Liturgia Verbi 2026-03-01 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Prapaskah II

Minggu, 1 Maret 2026

Ujud Gereja Universal: Pelucutan senjata dan perdamaian.
Semoga bangsa-bangsa mengusahakan pelucutan senjata yang efektif, khususnya pelucutan senjata nuklir, dan pemimpin dunia memilih jalan dialog serta diplomasi daripada kekerasan.


Ujud Gereja Indonesia: Masyarakat adat.
Semoga masyarakat di pedalaman dapat mempertahankan kekayaan dan keluhuran budaya asli mereka, dalam kesela-rasan dengan alam dan perkembangan zaman.



Bacaan Pertama
Kej 12:1-4a

"Panggilan Abraham, bapa umat Allah."

Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram,
"Tinggalkanlah negerimu, dari sanak saudaramu dan rumah bapamu ini,
dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar,
dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur;
dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau,
dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau.
Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau."
Maka berangkatlah Abram sesuai dengan sabda Tuhan.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 33:4-5.18-19.20.22,R:22

Refren: Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami,
seperti kami berharap kepada-Mu.

*Firman Tuhan itu benar,
segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
Ia senang kepada keadilan dan hukum;
bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

*Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa,
kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya;
Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut
dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

*Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan.
Dialah penolong dan perisai kita.
Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami,
seperti kami berharap kepada-Mu.



Bacaan Kedua
2Tim 1:8b-10

"Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus yang kedua kepada Timotius:

Saudaraku terkasih,
berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus!
Dialah yang menyelamatkan kita
dan memanggil kita dengan panggilan kudus,
bukan berdasarkan perbuatan kita,
melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri.
Semuanya ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus
sebelum permulaan zaman,
dan semua itu sekarang dinyatakan
oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut
dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 17:5c

Dari dalam awan yang terang terdengarlah suara Bapa,
"Inilah Anak yang Kukasihi; dengarkanlah Dia!"



Bacaan Injil
Mat 17:1-9

"Wajah-Nya bercahaya seperti Matahari."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya,
dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi.
Di situ mereka sendirian saja.
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka;
wajah-Nya bercahaya seperti matahari,
dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Maka nampak kepada mereka
Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus.
Kata Petrus kepada Yesus,
"Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.
Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah,
satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."

Sementara Petrus berkata begitu,
tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka,
dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata,
"Inilah Anak yang Kukasihi,
kepada-Nyalah Aku berkenan,
dengarkanlah Dia!"
Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus
dan mereka sangat ketakutan.
Lalu Yesus datang kepada mereka.
Ia menyentuh mereka sambil berkata,
"Berdirilah, jangan takut!"
Dan ketika mengangkat kepala,
mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung,
Yesus berpesan kepada mereka,
"Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun
sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma, dari renungan The Power of Word:

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Dikisahkan dalam Injil hari ini,
Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke gunung yang tinggi.
Di sana Yesus berubah rupa.
Wajah-Nya bercahaya seperti matahari,
dan pakaian-Nya putih berkilau.

Para murid melihat sekilas kemuliaan Tuhan.
Sebuah pengalaman rohani yang begitu indah,
yang membuat Petrus berkata,
"Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini."

Tetapi pengalaman itu tidak lama.
Mereka harus turun kembali dari gunung.
Turun ke dalam kehidupan nyata.
Turun menuju jalan penderitaan.

Begitu pula pada Bacaan Pertama dari Kitab Kejadian 12:1-4a,
ditulis tentang Abrahaman yang diminta Allah untuk meninggalkan zona nyaman,
menuju negeri yang belum ia ketahui.
Tuhan berkata kepada Abraham,
"Pergilah dari negerimu… ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu."
Tidak ada penjelasan rinci, tidak ada kepastian yang terlihat.
Hanya janji Tuhan, tetapi Abraham percaya.
Ia melangkah.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
sering kali dalam kehidupan keluarga,
kita pun berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya kita pahami.

Sebagai seorang ibu,
ada saat-saat saya berdoa untuk anak-anak,
untuk masa depan mereka,
untuk keputusan-keputusan yang harus mereka ambil,
namun saya tidak melihat jawabannya secara langsung.

Kadang ada kekhawatiran, kadang ada pertanyaan dalam hati:
"Tuhan, Engkau sedang membawa kami ke mana?"

Namun di situlah iman bertumbuh.
Iman bukan soal melihat semuanya dengan jelas.
Iman adalah tetap percaya ketika jalan masih samar.
Iman adalah tetap berjalan meski belum tahu seluruh rencana Tuhan.

Para murid hanya diberi sekilas kemuliaan di gunung,
agar ketika mereka menghadapi salib,
mereka tetap ingat siapa Yesus yang mereka ikuti.

Begitu pula dalam hidup kita.
Kadang Tuhan memberi kita sekilas penghiburan.
Sekilas damai dalam doa.
Sekilas jawaban atas pergumulan.
Mungkin belum lengkap.
Belum seluruhnya.
Tetapi cukup untuk membuat kita terus percaya.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Mari kita refleksikan:
Apakah saya hanya percaya ketika semuanya sesuai dengan harapan saya?
Ataukah saya mau tetap percaya walau saya belum melihat hasilnya?

Percaya bukan berarti memahami semua rencana Tuhan.
Percaya berarti menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya.

Semoga kita belajar dari Abraham yang berani melangkah,
karena Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang setia menyertai.
Amin.

Doa Penutup:

Marilah kita berdoa.
Ya Allah Bapa yang setia,
kami bersyukur karena Engkau selalu berjalan bersama kami,
bahkan ketika kami belum melihat arah yang jelas.
Teguhkanlah iman kami dalam kehidupan keluarga kami,
agar kami tetap percaya dan setia mengikuti kehendak-Mu.
Ajarlah kami untuk berserah dan tidak takut melangkah bersama-Mu.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Felix III (II), Paus
Felix berasal dari sebuah keluarga berdarah Romawi. la menjadi paus menggantikan Paus Santo Simplisius pada tahun 483. la dinamakan Felix III (II) karena kira-kira pada tahun 365 ada seorang paus tandingan yang menamakan dirinya Felix lI.
Selama masa kepausannya, Felix menghadapi bidaah Monophysitisme yang menolak ajaran iman tentang kedwitunggalan kodrat Yesus Kristus: Ilahi sekaligus Manusiawi. Untuk memecahkan masalah itu, Kaisar Zeno mengeluarkan suatu rumusan kesatuan yang bermakna ganda, yang disebut Henotikon. Rumusan ini tidak disetujui baik oleh Sri Paus maupun oleh pengikut aliran bidaah Monophisitisme.
Demi pemecahan selanjutnya, Sri Paus Felix memanggil Acacius, Patriark Konstantinopel, penyusun rumusan itu. Acacius menolak datang ke Roma. Maka dia diekskomunikasikan oleh Felix III. Sejak berlakunya ekskomunikasi ini, skisma Acacian mulai tersebar dan terus berkembang hingga kematian Felix III pada tanggal 1 Maret 492.

Santo David, Pengaku Iman
David mungkin lahir di Cardigan, Wales, Inggris pada tahun 520 dari sebuah keluarga bangsawan. la terkenal sebagai seorang biarawan yang aktif mendirikan biara-biara: kurang lebih ada 12 biara yang didirikannya. Dari antara biara-biara itu, biara Menevia di bagian baratdaya Wales adalah biara pusat sekaligus menjadi tempat tinggalnya sebagai pimpinan tertinggi.
Dalam kedudukannya itu David memainkan peranan besar dalam perkembangan Gereja Keltik. Banyak perintis Gereja Irlandia dididik di Menevia; antara lain Santo Finnianus dari Clonard, yang dijuluki sebagai Bapa Monastik Irlandia. Ketenaran namanya pada zaman itu dapat dilihat dari begitu banyak gereja kuno - lebih dari 50 buah gereja - di bagian selatan Wales yang memilih dia sebagai pelindungnya. David meninggal dunia pada tahun 601 di Menevia. la digelari kudus pada tahun 1120 pada masa kepemimpinan Sri Paus Kalistus II (1119-1124), dan diangkat sebagai pelindung suci Wales.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-28 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Prapaskah I

Sabtu, 28 Februari 2026



Bacaan Pertama
Ul 26:16-19

"Engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu."

