Liturgia Verbi 2026-05-01 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah IV

Jumat, 1 Mei 2026

PF S. Yusuf, Pekerja

Ujud Gereja Universal: Agar semua orang memperoleh makanan sehat dan berkualitas.
Semoga semua orang, mulai dari produsen besar sampai konsumen kecil, berkomitmen untuk tidak membuang makanan, dan memastikan agar semua orang memperoleh makanan sehat dan berkualitas.

Ujud Gereja Indonesia: Anak-anak yang mengalami

pelakan.
Semoga anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya merasakan penerimaan penuh kasih dari Bunda Maria yang hatinya selalu terbuka.

1. Bulan Mei adalah *Bulan Maria* dengan tema permenungan tentang Maria sebagai Bunda Allah. Umat dianjurkan untuk mendalami misteri keallahan Kristus yang bangkit serta peranan Bunda-Nya yang adalah juga Bunda Gereja. - Kiranya baik kalau Bulan Maria dibuka dan ditutup dengan Perayaan Ekarisi untuk umat/lingkungan-lingkungan separoki.


2. Bulan Mei adalah *Bulan Liturgi Nasional (BLN)*. Diharapkan supaya selama bulan Mei liturgi mendapat perhatian khusus: didalami, dirancang, disiapkan, dan dilaksanakan dengan lebih baik. Untuk kegiatan pendalaman liturgi kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang disiapkan Komisi Liturgi KWL



Bacaan Pertama
Kis 13:26-33

"Janji telah digenapi Allah dengan membangkitkan Yesus."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Dalam perjalanannya Paulus sampai di Antiokhia di Pisidia.
Di rumah ibadat Yahudi di sana Paulus berkata,
"Hai saudara-saudaraku,
baik yang termasuk keturunan Abraham,
maupun yang takut akan Allah,
kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.

Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya
tidak mengakui Yesus.
Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Yesus,
mereka menggenapi perkataan nabi-nabi
yang dibacakan setiap hari Sabat.
Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu
yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati,
namun mereka telah meminta kepada Pilatus
supaya Yesus dibunuh.
Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu
yang ada tertulis tentang Dia,
mereka menurunkan Dia dari kayu salib,
lalu membaringkan-Nya di dalam kubur.

Tetapi Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati.
Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka
yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem.
Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini.

Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu,
yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita,
telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka,
dengan membangkitkan Yesus,
seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua:
Anak-Kulah Engkau!
Pada hari ini Engkau telah Kuperanakkan."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 2:6-7.8-9.10-11,R:7

Refren: Anak-Kulah engkau!
Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan.

*Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion,
gunung-Ku yang kudus!"
Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan:
Ia berkata kepadaku, "Anak-Kulah engkau!
Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan."

*Mintalah kepada-Ku,
maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu
menjadi milik pusakamu,
dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi,
dan memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk."

*Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana,
terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
Beribadahlah kepada Tuhan dengan takwa,
dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.



Bait Pengantar Injil
Yoh 14:6

Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.



Bacaan Injil
Yoh 14:1-6

"Akulah jalan, kebenaran dan hidup."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam amanat perpisahan-Nya
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Janganlah gelisah hatimu;
percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku,
supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana."
Kata Tomas kepada-Nya,
"Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi;
jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?"
Kata Yesus kepadanya,
"Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *The Power of Word*:

*Jangan Gelisah, Yesus Tidak Meninggalkan Kita*

*Doa Pembuka:*
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Allah Bapa yang penuh kasih,
kami datang ke hadirat-Mu
untuk memohon ketenangan, kekuatan,
atas perasaan gelisah yang sering menyelimuti hati kami.
Semoga melalui sabda-Mu hari ini,
kami semakin percaya
bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kami,
dan tidak pernah meninggalkan orang-orang
yang kami kasihi.
Amin.
________________________________________
*Renungan:*

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya,
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah,
percayalah juga kepada-Ku.” [Yoh 14:1]

Kalimat ini sangat menyentuh hati saya.
Sebab Yesus mengucapkannya ketika para murid sedang gelisah.
Mereka gelisah karena Yesus mulai berbicara tentang kepergian-Nya.
Selama ini mereka berjalan bersama Yesus.
Mereka mendengarkan pengajaran-Nya.
Mereka melihat mukjizat-Nya.
Mereka merasa aman karena Yesus ada di dekat mereka.
Tetapi sekarang, di saat malam perjamuan terakhir, Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi.
Tentu mereka menjadi takut.
Akan menjadi sangat berat, ketika orang yang selama ini menjadi pegangan, justru mengatakan bahwa Ia akan pergi.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih,
Sebagai seorang ibu,
saya merasa sabda ini sangat dekat dengan pengalaman hidup kita sehari-hari.
Saya pernah mengalami kegelisahan itu, terutama ketika harus merelakan anak-anak satu per satu meninggalkan rumah
untuk keperluan studi.

Sebagai orang tua, apalagi sebagai seorang ibu, tidak pernah mudah melepas anak pergi jauh.
Di satu sisi, saya tahu, anak-anak harus bertumbuh,  harus belajar mandiri, harus menempuh jalan hidup mereka sendiri, belajar menghadapi dunia dengan kaki mereka sendiri.
Tetapi di sisi lain, hati seorang ibu tetap saja berat.
Rumah yang biasanya ramai, perlahan-lahan menjadi lebih sepi.
Kamar yang biasanya dipakai, mulai kosong.
Meja makan yang biasanya penuh cerita,tidak lagi selalu lengkap.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, baru terasa sangat berharga
ketika anak-anak mulai tinggal jauh dari rumah.
Dan ketika mereka sudah pergi, mulailah muncul banyak pertanyaan di dalam hati.
Apakah mereka baik-baik saja?
Apakah mereka bisa menjaga diri?
Apakah mereka punya teman yang baik?
Apakah mereka sanggup menghadapi kesulitan?
Apakah mereka tetap ingat untuk berdoa?
Apakah mereka tetap dekat dengan Tuhan?
Sering kali, kekhawatiran itu muncul begitu saja.
Padahal, yang kita khawatirkan belum tentu terjadi.
Bahkan mungkin, apa yang kita takutkan itu
tidak akan pernah terjadi.

Tetapi hati seorang ibu memang sulit menghindarkan diri
dari kekhawatiran, apalagi terhadap anak yang harus merantau, jauh dari rumah, dan tidak lagi bisa dilihat setiap hari.

Di mata seorang ibu, anak tetaplah anak.
Hati seorang ibu tetap ingin memastikan bahwa mereka aman, sehat, dan tidak sendirian.
Di sinilah saya merasakan sabda Yesus ini, “Janganlah gelisah hatimu.”
Kekhawatiran seorang ibu lahir dari kasih.
Tetapi Yesus mengingatkan, jangan sampai kasih itu
berubah menjadi kegelisahan yang menguasai hati.
Jangan sampai rasa sayang membuat kita lupa percaya.
Jangan sampai perhatian kita berubah menjadi ketakutan
yang tidak ada habisnya.
Bisa saja anak-anak yang tidak lagi berada di depan mata kita,
tetap berada dalam pandangan Tuhan.
Anak-anak yang tidak lagi selalu dapat kita dampingi,
tetap dapat dituntun oleh Yesus.
Anak-anak yang tidak lagi setiap hari pulang ke rumah kita,
tetap mempunyai tempat di dalam hati Tuhan.

Mereka memang tidak lagi selalu bersama kita secara fisik.
Tetapi kasih tetap ada.
Doa tetap menyertai.
Dan yang paling penting, Tuhan tetap bersama mereka.

Sebagai orang tua, kita selalu ingin memegang erat tangan anak-anak kita.
Tetapi ada waktunya, kita harus belajar melepaskan.
Bukan melepaskan karena tidak peduli, melainkan melepaskan sambil menyerahkan.
Menyerahkan mereka kepada Tuhan.
Menyerahkan perjalanan mereka kepada penyertaan Yesus.
Menyerahkan kekhawatiran kita ke dalam tangan Bapa.
Karena ada bagian yang dapat kita lakukan sebagai orang tua.
Tetapi ada bagian yang memang harus kita serahkan kepada Tuhan.
Kita tidak bisa selalu tahu apa yang mereka hadapi.
Kita tidak bisa selalu hadir di tempat mereka berada.
Tetapi Tuhan bisa.
Tuhan bisa melihat mereka.
Tuhan mengetahui langkah mereka.
Tuhan sanggup menjaga mereka di tempat-tempat yang tidak dapat kita jangkau.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih,
Marilah kita teguhkan iman kita, percaya sepenuhnya kepada Yesus.
Percaya, bukan berarti kita tidak pernah khawatir.
Percaya, bukan berarti hati kita selalu tenang.
Percaya, bukan berarti kita tidak pernah menangis
ketika melepas anak pergi.

