Liturgia Verbi 2026-07-01 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Rabu, 1 Juli 2026

Ujud Gereja Universal: Penghargaan terhadap kehidupan manusia.
Semoga semua orang semakin menghargai dan melindungi kehidupan manusia pada setiap tahap perkembangan, serta menyadari bahwa hidup merupakan anugerah dari Tuhan.

Ujud Gereja Indonesia: Kebiasaan hening dan diskresi.
Semoga setiap orang berani membangun kebiasaan hening di tengah hiruk pikuk dunia yang cepat dan dinamis sehingga mampu mengenali kehendak Tuhan dalam hidup mereka dan siap melaksanakannya.



Bacaan Pertama
Am 5:14-15.21-24

"Jauhkanlah daripadaku keramaian nyanyianmu,
dan biarlah keadilan selalu mengalir seperti sungai."

Pembacaan dari Nubuat Amos:

Carilah yang baik dan jangan yang jahat,
agar kalian hidup.
Dengan demikian Tuhan, Allah semesta alam, akan menyertai kalian
seperti yang kalian katakan.
Bencilah yang jahat, cintailah yang baik,
dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang.
Mungkin Tuhan, Allah semesta alam,
akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf.
Tuhan bersabda,
"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu,
dan Aku tidak senang akan kumpulan rayamu.
Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku
kurban bakaran dan kurban sajianmu,
Aku tidak suka,
Aku tidak mau  memandang kurban keselamatan
yang berupa ternak tambun.
Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyianmu.
Aku tidak mau mendengar lagu gambusmu.
Tetapi hendaknya keadilan bergulung-gulung seperti air,
dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 50:7.8-9.10-11.12-13.l6bc-17,R:23b

Refren: Aku akan memperlihatkan keselamatan Allah
kepada yang jujur jalannya.

*Dengarlah, hari Umat-Ku, aku hendak berfirman!
Dengarlah hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu;
Akulah Allah, allahmu!

*Bukan karena kurban sembelihan engkau dihukum,
sebab kurban bakaranmu senantiasa ada di hadapan-Ku!
Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu
atau kambing jantan dari kandangmu.

*Sebab segala binatang hutan adalah milik-Ku,
dan ribuan hewan di gunung adalah kepunyaan-Ku.
Aku kenal segala burung di udara,
dan semua yang bergerak di padang adalah milik-Ku.

*Jika aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu,
sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.
Daging lembu jantankah makanan-Ku?
Atau darah kambing jantankah minuman-Ku?

*Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku,
dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,
padahal engkau membenci teguran,
dan mengesampingkan firman-Ku?



Bait Pengantar Injil
Yak 1:18

Atas kehendak-Nya sendiri
Allah telah menciptakan kita dengan kebenaran,
agar kita menjadi yang pertama dari ciptaan-Nya.



Bacaan Injil
Mat 8:28-34

"Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus menyeberang danau Genesaret
dan tiba di daerah orang Gadara.
Maka datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan,
menemui Dia.
Mereka itu sangat berbahaya,
sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu.
Dan mereka itu pun berteriak, katanya,
"Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah?
Adakah Engkau ke mari
untuk menyiksa kami sebelum waktunya?"

Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi
sedang mencari makan.
Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya,
"Jika Engkau mengusir kami,
suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu."
Yesus berkata kepada mereka, "Pergilah!"
Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu.
Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang
ke dalam danau,
dan mati di dalam air.
Para penjaga babi lari,
dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu,
juga tentang dua orang yang kerasukan itu.
Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus
dan setelah mereka berjumpa dengan Dia,
mereka mendesak supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambilkan dari renungan *The Power of Word* berikut ini:

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus datang ke daerah orang Gadara.
Di sana ada dua orang yang kerasukan setan.
Mereka tinggal di pekuburan.
Mereka begitu berbahaya, sampai-sampai tidak ada orang yang berani melewati jalan itu.

Bayangkan keadaannya.
Dua orang itu bukan hanya sakit.
Mereka tersingkir, tak lagi tinggal di tengah keluarga, tak lagi tinggal di tengah masyarakat.
Mereka tinggal di pekuburan, seolah-olah hidup tetapi sudah dianggap seperti orang mati.
Lalu Yesus datang.
Dan Yesus membebaskan mereka.

Tetapi yang menarik, setelah orang-orang sekota itu mendengar apa yang terjadi,
mereka datang kepada Yesus.
Bukannya untuk berterima kasih, atau untuk bersyukur karena dua orang yang selama ini menakutkan akhirnya dipulihkan.
Mereka malah meminta Yesus pergi dari daerah mereka.

Ini yang membuat saya merenung.
Mengapa mereka meminta Yesus pergi?
Kemungkinan besar karena mereka merasa dirugikan.
Kawanan babi mereka mati tercebur ke danau.
Mereka melihat karya pembebasan Yesus, tetapi yang lebih mereka rasakan adalah kerugiannya.

Dua orang diselamatkan, tetapi harta mereka hilang.
Dua orang dipulihkan martabatnya, tetapi usaha mereka terganggu.
Maka mereka memilih: lebih baik Yesus pergi saja.

Jangan-jangan, kita pun kadang-kadang seperti itu.
Kita mau Yesus hadir dalam doa kita.
Kita mau Yesus memberkati pekerjaan kita.
Kita mau Yesus menjaga keluarga kita.
Kita mau Yesus menolong ketika kita susah.

Tetapi ketika Yesus mulai menyentuh bagian hidup kita yang salah,
ketika Yesus mulai mengusik kebiasaan buruk kita,
ketika Yesus mulai menegur cara kita memperlakukan orang lain,
ketika Yesus mulai meminta kita melepaskan “kawanan babi” kita,
yakni hal-hal yang sebenarnya tidak berkenan kepada Tuhan,
kita menjadi tidak nyaman.

Kita tidak mengusir Yesus dengan kata-kata.
Tetapi kita bisa mengusir Yesus dengan sikap hidup.

Mungkin saja kita berkata,
“Tuhan, Engkau boleh hadir di gereja,
tetapi jangan terlalu ikut campur dalam urusan bisnis saya.”

“Tuhan, Engkau boleh hadir dalam doa malam saya,
tetapi jangan mengganggu dendam saya kepada orang itu.”

“Tuhan, Engkau boleh memberkati keluarga saya,
tetapi jangan meminta saya berubah.”

“Tuhan, Engkau boleh memberi saya rezeki,
tetapi jangan menegur cara saya mendapatkannya.”

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Hari ini kita diajak untuk jujur bertanya:
Apakah saya sungguh mengundang Yesus masuk ke dalam hidup saya?
Ataukah saya hanya mengundang Yesus sejauh Ia tidak mengganggu kenyamanan saya?

Apakah saya sungguh mau dibebaskan oleh Yesus?
Atau saya lebih memilih mempertahankan hal-hal yang sebenarnya menjauhkan saya dari Tuhan?

Jangan sampai kita rajin berdoa,
tetapi diam-diam meminta Yesus pergi
setiap kali Ia hendak mengubah hidup kita.

Marilah kita berkata kepada Yesus:
“Tuhan, jangan pergi dari hidupku.
Tetaplah tinggal.
Sekalipun aku tidak selalu nyaman,
sekalipun aku harus berubah,
sekalipun ada yang harus kulepaskan,
aku percaya,
Engkau datang bukan untuk mencelakakan aku,
melainkan untuk membebaskan aku.”
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Hari Raya Darah Yesus Yang Mahakudus
Hari Raya Darah Yesus Yang Mahakudus mau mengarahkan hati kita kepada makna peristiwa "Sengsara Kristus", yang diwarnai dengan pertumpahan DarahNya yang kudus demi keselamatan umat manusia. Seluruh umat diajak untuk merenungkan tentang mahalnya harga bayaran yang harus ditanggung oleh Kristus, sekaligus tentang rahasia cinta kasihNya demi penebusan dosa umat manusia. Akhirnya umat juga diajak bersyukur dan berterima kasih kepada Kristus atas kerelaanNya untuk menderita demi keselamatan umat manusia.
Dalam doa sesudah komuni, Gereja berdoa: "Kami menimba air dari Sumber Penyelamat kami dengan sukacita. Kami mohon, moga­moga darahMu menjadi bagi kami sumber air yang memancarkan kehidupan yang kekal".
Pesta ini diresmikan oleh Sri Paus Pius IX (1846-1878), sebagai tanda syukur atas peristiwa kembalinya Sri Paus ke Roma setelah pemberontakan dikalahkan. Ketika Paus Yohanes XXIII naik takhta, beliau tidak saja meningkatkan pesta ini menjadi satu hari raya Gereja, tetapi juga menunjukkan devosi yang besar kepada Darah Yesus yang Maha­kudus itu.

