Israel masih berada di Mesir (Kel 4:14-16).
Tugasnya sebagai pendamping Musa adiknya dilaksanakannya dengan baik. la tampil sebagai juru bicara Musa setiap kali mereka menghadap Firaun untuk menuntut pembebasan bangsa Israel (Kel 7:1-2). Selanjutnya setelah bangsa Israel diizinkan meninggalkan Mesir, Harun tetap setia mendampingi Musa untuk membimbing bangsa itu dalam perjalanan menuju Sinai, tempat mereka mempersembahkan korban kepada Yahweh. Di Sinai, sesuai perintah Tuhan, Harun mendapat kesempatan istimewa untuk melihat Tuhan di atas gunung Sinai bersama Musa, Nadab dan Abihu serta tujuhpuluh orang dari tua-tua Israel (Kel 24:9-10).
Kemudian karena Musa sangat lama tinggal di atas gunung, bangsa Israel mendesak Harun untuk menciptakan bagi mereka allah lain dalam bentuk patung lembu emas untuk disembah (Kel 32:1-6; 21-24). Seperti Musa, Harun tidak diperkenankan memasuki Tanah Terjanji Kanaan karena ketidakpercayaannya kepada Tuhan di sumber air Meriba (Bil 20:7-13).

Beato Oliver Plunkett, Martir
Oliver Plunkett lahir di Loughcrew, County Meath, Irlandia pada tahun 1629. Pendidikan imamatnya berlangsung di Roma di bawah bimbingan pamannya yang telah menjadi imam. Pada tahun 1654, ia ditahbiskan menjadi imam. Karya imamatnya dimulai dengan mengajar teologi di Kolese Penyebaran Iman di Roma. Putra kelahiran Irlandia ini menjadi seorang imam yang pandai sekali dalam mengajar. Di Roma ia mewakili Uskup-uskup Irlandia di Takhta Suci. Pada tanggal 9 Juli 1669, Oliver diangkat menjadi Uskup Agung Armagh dan Primat Irlandia.
Dalam jabatannya itu Oliver terbukti menjadi seorang pemimpin Gereja yang patut diteladani. Dalam 4 tahun karyanya sebagai uskup, ia telah berhasil mempermandikan 48.000 orang menjadi Katolik. Jumlah ini menunjukkan suatu prestasi yang menakjubkan sekali dalam situasi penganiayaan terhadap umat Katolik Irlandia saat itu.
Selain giat dalam bidang pewartaan Injil dan Katekese, ia juga giat mengembangkan pendidikan Katolik, mengadakan sinode-sinode untuk mengatur hidup Gereja dan pengembangan iman umat, menahbiskan sejumlah imam dan mengawasi kegiatan imam-imamnya. Pimpinan Gereja Protestan mulai bersahabat dengan Gereja Katolik pada masa kepemimpinan Uskup Oliver Plunkett.
Disamping kegemilangan yang diraihnya, ada pula banyak tantangan terhadap karyanya. la terpaksa tinggal di suatu tempat persembunyian tatkala aksi perlawanan terhadap Gereja Katolik semakin menjadi­jadi. Pada bulan Desember 1678 Uskup Oliver ditangkap dan dipenjarakan karena tuduhan-tuduhan palsu dari Titus Oates. Titus menuduh Oliver mengorganisir para imam Yesuit untuk melancarkan perlawanan terhadap Raja Charles II. Karena tuduhan ini, Oliver dihadapkan ke pengadilan Irlandia pada tahun 1680. Pengadilan tidak berhasil menghukumnya karena tuduhan itu tidak benar. Oliver kemudian diadili lagi untuk kedua kalinya di hadapan pengadilan Inggris dengan tuduhan pengkhianatan. la dituduh membiayai suatu ekspedisi militer Prancis untuk menyerang Irlandia. Oliver yang merasa tidak melakukan hal itu dengan tegas menolak tuduhan itu. Tetapi pihak pengadilan menjatuhkan juga hukuman atas diri Oliver tanpa ampun.
Uskup Oliver Plunkett adalah tokoh Katolik terakhir yang mati digantung di Inggris karena imannya dan perjuangannya menyebarkan iman Katolik. Kematiannya pada tanggal 11 Juli 1681 menandai akhir suatu abad penganiayaan terhadap Umat Katolik di Inggris.

Santo Teodorikus, Abbas
Teodorikus lahir di Menancourt, dekat Rheims, Prancis Selatan pada pertengahan abad V. Ketika menanjak dewasa, ia dipaksa mengawini seorang gadis yang disenangi oleh keluarganya. Teodorikus, karena rasa hormatnya yang tinggi kepada orang-tuanya, mengikuti saja keinginan mereka.
Tetapi setelah baberapa lama hidup bersama wanita itu sebagai suami-istri, dengan izinan istrinya, Teodorikus meninggalkan keluarganya dan menjadi seorang calon imam di Rheims. Santo Remigius, uskup kota itu, menahbiskan dia menjadi imam dan mengangkatnya sebagai pemimpin komunitas biara Mont d'Or (= Gunung Emas) di Champagne.
Di bawah kepemimpinannya, biara Mont d'Or menjadi sebuah pusat kegiatan keagamaan yang terkenal. Banyak orang yang berkunjung ke biara itu diteguhkan imannya setelah mendengar kotbah-kotbah Teodorikus. Setelah kematiannya pada tahun 533, penghormatan kepada Teodorikus tersebar ke seluruh negeri Prancis. Santo Teodorikus disebut juga dengan nama Santo Thierry.