Percaya berarti, di tengah kekhawatiran itu, kita tetap membawa semuanya kepada Tuhan.
Percaya berarti, kita tidak membiarkan rasa takut mengalahkan iman.
Percaya berarti, kita berani berkata, “Tuhan, anakku memang jauh dari mataku, tetapi ia tidak jauh dari kasih-Mu.”

Maka, janganlah gelisah.
Yesus tidak meninggalkan kita.
Yesus tidak meninggalkan anak-anak kita.
Amin.
________________________________________
*Doa Penutup:*

Allah Bapa yang penuh kasih,
kami bersyukur atas sabda-Mu hari ini.
Engkau mengetahui setiap kegelisahan di dalam hati kami.
Engkau mengetahui betapa sulitnya bagi seorang ibu untuk melepas anak-anaknya pergi jauh, meninggalkan rumah,
dan belajar hidup mandiri.

Kami mohon, tenangkanlah hati setiap orang tua yang sedang mencemaskan anak-anaknya.
Kuatkanlah para ibu yang diam-diam menyimpan kekhawatiran, walau sering tersenyum di depan anak-anaknya, tetapi tetap berdoa dengan air mata di hadapan-Mu.

Kami berdoa dalam nama Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus,
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yusuf Pekerja, Pelindung para Karyawan
Tradisi melukiskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth. Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai isterinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat di dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat.
Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah Gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkannya sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. (Lihat juga kisah tentang Santo Yusuf pada Pestanya tanggal 19 Maret).


Yeremia, Nabi
Yeremia lahir kira-kira pada tahun 650 seb. Masehi di Anathoth, dekat kota Yerusalem, termasuk wilayah Kerajaan Yehuda. Keluarganya adalah sebuah keluarga imam yang saleh. Panggilannya sebagai Nabi di Israel diterimanya dari Allah pada tahun 627 seb. Masehi, dalam tahun ketigabelas pemerintahan raja Yosias (Yer 1:2). Meskipun panggilan ini terjadi pada usia mudanya, namun Yeremia sebenarnya telah ditentukan Allah sebagai Nabi ketika masih ada di dalam rahim ibunya (Yer 1:5) untuk mewartakan Sabda Allah kepada Israel, umat pilihan Allah. Tatkala Allah memanggilnya, ia menolak karena merasa tidak layak untuk mengemban tugas mulia itu. Tetapi akhirnya ia pun menerima panggilan itu karena Allah berjanji akan selalu menyertai dia dalam tugasnya. Yeremia adalah Nabi Israel terakhir sebelum pembuangan ke Babylonia.
Karya perutusannya sebagai Nabi dimulainya pada usia mudanya (Yer 1:6) sampai pada saat kejatuhan Yerusalem di tangan bangsa Babylonia pada tahun 587 seb. Masehi. Selama 40 tahun karyanya, Yeremia tanpa mengenal lelah memperingatkan para penguasa bangsa dan pemimpim agama serta seluruh umat Israel akan bahaya kejatuhan mereka karena dosa-dosa Yerusalem dan Yehuda.
Sejalan dengan itu, Yeremia terus menerus terlibat di dalam berbagai perselisihan dan pertentangan. Ia dengan gigih melawan Raja Yoakim dan Yoakin (609-597 seb. Masehi) yang memutarbalikkan kebijakan keagamaan dari Raja Yosia. Pada masa pemerintahan Raja Sedekia (597 -587 seb. Masehi), nada pewartaannya mulai berubah. Ia tidak lagi mengeluh tentang tugas perutusannya tetapi mulai lebih sungguh-sungguh membuktikan dirinya pada tugas yang dibebankan Allah padanya. Dengan gigih ia berusaha meyakinkan Yehuda akan penguasaan bangsa Babylonia. Meskipun demikian ia tetap tidak diterima, bahkan dituduh sebagai pengkhianat bangsanya oleh orang-orang yang menginginkan Raja Sedekia bersekutu dengan Mesir dan memberontak (Yer 37:17­21). Karena itu, Yeremia mengalami penderitaan batin dan frustrasi yang hebat.
Walaupun ia menderita, ia tetap pasrah dan taat pada kehendak Allah. Cintanya akan Allah dan keakraban hubungannya dengan Allah menumbuhkan dalam dirinya suatu sikap iman yang kokoh. Sikap iman ini mendorong dia untuk mendalami lebih jauh teologi tradisional Israel tentang Perjanjian. Imannya itu berdasar pada pengetahuan yang mendalam akan Perjanjian Cinta Allah dengan Israel, Umat PilihanNya, yang memperkenankan Israel mengambil bagian dalam kekudusanNya. Dalam Perjanjian Cinta itu, Allah menuntut dari Israel ketaatan penuh pada kehendakNya sebagaimana diwahyukan di dalam perintah-perintahNya dan dinyatakan melalui Nabi-nabiNya. Menolak mengakui kebaikan dan cinta Allah yang diwahyukan adalah dosa. Dan dosa bagi Israel merupakan perbuatan melawan kesucian perkawinan antara Allah dan bangsa Israel (Yer 2:20, 25). Dosa mengakibatkan pengadilan Allah atas Israel untuk memurnikan mereka. Yeremia menyadari bahwa pengadilan Allah merupakan tahap awal pengampunan dan pembaharuan (Yer :3:1-4:4).  Ia menyadari bahwa Israel, yang dicekik oleh legalisme agama dan nasionalime, membutuhkan suatu pembaharuan batin yang radikal.
Dalam pewartaan tentang malapetaka yang akan terjadi atas Israel, Yeremia menubuatkan suatu 'Sisa Kecil', suatu kelompok kecil umat yang tetap setia pada Allah (Yer 23:3, 4; 30:10, 11; 31:10-14). Sisa Kecil ini adalah benih harapan di masa yang akan datang, kepadanya Allah mencurahkan pengampunan dan belaskasihanNya, dan dengannya Allah akan mengadakan suatu Perjanjian Baru (Yer 31:31-34). Allah akan menciptakan Iagi Israel suatu hubungan spiritual yang baru dan mendalam, dan akan menuliskan hukumNya di dalam hati mereka serta tinggal di dalam hati mereka.
Yeremia dengan tekun membantu perkembangan Sisa Kecil Israel yang saleh dari suku Yehuda ini karena mereka dengan sabar menantikan tibanya Hari Tuhan yang menyelamatkan. Penderitaan Yeremia yang demikian hebat menjadikan dia sebagai tokoh lambang bagi Yesus Kristus. Yeremia, yang hidup penuh penderitaan, namun tetap pasrah dan taat pada kehendak Allah yang mengutusnya, menjadi lambang gambaran Hamba Yahweh yang menderita sebagaimana diramalkan Yesaya (Yes 35).


Santo Peregrinus Laziosi, Pengaku Iman
Peregrinus Laziosi lahir di kota Forli, Italia pada tahun 1260. Ia menaruh kebencian besar terhadap Gereja Katolik. la pun termasuk salah seorang yang memusuhi Sri Paus di Roma. Dengan sifatnya yang keras dan kasar, ia melancarkan serangan terhadap Gereja Katolik di wilayah Romagna.
Awal kehidupannya sebagai 'manusia baru' dalam iman Kristiani bermula dari tindakannya yang brutal terhadap Pastor Filipus Benizi (1225-1285). Diceritakan bahwa pada suatu kesempatan kotbah dalam rangka misi perdamaian yang dicanangkan Sri Paus, Pastor Filipus ditinju hingga roboh oleh Peregrinus. Tetapi Pastor yang saleh ini tidak memberikan suatu perlawanan balik terhadap Peregrinus. Ia bahkan bangkit dan berdoa untuk Peregrinus serta memaafkan dia.
Sikap Pastor Filipus ini menyentuh hati Peregrinus yang keras membatu itu. "Belum pernah aku menjumpai orang seperti dia ini" kata Peregrinus dalam hatinya. Ia lalu berlutut di hadapan Pastor Filipus dan meminta maaf atas perlakuannya yang kasar itu. Semenjak itu ia bertobat dan bertekad menjalani suatu kehidupan baru dengan doa dan matiraga. Rahmat Tuhan semakin hebat mempengaruhi hidupnya. Pada suatu hari, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan menyuruh dia pergi ke Siena. Di Siena ia diterima oleh Pastor Filipus sebagai salah seorang anggota Ordo Servit Santa Maria.
Di dalam ordo itu Tuhan terus melaksanakan rencanaNya atas diri Peregrinus. Pada suatu hari, Peregrinus jatuh sakit. la diserang penyakit kanker ganas pada kakinya. Dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya dipotong demi menyelamatkan nyawanya. Sebelum ia tidur malam, ia berdoa kepada Yesus Tersalib hingga tertidur. Dalam mimpinya, ia melihat Yesus mengulurkan tanganNya dari atas salib dan menyentuh kakinya yang sakit itu. Ketika bangun dari tidur didapatinya kakinya sudah sembuh. Peristiwa ajaib ini semakin mengokohkan imannya akan kebenaran ajaran Gereja.
Rahmat kesembuhan ini mengobarkan semangatnya untuk tetap membaktikan dirinya kepada Tuhan dan Gereja dengan menjadi imam. Selama 62 tahun ia berkarya dengan penuh semangat diperkuat oleh doa dan matiraga yang mendalam. la meninggal dunia pada tahun 1345 dan diangkat Gereja sebagai pelindung para penderita sakit bernanah dan kanker.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-04-30 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah IV

