Liturgia Verbi 2026-09-01 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXII

Selasa, 1 September 2026

Ujud Gereja Universal: Pemeliharaan air.
Semoga semua pihak mengusahakan pengelolaan air secara adil dan berkelanjutan sebagai sumber daya yang penting sehingga semua orang memiliki akses yang setara pada air bersih.

Ujud Gereja Indonesia: Pewartaan digital.
Semoga kita mengoptimalkan penggunaan sarana digital untuk mewartakan kekayaan iman dan tradisi Gereja Katolik sehingga semakin banyak orang mengalami belas kasih Tuhan dan tumbuh dalam harapan.



Bacaan Pertama
1Kor 2:10b-16

"Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah;
manusia rohani menilai segala sesuatu."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
Roh menyelidiki segala sesuatu,
bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.
Siapa gerangan di antara manusia yang tahu
apa yang terdapat di dalam diri manusia
selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia?

Demikian pula tiada orang yang tahu,
apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.
Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah,
supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.
Dan karena kami menjelaskan hal-hal rohani
kepada mereka yang mempunyai Roh,
kami berbicara tentang karunia-karunia Allah
dengan perkataan yang diajarkan kepada kami
bukan oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.

Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,
karena hal itu adalah suatu kebodohan.
Ia tidak dapat pula memahaminya,
sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
Sebab manusia rohani menilai segala sesuatu,
tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.
Sebab, "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan,
sehingga ia dapat menasihati Dia?"
Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 145:8-9.10-11.12-13ab.13cd-14,R:17a

Refren: Tuhan itu adil dalam segala tindakannya.

*Tuhan itu pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.
Tuhan itu baik kepada semua orang,
penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

*Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan,
dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau.
Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu,
dan akan membicarakan keperkasaan-Mu,

*Untuk memberitahukan keperkasaan-Mu
kepada anak-anak manusia,
dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia.
Kerajaan-Mu ialah kerajaan abadi,
pemerintahan-Mu lestari melalui segala keturunan.

*Tuhan setia dalam segala perkataan-Nya
dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.
Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh
dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.



Bait Pengantar Injil
Luk 7:16

Seorang nabi besar telah muncul di tengah kita,
dan Allah mengunjungi umat-Nya.



Bacaan Injil
Luk 4:31-37

"Aku tahu siapa Engkau: Engkaulah Yang Kudus dari Allah."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa
Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea.
Di situ Ia mengajar pada hari-hari Sabat.
Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya,
sebab perkataan-Nya penuh kuasa.
Di rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan.
Ia berteriak dengan suara keras,
"Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami?
Engkau datang hendak membinasakan kami?
Aku tahu siapa Engkau: Engkaulah Yang Kudus dari Allah."

Tetapi Yesus menghardik dia, kata-Nya,
"Diam, keluarlah dari padanya!"
Maka setan menghempaskan orang itu
ke tengah-tengah orang banyak,
lalu keluar dari padanya, dan sama sekali tidak menyakitinya.

Semua orang takjub, lalu berkata satu sama lain,
"Alangkah hebatnya perkataan ini!
Dengan penuh wibawa dan kuasa
Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat,
dan mereka pun keluar."

Maka tersiarlah berita tentang Yesus ke mana-mana di daerah itu.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini adalah renungan The Power of Word:

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Rasul Paulus menulis dalam Bacaan Pertama hari ini,
“Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?”
Siapa di antara kita yang dapat mengetahui seluruh pikiran Tuhan?

Kita sering tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi.
Kita sudah berdoa, sudah berusaha, sudah menyusun rencana sebaik mungkin,
tetapi hasilnya berbeda dari yang kita harapkan.
Lalu kita mulai bertanya, “Tuhan, mengapa harus seperti ini?”
Kita ingin memahami rencana Tuhan.
Kita ingin mengetahui apa yang sedang Tuhan kerjakan.
Tetapi hikmat Tuhan jauh melampaui kemampuan kita untuk memahaminya.

Menariknya, setelah mengatakan bahwa tidak seorang pun mengetahui pikiran Tuhan, Rasul Paulus justru menulis, “Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.”
Apa artinya memiliki pikiran Kristus?
Tentu bukan berarti kita mengetahui semua rahasia Tuhan
atau memahami seluruh rencana-Nya.
Memiliki pikiran Kristus berarti kita belajar mengenal kehendak Allah
melalui Yesus Kristus.
Melalui Yesus kita melihat bagaimana Allah mengasihi, mengampuni,
memperhatikan orang yang lemah, membela kebenaran,
dan tetap taat kepada Bapa sampai akhir.

Maka ketika kita menghadapi persoalan, pertanyaannya bukan hanya,
“Apa yang saya inginkan?” atau “Apa yang paling menguntungkan saya?”
Ada pertanyaan yang lebih penting:
“Kalau Kristus berada dalam keadaan saya, bagaimana Kristus akan bersikap?”

Ketika seseorang menyakiti kita, kita mungkin ingin membalas.
Pikiran Kristus mengajak kita belajar mengampuni.
Ketika harga diri kita tersinggung, kita ingin membuktikan bahwa kita benar.
Pikiran Kristus mengajak kita memilih kasih dan kerendahan hati.
Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan, kita mudah merasa Tuhan tidak peduli. Pikiran Kristus mengajak kita tetap percaya kepada Bapa.

Belajar memiliki pikiran Kristus berarti
membiarkan cara berpikir Yesus perlahan-lahan membentuk cara berpikir kita.
Proses ini tidak selesai dalam satu hari.
Terkadang kita masih mudah marah, kecewa, khawatir, keras kepala,
atau ingin menang sendiri.
Tetapi Roh Kudus terus bekerja dalam diri kita, selama kita memberi-Nya ruang.

Semakin dekat kita kepada Kristus,
semakin kita belajar melihat seperti Kristus melihat,
mengasihi seperti Kristus mengasihi,
dan mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang Kristus ajarkan.

Kita mungkin tidak pernah memahami seluruh rencana Tuhan.
Tetapi kita tidak berjalan tanpa arah.
Tuhan telah memberi kita Kristus, sabda-Nya, dan Roh Kudus sebagai penuntun.

Maka ketika kita tidak memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan,
mungkin pertanyaan kita tidak perlu selalu, “Tuhan, mengapa ini terjadi?”
Kita dapat mulai bertanya,
“Tuhan, dalam keadaan ini, apa yang Engkau kehendaki saya lakukan?”
Belajar memiliki pikiran Kristus berarti
belajar menyelaraskan pikiran kita dengan pikiran-Nya,
kehendak kita dengan kehendak-Nya, dan hidup kita dengan jalan-Nya.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Pedro Armengol (1238-1304)
Pedro dikenal sebagai perampok ulung. Namun tiba-tiba ia bertobat dan masuk biara. Pedro menawarkan diri sebagai sandera untuk ditukar dengan 18 anak Kristen yang ditahan orang Muslim di Aljazair. Karena giat merasul di kawasan Islam ini, ia dihukum mati; akan tetapi secara ajaib, Pedro terbebas dari maut.

Santa Verena (350)
Wanita Mesir ini mengikuti legiun Thebais ke suatu garnisun baru di Swiss. Hingga akhir hidupnya ia berbuat amal dan bermatiraga. Ia dihormati sebagai santa pelindung para pelayan perempuan di pastoran.

Ruth (abad 11 seb. M.)
Wanita Moab ini dikenal dalam kaitannya dengan keluarga Elimelekh, sebuah keluarga Israel dari Betlehem, daerah Yehuda. Konon pada zaman pemerintahan hakim-hakim terjadilah kelaparan hebat di tanah Israel. Elimelekh bersama Naomi, isterinya dan kedua anaknya Mahlon dan Kilyon mengungsi ke Moab sebagai orang asing.
Sepeninggal Elimelekh, Mahlon dan Kilyon menikah dengan perempuan-perempuan Moab. Mahlon dengan Orpa, sedang Kilyon dengan Ruth. Sayang sekali bahwa Mahlon dan Kilyon kemudian meninggal dunia. Dengan demikian tinggallah Naomi bersama kedua menantunya Orpa dan Ruth.
Ketika didengar bahwa Tuhan telah membebaskan umatNya Israel dari kelaparan, pulanglah Naomi ke Betlehem, Yehuda bersama kedua menantunya. Di sana Ruth bertemu dan menikah dengan Boaz, saudara Elimelekh. Perkawinan Levirat ini adalah sah menurut hukum Israel demi melanjutkan keturunan Naomi. Ruth dan Boaz memperanakkan Obed, ayah dari Yesse, yang menjadi ayah dari Daud, Raja terbesar Israel. Dengan demikian Ruth dikenal sebagai leluhur Raja Daud dan Yesus Kristus yang lahir dari keturunan Daud (Mat 1: 5).