Santo Pambo, Pertapa
Semenjak masa mudanya Pambo mengasingkan diri ke sebuah tempat pertapaan di gurun pasir Mesir. Hidupnya keras, sederhana dan serba kekurangan. Karena dia tidak pandai membaca, ia berguru pada seorang pertapa lain dalam hal membaca dan menghafal ayat-ayat Mazmur. Selain tidak pandai membaca, Pambo pun dikenal sebagai pertapa yang tidak suka banyak bicara. Namun ia dikenal sebagai pembimbing rohani yang disenangi.
Apabila orang mamintai nasehat dan bimbingan mengenai sesuatu soal kerohanian, Pambo selalu meminta waktu lebih dahulu untuk merenung dan berdoa. Maksudnya agar dia bisa memberi jawaban yang benar dan memuaskan sesuai dengan kehendak Allah.  Santo Athanasius, Uskup Aleksandria, yang kagum akan kesalehan hidup Pambo, mengundang dia ke Aleksandria untuk memberi kesaksian tentang keallahan Kristus, berhadapan dengan ajaran sesat Arianisme yang merajalela di kalangran umat.
Kepada rekan-rekannya, Pambo mengatakan "Berpuasa dan memberi derma dari hasil keringat sendiri amatlah mulia, namun itu belumlah cukup untuk menjadi seorang rahib yang berkenan kepada Allah". Pambo meninggal dunia pada tahun 390.

Santo Simeon Salos, Pengaku Iman
Simeon dijuluki 'Si Gila' (= ho Salos; Yun.) sebab setelah bertapa selama 29 tahun di gurun dekat Laut Mati dan pulang ke Homs (Siria), ia bertingkah seperti orang gila. Maksudnya supaya ia dianggap hina dan dapat berkawan dengan orang-orang yang paling dikucilkan oleh masyarakat (gelandangan, orang lumpuh, pelacur, dll). Sikap seperti ini masih dihargai dan ditiru oleh sementara biarawan di Rusia.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-06-30 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Selasa, 30 Juni 2026

PF Para Martir Pertama Umat di Roma



Bacaan Pertama
Am 3:1-8; 4:11-12

"Tuhan Allah telah bersabda, siapakah yang tidak bernubuat?"

Pembacaan dari Nubuat Amos:

Hai orang Israel,
Dengarkanlah sabda Tuhan tentang dirimu ini,
tentang segenap kaum
yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir.
Beginilah sabda-Nya,
"Hanya kalian yang Kupilih dari segala kaum di muka bumi.
Sebab itu Aku akan menghukum kalian karena kesalahanmu.
Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum berjanji?
Mengaumkah seekor singa di hutan apabila tidak mendapat mangsa?
Bersuarakah singa muda dari sarangnya,
jika belum menangkap apa-apa?
Jatuhkah seekor burung ke dalam perangkap di tanah,
apabila tidak ada jerat di sana?
Membingkaskah perangkap, jika tidak ada yag ditangkap?
Adakah sangkakala ditiup di suatu kota,
dan orang-orang tidak gemetar?
Adakah terjadi malapetaka di suatu kota,
dan bukan Tuhan yang melakukannya?
Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu
tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.
Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?
Tuhan Allah telah bersabda, siapakah yang tidak bernubuat?

Aku telah menjungkirbalikkan kota-kotamu seperti Allah
menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora,
sehingga kalian menjadi seperti puntung
yang ditarik dari kebakaran.
Namun kalian tidak berbalik kepada-Ku.
Sebab itu demikianlah akan Kulakukan kepadamu, hai Israel.
Oleh karena Aku akan melakukan yang demikian kepadamu,
maka bersiap-siaplah untuk bertemu dengan Allah, hai Israel."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 5:5-6.7.8,R:9a

Refren: Tuhan, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu.

*Engkau bukanlah Allah yang berkenan akan kefasikan;
orang jahat takkan menumpang pada-Mu.
Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu;
Engkau benci terhadap semua orang yang melakukan kejahatan.

*Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong,
Tuhan jijik melihat penumpah darah dan penipu.

*Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar,
aku akan masuk ke dalam rumah-Mu,
sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus
dengan takut akan Engkau.



Bait Pengantar Injil
Mzm 129:5

Aku menanti-nantikan Tuhan,
Jiwaku mengharapkan sabda-Nya.



Bacaan Injil
Mat 8:23-27

"Yesus bangun, menghardik angin dan danau,
maka danau menjadi teduh sekali."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu,
dan murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu,
sehingga perahu ditimbus gelombang.
Tetapi Yesus tidur.
Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya,
"Tuhan, tolonglah, kita binasa!"

Yesus berkata kepada mereka,
"Mengapa kalian takut, hai orang-orang yang kurang percaya!"
Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau.
Maka danau menjadi teduh sekali.
Dan heranlah orang-orang itu, katanya,
"Orang apakah Dia ini,
sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Ketika terjadi bencana alam, saya sering mendengar orang berkata, “Ini hukuman dari Tuhan.” Bahkan ada yang berkata, “Tuhanlah yang membuat bencana itu terjadi.”

Saya kok kurang sreg dengan pernyataan seperti itu. Bukan karena saya ingin membela manusia yang berdosa, tetapi karena saya percaya bahwa Allah Bapa, Allah Putera, dan Roh Kudus sungguh mengasihi manusia.

Kalau Allah begitu mengasihi manusia sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menebus kita, masakan Allah sengaja mencelakai kita?
Kalau Yesus sendiri berkata bahwa burung pipit pun diperhatikan oleh Bapa, apalagi kita yang jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit, masakan kasih Allah kita bayangkan seperti kasih yang mencelakai?

Bencana alam memang terjadi.
Gempa bumi terjadi.
Gunung meletus terjadi.
Banjir, badai, wabah penyakit, kecelakaan, dan berbagai penderitaan lain juga terjadi.