Kamis, 30 April 2026

PF S. Pius V, Paus



Bacaan Pertama
Kis 13:13-25

"Allah telah membangkitkan Juruselamat dari keturunan Daud."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Dalam perjalanannya
Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos
dan berlayar ke Perga di Pamfilia.
Tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem.

Dari Perga Paulus dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia.
Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ.
Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi,
pejabat-pejabat rumah ibadat bertanya kepada mereka,
"Saudara-saudara, jikalau saudara ada pesan
untuk membangun dan menghibur umat ini,
silahkanlah!"

Maka bangkitlah Paulus.
Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata,
"Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah,
dengarkanlah!
Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita,
dan membuat umat itu menjadi besar,
ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing.
Dengan tangan-Nya yang perkasa
Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.
Empat puluh tahun lamanya
Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun.
Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan,
Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka
untuk menjadi warisan mereka
selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun.
Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim
sampai pada zaman nabi Samuel.
Kemudian mereka meminta seorang raja,
dan Allah memberikan kepada mereka
Saul bin Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya.
Setelah Saul disingkirkan,
Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka.
Tentang Daud Allah telah menyatakan:
Aku telah mendapat Daud bin Isai,
seorang yang berkenan di hati-Ku
dan yang melakukan segala kehendak-Ku.
Dan dari keturunannyalah,
sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya,
Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel,
yaitu Yesus.
Menjelang kedatangan-Nya
Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel
supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.
Dan ketika hampir selesai menunaikan tugasnya, Yohanes berkata:
Aku bukanlah Dia yang kamu sangka,
tetapi Ia akan datang kemudian daripadaku.
Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 89:2-3.21-22.25.27,R:2a

Refren: Kasih setia-Mu, ya Tuhan,
hendak kunyanyikan selama-lamanya.

*Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya,
hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun-temurun.
Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya,
kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

*Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku;
Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus,
maka tangan-Ku tetap menyertai dia,
bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.

*Kesetiaan dan kasih-Ku menyertai dia,
dan oleh karena nama-Ku tanduknya akan meninggi.
Dia pun akan berseru kepada-Ku, "Bapaku Engkau,
Allahku dan gunung batu keselamatanku."



Bait Pengantar Injil
Why 1:5ab

Ya Yesus Kristus, Engkaulah saksi yang setia,
yang pertama bangkit dari antara orang mati;
Engkau mengasihi kami
dan telah melepaskan kami dari dosa kami oleh darah-Mu.



Bacaan Injil
Yoh 13:16-20

"Barangsiapa menerima orang yang Ku-utus, ia menerima Aku."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam perjamuan malam terakhir
Yesus membasuh kaki para murid-Nya.
Sesudah itu Ia berkata, "Aku Berkata kepadamu:
Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya;
atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya.
Jikalau kamu tahu semua ini,
maka berbahagialah kamu jika kamu melakukannya.
Bukan tentang kamu semua Aku berkata.
Aku tahu, siapa yang telah Kupilih.
Tetapi haruslah genap nas ini:
Orang yang makan roti-Ku,
telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi,
supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia.

Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus,
ia menerima Aku,
dan barangsiapa menerima Aku,
ia menerima Dia yang mengutus Aku."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Masih terkait dengan renungan kita tentang mengikuti Yesus seperti domba mengikuti penggembalanya, hari ini kita diajak untuk merenungkan satu hal yang sangat mendasar, yaitu posisi kita di hadapan Tuhan.

Mengikuti itu artinya berada di belakang orang yang kita ikuti. Penggembala berjalan di depan, domba-dombanya mengikuti dari belakang. Sekali pun ada kalanya domba berjalan beriringan dengan penggembalanya, tetap saja domba tidak mendahului, apalagi mengatur-atur jalan yang mesti ditempuh oleh penggembalanya.

Inilah yang sering kali menjadi pergulatan kita sebagai manusia beriman. Kita mengatakan bahwa kita mengikuti Yesus, tetapi tanpa sadar kita ingin Yesus mengikuti kemauan kita. Kita berdoa, tetapi doa kita lebih banyak berupa daftar permintaan. Kita percaya kepada Tuhan, tetapi kepercayaan itu sering kita beri syarat: Tuhan harus menolong sesuai cara kita, pada waktu yang kita tentukan, dan dengan hasil seperti yang kita harapkan.
Padahal Yesus hari ini mengingatkan dengan sangat jelas, "Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya."  [Yoh 13:16]
Perkataan Yesus ini sederhana, tetapi sangat tajam. Seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Seorang utusan tidak lebih tinggi daripada yang mengutusnya. Artinya, bila kita menyebut diri murid Kristus, maka kita mesti belajar menempatkan Kristus sebagai Tuhan, bukan sekedar sebagai penolong ketika kita sedang kesulitan. Kita bukan tuan yang memberi instruksi kepada Tuhan. Kita adalah domba yang percaya kepada Sang Gembala.

Yesus juga menyebut tentang orang yang "mengangkat tumitnya" terhadap Dia. Ini tentu mengingatkan kita pada Yudas, orang yang berada sangat dekat dengan Yesus, makan bersama Yesus, mendengar ajaran Yesus, bahkan ikut dalam rombongan para murid, tetapi hatinya tidak sungguh mengikuti Yesus. Tubuhnya dekat, tetapi hatinya jauh. Kakinya berjalan bersama Yesus, tetapi arah batinnya sudah berbelok.

Ini menjadi peringatan bagi kita. Kedekatan lahiriah dengan hal-hal rohani belum tentu berarti kedekatan hati dengan Tuhan. Orang bisa rajin mengikuti kegiatan gereja, bisa aktif pelayanan, bisa banyak bicara tentang iman, tetapi tetap saja ada bahaya kalau di dalam hati ia masih ingin menjadi lebih tinggi dari Tuhan. Bahaya itu muncul ketika kita mulai merasa lebih tahu daripada Tuhan, lebih berhak menentukan jalan hidup kita sendiri, atau merasa tidak perlu lagi dibimbing oleh sabda-Nya.

Seperti domba yang percaya bahwa penggembalanya akan membawa mereka ke padang rumput yang hijau, bukan menuju ke rumah jagal, demikian pula kita diajak mempercayai Yesus. Ia tidak sedang membawa kita menuju kehancuran. Ia tidak sedang menyesatkan kita. Jalan yang Ia tunjukkan kadang tidak mudah, kadang melewati lembah yang gelap, kadang terasa berputar-putar, tetapi Yesus tetaplah jalan, kebenaran, dan hidup.

Bagi saya, Injil adalah peta petunjuk jalan dari Yesus. Di dalam Injil ada arah, ada rambu-rambu, ada peringatan, ada penghiburan, dan ada janji. Injil bukan hanya untuk dibaca sebagai teks suci, melainkan untuk dijadikan pegangan hidup. Kalau kita sungguh ingin mengikuti Sang Gembala, maka kita tidak bisa berjalan hanya dengan perasaan sendiri. Kita perlu mendengarkan sabda-Nya, sebab di sanalah suara Sang Gembala itu bergema.