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-31 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXII

Senin, 31 Agustus 2026



Bacaan Pertama
1Kor 2:1-5

"Aku mewartakan kepadamu kesaksian Kristus yang tersalib."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
ketika aku datang kepadamu,
aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat
untuk mewartakan kesaksian Allah kepada kalian.
Sebab aku telah memutuskan
untuk tidak mengetahui apa pun di antaramu
selain Yesus Kristus, Dia yang disalibkan.
Aku pun telah datang kepadamu dalam kelemahan,
dengan sangat takut dan gentar.
Baik ajaran maupun pemberitaanku
tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan,
tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,
supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia,
melainkan pada kekuatan Allah.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 119:97.98.99.100.101.102,R:97a

Refren: Betapa besar cintaku kepada Hukum-Mu, ya Tuhan.

*Betapa kucintai Taurat-Mu!
Aku merenungkannya sepanjang hari.

*Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana
dari pada musuh-musuhku,
sebab selama-lamanya perintah itu ada padaku.

*Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku,
sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan selalu.

*Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua,
sebab aku memegang titah-titah-Mu.

*Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku,
supaya aku berpegang pada firman-Mu.

*Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu,
sebab Engkaulah yang mengajar aku.



Bait Pengantar Injil
Luk 4:18

Roh Tuhan menyertai aku;
Aku diutus Tuhan mewartakan kabar baik
kepada orang-orang miskin.



Bacaan Injil
Luk 4:16-30

"Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. 
Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan.
Seperti biasa, pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat.
Yesus berdiri hendak membacakan Kitab Suci.
Maka diberikan kepada-Nya kitab nabi Yesaya.

Yesus membuka kitab itu dan menemukan ayat-ayat berikut,
"Roh Tuhan ada pada-Ku.
Sebab Aku diurapi-Nya
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.
Dan Aku diutus-Nya
memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
penglihatan kepada orang-orang buta,
serta membebaskan orang-orang yang tertindas;
Aku diutus-Nya memberitakan
bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang."
Kemudian Yesus menutup kitab itu
dan mengembalikannya kepada pejabat;
lalu Ia duduk
dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.

Kemudian Yesus mulai mengajar mereka, kata-Nya,
"Pada hari ini genaplah ayat-ayat Kitab Suci itu
pada saat kalian mendengarnya."
Semua orang membenarkan Yesus.
Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.
Lalu kata mereka, "Bukankah Dia anak Yusuf?"
Yesus berkata,
"Tentu kalian akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku,
'Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri.
Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini,
segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!"

Yesus berkata lagi, "Aku berkata kepadamu:
Sungguh, tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar,
'Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel
ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan
dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,
melainkan kepada seorang wanita janda di Sarfat, di tanah Sidon.
Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel
tetapi tiada seorang pun dari mereka yang ditahirkan,
selain Naaman, orang Siria itu."

Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu.
Mereka bangkit lalu menghalau Yesus ke luar kota,
dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak,
untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
Tetapi Yesus berjalan lewat tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Ada satu bahaya dalam kehidupan iman yang terkadang tidak kita sadari: kita merasa sudah mengenal Tuhan.

Kita sudah lama berdoa, membaca Kitab Suci, ikut Misa, terlibat dalam pelayanan, mendengar banyak homili dan renungan. Kita tahu banyak cerita tentang Yesus. Kita tahu apa yang pernah Yesus lakukan. Kita tahu ajaran-Nya. Tetapi mengetahui banyak hal tentang Tuhan belum tentu sama dengan sungguh mengenal Tuhan.

Itulah yang terjadi di Nazaret.

Yesus datang ke tempat Ia dibesarkan. Orang-orang di sana mengenal latar belakang-Nya. Mereka tahu keluarga-Nya. Mereka merasa tahu siapa Yesus. Maka ketika Yesus berbicara dengan penuh kuasa, mereka bertanya, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”

Kalimat itu kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya memperlihatkan masalah yang cukup dalam. Mereka sudah memiliki kotak sendiri tentang siapa Yesus. Mereka merasa sudah tahu batas-batas-Nya.

Karena merasa sudah mengenal, mereka justru sulit menerima sesuatu yang baru dari Yesus.

Kita pun dapat mengalami hal yang sama.

Tanpa sadar kita bisa membuat gambaran sendiri mengenai bagaimana Tuhan seharusnya bekerja. Kalau kita berdoa, Tuhan seharusnya menjawab seperti yang kita harapkan. Kalau kita sudah melayani, hidup seharusnya menjadi lebih lancar. Kalau kita sudah berusaha hidup baik, seharusnya masalah tidak datang terlalu berat.

Lalu ketika kenyataan berbeda, kita mulai bertanya, “Tuhan, mengapa begini?”

Bukan pertanyaannya yang salah. Kita boleh bertanya kepada Tuhan. Tetapi kita perlu memeriksa satu hal: apakah kita masih membuka diri kepada Tuhan, atau kita sebenarnya sedang meminta Tuhan masuk ke dalam gambaran yang sudah kita buat sendiri?

Orang Nazaret mau menerima Yesus selama Yesus sesuai dengan harapan mereka. Tetapi ketika Yesus berbicara tentang Elia yang diutus kepada seorang janda di Sarfat dan tentang Elisa yang menyembuhkan Naaman, orang Siria, mereka menjadi marah.

Mereka tidak siap menerima Tuhan yang bekerja melampaui batas pikiran mereka.

Kita juga terkadang seperti itu. Kita senang ketika Tuhan menguatkan pendapat kita, tetapi menjadi tidak nyaman ketika firman Tuhan justru mengoreksi kita. Kita senang ketika Tuhan membuka jalan yang kita inginkan, tetapi sulit menerima ketika Tuhan membawa kita ke arah yang berbeda.

Iman bukan hanya mengenal siapa Tuhan menurut pengalaman kita selama ini. Iman juga berarti memberi ruang bagi Tuhan untuk terus mengejutkan kita, mengoreksi kita, dan membawa kita melampaui pengertian kita sendiri.

Mungkin hari ini kita perlu bertanya: apakah saya sungguh mengenal Tuhan, atau sebenarnya saya hanya mengenal gambaran tentang Tuhan yang sudah saya bentuk sendiri?

Jangan sampai karena merasa sudah dekat dengan Tuhan, kita justru berhenti mendengarkan-Nya.

Jangan sampai karena merasa sudah tahu banyak tentang Tuhan, kita kehilangan kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, ajarlah aku mengenal-Mu lebih dalam.”

Sebab Tuhan selalu lebih besar daripada pikiran kita, lebih luas daripada pengalaman kita, dan jalan-Nya terkadang jauh berbeda dari yang kita bayangkan.

Maka, jangan merasa sudah selesai mengenal Tuhan.

Tetaplah membuka hati.

Karena bisa jadi, justru ketika Tuhan tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, Ia sedang membawa kita untuk mengenal-Nya dengan lebih sungguh.

Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Raymundus Nonnatus, Pengaku Iman
Julukan 'Nonnatus' yang berarti 'Yang tidak dilahirkan' sertamerta menunjukkan kepada kita bahwa ada suatu keanehan seputar saat kelahiran Raymundus. Memang Raymundus lahir tidak seperti biasanya.
Ibunya meninggal dunia karena sakit keras selagi Raymundus masih ada dalam kandungan. Demi menyelamatkan dia, dokter terpaksa melakukan operasi terhadap ibunya yang sudah tak bernyawa lagi. Dokter berhasil mengeluarkan dia dari rahim ibunya. Karena itulah, ia dijuluki 'Nonnatus'.
Raymundus lahir di Portello Katalonia, Spanyol pada tahun 1204. Ayahnya seorang bangsawan dari keluarga Sarrois yang disebut juga keluarga Segers. Meskipun berdarah bangsawan, namun keluarganya hidup miskin dan serba kekurangan. Raymundus mengalami kegetiran hidup itu selama masa mudanya. Meskipun terlilit kemiskinan, ia tetap riang. Dalam doa dan imannya yang teguh, ia menyerahkan hidupnya kepada penyelenggaraan ilahi Allah. Dalam situasi sulit ini, ia mengatakan keinginannya untuk menjadi seorang biarawan. Ayahnya tidak merestui dan menyuruh dia mengusahakan kebun mereka yang terletak jauh dari kampung halaman dengan maksud agar dia dapat melupakan cita-citanya itu. Namun usaha sang ayah ini tidak berhasil. Sebaliknya Raymundus lebih banyak mempunyai waktu untuk berdoa dan merenung.
Setelah mengalami banyak kesulitan, ia diterima oleh Santo Petrus Nolaskus dalam tarekat Mercederian. Ordo ini didirikan pada tahun 1256 dengan tujuan pokok ialah membebaskan para budak dan tawanan yang beragama Kristen dari tangan orang-orang Islam. Mula-mula Raymundus bekerja di Barcelona selama 3 tahun. Kemudian ia diutus ke Aljazair, Afrika Utara untuk menebus para budak dan tawanan Kristen dari tangan orang-orang Islam. Ia membawa banyak uang untuk menebus mereka. Namun uang itu ternyata tidak mencukupi. Karena itu ia dengan sukarela menyerahkan diri sebagai pengganti para budak dan tawanan itu. Ia bekerja keras sambil mewartakan Injil Kristus dan mengajar agama. Kegiatannya ini menimbulkan amarah besar di kalangan para majikan dan mandor, karena pengajarannya dianggap sangat merugikan mereka.
Raymundus dipenjarakan selama 8 bulan dengan siksaan yang berat. Bibirnya dilubangkan dan dikunci sehingga ia tidak bisa lagi mengajar orang banyak. Untunglah bahwa uang tebusan baginya segera tiba, sehingga ia dapat segera dibebaskan dan bisa kembali ke Spanyol.
Di sana ia mendapat kabar bahwa Paus Gregorius IX sangat terharu dan kagum akan ketabahan dan keberaniannya mewartakan Injil Kristus kepada orang-orang Islam. Paus mengangkatnya menjadi Kardinal dan mengundangnya datang ke Roma. Tetapi rupanya Tuhan sudah puas dengan jasa-jasanya. Sementara di tengah perjalanan, ia jatuh sakit dan menghembuskan nafasnya di Cardona, dekat Barcelona. Raymundus meninggal dunia pada tahun 1240. la dihormati sebagai pelindung para ibu yang akan melahirkan.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-30 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Biasa XXII