Harun, Imam Agung Israel
Harun atau Aaron dari suku Levi adalah kakak nabi Musa dan Imam Agung pertama bani Israel. Ia dikenal sebagai orang yang pandai bicara. la ditentukan Allah untuk membantu Musa dalam tugasnya membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman penindasan Firaun di Mesir. Ia diangkat Allah menjadi Imam Agung ketika bangsa Israel masih berada di Mesir (Kel 4:14-16).
Tugasnya sebagai pendamping Musa adiknya dilaksanakannya dengan baik. la tampil sebagai juru bicara Musa setiap kali mereka menghadap Firaun untuk menuntut pembebasan bangsa Israel (Kel 7:1-2). Selanjutnya setelah bangsa Israel diizinkan meninggalkan Mesir, Harun tetap setia mendampingi Musa untuk membimbing bangsa itu dalam perjalanan menuju Sinai, tempat mereka mempersembahkan korban kepada Yahweh. Di Sinai, sesuai perintah Tuhan, Harun mendapat kesempatan istimewa untuk melihat Tuhan di atas gunung Sinai bersama Musa, Nadab dan Abihu serta tujuhpuluh orang dari tua-tua Israel (Kel 24:9-10).
Kemudian karena Musa sangat lama tinggal di atas gunung, bangsa Israel mendesak Harun untuk menciptakan bagi mereka allah lain dalam bentuk patung lembu emas untuk disembah (Kel 32:1-6; 21-24). Seperti Musa, Harun tidak diperkenankan memasuki Tanah Terjanji Kanaan karena ketidakpercayaannya kepada Tuhan di sumber air Meriba (Bil 20:7-13).

Beato Oliver Plunkett, Martir
Oliver Plunkett lahir di Loughcrew, County Meath, Irlandia pada tahun 1629. Pendidikan imamatnya berlangsung di Roma di bawah bimbingan pamannya yang telah menjadi imam. Pada tahun 1654, ia ditahbiskan menjadi imam. Karya imamatnya dimulai dengan mengajar teologi di Kolese Penyebaran Iman di Roma. Putra kelahiran Irlandia ini menjadi seorang imam yang pandai sekali dalam mengajar. Di Roma ia mewakili Uskup-uskup Irlandia di Takhta Suci. Pada tanggal 9 Juli 1669, Oliver diangkat menjadi Uskup Agung Armagh dan Primat Irlandia.
Dalam jabatannya itu Oliver terbukti menjadi seorang pemimpin Gereja yang patut diteladani. Dalam 4 tahun karyanya sebagai uskup, ia telah berhasil mempermandikan 48.000 orang menjadi Katolik. Jumlah ini menunjukkan suatu prestasi yang menakjubkan sekali dalam situasi penganiayaan terhadap umat Katolik Irlandia saat itu.
Selain giat dalam bidang pewartaan Injil dan Katekese, ia juga giat mengembangkan pendidikan Katolik, mengadakan sinode-sinode untuk mengatur hidup Gereja dan pengembangan iman umat, menahbiskan sejumlah imam dan mengawasi kegiatan imam-imamnya. Pimpinan Gereja Protestan mulai bersahabat dengan Gereja Katolik pada masa kepemimpinan Uskup Oliver Plunkett.
Disamping kegemilangan yang diraihnya, ada pula banyak tantangan terhadap karyanya. la terpaksa tinggal di suatu tempat persembunyian tatkala aksi perlawanan terhadap Gereja Katolik semakin menjadi­jadi. Pada bulan Desember 1678 Uskup Oliver ditangkap dan dipenjarakan karena tuduhan-tuduhan palsu dari Titus Oates. Titus menuduh Oliver mengorganisir para imam Yesuit untuk melancarkan perlawanan terhadap Raja Charles II. Karena tuduhan ini, Oliver dihadapkan ke pengadilan Irlandia pada tahun 1680. Pengadilan tidak berhasil menghukumnya karena tuduhan itu tidak benar. Oliver kemudian diadili lagi untuk kedua kalinya di hadapan pengadilan Inggris dengan tuduhan pengkhianatan. la dituduh membiayai suatu ekspedisi militer Prancis untuk menyerang Irlandia. Oliver yang merasa tidak melakukan hal itu dengan tegas menolak tuduhan itu. Tetapi pihak pengadilan menjatuhkan juga hukuman atas diri Oliver tanpa ampun.
Uskup Oliver Plunkett adalah tokoh Katolik terakhir yang mati digantung di Inggris karena imannya dan perjuangannya menyebarkan iman Katolik. Kematiannya pada tanggal 11 Juli 1681 menandai akhir suatu abad penganiayaan terhadap Umat Katolik di Inggris.

Santo Teodorikus, Abbas
Teodorikus lahir di Menancourt, dekat Rheims, Prancis Selatan pada pertengahan abad V. Ketika menanjak dewasa, ia dipaksa mengawini seorang gadis yang disenangi oleh keluarganya. Teodorikus, karena rasa hormatnya yang tinggi kepada orang-tuanya, mengikuti saja keinginan mereka.
Tetapi setelah baberapa lama hidup bersama wanita itu sebagai suami-istri, dengan izinan istrinya, Teodorikus meninggalkan keluarganya dan menjadi seorang calon imam di Rheims. Santo Remigius, uskup kota itu, menahbiskan dia menjadi imam dan mengangkatnya sebagai pemimpin komunitas biara Mont d'Or (= Gunung Emas) di Champagne.
Di bawah kepemimpinannya, biara Mont d'Or menjadi sebuah pusat kegiatan keagamaan yang terkenal. Banyak orang yang berkunjung ke biara itu diteguhkan imannya setelah mendengar kotbah-kotbah Teodorikus. Setelah kematiannya pada tahun 533, penghormatan kepada Teodorikus tersebar ke seluruh negeri Prancis. Santo Teodorikus disebut juga dengan nama Santo Thierry.

Santo Pambo, Pertapa
Semenjak masa mudanya Pambo mengasingkan diri ke sebuah tempat pertapaan di gurun pasir Mesir. Hidupnya keras, sederhana dan serba kekurangan. Karena dia tidak pandai membaca, ia berguru pada seorang pertapa lain dalam hal membaca dan menghafal ayat-ayat Mazmur. Selain tidak pandai membaca, Pambo pun dikenal sebagai pertapa yang tidak suka banyak bicara. Namun ia dikenal sebagai pembimbing rohani yang disenangi.
Apabila orang mamintai nasehat dan bimbingan mengenai sesuatu soal kerohanian, Pambo selalu meminta waktu lebih dahulu untuk merenung dan berdoa. Maksudnya agar dia bisa memberi jawaban yang benar dan memuaskan sesuai dengan kehendak Allah.  Santo Athanasius, Uskup Aleksandria, yang kagum akan kesalehan hidup Pambo, mengundang dia ke Aleksandria untuk memberi kesaksian tentang keallahan Kristus, berhadapan dengan ajaran sesat Arianisme yang merajalela di kalangran umat.
Kepada rekan-rekannya, Pambo mengatakan "Berpuasa dan memberi derma dari hasil keringat sendiri amatlah mulia, namun itu belumlah cukup untuk menjadi seorang rahib yang berkenan kepada Allah". Pambo meninggal dunia pada tahun 390.

Santo Simeon Salos, Pengaku Iman
Simeon dijuluki 'Si Gila' (= ho Salos; Yun.) sebab setelah bertapa selama 29 tahun di gurun dekat Laut Mati dan pulang ke Homs (Siria), ia bertingkah seperti orang gila. Maksudnya supaya ia dianggap hina dan dapat berkawan dengan orang-orang yang paling dikucilkan oleh masyarakat (gelandangan, orang lumpuh, pelacur, dll). Sikap seperti ini masih dihargai dan ditiru oleh sementara biarawan di Rusia.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-06-30 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Selasa, 30 Juni 2026

PF Para Martir Pertama Umat di Roma



Bacaan Pertama
Am 3:1-8; 4:11-12

"Tuhan Allah telah bersabda, siapakah yang tidak bernubuat?"