Bacaan Pertama hari ini juga memperlihatkan bagaimana Allah bekerja melalui sejarah keselamatan. Paulus berdiri di rumah ibadat dan mengingatkan orang-orang Israel tentang perjalanan panjang umat Allah: bagaimana Allah memilih nenek moyang mereka, menuntun mereka keluar dari Mesir, menyertai mereka di padang gurun, memberi mereka pemimpin, sampai akhirnya dari keturunan Daud lahirlah Yesus, Sang Juruselamat.  [Kis 13:13-25]

Ini menarik. Allah tidak bekerja secara tiba-tiba tanpa arah. Allah menuntun umat-Nya tahap demi tahap. Ada Musa, ada Samuel, ada Daud, ada Yohanes Pembaptis, lalu datanglah Yesus. Semua itu menunjukkan bahwa Allah adalah Penggembala yang setia. Ia tidak meninggalkan umat-Nya berjalan sendirian.

Dan sampai hari ini pun, Tuhan tetap mengutus orang-orang tertentu untuk mendampingi perjalanan kita. Ada yang menjadi gembala resmi dalam Gereja. Ada yang menjadi pewarta sabda. Ada yang menjadi sahabat rohani. Ada yang menjadi pasangan hidup, orang tua, anak, saudara, atau teman yang pada saat tertentu justru dipakai Tuhan untuk mengingatkan kita.

Kadang utusan Tuhan datang bukan dalam bentuk yang megah. Ia bisa datang sebagai orang sederhana yang berkata jujur kepada kita. Ia bisa datang sebagai orang yang menegur kita dengan kasih. Ia bisa datang sebagai orang yang mendengarkan keluh kesah kita ketika kita hampir menyerah. Ia bisa datang sebagai orang yang diam-diam menolong tanpa banyak bicara.

Ada sebuah pengalaman yang sering terjadi dalam hidup banyak orang. Seseorang sedang menghadapi masalah berat, lalu ia merasa Tuhan diam saja. Ia berdoa, tetapi belum ada jawaban. Ia mencari jalan keluar, tetapi semua terasa buntu. Lalu tiba-tiba ada seorang teman mengirim pesan singkat, sekedar bertanya, "Apa kabar?" Atau ada orang yang tanpa sengaja mengucapkan kalimat sederhana, tetapi tepat mengenai pergumulan hatinya. Dari situ ia merasa dikuatkan. Ia merasa seperti Tuhan sedang menyapa dia lewat orang itu.

Begitulah cara Tuhan menggembalakan kita. Tidak selalu dengan tanda besar dari langit. Tidak selalu dengan mukjizat yang menggemparkan. Sering kali Tuhan hadir melalui orang-orang yang diutus-Nya untuk berjalan bersama kita.

Tetapi Yesus juga memberi kunci penting: "Barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku; dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."  [Yoh 13:20]

Maka persoalannya bukan hanya apakah Tuhan mengutus seseorang kepada kita, tetapi apakah kita mau menerimanya. Kadang kita menolak utusan Tuhan karena ia tidak sesuai dengan selera kita. Kita hanya mau mendengar orang yang membenarkan pendapat kita. Kita hanya mau menerima nasihat yang nyaman di telinga kita. Padahal bisa jadi, justru melalui teguran yang tidak nyaman itu Tuhan sedang menarik kita kembali ke jalan yang benar.

Di sinilah kita perlu rendah hati. Domba yang baik bukan domba yang merasa paling tahu jalan. Domba yang baik adalah domba yang mengenal suara gembalanya dan mau mengikuti arah yang ditunjukkan. Seorang murid Kristus bukan orang yang selalu memahami semua rencana Tuhan, tetapi orang yang tetap percaya, sekali pun belum memahami sepenuhnya.

Hari ini kita diajak untuk memeriksa kembali posisi kita di hadapan Tuhan. Apakah kita sungguh berjalan di belakang Yesus, atau diam-diam kita ingin mendahului Dia? Apakah kita sungguh mendengarkan suara-Nya, atau hanya mencari sabda yang cocok dengan keinginan kita? Apakah kita mau menerima utusan-utusan-Nya, atau hanya mau menerima orang yang menyenangkan hati kita?

Semoga kita tidak menjadi domba yang keras kepala, yang berjalan semaunya sendiri lalu menyalahkan Gembala ketika tersesat. Semoga kita menjadi domba yang rendah hati, yang percaya bahwa Sang Gembala tahu jalan yang terbaik, bahkan ketika jalan itu belum kita pahami.

Dan semoga kita pun belajar menjadi utusan yang setia. Bukan utusan yang merasa lebih tinggi dari Dia yang mengutus, bukan pelayan yang mencari hormat untuk dirinya sendiri, melainkan utusan yang menghadirkan Kristus melalui kata-kata, sikap, dan perbuatan kita.

Karena pada akhirnya, mengikuti Yesus bukanlah soal berjalan paling cepat, paling hebat, atau paling terlihat. Mengikuti Yesus adalah soal tetap setia berjalan di belakang Sang Gembala, percaya kepada arah yang Ia tunjukkan, dan membiarkan hidup kita menjadi tanda bahwa Kristus sungguh hidup dan bekerja di tengah dunia.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Pius V, Paus
Antonio Ghislieri adalah nama kecil Paus Pius V (1566-1572). Ia lahir di desa Bosko, tidak jauh dari Milano pada tahun 1504. Orang-tuanya miskin sehingga tidak mampu membiayai sekolahnya. Oleh karena itu Antonio sendiri harus berusaha bekerja untuk membantu orang­tuanya. Kerjanya setiap hari adalah menjaga domba-domba mereka di Pegunungan.
Tetapi berkat bantuan seorang dermawan, Antonio disekolahkan di kampung asalnya di bawah bimbingan imam-imam Dominikan. Kemudian hari Antonio masuk biara Dominikan dan ternyata menjadi seorang biarawan yang pandai dan bijaksana serta taat pada aturan­aturan ordonya, taat pada pimpinan, suka akan kemiskinan dan kemurnian.
Ia menjadi maha guru filsafat dan teologi. Pada umur 52 tahun, ia ditahbiskan menjadi Uskup dan setahun kemudian menjadi Kardinal. Pada tahun 1565, Paus Pius IV meninggal dunia. Para kardinal berkumpul dalam konklaf untuk memilih paus baru. Pemilihan ini tidaklah mudah. Tiga minggu telah berlalu, tetapi pemilihan belum juga berhasil menemukan seseorang untuk menduduki takhta kepausan. Akhirnya atas nasehat Karolus Borromeus yang hadir juga dalam konklaf itu, Antonio Ghislieri terpilih menjadi paus. Seluruh Gereja bersorak gembira karena mempunyai seorang paus baru yang saleh dan suci.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin Gereja, beliau menghadapi banyak masalah. la bertugas mewujudkan keputusan-keputusan Konsili Trente. Tugasnya ini dijalankan dengan baik. Ia dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Hidup sebagai seorang rahib tetap dipertahankannya. Baginya, doa merupakan senjata ampuh untuk menghadapi segala rintangan dan masalah. Tempat tidurnya dialasi dengan jerami kasar. Penderitaan Kristus direnungkannya setiap hari disertai dengan doa rosario. Kemenangan umat kristen atas Angkatan Laut Turki dalam perang salib di Lavanto, diperoleh berkat doa rosario dari seluruh umat Katolik di seluruh dunia.
Dalam masa kepemimpinannya, beliau menyederhanakan cara hidup kepausan di Vatikan; menginstruksikan pembaharuan cara hidup ordo-ordo dan para imam projo; memberantas korupsi yang terjadi di Roma dan Negara Kepausan Vatikan; menginstruksikan pendirian seminari-seminari di setiap keuskupan. Semua rencana yang dicanangkannya berhasil baik. Pada tanggal 1 Mei 1572, ia meninggal dunia setelah 6 tahun menjadi pemimpin Gereja sejagat.

Santo Marianus dan Yakobus, Martir
Marianus dan Yakobus yang berjabatan masing-masing sebagai lektor dan diakon adalah martir Gereja Purba yang mati pada tahun 259, pada masa pemerintahan kaisar Valerian (253-260). Keduanya ditangkap di Cirta (sekarang: Konstantin, Aljajair). Kemudian bersama banyak orang Kristen lainnya, mereka digiring ke Lambessa, sekitar 80 mil jauhnya dari Cirta. Di sana mereka disiksa lalu dipenggal kepalanya bersama orang-orang Kristen lainnya.