Pembacaan dari Kitab Ulangan:

Di padang gurun seberang Sungai Yordan
Musa berbicara kepada bangsanya,
"Pada hari ini Tuhan, Allahmu, memerintahkan engkau
melakukan ketetapan dan peraturan;
lakukanlah semuanya itu dengan setia,
dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu.
Pada hari ini engkau telah menerima janji dari Tuhan:
Ia akan menjadi Allahmu,
dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya,
dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya,
dan mendengarkan suara-Nya.
Dan pada hari ini pula
Tuhan telah menerima janji dari padamu
bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya,
seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu,
dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya.
Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa
seperti yang telah dijanjikan-Nya,
untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat.
Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu,
seperti yang dijanjikan-Nya."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 119:1-2.4-5.7-8,R:1

Refren: Berbahagialah orang yang hidup menurut Taurat Tuhan.

*Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela,
yang hidup menurut Taurat Tuhan.
Berbahagialah orang-orang yang memegang
peringatan-peringatan-Nya,
yang mencari Dia dengan segenap hati.

*Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu,
supaya dipegang dengan sungguh-sungguh.
Kiranya hidupku mantap
untuk berpegang pada ketetapan-Mu!

*Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur,
apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.
Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu,
janganlah tinggalkan aku sama sekali.



Bait Pengantar Injil
2Kor 6:2b

Waktu ini adalah waktu perkenanan.
Hari ini adalah hari penyelamatan.



Bacaan Injil
Mat 5:43-48

"Haruslah kamu sempurna,
sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Kamu telah mendengar firman:
Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Kasihilah musuh-musuhmu,
dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Karena dengan demikian
kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.
Sebab Ia membuat matahari-Nya terbit
bagi orang yang jahat dan bagi orang yang baik pula,
hujan pun diturunkan-Nya
bagi orang yang benar dan juga orang yang tidak benar.
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu,
apakah upahmu?
Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,
apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain?
Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
Karena itu haruslah kamu sempurna,
sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambilkan dari renungan Daily Fresh Juice yang dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma:

*Sempurna dalam Kasih*

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,

Injil hari ini diambil dari Mat 5:43-48. Di bagian akhir bacaan itu, Yesus berkata: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna."  [Mat 5:48]

Kalimat ini terdengar sangat tinggi, bahkan mungkin terasa mustahil. Menjadi sempurna? Siapa yang bisa?

Kalau kita jujur, menjadi baik saja sudah tidak mudah. Kita cenderung berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita. Kita ramah kepada mereka yang ramah kepada kita. Kita menolong mereka yang pernah menolong kita. Itu wajar, itu manusiawi.

Tetapi Yesus membawa kita melangkah lebih jauh. Ia berkata, "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."  [Mat 5:44]

Di sinilah standar kesempurnaan Allah itu menjadi nyata.

Allah Bapa menurunkan hujan bukan hanya untuk orang baik. Matahari terbit bukan hanya untuk orang yang rajin berdoa. Udara yang kita hirup tidak dibatasi hanya untuk mereka yang saleh. Semua orang menerima kebaikan Tuhan, entah ia bersyukur atau tidak.

Kesempurnaan yang dimaksud Yesus bukanlah tanpa salah, bukan pula menjadi manusia tanpa cela. Kesempurnaan yang dimaksud adalah kesempurnaan dalam kasih. Kasih yang tidak tebang pilih. Kasih yang tidak menghitung untung rugi. Kasih yang tetap mengalir meski hati kita pernah terluka.

Dalam kehidupan zaman sekarang, ini terasa sangat menantang. Di media sosial, orang mudah sekali menghakimi. Di lingkungan kerja, orang bisa saling menjatuhkan demi posisi. Dalam keluarga pun kadang ada kata-kata yang menyakitkan, sikap yang melukai.

Masih lebih mudah untuk menahan diri agar tidak membalas. Masih lebih mudah untuk diam dan menjaga jarak. Tetapi untuk sungguh-sungguh mendoakan orang yang menyakiti kita? Untuk berharap yang baik terjadi dalam hidupnya? Itu jauh lebih sulit.

Sering kali kita berkata, "Saya sudah memaafkan, tapi saya tidak bisa lagi seperti dulu." Itu manusiawi. Namun Yesus mengajak kita melangkah lebih dalam: bukan sekadar tidak membalas, tetapi tetap mengasihi.

Mengasihi musuh bukan berarti membenarkan kesalahannya. Bukan berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti. Tetapi mengasihi berarti kita tidak membiarkan kebencian tinggal dan berakar di hati kita. Kita tidak memberi ruang bagi dendam untuk menguasai hidup kita.

Kesempurnaan menurut Yesus adalah ketika hati kita semakin menyerupai hati Bapa. Hati yang luas. Hati yang murah hati. Hati yang tetap memberi walau tidak selalu dihargai.

Mungkin kita belum mampu langsung mengasihi. Tetapi kita bisa mulai dengan satu langkah kecil: mendoakan. Walau awalnya doa itu terasa berat. Walau mungkin doa itu keluar dengan air mata.

Dari doa yang tulus, perlahan hati kita akan diubah. Bukan orang lain dulu yang berubah, tetapi kita. Dan di situlah kesempurnaan itu mulai bertumbuh — bukan dalam bentuk kesempurnaan yang tanpa cela, melainkan kesempurnaan kasih yang makin dewasa.

Semoga hari ini kita berani melangkah satu tingkat lebih tinggi dalam kasih. Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Antonia, Abbas
Antonia adalah seorang ibu rumah tangga yang saleh. Sepeninggal suaminya, ia memutuskan mengabdikan sisa hidupnya kepada Tuhan dengan menjalani kehidupan sebagai seorang biarawati.
Kemudian dengan bantuan Santo Yohanes Kapistrano, ia mendirikan sebuah biara Klaris yang lebih tegas aturannya di Firenze, ltalia. la sendiri menjadi pemimpin biara itu, hingga hari kematiannya pada tahun 1472.


Santo Hilarus, Paus
Hilarus berasal dari Sardinia. la terpilih sebagai paus menggantikan Paus Leo I (440-461) pada tangga119 November 461. Sebelum menjadi paus, Hilarus melayani umat sebagai diakon selama masa kepemimpinan Paus Leo I. Ketika diadakan konsili di Efesus pada tahun 449, untuk membicarakan tindakan ekskomunikasi atas diri Eutyches, se- orang penyebar ajaran sesat, Hilarus diutus sebagai wakil Paus Leo I.
Selama kepemimpinannya sebagai Paus, Hilarus mengawasi pembangunan beberapa gedung di Roma. Salah satunya ialah Oratorium yang dipersembahkan kepada Santo Yohanes Penginjil.  Selain itu, ia juga berusaha menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di dalam tubuh Gereja sendiri. Dalam kerangka itu, ia memimpin sebuah sinode di Roma pada tanggal 19 November 462 untuk membicarakan berbagai masalah yang ada di dalam Gereja di Gaul, Prancis. Selanjutnya pada tanggal 19 November 465, ia mengadakan lagi sebuah sinode untuk membicarakan hal pengangkatan dan kuasa yurisdiksi para Uskup Spanyol.
Hilarus meninggal dunia pada tanggal 29 Februari 468 dan dimakamkan di gereja Santo Laurensius di Roma.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-27 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Prapaskah I

Jumat, 27 Februari 2026



Bacaan Pertama
Yeh 18:21-28

"Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik?
Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup?"

