Liturgia Verbi 2026-06-01 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa IX

Senin, 1 Juni 2026

PW S. Yustinus, Martir

Ujud Gereja Universal: Nilai penting olahraga.
Semoga olahraga dapat menjadi sarana perdamaian, perjumpaan, dan dialog antarbudaya dan bangsa, serta mempromosikan nilai penghargaan, solidaritas, dan pertumbuhan pribadi.

Ujud Gereja Indonesia: Formasi hidup bakti.
Semoga proses pendampingan di biara dan seminari membantu setiap pribadi dalam formasi untuk mengolah diri mereka menjadi semakin matang dan menyelaraskan hati mereka dengan hati Kristus.



Bacaan Pertama
2Ptr 1:1-7

"Yesus Kristus telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga.
Berkat Dia kalian boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi."

Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Petrus:

Dari Simon Petrus,
hamba dan rasul Yesus Kristus,
kepada mereka yang bersama-sama kami memperoleh iman
oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Semoga kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kalian,
oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus Tuhan kita.

Kekuasaan-Nya yang ilahi telah menganugerahkan kepada kita
segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh,
berkat pengenalan akan Dia,
yang memanggil kita dengan kuasa-Nya yang mulia.
Dengan cara demikian Ia telah menganugerahkan kepada kita
janji-janji yang berharga dan sangat besar.
Berkat janji-janji itu kalian boleh mengambil bagian
dalam kodrat ilahi,
dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.

Justru karena itu kalian harus sungguh-sungguh berusaha
untuk menambahkan kepada imanmu: kebajikan,
dan kepada kebajikan: pengetahuan,
dan kepada pengetahuan: penguasaan diri,
kepada penguasaan diri: ketekunan,
dan kepada ketekunan: kesalehan,
dan kepada kesalehan: kasih akan saudara-saudara,
dan kepada kasih akan saudara-saudara: kasih akan semua orang.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 91:1-2.14-15ab.15c-16,R:2b

Refren: Ya Allahku, pada-Mulah aku percaya.

*Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi
dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa
akan berkata kepada Tuhan,
"Tuhanlah tempat perlindungan dan kubu pertahananku,
Allahku yang kupercayai."

*Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku,
maka Aku akan meluputkannya,
Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.
Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab,
Aku akan menyertai dia dalam kesesakannya.

*Aku akan meluputkan dia dan memuliakannya,
dengan umur panjang akan Kukenyangkan dia;
kepadanya akan Kuperlihatkan keselamatan
yang datang dari pada-Ku.



Bait Pengantar Injil
Why 1:5ab

Yesus Kristus, Engkaulah saksi yang setia,
yang pertama bangkit dari alam maut;
Engkau mengasihi kami dan mencuci dosa kami
dalam darah-Mu.



Bacaan Injil
Mrk 12:1-12

"Mereka menangkap dan membunuh putera kesayangan,
dan melemparkannya ke luar kebun anggur."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua
dengan perumpamaan, kata-Nya,
"Adalah seorang membuka kebun anggur
dan menanam pagar sekelilingnya.
Ia menggali lubang tempat memeras anggur,
dan mendirikan menara jaga.
Kemudian disewakannya kebun anggur itu
kepada penggarap-penggarap,
lalu ia berangkat ke negeri lain.

Ketika sudah tiba musim panen,
ia mengutus seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu
untuk menerima sebagian dari hasil kebun.
Tetapi hamba itu ditangkap dan dipukuli oleh para penggarap
lalu disuruh pergi dengan tangan hampa.
Kemudian pemilik kebun anggur itu menyuruh pula
seorang hamba lain kepada mereka.
Orang itu mereka pukuli sampai luka kepalanya,
dan sangat mereka permalukan.
Lalu pemilik itu  menyuruh seorang hamba lain lagi,
dan orang ini mereka bunuh.
Dan banyak lagi yang lain,
ada yang mereka pukul, dan ada yang mereka bunuh.

Kini tinggal satu orang, yakni puteranya yang kekasih.
Dialah yang akhirnya diutus kepada mereka,
sebab pikirnya, 'Puteraku pasti akan mereka segani.'
Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain, 
'Dia itulah ahli waris!
Mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita.
Mereka menangkap dan membunuh dia,
lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.
Sekarang apa yang akan dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu?
Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu,
lalu mempercayakan kebun anggurnya kepada orang-orang lain.

Tidak pernahkah kamu membaca ayat ini:
Batu yang dibuang oleh para tukang bangunan
telah menjadi batu penjuru.
Itulah tindakan Tuhan, suatu hal yang ajaib dalam pandangan kita."

Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus,
karena mereka tahu,
bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu.
Tetapi mereka takut kepada orang banyak.
Maka mereka pergi dan membiarkan Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *The Power of Word*

*Merawat Kebun Anggur Tuhan*

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang tuan tanah yang membuka kebun anggur. Tuan itu menanami kebunnya, memasang pagar di sekelilingnya, menggali lubang tempat memeras anggur, dan mendirikan menara jaga. Setelah semuanya siap, kebun itu dipercayakan kepada para penggarap.

Kalau kita perhatikan, tuan tanah itu tidak menyerahkan tanah kosong yang belum diolah. Ia sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Ia menyediakan kebun yang sudah tertata. Ada tanaman. Ada pagar untuk melindungi. Ada tempat memeras anggur. Ada menara untuk berjaga. Artinya, para penggarap itu menerima kepercayaan yang sangat berharga.

Mereka tidak diminta menciptakan kebun dari nol. Mereka diminta merawat, mengusahakan, menjaga, dan pada waktunya menyerahkan hasilnya kepada sang pemilik.

Tetapi para penggarap itu lupa diri. Mereka mulai bersikap seolah-olah kebun anggur itu milik mereka sendiri. Ketika tuannya mengutus hamba-hambanya untuk menerima hasil kebun, mereka menolak. Bahkan mereka memukul, mempermalukan, dan membunuh para utusan itu. Sampai akhirnya anak dari tuan tanah itu pun mereka bunuh juga.

Kebun anggur dalam Injil hari ini dapat kita renungkan sebagai seluruh hidup kita. Tuhan mempercayakan banyak hal kepada kita. Keluarga, pasangan hidup, anak-anak, pekerjaan, kesehatan, kemampuan, waktu, pelayanan, komunitas, bahkan iman yang kita miliki, semuanya adalah kebun anggur Tuhan.

Tidak ada satu pun yang sungguh-sungguh milik kita secara mutlak. Semua adalah titipan. Semua adalah kepercayaan. Kita boleh mengelolanya, mengusahakannya, menikmatinya, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Tuhanlah pemiliknya.

Sebagai seorang ibu, saya merasakan bahwa keluarga adalah salah satu kebun anggur Tuhan yang sangat berharga. Rumah bukan hanya tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat kasih ditanam, iman dirawat, kesabaran diuji, dan pengampunan dilatih setiap hari.

Di dalam keluarga, kita belajar bahwa merawat kebun anggur Tuhan tidak selalu mudah. Kadang kita sudah berusaha mengasihi, tetapi belum tentu langsung dimengerti. Kita sudah berusaha menasihati anak-anak, tetapi mereka tidak selalu mendengarkan. Kita sudah berusaha menciptakan suasana damai, tetapi tetap saja ada salah paham. Kita sudah berusaha setia melakukan tugas sehari-hari, tetapi seringkali tugas itu terasa berulang dan melelahkan.
Namun justru di situlah letak kesetiaan kita diuji.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih,
Dalam Bacaan Pertama, Rasul Petrus mengingatkan agar iman kita tidak berhenti hanya sebagai pengakuan. Iman perlu ditambahkan dengan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara, dan kasih kepada semua orang.

Ini sangat indah kalau kita hubungkan dengan gambaran kebun anggur. Iman itu seperti benih yang sudah Tuhan tanam dalam hidup kita. Tetapi benih iman itu perlu dirawat. Ia perlu disirami dengan kebajikan. Dikuatkan dengan pengetahuan yang benar. Dijaga dengan penguasaan diri. Diteguhkan dengan ketekunan. Dihidupi dalam kesalehan. Lalu akhirnya berbuah dalam kasih.

Kalau iman tidak dirawat, ia bisa menjadi kering. Kalau hidup rohani tidak dijaga, kita bisa mudah jatuh ke dalam keangkuhan, kemarahan, iri hati, dan sikap merasa paling benar. Kalau keluarga tidak dirawat, relasi bisa menjadi dingin. Kalau pelayanan tidak dirawat dengan kerendahan hati, pelayanan bisa berubah menjadi ajang mencari pujian. Kalau pekerjaan tidak dirawat dengan kejujuran, pekerjaan bisa berubah menjadi tempat mengejar keuntungan semata.
Maka sabda Tuhan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: kebun anggur apa yang sedang Tuhan percayakan kepada saya saat ini?

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih,
St. Yustinus, martir yang diperingati hari ini, memberi teladan bagaimana iman yang sungguh-sungguh dirawat akan menghasilkan keberanian dan kesetiaan. Ia tidak hanya mengenal iman sebagai pengetahuan, tetapi menghidupinya sampai akhir. Ia mempertanggungjawabkan imannya dengan pikiran, kata-kata, dan hidupnya.