Santo Yosef-Benedik Cottolengo, Pengaku Iman
Yosef-Benedik hidup antara tahun 1786-1842. Ia membangun rumah penginapan untuk para gelandangan, yatim-piatu dan penderita sakit yang terlantar. Yosef mengurus 8000 orang lebih semata-mata dari derma saja, karena ia percaya penuh kepada Penyelenggaraan Ilahi.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-04-29 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah IV

Rabu, 29 April 2026

PW S. Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja



Bacaan Pertama
Kis 12:24-13:5a

"Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Pada waktu itu
firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.
Setelah menyelesaikan tugas pelayanan mereka,
Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem ke Antiokhia.
Mereka membawa Yohanes, yang disebut juga Markus.
Pada waktu itu
dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar,
yaitu Barnabas dan Simon yang disebut Niger,
dan Lukius orang Kirene,
dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes,
dan Saulus.
Pada suatu hari
ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa,
berkatalah Roh Kudus,
"Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku
untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka."
Maka berpuasa dan berdoalah mereka,
dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu,
mereka membiarkan keduanya pergi.

Oleh karena disuruh Roh Kudus,
Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia,
dan dari situ mereka berlayar ke Siprus.
Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah
di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi.

Demikianlah sabda Tuhan.

ATAU BACAAN LAIN:
1Yoh 1:5-2:2

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Saudara-saudara terkasih,
inilah berita yang telah kami dengar dari Yesus Kristus,
dan yang kami sampaikan kepada kamu:
Allah adalah terang,
dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
Jika kita katakan bahwa
kita beroleh persekutuan dengan Dia
namun kita hidup di dalam kegelapan,
kita berdusta, dan kita tidak melakukan kebenaran.
Tetapi jika kita hidup di dalam terang
sama seperti Dia ada di dalam terang,
maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain,
dan darah Yesus, Anak-Nya itu,
menyucikan kita dari pada segala dosa.
Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa,
maka kita menipu diri kita sendiri,
dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
Jika kita mengaku dosa kita,
maka Allah adalah setia dan adil,
sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita
dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa,
maka kita membuat Allah menjadi pendusta,
dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

Anak-anakku,
hal-hal ini kutuliskan kepada kamu,
supaya kamu jangan berbuat dosa;
namun jika seorang berbuat dosa,
kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa,
yaitu Yesus Kristus yang adil.
Dialah pendamaian untuk segala dosa kita;
malahan bukan untuk dosa kita saja,
tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 67:2-3.5.6.8,R:4

Refren: Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan;
kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.

*Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita,
kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya,
kiranya jalan-Mu dikenal di bumi,
dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.

*Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai,
sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil,
dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.

*Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah,
kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.
Allah memberkati kita;
kiranya segala ujung bumi takwa kepada-Nya!

ATAU MAZMUR LAIN:
Mzm 103:1-2.3-4.8-9.13-14.17-18a

Refren: Pujilah Tuhan, hai jiwaku.

*Pujilah Tuhan, hai jiwaku!
Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!
Pujilah Tuhan, hai jiwaku,
janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!

*Dia yang mengampuni segala kesalahan,
dan menyembuhkan segala penyakitmu!
Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur,
dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!

*Tuhan adalah pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan berlimpah kasih setia.
Tidak terus-menerus Ia murka,
dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

*Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,
demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takwa.
Sebab Dia sendiri tahu dari apa kita dibuat,
Dia sadar bahwa kita ini debu.

*Tetapi kekal abadilah kasih setia Tuhan
atas orang-orang yang takwa kepada-Nya.
Sebagaimana kekal abadilah kebaikan-Nya
atas anak cucu mereka,
asal mereka tetap berpegang pada perjanjian-Nya.



Bait Pengantar Injil
Yoh 8:12b

Akulah terang dunia, sabda Tuhan,
barangsiapa mengikut Aku, ia akan mempunyai terang hidup.



Bacaan Injil
Yoh 12:44-50

"Aku telah datang ke dunia sebagai terang."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Sekali peristiwa,
Yesus berseru di hadapan orang-orang Farisi
yang percaya kepada-Nya,
"Barangsiapa percaya kepada-Ku,
ia percaya bukan kepada-Ku,
tetapi kepada Dia yang telah mengutus Aku;
dan barangsiapa melihat Aku,
ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku,
jangan tinggal di dalam kegelapan.
Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku,
tetapi tidak melakukannya,
bukan Aku yang menjadi hakimnya,
sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya.

Barangsiapa menolak Aku,
dan tidak menerima perkataan-Ku,
ia sudah ada hakimnya,
yaitu firman yang telah Kukatakan;
itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.
Sebab bukan dari diri-Ku sendiri Aku berkata-kata,
tetapi Bapa, yang mengutus Aku,
Dialah yang memerintahkan Aku,
untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.
Dan Aku tahu,
bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal.
Jadi apa yang Aku katakan,
Aku menyampaikannya
sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku."

Demikianlah Sabda Tuhan..

image.png



Renungan Injil
Sebagai bagian dari kawanan domba, apakah yang kita peroleh dari Penggembala kita? Banyak, bahkan sangat banyak, dan semuanya baik adanya. Ada keselamatan terhadap ancaman binatang buas, kita tidak perlu khawatir tersesat karena senantiasa dituntun-Nya, dijaga-Nya, baik di dalam kandang maupun di luar kandang. Kita diantar-Nya ke padang rumput yang hijau, dibimbing-Nya ke air yang tenang, dan yang tidak kalah penting, Terang-Nya mengusir kegelapan dari hidup kita.

Dalam Injil hari ini Yesus berkata, "Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan."  [Yoh 12:46] Ini pernyataan yang sangat kuat. Yesus tidak datang hanya untuk memberi nasihat, tidak datang hanya untuk menyampaikan ajaran moral, tetapi datang sebagai Terang. Artinya, siapa yang percaya kepada-Nya tidak lagi dibiarkan berjalan dalam gelap, tidak lagi dibiarkan tersesat tanpa arah, tidak lagi dibiarkan hidup dalam kebingungan batin.

Terang dan gelap bukanlah dua kekuatan yang sama besar. Tidak. Kegelapan tidak pernah mampu mengalahkan terang. Tidak ada kegelapan di dalam terang. Tidak ada terang yang dapat digelapkan oleh kegelapan. Justru sebaliknya, ketika terang datang, kegelapan pasti sirna. Bahkan dalam kegelapan yang sangat pekat sekali pun, sedikit cahaya saja sudah cukup untuk membuat orang tahu ke mana harus melangkah. Maka jika kita hidup di dalam Terang Kristus, semestinya kita tidak lagi takut kepada kegelapan.

Kita memang membutuhkan terang. Tanpa terang, kita sulit berbuat apa-apa. Karena itu kita lebih banyak beraktivitas di siang hari, ketika terang hadir. Kalau terpaksa beraktivitas di malam hari, atau di tempat yang gelap, maka kita mesti menyalakan lampu. Kita tidak bisa hidup nyaman di dalam gelap. Bayangkan saja kalau listrik padam. Jangankan malam hari, di siang hari pun kita bisa panik. Handphone dan laptop mulai kehabisan daya, kulkas tidak dingin, AC tidak menyala, pompa air tidak bekerja, dan banyak urusan sehari-hari menjadi terganggu. Apalagi kalau seandainya matahari tidak muncul di pagi hari, tentu itu menjadi musibah besar bagi seluruh kehidupan.

Ya, kehidupan jasmani kita membutuhkan terang. Tetapi bagaimana dengan jiwa kita? Bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Bukankah terang rohani jauh lebih penting lagi? Kalau rumah gelap, kita masih bisa menyalakan lampu. Tetapi kalau jiwa kita gelap, kalau hati kita gelap, kalau pikiran dan kehendak kita dikuasai oleh kegelapan, maka yang muncul adalah kebingungan, ketakutan, iri hati, dendam, kebencian, kesombongan, dan berbagai keputusan yang akhirnya menjauhkan kita dari Tuhan.

Inilah bahaya kegelapan batin. Orang yang hidup dalam kegelapan sering kali tidak menyadari bahwa ia sedang tersesat. Ia merasa benar, padahal sedang menjauh. Ia merasa bebas, padahal sedang diperbudak. Ia merasa kuat, padahal sedang dikuasai oleh dosa. Maka Yesus datang sebagai Terang, bukan untuk mempermalukan kita, melainkan untuk menyelamatkan kita. Terang Kristus menyingkapkan apa yang keliru, bukan supaya kita dihukum, tetapi supaya kita bertobat dan kembali kepada jalan yang benar.

Yesus juga berkata dalam Injil hari ini bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Tetapi Ia juga menegaskan bahwa siapa yang menolak Dia dan tidak menerima firman-Nya, firman itu sendiri yang akan menjadi hakim pada akhir zaman. Ini berarti Terang Kristus memang diberikan kepada kita, tetapi kita tetap harus memilih: mau berjalan di dalam terang itu, atau tetap bersembunyi di dalam gelap.