Pembacaan dari Nubuat Amos:

Hai orang Israel,
Dengarkanlah sabda Tuhan tentang dirimu ini,
tentang segenap kaum
yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir.
Beginilah sabda-Nya,
"Hanya kalian yang Kupilih dari segala kaum di muka bumi.
Sebab itu Aku akan menghukum kalian karena kesalahanmu.
Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum berjanji?
Mengaumkah seekor singa di hutan apabila tidak mendapat mangsa?
Bersuarakah singa muda dari sarangnya,
jika belum menangkap apa-apa?
Jatuhkah seekor burung ke dalam perangkap di tanah,
apabila tidak ada jerat di sana?
Membingkaskah perangkap, jika tidak ada yag ditangkap?
Adakah sangkakala ditiup di suatu kota,
dan orang-orang tidak gemetar?
Adakah terjadi malapetaka di suatu kota,
dan bukan Tuhan yang melakukannya?
Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu
tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.
Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?
Tuhan Allah telah bersabda, siapakah yang tidak bernubuat?

Aku telah menjungkirbalikkan kota-kotamu seperti Allah
menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora,
sehingga kalian menjadi seperti puntung
yang ditarik dari kebakaran.
Namun kalian tidak berbalik kepada-Ku.
Sebab itu demikianlah akan Kulakukan kepadamu, hai Israel.
Oleh karena Aku akan melakukan yang demikian kepadamu,
maka bersiap-siaplah untuk bertemu dengan Allah, hai Israel."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 5:5-6.7.8,R:9a

Refren: Tuhan, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu.

*Engkau bukanlah Allah yang berkenan akan kefasikan;
orang jahat takkan menumpang pada-Mu.
Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu;
Engkau benci terhadap semua orang yang melakukan kejahatan.

*Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong,
Tuhan jijik melihat penumpah darah dan penipu.

*Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar,
aku akan masuk ke dalam rumah-Mu,
sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus
dengan takut akan Engkau.



Bait Pengantar Injil
Mzm 129:5

Aku menanti-nantikan Tuhan,
Jiwaku mengharapkan sabda-Nya.



Bacaan Injil
Mat 8:23-27

"Yesus bangun, menghardik angin dan danau,
maka danau menjadi teduh sekali."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu,
dan murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu,
sehingga perahu ditimbus gelombang.
Tetapi Yesus tidur.
Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya,
"Tuhan, tolonglah, kita binasa!"

Yesus berkata kepada mereka,
"Mengapa kalian takut, hai orang-orang yang kurang percaya!"
Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau.
Maka danau menjadi teduh sekali.
Dan heranlah orang-orang itu, katanya,
"Orang apakah Dia ini,
sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Ketika terjadi bencana alam, saya sering mendengar orang berkata, “Ini hukuman dari Tuhan.” Bahkan ada yang berkata, “Tuhanlah yang membuat bencana itu terjadi.”

Saya kok kurang sreg dengan pernyataan seperti itu. Bukan karena saya ingin membela manusia yang berdosa, tetapi karena saya percaya bahwa Allah Bapa, Allah Putera, dan Roh Kudus sungguh mengasihi manusia.

Kalau Allah begitu mengasihi manusia sampai mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menebus kita, masakan Allah sengaja mencelakai kita?
Kalau Yesus sendiri berkata bahwa burung pipit pun diperhatikan oleh Bapa, apalagi kita yang jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit, masakan kasih Allah kita bayangkan seperti kasih yang mencelakai?

Bencana alam memang terjadi.
Gempa bumi terjadi.
Gunung meletus terjadi.
Banjir, badai, wabah penyakit, kecelakaan, dan berbagai penderitaan lain juga terjadi.

Tetapi tidak setiap penderitaan boleh langsung kita sebut sebagai hukuman Tuhan.
Sebab bencana menimpa siapa saja.
Orang berdosa bisa menjadi korban, tetapi orang baik pun bisa menjadi korban.
Orang yang tidak percaya bisa menderita, tetapi orang beriman pun bisa menderita.

Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala hukum alamnya.
Ada siang dan malam.
Ada musim.
Ada kelahiran dan kematian.
Ada tubuh yang kuat, ada juga tubuh yang rapuh.
Ada kehidupan yang bertumbuh, ada juga kehidupan yang akhirnya selesai.

Hidup di dunia ini memang bukan tempat terakhir kita.
Kita sedang berjalan.
Kita sedang dipulihkan.
Kita sedang dibentuk, supaya pada akhirnya kita boleh kembali dan berkumpul bersama Tuhan.

Pada Bacaan Injil hari ini, para murid mengalami angin ribut di danau.
Perahu mereka ditimbus gelombang.
Mereka ketakutan.
Padahal Yesus ada di dalam perahu itu, tetapi Yesus tidur.

Lalu mereka membangunkan Yesus dan berkata, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”

Yesus tidak langsung memuji mereka karena berseru kepada-Nya.
Yesus justru berkata, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”

Setelah itu Yesus bangun, menghardik angin dan danau itu, lalu danau menjadi teduh sekali.

Inilah yang menarik.
Yesus tidak berkata bahwa badai itu hukuman.
Yesus juga tidak mengajari para murid untuk mencari siapa yang salah sehingga badai itu terjadi.
Yang Yesus tegur adalah ketakutan mereka.
Yang Yesus bangunkan adalah iman mereka.

Badai boleh datang.
Gelombang boleh menghantam.
Perahu boleh terguncang.
Tetapi selama Yesus ada di dalam perahu, tidak seharusnya kita kehilangan iman.

Ini bukan berarti orang beriman pasti bebas dari bencana.
Bukan.
Para murid justru mengalami badai ketika mereka sedang bersama Yesus.
Mereka tidak sedang lari dari Yesus.
Mereka tidak sedang melawan Yesus.
Mereka ikut Yesus naik ke perahu, tetapi badai tetap datang.

Maka, ukuran iman bukanlah apakah hidup kita bebas dari badai.
Ukuran iman adalah apakah kita tetap percaya ketika badai itu datang.

Dalam hidup ini, kita memang mesti berjuang.
Kita mesti menjaga kesehatan.
Kita mesti berhati-hati di jalan.
Kita mesti menjaga alam, tidak merusaknya.
Kita mesti siap menghadapi ancaman dan kesulitan.
Kita tidak boleh hidup sembrono lalu menyalahkan Tuhan ketika celaka datang.

Tetapi di atas semua usaha itu, kita juga mesti belajar percaya.
Percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita.
Percaya bahwa Tuhan tetap ada di dalam perahu hidup kita.
Percaya bahwa badai tidak lebih besar daripada kuasa Tuhan.

Ada badai yang diredakan Tuhan seketika.
Ada badai yang mesti kita lewati perlahan-lahan.
Ada badai yang tidak langsung berhenti, tetapi Tuhan memberi kita kekuatan untuk bertahan.
Yang penting, jangan sampai badai di luar membuat iman di dalam diri kita ikut tenggelam.

Hari ini Yesus seolah berkata kepada kita:
“Mengapa engkau takut?
Bukankah Aku ada bersamamu?”

Maka ketika hidup terasa seperti perahu yang ditimbus gelombang, jangan buru-buru menuduh Tuhan.
Jangan buru-buru berkata, “Tuhan sedang menghukum saya.”
Datanglah kepada Yesus.
Bangunkan iman kita yang tertidur.
Berserulah, “Tuhan, tolonglah.”
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Bertrandus, Uskup dan Pengaku Iman
Bertrandus adalah seorang imam abad keenam. Ia lahir pada tahun 553. Keluarganya tergolong kaya raya. la dikenal sebagai seorang imam yang pemurah: ia menghadiahkan beberapa bidang tanah warisannya kepada Gereja dan kepada orang-orang miskin.
Ia ditahbiskan imam di Paris dan kemudian dipilih menjadi pemimpin sebuah sekolah. Pada tanun 587, ia dipilih menjadi Uskup di Le Mans, sobuah kota kecil yang dihuni orang-orang Prancis.
Ketika pertentangan politik antara kaum Neustria (Prancis Barat) dan kaum Austrasia (Perancis Timur) terjadi, Bertrandus diusir dari takhta keuskupannya selama beberapa tahun. Kemudian Raja Clotaire II dari kelompok Neustria memanggilnya kembali untuk memimpin keuskupan.
Dari tuan-tuan tanah yang kaya, Bertrandus menerima sejumlah besar tanah untuk kepentingan Gereja. Tanah-tanah ini dimanfaatkannya untuk membangun gereja dan biara, dan sebuah rumah penginapan untuk para peziarah. Bertrandus meninggal dunia pada tahun 625, pada usia 70 tahun.