Kita mungkin tidak diminta menjadi martir seperti St. Yustinus. Tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dalam kebun anggur kehidupan kita masing-masing. Menjadi saksi Kristus di rumah. Menjadi saksi Kristus di tempat kerja. Menjadi saksi Kristus dalam komunitas. Menjadi saksi Kristus dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, mengampuni, dan melayani.

Tuhan tidak menuntut kita menghasilkan buah yang sama besar dengan orang lain. Tuhan tahu keadaan kita masing-masing. Tuhan tahu keterbatasan kita. Tuhan tahu perjuangan kita. Tetapi Tuhan menghendaki agar kita setia merawat apa yang dipercayakan kepada kita.

Mungkin buah yang dapat kita persembahkan hari ini sederhana saja: lebih sabar, lebih lembut dalam berbicara, lebih tekun berdoa, lebih jujur dalam bekerja, lebih peduli kepada keluarga, lebih rendah hati dalam pelayanan.
Namun kalau semua itu dilakukan dengan kasih, itulah buah yang berkenan kepada Tuhan.

Semoga setiap keluarga kita menjadi kebun anggur Tuhan yang dirawat dengan kasih. Semoga setiap pekerjaan kita menjadi ladang pelayanan. Semoga setiap kemampuan yang kita miliki menjadi sarana untuk berbuat baik. Dan semoga hidup kita, sedikit demi sedikit, menghasilkan buah iman, buah kesetiaan, dan buah kasih bagi Tuhan dan sesama.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yustinus, Martir
Yustinus lahir dari sebuah keluarga kafir di Nablus, Samaria, Asia Kecil pada permulaan abad kedua kira-kira pada kurun waktu meninggalnya Santo Yohanes Rasul.
Yustinus mendapat pendidikan yang baik semenjak kecilnya. Kemudian ia tertarik pada pelajaran filsafat untuk memperoleh kepastian tentang makna hidup ini dan tentang Allah. Suatu ketika ia berjalan­jalan di tepi pantai sarnbil merenungkan berbagai soal. la bertemu dengan seorang orang-tua. Kepada orang-tua itu, Yustinus menanyakan berbagai soal yang sedang direnungkannya. Orang-tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang para nabi Israel yang diutus Allah, tentang Yesus Kristus yang diramalkan para nabi serta tentang agama Kristen. Ia dinasihati agar berdoa kepada Allah memohon terang surgawi.
Di samping filsafat, ia juga belajar Kitab Suci. Ia kemudian dipermandikan dan menjadi pembela kekristenan yang tersohor. Sesuai kebiasaan di zaman iru, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang berbagai masalah, terutama yang menyangkut pembelaan ajaran iman yang benar. Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman kristen.
Yustinus bangga bahwa ia menjadi seorang kristen yang saleh, dan ia bertekad meluhurkan kekristenannya dengan hidupnya. Dalam bukunya, "Percakapan dengan Tryphon Yahudi", Yustinus menulis: "Meski kami orang Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau dibuang ke moncong-moncong binatang buas, ataupun disiksa dengan belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi orang saleh".
Di Roma, Yustinus ditangkap dan bersama para martir lainnya dihadapkan ke depan penguasa Roma. Setelah banyak disesah, kepala mereka dipenggal. Perisitiwa itu terjadi pada tahun 165. Yustinus dikenal sebagai seorang pembela iman terbesar pada zaman Gereja Purba.


Santo Simeon, Pengaku Iman
Simeon menempuh pendidikan di Konstantinopel dan hidup bertapa di tepi sungai Yordan. Pria berdarah Yunani ini kemudian menjadi rahib di biara Betlehem dan Gunung Sinai. Ia lebih suka hidup menyendiri dan menetap di seputar pantai Laut Merah dan di puncak gunung. Namun kemudian pemimpin biara mengutusnya ke Prancis. Setelah menjelajahi berbagai daerah, ia secara sukarela hidup terkunci di dalam sebuah bilik di suatu biara di Trier, Jerman sampai saat kematiannya.


Santo Johannes Storey, Martir
Yohannes Storey hidup antara tahun 1510-1571. Anggota parlemen Inggris ini sama sekali menolak mengakui Ratu Elisabeth I sebagai kepala Gereja. Akibatnya ia dipenjarakan. Namun sempat lolos dan melarikan diri ke Belgia. Dengan tipu muslihat, ia dibawa kembali ke Inggris dan digantung hingga menghembuskan nafasnya di London.


Santo Pamphilus dari Sesarea, Martir
Pamphilus lahir di Berytus, Phoenicia (sekarang: Beirut, Lebanon) pada tahun 240 dari sebuah keluarga terkemuka dan kaya. Pamphilus mempunyai minat dan bakat besar dalam masalah-masalah sekular di Berytus sambil meneruskan studi teologi di Sekolah Kateketik Aleksandria yang tersohor namanya di bawah bimbingan Pierius, pengganti Origenes. Dari Aleksandria ia pergi ke Sesarea, ibukota Palestina. Tak lama setelah ia tiba di Sesarea, ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Agapius. Ia menetap di sana dan teguh membela iman Kristen selama masa penganiayaan orang-orang Kristen sampai hari kematiannya sebagai martir sekitar tahun 309/310.
Pamphilus seorang imam, dosen, ekseget, dan pengumpul buku-buku yang bernilai tinggi. Dengan buku-buku yang berhasil dikumpulkannya, ia mengorganisir dan mengembangkan perpustakaan besar yang telah dirintis oleh Origenes. Perpustakaan ini berguna sekali bagi berbagai studi tentang Gereja. Dengan keahliannya di bidang teologi dan kitab suci, ia membimbing sekelompok pelajar dalam studi Kitab Suci. Eusebius, salah seorang muridnya - yang kemudian dijuluki 'Bapa Sejarah Gereja' - sangat akrab dengannya. Bersama dia, Phamphilus menulis sebuah biografi tentang gurunya (buku biografi ini telah hilang) sambil terus mengembangkan perpustakaan Sesarea di atas. Ia memusatkan perhatian pada pengumpulan teks-teks Alkitab beserta komentar-komentarnya sehingga koleksinya menjadi sumber informasi penting bagi penerbitan suatu versi penulisan Kitab Suci yang secara tekstual lebih tinggi daripada versi-versi lainnya pada masa itu. Koleksi teks-teks Kitab Suci dan buku-buku lainnya di dalam perpustakaan ini merupakan sumbangannya yang utama bagi Gereja, karena memberikan data yang lengkap dan terpercaya tentang literatur-literatur Kristen perdana. Karya Santo Hieronimus dan Eusebius di bidang Sejarah Gereja dan Kitab Suci didasarkan pada informasi yang disediakan di dalam perpustakaan Pamphilus ini. Sayang sekali bahwa perpustakaan ini dan semua buku yang ada di dalamnya dirusakkan oleh orang-orang Arab pada abad ketujuh.
Kira-kira antara tahun 307 dan 308, Pamphilus ditangkap, dipenjarakan, dan disiksa karena imannya. Sementara berada di penjara, ia bersama Eusebius - yang juga dipenjarakan - menulis sebuah apologi untuk rnembela Origenes; sebagian fragmen dari tulisan ini kini masih ada. Karena ia menolak untuk membawa korban kepada dewa-dewa kafir selama aksi penganiayaan oleh Maximinus Daza, ia dipenggal kepalanya antara tahun 309 atau 310.


Santo Ahmed, Martir
Ahmed adalah saudara Almansur, kepala negeri Lerida di Spanyol. Bersama dengan kedua adiknya Zaida dan Zoraida, Ahmed bertobat mengikuti Kristus dan dipermandikan menjadi Kristen, masing-masing dengan nama permandian: Bernard, Maria dan Gracia. Setelah menjadi Kristen ketiga kakak-beradik ini berusaha mengkristenkan Almansur, kakak mereka, tetapi tindakan mereka ini justru mengakibatkan kematian mereka sebagai martir. Mereka ditangkap dan diserahkan ke tangan algojo untuk dibunuh.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-31 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
HR Tritunggal Mahakudus

Minggu, 31 Mei 2026



Bacaan Pertama
Kel 34:4b-6.8-9

"Tuhan, Tuhan Allah, Engkaulah pengasih dan murah hati."

Pembacaan dari Kitab Keluaran:

Pada waktu itu
Musa bangun pagi-pagi,
naiklah ia ke atas Gunung Sinai,
seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya,
dan membawa kedua loh batu di tangannya.
Maka turunlah Tuhan dalam awan,
lalu berdiri di sana dekat Musa,
dan Musa pun menyerukan nama Tuhan.
Berjalanlah Tuhan lewat dari depan Musa sambil berseru,
"Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pengasih,
panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya!"

Segeralah Musa berlutut ke tanah,
lalu sujud menyembah, serta berkata,
"Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan,
berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami.
Sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk,
tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami.
Ambillah kami menjadi milik-Mu."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
T.Dan 3:52.53.54.55.56,R:52b

Refren:

*Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah leluhur kami.
   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.
*Terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus.
   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.
*Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus.
   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.
*Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu.
   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.
*Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya.
   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.
*Terpujilah Engkau di bentangan langit.
   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.



Bacaan Kedua
2Kor 13:11-13

"Kasih karunia Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan
persekutuan Roh Kudus."

Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudaraku,
bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna.
Terimalah segala nasihatku!
Hendaklah kamu sehati sepikir,
dan hiduplah dalam damai sejahtera.
Maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera,
akan menyertai kamu!
Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus.
Salam dari semua orang kudus kepada kamu.
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus,
kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus
menyertai kamu sekalian.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Why 1:8

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus,
Allah yang kini ada, yang dulu ada, dan yang tetap akan ada.