Bacaan Pertama hari ini memberi kita gambaran yang indah tentang bagaimana Terang Kristus tidak berhenti pada diri seseorang saja. Dikisahkan bahwa firman Allah makin tersebar dan makin banyak didengar orang. Barnabas dan Saulus dipilih dan diutus oleh Roh Kudus untuk mewartakan sabda Allah. Mereka tidak menyimpan terang itu untuk diri sendiri. Mereka menerima terang, lalu membawa terang itu kepada orang lain.

Di sinilah kita menemukan satu pesan penting. Terang Kristus bukan hanya untuk membuat hidup kita sendiri menjadi nyaman. Terang Kristus bukan hanya untuk menenangkan hati kita sendiri. Kalau kita sungguh sudah menerima Terang Kristus, maka kita pun dipanggil untuk menjadi pembawa terang bagi orang lain. Seperti Barnabas dan Saulus yang diutus, kita pun diutus dalam kehidupan kita masing-masing: di rumah, di tempat kerja, di lingkungan, di komunitas, dan di tengah masyarakat.

Kadang-kadang menjadi pembawa terang tidak harus dengan hal-hal besar. Bisa dimulai dari sikap yang sederhana: tidak ikut menyebarkan kebencian, tidak memperkeruh keadaan, tidak menambah luka orang lain dengan kata-kata yang tajam, tidak memanfaatkan kelemahan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Menjadi pembawa terang bisa berarti hadir dengan hati yang jernih, memberi penghiburan, memberi jalan keluar, berkata jujur, meminta maaf, mengampuni, dan berani memilih yang benar meskipun tidak selalu mudah.

Terang Kristus membuat kita melihat hidup dengan cara yang berbeda. Masalah tetap ada, tetapi kita tidak kehilangan arah. Pergumulan tetap ada, tetapi kita tidak putus asa. Kelemahan tetap ada, tetapi kita tidak menyerah kepada dosa. Sebab terang itu bukan berasal dari kemampuan kita sendiri, melainkan dari Kristus yang tinggal di dalam hati kita.

Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah hari ini hati saya sedang berada dalam terang, atau masih ada bagian-bagian gelap yang saya sembunyikan dari Tuhan? Apakah pikiran, ucapan, dan tindakan saya memancarkan Terang Kristus, atau justru menambah gelap suasana di sekitar saya?

Yesus telah datang ke dalam dunia sebagai Terang. Ia tidak ingin kita tinggal di dalam kegelapan. Maka jangan hanya mengagumi terang itu dari jauh. Mari kita berjalan di dalam Terang Kristus, membiarkan hati kita diterangi oleh sabda-Nya, lalu membawa terang itu ke mana pun kita diutus. Sebab dunia ini sudah cukup gelap oleh dosa, kebencian, dan ketidakpedulian. Jangan kita ikut menambah gelap. Jadilah terang kecil yang setia, karena di dalam Kristus, terang sekecil apa pun sanggup mengusir kegelapan.



Peringatan Orang Kudus
Santa Katarina dari Siena, Perawan
Pada abad ke-14, kota Siena menjadi ibukota sebuah republik yang makmur dan merdeka. Di kota inilah, Katarina lahir pada tahun 1347. Keluarganya tergolong besar tapi sederhana. Demi keutuhan Gereja, Allah memilih dia rnenjadi pembimbing dan pelindung Gereja dalam suatu kurun waktu yang suram.
Katarina tidak bersekolah dan tidak pandai menulis. Ketrampilan membaca sangat sedikit dikuasainya. Hal ini sedikit menolongnya untuk mengikuti doa ofisi di kemudian hari ketika ia masuk biara. Ketika berusia 6 tahun, ia mengalami suatu peristiwa ajaib, yang memberi tanda surgawi bahwa ia akan dipilih Allah untuk suatu tugas khusus dalam Gereja. la melihat Kristus di atas gereja Santo Dominikus sedang memberkatinya.
Peristiwa ini menyebabkan perubahan besar dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia suka memencilkan diri untuk berdoa. Ibunya tidak suka melihat kelakuannya. Oleh karena itu, ia dipekerjakan di dapur dari pagi hingga malam. Ia tidak memberontak terhadap perlakuan ibunya. Sebaliknya, ia dengan taat dan rajin melakukan apa yang disuruh ibunya.
Kesabarannya dalan menaati suruhan ibunya, akhirnya membuahkan hasil yang baik. Ia mampu mengatasi segala kesulitan yang menimpanya, sambil terus berdoa kepada Tuhan. Sesudah mengalami banyak kesulitan, ia diizinkan orangtuanya untuk masuk Ordo Ketiga Santo Dominikus.
Di dalam biara, ia tetap melaksanakan doa dan meditasi di samping karya amal dan kerasulannya. Lama-kelamaan ia menjadi pusat perhatian semua anggota biara. Kerohanian dan kepribadiannya yang menarik mengangkat dia ke atas jabatan pemimpin biara itu.
Situasi Gereja pada masa itu kacau-balau. Imam-imam dan pimpinan Gereja tidak menampilkan diri secara baik. Peperangan antar negara dan antar raja-raja timbul di mana-mana. Di samping itu, istana Sri Paus di Avignon, Prancis, yang sudah berusia 70 tahun menimbulkan percekcokan di kalangan pemimpin-pemimpin Gereja. Dalam suatu penglihatan, Kristus menganjurkan kepada Katarina untuk menyurati paus, raja­raja dan para uskup serta para panglima guna memperbaiki keadaan masyarakat dan Gereja. Paus Gregorius XI memintanya pergi ke Pisa dan Florence untuk mendamaikan kedua republik itu. Katarina berhasil meyakinkan paus untuk pulang ke Roma sebagai kota abadi dan pusat Gereja.
Semenjak masuk dalam Ordo Ketiga Santo Dominikus, Katarina makin memperkeras puasanya. Banyak kali ia tidak makan, kecuali menerima komuni suci. la dikaruniai stigmata/luka-luka Tuhan Yesus. Atas permohonannya, stigmata itu tidak terlihat oleh orang lain selama hidupnya. Kemudian setelah ia meninggal, stigmata itu baru terlihat di badannya secara jelas.
Katarina memiliki karisma yang besar untuk mempengaruhi banyak orang. Ia berhasil membawa kembali banyak pendosa ke jalan Tuhan, termasuk mendamaikan raja-raja dengan Gereja. Semuanya itu dilihatnya sebagai anugerah Tuhan. Ia sendiri menganggap dirinya hanyalah alat Tuhan untuk menegakkan kemuliaan Tuhan. Pada tahun 1380 ia meninggal dunia di Roma dalam usia 33 tahun.


Santo Petrus dari Verona, Martir
Petrus lahir di Verona, Italia, pada tahun 1205. Ia mendapat pendidikan di sekolah Katolik, padahal keluarganya menganut faham Katarisme. Faham Katarisme mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bersifat kebendaan (materi) adalah buruk dan jahat, oleh karena itu bukan ciptaan Allah yang mahabaik. Bumi dan segala isinya yang bersifat kebendaan bukan ciptaan Allah.
Ajaran Katarisme ini bertentangan sekali dengan ajaran iman Katolik yang diperoleh Petrus di sekolahnya. Di sekolah ia diajarkan tentang pengakuan iman Para Rasul (Credo) yang antara lain berbunyi: "Aku percaya akan Allah Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi . . ." Ajaran iman Katolik ini lebih berkesan di hatinya. Kepada keluarganya ia berkata: "Pengetahuanku tentang rahasia-rahasia iman Katolik sangatlah jelas dan dalam, dan keyakinanku akan kebenaran-kebenaran itu sungguh kokoh, sehingga bagiku semuanya itu lebih merupakan sesuatu yang tampak di mataku daripada yang diimani belaka".
Setelah menanjak dewasa, Petrus masuk biara Dominikan. Di sana ia menerima pakaian biara dari tangan Santo Dominikus sendiri. Setelah menempuh pendidikan hidup membiara, ia ditahbiskan menjadi imam. Sebagai imam baru, ia ditugaskan berkhotbah di seluruh wilayah Lombardia tentang ajaran iman yang benar. Hal ini menimbulkan kemarahan dan kebencian para penganut Katarisme. Para pengikut aliran sesat itu menyerangnya dengan berbagai tuduhan palsu. Tanpa menyelidiki secara mendalam benar-tidaknya ajaran yang disebarkan Petrus dalam khotbah-khotbahnya, para pembesar masyarakat menegur dan mengecamnya. Menghadapi kecaman-kecaman itu, Petrus tetap bersemangat menjalankan tugasnya sebagai pengkhotbah dan terus berdoa meminta kepada Tuhan agar kiranya ia dapat mati untuk Tuhan, sebagaimana telah diteladankan Kristus dengan mati di salib demi keselamatan manusia, termasuk dirinya. la selalu berkata: "Biarkanlah mereka melakukan apa saja atas diriku sesuai rencana mereka.  Aku tetap bergembira dan bersemangat, karena dengan mati aku akan lebih berpengaruh daripada sekarang".
Doa-doanya untuk mati dalam nama Tuhan terkabulkan, ketika ia dibunuh oleh dua orang Kataris sementara menjalankan tugasnya sebagai pengajar agama. Tetapi justru kematiannya ini membawa banyak berkat bagi orang-orang Kataris. Segera sesudah peristiwa pembunuhan atas dirinya, seorang dari pembunuh itu bertobat dan masuk biara Dominikan.