Tetapi tidak setiap penderitaan boleh langsung kita sebut sebagai hukuman Tuhan.
Sebab bencana menimpa siapa saja.
Orang berdosa bisa menjadi korban, tetapi orang baik pun bisa menjadi korban.
Orang yang tidak percaya bisa menderita, tetapi orang beriman pun bisa menderita.

Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala hukum alamnya.
Ada siang dan malam.
Ada musim.
Ada kelahiran dan kematian.
Ada tubuh yang kuat, ada juga tubuh yang rapuh.
Ada kehidupan yang bertumbuh, ada juga kehidupan yang akhirnya selesai.

Hidup di dunia ini memang bukan tempat terakhir kita.
Kita sedang berjalan.
Kita sedang dipulihkan.
Kita sedang dibentuk, supaya pada akhirnya kita boleh kembali dan berkumpul bersama Tuhan.

Pada Bacaan Injil hari ini, para murid mengalami angin ribut di danau.
Perahu mereka ditimbus gelombang.
Mereka ketakutan.
Padahal Yesus ada di dalam perahu itu, tetapi Yesus tidur.

Lalu mereka membangunkan Yesus dan berkata, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”

Yesus tidak langsung memuji mereka karena berseru kepada-Nya.
Yesus justru berkata, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”

Setelah itu Yesus bangun, menghardik angin dan danau itu, lalu danau menjadi teduh sekali.

Inilah yang menarik.
Yesus tidak berkata bahwa badai itu hukuman.
Yesus juga tidak mengajari para murid untuk mencari siapa yang salah sehingga badai itu terjadi.
Yang Yesus tegur adalah ketakutan mereka.
Yang Yesus bangunkan adalah iman mereka.

Badai boleh datang.
Gelombang boleh menghantam.
Perahu boleh terguncang.
Tetapi selama Yesus ada di dalam perahu, tidak seharusnya kita kehilangan iman.

Ini bukan berarti orang beriman pasti bebas dari bencana.
Bukan.
Para murid justru mengalami badai ketika mereka sedang bersama Yesus.
Mereka tidak sedang lari dari Yesus.
Mereka tidak sedang melawan Yesus.
Mereka ikut Yesus naik ke perahu, tetapi badai tetap datang.

Maka, ukuran iman bukanlah apakah hidup kita bebas dari badai.
Ukuran iman adalah apakah kita tetap percaya ketika badai itu datang.

Dalam hidup ini, kita memang mesti berjuang.
Kita mesti menjaga kesehatan.
Kita mesti berhati-hati di jalan.
Kita mesti menjaga alam, tidak merusaknya.
Kita mesti siap menghadapi ancaman dan kesulitan.
Kita tidak boleh hidup sembrono lalu menyalahkan Tuhan ketika celaka datang.

Tetapi di atas semua usaha itu, kita juga mesti belajar percaya.
Percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita.
Percaya bahwa Tuhan tetap ada di dalam perahu hidup kita.
Percaya bahwa badai tidak lebih besar daripada kuasa Tuhan.

Ada badai yang diredakan Tuhan seketika.
Ada badai yang mesti kita lewati perlahan-lahan.
Ada badai yang tidak langsung berhenti, tetapi Tuhan memberi kita kekuatan untuk bertahan.
Yang penting, jangan sampai badai di luar membuat iman di dalam diri kita ikut tenggelam.

Hari ini Yesus seolah berkata kepada kita:
“Mengapa engkau takut?
Bukankah Aku ada bersamamu?”

Maka ketika hidup terasa seperti perahu yang ditimbus gelombang, jangan buru-buru menuduh Tuhan.
Jangan buru-buru berkata, “Tuhan sedang menghukum saya.”
Datanglah kepada Yesus.
Bangunkan iman kita yang tertidur.
Berserulah, “Tuhan, tolonglah.”
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Bertrandus, Uskup dan Pengaku Iman
Bertrandus adalah seorang imam abad keenam. Ia lahir pada tahun 553. Keluarganya tergolong kaya raya. la dikenal sebagai seorang imam yang pemurah: ia menghadiahkan beberapa bidang tanah warisannya kepada Gereja dan kepada orang-orang miskin.
Ia ditahbiskan imam di Paris dan kemudian dipilih menjadi pemimpin sebuah sekolah. Pada tanun 587, ia dipilih menjadi Uskup di Le Mans, sobuah kota kecil yang dihuni orang-orang Prancis.
Ketika pertentangan politik antara kaum Neustria (Prancis Barat) dan kaum Austrasia (Perancis Timur) terjadi, Bertrandus diusir dari takhta keuskupannya selama beberapa tahun. Kemudian Raja Clotaire II dari kelompok Neustria memanggilnya kembali untuk memimpin keuskupan.
Dari tuan-tuan tanah yang kaya, Bertrandus menerima sejumlah besar tanah untuk kepentingan Gereja. Tanah-tanah ini dimanfaatkannya untuk membangun gereja dan biara, dan sebuah rumah penginapan untuk para peziarah. Bertrandus meninggal dunia pada tahun 625, pada usia 70 tahun.