Minggu, 30 Agustus 2026



Bacaan Pertama
Yer 20:7-9

"Firman Tuhan telah menjadi cela dan cemooh bagiku
sepanjang hari."

Pembacaan dari Kitab Yeremia:

Kata Nabi Yeremia,
"Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan,
dan aku telah membiarkan diriku Kaubujuk.
Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku.
Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari,
semua orang mengolok-olokkan aku.
Sebab setiap kali aku berbicara,
terpaksa aku berteriak,
terpaksa berseru, "Kelaliman! Aniaya!"
Sebab firman Tuhan telah menjadi cela dan cemooh bagiku,
sepanjang hari.

Tetapi apabila aku berpikir,
'Aku tidak mau mengingat Tuhan,
dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya,'
maka dalam hatiku ada sesuatu
yang seperti api yang menyala-nyala,
terkurung dalam tulang-tulangku;
aku berlelah-lelah untuk menahannya,
tetapi aku tidak sanggup."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9,R:2b

Refren: Jiwaku haus akan Dikau, ya Tuhan, Allahku.

*Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau,
jiwaku haus akan Dikau,
tubuhku rindu kepada-Mu,
seperti tanah yang kering dan tandus,
yang tiada berair.

*Demikianlah aku rindu memandang-Mu di tempat kudus
sambil melihat kekuatan dan kemuliaan-Mu.
Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup;
bibirku akan memegahkan Dikau.

*Aku mau memuji Engkau seumur hidupku
dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.
Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan,
bibirku bersorak-sorai, mulutku memuji-muji.

*Sungguh, Engkau telah menjadi pertolonganku,
dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.
Jiwaku melekat kepada-Mu,
tangan kanan-Mu menopang aku.



Bacaan Kedua
Rom 12:1-2

"Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara,
demi kemurahan Allah aku menasihati kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu
sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.
Itulah ibadahmu yang sejati!
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,
sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah,
mana yang baik,
yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Ef 1:17-18

Allah Tuhan kita Yesus Kristus menjadikan mata hatimu terang,
agar kamu mengerti
pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya.



Bacaan Injil
Mat 16:21-27

"Setiap orang yang mau mengikut Aku,
ia harus menyangkal dirinya."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa,
Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya
bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem
dan menanggung banyak penderitaan
dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping
dan menegur Dia, katanya,
"Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!
Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!"
Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus,
"Enyahlah Iblis!
Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku,
sebab engkau memikirkan bukan yang dipikirkan Allah,
melainkan yang dipikirkan manusia."

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Setiap orang yang mau mengikuti Aku,
harus menyangkal diri,
memikul salibnya dan mengikuti Aku.
Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya.
Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan memperolehnya.
Apa gunanya bagi seseorang jika ia memperoleh seluruh dunia
tetapi kehilangan nyawanya?
Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya
diiringi malaikat-malaikat-Nya.
Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang
setimpal dengan perbuatannya."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Ada satu kalimat Yesus hari ini yang sangat keras, tetapi juga sangat jelas: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku.”

Yesus tidak menjanjikan bahwa mengikuti-Nya akan membuat hidup selalu mudah. Justru Yesus menyebut dua hal yang tidak ringan: menyangkal diri dan memikul salib.

Menyangkal diri bukan berarti membenci atau merendahkan diri sendiri. Menyangkal diri berarti berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala sesuatu. Tidak semua keinginan saya harus terpenuhi. Tidak semua pendapat saya harus diterima. Tidak setiap kali saya disakiti saya harus membalas. Tidak setiap kali saya benar saya harus membuktikan orang lain salah.

Ini semakin sulit di zaman sekarang. Kita hidup di tengah budaya yang mendorong kita untuk tampil, mencari pengakuan, menjaga citra, mengejar kenyamanan, dan memperjuangkan apa yang kita mau. Tanpa sadar, kita terbiasa bertanya: apa untungnya bagi saya, bagaimana orang melihat saya, bagaimana supaya saya tidak kalah.

Menyangkal diri berarti berani menahan ego. Terkadang kita perlu meminta maaf lebih dahulu, memilih diam daripada memenangkan pertengkaran, melepaskan kesempatan yang menguntungkan karena caranya tidak benar, atau memilih mengampuni meskipun hati masih sakit.

Lalu Yesus berkata: pikullah salibmu.

Memikul salib bukan berarti mencari penderitaan. Salib adalah harga yang harus kita bayar ketika memilih tetap setia kepada Tuhan, kepada kebenaran, dan kepada kasih.

Salib kita bisa sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari: tetap jujur ketika jalan curang lebih mudah, tetap bertanggung jawab ketika lebih mudah menyalahkan orang lain, tetap mendampingi orangtua yang semakin lemah, tetap mengasihi anggota keluarga yang sulit, tetap setia dalam perkawinan ketika hubungan sedang tidak mudah, atau tetap memegang kebenaran ketika pilihan itu membuat kita kehilangan keuntungan.

Tetapi tidak semua penderitaan adalah salib. Kalau kita mengalami kesulitan akibat keputusan sendiri yang ceroboh, itu konsekuensi. Salib muncul ketika kita harus menanggung sesuatu karena memilih tetap setia pada jalan Tuhan.

Menyangkal diri dan memikul salib tidak bisa dipisahkan. Kita sulit memikul salib kalau ego masih menjadi pusat kehidupan. Ketika keadaan tidak sesuai keinginan, kita mulai bertanya, “Kenapa harus saya? Kenapa saya yang mengalah? Kenapa saya yang harus memulai?”

Kita terkadang ingin mengikuti Yesus, tetapi dengan syarat Yesus berjalan ke arah yang kita tentukan. Kita mau mengikuti Tuhan selama Tuhan menyetujui rencana kita, menjaga kenyamanan kita, memenuhi keinginan kita, dan menjauhkan kita dari kesulitan.

Tetapi itu bukan mengikuti Yesus. Itu meminta Yesus mengikuti kita.

Maka pertanyaan bagi kita hari ini bukan hanya, “Apakah saya percaya kepada Yesus?” Tetapi: apa yang perlu saya sangkal dalam diri saya? Ego saya? Gengsi saya? Keinginan untuk selalu benar? Keinginan untuk membalas?

Dan salib apa yang selama ini saya hindari? Tanggung jawab yang saya tunda? Orang yang sulit saya ampuni? Kesetiaan yang mulai terasa berat? Kebenaran yang sebenarnya saya tahu harus saya pegang?

Yesus tidak menjanjikan hidup yang selalu mudah. Tetapi Yesus menunjukkan jalan yang benar.