Santo Hugh/Hugo Agung, Abbas
Putra pangeran dari Samur, Prancis ini lahir pada tahun 1024. Ketika berusia 15 tahun, ia masuk biara Benediktin dan menjadi Abbas biara Kluni pada usia 25 tahun. Ketika itu biara Prancis ini mulai kuat pengaruhnya di seluruh Eropa. Banyak biara Kluni didirikan pada masa kepemimpinan Hugo. Aturan-aturan hidup membiara dibuatnya untuk seluruh biara yang dibangunnya.
Kepribadiannya yang mengagumkan dan kesalehan hidupnya berpengaruh luas baik di kalangan Gereja maupun pemerintahan negara. Ia menjadi penasihat bagi sembilan orang paus, termasuk Sri Paus Gregorius VII (1073-1085) dan banyak pemimpin negara. la berusaha keras untuk membaharui cara hidup para imam dan berusaha membebaskan Gereja dari pengawasan negara. Karena semuanya itu, ia dikenal sebagai pencinta dan pencipta perdamaian, dan sebagai sahabat para kusta dan semua orang sakit yang berada di rumah sakit yang didirikannya di Marcigny. Ia meninggal pada tanggal 29 April 1109 dan digelari 'kudus' pada tahun 1120.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-04-28 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah IV

Selasa, 28 April 2026

PF S. Ludovikus Maria Grignion de Montfort, Imam
PF S. Petrus Chanel, Imam dan Martir



Bacaan Pertama
Kis 11: 19-26

"Mereka berbicara kepada orang-orang Yunani
dan memberitakan Injil bahwa Yesus adalah Tuhan."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Banyak saudara telah tersebar
karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati.
Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia;
namun mereka memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi saja.
Akan tetapi di antara mereka
ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia,
dan berbicara juga kepada orang-orang Yunani;
mereka ini memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.
Tangan Tuhan menyertai mereka,
dan sejumlah besar orang menjadi percaya
dan berbalik kepada Tuhan.

Maka sampailah kabar tentang mereka itu
kepada jemaat di Yerusalem.
Lalu jemaat di Yerusalem itu mengutus Barnabas ke Antiokhia.
Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah,
bersukacitalah ia.
Ia menasihati mereka,
supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan.
Karena Barnabas adalah orang baik,
penuh dengan Roh Kudus dan iman,
sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.
Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus;
dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya,
sambil mengajar banyak orang.
Di Antiokhialah
murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 87:1-3.4-5.6-7,R:Mzm 117:1a

Refren: Pujilah Tuhan, hai segala bangsa!

*Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya;
Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion
dari pada segala tempat kediaman Yakub.
Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.

*Aku menyebut Rahab dan Babel
di antara orang-orang yang mengenal Aku,
bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia Kukatakan,
"Ini dilahirkan di sana."
Tetapi tentang Sion dikatakan:
"Tiap-tiap orang dilahirkan di dalamnya,"
dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.

*Pada waktu mencatat bangsa-bangsa Tuhan menghitung:
"Ini dilahirkan di sana."
Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai,
"Semua mendapatkan rumah di dalammu."



Bait Pengantar Injil
Yoh 10:27

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan.
Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.



Bacaan Injil
Yoh 10:22-30

"Aku dan Bapa adalah satu."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Pada hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem,
ketika itu musim dingin,
Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo.
Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya,
"Berapa lama lagi
Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?
Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami."
Yesus menjawab mereka,
"Aku telah mengatakannya kepada kamu,
tetapi kamu tidak percaya;
pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku,
itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku,
tetapi kamu tidak percaya,
karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku
dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.
Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka
dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya
dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku,
lebih besar dari pada siapa pun,
dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.
Aku dan Bapa adalah satu.
Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Hari ini renungan dari *Daily Fresh Juice*:

“*Domba Yesus atau Bukan*”
Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Sebelum kita mendengarkan Bacaan Injil hari ini,
baiklah kita memahami sedikit latar belakangnya.

Injil Yohanes mencatat bahwa saat itu sedang berlangsung
Hari Raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem.
Hari raya ini adalah peringatan atas pemurnian dan pentahbisan kembali Bait Allah setelah sebelumnya dinajiskan oleh penguasa asing.
Dalam tradisi Yahudi,
perayaan ini dikenal sebagai Hanukkah, atau Hari Raya Dedikasi.

Hari raya ini selalu dirayakan sekitar akhir November sampai akhir Desember, karena jatuh pada tanggal 25 Kislev dalam kalender Yahudi. Itulah sebabnya Injil Yohanes menulis bahwa waktu itu musim dingin.

Dalam Injil hari ini juga disebutkan bahwa Yesus sedang berjalan-jalan di Bait Allah,
di Serambi Salomo.
Serambi Salomo adalah bagian dari kompleks Bait Allah di Yerusalem,
berupa serambi atau lorong beratap dengan deretan tiang.
Namanya dikaitkan dengan Raja Salomo, putra Raja Daud,
raja yang terkenal dengan hikmatnya,
yang membangun Bait Allah pertama di Yerusalem.
Maka nama Serambi Salomo mengingatkan orang pada
kemuliaan Bait Allah yang dibangun oleh Salomo.

Hari Raya Pentahbisan Bait Allah dirayakan pada musim dingin.
Tetapi yang lebih penting untuk kita renungkan,
bukan hanya dinginnya udara Yerusalem,
melainkan dinginnya hati orang-orang yang berada dekat dengan Yesus,
tetapi tidak mau mendengarkan suara-Nya.
Mereka ada di sekitar Bait Allah,
tetapi tidak sungguh menjadi domba-domba Sang Gembala.

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
[Bacaan Injil]
Demikianlah sabda Tuhan.

*Renungan*
Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Hari ini Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”  [Yoh 10:27]
Kalimat ini singkat, tetapi sangat dalam.
Yesus tidak hanya berkata bahwa Ia adalah Gembala yang baik.
Yesus juga mengatakan siapa yang sungguh-sungguh menjadi domba-Nya.
Domba Yesus adalah mereka yang mendengarkan suara-Nya.
Domba Yesus adalah mereka yang dikenal oleh-Nya.
Domba Yesus adalah mereka yang mengikuti Dia.

Maka dari sini kita bisa merenungkan satu pertanyaan yang sangat pribadi:
apakah saya ini sungguh domba Yesus atau bukan?
Sebab ternyata, orang bisa berada dekat dengan Yesus,
tetapi belum tentu mendengarkan Yesus.
Orang bisa berada di sekitar Bait Allah, tetapi hatinya jauh dari Allah.
Orang bisa tahu banyak tentang agama, tetapi belum tentu mau dituntun oleh Tuhan.
Orang bisa sering menyebut nama Yesus, tetapi belum tentu mengikuti jalan Yesus.

Dalam Injil hari ini, orang-orang Yahudi mengelilingi Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?
Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.”
Pertanyaan itu seolah-olah terdengar wajar.
Mereka ingin kepastian. Mereka ingin jawaban yang jelas.
Tetapi Yesus menjawab,
“Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya.”

Jadi persoalannya bukan karena Yesus kurang jelas.
Persoalannya bukan karena Yesus kurang memberi tanda.
Persoalannya bukan karena Yesus menyembunyikan diri.
Persoalannya ada pada hati mereka yang tidak mau percaya.

Lalu Yesus berkata,
“Tetapi kamu tidak percaya,
karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.” [Yoh 10:26]
Ini kalimat yang keras, tetapi sangat jujur.
Bukan Yesus yang tidak mau menggembalakan mereka.
Bukan Yesus yang tidak mau menyelamatkan mereka.
Bukan Yesus yang tidak mau menerima mereka.
Tetapi merekalah yang tidak mau mendengarkan suara-Nya.
Merekalah yang tidak mau percaya.
Merekalah yang tidak mau mengikuti Dia.