Bacaan Injil
Yoh 3:16-18

"Allah mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan dunia."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata,
"Begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia
bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya.
Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum;
tetapi barangsiapa tidak percaya,
ia telah berada di bawah hukuman,
sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
Dan inilah hukuman itu:
Terang telah datang ke dalam dunia,
tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang,
sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, misteri iman yang sangat agung, tetapi sekaligus tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata manusia.

Nampaknya pas kalau pada hari raya ini kita merenungkan kembali iman kita akan Allah yang esa, terutama ketika ada orang yang keliru memahami iman Kristiani, lalu mengira bahwa orang Katolik menyembah tiga Allah: Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

Sebagai orang Katolik, kita tidak mengimani tiga Allah. Kita mengimani satu Allah dalam tiga Pribadi: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Inilah misteri Tritunggal Mahakudus. Bukan tiga Tuhan, bukan tiga Allah, melainkan satu Allah yang hidup dalam persekutuan kasih yang sempurna.

Maka kalau ada orang mengatakan bahwa iman Kristiani bertentangan dengan sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa", saya kira kita boleh menjawab dengan tenang. Tuhan yang kita sembah memang Tuhan yang esa. Kitab Suci sendiri menegaskan, "Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa." [Mrk 12:29]. Yesus sendiri juga berbicara tentang Allah yang Esa ketika berkata, "Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?" [Yoh 5:44].

Jadi, iman kita tidak bertentangan dengan keesaan Tuhan. Yang berbeda hanyalah kedalaman misterinya. Kita tidak hanya mengenal Allah sebagai Yang Mahakuasa dan jauh di atas sana, tetapi juga sebagai Bapa yang mengasihi, Putera yang datang menyelamatkan, dan Roh Kudus yang tinggal serta bekerja di dalam hidup kita.

Memang, kalau hanya dijelaskan dengan logika biasa, Tritunggal bisa terasa rumit. Bahkan di antara umat Katolik sendiri, kadang masih ada yang bertanya, "Kalau saya berdoa, sebaiknya saya berdoa kepada Allah Bapa, kepada Yesus, atau kepada Roh Kudus?"

Pertanyaan itu wajar. Jawaban sederhananya: doa Kristiani selalu mengarah kepada Allah. Kita boleh berdoa kepada Bapa, melalui Yesus Kristus, dalam tuntunan Roh Kudus. Kita juga boleh berdoa kepada Yesus, karena Yesus adalah Tuhan. Kita juga boleh memohon kehadiran Roh Kudus, seperti ketika kita berdoa, "Datanglah, ya Roh Kudus."

Dan tentang Bunda Maria, kita perlu jelas. Kita tidak menyembah Bunda Maria. Penyembahan hanya kepada Allah Tritunggal. Kepada Bunda Maria, kita memberi penghormatan yang istimewa, karena ia adalah Bunda Tuhan, perempuan yang dipilih Allah, teladan iman, dan ibu rohani bagi Gereja. Ketika kita berdoa Rosario atau memohon bantuan doa Bunda Maria, kita tidak menjadikannya Allah. Kita meminta Bunda Maria mendoakan kita, sebagaimana seorang anak meminta ibunya mendoakannya. Bunda Maria tidak menambah jumlah Allah menjadi empat. Justru Bunda Maria selalu mengantar kita kepada Yesus, Puteranya.

Saya sendiri kadang memakai contoh sederhana untuk membantu orang memahami, walau tentu saja tidak sempurna. Di kantor, orang memanggil saya Pak Sandy. Di lingkungan sekolah anak saya dulu, saya bisa saja dikenal sebagai Pak Deddy, maksudnya ayah dari Deddy. Di keluarga, ada yang memanggil saya Didiet, nama kecil saya. Anak-anak memanggil saya Papa. Orangnya satu, tetapi relasinya berbeda-beda.

Namun contoh ini hanya membantu sedikit saja, tidak bisa menggambarkan Tritunggal secara penuh. Sebab dalam Tritunggal, Bapa, Putera, dan Roh Kudus bukan sekadar tiga panggilan untuk pribadi yang sama. Bapa sungguh Bapa, Putera sungguh Putera, Roh Kudus sungguh Roh Kudus. Tiga Pribadi ilahi, tetapi satu Allah yang sama, satu kodrat ilahi, satu kasih, satu kehendak penyelamatan.

Bacaan-bacaan hari ini menolong kita untuk tidak terjebak hanya pada perdebatan. Dalam Bacaan Pertama, Tuhan memperkenalkan diri sebagai Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia. Jadi, ketika kita berbicara tentang Allah Tritunggal, kita tidak sedang membahas rumus teologi yang kering. Kita sedang berbicara tentang Allah yang lebih dulu mengasihi manusia.

Dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus menutup suratnya dengan berkat yang sangat indah: kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kita semua. Di situ kita melihat jejak Tritunggal dalam kehidupan umat. Dari Bapa mengalir kasih. Dalam Yesus Kristus kita menerima rahmat keselamatan. Dalam Roh Kudus kita dipersatukan dan dikuatkan.

Lalu dalam Injil hari ini, Yesus menyatakan inti dari semua itu: "Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." [Yoh 3:16].

Inilah wajah Tritunggal yang paling menyentuh hati saya. Allah bukan Allah yang hanya ingin dipahami. Allah adalah Allah yang mengasihi. Bapa mengasihi dunia, Putera diutus untuk menyelamatkan dunia, dan Roh Kudus terus bekerja supaya manusia percaya, bertobat, dan hidup dalam kasih Allah.

Maka pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, barangkali kita tidak perlu terlalu sibuk memenangkan perdebatan. Menjelaskan iman itu baik, tetapi yang lebih penting adalah menghidupi iman itu. Kalau kita mengimani Allah Tritunggal sebagai persekutuan kasih, maka hidup kita pun semestinya memancarkan kasih. Bukan mudah tersinggung, bukan cepat menyerang, bukan sibuk menghakimi iman orang lain, tetapi menjadi pribadi yang lebih rendah hati, lebih sabar, lebih mengampuni, dan lebih membawa damai.

Karena kalau Allah yang kita sembah adalah kasih, maka hidup kita pun semestinya semakin penuh kasih. Kalau Allah yang kita imani adalah persekutuan, maka kita pun dipanggil untuk membangun persaudaraan. Kalau Allah yang kita kenal adalah Allah yang menyelamatkan, maka kita pun dipanggil untuk menjadi tanda keselamatan bagi sesama, bukan batu sandungan.
Tritunggal Mahakudus memang misteri. Tetapi misteri bukan berarti sesuatu yang gelap dan tidak berguna. Misteri adalah kedalaman yang tidak pernah habis kita masuki. Semakin kita mengenal Allah, semakin kita sadar bahwa Allah jauh lebih besar daripada pikiran kita. Namun sekaligus, Allah yang begitu agung itu berkenan mendekat, mengasihi kita, menyelamatkan kita, dan tinggal di dalam hidup kita.

Maka marilah hari ini kita memperbarui iman kita. Kita menyembah satu Allah: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Kita percaya bahwa Allah itu esa. Kita percaya bahwa Allah itu kasih. Dan kita percaya bahwa kasih Allah itu memanggil kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya, yang tidak hanya mampu berkata "aku percaya", tetapi juga mampu menunjukkan iman itu dalam kasih yang nyata.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabeth
Ketika malaekat Gabriel membawa khabar gembira kepada Maria, ia menyampaikan juga kepada Maria peristiwa ilahi perkandungan Elisabeth. Malaekat Gabriel mengatakan bahwa Elisabeth sedang mengandung seorang anak laki-laki pada usia tuanya. Bayi laki-laki itu adalah Yohanes Pemandi, yang akan menjadi perintis jalan bagi Yesus, Juru Selamat yang dijanjikan Allah.
Maria segera bergegas ke pegunungan Yudea, ke kota Karem, tempat tinggal Elisabeth dan Zakarias. Maria berangkat ke sana untuk melayani Elisabeth. Sebagaimana kata Injil, pertemuan itu merupakan suatu peristiwa kegembiraan baik bagi Elisabeth maupun anak yang dikandungnya. Dari mulut Elisabeth keluarlah kata-kata pujian ini: "Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? . . . "Elisabeth juga menyebut Maria sebagai Yang Berbahagia karena Maria percaya akan Sabda Tuhan yang disampaikan malaekat kepadanya.
Maria tidak membantah kata-kata pujian Elisabeth. Sebaliknya, dalam terang ilahi dilihatnya bahwa Tuhan mau menyelamatkan bangsa-bangsa melalui rahimnya yang kudus. Bahwa dengan perantaraannya Tuhan mau datang ke tengah-tengah umatNya untuk menyelamatkan mereka. Bahwa Tuhan hendak menyerahkan bangsa-bangsa di bawah perlindungannya yang rahim.
Oleh karena itu, Maria segera menjawab kata-kata pujian Elisabeth dengan Magnifikatnya: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia . . . ". Kira-kira Maria tinggal tiga bulan lamanya di rumah Elisabeth saudaranya dan menolongnya dalam urusan rumah tangga menyongsong kelahiran anak yang dikandung Elisabeth. Setelah itu, Maria kembali ke Nazareth.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-30 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

Sabtu, 30 Mei 2026



Bacaan Pertama
Yud 17:20b-25

"Allah berkuasa menjaga kalian jangan sampai tersandung,
dan membawa kalian penuh kegembiraan di hadapan kemuliann-Nya."