Mengikuti Yesus berarti berhenti mengatur Yesus, lalu mulai berani berjalan di belakang-Nya.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Beato Ghabra Mikael, Martir
Ghabra Mikael - yang berarti 'Hamba dari Mikael' - adalah martir bangsa Afrika. Ia lahir di Etiopia pada tahun 1790. Semenjak kecil, ia hidup dan dididik di dalam lingkungan dan iman bidaah Arianisme yang menyangkal kemanusiaan Yesus Kristus. Ghabra dikenal cerdas dan saleh. Setelah menyelesaikan studinya di sekolah menengah, ia masuk biara Mertulai - Miryam di Etiopia. Oleh rekan-rekannya ia dikenal sebagai seorang biarawan yang saleh dan pintar, namun ia dicurigai sebagai seorang yang tidak menerima ajaran bidaah Arianisme. Meskipun demikian, Ghabra tetap kokoh pada pendiriannya. Ia tetap tekun mempelajari teologi dan berdoa memohon penerangan ilahi agar dapat menemukan kebenaran sejati mengenai Yesus Kristus. Ia pun rajin mengunjungi berbagai biara yang tersebar di kawasan itu untuk mempelajari cara hidup mereka. Seluruh hidupnya hingga ia berusia 50 tahun boleh dikatakan merupakan suatu usaha pencarian terus menerus kebenaran sejati Yesus Kristus. Apa yang diajarkan Arianisme ditolaknya mentah-mentah. Sebaliknya ia mulai lebih tertarik pada ajaran yang disebarkan oleh iman Katolik, bahwa Yesus Kristus itu sungguh Allah dan sungguh Manusia.
Oleh pengaruh Yustinus de Yakobis, seorang uskup dari tarekat Kongregasi Misi, Ghabra dengan tegas memutuskan untuk memeluk iman Katolik. Ia bertobat pada tahun 1844. Tujuh tahun kemudian (1851), Yustinus menahbiskan dia menjadi imam. Bersama Uskup Yustinus, Ghabra giat mengajar agama dan membangun sebuah kolese untuk mendidik anak-anak Etiopia. Ia juga menulis sebuah buku Katekismus dalam bahasa Etiopia. Atas restu Uskup Yustinus; ia pun mendirikan sebuah seminari untuk mendidik calon-calon imam pribumi Etiopia.
Semua kegiatan ini menimbulkan amarah besar dari para penganut Arianisme terutama Abuna Salama, Uskup Gereja Arian. Atas hasutannya, Teodorus II, raja Abessinia, melancarkan penganiayaan besar atas semua orang lain yang tidak menganut ajaran Arianisme. Ghabra bersama beberapa orang Katolik pengikutnya ditangkap dan disesah. Ghabra dipenjarakan di dalam sebuah kandang ternak yang sangat kotor. Setiap kali disesah, ia dengan tenang dan tegas menjawab: "Karena imanku aku akan tetap melawan kamu, namun demi cinta kasih Kristiani aku akan terus berbuat baik kepada kamu ". Akhirnya karena penderitaan yang ditanggungnya dan karena serangan penyakit kolera, Ghabra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 1855.
Ghabra, seorang martir Kristus yang kokoh imannya. Seluruh hidup dan perjuangannya dapat dikatakan secara ringkas sebagai suatu pemuliaan terhadap Sabda Allah yang menjadi manusia. Ia meninggal dunia sebagai seorang imam yang saleh dari tarekat Kongregasi Misi atau tarekat Imam-imam Lazaris.

Santo Heribertus, Uskup
Heribertus lahir di kota Worms, Jerman pada tahun 970. Orangtuanya mempercayakan dia kepada Abbas Gorsse, pemimpin biara Benediktin Lorraine untuk dididik sesuai dengan cara hidup Kristiani. Pendidikan dan cara hidup di biara itu berhasil menanamkan dalam batinnya hasrat yang kuat untuk menjalani hidup membiara. Namun cita­citanya itu tidak direstui oleh ayah dan sanak keluarganya. Heribertus segera dipanggil pulang ke Worms agar tidak lagi terpengaruh oleh cara hidup membiara.
Namun rencana Tuhan atas dirinya tak terselami manusia. Meskipun orangtuanya berusaha keras menghindarkan dia dari cita-cita hidup membiara itu, ia tetap menunjukkan kesalehan hidup yang mengagumkan. Melihat cara hidupnya itu, ia kemudian ditahbiskan menjadi imam. Oleh Raja Otto III, ia diangkat menjadi penasehat pribadi baik dalam kehidupan politik maupun dalam kehidupan rohani. Prestasi kariernya terus meningkat dengan pengangkatannya sebagai Vikaris Jenderal keuskupan Koln, dan kemudian sebagai Uskup Agung Koln.
Heribertus memanfaatkan kedudukannya sebagai penasehat pribadi raja dan sebagai imam untuk menunjukkan cinta kasih Allah kepada orang banyak. Bersama Otto III, ia mendirikan gereja dan biara di kota Deutss, sebelah kota Rhein, atas tanggungan kerajaan. Ia dengan giat merawat orang-orang sakit dan memperhatikan nasib para kaum miskin. Sebagian besar pendapatannya dibagi baik untuk kepentingan Gereja maupun untuk kepentingan aksi-aksi sosial itu. Ia sendiri hidup dari sisa uang yang diterimanya dari raja. Kepada imam-imamnya yang mengalami kesulitan keuangan, ia mendermakan juga sebagian dari pendapatannya.
Sekali peristiwa, ia menemani Otto III ke Italia untuk sesuatu urusan politik. Tak terduga-duga, Otto III meninggal seketika karena keracunan. Dalam kebingungan dan kesedihan, ia membawa pulang jenazah Otto III ke Aachen, Jerman dan menguburkannya secara terhormat. Peristiwa ini menimbulkan pertentangan hebat antara dia dan Pangeran Heinrich II. Ia dituduh sengaja meracuni Otto III dengan maksud untuk mengambil alih kekuasaan sebagai raja. Ketegangan ini baru mereda ketika Pangeran Heinrich dilantik menjadi raja menggantikan ayahnya.
Tanpa menaruh dendam pada Heinrich, Heribertus dengan senang hati melepaskan tugasnya sebagai penasehat raja dan mulai memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohaninya dan pada pelayanan umat. Ia mulai lebih banyak berdoa dan melakukan silih. Pada musim kering, ia bersama umat mengadakan perarakan dari gereja Santo Severinus ke gereja Santo Pantaleon. Dalam kotbah-kotbahnya ia menghimbau agar umat bertobat dan percaya kepada kerahiman Allah. Kepada imam-imamnya, ia mengadakan kunjungan-kunjungan pastoral dan menggalakkan pembinaan rohani untuk meneguhkan mereka dalam panggilan dan karyanya. Heribertus dikenal sebagai seorang uskup yang saleh dan sayang pada umatnya. Ia meninggal dunia pada tahun 1021 karena serangan penyakit.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-29 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXI

Sabtu, 29 Agustus 2026

PW Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir



Bacaan Pertama
Yer 1:17-19

"Sampaikanlah kepada Yehuda
segala yang Kuperintahkan kepadamu.
Janganlah gentar terhadap mereka."

Pembacaan dari Kitab Yeremia:

Sekali peristiwa, Tuhan berkata kepadaku, Yeremia,
"Baiklah engkau bersiap!
Bangkitlah dan sampaikanlah kepada umat-Ku
segala yang Kuperintahkan kepadamu.
Janganlah gentar terhadap mereka,
supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!
Mengenai Aku,
sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau
menjadi kota yang berkubu,
menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga
melawan seluruh negeri ini,
menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya,
menentang para imam dan rakyat negeri lain.
Mereka akan memerangi engkau,
tetapi tidak akan mengalahkan engkau,
sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau,
demikianlah firman Tuhan."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17,R:15a

Refren: Berbahagialah bangsa
yang dipilih Tuhan menjadi milik-pusaka-Nya.

*Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung,
janganlah sekali-kali aku mendapat malu.
Lepaskan dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!

*Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh,
kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri;
sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku.
ya Allah, luputkanlah aku dari tangan orang fasik.

*Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan,
Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah.
Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan,
Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.

*Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu,
dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari-Mu,
sebab aku tidak dapat menghitungnya.
Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku,
dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.



Bait Pengantar Injil
Mat 5:10

Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.



Bacaan Injil
Mrk 6:17-29

"Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku
kepala Yohanes Pembaptis."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Sekali peristiwa
Herodeslah menyuruh orang menangkap Yohanes
dan membelenggunya di dalam penjara
berhubung dengan peristiwa Herodias,
yakni bahwa Herodes telah memperistri Herodias,
isteri Filipus saudaranya.
Yohanes pernah menegur Herodes,
"Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes,
dan bermaksud membunuh dia,
tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan terhadap Yohanes,
karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci;
jadi ia melindunginya.
Tetapi setiap kali mendengarkan Yohanes,
hati Herodes selalu terombang-ambing;
namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias,
yakni ketika Herodes - pada hari ulang tahunnya
mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesar,
para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea.
Pada waktu itu Puteri Herodias tampil lalu menari,
dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya.
Maka Raja berkata kepada gadis itu,
"Minta dari padaku apa saja yang kauingini,
maka akan kuberikan kepadamu!"
Lalu Herodes bersumpah kepadanya,
"Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu,
sekalipun itu setengah dari kerajaanku!"

Anak itu pergi dan menanyakan kepada ibunya,
"Apa yang harus kuminta?"
Jawab ibunya, "Kepala Yohanes Pembaptis!"
Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta,
"Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku
kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!"

Maka sangat sedihlah hati raja!
Tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya,
ia tidak mau menolaknya.
Raja segera menyuruh seorang pengawal
dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes.
Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
Ia membawa kepala itu di sebuah talam
dan memberikannya kepada Herodias,
dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu,
mereka datang dan mengambil mayatnya,
lalu membaringkannya dalam kubur.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Kita sering mengira orang berbuat salah karena tidak tahu mana yang benar. Padahal tidak selalu demikian. Ada orang yang sebenarnya tahu persis mana yang benar, nuraninya sudah mengingatkan, bahkan mungkin ia sendiri mengakui kebenaran itu. Tetapi ketika kebenaran menuntut sebuah keputusan, ia justru memilih jalan lain karena gengsi, takut kehilangan muka, atau takut terhadap penilaian orang.