Santo Theobaldus, Pertapa
Theobaldus lahir pada tahun 1017 di Provins, Prancis, dari sebuah keluarga bangsawan. Semasa mudanya, ia banyak membaca buku-buku tentang kehidupan Santo Yohanes Pemandi dan riwayat hidup orang­orang kudus lainnya. Bacaan-bacaan ini menimbulkan dalam hatinya benih panggilan Allah untuk menjalani hdup seperti orang-orang kudus itu. la sungguh mengagumi cara hidup dan perjuangan para kudus untuk meraih kesempurnaan hidup Kristiani.
Terdorong hasrat besar untuk meniru cara hidup para kudus itu, ia meninggalkan rumah mereka pada tahun 1054 tanpa sepengetahuan orang-tuanya. Ia pergi ke Luxemburg. Di sana ia bekerja sepanjang hari di hutan Petingen sebagai pembakar arang bagi tetangga-tetangganya yang bekerja sebagai tukang besi. Sementara itu, ia terus menjalani hidup doa dan tapa secara diam-diam.
Ketika semua orang tahu akan kesucian hidup Theobaldus, banyak orang datang untuk menjadi muridnya. Ia lalu mengasingkan diri ke Salanigo untuk menjalani hidup tapa. Tetapi ia diikuti oleh orang-orang yang tertarik untuk mendapat bimbingannya. la kemudian ditahbiskan menjadi imam agar lebih pantas menjalankan tugas-tugas misioner.
Pada tanggal 30 Juni 1066, Theobaldus meninggal dunia karena terserang penyakit yang berbahaya. Ia digelari 'kudus' oleh Paus Aleksander II pada tahun 1073.

Santa Giacinta Marescotti, Pengaku Iman
Giacinta lahir di Vignarello, Italia pada tahun 1585 dari sebuah keluarga bangsawan. Ia dididik di biara suster-suster Fransiskan. Seorang kakaknya sudah menjadi suster di biara ini.  Semasa kecilnya Giacinta dikenal sebagai anak yang baik namun ia kemudian bertingkah laku jelek ketika adik bungsunya lebih dahulu menikah (dengan Marquis Cassizuchi). Dia tersinggung karena merasa dilangkahi oleh adiknya. Sifat baiknya merosot, sebaliknya ia menjadi seorang pendendam di dalam keluarganya. Ia memutuskan masuk biara sekedar iseng-iseng. la masuk Ordo Ketiga Santo Fransiskus di Viterbo dengan mengambil nama Giacinta. Sekalipun sudah menjadi seorang suster, namun ia tidak melepaskan cara hidup foyanya dengan harta keluarganya; selama 10 tahun ia benar-benar menjadi batu sandungan bagi rekan-rekannya yang lain.
Pada suatu hari ia jatuh sakit keras. Seorang imam Fransiskan datang mendengarkan pengakuannya dan memberikan peringatan keras tentang cara hidupnya yang tidak sesuai dengan semangat ordonya. Ia bertobat, namun jatuh lagi ke dalam cara hidup seperti sedia kala. Tuhan mencobainya lagi dengan sakit lebih berat. Semenjak itu ia mulai tekun berdoa, bermatiraga dan merobah tingkah laku hidupnya. Lama kelamaan ia berubah menjadi seorang suster yang saleh dan menjadi pembimbing rohani bagi rekan-rekannya. Nasehat-nasehatnya sangat praktis berdasarkan pengalaman rohaninya sendiri. Ia menekankan pentingnya menghayati kerendahan hati, menghilangkan sifat cinta diri, kesabaran memikul salib penderitaan sehari-hari. Cinta dan perhatian­nya sangat besar, bukan saja terhadap rekan-rekan susternya tetapi juga terhadap komunitas biara suster lainnya. Ia turut serta mendirikan dua biara di Viterbo yang mengabdikan diri pada bidang pelayanan orang­orang sakit, orang-orang jompo dan miskin di Viterbo. la sendiri mencari dana dengan minta-minta. Giacinta wafat pada tanggal 30 Januari 1640 pada usia 55 tahun. la dinyatakan sebagai 'santa' pada tahun 1807.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-06-29 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
HR S. Petrus dan Paulus, Rasul

Senin, 29 Juni 2026



Bacaan Pertama
Kis 12:1-11

"Sekarang benar-benar tahulah aku
bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya
dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Waktu terjadi penganiayaan terhadap jemaat,
Raja Herodes mulai bertindak dengan keras
terhadap beberapa orang dari jemaat.
Ia menyuruh membunuh Yakobus,
saudara Yohanes, dengan pedang.
Ketika ia melihat
bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi,
ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus.
Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.
Setelah Petrus ditangkap,
Herodes menyuruh memenjarakannya
di bawah penjagaan empat regu,
masing-masing terdiri dari empat prajurit.
Maksudnya ialah,
supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.
Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara.
Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam
sebelum Herodes menghadapkannya kepada orang banyak,
Petrus tidur di antara dua orang prajurit,
terbelenggu dengan dua rantai.
Selain itu
prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus,
dan cahaya bersinar dalam ruang itu.
Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya.
Kata malaikat itu kepadanya, "Bangunlah segera!"
Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.
Lalu kata malaikat itu kepadanya,
"Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!"
Petrus pun berbuat demikian.
Lalu malaikat itu berkata kepadanya,
"Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!"
Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar,
dan ia tidak tahu
bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi;
sangkanya ia melihat suatu penglihatan.
Setelah mereka melalui tempat kawal pertama
dan tempat kawal kedua,
sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka.
Sesudah tiba di luar,
mereka berjalan sampai ke ujung jalan,
dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia.
Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata,
"Sekarang benar-benar tahulah aku
bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya
dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes
dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9,R:5b

Refren: Tuhan melepaskan daku dari segala kegentaranku.

*Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu;
puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.
Karena Tuhan jiwaku bermegah;
biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya
dan bersukacita.

*Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan daku,
marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya.
Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku,
dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.

*Tujukkanlah pandanganmu kepada-Nya,
maka mukamu akan berseri-seri,
dan tidak akan malu tersipu-sipu.
Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan;
Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

*Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takwa,
lalu meluputkan mereka.
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan!
Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!



Bacaan Kedua
2Tim 4:6-8.17-18

"Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran."