Pembacaan dari Surat Rasul Yudas:

Saudara-saudara terkasih,
ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepadamu,
oleh rasul-rasul Tuhan kita Yesus Kristus.

Maka bangunlah dirimu sendiri
di atas dasar imanmu yang paling suci,
dan berdoalah dalam Roh Kudus.
Peliharalah dirimu dalam kasih Allah
sambil menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus,
untuk hidup yang kekal.
Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu,
renggutlah mereka dari api.
Tetapi tunjukkanlah belas kasihan
yang disertai rasa takut kepada orang-orang lain juga,
dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan
oleh keinginan-keinginan dosa.

Allah berkuasa menjaga kalian supaya jangan tersandung.
Ia membawa kalian tanpa noda dan penuh kegembiraan
di hadapan kemuliaan-Nya.
Bagi Dia, Allah yang Esa, Juruselamat kita,
dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan kita,
bagi Dia kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa
sebelum segala abad,
sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 63:2.3-4.5-6,R:2b

Refren: Jiwaku haus akan Dikau, ya Tuhan, Allahku.

*Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau,
jiwaku haus akan Dikau,
tubuhku rindu kepada-Mu,
seperti tanah yang kering dan tandus,
yang tiada berair.

*Demikianlah aku rindu memandang-Mu di tempat kudus,
sambil melihat kekuatan dan kemuliaan-Mu.
Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup;
bibirku akan memegahkan Dikau.

*Aku mau memuji Engkau seumur hidupku
dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.
Seperti dijamu lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan,
bibirku bersorak-sorai, mulutku memuji-muji.



Bait Pengantar Injil
Kol 3:16a.17c

Semoga sabda Kristus tinggal dalam diri kalian secara melimpah.
Bersyukurlah dengan perantaraan Kristus
kepada Allah Bapa kita.



Bacaan Injil
Mrk 11:27-33

"Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?"

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Beberapa waktu sesudah mengusir para pedagang
dari halaman bait Allah,
Yesus dan murid-murid-Nya tiba kembali di Yerusalem.
Ketika Yesus sedang berjalan-jalan di halaman Bait Allah,
datanglah kepada-Nya imam-imam kepala,
ahli-ahli Taurat dan tua-tua.
Mereka bertanya kepada Yesus,
"Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?
Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu,
sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?"

Yesus menjawab mereka,
"Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepada kalian.
Jawablah Aku,
dan Aku akan mengatakan,
dengan kuasa mana Kulakukan hal-hal itu.
Pembaptisan Yohanes itu dari surga atau dari manusia?
Jawablah!"

Mereka memperbincangkannya seraya berkata,
"Jikalau kita katakan 'Dari Allah,'
Ia akan berkata,
'Kalau begitu, mengapakah kalian tidak percaya kepada-Nya?'
Tetapi masakan kita katakan 'Dari manusia'."
Sebab mereka takut kepada orang banyak,
karena semua orang menganggap
bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi.
Maka mereka menjawab Yesus, "Kami tidak tahu."

Maka kata Yesus kepada mereka,
"Jika demikian, Aku pun takkan mengatakan kepada kalian,
dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus kembali ke Yerusalem dan berjalan di Bait Allah. Di sanalah para imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua datang kepada-Nya lalu bertanya, "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?" [Mrk 11:28].

Pertanyaan itu sebetulnya bisa menjadi pertanyaan yang baik, kalau lahir dari hati yang jujur. Tetapi yang terjadi bukanlah pencarian kebenaran, melainkan usaha untuk menjebak Yesus. Mereka bukan datang untuk belajar, bukan datang untuk memahami, melainkan datang dengan sikap hati yang sudah tertutup.

Mereka melihat sendiri apa yang dilakukan Yesus. Mereka mendengar sendiri pengajaran-Nya. Mereka tahu bahwa banyak orang mengalami jamahan belas kasih Allah melalui diri Yesus. Tetapi mereka tidak mau mengakui itu, karena kalau mereka mengakui kebenaran yang ada di depan mata mereka, mereka harus berubah. Mereka harus melepaskan kepentingan, gengsi, dan rasa aman yang selama ini mereka pertahankan.

Yesus kemudian menjawab mereka dengan pertanyaan tentang baptisan Yohanes, apakah berasal dari surga atau dari manusia. Mereka tidak berani menjawab. Bukan karena mereka sungguh-sungguh tidak tahu, melainkan karena mereka takut salah posisi. Kalau menjawab dari surga, mereka harus mengakui mengapa mereka tidak percaya kepada Yohanes. Kalau menjawab dari manusia, mereka takut kepada orang banyak.

Di sinilah kita melihat satu persoalan yang sangat manusiawi. Kadang-kadang orang tidak berani mengatakan yang benar, bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena takut kehilangan muka, takut kehilangan dukungan, takut kehilangan posisi, atau takut harus mengubah sikap hidupnya.

Injil hari ini mengajak kita untuk memeriksa diri. Apakah selama ini kita sungguh mencari kehendak Tuhan, atau hanya mencari pembenaran atas kehendak kita sendiri? Apakah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka, atau diam-diam membawa agenda kita sendiri? Apakah kita mau mendengar sabda Tuhan untuk berubah, atau hanya mau memilih bagian sabda yang cocok dengan keinginan kita?

Bacaan Pertama hari ini memberi arah yang indah. Surat Yudas mengajak kita untuk membangun diri di atas iman yang suci, berdoa dalam Roh Kudus, memelihara diri dalam kasih Allah, dan menantikan belas kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Iman yang benar bukan hanya soal tahu ajaran, melainkan soal mau dibentuk oleh Tuhan. Iman yang benar membuat kita rendah hati, jujur, dan berani mengakui kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu menegur kita.

Dalam hidup sehari-hari, kita pun bisa mengalami godaan yang sama. Di rumah, di tempat kerja, di organisasi, bahkan dalam pelayanan, kita bisa saja lebih sibuk mempertahankan pendapat daripada mencari yang benar. Kita bisa lebih cepat bertanya, "Siapa yang memberi wewenang?" daripada bertanya, "Apakah ini memang baik? Apakah ini memang benar? Apakah ini sesuai dengan kehendak Tuhan?"

Padahal kuasa yang sejati tidak selalu tampak dari jabatan, suara keras, atau kedudukan resmi. Kuasa yang sejati tampak dari kesaksian hidup. Yesus berwibawa bukan karena Ia memaksakan diri untuk dihormati, melainkan karena hidup-Nya menyatu dengan kehendak Bapa. Apa yang Ia ajarkan, itulah yang Ia hidupi. Apa yang Ia katakan, itulah yang Ia lakukan.

Barangkali inilah yang perlu kita bawa pulang hari ini. Jangan sampai kita menjadi orang yang pandai bertanya tentang kuasa Tuhan, tetapi tidak mau tunduk pada kehendak Tuhan. Jangan sampai kita sibuk menilai orang lain, tetapi hati kita sendiri tertutup terhadap kebenaran. Jangan sampai kita lebih takut kepada penilaian manusia daripada takut kehilangan kejujuran di hadapan Tuhan.

Marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang lebih sederhana. Kalau Tuhan menegur, kita mau mendengar. Kalau Tuhan menunjukkan jalan, kita mau mengikuti. Kalau Tuhan meminta kita berubah, kita tidak mencari alasan untuk menghindar.

Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukanlah kemampuan kita mempertahankan diri, melainkan kerendahan hati untuk membiarkan Tuhan memimpin hidup kita.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Feliks I, Paus & Pengaku Iman
Feliks dikenal sebagai putra kaisar Konstantinus. la lahir di Roma kira-kira pada awal abad ketiga. Kehidupan masa mudanya dan usahanya menghayati lman Kristen tidak banyak diketahui.  Ada banyak cerita beredar di kalangan orang-orang Kristen tentang dirinya, namun kebenaran cerita itu diragukan. Oleh karena itu, para ahli mengadakan penelitian cermat tentang kehidupan Feliks.
Feliks menduduki Takhta Santo Petrus sebagai Paus pada tahun 269 dan memimpin Gereja Kristus sampai tahun 274. la dibunuh pada masa pemerintahan kaisar Aurelianus ketika ada penganiayaan terhadap orang-orang Kristen.  Ia dikuburkan di pemakaman para Paus di kuburan Santo Kallistus di Jalan Apia, Roma.


Santo Baptista Varani OSC Cap, Abbas
Baptista lahir pada tahun 1458. Ia seorang biarawan yang pandai dan dikaruniai banyak rahmat mistik. Pengalaman-pengalaman rohaninya yang dalam diabadikannya dalam beberapa buku yang sangat penting bagi peningkatan iman, terutama bagi peningkatan kebaktian terhadap Hati Kudus Yesus. Pemimpin biara Suster-suster Klaris di Chiara, Italia ini meninggal dunia pada tahun 1524.