Herodes seperti itu.
Injil hari ini mengatakan bahwa Herodes sebenarnya takut kepada Yohanes Pembaptis karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci. Bahkan Herodes suka mendengarkan Yohanes, meskipun perkataan Yohanes membuat hatinya terombang-ambing.
Jadi persoalan Herodes bukan karena ia tidak tahu kebenaran.

Ia tahu Yohanes benar.
Ia tahu hubungan dengan Herodias yang ditegur Yohanes itu memang tidak benar.
Ia bahkan menghormati Yohanes.
Tetapi kemudian datanglah pesta ulang tahunnya. Putri Herodias menari dan menyenangkan hati Herodes serta para tamunya. Dalam suasana itu Herodes membuat janji besar di depan banyak orang: apa pun yang diminta gadis itu akan diberikan.

Lalu datang permintaan yang mengerikan: kepala Yohanes Pembaptis.
Herodes menjadi sangat sedih.
Kalimat ini penting. Ia sedih. Artinya, nuraninya masih berbicara. Ia tahu permintaan itu salah. Ia sebenarnya tidak ingin melakukannya.
Tetapi Injil mengatakan bahwa karena sumpahnya dan karena para tamunya, ia tidak mau menolaknya.

Di sinilah tragedinya.
Herodes lebih takut kehilangan muka di depan para tamunya daripada melakukan sesuatu yang ia tahu salah. Ia lebih memilih mempertahankan perkataannya daripada mempertahankan kebenaran. Gengsi akhirnya membungkam nurani.

Dan ternyata situasi seperti ini tidak hanya terjadi pada Herodes.
Kita pun bisa mengalaminya dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Kita sudah terlanjur mengatakan sesuatu, lalu sadar bahwa kita salah, tetapi gengsi membuat kita sulit berkata, “Saya keliru.” Kita tahu seharusnya meminta maaf, tetapi harga diri menahannya. Kita tahu keputusan kita tidak tepat, tetapi karena sudah disampaikan di depan orang banyak, kita merasa harus mempertahankannya.

Terkadang kita bahkan mengetahui seseorang berkata benar kepada kita, tetapi karena cara penyampaiannya menyinggung harga diri, kita justru melawan orangnya dan tidak lagi mau mendengar pesannya.

Di situlah kita perlu berhati-hati.
Sebab semakin sering nurani kita dikalahkan oleh gengsi, semakin lama suara nurani itu bisa semakin lemah. Awalnya masih ada rasa tidak nyaman. Kemudian kita mulai mencari pembenaran. Setelah itu kita merasa tindakan kita biasa saja. Pada akhirnya kita bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan akan kita lakukan.

Herodes mungkin tidak pernah merencanakan membunuh Yohanes pada malam itu. Tetapi satu keputusan untuk menjaga gengsi membawanya sampai ke sana.
Sebaliknya, Yohanes Pembaptis menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda.
Yohanes mengetahui risiko mengatakan kebenaran kepada Herodes. Ia tahu Herodes memiliki kekuasaan. Ia tahu perkataannya dapat membuat dirinya dipenjara, bahkan kehilangan nyawa. Tetapi Yohanes tidak mengubah kebenaran hanya supaya dirinya aman.
Ia memilih tetap setia kepada kebenaran, sekalipun harus membayar mahal.

Bacaan pertama hari ini juga mengatakan kepada Yeremia, “Janganlah gentar terhadap mereka.” Tuhan tidak menjanjikan bahwa mengatakan kebenaran selalu membuat hidup menjadi mudah. Tetapi Tuhan menjanjikan penyertaan kepada orang yang tetap berdiri dalam kebenaran.

Maka hari ini kita bisa memeriksa diri kita sendiri.
Ketika nurani mengatakan bahwa kita salah, apakah kita masih berani mengakuinya?
Ketika kita perlu meminta maaf, apakah kita berani merendahkan hati?
Ketika sebuah keputusan ternyata keliru, apakah kita berani memperbaikinya meskipun orang lain sudah mengetahuinya?
Dan ketika kita harus memilih antara terlihat benar di depan orang lain atau sungguh-sungguh melakukan yang benar di hadapan Tuhan, mana yang kita pilih?

Mengakui kesalahan tidak membuat kita menjadi kecil. Meminta maaf tidak membuat kita kalah. Mengubah keputusan yang salah juga bukan tanda kelemahan.
Justru diperlukan keberanian besar untuk berkata, “Saya salah. Saya akan memperbaikinya.”

Jangan sampai karena ingin menjaga muka di hadapan manusia, kita akhirnya mengorbankan suara Tuhan yang berbicara melalui nurani kita.
Sebab gengsi mungkin dapat menjaga citra kita untuk sementara, tetapi hanya kebenaran yang menjaga hidup kita tetap berada di jalan Tuhan.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis
Pada tanggal 24 Juni Gereja merayakan pesta Kelahiran Yohanes Pembaptis; sedangkan pada hari ini, 29 Agustus, Gereja mengajak seluruh umat untuk memperingati kemartirannya.
Kemartiran Yohanes berkaitan erat dengan tegurannya yang pedas kepada Raja Herodes karena ia memperisteri Herodias, isteri Filipus, saudaranya secara tidak sah. Herodes marah dan mencampakkan Yohanes ke dalam penjara.   Herodias pun marah dan tak henti-hentinya berusaha mencari kesempatan untuk membunuh Yohanes. 
Kesempatan emas itu akhirnya tiba juga. Pada hari ulang tahunnya, Herodes mengadakan jamuan makan untuk para petinggi kerajaan di seluruh Galilea. Kesempatan ini dimanfaatkan Herodias untuk melaksanakan niat jahatnya atas diri Yohanes. Ia menyuruh puterinya menari dihadapan para tamu. Tariannya sungguh menawan hati para tamu yang sudah mulai mabuk itu. Herodes tampak bangga dan gembira. Terdorong oleh kebanggaannya itu, Herodes berkata kepada gadis itu: "Mintalah kepadaku apa saja seturut kehendakmu. Aku akan memberikannya kepadamu". Herodes bahkan bersumpah di hadapan para tamu: "Apa saja yang kauminta, akan kuberikan, sekalipun separuh dari kerajaanku". Gadis itu tidak tahu apa yang harus dimintanya. Karena itu ia berlari kepada ibunya Herodias untuk memintai pendapatnya. Tanpa banyak pikir, Herodias berkata: "Kepala Yohanes Pembaptis!"
Gadis itu segera menghadap Herodes dan berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di dalam sebuah talam". Herodes sedih tetapi karena sumpahnya dan karena malu kepada tamu-tamunya, ia segera memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk memenggal kepala Yohanes pada hari itu juga. Injil Mateus 14 mengatakan bahwa kepala Yohanes itu diletakkan di dalam sebuah talam dan diberikan kepada puteri Herodias itu.
Karena kesetiaannya kepada Allah dan panggilannya sebagai nabi pendahulu Yesus, Yohanes mati di bawah kuasa kelaliman Herodes. Ia mati dibunuh pada tahun 31.

Santa Sabina, Martir
Sabina adalah isteri seorang bangsawan Romawi Kristen bernama Valentinus. Ia menjadi Kristen di bawah bimbingan Seraphia, seorang gadis Kristen yang saleh. Sabina-lah yang mengurusi pemakaman Seraphia ketika ia dibunuh oleh kaki-tangan Kaisar Hadrianus pada abad kedua. Perbuatannya ini akhirnya juga menyebabkan dia ditangkap dan dibunuh. Sabina dihormati sebagai pelindung ibu rumah tangga dan anak-anak.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-28 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXI

Jumat, 28 Agustus 2026

PW S. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja



Bacaan Pertama
1Kor 1:17-25

"Kami memberitakan Kristus yang tersalib,
suatu sandungan bagi kebanyakan orang,
tetapi bagi mereka yang terpanggil, merupakan hikmat Allah."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis,
melainkan untuk memberitakan Injil;
dan ini pun bukan dengan hikmat perkataan,
supaya salib Kristus jangan sampai menjadi sia-sia.
Sebab pemberitaan tentang salib
memang suatu kebodohan bagi mereka yang akan binasa,
tetapi bagi kita yang diselamatkan
pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Karena ada tertulis,
'Aku akan membinasakan hikmat orang-orang arif
dan melenyapkan kearifan orang-orang bijak.'
Di manakah terdapat orang berhikmat?
Di manakah si ahli Taurat?
Di manakah orang cerdik pandai dari dunia ini?
Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini
menjadi kebodohan?
Sebab hikmat Allah telah menentukan
bahwa dunia dengan hikmatnya tidak mengenal Allah.
Oleh karena itu Allah berkenan menyelamatkan mereka
yang percaya berkat kebodohan pemberitaan Injil.
Orang Yahudi menuntut tanda dan orang Yunani mencari hikmat.
Tetapi kami memberitakan Kristus yang tersalib,
suatu sandungan bagi orang Yahudi,
Tetapi bagi mereka yang dipanggil,
baik Yahudi maupun bukan Yahudi,
Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah!
Karena yang bodoh dari Allah
lebih besar hikmatnya daripada manusia,
dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 33:1-2.4-5.10ab.11,R;5b

Refren: Bumi penuh dengan kasih setia Tuhan.