Pembacaan dari Surat Kedua Raul Paulus
kepada Timotius:

Saudaraku terkasih,
darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan,
dan saat kematianku sudah dekat.
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,
aku telah mencapai garis akhir,
dan aku telah memelihara iman.
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran
yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil,
pada hari-Nya;
bukan hanya kepadaku,
tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku,
supaya dengan perantaraanku
Injil diberitakan dengan sepenuhnya
dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya.
Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.
Tuhan akan melepaskan daku dari setiap usaha yang jahat.
Dia akan menyelamatkan aku,
sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di surga.
Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 16:18

Engkau adalah Petrus,
di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,
dan alam maut tidak akan menguasainya.



Bacaan Injil
Mat 16:13-19

"Engkau adalah Petrus,
dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi.
Ia bertanya kepada murid-murid-Nya,
"Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"
Jawab mereka, "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis,
ada juga yang mengatakan: Elia,
dan ada pula yang mengatakan: Yeremia
atau salah seorang dari para nabi."

Lalu Yesus bertanya kepada mereka,
"Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Maka jawab Simon Petrus,
"Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Kata Yesus kepadanya,
"Berbahagialah engkau Simon bin Yunus,
sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu,
melainkan Bapa-Ku yang di surga.
Dan Aku pun berkata kepadamu:
Engkau adalah Petrus,
dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,
dan alam maut tidak akan menguasainya.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.
Apa yang kauikat di dunia ini
akan terikat di surga,
dan apa yang kaulepaskan di dunia ini
akan terlepas di sorga."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Rasul.
Saya merasa senang sekali karena kedua rasul besar ini dirayakan secara bersamaan. Rasanya memang pas. Petrus dan Paulus itu berbeda, tetapi justru saling melengkapi.

Petrus adalah salah seorang rasul pertama yang dipanggil Yesus. Paulus dipanggil kemudian, bukan ketika Yesus masih berjalan bersama para murid di Galilea, melainkan setelah Yesus bangkit, ketika Paulus dalam perjalanan ke Damsyik.

Petrus adalah nelayan sederhana dari Galilea. Paulus adalah orang terpelajar, seorang Farisi, berasal dari Tarsus, dan memiliki kewarganegaraan Romawi. Petrus lebih banyak dikenal sebagai rasul bagi orang-orang Yahudi. Paulus dikenal sebagai rasul bagi bangsa-bangsa lain.

Kalau boleh memakai gambaran sederhana, Petrus seperti orang yang menjaga rumah dari dalam, meneguhkan jemaat, menjaga kesatuan, menggembalakan kawanan domba Kristus. Paulus seperti orang yang keluar dari rumah, mengetuk pintu-pintu baru, membawa Injil ke ruang-ruang yang lebih luas, sampai kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Kristus.

Petrus menjaga rumah. Paulus membuka jalan.
Itulah sebabnya Hari Raya ini begitu penting. Gereja tidak hanya mengenang dua orang kudus yang hebat, tetapi mengenang dua pilar utama Gereja awal. Dari Petrus kita melihat dasar dan kesatuan Gereja. Dari Paulus kita melihat semangat pewartaan yang tak terbendung.

Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”
Jawaban Petrus ini bukan sekadar jawaban pintar. Ini adalah pengakuan iman. Dan atas pengakuan iman itulah Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”

Menariknya, Yesus tidak memilih orang yang sempurna.
Petrus pernah ragu. Petrus pernah tenggelam ketika berjalan di atas air. Petrus pernah sok berani, tetapi akhirnya menyangkal Yesus sampai tiga kali. Kalau kita memakai ukuran manusia, Petrus tidak terlalu meyakinkan untuk menjadi pemimpin umat.

Paulus juga begitu. Sebelum menjadi rasul, ia justru mengejar-ngejar para pengikut Kristus. Ia ikut menyetujui penganiayaan terhadap jemaat. Kalau kita memakai ukuran manusia, Paulus bukan calon pewarta Injil, melainkan bekas penganiaya Gereja.

Tetapi Tuhan tidak berhenti pada masa lalu seseorang.
Tuhan melihat Petrus bukan hanya sebagai nelayan yang labil. Tuhan melihat batu karang iman yang akan diteguhkan. Tuhan melihat Paulus bukan hanya sebagai penganiaya jemaat. Tuhan melihat seorang pewarta besar yang akan membawa nama Kristus kepada bangsa-bangsa.

Inilah pesan kuat dari Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus: Gereja dibangun bukan oleh orang-orang yang sejak awal sempurna, melainkan oleh orang-orang yang mau diubah oleh Kristus.

Petrus dan Paulus juga tidak selalu sama cara berpikirnya. Mereka punya latar belakang berbeda, gaya berbeda, medan pelayanan berbeda. Bahkan dalam perjalanan Gereja awal, pernah ada ketegangan dan perbedaan pandangan. Tetapi mereka tetap satu dalam Kristus, satu dalam iman, satu dalam pewartaan Injil.

Kadang-kadang kita merasa perbedaan itu selalu harus menjadi alasan untuk menjauh. Berbeda cara berpikir, lalu curiga. Berbeda gaya pelayanan, lalu saling menilai. Berbeda latar belakang, lalu merasa yang satu lebih rohani daripada yang lain.

Hari Raya ini mengingatkan kita, Gereja sejak awal tidak dibangun dengan satu warna saja.
Ada Petrus. Ada Paulus.
Ada yang tugasnya meneguhkan dari dalam. Ada yang tugasnya pergi keluar. Ada yang lebih pastoral. Ada yang lebih misioner. Ada yang menjaga tradisi. Ada yang membuka jalan baru. Selama semuanya tetap berpusat pada Kristus, perbedaan itu bukan ancaman, melainkan kekayaan.

Petrus dan Paulus akhirnya sama-sama menjadi martir. Keduanya mengakhiri hidup bukan dengan mencari kehormatan untuk diri sendiri, melainkan dengan menyerahkan hidup bagi Kristus. Petrus dan Paulus tidak hanya berbicara tentang iman. Mereka membayar iman itu dengan hidup mereka.