Santo Ferdinandus dari Kastilia, Pengaku Iman
Ferdinandus adalah putra raja Alfonso dari kerajaan Leon, dan ratu Berengaria dari Kastilia. Ia lahir di sebuah kota dekat Salamanca, Spanyol pada tahun 1199. Ketika berumur 18 tahun, ia diangkat menjadi raja Kastilia. Kemudian ketika ayahnya Alfonso meninggal dunia pada tahun 1230, Ferdinandus diangkat lagi menjadi raja Leon. Dengan demikian ia menjadi raja baik di kerajaan Kastilia maupun di kerajaan Leon. Dia memerintah dua kerajaan ini sampai hari kematiannya pada tanggal 30 Mei 1252.
Sebagai raja, Ferdinandus membuktikan dirinya sebagai seorang penguasa yang adil dan bijaksana. Di masa kepemimpinannya, dua kerajaan yang diwariskan kepadanya oleh kedua orangtuanya digabungkan menjadi satu kerajaan. Masa pemerintahannya mempunyai arti yang sangat penting bagi sejarah Spanyol. la berusaha sekuat tenaga untuk menyebarkan agama Kristen di seluruh kerajaannya. Ia berhasil mengusir pergi orang-orang Moor dari seluruh wilayah Spanyol, termasuk kota-kota penting seperti Kordova (1236) dan Seville,(1248). Sampai saat kematiannya, hanyalah Granada dan Alicante masih berada di bawah pendudukan orang-orang Moor.
Selain usaha-usaha di atas, ia terus berjuang mempertahankan tegaknya ajaran iman yang benar terhadap rongrongan bidaah Albigensia.  Ferdinandus tergolong seorang raja yang beriman teguh. Ia berusaha memajukan perkembangan agama Kristen. la mendirikan banyak biara, merobah mesjid-mesjid menjadi katedral-katedral dan membantu rumah-rumah sakit dengan berbagai pemberian. Pada tahun 1242 ia mendirikan Universitas Salamanca sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Ketika ia meninggal dunia, ia dikuburkan di Katedral Seville dalam pakaian biara Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Pada kuburnya terjadi banyak mujizat. Banyak orang menganggap dia sebagai Orang Kudus. Kekudusannya baru diakui Gereja 419 tahun setelah kematiannya oleh Sri Paus Klemens X (1670-1676) pada tahun 1671.


Santa Jeanne d'Arc, Pengaku Iman
Jean - nama panggilan Jeanne d'Arc - lahir pada tahun 1412 di Domreni, Prancis. Ayahnya Yakobus Arc dan ibunya Elisabeth mendidik dan membesarkannya menjadi seorang wanita petani yang rajin, peramah dan periang. Tetapi sebagaimana keadaan wanita desa lainnya, Jean tidak tahu membaca dan menulis.
Ketika berusia 13 tahun, Jean merasakan adanya suatu dorongan batin yang kuat untuk melibatkan diri dalam perjuangan menyelamatkan negerinya Prancis dari pendudukan tentara-tentara Inggris. Setahun kemudian tatkala ia sedang menjaga domba-domba di padang, Jean mengalami suatu penglihatan ajaib. Ia melihat suatu cahaya ajaib yang terang benderang. Dari dalam cahaya itu terdengar olehnya suara orang berkata: "Jean, anakku! Jadilah anak yang baik-baik! Tuhan akan melindungi dan menaungi engkau dengan kekuatan Roh Kudus. Ingatlah, pada suatu saat, engkau akan menolong raja untuk menyelamatkan Prancis dari bahaya peperangan dan dari pendudukan tentara Inggris". Dengan gentar Jean berlutut dan berkata: "Ah Tuhan, aku hanya seorang wanita petani yang miskin dan tak berdaya. Bagaimana mungkin aku dapat menolong raja. Aku tak tahu bagaimana harus berperang". Suara itu menjawab: "Jangan takut, Jean! Tuhan akan menolong engkau asal engkau percaya kepadaNya".
Waktu terus beredar. Ketika Jean berusia 16 tahun, suara ajaib itu didengarnya lagi. Kali, ini lebih tegas dan mendesak: "Waktunya sudah tiba. Dauphin, putra mahkota itu membutuhkan engkau. Pergilah ke istana dan mohonlah kepada panglima Robert agar mengizinkan engkau pergi menemui Dauphin".
Situasi Prancis saat itu kacau oleh amukan perang dan pendudukan tentara Inggris. Sementara itu, putra mahkota belum dinobatkan menjadi raja.  Jean, dengan iman yang kuat kepada Tuhan segera melaksanakan perintah ajaib itu. Ia pergi ke istana untuk menemui Robert.  "Aku membawa berita kepada Dauphin dari Tuhanku" katanya kepada Robert.
"Siapakah Tuhanmu itu?" tanya Robert. "Raja alam semesta" jawab Jean tegas. Mendengar jawaban itu, para serdadu menertawai dia. Tetapi Jean dengan tegas berkata: "Bawalah segera aku kepada Dauphin karena aku akan membantunya meraih kemenangan atas tentara Inggris".
Panglima Robert rnengabulkan permohonannya. la memberikan sepucuk surat pengantar kepada Jean agar bisa bertemu dengan Dauphin. Dengan kawalan enam orang serdadu, Jean berangkat ke Chinon, tempat Dauphin berada. Perjalanan mereka ke Chinon harus melewati suatu daerah yang dikuasai musuh. Namun Jean tidak gentar karena dia yakin bahwa Tuhan akan melindungi dia.
Ketika bertemu Dauphin, Jean berkata: "Aku, Jeanne d'Arc. Raja semesta alam mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan pesan ini: "bahwa dalam waktu singkat tuan akan dinobatkan menjadi raja Prancis di Rheims". Aku diutusnya untuk membantumu dalam peperangan melawan tentara Inggris". Dauphin bersama para pengawalnya percaya. Lalu mereka mulai merencanakan siasat peperangan.
Jean diperlengkapi dengan pakaian perang dan seekor kuda putih. Jean sendiri memendekkan rambutnya agar telihat seperti seorang pria. Ia maju berperang dengan menunggangi seekor kuda putih sambil memegang bendera yang bertuliskan semboyan: Yesus-Maria. Bersama para serdadu Prancis, Jean berhasil memporakporandakan pasukan Inggris di Orleans.
Kemenangan ini memberi peluang emas untuk menyelenggarakan pesta penobatan Dauphin menjadi raja. Di Katedral Rheims, Dauphin dinobatkan menjadi raja Prancis dengan gelar Charles VII. Setelah penobatan itu, Jean memimpin lagi sepasukan tentara Prancis untuk merebut Paris dari tangan tentara Inggris. Tetapi mereka dipukul mundur dan menderita kekalahan besar. Jean sendiri ditangkap dan dibawa ke Inggris. Di sana ia dipenjarakan di istana Rouen selama sembilan bulan. Kemudian dia dihadapkan ke pengadilan Uskup Beauvais dengan tuduhan malakukan praktek sihir dan takhyul. Dalam persidangan yang berlangsnng sebanyak 15 kali, Jean dengan gigih membela diri dan dengan cemerlang membantah tuduhan palsu yang dikatakari tentang dirinya. la menolak tuntutan untuk mengungkapkan "suara-suara ajaib dari surga" yang didengarnya dahulu. Kepada para hakim, ia dengan tegas berkata: "Aku bukan tukang sihir. Panggilanku sungguh berasal dari Tuhan. Dalam semua tindakanku, aku selalu mengikuti perintah Tuhan dan petunjuk-petunjukNya. Aku bersedia mati demi nama Tuhanku". Mendengar kata-kata itu, para hakim semakin marah dan memerinta­kan para serdadu untuk menjalankan hukuman bakar hidup-hidup atas diri Jean dihadapan umum.
Jean menemui ajalnya karena keputusan tidak adil dari pengadilan pada tahun 1413 di Rouen. Ia digelari 'kudus' oleh Gereja bukan karena patriotismenya atau keberaniannya berperang, melainkan karena kesalehan hidupnya dan kesetiaannya dalam memenuhi kehendak Tuhan atas dirinya. Ia dihormati sebagai pelindung negeri Prancis.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-29 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

Jumat, 29 Mei 2026

PF S. Paulus VI, Paus



Bacaan Pertama
1Ptr 4:7-13

"Jadilah pembagi rahmat Allah yang beraneka ragam."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:

Saudara-saudara terkasih,
kesudahan segala sesuatu sudah dekat.
Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang,
supaya kalian dapat berdoa.
Tetapi yang terutama ialah
kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain,
sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
Hendaknya saling memberi tumpangan tanpa bersungut-sungut.

Layanilah seorang akan yang lain,
sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang
sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.
Jika seseorang berbicara,
baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan sabda Allah;
Jika ada seorang melayani,
baiklah ia melakukannya
dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah,
supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu
karena Yesus Kristus.
Dialah yang memiliki kemuliaan dan kuasa
sampai selama-lamanya! Amin.

Saudara-saudara yang kekasih,
janganlah kalian heran akan nyala api siksaan
yang datang kepadamu sebagai ujian,
seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atasmu.
Sebaliknya, bersukacitalah,
sesuai dengan bagian yang kalian dapat
dalam penderitaan Kristus.
Dengan demikian kalian juga boleh bergembira dan bersukacita
pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 96:10.11-12.13,R:13b

Refren: Tuhan datang menghakimi bumi.

*Katakanlah di antara bangsa-bangsa:
"Tuhan itu Raja!
Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah.
Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran."

*Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai,
biarlah gemuruh laut serta segala isinya,
biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya,
dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.

*Biarlah mereka bersukacita di hadapan Tuhan, sebab Ia datang,
sebab Ia datang untuk menghakimi bumi.
Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan,
dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.