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Beginilah Tuhan Allah berfirman,
"Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya
dan berpegang pada segala ketetapan-Ku
serta melakukan keadilan dan kebenaran,
ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi,
ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya.
Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik?
Demikianlah firman Tuhan Allah.
Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup?

Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya
dan melakukan kecurangan
seperti segala kekejian yang dilakukan orang fasik,
apakah ia akan hidup?
Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi.
Ia harus mati karena ia berubah setia,
dan karena dosa yang dilakukannya.

Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat!
Dengarlah dulu, hai kaum Israel!
Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat
ataukah tindakanmu yang tidak tepat?

Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya
dan melakukan kecurangan sehingga ia mati,
ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.
Sebaliknya,
kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya
dan ia melakukan keadilan dan kebenaran,
ia akan menyelamatkan nyawanya.
Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya,
maka ia pasti hidup, ia tidak akan mati."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 130:1-2.3-4ab.4c-6.7-8,R:3

Refren: Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan,
siapakah yang dapat tahan?

*Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan!
Tuhan, dengarkanlah suaraku!
Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian
kepada suara permohonanku.

*Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan,
siapakah yang dapat tahan?
Tetapi pada-Mu ada pengampunan,
maka orang-orang takwa kepada-Mu.

*Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti,
dan aku mengharapkan firman-Nya.
Jiwaku mengharapkan Tuhan
lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.
Lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi,
berharaplah kepada Tuhan, hai Israel!

*Sebab pada Tuhan ada kasih setia,
dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.
Dialah yang akan membebaskan Israel
dari segala kesalahannya.



Bait Pengantar Injil
Yeh 18:31

Buangkanlah daripadamu,
segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, sabda Tuhan,
dan perbaharuilah hati serta rohmu.



Bacaan Injil
Mat 5:20-26

"Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,
"Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kalian telah mendengar
apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita:
Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum;
barangsiapa berkata kepada saudaranya: Kafir!
harus dihadapkan ke Mahkamah Agama
dan siapa yang berkata: Jahil!
harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu,
jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah
dan engkau teringat akan sesuatu
yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahan di depan mezbah itu,
dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,
lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu
selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan,
supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,
dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,
dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,
sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Yesus dalam Injil hari ini [Mat 5:20-26] berbicara sangat tegas. Ia bahkan mengatakan bahwa jika hidup keagamaan kita tidak lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalimat ini tidak ringan. Ini seperti sebuah alarm rohani.

Namun yang paling menggetarkan bagi saya justru bagian ini: jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahan itu, pergilah berdamai dahulu, lalu kembali.

Artinya apa? Artinya relasi lebih dulu daripada ritus. Hati lebih dulu daripada altar. Perdamaian lebih dulu daripada persembahan.

Saya membayangkan ketika saya sudah duduk manis di ruang gereja, sudah berpakaian rapi, sudah menyiapkan uang kolekte untuk persembahan, sudah mengikuti tata ibadah dengan tertib. Tetapi tiba-tiba saya teringat: ada seseorang yang hatinya terluka karena saya. Mungkin saya pernah berkata kasar. Mungkin saya diam ketika seharusnya membela. Mungkin saya menyimpan gengsi untuk tidak meminta maaf.
Dan Yesus berkata: tinggalkan dulu itu semua. Pergi. Selesaikan. Berdamai.
Ini tidak mudah untuk saya turuti sebab seringnya saya ke gereja ditemani istri dan anak-anak, dan saya pun tak tahu mesti pergi kemana mencari orang itu, iya kalau dia lagi di rumah.
Saya tidak sedang mencari-cari alasan.
Saya tahu bukan maksud Yesus saya melakukannya secara fisik jasmani melainkan secara rohani, bahwa saya mesti menunda persembahan dan doa permohonan saya sampai ada kesempatan untuk berdamai dan tentu kesempatan itu mesti didahulukan.

Ini sangat berbeda dengan pola pikir religius yang sering kita miliki. Kita cenderung berpikir: yang penting saya datang ke gereja, saya berdoa, saya memberi persembahan, saya ikut pelayanan. Soal relasi yang retak, nanti saja. Soal konflik, nanti saja. Soal luka hati orang lain, itu urusan dia.
Tetapi Yesus membalik semuanya.
Ibadah tanpa rekonsiliasi adalah kosong.

Bacaan dari Yeh 18:21-28 menegaskan hal yang sama. Allah berfirman bahwa jika orang fasik berbalik dari dosanya dan melakukan keadilan serta kebenaran, ia akan hidup. Allah tidak berkenan pada kematian orang fasik, melainkan pada pertobatannya. Jadi yang Allah lihat bukan sekadar label "orang benar" atau "orang berdosa", tetapi arah hati: apakah ia mau berbalik atau tidak.
Dan pertobatan yang sejati selalu konkret. Bukan hanya berkata dalam doa, "Tuhan ampunilah saya," tetapi juga berani berkata kepada sesama, "Maafkan saya."

Saya belajar satu hal dalam perjalanan hidup: menjaga citra jauh lebih mudah daripada merendahkan diri. Lebih mudah menyumbang daripada meminta maaf. Lebih mudah melayani di depan umum daripada mengakui kesalahan di ruang pribadi.
Kadang kita merasa sudah benar, karena kita tidak marah, tidak membalas, tidak berteriak. Tetapi mungkin ada sikap dingin, ada kalimat tajam, ada keputusan sepihak yang melukai orang lain. Dan kita tahu itu. Hati kita tahu, tapi tidak melakukan apa pun sebagai tindak-lanjutnya.
Yesus tidak meminta kita menjadi sempurna tanpa salah. Ia meminta kita menjadi rendah hati untuk berdamai.

Menariknya, dalam teks ini bukan hanya soal "jika engkau marah terhadap saudaramu," tetapi "jika engkau teringat ada sesuatu dalam hati saudaramu terhadap engkau." Artinya, bahkan jika kita merasa tidak salah pun, tetapi kita tahu ada ganjalan dalam hati orang lain karena kita, kita tetap dipanggil untuk mengambil inisiatif.
Inilah standar kebenaran yang "lebih" daripada ahli Taurat dan orang Farisi: bukan sekadar taat aturan, tetapi menjaga hati dan relasi.

Saya sering merenung, berapa banyak doa kita tertahan bukan karena Tuhan tidak mendengar, tetapi karena kita menutup pintu damai dengan sesama? Berapa banyak persembahan kita terasa hampa karena ada relasi yang belum kita selesaikan?
Pertobatan bukan hanya soal meninggalkan dosa besar, tetapi juga membereskan relasi kecil yang retak. Dan setiap kali kita memilih berdamai, kita sedang memilih hidup, seperti yang dikatakan dalam Yeh 18.

Maka hari ini pertanyaannya sederhana tetapi dalam: adakah seseorang yang perlu saya datangi? Adakah percakapan yang perlu saya mulai? Adakah kata "maaf" yang sudah terlalu lama tertunda?
Mungkin justru di situlah ibadah kita yang paling sejati dimulai.