Maka hari ini kita tidak hanya mengagumi mereka. Kita juga diajak bercermin.
Apakah iman kita sudah seperti Petrus yang berani berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”?
Apakah semangat kita sudah seperti Paulus yang tidak malu mewartakan Kristus?
Apakah kita masih terlalu sibuk melihat masa lalu orang lain, padahal Tuhan sendiri mampu mengubah masa lalu menjadi jalan pertobatan?
Apakah kita masih suka memperbesar perbedaan, padahal Kristus memanggil kita untuk bekerja bersama?

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja. Nelayan bisa menjadi batu karang Gereja. Penganiaya bisa menjadi rasul bangsa-bangsa. Orang yang pernah jatuh bisa bangkit. Orang yang pernah salah bisa dipakai Tuhan untuk hal yang besar.

Yang penting bukan sehebat apa masa lalu kita. Yang penting adalah apakah hari ini kita mau menjawab panggilan Tuhan.
Sebab seperti Petrus dan Paulus, kita pun dipanggil bukan untuk menjadi pengagum Kristus dari jauh, tetapi menjadi saksi-Nya.
Dengan cara kita masing-masing.
Di tempat kita masing-masing.
Dalam tugas kita masing-masing.

Petrus menjaga dan meneguhkan.
Paulus pergi dan mewartakan.

Kita pun dipanggil untuk melakukan bagian kita, agar Kristus semakin dikenal, semakin diimani, dan semakin dimuliakan.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Petrus dan Paulus, Rasul
Sejak semula Gereja menghormati kedua rasul, Petrus dan Paulus, secara bersama-sama. Kedua rasul ini dianggap sebagai sokoguru Gereja. Simon, anak Yunus dan saudara Andreas, lahir di Betsaida, Galilea, sebuah kampung di tepi danau Genesaret. Seperti ayahnya, Simon adalah seorang nelayan yang ulet, bertabiat jujur, dan rajin. la tidak berpendidikan tetapi cukup trampil dalam pekerjaannya sebagai seorang nelayan. Kepribadiannya sangat menarik perhatian Yesus; karena itu Yesus berkenan menjadikannya seorang muridNya, bahkan mengangkatnya menjadi pemimpin para rasul dan pemimpin Gereja yang pertama.
Pada mulanya, Simon bersama Andreas saudaranya, menjadi murid Yohanes Pemandi. Oleh Andreas, Simon diperkenalkan kepada Yesus, Sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh seluruh bangsa Israel. "Kami telah menemukan Mesias, yaitu Kristus", kata Andreas kepada Simon. Pada saat itu, Yesus berkata kepada Simon, "Engkau Simon anak Yohanes, Engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)". (Yoh 1:41-42) Kefas berarti wadas atau batu karang. Sejak saat itu, dia lebih dikenal dengan nama Petrus.
Petrus secara resmi berkeputusan mengikuti Yesus, Sang Mesias dengan meninggalkan segala-galanya, ketika ia menyaksikan mujizat penangkapan ikan secara ajaib oleh Yesus. Kata Yesus kepada Petrus: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan". Petrus berkata kepada Yesus: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga". Dengan kepercayaan ini, Petrus menyaksikan kuasa Yesus, Sang Mesias. Dan di depan Yesus yang penuh kuasa ilahi itu Petrus bersujud: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa". Kepada Petrus yang rendah hati itu, Yesus berkata: "Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia". Setelah penyerahan diri ini, Petrus diperkenankan menyaksikan berbagai peristiwa dan akhirnya dipercayakan tugas menjadi pemimpin para rasul dan gembala kaum beriman.
Di samping kisah-kisah yang menampilkan pribadi Petrus sebagai orang kepercayaan Yesus, terdapat juga kisah Injil yang menampilkan pribadi Petrus sebagai seorang yang masih dangkal imannya dan belum memahami benar kehendak Allah atas diri Yesus. Dalam Mat 16:21-28 dikisahkan tentang pemberitahuan Yesus tentang penderitaanNya, dan Petrus serta-merta berkata: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!  Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau". "Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia", demikian teguran Yesus kepada Petrus. Ia juga menyangkal Yesus ketika Yesus ditangkap dan diadili. (Mat 26:30-35; 69-75).
Sesudah kebangkitan Yesus, Petrus diangkat menjadi pemimpin keduabelas rasul dan gembala kaum beriman di Yerusalem. Petrus juga yang menerima orang kafir pertama ke dalam Gereja, dan memimpin Konsili pertama di Yerusalem.
Paulus (Saulus) lahir di Tarsus, Asia Kecil dari keluarga Yahudi yang berkewarganegaraan Romawi. Ia seorang terdidik dan belajar di Yerusalem pada Gamaliel, dari kelompok Farisi.
Sebagai seorang Farisi yang fanatik, Saulus tiada hentinya mengejar dan memenjarakan murid-murid Yesus.
Dalam perjalanannya ke Damsyik, Yesus menangkapnya dan menjadikan dia seorang rasul untuk bangsa-bangsa kafir. Ia dipermandikan oleh Ananias. la menjelajahi seluruh daerah Laut Tengah untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa kafir. Perjalanan misinya senantiasa diwarnai dengan berbagai kesulitan dan pertentangan dengan kaum kafir. Di Yerusalem ia ditangkap oleh orang Yahudi, lalu dipenjarakan dan dibawa ke Roma sebab ia naik banding kepada kaisar, Akhirnya ia dibebaskan. Tak lama kemudian, dia ditangkap lagi dan akhirnya menemui ajalnya sebagai martir di Roma pada tahun 67.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-06-28 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 28 Juni 2026



Bacaan Pertama
2Raj 4:8-11.14-16a

"Orang itu adalah abdi Allah yang kudus;
biarlah ia masuk ke sana."

Pembacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja:

Pada suatu hari
Nabi Elisa pergi ke Sunem.
Di sana tinggallah seorang perempuan kaya
yang mengundang dia makan.
Dan setiap kali ia dalam perjalanan,
singgahlah Elisa ke sana untuk makan.
Berkatalah perempuan itu kepada suaminya,
"Sesungguhnya aku sudah tahu
bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu
adalah abdi Allah yang kudus.
Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil
yang berdinding batu,
dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur,
sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil;
maka, apabila ia datang kepada kita,
biarlah ia masuk ke sana."

Pada suatu hari datanglah Elisa ke sana,
lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di sana.
Kemudian berkatalah Elisa kepada Gehazi, hambanya,
"Apakah yang dapat kuperbuat baginya?"
Jawab Gehazi, "Ah, ia tidak mempunyai anak,
dan suaminya sudah tua."
Lalu berkatalah Elisa, "Panggillah dia!"
Sesudah dipanggil, berdirilah perempuan itu di pintu.
Maka berkatalah Elisa kepadanya,
"Tahun depan, pada waktu seperti ini juga,
engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 89:2-3.16-17.18-19,R:2a

Refren: Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya.

*Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya,
hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun-temurun.
Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya;
kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

*Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai,
ya Tuhan, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu;
karena nama-Mu mereka bersorak-sorai sepanjang hari,
dan karena keadilan-Mu mereka bermegah-megah.

*Sebab Engkaulah semarak kekuatan mereka,
dan karena Engkau berkenan, tanduk kami ditinggikan.
Sebab milik Tuhanlah perisai kita,
milik Yang Kudus Israellah raja kita.



Bacaan Kedua
Rom 6:3-4.8-11

"Kita telah dikuburkan bersama Kristus oleh pembaptisan,
supaya kita hidup dalam hidup yang baru."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara,
camkanlah: kita semua, yang telah dibaptis dalam Kristus,
telah dibaptis dalam kematian-Nya!
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia
oleh pembaptisan dalam kematian,
supaya seperti halnya Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati
oleh kemuliaan Bapa,
demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Jadi, jika kita telah mati dengan Kristus,
kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
Karena kita tahu bahwa Kristus,
sesudah bangkit dari antara orang mati,
tidak mati lagi;
maut tidak berkuasa lagi atas Dia.
Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa,
satu kali untuk selama-lamanya,
dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.
Demikianlah hendaknya kamu memandangnya:
Kamu telah mati bagi dosa,
tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
1Ptr 2:9

Kamulah bangsa yang terpilih,
kaum imam yang rajawi dan bangsa yang kudus.
Kamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah,
yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan,
masuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan.



Bacaan Injil
Mat 10:37-42

"Barangsiapa tidak memikul salibnya, ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus bersabda kepada keduabelas murid-Nya,
"Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Dan barangsiapa mengasihi puteranya atau puterinya lebih daripada-Ku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa mempertahankan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya,
dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku,
ia akan memperolehnya kembali.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku,
dan barangsiapa menyambut Aku,
ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi,
ia akan menerima upah nabi,
dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar,
ia akan menerima upah orang benar.
Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja
kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku,
Aku berkata kepadamu:
Sungguh, ia tidak akan kehilangan upahnya."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambil dari renungan Daily Fresh Juice:

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus berkata,
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Kalimat ini tidak mudah untuk didengarkan.
Apalagi kalau saat ini kita memang sedang memikul salib yang berat.
Sebab salib itu bukan teori.
Salib itu bisa sangat nyata.
Bisa berupa luka batin yang belum sembuh.
Bisa berupa rumah tangga yang sedang retak.
Bisa berupa sakit penyakit yang tak kunjung pulih.
Bisa berupa beban ekonomi yang menekan.
Bisa juga berupa anak yang sangat kita kasihi, tetapi sedang berjalan di jalan yang salah.

Saya membayangkan seorang ayah yang anaknya kecanduan narkoba.
Anak itu dulu lucu, polos, dan penuh harapan.
Sejak kecil digendong, disuapi, diajari berjalan, diajari berdoa.
Ayahnya tentu punya banyak impian tentang masa depan anaknya.

Tetapi suatu hari semuanya berubah.
Anaknya mulai menjauh.
Pulang malam.
Berbohong.
Marah-marah.
Mengambil barang di rumah.
Mungkin juga sudah berkali-kali berjanji mau berubah, tetapi jatuh lagi, jatuh lagi.

Bagi ayah itu, ini salib yang sangat berat.
Bukan hanya karena capek mengurus.
Bukan hanya karena malu terhadap orang.
Tetapi karena hatinya hancur melihat anaknya sendiri seperti sedang menghancurkan hidupnya pelan-pelan.

Di titik seperti itu, seorang ayah bisa tergoda untuk menyerah.
Tergoda berkata, “Sudahlah, terserah dia.”
Tergoda marah tanpa akhir.
Tergoda membenci.
Tergoda menutup pintu hati.
Tergoda meninggalkan doa karena merasa Tuhan tidak juga menolong.
Tetapi justru di situlah sabda Yesus hari ini menjadi sangat nyata.“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Memikul salib bukan berarti berpura-pura kuat.
Bukan berarti tidak boleh menangis.
Bukan berarti tidak boleh lelah.
Bukan berarti semua persoalan harus diselesaikan sendirian.

Memikul salib berarti tetap ikut Yesus, justru ketika hati sedang remuk.
Tetap memilih kasih, walau kasih itu sedang terluka.
Tetap mencari jalan yang benar, walau jalan itu panjang dan melelahkan.
Tetap berdoa, walau doa terasa seperti belum dijawab.
Tetap berharap, walau keadaan belum berubah.