Santo Theobaldus, Pertapa
Theobaldus lahir pada tahun 1017 di Provins, Prancis, dari sebuah keluarga bangsawan. Semasa mudanya, ia banyak membaca buku-buku tentang kehidupan Santo Yohanes Pemandi dan riwayat hidup orang­orang kudus lainnya. Bacaan-bacaan ini menimbulkan dalam hatinya benih panggilan Allah untuk menjalani hdup seperti orang-orang kudus itu. la sungguh mengagumi cara hidup dan perjuangan para kudus untuk meraih kesempurnaan hidup Kristiani.
Terdorong hasrat besar untuk meniru cara hidup para kudus itu, ia meninggalkan rumah mereka pada tahun 1054 tanpa sepengetahuan orang-tuanya. Ia pergi ke Luxemburg. Di sana ia bekerja sepanjang hari di hutan Petingen sebagai pembakar arang bagi tetangga-tetangganya yang bekerja sebagai tukang besi. Sementara itu, ia terus menjalani hidup doa dan tapa secara diam-diam.
Ketika semua orang tahu akan kesucian hidup Theobaldus, banyak orang datang untuk menjadi muridnya. Ia lalu mengasingkan diri ke Salanigo untuk menjalani hidup tapa. Tetapi ia diikuti oleh orang-orang yang tertarik untuk mendapat bimbingannya. la kemudian ditahbiskan menjadi imam agar lebih pantas menjalankan tugas-tugas misioner.
Pada tanggal 30 Juni 1066, Theobaldus meninggal dunia karena terserang penyakit yang berbahaya. Ia digelari 'kudus' oleh Paus Aleksander II pada tahun 1073.

Santa Giacinta Marescotti, Pengaku Iman
Giacinta lahir di Vignarello, Italia pada tahun 1585 dari sebuah keluarga bangsawan. Ia dididik di biara suster-suster Fransiskan. Seorang kakaknya sudah menjadi suster di biara ini.  Semasa kecilnya Giacinta dikenal sebagai anak yang baik namun ia kemudian bertingkah laku jelek ketika adik bungsunya lebih dahulu menikah (dengan Marquis Cassizuchi). Dia tersinggung karena merasa dilangkahi oleh adiknya. Sifat baiknya merosot, sebaliknya ia menjadi seorang pendendam di dalam keluarganya. Ia memutuskan masuk biara sekedar iseng-iseng. la masuk Ordo Ketiga Santo Fransiskus di Viterbo dengan mengambil nama Giacinta. Sekalipun sudah menjadi seorang suster, namun ia tidak melepaskan cara hidup foyanya dengan harta keluarganya; selama 10 tahun ia benar-benar menjadi batu sandungan bagi rekan-rekannya yang lain.
Pada suatu hari ia jatuh sakit keras. Seorang imam Fransiskan datang mendengarkan pengakuannya dan memberikan peringatan keras tentang cara hidupnya yang tidak sesuai dengan semangat ordonya. Ia bertobat, namun jatuh lagi ke dalam cara hidup seperti sedia kala. Tuhan mencobainya lagi dengan sakit lebih berat. Semenjak itu ia mulai tekun berdoa, bermatiraga dan merobah tingkah laku hidupnya. Lama kelamaan ia berubah menjadi seorang suster yang saleh dan menjadi pembimbing rohani bagi rekan-rekannya. Nasehat-nasehatnya sangat praktis berdasarkan pengalaman rohaninya sendiri. Ia menekankan pentingnya menghayati kerendahan hati, menghilangkan sifat cinta diri, kesabaran memikul salib penderitaan sehari-hari. Cinta dan perhatian­nya sangat besar, bukan saja terhadap rekan-rekan susternya tetapi juga terhadap komunitas biara suster lainnya. Ia turut serta mendirikan dua biara di Viterbo yang mengabdikan diri pada bidang pelayanan orang­orang sakit, orang-orang jompo dan miskin di Viterbo. la sendiri mencari dana dengan minta-minta. Giacinta wafat pada tanggal 30 Januari 1640 pada usia 55 tahun. la dinyatakan sebagai 'santa' pada tahun 1807.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-06-29 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
HR S. Petrus dan Paulus, Rasul

Senin, 29 Juni 2026



Bacaan Pertama
Kis 12:1-11

"Sekarang benar-benar tahulah aku
bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya
dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Waktu terjadi penganiayaan terhadap jemaat,
Raja Herodes mulai bertindak dengan keras
terhadap beberapa orang dari jemaat.
Ia menyuruh membunuh Yakobus,
saudara Yohanes, dengan pedang.
Ketika ia melihat
bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi,
ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus.
Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi.
Setelah Petrus ditangkap,
Herodes menyuruh memenjarakannya
di bawah penjagaan empat regu,
masing-masing terdiri dari empat prajurit.
Maksudnya ialah,
supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.
Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara.
Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam
sebelum Herodes menghadapkannya kepada orang banyak,
Petrus tidur di antara dua orang prajurit,
terbelenggu dengan dua rantai.
Selain itu
prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus,
dan cahaya bersinar dalam ruang itu.
Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya.
Kata malaikat itu kepadanya, "Bangunlah segera!"
Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.
Lalu kata malaikat itu kepadanya,
"Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!"
Petrus pun berbuat demikian.
Lalu malaikat itu berkata kepadanya,
"Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!"
Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar,
dan ia tidak tahu
bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi;
sangkanya ia melihat suatu penglihatan.
Setelah mereka melalui tempat kawal pertama
dan tempat kawal kedua,
sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota.
Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka.
Sesudah tiba di luar,
mereka berjalan sampai ke ujung jalan,
dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia.
Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata,
"Sekarang benar-benar tahulah aku
bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya
dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes
dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9,R:5b

Refren: Tuhan melepaskan daku dari segala kegentaranku.

*Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu;
puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.
Karena Tuhan jiwaku bermegah;
biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya
dan bersukacita.

*Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan daku,
marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya.
Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku,
dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.

*Tujukkanlah pandanganmu kepada-Nya,
maka mukamu akan berseri-seri,
dan tidak akan malu tersipu-sipu.
Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan;
Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

*Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takwa,
lalu meluputkan mereka.
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan!
Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!



Bacaan Kedua
2Tim 4:6-8.17-18

"Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran."

Pembacaan dari Surat Kedua Raul Paulus
kepada Timotius:

Saudaraku terkasih,
darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan,
dan saat kematianku sudah dekat.
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,
aku telah mencapai garis akhir,
dan aku telah memelihara iman.
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran
yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil,
pada hari-Nya;
bukan hanya kepadaku,
tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku,
supaya dengan perantaraanku
Injil diberitakan dengan sepenuhnya
dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya.
Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.
Tuhan akan melepaskan daku dari setiap usaha yang jahat.
Dia akan menyelamatkan aku,
sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di surga.
Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 16:18

Engkau adalah Petrus,
di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,
dan alam maut tidak akan menguasainya.



Bacaan Injil
Mat 16:13-19

"Engkau adalah Petrus,
dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi.
Ia bertanya kepada murid-murid-Nya,
"Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"
Jawab mereka, "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis,
ada juga yang mengatakan: Elia,
dan ada pula yang mengatakan: Yeremia
atau salah seorang dari para nabi."

Lalu Yesus bertanya kepada mereka,
"Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Maka jawab Simon Petrus,
"Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Kata Yesus kepadanya,
"Berbahagialah engkau Simon bin Yunus,
sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu,
melainkan Bapa-Ku yang di surga.
Dan Aku pun berkata kepadamu:
Engkau adalah Petrus,
dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,
dan alam maut tidak akan menguasainya.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.
Apa yang kauikat di dunia ini
akan terikat di surga,
dan apa yang kaulepaskan di dunia ini
akan terlepas di sorga."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, Rasul.
Saya merasa senang sekali karena kedua rasul besar ini dirayakan secara bersamaan. Rasanya memang pas. Petrus dan Paulus itu berbeda, tetapi justru saling melengkapi.