Peringatan Orang Kudus
Santo Gabriel Possenti, Pengaku Iman
Semasa kecilnya Gabriel dipanggil dengan nama Fransiskus, mengikuti nama Fransiskus Asisi, pelindung kotanya. la adalah anak bungsu seorang gubernur. Ibunya meninggal dunia ketika ia berumur 4 tahun. Teladan hidup ibunya sangat berpengaruh terutama dalam hal devosi kepada Bunda Maria. Sepeninggal ibunya yang terkasih itu, Bunda Maria menjadi tokoh pengganti yang sungguh dicintainya.
Pada umur 7 tahun, Fransiskus kecil telah diperkenankan untuk menerima Komuni Suci. Di sekolahnya ia dikenal sebagai seorang anak yang pintar, lucu dan suka berpakaian rapi. la juga menjadi seorang teman yang baik dan setia bagi kawan-kawannya. la selalu siap menolong kawan-kawannya, murah hati dan tidak biasa mengeluh apabila dihukum karena kesalahan teman-temannya. Sebagai siswa di Kolese Serikat Yesus, ia tetap unggul dan terus memegang sebutan "Sang Juara' dalam kelasnya. Karena pergaulannya yang ramah dan kelincahannya dalam olahraga, ia sangat disukai banyak orang.
Dalam mata pelajaran Kesusasteraan, ia sangat pandai, terutama dalam Sastera Latin. Ia sangat mahir bersyair dalam bahasa Latin. Sebagai seorang penggemar Sastera, ia terkenaI sebagai seorang pemain drama yang berbakat. Ketika duduk di kelas terakhir, ia diangkat sebagai Ketua Akademis para Siswa dan menjadi Prefek Kongregasi Maria. Sifatnya yang mengingini kesenangan-kesenangan duniawi masih tetap menonjol dalam praktek hidupnya. la suka membaca buku-buku roman, menonton sandiwara, berburu dan berdansa. Kehidupan rohani kurang diindahkannya.
Namun rencana Tuhan atas dirinya tampak jelas. Tuhan tetap membimbingnya. Pada saat Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, 15 Agustus 1855, diadakan perarakan patung Bunda Maria mengelilingi kota Spoleta. Uskup Agung kota Spoleta sendiri membawa patung itu. Ketika itu Fransiskus mendengar suara panggilan Bunda Maria: "Fransiskus, engkau tidak diciptakan untuk dunia ini, tetapi untuk menjalani kehidupan bakti kepada Allah di dalam biara". Fransiskus mendengar suara itu dengan takut. la merenungkan kata-kata Bunda Maria itu dengan hati terharu. Semenjak saat itu tumbuhlah keinginannya untuk masuk biara. Dia tidak melamar masuk Serikat Yesus, tempat ia bersekolah, tetapi melamar masuk Kongregasi Imam-imam Passionis.
Di dalam Kongregasi Passionis inilah ia mengganti namanya dengan Gabriel. Pada tahun 1856 ia menerima jubah Kongregasl Passionis.  Namun kehidupannya di dalam biara ini tidak lama. Ia meninggal dunia pada tahun 1862 setelah berhasil menempa dirinya menjadi seorang biarawan Passionis sejati. Selama berada di biara, Gabriel sungguh menunjukkan kesungguhan dalam menata hidup rohaninya. la benar-benar mencintai Yesus Tersalib dan Bunda Maria yang berduka. Devosi kepada Bunda Maria yang telah dilakukannya semerijak kecil terus dilakukannya hingga menjadikan hidupnya suci. Kesuciannya ternyata dari banyak mujizat yang terjadi pada setiap orang yang berdoa dengan perantaraannya. Gabriel menjadi seorang tokoh panutan bagi para kaum muda.


Santo Leander, Uskup
Leander yang menjabat sebagai Uskup Sevilla, Spanyol ini adalah kakak Santo Isidorus. Adik-adiknya Santa Florentina dan Fulgentius dinyatakan kudus juga oleh Gereja. Dengan kesalehan hidupnya dan pengaruhnya yang besar, Uskup Leander berhasil menghantar kembali Raja Hermenegild dan Rekkared beserta seluruh bangsawan Wisigoth ke dalam pangkuan Gereja Katolik.
Leander yang lahir pada tahun 540 ini menghembuskan nafas penghabisan pada tahun 600 di Sevilla, Spanyol. Jabatannya sebagai uskup diambil alih oleh Isidorus adiknya.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-26 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan

Kamis, 8 Januari 2026



Bacaan Pertama
1Yoh 4:19-5:4

"Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Saudara-saudara terkasih,
Kita harus mengasihi Allah,
karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Jikalau seorang berkata, "Aku mengasihi Allah,"
tetapi ia membenci saudaranya,
ia adalah seorang pendusta,
karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang ia lihat,
tidak mungkin ia mengasihi Allah yang tidak ia lihat.
Dan inilah perintah yang kita terima dari Dia:
Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus,
lahir dari Allah;
dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan,
mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya.
Inilah tandanya bahwa kita mengasihi anak-anak Allah,
yaitu apabila kita mengasihi Allah
serta melakukan perintah-perintah-Nya.
Sebab inilah kasih kepada Allah,
yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya.
Dan perintah-perintah-Nya itu tidak berat,
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia.
Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia:
yakni iman kita.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 72:1-2.14.15bc.17,R:11

Refren: Segala bangsa di bumi, ya Tuhan,
sujud menyembah kepada-Mu.

*Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja
dan keadilan-Mu kepada putera raja!
Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan
dan menghakimi orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!

*Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan,
darah mereka mahal di matanya.
Kiranya ia didoakan senantiasa,
dan diberkati sepanjang hari!

*Biarlah namanya tetap selama-lamanya,
kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari.
Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya,
dan menyebut dia berbahagia.



Bait Pengantar Injil
Luk 4:18-19

Tuhan mengutus Aku
menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,
dan memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan.



Bacaan Injil
Luk 4:14-22a

"Pada hari ini digenapilah Kitab Suci."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sesudah dicobai Iblis di padang gurun,
dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea.
Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.
Selama disitu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ,
dan semua orang memuji Dia.

Lalu Ia datang ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan.
Dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat
Ia masuk ke rumah ibadat,
lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya,
dan setelah membukanya,
Ia menemukan nas di mana ada tertulis:
Roh Tuhan ada pada-Ku
oleh sebab Ia telah mengurapi Aku
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
dan Ia telah mengutus Aku
untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Kemudian Yesus menutup kitab itu,
Mengembalikannya kepada pejabat, lalu Ia duduk;
dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
Lalu Yesus memulai mengajar mereka, kata-Nya,
"Pada hari ini genaplah nas tadi sewaktu kamu mendengarnya."
Semua orang itu membenarkan Dia,
dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Yesus kembali ke Nazaret, ke tempat Ia dibesarkan, ke lingkungan yang mengenal-Nya sejak kecil.

Pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat dan membaca Kitab Nabi Yesaya:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin."  [Luk 4:18]

Sesudah itu Yesus berkata, "Hari ini genaplah nas ini sementara kamu mendengarnya."  [Luk 4:21]

Kata *hari ini* menjadi kunci. Firman Tuhan tidak berhenti sebagai teks suci, tetapi menjadi hidup, menjadi arah, menjadi perutusan. Yesus tidak membaca Kitab Suci untuk menunjukkan siapa diri-Nya, melainkan untuk menyatakan untuk apa Ia diutus.

Pengurapan Roh Kudus tidak pernah berhenti pada pengalaman rohani pribadi. Pengurapan selalu berujung pada tugas, pada keberanian menghadirkan kabar baik, pembebasan, dan pemulihan bagi sesama.

Bacaan Pertama menegaskannya dengan sangat jelas: "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita."  [1Yoh 4:19]

Kasih bukan prestasi manusia, melainkan respons. Kita tidak diminta menciptakan kasih, tetapi meneruskan kasih yang sudah lebih dahulu kita terima dari Allah. Karena itu mengasihi Allah tidak bisa dipisahkan dari mengasihi sesama.

Refleksinya sederhana tetapi menantang. Ketika kita mendengar Firman Tuhan, apakah Firman itu hanya kita dengar dan kagumi, atau sungguh kita izinkan mengubah cara kita bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang lain?

Mengasihi Allah bukan pertama-tama soal doa dan ibadat yang benar, melainkan soal keberanian menghadirkan kasih di tempat yang paling dekat dengan kita: di rumah, di tempat kerja, dan di lingkungan yang mengenal kita apa adanya, bahkan yang mungkin meragukan kita, seperti Nazaret terhadap Yesus.