*Bersorak-sorailah dalam Tuhan, hai orang-orang benar!
Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur.
Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi,
bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!

*Sebab firman Tuhan itu benar,
segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
Ia senang kepada pada keadilan dan hukum;
bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

*Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa;
Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa.
Tetapi rencana Tuhan tetap selama-lamanya,
rancangan hati-Nya turun-temurun.



Bait Pengantar Injil
Luk 21:36

Berjaga-jagalah dan berdoalah selalu,
agar kalian layak berdiri di hadapan Anak Manusia.



Bacaan Injil
Mat 25:1-13

"Lihatlah pengantin datang, pergilah menyongsong dia!"

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari
Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya,
"Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis,
yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin.
Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Yang bodoh membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak.
Sedangkan yang bijaksana,
selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya.
Tetapi karena pengantin itu lama tidak datang-datang,
mengantuklah mereka semua, lalu tertidur.

Tengah malam terdengarlah suara orang berseru,
'Pengantin datang! Songsonglah dia!'
Gadis-gadis itu pun bangun semuanya
lalu membereskan pelita mereka.
Yang bodoh berkata kepada yang bijaksana,
'Berilah kami minyakmu sedikit, sebab pelita kami mau padam.'
Tetapi yang bijaksana menjawab,
'Tidak, jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kalian.
Lebih baik kalian pergi membelinya pada penjual minyak.'

Tetapi sementara mereka pergi membelinya, datanglah pengantin,
dan yang sudah siap sedia
masuk bersama dia ke dalam ruang perjamuan nikah.
Lalu pintu ditutup.
Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata,
'Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!'
Tetapi tuan itu menjawab,
'Sungguh, aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kalian.'

Karena itu, berjaga-jagalah,
sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Injil hari ini Yesus menceritakan tentang sepuluh gadis yang menantikan kedatangan mempelai. Lima membawa minyak cadangan, lima lainnya tidak. Menariknya, semuanya sama-sama mengantuk dan tertidur. Jadi persoalannya bukan siapa yang mampu terus berjaga tanpa lelah, melainkan siapa yang sudah mempersiapkan diri sebelum saat penting itu tiba.

Lima gadis yang kurang bijaksana sebenarnya membawa pelita. Mereka bukan datang tanpa persiapan sama sekali. Masalahnya, persiapan mereka tidak cukup. Ketika mempelai datang, barulah mereka menyadari minyaknya hampir habis. Mereka kemudian sibuk mencari minyak pada saat seharusnya sudah siap menyambut mempelai.

Kita pun terkadang seperti itu. Ada banyak hal penting yang kita tahu harus dilakukan, tetapi terus kita tunda. Kita tahu ada hubungan yang perlu diperbaiki, tetapi menunggu waktu yang dianggap lebih tepat. Kita tahu ada kebiasaan yang harus dihentikan, tetapi selalu mengatakan nanti. Kita ingin lebih dekat dengan Tuhan, lebih setia berdoa, lebih sungguh menjalani iman, tetapi merasa masih ada banyak waktu.

Padahal tidak semua hal bisa dibereskan pada saat terakhir.

Ada kesiapan yang hanya bisa dibangun melalui proses. Kesabaran tidak muncul mendadak ketika masalah datang. Integritas tidak bisa dicari ketika kita sedang menghadapi godaan. Kedekatan dengan Tuhan tidak bisa dipinjam dari orang lain ketika hidup sedang terguncang. Semuanya dibentuk sedikit demi sedikit melalui keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari.

Karena itu ketika lima gadis yang kehabisan minyak meminta kepada yang lain, mereka tidak bisa begitu saja memperoleh apa yang dibutuhkan. Bukan karena lima gadis yang bijaksana tidak mau berbagi. Ada sesuatu dalam kehidupan yang memang harus kita bangun sendiri. Orang lain dapat mendoakan kita, menasihati kita, menemani kita, bahkan menjadi teladan bagi kita. Tetapi mereka tidak dapat menggantikan kesetiaan kita kepada Tuhan.

Bacaan Pertama hari ini juga mengingatkan bahwa cara Tuhan sering berbeda dari cara manusia menilai sesuatu. Salib Kristus tampak sebagai kebodohan bagi dunia, tetapi justru di situlah kuasa Allah dinyatakan. Artinya, persiapan hidup beriman tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan mengesankan. Sering kali justru berupa kesetiaan sederhana: tetap berbuat benar ketika tidak ada yang melihat, tetap mengampuni ketika hati terluka, tetap berdoa ketika belum ada jawaban, dan tetap menjalankan tanggung jawab ketika hasilnya belum terlihat.

Hari ini kita bisa bertanya kepada diri sendiri: adakah sesuatu yang sebenarnya sudah lama Tuhan minta untuk saya bereskan, tetapi terus saya tunda? Adakah “minyak” yang seharusnya mulai saya persiapkan sekarang?

Yesus menutup perumpamaan ini dengan pesan, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya.” Berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam ketakutan menunggu sesuatu terjadi. Berjaga-jaga berarti menjalani hari ini dengan sungguh-sungguh, sehingga kapan pun waktunya tiba, kita tidak perlu panik mencari apa yang seharusnya sudah kita persiapkan.

Jangan baru bersiap ketika waktunya tiba. Mulailah sekarang, dari apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita hari ini.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Agustinus adalah bapa Gereja purba yang terkenal.
Ia lahir di Tagaste (sekarang: Souk-Ahras), Afrika Utara pada tanggal 13 Nopember 354.
Ibunya, Monika, seorang beriman Kristen dari sebuah keluarga yang taat agama; sedangkan ayahnya, Patrisius, seorang tuan tanah dan sesepuh kota yang masih kafir.
Berkat semangat doa Monika yang tak kunjung padam, Patrisius baru bertobat dan dipermandikan menjelang saat kematiannya. Kekafiran Patrisius sungguh berpengaruh besar pada diri anaknya Agustinus.  Karena itu Agustinus belum juga dipermandikan menjadi Kristen meskipun ia sudah besar.
Usaha ibunya untuk menanamkan benih iman Kristen padanya seolah-olah tidak berdaya mematahkan pengaruh kekafiran ayahnya.
Semenjak kecil Agustinus sudah menampilkan kecerdasan yang tinggi.
Karena itu ayahnya mencita-citakan agar ia menjadi seorang yang terkenal.
Ia masuk sekolah dasar di Tagaste.
Karena kecerdasannya, ia kemudian dikirim untuk belajar bahasa Latin dan macam-macam tulisan Latin di Madauros.
Pada usia 17 tahun, ia dikirim ke Kartago untuk belajar ilmu retorika.
Di Kartago, ia belajar dengan tekun hingga menjadi seorang murid yang terkenal.
Namun hidupnya tidak lagi tertib oleh karena pengaruh cara hidup banyak orang yang tidak mengikuti aturan­aturan moral.
Ia menganut aliran Manikeisme, suatu sekte keagamaan dari Persia yang mengajarkan bahwa semua barang material adalah buruk.
Minatnya pada aliran ini berakhir ketika ia menyaksikan kebodohan Faustus, seorang pengajar Manikeisme.
Selanjutnya selama beberapa tahun, ia meragukan semua kebenaran agama-agama.

Pada tahun 383 ia pergi ke Roma lalu ke Milano, kota pemerintahan dan kota kediaman Uskup Ambrosius.
Di Milano ia mengajar ilmu retorika.
Banyak orang Roma berbondong-bondong datang kepadanya hanya untuk mendengarkan kuliah dan pidatonya.
Di kota itu pun ia berkenalan dengan Uskup Santo Ambrosius, seorang mantan gubernur yang saleh.
Ia menyaksikan dari dekat cara hidup para biarawan yang mengikuti suatu disiplin hidup yang baik dan membahagiakan.
Mereka bijaksana, ramah dan saling mengasihi.
Hatinya tersentuh dan mulailah ia berpikir: "Apa yang mendasari hidup mereka? Injilkah yang menjiwai hidup mereka itu?"
Kecuali itu, ia sering mendengar kotbah-kotbah Uskup Ambrosius dan tertarik pada semua ajarannya.
Semuanya itu kembali menyadarkan dia akan nasihat-nasihat ibunya tatkala ia masih di Tagaste.
Suatu hari, ia mendengar suara ajaib seorang anak: "Ambil dan bacalah! ".
Tanpa banyak berpikir, ia segera menjamah Kitab Injil itu, membukanya dan membaca: "Marilah kita hidup sopan seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya" (Rom 13:13-14).
Agustinus yang telah banyak mendalami filsafat itu akhirnya terbuka pikirannya dan melihat kebenaran sejati, yakni wahyu ilahi yang dibawakan Yesus Kristus.
Ia kemudian bertobat dan bersama dengan sahabatnya Alipius, ia dipermandikan pada tahun 387.
Dalam bukunya 'Confession', ia menuliskan riwayat hidup dan pertobatannya dan dengan terus terang mengakui betapa ia sangat terbelenggu oleh kejahatan dosa dan ajaran Manikeisme.
Suara hatinya terus mendorong dia agar memperbaiki cara hidupnya seperti banyak orang lain yang meneladani Santo Antonius dari Mesir.