Petrus adalah salah seorang rasul pertama yang dipanggil Yesus. Paulus dipanggil kemudian, bukan ketika Yesus masih berjalan bersama para murid di Galilea, melainkan setelah Yesus bangkit, ketika Paulus dalam perjalanan ke Damsyik.

Petrus adalah nelayan sederhana dari Galilea. Paulus adalah orang terpelajar, seorang Farisi, berasal dari Tarsus, dan memiliki kewarganegaraan Romawi. Petrus lebih banyak dikenal sebagai rasul bagi orang-orang Yahudi. Paulus dikenal sebagai rasul bagi bangsa-bangsa lain.

Kalau boleh memakai gambaran sederhana, Petrus seperti orang yang menjaga rumah dari dalam, meneguhkan jemaat, menjaga kesatuan, menggembalakan kawanan domba Kristus. Paulus seperti orang yang keluar dari rumah, mengetuk pintu-pintu baru, membawa Injil ke ruang-ruang yang lebih luas, sampai kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Kristus.

Petrus menjaga rumah. Paulus membuka jalan.
Itulah sebabnya Hari Raya ini begitu penting. Gereja tidak hanya mengenang dua orang kudus yang hebat, tetapi mengenang dua pilar utama Gereja awal. Dari Petrus kita melihat dasar dan kesatuan Gereja. Dari Paulus kita melihat semangat pewartaan yang tak terbendung.

Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus bertanya kepada para murid-Nya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”
Jawaban Petrus ini bukan sekadar jawaban pintar. Ini adalah pengakuan iman. Dan atas pengakuan iman itulah Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”

Menariknya, Yesus tidak memilih orang yang sempurna.
Petrus pernah ragu. Petrus pernah tenggelam ketika berjalan di atas air. Petrus pernah sok berani, tetapi akhirnya menyangkal Yesus sampai tiga kali. Kalau kita memakai ukuran manusia, Petrus tidak terlalu meyakinkan untuk menjadi pemimpin umat.

Paulus juga begitu. Sebelum menjadi rasul, ia justru mengejar-ngejar para pengikut Kristus. Ia ikut menyetujui penganiayaan terhadap jemaat. Kalau kita memakai ukuran manusia, Paulus bukan calon pewarta Injil, melainkan bekas penganiaya Gereja.

Tetapi Tuhan tidak berhenti pada masa lalu seseorang.
Tuhan melihat Petrus bukan hanya sebagai nelayan yang labil. Tuhan melihat batu karang iman yang akan diteguhkan. Tuhan melihat Paulus bukan hanya sebagai penganiaya jemaat. Tuhan melihat seorang pewarta besar yang akan membawa nama Kristus kepada bangsa-bangsa.

Inilah pesan kuat dari Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus: Gereja dibangun bukan oleh orang-orang yang sejak awal sempurna, melainkan oleh orang-orang yang mau diubah oleh Kristus.

Petrus dan Paulus juga tidak selalu sama cara berpikirnya. Mereka punya latar belakang berbeda, gaya berbeda, medan pelayanan berbeda. Bahkan dalam perjalanan Gereja awal, pernah ada ketegangan dan perbedaan pandangan. Tetapi mereka tetap satu dalam Kristus, satu dalam iman, satu dalam pewartaan Injil.

Kadang-kadang kita merasa perbedaan itu selalu harus menjadi alasan untuk menjauh. Berbeda cara berpikir, lalu curiga. Berbeda gaya pelayanan, lalu saling menilai. Berbeda latar belakang, lalu merasa yang satu lebih rohani daripada yang lain.

Hari Raya ini mengingatkan kita, Gereja sejak awal tidak dibangun dengan satu warna saja.
Ada Petrus. Ada Paulus.
Ada yang tugasnya meneguhkan dari dalam. Ada yang tugasnya pergi keluar. Ada yang lebih pastoral. Ada yang lebih misioner. Ada yang menjaga tradisi. Ada yang membuka jalan baru. Selama semuanya tetap berpusat pada Kristus, perbedaan itu bukan ancaman, melainkan kekayaan.

Petrus dan Paulus akhirnya sama-sama menjadi martir. Keduanya mengakhiri hidup bukan dengan mencari kehormatan untuk diri sendiri, melainkan dengan menyerahkan hidup bagi Kristus. Petrus dan Paulus tidak hanya berbicara tentang iman. Mereka membayar iman itu dengan hidup mereka.

Maka hari ini kita tidak hanya mengagumi mereka. Kita juga diajak bercermin.
Apakah iman kita sudah seperti Petrus yang berani berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”?
Apakah semangat kita sudah seperti Paulus yang tidak malu mewartakan Kristus?
Apakah kita masih terlalu sibuk melihat masa lalu orang lain, padahal Tuhan sendiri mampu mengubah masa lalu menjadi jalan pertobatan?
Apakah kita masih suka memperbesar perbedaan, padahal Kristus memanggil kita untuk bekerja bersama?

Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja. Nelayan bisa menjadi batu karang Gereja. Penganiaya bisa menjadi rasul bangsa-bangsa. Orang yang pernah jatuh bisa bangkit. Orang yang pernah salah bisa dipakai Tuhan untuk hal yang besar.

Yang penting bukan sehebat apa masa lalu kita. Yang penting adalah apakah hari ini kita mau menjawab panggilan Tuhan.
Sebab seperti Petrus dan Paulus, kita pun dipanggil bukan untuk menjadi pengagum Kristus dari jauh, tetapi menjadi saksi-Nya.
Dengan cara kita masing-masing.
Di tempat kita masing-masing.
Dalam tugas kita masing-masing.

Petrus menjaga dan meneguhkan.
Paulus pergi dan mewartakan.

Kita pun dipanggil untuk melakukan bagian kita, agar Kristus semakin dikenal, semakin diimani, dan semakin dimuliakan.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Petrus dan Paulus, Rasul
Sejak semula Gereja menghormati kedua rasul, Petrus dan Paulus, secara bersama-sama. Kedua rasul ini dianggap sebagai sokoguru Gereja. Simon, anak Yunus dan saudara Andreas, lahir di Betsaida, Galilea, sebuah kampung di tepi danau Genesaret. Seperti ayahnya, Simon adalah seorang nelayan yang ulet, bertabiat jujur, dan rajin. la tidak berpendidikan tetapi cukup trampil dalam pekerjaannya sebagai seorang nelayan. Kepribadiannya sangat menarik perhatian Yesus; karena itu Yesus berkenan menjadikannya seorang muridNya, bahkan mengangkatnya menjadi pemimpin para rasul dan pemimpin Gereja yang pertama.
Pada mulanya, Simon bersama Andreas saudaranya, menjadi murid Yohanes Pemandi. Oleh Andreas, Simon diperkenalkan kepada Yesus, Sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh seluruh bangsa Israel. "Kami telah menemukan Mesias, yaitu Kristus", kata Andreas kepada Simon. Pada saat itu, Yesus berkata kepada Simon, "Engkau Simon anak Yohanes, Engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)". (Yoh 1:41-42) Kefas berarti wadas atau batu karang. Sejak saat itu, dia lebih dikenal dengan nama Petrus.
Petrus secara resmi berkeputusan mengikuti Yesus, Sang Mesias dengan meninggalkan segala-galanya, ketika ia menyaksikan mujizat penangkapan ikan secara ajaib oleh Yesus. Kata Yesus kepada Petrus: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan". Petrus berkata kepada Yesus: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga". Dengan kepercayaan ini, Petrus menyaksikan kuasa Yesus, Sang Mesias. Dan di depan Yesus yang penuh kuasa ilahi itu Petrus bersujud: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa". Kepada Petrus yang rendah hati itu, Yesus berkata: "Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia". Setelah penyerahan diri ini, Petrus diperkenankan menyaksikan berbagai peristiwa dan akhirnya dipercayakan tugas menjadi pemimpin para rasul dan gembala kaum beriman.
Di samping kisah-kisah yang menampilkan pribadi Petrus sebagai orang kepercayaan Yesus, terdapat juga kisah Injil yang menampilkan pribadi Petrus sebagai seorang yang masih dangkal imannya dan belum memahami benar kehendak Allah atas diri Yesus. Dalam Mat 16:21-28 dikisahkan tentang pemberitahuan Yesus tentang penderitaanNya, dan Petrus serta-merta berkata: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!  Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau". "Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia", demikian teguran Yesus kepada Petrus. Ia juga menyangkal Yesus ketika Yesus ditangkap dan diadili. (Mat 26:30-35; 69-75).
Sesudah kebangkitan Yesus, Petrus diangkat menjadi pemimpin keduabelas rasul dan gembala kaum beriman di Yerusalem. Petrus juga yang menerima orang kafir pertama ke dalam Gereja, dan memimpin Konsili pertama di Yerusalem.
Paulus (Saulus) lahir di Tarsus, Asia Kecil dari keluarga Yahudi yang berkewarganegaraan Romawi. Ia seorang terdidik dan belajar di Yerusalem pada Gamaliel, dari kelompok Farisi.
Sebagai seorang Farisi yang fanatik, Saulus tiada hentinya mengejar dan memenjarakan murid-murid Yesus.
Dalam perjalanannya ke Damsyik, Yesus menangkapnya dan menjadikan dia seorang rasul untuk bangsa-bangsa kafir. Ia dipermandikan oleh Ananias. la menjelajahi seluruh daerah Laut Tengah untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa kafir. Perjalanan misinya senantiasa diwarnai dengan berbagai kesulitan dan pertentangan dengan kaum kafir. Di Yerusalem ia ditangkap oleh orang Yahudi, lalu dipenjarakan dan dibawa ke Roma sebab ia naik banding kepada kaisar, Akhirnya ia dibebaskan. Tak lama kemudian, dia ditangkap lagi dan akhirnya menemui ajalnya sebagai martir di Roma pada tahun 67.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-06-28 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 28 Juni 2026