Seorang ayah yang memikul salib karena anaknya kecanduan narkoba mungkin tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Ia mungkin bingung.
Ia mungkin marah.
Ia mungkin kecewa.
Ia mungkin merasa gagal sebagai ayah.

Tetapi selama ia tidak membuang anaknya dari hati,
selama ia tetap mencari pertolongan,
selama ia tetap menjaga kasih agar tidak berubah menjadi kebencian,
selama ia tetap membawa luka itu kepada Tuhan,
ia sedang memikul salibnya bersama Kristus.
Dan di situ ada iman.
Iman bukan hanya ketika kita bisa berkata, “Tuhan itu baik,” saat semuanya berjalan baik.
Iman juga ketika kita berkata, “Tuhan, saya tidak kuat, tetapi saya tidak mau meninggalkan Engkau.”

Yesus juga berkata,
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Kadang-kadang, yang harus kita lepaskan bukan nyawa dalam arti harfiah.
Yang harus kita lepaskan adalah keinginan untuk selalu mengendalikan semuanya.
Keinginan untuk selalu terlihat berhasil.
Keinginan untuk selalu dianggap sebagai keluarga baik-baik.
Keinginan agar Tuhan menyelesaikan masalah sesuai waktu dan cara kita sendiri.

Mengikuti Kristus sering kali berarti kita belajar melepaskan semua itu.
Kita tidak lagi berpegang pada gengsi.
Tidak lagi berpegang pada rasa malu.
Tidak lagi berpegang pada amarah.
Tidak lagi berpegang pada putus asa.

Kita berpegang pada Kristus.
Lalu Yesus berkata,
“Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.”
Murid Kristus yang memikul salib tidak selalu tampil gagah.
Kadang ia datang dengan mata lelah.
Dengan hati yang remuk.
Dengan doa yang terbata-bata.
Dengan langkah yang pelan.
Tetapi justru dalam kelemahan seperti itu, Kristus bisa hadir.

Seorang ayah yang tetap mengasihi anaknya yang sedang jatuh,
seorang ibu yang tetap mendoakan keluarganya,
seorang anak yang tetap merawat orangtuanya,
seorang suami atau istri yang tetap setia pada jalan Tuhan,
semuanya bisa menjadi tanda kehadiran Kristus.

Bukan karena mereka hebat.
Tetapi karena mereka tetap ikut Yesus,
walau harus memikul salib.

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Hari ini, mungkin kita masing-masing sedang memikul salib yang berbeda.
Ada yang terlihat oleh orang lain.
Ada yang hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu.

Tidak apa-apa kalau kita lelah.
Tidak apa-apa kalau kita menangis.
Tidak apa-apa kalau kita belum mengerti mengapa semua ini harus terjadi.
Tetapi jangan berhenti ikut Yesus.

Bawalah salib itu bersama Dia.
Bukan sendirian.
Bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
Tetapi bersama Kristus yang lebih dahulu memikul salib bagi kita
Mari kita tetap ikut, walau mesti memikul salib.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Ireneus dari Lyon, Uskup dan Martir
Ireneus lahir di Asia Kecil kira-kira pada tahun 140. Pendidikannya berlangsung di Smyrna. Pelajaran agama diperolehnya dari Santo Polykarpus, seorang murid Santo Yohanes Rasul. Riwayat hidupnya kurang diketahui, tetapi dari tulisan-tulisannya sendiri dapatlah diperoleh banyak informasi tentang dirinya. Pada masa tuanya, ia mengirimkan sepucuk surat kepada seorang temannya di Smyrna. Dari surat ini diketahui kesannya terhadap pengajaran Santo Polykarpus. Sebagian suratnya dapat dibaca dalam kutipan berikut: "Peristiwa-peristiwa pada masa itu masih kuingat baik daripada yang terjadi baru-baru ini. Karena yang kita pelajari pada masa muda tumbuh subur dan mengakar dalam batin kita. Saya masih mengingat di mana Polykarpus duduk ketika ia mengajak bagaimana caranya berjalan dan bagaimana sikapnya. Saya masih ingat akan khotbah-kotbahnya kepada umat, dan bagaimana ia mengisahkan pergaulannya dengan Yohanes serta orang-orang lain yang menjadi saksi hidup Tuhan. Polykarpus mengajarkan apa yang didengarnya dari saksi-saksi mata kehidupan Yesus dan mujizat-mujizatNya. Semua berkat kemurahan Allah itu telah kuterima dengan sepenuh hati dan kucatat bukannya di atas selembar kertas, melainkan di dalam hatiku, serta oleh rahmat Allah selalu kurenungkan dengan seksama".
Ireneus bekerja di Lyon sebagai seorang imam. Pada tahun 177, timbullah aksi penghambatan agama di Lyon. Uskup kota Lyon, Potinus, meninggal karena suatu penganiayaan yang kejam atas dirinya. Ireneus diangkat menjadi penggantinya. Sebagai uskup, ia menggembalakan umatnya dengan penuh perhatian dan cinta. Kepada umatnya ia selalu berkhotbah dalam bahasa setempat, meskipun ia sendiri dibesarkan dalam bahasa Yunani. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berusaha membela ajaran iman yang benar. la juga memperjuangkan kesatuan Gereja dan menegakkan kewibawaan paus.
Namanya Ireneus, yang berarti pencinta damai, diusahakan menjadi kenyataan dalam seluruh hidupnya. Dalam perselisihan antara Gereja Latin dan Yunani tentang tanggal hari raya Paska, ia menjadi juru bicara Sri Paus. la meninggal pada tahun 202 selaku seorang martir Kristus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/