Roh Tuhan juga dicurahkan atas kita hari ini. Pertanyaannya, apakah Firman itu hanya berhenti di telinga, atau sungguh menjadi nyata, *genap hari ini*, dalam hidup kita.



Peringatan Orang Kudus
Santo Severinus, Paus
Severinu, anak Abienus berasal dari Roma.  Pada bulan Oktober 638, ia dipilih menjadi Paus.  Tetapi peneguhan kepausannya ditunda selama 19 bulan karena ia dituduh menganut aliran sesat Ecthesis, yang mempertahankan pendapat bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak ilahi (monothelitisme).
Perlawanan besar terhadap Severinus datang dari Ishak, pemimpin dari Ravenna.  Tetapi Severinus tetap tegas melawan bidaah itu.  Akhirnya pada bulan Mei 640 pilihan atas dirinya sebagai Paus diteguhkan dan Severinus naik takhta kepausan.  Ia meninggal duni kira-kira enam pulah hari kemudian pada bulan Agustus 640.

Santo Lusianus Beauvais, Martir
Lusianus adalah pewarta Injil terkenal di Gaul (sekarang: Prancis) pada abad ke 3.  Ia datang dari Roma dan kemungkinan beliau adalah salah seorang teman Santo Dionisius dari Paris atau teman Santo Quentinus.  Keberhasilannya dalam mewartakan Injil menyebabkan dia di hukum mati bersama rekan-rekannya di Beauvais pada masa pemerintahan Kaisar Yulianus kira-kira pada tahun 290.
Peninggalannya berupa 3 buah tempat suci logam bertuliskan namanya ditemukan di sebuah biara pada abad ke 7.  Menurut Rabanus Maurus, pada barang-barang peninggalannya itu terjadi banyak sekali mujizat.

Apolinaris dari Hieropolis
Serangan terhadap imam Kristen dan semua ajarannya merupakan suatu kenyataan yang dihadapi Gereja semenjak dahulu.  Banyak sekali Bapa Gereja yang mashyur namanya karena membela mati-matian kebenaran iman Kristen.  Apolinaris, Uskup kota Hieropolis, Phrygia, termasuk salah seorang pembela terkenal ajara iman Kristen.
Dengan kegiatan pengajarannya dan tulisan-tulisannya, ia berhasil membela kemurnian ajaran iman Kristen dari rongrongan para bidat, terutama dari golongan Encratites dan Montanist.  Ia bahkan berhasil membela ajaran iman di hadapan Kaisar Markus Aurelius.  Konon pembelaannya sungguh menyakinkan kaisar berkat sebuah mujizat yang dibuatnya dihadapan kaisar di Jerman tatkala pasukan kaisar dikepung dan dipermalukan oleh Quadi di Moravia.  Ke 12 legion tentaranya yang beragama Kristen itu diajaknya berdoa, sehingga musuh dapat dikalahkan dengan mudah.  Hasilnya ialah pemerintah mengeluarkan suatu pengumuman untuk menarik kembali larangan terhadap agama Kristen di seluruh daerah kekuasaannya.  Maka umat Kristen amat bergembira atas kemerdekaannya.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-25 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Prapaskah I

Rabu, 25 Februari 2026



Bacaan Pertama
Yun 3:1-10

"Penduduk Niniwe berbalik dari tingkah lakunya yang jahat."

Pembacaan dari Nubuat Yunus:

Tuhan berfirman kepada Yunus,
"Bangunlah, dan berangkatlah ke Niniwe, kota besar itu.
Sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu."
Maka bersiaplah Yunus,
lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah.
Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya,
tiga hari perjalanan luasnya.
Mulailah Yunus masuk ke dalam kota sehari perjalanan jauhnya,
lalu berseru,
"Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggang-balikkan."

Orang Niniwe percaya kepada Allah,
lalu mereka mengumumkan puasa;
baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
Setelah kabar sampai pada raja kota Niniwe,
turunlah raja dari singgasananya;
ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung,
lalu duduklah ia di atas abu.
Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya
orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian,
"Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba
tidak boleh makan apa-apa,
tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.
Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung
dan berseru dengan keras kepada Allah;
serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat,
dan dari kekerasan yang dilakukannya.
Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal,
serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu,
sehingga kita tidak binasa."
Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu,
yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat,
maka menyesallah Allah karena malapetaka
yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka;
dan Ia pun tidak jadi melakukannya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 51:3-4.12-13.18-19,R:19b

Refren: Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

*Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu,
menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku.
Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,
dan tahirkanlah aku dari dosaku!

*Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah,
dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku.
Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu,
dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

*Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan;
dan kalaupun kupersembahkan kurban bakaran,
Engkau tidak menyukainya.
Persembahan kepada-Mu ialah jiwa yang hancur;
hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina,
ya Allah.



Bait Pengantar Injil
Yl 2:12-13

Sekarang juga, demikianlah firman Allah,
berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu,
sebab Aku ini pengasih dan penyayang.



Bacaan Injil
Luk 11:29-32

"Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Sekali peristiwa
Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia,
"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.
Mereka menuntut suatu tanda,
tetapi mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe,
demikian pulalah
Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini.
Pada waktu penghakiman
ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini
dan akan menghukum mereka:
Sebab ratu ini datang dari ujung bumi
untuk mendengarkan hikmat Salomo,
dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Salomo!
Pada waktu penghakiman,
orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini
dan mereka akan menghukumnya.
Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat
waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus,
dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Yunus!"

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Dalam Injil hari ini Yesus berkata, "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menuntut suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus."  [Luk 11:29].

Kalimat ini terasa keras. Mengapa Yesus menolak memberi tanda? Bukankah sebelumnya Ia sudah melakukan begitu banyak mukjizat?

Yesus tahu bahwa masalahnya bukan kurangnya tanda, tetapi kurangnya iman. Orang-orang pada zaman itu melihat mukjizat, mendengar pengajaran, menyaksikan kuasa-Nya, tetapi hati mereka tetap meminta bukti tambahan. Mereka tidak mencari kebenaran, mereka mencari sensasi.

Yesus lalu mengingatkan tentang Yunus. Dalam  [Yun 3:1-10]  dikisahkan bahwa Yunus datang ke Niniwe dan hanya menyampaikan pesan singkat tentang hukuman Allah. Tidak ada mukjizat spektakuler. Tidak ada tanda dari langit. Tetapi orang-orang Niniwe percaya. Mereka berpuasa, berkabung, bahkan raja turun dari takhtanya. Hasilnya luar biasa: Allah menahan murka-Nya.

Di sini kita melihat sesuatu yang sangat penting: pertobatan tidak lahir karena tanda yang dahsyat, tetapi karena hati yang terbuka. Orang Niniwe tidak meminta Yunus membuktikan dirinya dengan api dari langit. Mereka percaya, lalu bertobat.

Yesus juga menyebut Ratu dari Selatan yang datang untuk mendengar hikmat Salomo. Ia menempuh perjalanan jauh hanya untuk mencari kebenaran. Dan Yesus berkata, "Yang ada di sini lebih dari pada Yunus… lebih dari pada Salomo."  [Luk 11:31-32].

Artinya apa? Yesus sendiri adalah tanda terbesar dalam sejarah manusia. Inkarnasi-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya adalah "tanda Yunus" yang sejati. Seperti Yunus tinggal tiga hari dalam perut ikan, demikian pula Anak Manusia tinggal tiga hari dalam perut bumi.

Sering kali dalam hidup kita pun kita berkata, "Tuhan, berikan aku tanda."
Tanda bahwa Engkau menyertaiku.
Tanda bahwa keputusan ini benar.
Tanda bahwa Engkau mendengar doaku.