Pada tahun 388, ia kembali ke Afrika bersama ibunya Monika.
Di kota pelabuhan Ostia, ibunya meninggal dunia.
Tahun-tahun pertama hidupnya di Afrika, ia bertapa dan banyak berdoa bersama beberapa orang rekannya.
Kemudian ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 391, dan bertugas di Hippo sebagai pembantu uskup kota itu.
Sepeninggal uskup itu pada tahun 395, ia dipilih menjadi Uskup Hippo.
Selama 35 tahun ia menjadi pusat kehidupan keagamaan di Afrika. Rahmat Tuhan yang besar atas dirinya dimuliakannya di dalam berbagai bentuk kidung dan tulisan.
Tulisan-tulisannya meliputi 113 buah buku, 218 buah surat dan 500 buah kotbah.
Tak terbilang banyaknya orang berdosa yang bertobat karena membaca tulisan-tulisannya.
Tulisan-tulisannya itu hingga kini dianggap oleh para ahli filsafat dan teologi sebagai sumber penting dari pengetahuan rohani.
Semua kebenaran iman Kristiani diuraikan secara tepat dan mendalam sehingga mampu menggerakkan hati orang.

Sebagai seorang uskup, Agustinus sangat menaruh perhatian besar pada umatnya terutama yang miskin dan melarat. Dialah yang mendirikan asrama dan rumah sakit pertama di Afrika Utara demi kepentingan umatnya.
Agustinus meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 430 tatkala bangsa Vandal mengepung Hippo.
Jenazah Agustinus berhasil diamankan oleh umatnya dan kini dimakamkan di basilik Santo Petrus.

Santo Hermes, Martir
Hermes adalah prefek kota Roma yang kemudian bertobat dan menjadi Kristen. Ia dibunuh bersama Paus Aleksander I pada tahun 116 pada masa pemerintahan Kaisar Hadrianus. Jenazahnya dimakamkan di Jalan Salasia, Roma.

Santo Musa Hitam, Pengaku iman
Musa berasal dari Etiopia. Ia bekerja pada seorang majikan kaya raya, namun kemudian dipecat karena melakukan banyak kesalahan dalam tugasnya. Lalu ia menjadi pemimpin suatu kawanan perampok yang merajalela di Mesir.
Oleh sentuhan rahmat Tuhan, ia sekonyong-konyong bertobat dan menjadi biarawan yang saleh sehingga dianggap layak untuk ditahbiskan menjadi imam. Ketika ia mengenakan jubah putih untuk merayakan misa pertama, Uskup berseru: "Lihatlah, orang hitam ini kini menjadi putih bersih!" Musa menjawab: "Itu bagian luarnya saja! Tuhan lebih tahu, bahwa hatiku masih hitam seperti kulitku".
Pada waktu suku Berber mengobrak-abrik biaranya, ia tidak melawan sedikit pun dan membiarkan diri dibunuh. Di biaranya - Dair al Baramus di Wadi Natrun - hingga kini para biarawan masih terus mendendangkan madah pujian kepada Tuhan dan berdoa dengan perantara­annya. Ia meninggal pada tahun 395.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-08-27 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXI

Kamis, 27 Agustus 2026

PW S. Monika



Bacaan Pertama
1Kor 1:1-9

"Di dalam Kristus kalian telah menjadi kaya dalam segala hal."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus
kepada Jemaat di Korintus;

Dari Paulus
yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus,
dan dari Sostenes, saudara kita,
kepada jemaat Allah di Korintus,
yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus
dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus,
serta kepada saudara sekalian di mana pun,
yang berseru kepada nama Yesus Kristus,
Tuhan mereka dan Tuhan kita.
Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita,
dan dari Tuhan Yesus Kristus
menyertai kalian.
Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kalian,
atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kalian
dalam Kristus Yesus.
Sebab di dalam Kristus kalian telah menjadi kaya dalam segala hal:
dalam segala macam perkataan dan pengetahuan,
sesuai dengan kesaksian tentang Kristus
yang telah diteguhkan di antara kalian,
sehingga kalian tidak kekurangan dalam suatu karunia pun
sementara kalian menantikan penampakan Tuhan kita Yesus Kristus.
Dia juga akan meneguhkan kalian sampai kesudahannya,
sehingga kalian tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.
Sebab setialah Allah
yang telah memanggil kalian
kepada persekutuan dengan Putera-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita.

Demikianlah sabda Tuhan.

ATAU BACAAN LAIN:
Sir 26:1-4.13-16

Pembacaan dari Kitab Putra Sirakh:

Berbahagialah suami dari istri yang baik,
umurnya akan berlipat ganda.
Istri berbudi menggembirakan suaminya,
yang dengan tenteram akan menggenapi umurnya.
Istri yang baik adalah harta indah,
yang dianugerahkan kepada orang yang takut pada Tuhan.
Entah kaya, entah miskin, giranglah hatinya,
dan selalu cerialah roman mukanya.

Keelokan istri menyenangkan suaminya,
tetapi kepandaiannya membesarkan hatinya.
Suatu anugerah dari Tuhanlah istri pendiam,
dan tak terbayarlah nilai istri yang terdidik.
Karunia berlipat-dualah seorang istri yang sopan,
dan perempuan murni tidak ada imbangannya.
Laksana matahari yang sedang terbit di atas pegunungan Tuhan,
demikianlah keelokan istri baik
di tengah rumah tangga yang rapih.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 145:2-3.4-5.6-7,R:1

Refren: Aku hendak memuji nama-Mu selama-lamanya,
ya Allah Rajaku.

*Setiap hari aku hendak memuji Engkau,
dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.
Besarlah Tuhan dan sangat terpuji;
kebesaran-Nya tidak terselami.

*Angkatan demi angkatan akan memegahkan karya-karya-Mu,
dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.
Semarak kemuliaan-Mu yang agung akan kukidungkan,
dan karya-karya-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.

*Kekuatan karya-karya-Mu yang dahsyat akan dimaklumkan,
dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.
Kenangan akan besarnya kebaikan-Mu akan dimasyhurkan,
orang akan bersorak-sorai tentang keadilan-Mu.

ATAU MAZMUR LAIN:
Mzm 131:1.2.3

Refren: Tuhan, peliharalah damai-Mu dalam batinku.

*Tuhan, aku tidak tinggi hati,
dan tidak memandang dengan sombong;
aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar
atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.

*Sungguh, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;
seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya,
ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.

*Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel,
dari sekarang sampai selama-lamanya.



Bait Pengantar Injil
Mat 24:42a.44

Berjaga-jaga dan bersiap-siaplah,
sebab kalian tidak tahu bilamana Anak Manusia datang.



Bacaan Injil
Mat 24:42-51

"Hendaknya kalian selalu siap siaga."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,
"Berjaga-jagalah,
sebab kalian tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
Tetapi ketahuilah ini:
Jika tuan rumah tahu
pada waktu mana pencuri datang waktu malam,
pastilah ia berjaga-jaga dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar.
Sebab itu hendaklah kalian selalu siap siaga,
sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga."

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana,
yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya
untuk memberi makan kepada mereka pada waktunya?
Berbahagialah hamba,
yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya itu,
ketika tuannya datang.
Aku berkata kepadamu:
Sungguh, tuan itu akan mengangkat dia
menjadi pengawas segala miliknya.

Akan tetapi jika hamba itu jahat, dan berkata di dalam hatinya,
'Tuanku tidak datang-datang,'
lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain,
dan makan minum bersama para pemabuk,
maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak ia sangka,
dan pada saat yang tidak ia ketahui.
Maka hamba itu akan dibunuhnya
dan dibuatnya senasib dengan orang-orang munafik.
Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi."

Demikianlan sabda Tuhan.