Bacaan Pertama
2Raj 4:8-11.14-16a

"Orang itu adalah abdi Allah yang kudus;
biarlah ia masuk ke sana."

Pembacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja:

Pada suatu hari
Nabi Elisa pergi ke Sunem.
Di sana tinggallah seorang perempuan kaya
yang mengundang dia makan.
Dan setiap kali ia dalam perjalanan,
singgahlah Elisa ke sana untuk makan.
Berkatalah perempuan itu kepada suaminya,
"Sesungguhnya aku sudah tahu
bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu
adalah abdi Allah yang kudus.
Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil
yang berdinding batu,
dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur,
sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil;
maka, apabila ia datang kepada kita,
biarlah ia masuk ke sana."

Pada suatu hari datanglah Elisa ke sana,
lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di sana.
Kemudian berkatalah Elisa kepada Gehazi, hambanya,
"Apakah yang dapat kuperbuat baginya?"
Jawab Gehazi, "Ah, ia tidak mempunyai anak,
dan suaminya sudah tua."
Lalu berkatalah Elisa, "Panggillah dia!"
Sesudah dipanggil, berdirilah perempuan itu di pintu.
Maka berkatalah Elisa kepadanya,
"Tahun depan, pada waktu seperti ini juga,
engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 89:2-3.16-17.18-19,R:2a

Refren: Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya.

*Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya,
hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun-temurun.
Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya;
kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

*Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai,
ya Tuhan, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu;
karena nama-Mu mereka bersorak-sorai sepanjang hari,
dan karena keadilan-Mu mereka bermegah-megah.

*Sebab Engkaulah semarak kekuatan mereka,
dan karena Engkau berkenan, tanduk kami ditinggikan.
Sebab milik Tuhanlah perisai kita,
milik Yang Kudus Israellah raja kita.



Bacaan Kedua
Rom 6:3-4.8-11

"Kita telah dikuburkan bersama Kristus oleh pembaptisan,
supaya kita hidup dalam hidup yang baru."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara,
camkanlah: kita semua, yang telah dibaptis dalam Kristus,
telah dibaptis dalam kematian-Nya!
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia
oleh pembaptisan dalam kematian,
supaya seperti halnya Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati
oleh kemuliaan Bapa,
demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Jadi, jika kita telah mati dengan Kristus,
kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
Karena kita tahu bahwa Kristus,
sesudah bangkit dari antara orang mati,
tidak mati lagi;
maut tidak berkuasa lagi atas Dia.
Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa,
satu kali untuk selama-lamanya,
dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.
Demikianlah hendaknya kamu memandangnya:
Kamu telah mati bagi dosa,
tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
1Ptr 2:9

Kamulah bangsa yang terpilih,
kaum imam yang rajawi dan bangsa yang kudus.
Kamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah,
yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan,
masuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan.



Bacaan Injil
Mat 10:37-42

"Barangsiapa tidak memikul salibnya, ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus bersabda kepada keduabelas murid-Nya,
"Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Dan barangsiapa mengasihi puteranya atau puterinya lebih daripada-Ku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,
ia tidak layak bagi-Ku.
Barangsiapa mempertahankan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya,
dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku,
ia akan memperolehnya kembali.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku,
dan barangsiapa menyambut Aku,
ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi,
ia akan menerima upah nabi,
dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar,
ia akan menerima upah orang benar.
Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja
kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku,
Aku berkata kepadamu:
Sungguh, ia tidak akan kehilangan upahnya."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambil dari renungan Daily Fresh Juice:

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus berkata,
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Kalimat ini tidak mudah untuk didengarkan.
Apalagi kalau saat ini kita memang sedang memikul salib yang berat.
Sebab salib itu bukan teori.
Salib itu bisa sangat nyata.
Bisa berupa luka batin yang belum sembuh.
Bisa berupa rumah tangga yang sedang retak.
Bisa berupa sakit penyakit yang tak kunjung pulih.
Bisa berupa beban ekonomi yang menekan.
Bisa juga berupa anak yang sangat kita kasihi, tetapi sedang berjalan di jalan yang salah.

Saya membayangkan seorang ayah yang anaknya kecanduan narkoba.
Anak itu dulu lucu, polos, dan penuh harapan.
Sejak kecil digendong, disuapi, diajari berjalan, diajari berdoa.
Ayahnya tentu punya banyak impian tentang masa depan anaknya.

Tetapi suatu hari semuanya berubah.
Anaknya mulai menjauh.
Pulang malam.
Berbohong.
Marah-marah.
Mengambil barang di rumah.
Mungkin juga sudah berkali-kali berjanji mau berubah, tetapi jatuh lagi, jatuh lagi.

Bagi ayah itu, ini salib yang sangat berat.
Bukan hanya karena capek mengurus.
Bukan hanya karena malu terhadap orang.
Tetapi karena hatinya hancur melihat anaknya sendiri seperti sedang menghancurkan hidupnya pelan-pelan.

Di titik seperti itu, seorang ayah bisa tergoda untuk menyerah.
Tergoda berkata, “Sudahlah, terserah dia.”
Tergoda marah tanpa akhir.
Tergoda membenci.
Tergoda menutup pintu hati.
Tergoda meninggalkan doa karena merasa Tuhan tidak juga menolong.
Tetapi justru di situlah sabda Yesus hari ini menjadi sangat nyata.“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Memikul salib bukan berarti berpura-pura kuat.
Bukan berarti tidak boleh menangis.
Bukan berarti tidak boleh lelah.
Bukan berarti semua persoalan harus diselesaikan sendirian.

Memikul salib berarti tetap ikut Yesus, justru ketika hati sedang remuk.
Tetap memilih kasih, walau kasih itu sedang terluka.
Tetap mencari jalan yang benar, walau jalan itu panjang dan melelahkan.
Tetap berdoa, walau doa terasa seperti belum dijawab.
Tetap berharap, walau keadaan belum berubah.

Seorang ayah yang memikul salib karena anaknya kecanduan narkoba mungkin tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Ia mungkin bingung.
Ia mungkin marah.
Ia mungkin kecewa.
Ia mungkin merasa gagal sebagai ayah.

Tetapi selama ia tidak membuang anaknya dari hati,
selama ia tetap mencari pertolongan,
selama ia tetap menjaga kasih agar tidak berubah menjadi kebencian,
selama ia tetap membawa luka itu kepada Tuhan,
ia sedang memikul salibnya bersama Kristus.
Dan di situ ada iman.
Iman bukan hanya ketika kita bisa berkata, “Tuhan itu baik,” saat semuanya berjalan baik.
Iman juga ketika kita berkata, “Tuhan, saya tidak kuat, tetapi saya tidak mau meninggalkan Engkau.”