Padahal, berapa banyak tanda yang sebenarnya sudah kita terima? Nafas yang masih kita hirup. Kesehatan yang masih kita miliki. Keluarga yang masih ada. Sabda Tuhan yang setiap hari kita dengar. Semua itu adalah tanda.

Kadang kita tidak kekurangan tanda, kita kekurangan kepercayaan.

Iman mendahului pertobatan. Orang yang percaya akan berani mengubah hidupnya. Tanpa iman, sekalipun tanda turun dari langit, hati bisa tetap keras. Kita ingat juga kisah orang kaya dan Lazarus. Ketika orang kaya meminta agar Lazarus diutus memberi peringatan kepada saudara-saudaranya, Abraham berkata, "Jika mereka tidak mendengarkan Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."  [Luk 16:31].

Itulah problemnya: bukan kurangnya tanda, tetapi hati yang tidak mau mendengar.

Pertobatan selalu membawa pengampunan. Allah tidak haus menghukum. Ia rindu menyelamatkan. Niniwe menjadi bukti bahwa hukuman bisa dibatalkan oleh pertobatan.

Dalam keluarga pun demikian. Jika satu orang sungguh-sungguh bertobat dan hidup dalam iman, ia bisa menjadi titik terang bagi seluruh rumah. Terang Kristus yang kecil sekalipun mampu mengusir gelap. Pertanyaannya bukan lagi, "Tuhan, beri aku tanda," tetapi, "Tuhan, maukah aku menjadi tanda-Mu?"

Maka hari ini kita diajak bertanya dengan jujur:
Apakah saya masih menuntut tanda, atau sudah percaya?
Apakah saya menunggu mukjizat, atau sudah siap bertobat?
Dan di dalam keluarga saya, sayakah orang yang membawa Terang itu?

Semoga kita tidak menjadi angkatan yang terus meminta tanda, tetapi menjadi generasi yang percaya, bertobat, dan menjadi tanda kasih Tuhan bagi sesama.



Peringatan Orang Kudus
Santa Walburga, Abbas
Walburga lahir pada tahun 710 di Devonshire, lnggris.  Saudari Santo Winebald dan Willibald ini masih mempunyai hubungan keluarga dengan Santo Bonifasius yang dikenal sebagai "Rasul bangsa Jerman".
Ketika berumur 11 tahun, Walburga dididik di biara Benediktin, Wimborne di Dorsetshire, lnggris. Kemudian dia diterima sebagai anggota dari biara itu. la tetap tinggal di biara Wimborne sampai tahun 748 sambil membantu Santo Bonifasius mendirikan biara-biara di beberapa daerah Jerman yang baru dikristenkan. Kemudian ia pergi ke Jerman dan menjadi abbas untuk para biarawati yang mendiami biara Benediktin di Heidenheim yang didirikan oleh saudaranya Santo Winebald. Sesudah Winebald meninggal dunia pada tahun 761. Walburga menjadi abbas untuk seluruh blara yang ada di Jerman. Ia melayani biara-biara ini hingga kematiannya pada tahun 779 di Heidenheim. Jerman.
Semenjak abad kesembilan, nama Walburga terkenal luas di kalangan umat Jerman karena semacam "minyak pengobat penyakit yang mengalir dari batu padas di bawah tempat duduknya di gereja Salib Suci Eichstatt, Jerman. Minyak ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-24 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Prapaskah I

Selasa, 24 Februari 2026



Bacaan Pertama
Yes 55:10-11

"Firman-Ku akan melaksanakan apa yang Kukehendaki."

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Beginilah firman Tuhan,
"Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana,
melainkan mengairi bumi,
membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,
memberikan benih kepada penabur
dan roti kepada orang yang mau makan,
demikianlah firman yang keluar dari mulut-Ku:
Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,
dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 34:4-5.6-7.16-17.18-19,R:18b

Refren: Tuhan melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.

*Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan daku,
marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!
Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku,
dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.

*Tunjukkanlah pandanganmu kepada-Nya,
maka mukamu akan berseri-seri,
dan tidak akan malu tersipu-sipu.
Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan:
Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

*Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar,
dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;
wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat
untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi.

*Apabila orang-orang benar itu berseru-seru,
Tuhan mendengarkan:
dari segala kesesakannya mereka Ia lepaskan.
Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,
Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.



Bait Pengantar Injil
Mat 4:4b

Manusia hidup bukan dari roti saja,
tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.



Bacaan Injil
Mat 6:7-15

"Yesus mengajar murid-Nya berdoa."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele
seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.
Mereka menyangka bahwa
karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan.
Jadi janganlah kamu seperti mereka,
karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan,
sebelum kamu minta kepada-Nya.
Karena itu berdoalah begini:
"Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.
Datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin.

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,
Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang,
Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita doa yang paling sempurna, doa yang bukan disusun oleh para ahli Taurat, bukan pula hasil renungan para nabi, melainkan doa yang keluar langsung dari hati Sang Putra kepada Bapa-Nya: Doa Bapa Kami.

Yesus berkata, "Karena itu berdoalah demikian..." [Mat 6:9-13].
Mari kita renungkan doa Bapa Kami ini:

"Bapa kami yang di sorga"
Relasi yang dekat, kita boleh memanggil-Nya dengan sebutan "Bapa".
Kata yang dipakai Yesus dalam bahasa Aram adalah "Abba" — sebuah sapaan yang sangat akrab. Bukan sekadar formal seperti "Bapa" dalam upacara resmi, tetapi sapaan penuh keintiman, seperti anak kecil yang percaya sepenuhnya kepada ayahnya. Artinya, kita boleh datang tanpa rasa takut, tanpa rasa canggung.

Yesus membuka doa ini dengan sebuah kedekatan yang luar biasa. Allah bukan sekadar Pribadi Mahatinggi yang jauh dan tak tersentuh, tetapi Bapa yang mengasihi.
Kita tidak berdoa kepada kuasa yang abstrak, melainkan kepada Pribadi yang mengenal kita, memelihara kita, dan memperhatikan hidup kita secara pribadi.
Dan kata berikutnya sangat penting: "kami"
Doa ini tidak pernah diajarkan dalam bentuk "Bapa saya", tetapi selalu "Bapa kami", artinya: iman Kristen tidak individualistis.
Kita tidak berjalan sendirian.
Setiap kali kita berdoa, kita membawa keluarga, Gereja, bahkan dunia di hadapan Bapa, dan bahkan ketika kita berdoa sendirian di kamar, kita tetap memakai kata "kami". Itu berarti kita sedang mewakili saudara-saudara kita. Kita berdoa sebagai bagian dari satu tubuh.
Jadi doa ini selalu bersifat komunal, selalu menyatukan.

"Dikuduskanlah nama-Mu"
Ini bukan berarti kita menguduskan Allah.  Nama-Nya sudah kudus. Tetapi kita memohon supaya hidup kita membuat nama-Nya dihormati.
Pertanyaannya sederhana: apakah melalui hidup saya, nama Tuhan dimuliakan atau justru dipermalukan?


"Datanglah Kerajaan-Mu"
Kerajaan Allah bukan soal wilayah geografis. Itu adalah pemerintahan Allah dalam hati manusia. Ketika kita berdoa kalimat ini, kita sedang berkata: Tuhan, berkuasalah atas pikiranku, atas keputusanku, atas emosiku.

"Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam sorga"
Di surga, kehendak Allah ditaati sepenuhnya. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada perlawanan, tidak ada syarat.

Ketika kita mengucapkan kalimat ini, kita sedang menyerahkan diri secara total kepada rencana Allah.
Kematangan iman tampak ketika walaupun kehendak-Nya tidak sejalan, atau bahkan bertentangan dengan kehendak kita, kita tetap berkata: kehendak-Mulah yang terjadi, dan saya mau taat sepenuhnya.
Doa ini adalah doa penyerahan diri yang utuh.
Bukan lagi memaksa Tuhan mengikuti keinginan kita, tetapi membiarkan hidup kita mengikuti kehendak-Nya.