ATAU BACAAN LAIN:
Luk 7:11-17

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa
Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain.
Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia.
Ketika Yesus mendekati pintu gerbang kota,
ada orang mati diusung ke luar,
yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda,
dan banyak orang kota itu menyertai janda tersebut.
Melihat janda itu,
tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan.
Lalu Tuhan berkata kepadanya, "Jangan menangis!"
Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya.
Maka para pengusung berhenti.
Tuhan berkata,
"Hai Pemuda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"
Maka bangunlah pemuda itu, duduk dan mulai berbicara.
Lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya.
Semua orang itu ketakutan,
dan mereka memuliakan Allah sambil berkata,
"Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,"
dan, "Allah telah mengunjungi umat-Nya."
Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea
dan di seluruh daerah sekitarnya.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Kita semua sedang menunggu sesuatu. Ada yang menunggu doanya dikabulkan, menunggu keadaan berubah, menunggu persoalan selesai, menunggu orang lain berubah, menunggu kesempatan datang, bahkan mungkin menunggu Tuhan menunjukkan jalan yang lebih jelas. Masalahnya, ketika terlalu sibuk menunggu, kita bisa lupa bahwa hidup tetap harus dijalani dan ada sesuatu yang tetap harus kita kerjakan hari ini.

Yesus berkata dalam Injil, berbahagialah hamba yang ketika tuannya datang, didapati sedang melakukan tugasnya. Menarik, Yesus tidak mengatakan berbahagialah orang yang berhasil menebak kapan tuannya datang. Yang dipuji justru orang yang tetap bekerja dengan setia.

Inilah kesiapsiagaan yang dimaksud Yesus. Berjaga-jaga bukan berarti duduk sambil terus melihat ke arah pintu, menunggu Tuhan datang. Berjaga-jaga berarti tetap melakukan apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita, meskipun kita tidak tahu kapan hasilnya terlihat, kapan doa kita dijawab, atau kapan keadaan berubah.

Rasul Paulus juga menulis kepada jemaat di Korintus bahwa mereka sedang menantikan kedatangan Tuhan, tetapi pada saat yang sama mereka telah diperlengkapi dengan berbagai karunia. Artinya, penantian orang beriman bukan penantian yang kosong. Tuhan sudah memberi sesuatu untuk kita kerjakan selama menunggu.

Terkadang kita berkata, “Nanti kalau keadaan sudah lebih baik, saya akan mulai.” Nanti kalau punya waktu, saya akan lebih banyak berdoa. Nanti kalau pekerjaan sudah tidak terlalu sibuk, saya akan melayani. Nanti kalau hubungan sudah membaik, saya akan mengampuni. Nanti kalau kesempatan datang, saya akan melakukan sesuatu yang berguna.

Tanpa disadari, kata “nanti” bisa menjadi tempat yang nyaman untuk menunda kehidupan.

Padahal mungkin Tuhan tidak sedang meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan dengan jujur, ada keluarga yang perlu diperhatikan, ada orang yang membutuhkan kehadiran kita, ada kesalahan yang perlu diperbaiki, ada hubungan yang perlu dipulihkan, ada talenta yang perlu digunakan, ada pelayanan yang tetap harus dijalankan.

Santa Monika yang kita peringati hari ini memberi contoh yang sangat kuat. Ia menunggu bertahun-tahun untuk pertobatan Agustinus. Tetapi ia tidak sekadar menunggu. Ia berdoa, berharap, bertahan dalam iman dan terus membawa putranya dalam doanya kepada Tuhan. Penantiannya menjadi sebuah tindakan iman. Dan akhirnya ia melihat buah dari ketekunannya.

Kita sering ingin Tuhan segera mengubah keadaan. Tetapi selama keadaan itu belum berubah, mungkin Tuhan justru sedang mengubah kita. Ketekunan dibentuk ketika kita tetap melakukan yang baik meskipun hasilnya belum kelihatan. Kesetiaan dibentuk ketika kita tetap berjalan meskipun belum tahu bagaimana akhirnya.

Maka jangan menghabiskan hidup hanya dengan menunggu hari yang lebih baik. Kerjakanlah apa yang dapat kita kerjakan hari ini.

Kalau sedang menunggu jawaban Tuhan, tetaplah berdoa dan lakukan bagian kita. Kalau sedang menunggu kesempatan, persiapkan diri. Kalau sedang menunggu seseorang berubah, jangan berhenti menjadi pribadi yang baik. Kalau sedang menunggu keadaan membaik, jangan berhenti melakukan kebaikan yang masih mungkin dilakukan.

Sebab ketika Tuhan datang, pertanyaan-Nya mungkin bukan, “Berapa lama engkau menunggu Aku?”

Tetapi, “Apa yang engkau kerjakan selama menunggu?”

Hari ini kita diingatkan: **jangan hanya menunggu, tetaplah mengerjakan.** Semoga ketika Tuhan datang, Ia mendapati kita bukan sedang berpangku tangan, melainkan sedang setia mengerjakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.

Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Monika, Janda
Monika, ibu Santo Agustinus dari Hippo, adalah seorang ibu teladan. Iman dan cara hidupnya yang terpuji patut dicontoh oleh ibu-ibu Kristen terutama mereka yang anaknya tersesat oleh berbagai ajaran dan bujukan dunia yang menyesatkan. Riwayat hidup Monika terpaut erat dengan hidup anaknya Santo Agustinus yang terkenal bandel sejak masa mudanya. Monika lahir di Tagaste, Afrika Utara dari sebuah keluarga Kristen yang saleh dan beribadat. Ketika berusia 20 tahun, ia menikah dengan Patrisius, seorang pemuda kafir yang cepat panas hatinya.
Dalam kehidupannya bersama Patrisius, Monika mengalami tekanan batin yang hebat karena ulah Patrisius dan anaknya Agustinus. Patrisius mencemoohkan dan menertawakan usaha keras isterinya mendidik Agustinus menjadi seorang pemuda yang luhur budinya.  Namun semuanya itu ditanggungnya dengan sabar sambil tekun berdoa untuk memohon campur tangan Tuhan. Bertahun-tahun lamanya tidak ada tanda apa pun bahwa doanya dikabulkan Tuhan. Baru pada saat-saat terakhir hidupnya, Patrisius bertobat dan minta dipermandikan. Monika sungguh bahagia dan mengalami rahmat Tuhan pada saat-saat kritis hidup suaminya.
Ketika itu Agustinus berusia 18 tahun dan sedang menempuh pendidikannya di kota Kartago. Cara hidupnya semakin menggelisahkan hati ibunya karena telah meninggalkan imannya dan memeluk ajaran Manikeisme yang sesat itu. Lebih dari itu, di luar perkawinan yang sah, ia hidup dengan seorang wanita hingga melahirkan seorang anak yang diberi nama Deodatus. Untuk menghindarkan diri dari keluhan ibunya, Agustinus pergi ke Italia. Namun ia sama sekali tidak luput dari doa dan air mata ibunya.
Monika berlari meminta bantuan kepada seorang uskup. Kepadanya uskup itu berkata: "Pergilah kepada Tuhan! Sebagaimana engkau hidup, demikian pula anakmu, yang baginya telah kau curahkan begitu banyak air mata dan doa permohonan, tidak akan binasa. Tuhan akan mengembalikannya kepadamu". Nasehat pelipur lara itu tidak dapat menenteramkan batinnya. Ia tidak tega membiarkan anaknya lari menjauhi dia, sehingga kemudian ia menyusul anaknya ke Italia. Di sana ia menyertai anaknya di Roma maupun di Milano. Di Milano, Monika berkenalan dengan Uskup Santo Ambrosius. Akhirnya oleh teladan dan bimbingan Ambrosius, Agustinus bertobat dan bertekad untuk hidup hanya bagi Allah dan sesamanya. Saat itu bagi Monika merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya. Hal ini terlukis di dalam kesaksian Agustinus sendiri perihal perjalanan mereka pulang ke Afrika: "Kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik, sambil melupakan liku-liku masa lampau dan menyongsong hari depan. Kami bertanya-tanya, seperti apakah kehidupan para suci di surga. Dan akhirnya dunia dengan segala isinya ini tidak lagi menarik bagi kami. Ibu berkata: "Anakku, bagi ibu sudah tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang memikat hatiku. Ibu tidak tahu untuk apa mesti hidup lebih lama. Sebab, segala harapan ibu di dunia ini sudah terkabul". Dalam tulisan lain, Agustinus mengisahkan pembicaraan penuh kasih antara dia dan ibunya di Ostia: "Sambil duduk di dekat jendela dan memandang ke laut biru yang tenang, ibu berkata: "Anakku, satu-satunya alasan yang membuat aku masih ingin hidup sedikit lebih lama lagi ialah aku mau melihat engkau menjadi seorang Kristen sebelum aku menghembuskan nafasku. Hal itu sekarang telah dikabulkan Allah, bahkan lebih dari itu, Allah telah menggerakkan engkau untuk mempersembahkan dirimu sama sekali kepadaNya dalam pengabdian yang tulus kepadaNya. Sekarang apa lagi yang aku harapkan?"
Beberapa hari kemudian, Monika jatuh sakit. Kepada Agustinus, ia berkata: "Anakku, satu-satunya yang kukehendaki ialah agar engkau mengenangkan daku di altar Tuhan". Monika akhirnya meninggal di Ostia, Roma. Teladan hidup Santa Monika menyatakan kepada kita bahwa doa yang tak kunjung putus, tak dapat tiada akan didengarkan Tuhan.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/