Yesus juga berkata,
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Kadang-kadang, yang harus kita lepaskan bukan nyawa dalam arti harfiah.
Yang harus kita lepaskan adalah keinginan untuk selalu mengendalikan semuanya.
Keinginan untuk selalu terlihat berhasil.
Keinginan untuk selalu dianggap sebagai keluarga baik-baik.
Keinginan agar Tuhan menyelesaikan masalah sesuai waktu dan cara kita sendiri.

Mengikuti Kristus sering kali berarti kita belajar melepaskan semua itu.
Kita tidak lagi berpegang pada gengsi.
Tidak lagi berpegang pada rasa malu.
Tidak lagi berpegang pada amarah.
Tidak lagi berpegang pada putus asa.

Kita berpegang pada Kristus.
Lalu Yesus berkata,
“Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.”
Murid Kristus yang memikul salib tidak selalu tampil gagah.
Kadang ia datang dengan mata lelah.
Dengan hati yang remuk.
Dengan doa yang terbata-bata.
Dengan langkah yang pelan.
Tetapi justru dalam kelemahan seperti itu, Kristus bisa hadir.

Seorang ayah yang tetap mengasihi anaknya yang sedang jatuh,
seorang ibu yang tetap mendoakan keluarganya,
seorang anak yang tetap merawat orangtuanya,
seorang suami atau istri yang tetap setia pada jalan Tuhan,
semuanya bisa menjadi tanda kehadiran Kristus.

Bukan karena mereka hebat.
Tetapi karena mereka tetap ikut Yesus,
walau harus memikul salib.

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Hari ini, mungkin kita masing-masing sedang memikul salib yang berbeda.
Ada yang terlihat oleh orang lain.
Ada yang hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu.

Tidak apa-apa kalau kita lelah.
Tidak apa-apa kalau kita menangis.
Tidak apa-apa kalau kita belum mengerti mengapa semua ini harus terjadi.
Tetapi jangan berhenti ikut Yesus.

Bawalah salib itu bersama Dia.
Bukan sendirian.
Bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
Tetapi bersama Kristus yang lebih dahulu memikul salib bagi kita
Mari kita tetap ikut, walau mesti memikul salib.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Ireneus dari Lyon, Uskup dan Martir
Ireneus lahir di Asia Kecil kira-kira pada tahun 140. Pendidikannya berlangsung di Smyrna. Pelajaran agama diperolehnya dari Santo Polykarpus, seorang murid Santo Yohanes Rasul. Riwayat hidupnya kurang diketahui, tetapi dari tulisan-tulisannya sendiri dapatlah diperoleh banyak informasi tentang dirinya. Pada masa tuanya, ia mengirimkan sepucuk surat kepada seorang temannya di Smyrna. Dari surat ini diketahui kesannya terhadap pengajaran Santo Polykarpus. Sebagian suratnya dapat dibaca dalam kutipan berikut: "Peristiwa-peristiwa pada masa itu masih kuingat baik daripada yang terjadi baru-baru ini. Karena yang kita pelajari pada masa muda tumbuh subur dan mengakar dalam batin kita. Saya masih mengingat di mana Polykarpus duduk ketika ia mengajak bagaimana caranya berjalan dan bagaimana sikapnya. Saya masih ingat akan khotbah-kotbahnya kepada umat, dan bagaimana ia mengisahkan pergaulannya dengan Yohanes serta orang-orang lain yang menjadi saksi hidup Tuhan. Polykarpus mengajarkan apa yang didengarnya dari saksi-saksi mata kehidupan Yesus dan mujizat-mujizatNya. Semua berkat kemurahan Allah itu telah kuterima dengan sepenuh hati dan kucatat bukannya di atas selembar kertas, melainkan di dalam hatiku, serta oleh rahmat Allah selalu kurenungkan dengan seksama".
Ireneus bekerja di Lyon sebagai seorang imam. Pada tahun 177, timbullah aksi penghambatan agama di Lyon. Uskup kota Lyon, Potinus, meninggal karena suatu penganiayaan yang kejam atas dirinya. Ireneus diangkat menjadi penggantinya. Sebagai uskup, ia menggembalakan umatnya dengan penuh perhatian dan cinta. Kepada umatnya ia selalu berkhotbah dalam bahasa setempat, meskipun ia sendiri dibesarkan dalam bahasa Yunani. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berusaha membela ajaran iman yang benar. la juga memperjuangkan kesatuan Gereja dan menegakkan kewibawaan paus.
Namanya Ireneus, yang berarti pencinta damai, diusahakan menjadi kenyataan dalam seluruh hidupnya. Dalam perselisihan antara Gereja Latin dan Yunani tentang tanggal hari raya Paska, ia menjadi juru bicara Sri Paus. la meninggal pada tahun 202 selaku seorang martir Kristus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-06-27 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XII

Sabtu, 27 Juni 2026

PF S. Sirilus dari Aleksandaria, Uskup dan Pujangga Gereja



Bacaan Pertama
Rat 2:2.10-14.18-19

"Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai puteri Sion!"

Pembacaan dari Kitab Ratapan:

Tanpa belas kasihan
Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub.
Dalam amarah-Nya
Ia menghancurkan benteng-benteng puteri Yehuda.
Ia mencampakkan ke bumi,
dan mencemarkan kerajaan dan pemimpin-pemimpinnya.

Maka duduklah para tua-tua puteri Sion tertegun di tanah.
Mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung.
Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah.

Mataku kusam dengan air mata, hatiku remuk redam.
Hancur luluh hatiku karena keruntuhan puteri bangsaku,
sebab kanak-kanak dan bayi jatuh pingsan
di lapangan-lapangan kota.
Mereka bertanya kepada ibunya, "Mana roti dan anggur?",
Di lapangan-lapangan kota
mereka jatuh pingsan seperti orang yang gugur,
ketika menghembuskan nafas di pangkuan ibunya.

Apa yang dapat kunyatakan kepadamu?
Dengan apa aku dapat menyamakan engkau, ya puteri Yerusalem?
Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur,
ya dara Sion?
Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu.
Siapa yang akan memulihkan engkau?
Nabi-nabimu melihat bagimu penglihatan yang dusta dan hampa.
Mereka tidak menyatakan kesalahanmu
guna memulihkan dikau kembali.
Mereka mengeluarkan bagimu ramalan-ramalan
yang dusta dan menyesatkan.

Berteriaklah dengan nyaring kepada Tuhan, hai puteri Sion!
Cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam.
Janganlah kauberi dirimu istirahat
Janganlah matamu tenang!

Bangunlah, mengeranglah pada malam hari,
pada permulaan giliran jaga malam.
Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan.
Angkatlah tanganmu kepada-Nya
demi hidup anak-anakmu,
yang jatuh pingsan di ujung-ujung jalan
karena lapar!

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21,R:19b

Refren: Ya Tuhan, janganlah Kaulupakan terus-menerus
umat-Mu yang tertindas.

*Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya?
Mengapa menyala murka-Mu
terhadap kambing domba gembalaan-Mu?
Ingatlah akan umat-Mu
yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala,
yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri!
Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami.

*Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-menerus;
segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus.
Lawan-lawan-Mu mengaum di tempat pertemuan-Mu
dan telah mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda.
Mereka kelihatan seperti orang mengayunkan kepalan
tinggi-tinggi.

*Mereka siap menebas kayu-kayuan yang lebat;
dan sekarang ukir-ukirannya
seluruhnya dipalu mereka dengan kapak dan beliung;
mereka menyulut tempat kudus-Mu dengan api,
mereka menajiskan tempat kediaman nama-Mu
sampai pada tanah;

*Pandanglah kepada perjanjian,
sebab tempat-tempat gelap di bumi penuh kekerasan.
Janganlah biarkan orang yang terinjak-injak
kembali dengan kena noda.
Biarlah orang sengsara dan orang miskin memuji-muji nama-Mu.



Bait Pengantar Injil
Mat 8:17

Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.



Bacaan Injil
Mat 8:5-17

"Banyak orang akan datang dari timur dan barat,
dan duduk makan bersama dengan Abraham, Iskak dan Yakub."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Pada suatu hari Yesus masuk ke Kapernaum.
Maka datanglah seorang perwira mendapatkan Dia
dan memohon kepada-Nya,
"Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh,
dan ia sangat menderita."
Yesus berkata kepadanya, "Aku akan datang menyembuhkannya."