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya"
Yesus mengajarkan doa yang sangat realistis.
Kita boleh meminta kebutuhan jasmani. Tetapi ada satu kata penting: secukupnya, bukan berlimpah-limpah untuk keserakahan.
Doa ini membentuk hati yang bersandar setiap hari, bukan menimbun karena takut.

"Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami"
Ini bagian yang paling menantang.
Kita memohon ampun dengan standar yang kita pakai kepada orang lain. Yesus bahkan menegaskan kembali setelah doa itu selesai, bahwa jika kita tidak mengampuni, Bapa juga tidak akan mengampuni kita [Mat 6:14-15].
Pengampunan bukan opsi. Itu syarat relasi.

"Dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan"
Bagian ini memang menjadi diskusi panjang dalam Gereja. Secara harfiah dari teks Yunani "kai mē eisenenkēs hēmas eis peirasmon" dapat diterjemahkan "janganlah membawa kami ke dalam pencobaan". Kata "peirasmos" bisa berarti pencobaan, ujian, atau cobaan.
Masalahnya, dalam Kitab Suci jelas ditegaskan bahwa Allah tidak mencobai manusia untuk jatuh dalam dosa.
Rasul Yakobus menulis: "Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun" [Yak 1:13].
Karena itu, beberapa konferensi uskup di dunia melakukan penyesuaian terjemahan agar tidak terkesan bahwa Tuhan adalah penyebab pencobaan. Misalnya di Italia dan Prancis, redaksinya diubah menjadi "jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan" atau "jangan tinggalkan kami dalam pencobaan".
Bagaimana di Indonesia?
Sampai saat ini, teks resmi Doa Bapa Kami dalam liturgi Gereja Katolik Indonesia masih menggunakan redaksi "janganlah membawa kami ke dalam percobaan".
Alasannya bukan karena teologi yang keliru, tetapi karena Gereja memahami kalimat ini dalam arti Ibrani-biblis: sebuah ungkapan yang berarti "jangan biarkan kami masuk atau tenggelam dalam pencobaan".
Ini gaya bahasa Semitik, di mana sesuatu dinyatakan sebagai tindakan Allah, walaupun maksudnya adalah memohon perlindungan-Nya.
Jadi maknanya bukan Tuhan aktif mencobai, melainkan kita memohon agar Tuhan menjaga kita supaya tidak jatuh ketika pencobaan datang.
Secara teologis, yang benar adalah: pencobaan ada, tetapi kita memohon rahmat agar tidak kalah.

"Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat"
Kata "yang jahat" di sini juga bisa dimengerti sebagai "Si Jahat", yakni Iblis.
Ini adalah doa perlindungan terakhir.
Kita sadar bahwa hidup ini bukan netral. Ada pergumulan rohani. Maka kita menutup doa ini dengan permohonan pembebasan.

Menarik sekali, Doa Bapa Kami dimulai dengan relasi: Bapa. Dan diakhiri dengan perlindungan: lepaskanlah kami.
Seolah-olah Yesus mengajarkan bahwa seluruh hidup rohani kita bergerak antara dua hal itu: relasi dengan Bapa dan perjuangan melawan kejahatan.

Doa ini pendek, tetapi memuat seluruh Injil.
Ada penyembahan, penyerahan, permohonan kebutuhan, pengampunan, dan perlindungan.
Pertanyaannya sekarang bukan seberapa sering kita mengucapkannya, tetapi seberapa dalam kita menghidupinya.
Karena doa ini bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dijalani.


Dan setiap kali kita mengucapkannya, kita sedang membiarkan Yesus berdoa bersama kita kepada Bapa-Nya.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Montanus dan Lucius dkk, Martir
Para martir suci: Montanus dan Lucius bersama kawan-kawannya, yaitu Flavianus, Yulianus, Viktorikus. Quartillosia, Viktor, Donatian, Primolus dan Renus, dipenjarakan di Kartago (Tunisia) karena berpegang teguh pada imannya akan Kristus. Selama mendekam di dalam penjara mereka kekurangan makanan dan minuman sehingga beberapa dari antara mereka mati. Sebagian yang lain kemudian diseret ke tempat penjagalan.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-23 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Prapaskah I

Senin, 23 Februari 2026

PF S. Polikarpus, Uskup dan Martir



Bacaan Pertama
Im 19:1-2.11-18

"Engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran."

Pembacaan dari Kitab Imamat:

Tuhan berfirman kepada Musa,
"Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel
dan katakan kepada mereka:
Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus.
Janganlah kamu mencuri,
janganlah kamu berbohong
dan janganlah berdusta seorang kepada sesamanya.
Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku,
supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu;
Akulah Tuhan.

Janganlah engkau memeras sesamamu manusia
dan janganlah merampas;
janganlah kautahan upah seorang pekerja harian
sampai besok harinya.
Janganlah kaukutuki orang tuli,
dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan;
engkau harus takut akan Allahmu;
Akulah Tuhan.

Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan;
janganlah membela orang kecil secara tidak wajar,
dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar,
tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah
di antara orang-orang sebangsamu;
janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia;
Akulah Tuhan.

Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu,
tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu,
dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu
karena dia.
Janganlah engkau menuntut balas,
dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu,
melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah Tuhan."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 19:8.9.10.15,R:Yoh 6:64b

Refren: Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.

*Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa;
peraturan Tuhan itu teguh,
memberikan hikmat kepada orang bersahaja.

*Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati,
perintah Tuhan itu murni,
membuat mata ceria.

*Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya;
hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.

*Mudah-mudahan Engkau sudi mendengarkan ucapan mulutku
dan berkenan akan renungan hatiku,
ya Tuhan, Gunung Batu dan penebusku.



Bait Pengantar Injil
2Kor 6:2b

Waktu ini adalah waktu perkenanan,
hari ini adalah hari penyelamatan!



Bacaan Injil
Mat 25:31-46

"Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku
yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan
dan semua malaikat datang bersama-sama dengan Dia,
maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya
dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang,
sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing;
Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya
dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku,
terimalah Kerajaan
yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;
ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Maka orang-orang benar itu akan bertanya kepada-Nya:
Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar
dan kami memberi Engkau makan,
atau haus dan kami memberi Engkau minum?
Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing,
dan kami memberi Engkau tumpangan,
atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara
dan kami mengunjungi Engkau?

Maka Raja itu akan menjawab mereka:
Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku.
Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya:
Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk,
enyahlah ke dalam api yang kekal
yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Lalu mereka pun akan bertanya kepada-Nya:
Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar,
atau haus, atau sebagai orang asing,
atau telanjang atau sakit,
atau dalam penjara
dan kami tidak melayani Engkau?

Maka Ia akan menjawab mereka:
Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini,
kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal,
tetapi orang benar masuk ke dalam hidup yang kekal."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Injil hari ini dari Matius 25:31-46 membawa kita pada satu gambaran yang sangat tegas dan sekaligus mengguncang. Yesus berbicara tentang penghakiman terakhir. Ia memisahkan orang seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Ukurannya bukan soal seberapa sering kita berdoa, bukan seberapa banyak kita tahu ayat Kitab Suci, bukan pula seberapa aktif kita di kegiatan rohani. Ukurannya sederhana, tetapi sangat konkret: apa yang kita lakukan terhadap mereka yang paling hina.

"Aku lapar, kamu memberi Aku makan. Aku haus, kamu memberi Aku minum. Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan. Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian. Aku sakit, kamu melawat Aku. Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku." Dan puncaknya adalah kalimat yang sangat kuat itu: "Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." [Mat 25:40]

Saya sering merenung, betapa mudahnya kita mengasihi Yesus yang ada di altar, tetapi betapa sulitnya mengasihi Yesus yang hadir dalam rupa orang yang menyusahkan kita. Orang lapar tidak selalu datang dengan wajah bersih. Orang asing tidak selalu tampil menyenangkan. Orang sakit kadang rewel. Orang dalam penjara mungkin pernah melakukan kesalahan besar. Tetapi justru di sanalah Yesus berkata: itu Aku.