Bait Pengantar Injil
Yoh 15:16

Aku telah memilih kalian dari dunia,
agar kalian pergi dan menghasilkan buah,
dan buahmu itu tetap.



Bacaan Injil
Mrk 11:11-26

"Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.
Percayalah kepada Allah!"

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada waktu Yesus tiba di Yerusalem,
Ia masuk ke Bait Allah,  dan meninjau semuanya.
Tetapi karena hari sudah hampir malam,
Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Keesokan harinya,
sesudah mereka itu meninggalkan Betania,
Yesus merasa lapar.
Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun.
Ia mendekatinya untuk melihat
kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu.
Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa
selain daun-daun saja,
sebab memang bukan musim buah ara.
Maka kata Yesus kepada pohon itu,
"Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!"
Ucapan itu terdengar pula oleh para murid.

Maka Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem.
Sesudah masuk ke Bait Allah,
mulailah Yesus mengusir orang-orang
yang berjual beli di halaman Bait Allah.
Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,
dan Ia tidak mengijinkan orang
membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah.
Lalu Ia mengajar mereka,
"Bukankah ada tertulis:
Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa?
Tetapi kalian ini telah menjadikannya sarang penyamun!"

Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar
tentang peristiwa itu.
Maka mereka berusaha untuk membinasakan Yesus.
Tetapi mereka takut kepada-Nya,
sebab mereka melihat orang banyak takjub akan pengajaran-Nya.
Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.

Pagi-pagi Yesus dan murid-murid-Nya lewat,
dan melihat bahwa pohon ara itu sudah kering
sampai ke akar-akarnya.
Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi,
lalu berkata kepada Yesus,
"Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."

Yesus menjawab mereka, "Percayalah kepada Allah!
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung itu,
'Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut,'
maka hal itu akan terjadi, asal ia tidak bimbang hati,
tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi.
Karena itu Aku berkata kepadamu,
apa saja yang kalian minta dan doakan,
akan diberikan kepadamu,
asal kalian percayalah bahwa kalian akan menerimanya.

Dan jika kalian berdiri untuk berdoa,
ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di surga
mengampuni kesalahan-kesalahanmu."
Tetapi jika kalian tidak mengampuni,
maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Sungguh menarik apa yang ditulis oleh Rasul Petrus pada Bacaan Pertama hari ini, "Kasih itu menutupi banyak sekali dosa." Sebuah ungkapan yang sederhana dan mudah dipahami, tetapi belum tentu mudah dilaksanakan. Kita memang tidak luput dari perbuatan dosa, tetapi kasih, yang merupakan obat manjur untuk menutup luka dosa, seringkali justru menjadi persoalan tersendiri.

Tidaklah sulit bagi kita untuk mengasihi diri sendiri, apalagi kalau masih ada egoisme yang kuat di dalam diri kita. Kita juga tidak terlalu sulit mengasihi orang yang mengasihi kita, sebab kasih seperti itu masih terasa wajar, bahkan seringkali hanya sebatas hubungan timbal balik. Saya baik kepadamu karena engkau baik kepadaku. Saya memperhatikan engkau karena engkau memperhatikan saya. Kasih seperti ini baik, tetapi belum cukup untuk menjadi kasih yang dimaksudkan oleh Rasul Petrus. Yesus sendiri pernah berkata, "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?" [Mat 5:46]

Kasih yang berasal dari Tuhan tidak berhenti pada diri sendiri, dan tidak hanya diberikan kepada orang yang lebih dahulu mengasihi kita. Kasih Tuhan mesti mengalir keluar. Kasih itu menjadi berkat bagi orang lain, bahkan bagi orang yang mungkin tidak menyenangkan hati kita, yang menyulitkan kita, atau bahkan yang memusuhi kita. Inilah kasih yang sanggup membawa orang kepada pertobatan, sebab orang yang sungguh mengimani kasih Tuhan akan semakin sadar bahwa dirinya juga membutuhkan belas kasih dan pengampunan Tuhan.

Rasul Petrus lalu memberi contoh yang sangat nyata. Ia menulis agar kita saling memberi tumpangan tanpa bersungut-sungut, saling melayani sesuai karunia yang diterima, dan berbicara sebagai orang yang menyampaikan sabda Allah. Jadi kasih bukan sekadar perasaan halus di dalam hati. Kasih mesti menjadi tindakan nyata. Kasih mesti tampak dalam cara kita menerima orang lain, cara kita melayani, cara kita berbicara, dan cara kita memperlakukan sesama.

Bacaan Injil hari ini membawa kita kepada peristiwa Yesus menyucikan Bait Allah. Yesus melihat orang-orang berjual beli di halaman Bait Allah, para penukar uang dan para pedagang merpati. Sesungguhnya, kebutuhan persembahan memang perlu dibantu. Orang yang datang dari jauh mungkin membutuhkan hewan kurban yang layak. Mereka juga mungkin perlu menukar uang agar dapat memberikan persembahan sesuai ketentuan. Kalau semua itu dilakukan dengan jujur, wajar, dan sungguh-sungguh untuk membantu umat beribadah, tentu tujuannya baik.

Tetapi masalahnya, Bait Allah telah bergeser maknanya. Tempat yang seharusnya menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan, berubah menjadi tempat mencari keuntungan. Pelayanan berubah menjadi transaksi. Bantuan berubah menjadi kesempatan mengambil manfaat. Yang datang untuk berdoa justru bisa terganggu oleh suasana pasar. Yang datang dengan hati rindu kepada Tuhan, bisa pulang dengan hati kecewa karena merasa dimanfaatkan. Maka Yesus berkata, "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" [Mrk 11:17]

Di sinilah kita dapat melihat hubungan yang kuat antara Bacaan Pertama dan Injil hari ini. Rasul Petrus mengajak kita untuk hidup dalam kasih yang melayani, sementara Injil memperlihatkan bagaimana pelayanan bisa rusak ketika kasih digantikan oleh kepentingan dan keuntungan. Bait Allah seharusnya menjadi tempat orang ditolong untuk semakin dekat kepada Tuhan, bukan tempat orang merasa diperas, dimanfaatkan, atau dijadikan objek transaksi.

Refleksi ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Gereja, komunitas, pelayanan, organisasi, bahkan keluarga, semuanya bisa menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan, tetapi semuanya juga bisa tergelincir menjadi tempat mencari kepentingan diri. Kita bisa berkata sedang melayani, tetapi di balik itu masih ada keinginan untuk dihormati. Kita bisa berkata sedang membantu, tetapi diam-diam berharap dipuji. Kita bisa tampak aktif dalam kegiatan rohani, tetapi hati kita masih sibuk menghitung apa yang akan kita dapatkan.

Tentu tidak salah jika suatu pelayanan membutuhkan biaya. Tidak salah jika sebuah kegiatan membutuhkan dukungan dana, tenaga, perlengkapan, dan pengelolaan yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika tujuan utamanya bergeser. Ketika yang seharusnya menjadi sarana untuk membawa orang kepada Tuhan, malah berubah menjadi panggung untuk diri sendiri. Ketika yang seharusnya menjadi pelayanan kasih, berubah menjadi ladang keuntungan. Ketika rumah doa berubah menjadi pasar kepentingan.

Saya rasa kita semua perlu memeriksa hati. Ketika kita datang ke gereja, apakah kita sungguh ingin berjumpa dengan Tuhan? Ketika kita terlibat dalam pelayanan, apakah kita sungguh ingin membantu sesama mendekat kepada Tuhan? Ketika kita diberi kesempatan untuk melayani, apakah kita menjalankannya sebagai wujud kasih, atau sebagai kesempatan untuk menonjolkan diri?

Kasih yang menutupi banyak dosa bukanlah kasih yang penuh pamrih. Kasih itu bukan kasih yang sibuk menghitung keuntungan. Kasih itu adalah kasih yang membawa orang kepada Tuhan, kasih yang membuat orang merasa diterima, ditolong, dikuatkan, dan diantar untuk berjumpa dengan Tuhan.

Maka marilah kita menjaga hati, agar hidup kita tidak berubah menjadi pasar kepentingan. Marilah kita menjaga Gereja, keluarga, komunitas, dan pelayanan kita, agar tetap menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan. Dan marilah kita belajar mengasihi dengan lebih tulus, sebab semakin besar kasih yang kita wujudkan, semakin terbukalah jalan pertobatan, dan semakin besarlah ruang bagi Tuhan untuk menutup luka dosa kita dengan belas kasih-Nya.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Teodosia dari Konstantinopel, Martir
Sebagai martir dari Konstantinopel, Teodosia adalah salah seorang martir dari Gereja Katolik Timur. la menderita penganiayaan hebat dari para  musuh Gereja pada abad kedelapan (745) pada masa pemerintahan kaisar Konstantin V.
Pada tahun 726, kaisar Byzantium Leo III mengeluarkan sebuah dekrit yang melarang pemujaan terhadap gambar-gambar kudus. Putranya Konstantin, yang menggantikan dia terus melanjutkan politiknya dalam memberantas praktek pemujaan terhadap gambar-gambar kudus. Ia memerintahkan pengrusakan atas sebuah lukisan Yesus yang termasyhur di biara Santo Anastasius di Konstantinopel. Teodosia sebagai seorang biarawati di biara itu mencoba menyembunyikan lukisan itu. Karena itu ia ditangkap dan dianiaya hingga mati.