Tetapi perwira itu berkata kepada-Nya,
"Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.
Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
Sebab aku sendiri seorang bawahan,
dan di bawahku ada pula prajurit.
Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit, 'Pergi!'
maka ia pergi;
dan kepada seorang lagi: 'Datang!', maka ia datang.
Ataupun kepada hambaku, 'Kerjakanlah ini!'
maka ia mengerjakannya."

Mendengar hal itu,
Yesus heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya,
"Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai
pada seorang pun di antara orang Israel.
Aku berkata kepadamu,
Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat
dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub
di dalam Kerajaan Surga,
sedangkan anak-anak Kerajaan itu sendiri
akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.
Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."
Lalu Yesus berkata kepada perwira itu,
"Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya."
Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Setibanya di rumah Petrus,
Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam.
Maka dipegang-Nya tangan wanita itu,
lalu lenyaplah demamnya.
Wanita itu lalu bangun dan melayani Yesus.

Menjelang malam
dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan,
dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu,
dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.
Hal itu terjadi supaya genaplah sabda
yang disampaikan oleh nabi Yesaya,
"Dialah yang memikul kelemahan kita
dan menanggung penyakit kita."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Lagi, melalui Bacaan Injil hari ini, kita diingatkan tentang pentingnya keteguhan iman.

Seorang perwira datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan bagi hambanya yang sedang sakit lumpuh dan sangat menderita. Ketika Yesus berkata, “Aku akan datang menyembuhkannya,” perwira itu menjawab, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

Ini iman yang luar biasa.
Perwira itu tidak meminta tanda. Ia tidak minta Yesus datang, menyentuh, atau melakukan sesuatu yang dapat dilihat oleh matanya. Ia percaya bahwa cukup sepatah kata dari Yesus, hambanya akan sembuh.

Mengapa ia bisa percaya seperti itu?
Karena ia tahu arti kuasa. Sebagai perwira, ia biasa memberi perintah. Kalau ia berkata kepada bawahannya, “Pergi,” maka orang itu pergi. Kalau ia berkata, “Datang,” maka orang itu datang. Kalau ia berkata, “Kerjakan ini,” maka orang itu mengerjakannya.

Maka ia percaya, kalau kata-katanya saja ditaati oleh prajuritnya, apalagi Sabda Yesus. Penyakit, roh jahat, penderitaan, bahkan alam semesta pun tunduk kepada-Nya.
Iman perwira ini sampai membuat Yesus heran. Yesus berkata, “Sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.”

Yang menarik, perwira itu bukan orang Israel. Ia orang asing. Ia tidak termasuk kelompok orang yang secara lahiriah dianggap dekat dengan perjanjian Allah. Tetapi justru imannya membuka jalan baginya untuk masuk ke dalam perjamuan Kerajaan Surga, duduk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub.

Di sini kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri.
Kita ini mengaku sebagai pengikut Kristus. Kita mendengarkan Sabda-Nya. Kita menyebut nama-Nya dalam doa. Tetapi apakah kita sungguh percaya kepada-Nya?
Atau jangan-jangan kita sering masih percaya setengah-setengah?

Kita percaya, tetapi masih banyak syaratnya. Kita percaya, tetapi kalau doa kita belum dikabulkan, kita mulai ragu. Kita percaya, tetapi kalau perintah Yesus tidak sejalan dengan pikiran kita, kita mulai menawar. Kita percaya, tetapi kalau kehendak Tuhan terasa berat, kita mulai mencari jalan lain.

Perwira dalam Injil hari ini mengajarkan iman yang sederhana tetapi kokoh: “Katakan saja sepatah kata.”
Artinya, Sabda Kristus sudah cukup.
Tentu ini bukan berarti kita tidak boleh berpikir. Tuhan memberi kita akal budi, dan akal budi juga harus dipakai. Tetapi iman membuat kita tidak menempatkan pikiran kita di atas kehendak Tuhan. Iman membuat kita berani berkata, “Tuhan, aku belum mengerti seluruhnya, tetapi aku percaya kepada-Mu.”

Setiap kali sebelum menyambut Komuni Kudus, kita mengucapkan doa yang sangat mirip dengan perkataan perwira itu: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”

Kalimat ini jangan sampai hanya menjadi ucapan liturgis yang lewat begitu saja. Ini adalah pernyataan iman.

Kita datang kepada Tuhan bukan karena kita pantas. Kita datang karena kita percaya. Kita percaya bahwa Sabda-Nya sanggup menyembuhkan hati kita, meluruskan jalan kita, menguatkan iman kita, dan mengikis habis keraguan yang masih tersisa di dalam diri kita.

Maka hari ini, mari kita belajar dari perwira itu.

Percaya kepada Kristus seratus persen. Bukan setengah-setengah. Bukan hanya ketika keadaan baik. Bukan hanya ketika doa kita cepat dijawab. Bukan hanya ketika jalan Tuhan terasa masuk akal bagi kita.

Apa pun Sabda-Nya, kita dengarkan. Apa pun perintah-Nya, kita jalankan. Apa pun kehendak-Nya, kita taati.
Katakan saja sepatah kata, ya Tuhan, maka aku akan sembuh.



Peringatan Orang Kudus
Santo Cyrillus dari Alexandria, Uskup dan Pujangga Gereja
Cyrillus lahir di Alexandria, Mesir pada tahun 376. Pada tahun 412 ia dinobatkan menjadi Patriark Alexandria. Sebagai seorang ahli, ia telah memberikan banyak pandangan yang bermanfaat bagi masyarakat dengan ikut aktif di dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Menghadapi berbagai pertentangan paham yang berkembang di antara umatnya, Cyrillus tetap tenang dan teguh di dalam pendirian dan imannya di atas landasan ajaran para rasul. Dengan tegas ia menentang ajaran Nestorius yang menggugat kepribadian Kristus dan kedudukan Bunda Maria sebagai bunda Allah.
Sekitar tahun 430, dalam sebuah surat kepada Paus Selestinus I (422-432), Cyrillus dengan tegas mengecam ajaran sesat Nestorius, Patriark Konstantinopel. Untuk memurnikan ajaran sesat itu, Cyrillus mengundang para uskup untuk mengadakan Konsili di Efesus pada tahun 431. Konsili ini mengutuk ajaran Nestorius yang menyesatkan itu. Terhadap hasil Konsili itu, Nestorius melancarkan serangan kepada Cyrillus dan kawan-kawannya. Cyrillus ditangkap dan dipenjarakan, kemudian dibuang. Meskipun diperlakukan dengan kejam, Cyrillus tetap gembira karena kesengsaraannya merupakan suatu pujian dan keikutsertaan dalam penderitaan Kristus. la juga menghasilkan tulisan-tulisan yang berisi pembelaan-pembelaan ajaran iman yang benar, beberapa buku komentar Kitab Suci dan juga tentang Trinitas.
Lama-kelamaan orang semakin menyadari adanya kebenaran di dalam diri Cyrillus. Kali ini Gereja sekali lagi mendapat kemenangan atas serangan musuh-musuhnya yang timbul dari dirinya sendiri.
Setelah lama mengabdikan dirinya terhadap kepentingan perkembangan iman, Cyrillus meninggal pada tahun 444. Pada tahun 1882 ia digelari sebagai Pujangga Gereja.

Santa Emma, Pengaku Iman
Emma, yang juga dipanggil Hemma, lahir pada tahun 980 dan me­ninggal pada tahun 1045. Wanita ningrat ini dikenal sebagai pendiri sebuah biara dan Gereja di desa Gurk, Austria Selatan.
Keputusannya untuk menjalani hidup bakti pada Tuhan ditempuhnya setelah suaminya meninggal dan kedua puteranya dibunuh. Dicetakan bahwa kedua puteranya dibunuh karena menggantung seorang karyawan yang bekarja di rumah mereka. Suaminya meninggal ketika dalam perjalanan ke Roma. Semenjak itu, Emma giat melakukan berbagai karya amal cinta kasih. Bukti yang paling mengagumkan dari niatnya yang suci ialah usahanya untuk mendirikan sebuah biara dan gereja di Gurk, Austria Selatan. Biara - yang kemudian dijadikan biara Benediktin di Admont - ini dimulai pembangunannya pada tahun 1072 sete­lah kematiannya. Diceritakan bahwa Emma sendiri menjadi biarawati setelah kematian suami dan anak-anaknya itu. Oleh Gereja, ia digelari sebagai 'Santa'.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/