Apa yang mesti dilakukan?
Untuk yang lapar dan haus, tentu memberi makan dan minum. Tetapi hari ini, lapar tidak hanya soal nasi. Banyak orang lapar butuh perhatian, butuh didengarkan, butuh dihargai. Ada anak yang lapar kasih sayang orang tuanya. Ada pasangan yang lapar pengertian. Ada orang tua yang lapar sapaan dari anak-anaknya.

Untuk orang asing, kita bisa membuka ruang penerimaan. Di zaman sekarang, orang asing bisa berarti pendatang baru di lingkungan kita, karyawan baru di kantor, anggota baru di komunitas. Seringkali yang mereka butuhkan bukan uang, tetapi penerimaan dan rasa aman.

Untuk yang telanjang, bukan hanya soal pakaian, tetapi menjaga martabat. Di era media sosial, betapa mudahnya kita "menelanjangi" orang lain dengan komentar, dengan gosip, dengan membagikan aib. Memberi pakaian hari ini bisa berarti menutup aib, menjaga nama baik, tidak ikut-ikutan menyebarkan keburukan.

Untuk yang sakit, kita bisa hadir. Tidak semua orang bisa menyembuhkan, tetapi semua orang bisa menemani. Kadang pesan singkat, telepon sederhana, atau sekadar mengatakan "saya mendoakanmu" sudah menjadi obat yang menguatkan.

Untuk yang di penjara, mungkin kita jarang berkunjung secara fisik. Tetapi ada banyak orang yang "terpenjara" dalam rasa bersalah, dalam kegagalan, dalam hutang, dalam trauma. Apakah kita menjadi hakim bagi mereka, atau menjadi sahabat yang membantu mereka bangkit?

Saya teringat satu pengalaman sederhana. Ada seseorang yang pernah membuat kesalahan dan dijauhi banyak orang. Jujur, saya pun sempat menjaga jarak. Tetapi suatu hari saya berpikir, kalau semua orang menjauh, siapa yang akan menolongnya berdiri kembali? Saat saya mulai menyapanya kembali, tidak ada mukjizat besar yang terjadi. Tetapi saya melihat matanya berubah. Ada harapan kecil yang tumbuh. Dan di situ saya merasa, mungkin hari itu saya sedang menyentuh Kristus tanpa saya sadari.

Renungan ini menantang kita untuk bertanya: apakah kita hanya sensitif terhadap kebutuhan kita sendiri, atau juga peka terhadap penderitaan orang lain? Kadang kita berkata, "Saya juga susah." Benar. Kita semua punya salib. Tetapi justru di tengah keterbatasan itu, Tuhan meminta sedikit saja: sepotong roti, segelas air, satu kunjungan, satu sapaan, satu doa.

Yang menarik, dalam Injil ini orang-orang benar tidak sadar bahwa mereka sedang melayani Tuhan. Mereka bertanya, "Kapan kami melihat Engkau lapar?" Artinya, mereka melakukan kebaikan bukan untuk mendapatkan pahala, bukan untuk dilihat, bukan untuk dipuji. Mereka melakukannya karena hati mereka sudah terlatih untuk peduli.

Di zaman sekarang, kita mungkin tidak selalu punya banyak harta. Tetapi kita punya waktu, perhatian, empati, jaringan, bahkan teknologi. Kita bisa mentransfer bantuan, kita bisa menyebarkan informasi donasi, kita bisa menguatkan lewat pesan, kita bisa menolong lewat keahlian kita. Tidak ada alasan untuk berkata, "Saya tidak bisa berbuat apa-apa."

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita melihat Yesus. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau mengenali Yesus yang tersembunyi di balik wajah-wajah yang tidak nyaman itu?

Semoga kita tidak menjadi orang yang rajin beribadah tetapi gagal melihat Kristus yang berdiri di depan pintu hidup kita dalam rupa orang kecil. Dan ketika suatu hari kita berdiri di hadapan-Nya, semoga kita mendengar suara yang menenangkan itu: "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku." Karena dalam diam, dalam tindakan kecil, kita telah melakukannya untuk Dia.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Polykarpus, Uskup dan Martir
Polykarpus adalah seorang Uskup Gereja perdana di Smyrna (Turki). Murid Santo Yohanes Penginjil ini memimpin Gereja di Smyrna sampai meletusnya kekacauan yang didalangi oleh para musuh Gereja pada tahun155. la sendiri pun ditangkap oleh orang-orang itu.
Ketika ditangkap, ia tidak memberikan perlawanan apa pun, bahkan ia tersenyum dan menjamu para penangkapnya dengan makanan yang lezat. Kepada mereka, ia berkata: "Jadilah kehendak Tuhan atas diriku". la memohon agar kepadanya diberikan waktu sedikit untuk berdoa. Setelah itu, ia dibelenggu dan diarak di tengah-tengah orang banyak menuju kediaman prokonsul untuk diadili.
Sewaktu diadili, prokonsul dengan keras memaksanya untuk menghojat Kristus dan mempersembahkan korban kepada dewa-dewa Romawi. la dengan tegas berkata: "Sudah delapanpuluh enam tahun saya mengabdi Kristus, dan tidak pernah saya alami bahwa Kristus berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin saya menghojat Raja dan Penyelamatku? Tuhanku Yesus Kristus tidak saja berkata "bertahanlah dan teguhlah dalam imanmu; cintailah sesamamu; berbelaskasihlah kepada sesamamu, dan bersatulah di dalam kebenaran, melainkan juga Dirinya sendiri dijadikan contoh yang mencolok mata tentang semuanya itu" ".
Mendengar kata-kata Polykarpus itu, prokonsul berang dan segera menjatuhkan hukuman bakar atas diri Polykarpus. Hukuman ini tidak sedikitpun menggentarkan hati Polykarpus, karena ia tahu bahwa kebenaran ada di pihaknya. la bahkan mensyukuri peristiwa tragis ini.
Berita pembunuhan atas diri Polykarpus ini tersebar ke seluruh umat Smyrna. Seluruh umat memang menyesalkan tindakan brutal prokonsul itu tetapi mereka tidak patah semangat untuk tetap mengimani Kristus. Mereka saling meneguhkan dengan mengedarkan selebaran berikut: "Kristus kita sembah karena Dia adalah Putra Allah. Para martir kita sayangi sebagai murid Kristus karena imannya yang tak terperikan kepada Kristus, Raja dan Tuhan, hingga titik darah penghabisan. Semoga kita pun menjadi kawan dan rekan mereka dalam menanggung semua penderitaan yang ditimpakan kepada kita".
Di atas kubur Polykarpus, mereka menulis: "Dirimu kami cintai melebihi berlian, kami sayangi melebihi emas permata, dan kami baringkan tubuhmu yang suci di tempat yang layak bagimu. Di tempat ini ingin kami berkumpul dengan gembira untuk merayakan ulang tahun wafatmu sebagai martir Kristus yang jaya ".


Santo Willigis, Pengaku Iman
Willigis adalah seorang anak dari orang kebanyakan; namun ia berhasil menjadi kanselir tiga orang kaisar Jerman. Negarawan bijaksana ini berhasil menjaga keamanan seluruh negeri.  Sebagai Uskup Mainz dan wakil Paus, ia mengangkat uskup-uskup yang baik, mendirikan gereja- gereja dan membangun banyak jembatan. la membangun sekolah-sekolah untuk memajukan ilmu. Willigis menegakkan tata tertib dan memajukan kegiatan penghonnatan kepada Tuhan.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/