Santo Max(iminus), Uskup
Max(iminus) adalah Uskup di kota Trier, Jerman. Ia meninggal di pengasingan ketika dibuang bersama Santo Atanasios dan Uskup-uskup lainnya karena melawan bidaah Arianisme. la meninggal pada tahun 346.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-05-28 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa VIII

Kamis, 28 Mei 2026



Bacaan Pertama
1Ptr 2:2-5.9-12

"Kalianlah bangsa terpilih, kaum imam yang rajawi,
bangsa yang kudus, umat milik Allah sendiri.
Kalian harus memaklumkan karya agung Tuhan.
Sebab Ia telah memanggil kalian."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:

Saudara-saudara terkasih,
Seperti bayi yang baru lahir,
hendaklah kalian selalu ingin akan air susu yang murni dan rohani.
Berkat susu itu kalian akan bertumbuh dan beroleh keselamatan,
jika benar-benar kalian telah mengecap kebaikan Tuhan.
Datanglah kepada Tuhan.
Dialah batu yang hidup, yang dibuang oleh manusia,
tetapi dihormati dan dipilih dari hadirat Allah.
Biarlah kalian juga dipergunakan sebagai batu hidup
untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus,
untuk mempersembahkan persembahan rohani,
yang berkenan  kepada Allah karena Yesus Kristus.

Kalianlah bangsa yang terpilih,
kaum imam yang rajani, bangsa yang kudus,
umat kepunyaan Allah sendiri.
Maka kalian harus memaklumkan perbuatan agung Allah.
Ia telah memanggil kalian keluar dari kegelapan
masuk ke dalam cahaya-Nya yang menakjubkan.
Kalian yang dahulu bukan umat Allah,
kini telah menjadi umat-Nya.
Kalian yang dahulu tidak dikasihani,
kini telah memperoleh belas kasih.

Saudara-saudara yang kekasih, aku menasihati kalian,
supaya sebagai pendatang dan perantau,
kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging
yang berjuang melawan jiwa.
Hiduplah secara baik di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi,
supaya apabila mereka memfitnah kalian sebagai orang jahat,
mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik
dan memuliakan Allah pada hari Ia melawati mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 100:2.3.4.5,R:2c

Refren: Marilah menghadap Tuhan dengan sorak sorai.

*Beribadatlah kepada Tuhan dengan sukacita,
datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!

*Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah;
Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita,
kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

*Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur,
masuklah ke pelataran-Nya dengan puji-pujian,
bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!

*Sebab Tuhan itu baik,
kasih setia-Nya untuk selama-lamanya,
dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.



Bait Pengantar Injil
Yoh 8:12

Akulah cahaya dunia.
Barangsiapa mengikuti Aku, hidup dalam cahaya abadi.



Bacaan Injil
Mrk 10:46-52

"Rabuni, semoga aku melihat."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Yerikho.
Ketika Yesus keluar lagi dari Yerikho,
bersama murid-murid-Nya,
dan orang banyak yang berbondong-bondong,
duduklah di pinggir jalan seorang pengemis yang buta,
bernama Bartimeus, anak Timeus.
Ketika didengarnya, bahwa yang lewat itu Yesus orang Nazaret,
mulailah ia berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
Banyak orang menegurnya supaya ia diam.
Namun semakin keras ia berseru, "Anak Daud, kasihanilah aku!"

Maka Yesus berhenti dan berkata, "Panggillah dia!"
Mereka memanggil si buta itu dan berkata kepadanya,
"Kuatkan hatimu. Berdirilah, Ia memanggil engkau."
Orang buta itu lalu menanggalkan jubahnya.
Ia segera berdiri, dan pergi mendapatkan Yesus.
Yesus bertanya kepadanya,
"Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?"
Orang buta itu menjawab, "Rabuni, supaya aku dapat melihat."

Yesus lalu berkata kepadanya,
"Pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau."
Pada saat itu juga melihatlah ia!
Lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini dari Daily Fresh Juice berikut ini:

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Bacaan Injil hari ini mengisahkan Bartimeus, seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan dekat Yerikho. Ketika ia mendengar bahwa Yesus lewat, ia mulai berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

Orang banyak menegurnya supaya ia diam. Mungkin mereka merasa Bartimeus mengganggu. Mungkin mereka menganggap seruannya terlalu keras. Mungkin juga mereka merasa orang seperti Bartimeus tidak pantas menarik perhatian Yesus. Tetapi Bartimeus tidak berhenti. Ia malah semakin keras berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!”

Saya melihat iman Bartimeus ini luar biasa. Ia memang buta secara jasmani, tetapi mata imannya terbuka. Ia tidak dapat melihat wajah Yesus, tetapi ia mengenali siapa Yesus. Seruannya, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” bukan sekadar permintaan orang yang sedang susah. Itu adalah pengakuan iman. Ia percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Ia percaya bahwa Yesus sanggup menolongnya. Ia percaya bahwa belas kasih Yesus lebih kuat daripada suara orang banyak yang menyuruhnya diam.

Saya rasa, inilah yang sering terjadi juga dalam hidup kita. Ada saatnya kita ingin datang kepada Tuhan, tetapi ada banyak suara yang seolah-olah menyuruh kita diam. Suara itu bisa datang dari luar, melalui orang-orang yang melemahkan harapan kita. Tetapi bisa juga datang justru dari dalam diri kita sendiri: rasa malu, rasa tidak layak, rasa putus asa, atau pikiran bahwa doa kita tidak akan mengubah apa-apa.

Bartimeus mengajarkan kepada kita untuk tidak membiarkan iman kita dibungkam.
Ia tidak menunggu keadaan menjadi tenang dulu. Ia tidak menunggu orang banyak mengizinkannya dulu. Ia tidak menunggu dirinya menjadi pantas dulu. Begitu ia tahu Yesus lewat, ia berseru. Dan ketika ditegur, ia tetap berseru.

Saya pribadi pernah mempunyai pemikiran yang keliru tentang berdoa.
Dulu saya berpikir, Tuhan kan sudah tahu apa yang menjadi kebutuhan saya.
Kalau Tuhan mengasihi saya, mestinya Tuhan langsung memberi tanpa perlu saya memintanya dalam doa, apalagi mesti meminta berulang-ulang.
Kalau harus meminta, rasanya kok seperti Tuhan belum tahu saja.
Apalagi harus meminta terus-menerus, seolah-olah Tuhan perlu dibujuk atau didesak.

Tetapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa pemikiran seperti itu keliru.
Tuhan memang sudah tahu kebutuhan kita, tetapi doa bukanlah sekadar cara untuk memberi tahu Tuhan tentang apa yang kita perlukan.
Doa adalah relasi.
Doa adalah cara kita datang kepada Tuhan, membuka hati, menyatakan iman, dan belajar jujur di hadapan-Nya.

Dalam kisah Bartimeus, Yesus tentu tahu bahwa Bartimeus buta. Semua orang di sekitar situ juga tahu. Bartimeus sendiri tahu.
Tetapi Yesus tetap bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”
Pertanyaan Yesus itu bukan karena Yesus kekurangan informasi.
Pertanyaan itu memberi ruang kepada Bartimeus untuk menyatakan imannya, membuka hatinya, dan menyebutkan kebutuhannya dengan jujur.

Bartimeus menjawab, “Rabuni, supaya aku dapat melihat!”
Jawaban itu sederhana, jelas, dan jujur.
Bartimeus tidak berpura-pura kuat.
Ia tidak menutupi lukanya, tidak berputar-putar.
Ia menyampaikan apa yang sungguh ia butuhkan: “supaya aku dapat melihat.”

Di sini saya belajar bahwa memohon kepada Tuhan bukan tanda iman yang lemah. Justru ketika kita berani memohon dengan jujur, kita sedang mengakui bahwa kita membutuhkan Tuhan. Kita sedang mengakui bahwa kita tidak mampu menyelesaikan semuanya sendirian. Kita sedang mengakui bahwa belas kasih Tuhan lebih besar daripada keterbatasan kita.

Tetapi tentu saja, berdoa tidak selalu identik dengan memohon.
Doa bisa berupa pujian, syukur, pertobatan, penyerahan diri, keheningan, atau percakapan batin dengan Tuhan.
Kalau doa kita hanya berisi permintaan, maka relasi kita dengan Tuhan bisa menjadi sangat sempit, seolah-olah Tuhan hanya kita datangi ketika kita sedang membutuhkan sesuatu.

Namun, ketika kita memang membutuhkan pertolongan, Yesus tidak melarang kita untuk memohon. Bartimeus justru menjadi contoh bagaimana kita boleh datang kepada Yesus dengan keberanian dan kejujuran.
Yang penting, permohonan itu lahir dari iman, bukan dari sikap memaksa Tuhan. Permohonan itu lahir dari kepercayaan, bukan dari keputusasaan.

Sekarang saya semakin memahami pentingnya berdoa dengan tak jemu-jemunya. Bukan karena Tuhan tuli.
Bukan karena Tuhan lupa.
Bukan karena Tuhan baru mau menolong kalau kita terus mendesak.
Tetapi karena dalam doa yang tekun, hati kita dibentuk.
Kita belajar sabar. Kita belajar berharap. Kita belajar berserah. Kita belajar membedakan mana yang sungguh kita butuhkan dan mana yang hanya kita inginkan.

Kadang-kadang, ketika kita mulai berdoa, kita merasa sudah tahu apa yang harus Tuhan lakukan untuk kita. Tetapi semakin kita tekun berdoa, semakin kita menyadari bahwa yang kita butuhkan bukan hanya penyelesaian masalah.
 Kita juga membutuhkan hati yang kuat, pikiran yang jernih, iman yang teguh,
dan mata batin yang mampu melihat kehendak Tuhan.

Bartimeus meminta supaya ia dapat melihat.
Permintaan itu sangat nyata, karena ia memang buta.
Tetapi bagi kita, permintaan itu juga dapat menjadi doa batin kita: Tuhan, buatlah aku dapat melihat. Buatlah aku dapat melihat kebaikan-Mu di tengah kesulitan. Buatlah aku dapat melihat jalan yang harus kutempuh, melihat keluargaku dengan kasih, melihat sesamaku dengan belas kasih, dan melihat hidupku bukan hanya dengan mata jasmani, tetapi dengan mata iman.

Dalam hidup keluarga, kita pun membutuhkan keberanian untuk berseru kepada Tuhan, seperti Bartimeus.
Tetapi seruan kepada Tuhan tidak perlu dibuat-buat. Tidak perlu indah susunan katanya. Tidak perlu panjang. Yang penting jujur.
Bartimeus hanya berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Dan ketika Yesus bertanya, ia menjawab, “Rabuni, supaya aku dapat melihat.”

Hari ini, marilah kita belajar dari Bartimeus.
Jangan biarkan iman kita dibungkam oleh keadaan.
Jangan biarkan doa kita padam karena rasa malu, rasa tidak layak, atau rasa putus asa.
Datanglah kepada Yesus. Berserulah kepada-Nya dengan iman. Dan ketika kita memohon, mohonlah dengan hati yang jujur.
Sebab Yesus tidak hanya mendengar suara yang indah. Ia mendengar suara iman.
Ia mendengar seruan orang yang percaya kepada belas kasih-Nya.
Dan seperti Bartimeus, semoga kita pun berani berkata kepada Tuhan:
Tuhan, kasihanilah aku. Tuhan, bukalah mataku. Tuhan, ajarlah aku melihat hidup ini dengan iman.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Beata Margaretha Pole, Martir
Margaretha lahir di sebuah desa dekat kota Bath, Inggris Selatan pada tanggal 14 Agustus 1473. la dikenal sebagai seorang wanita bangsawan, pengiring Ratu Katarina, permaisuri pertama Raja Henry VIII.
Sepeninggal suaminya, Margaretha menjadi guru pribadi Putri Raja Maria, anak Henry VII. Dalam kedudukannya sebagai guru pribadi itu, Raja Henry VIII mengangkat Margaretha sebagai Pangeran Wanita Salisbury. Walaupun Henry mengenal baik kesucian hidup Margaretha, ia tidak segan-segan memecat Margaretha ketika Margaretha menentang perceraiannya dengan Katarina dan niatnya menikahi Anne Boleyn.
Karena Reginaldus, Putra Margaretha, yang kemudian menjadi seorang Kardinal mencela Henry karena tuntutannya untuk mengawasi Gereja, Henry memutuskan untuk melenyapkan keluarga Margaretha. Akhirnya Margaretha dipenggal kepalanya pada tahun 1541 karena dituduh mengkhianati raja. Margaretha dinyatakan sebagai 'Beata' (Yang Bahagia) pada tahun 1886.

Santo Wilhelmus, Biarawan
Wilhelmus adalah seorang jenderal dari kaisar Karokus Agung yang berhasil menundukkan suku Bask dan merebut Barcelona dari tangan orang Arab. Setelah kemenangan ini ia menjadi biarawan. Ia mendirikan sebuah biara di Gellone, Prancis.   Anehnya ialah bahwa dalam biara yang didirikannya itu, ia sendiri bekerja sebagai tukang roti dan koki. Ia meninggal dunia pada tahan 812.

Santo Bernardus dari Montjoux, Imam
Bernardus dari Montjoux dikenal sebagai pelindung para pencinta pegunungan Alpen dan para pendaki gunung. Untuk membantu para wisatawan, Bernardus bersama pembantu-pembantunya mendirikan dua buah rumah penginapan. Dari nenek moyangnya, ia diketahui berketurunan Italia. Tanggal kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, tetapi hari kematiannya diketahui terjadi pada tanggal 28 Mei 1081 di biara Santo Laurensius, Novara, Italia.
Kisah masa kecilnya dan masa mudanya telah banyak dikaburkan oleh berbagai legenda. Meski demikian, suatu hal yang pasti tentang dirinya ialah tentang pendidikan imamatnya. Pendidikan imamatnya dijalaninya bersama Petrus Val d' Isere, seorang Diakon Agung di Keuskupan Aosta. Aosta adalah sebuah kota di Italia yang terletak di pegunungan Alpen dan berjarak 50 mil dari perbatasan Prancis dan Swiss.
Karena semangat kerasulannya yang tinggi, ia diangkat menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Aosta. Dalam jabatan ini, Bernardus membawa angin pembaharuan di antara rekan-rekannya, biarawan-biarawan Kluni di Burgundia. Ia berusaha mendorong mereka merombak aturan­aturan biara yang terlalu klerikal dan keras. Ia mendirikan sekolah-sekolah dan rajin mengelilingi seluruh wilayah diosesnya.
Pada Abad Pertengahan, peziarah-peziarah dari Prancis dan Jerman rajin datang ke Italia melalui dua jalur jalan di pegunungan Alpen. Banyak dari mereka mati kedinginan karena badai salju, atau karena ditangkap oleh para perampok di tengah jalan. Melihat kejadian-kejadian itu, maka pada abad kesembilan Bernardus berusaha mendirikan dua buah rumah penginapan di antara dua jalur jalan itu, tepatnya di gunung Jovis (Montjoux), yang sekarang dikenal dengan nama gunung Blanc. Dua rumah penginapan ini sungguh membantu para peziarah itu. Tetapi kemudian pada abad keduabelas, rumah-rumah itu runtuh diterpa badai salju. Sebagai gantinya, Bernardus mendirikan dua buah rumah penginapan baru, masing-masing terletak di dekat dua jalur jalan itu dengan sebuah biara berdiri di dekatnya. Kedua jalan ini sekarang dikenal dengan nama Jalan Besar dan Jalan Kecil Santo Bernardus. Untuk membina akhlak para petugas rumah penginapan dan anggota-anggota biarawan yang menghuni biara itu, Bernardus menerapkan aturan-aturan biara Santo Agustinus. Ia menerima pengakuan dan izinan khusus dari Sri Paus untuk membimbing para Novisnya dalam bidang karya pelayanan para wisatawan.
Karya mereka ini berkembang pesat dari hari ke hari didukung oleh seekor anjing pembantu. Tugas utama mereka ialah berusaha membantu para wisatawan dalam semua kesulitannya dengan makanan dan rumah penginapan, serta menguburkan orang-orang yang mati. Ketenaran karya pelayanan mereka ini kemudian berkembang dalam berbagai bentuk legenda. Kemurahan hati dan keramah-tamahan mereka menarik perhatian banyak orang, terutama keluarga-keluarga kaya. Keluarga-keluarga kaya ini menyumbangkan sejumlah besar dana demi kemajuan karya pelayanan Bernardus dan kawan-kawannya. Legende tentang anjing pembantu Santo Bernardus masih berkembang hingga sekarang.
Setelah berkarya selama 40 tahun lamanya sebagai Vikaris Jenderal Bernardus meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1081 di biara Santo Laurensius, Novara, Italia. Sri Paus Innocentius XI (1676-1689) menggelari dia 'Kudu'" pada tahun 1681. Dan pada tahun 1923 oleh Sri Paus Pius XI (1922-1939), Bernardus diangkat sebagai pelindung para pencinta pegunungan Alpen dan para pendaki gunung.

Santo Germanus dari Paris, Pengaku Iman
Germanus atau Germain dikenal luas karena cinta kasihnya yang besar kepada orang-orang miskin dan gelandangan, dan karena kesederhanaan hidupnya. Ia lahir di Autun, Prancis pada tahun 496.
Setelah menjadi imam, ia diangkat menjadi abbas biara Santo Symphorianus, yang terletak tak jauh dari Autun. Di sini ia menjalani suatu kehidupan asketik yang keras dan giat membantu orang-orang miskin; kadang-kadang ia mangundang pengemis-pengemis untuk makan bersamanya di biara. Ketika Raja Prancis, Childebert I (511-558), menunjuk dia menjadi Uskup Paris, ia tidak mengubah kebiasaan hidupnya yang keras dan perhatiannya kepada orang-orang miskin dan gelandangan. Menyaksikan teladan hidup Germanus, Raja Childebert sendiri akhirnya menjadi dermawan: senang membantu orang miskin, membangun biara-biara dan gereja-gereja. Salah satu gereja yang terkenal ialah gereja Santo Germanus yang didirikannya sesudah kematian Germanus.
Salah satu usaha utama Germanus ialah mendesak penghayatan cara hidup Kristen yang lebih baik di kalangan kaum bangsawan Prancis. Ia tidak henti-hentinya mengutuk orang-orang yang bejat cara hidupnya dan tidak tanggung-tanggung mengekskomunikasikan Charibert, Raja Frank yang hidupnya penuh dosa. Germanus meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 576.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/