Maka hari ini kita diajak melihat lebih dalam:
apa bedanya domba Yesus dan yang bukan domba Yesus?
Untuk memahaminya, baiklah kita melihat sedikit tentang sifat domba.
Domba itu binatang yang lemah.
Ia tidak punya senjata untuk membela diri.
Ia tidak punya taring untuk menerkam.
Ia tidak punya cakar untuk mencengkeram.
Ia tidak punya tanduk sekuat banteng.
Kalau menghadapi ancaman, domba tidak bisa banyak melawan.
Domba juga mudah tersesat.
Kalau berjalan sendiri, ia bisa kehilangan arah.
Karena itu domba sangat membutuhkan penggembala.
Domba biasanya hidup dalam kawanan.
Ia merasa aman kalau berada bersama kawanan dan dekat dengan gembalanya.
Ini agak berbeda dengan kambing.
Kambing cenderung lebih mandiri, lebih berani mencari jalan sendiri,
lebih suka memanjat, lebih suka menjelajah, dan kadang lebih sulit diarahkan.
Domba lebih mudah dituntun,
tetapi juga lebih mudah tersesat kalau jauh dari gembalanya.

Gambaran ini dipakai Yesus bukan untuk merendahkan kita.
Yesus tidak sedang mengatakan bahwa kita ini bodoh atau tidak berharga.
Sebaliknya,
Yesus ingin menunjukkan bahwa hidup kita memang membutuhkan tuntunan.
Kita bisa merasa kuat, tetapi sebenarnya rapuh.
Kita bisa merasa pintar, tetapi sering salah arah.
Kita bisa merasa mampu mengatur semuanya,
tetapi sering tidak mampu mengatur hati sendiri.

Kita bisa merasa tahu jalan,
tetapi kadang jalan yang kita pilih justru menjauhkan kita dari Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa tersesat oleh banyak hal:
Tersesat oleh kesibukan, oleh ambisi, oleh gengsi, oleh uang, oleh luka batin, oleh kemarahan, oleh kesenangan,
atau tersesat oleh suara dunia yang begitu ramai,
sampai-sampai suara Tuhan malah menjadi semakin samar.

Di sinilah kita perlu kembali bertanya:
saya ini domba Yesus atau bukan?
Domba Yesus mendengarkan suara Yesus.
Yang bukan domba Yesus mungkin juga mendengar suara Yesus,
tetapi tidak mau menaatinya.
Domba Yesus mengikuti Yesus.
Yang bukan domba Yesus mungkin kagum kepada Yesus, tetapi tetap memilih jalannya sendiri.
Domba Yesus percaya kepada Yesus.
Yang bukan domba Yesus mungkin meminta tanda, meminta bukti, meminta kepastian, tetapi tetap menutup hati.
Domba Yesus mau dituntun.
Yang bukan domba Yesus merasa lebih tahu jalan hidupnya sendiri.
Domba Yesus tetap dekat dengan Gembala.
Yang bukan domba Yesus berjalan sendiri, dan baru mencari Tuhan ketika sudah tersesat.

Maka syarat pertama agar kita layak disebut domba Yesus adalah: kita mau mendengarkan suara-Nya.
Mendengarkan suara Yesus bukan sekadar mendengar dengan telinga.
Mendengarkan berarti memberi ruang di dalam hati, mau ditegur, mau diarahkan, dan mau berubah.
Mendengarkan tidak hanya berarti mencari ayat yang menyenangkan hati kita,
tetapi juga menerima sabda Tuhan yang membongkar keangkuhan kita.

Maka pertanyaannya: suara siapa yang paling sering kita dengarkan?
Suara Yesus atau suara ego kita sendiri?
Suara kasih atau suara kemarahan?
Suara pengampunan atau suara dendam?
Suara kebenaran atau suara pembenaran diri?
Suara rendah hati atau suara kesombongan?
Suara Tuhan seringkali tidak datang dengan cara yang spektakuler.
Kadang suara Tuhan datang melalui pasangan hidup yang mengingatkan kita.
Kadang datang melalui anak yang membutuhkan perhatian.
Kadang datang melalui orang tua yang merasa kesepian.
Kadang datang melalui sahabat yang menegur kita dengan tulus.
Kadang datang melalui peristiwa kecil yang membuat kita sadar bahwa selama ini kita sudah terlalu jauh berjalan sendiri.

Syarat kedua agar kita layak disebut domba Yesus adalah: kita mau mengikuti Dia.
Mengikuti Yesus bukan hanya berarti mengagumi ajaran-Nya,
bukan hanya berarti senang mendengar renungan.
Mengikuti Yesus berarti berjalan di jalan-Nya.
Dan jalan Yesus adalah jalan kasih, jalan pengampunan, jalan kerendahan hati, jalan pelayanan, jalan kesetiaan, dan kadang juga jalan salib.

Mengikuti Yesus berarti menahan diri supaya tidak membalas kata-kata kasar dengan kata-kata yang lebih kasar,
meminta maaf lebih dulu, walaupun kita merasa gengsi,
tetap setia menjalankan tanggung jawab, walaupun kita merasa lelah,
tidak lari dari persoalan keluarga.
Mengikuti Yesus berarti hadir untuk anak-anak, bukan hanya memenuhi kebutuhan mereka secara materi, memberi waktu, bukan hanya memberi uang,
mau mengampuni, walaupun hati belum sepenuhnya pulih.
Domba Yesus bukan domba yang berjalan semaunya sendiri.
Domba Yesus mengikuti arah Gembalanya.

Syarat ketiga agar kita layak disebut domba Yesus adalah: kita hidup dalam kasih.
Tanda pengenal murid Yesus bukan pertama-tama kata-kata yang rohani.
Bukan panjangnya doa.
Bukan banyaknya aktivitas pelayanan.
Bukan juga seberapa sering kita berbicara tentang Tuhan.
Tanda yang paling nyata adalah kasih.
Kalau kita sungguh domba Yesus,
maka hidup kita seharusnya semakin diwarnai oleh kasih.

Kalau di rumah kita lebih sering terdengar suara marah daripada suara kasih,
lebih sering saling menyalahkan daripada saling menguatkan,
mungkin kita perlu kembali mendengarkan suara Gembala,
perlu kembali kepada Yesus.

Syarat keempat agar kita layak disebut domba Yesus adalah:
kita mau dikenal oleh Yesus.
Ini menarik.
Yesus berkata, “Aku mengenal mereka.”
Yesus tidak hanya melihat kita sebagai bagian dari kerumunan,
tidak mengenal kita secara massal.
Yesus mengenal kita satu per satu.
Yesus mengenal nama kita, mengenal luka-luka kita, kelemahan kita, pergumulan kita, dan doa-doa yang tidak sempat kita ucapkan.
Yesus mengenal air mata yang kita sembunyikan.
Yesus mengenal rasa lelah yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun.

Yang penting, agar kita sungguh menjadi domba-Nya,
kita juga perlu membiarkan diri kita dikenal oleh Yesus.
Jangan bersembunyi dari Pengembala kita.
Jangan berpura-pura kuat di hadapan-Nya.
Jangan datang kepada Yesus hanya dengan wajah yang rapi,
sementara hati kita penuh kekacauan.
Datanglah apa adanya.
Sebab Gembala yang baik tidak membuang domba yang lemah.
Ia merawatnya.
Gembala yang baik tidak meninggalkan domba yang terluka.
Ia menyembuhkannya.
Gembala yang baik tidak membiarkan domba yang tersesat.
Ia mencarinya.
Ia mencari yang hilang.
Ia mengangkat yang jatuh.
Ia menyembuhkan yang terluka.
Ia menuntun yang kehilangan arah.

Syarat kelima agar kita layak disebut domba Yesus adalah:
 kita percaya dan berserah kepada-Nya.
Domba Yesus bukan berarti tidak pernah jatuh, bukan berarti tidak pernah takut, bukan berarti tidak pernah salah, bukan berarti hidupnya selalu mudah.
Mungkin kita lemah, tetapi tidak ditinggalkan.
Mungkin kita goyah, tetapi tidak dibuang.
Mungkin kita jatuh, tetapi masih dicari.
Mungkin kita terluka, tetapi masih disembuhkan.
Mungkin kita merasa tidak layak, tetapi tetap dipanggil kembali.

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Hari ini kita tidak diajak untuk menunjuk orang lain dan berkata,
“Dia domba Yesus atau bukan?”
Hari ini kita diajak untuk memeriksa diri sendiri.
Apakah saya sungguh mendengarkan suara Yesus?
Apakah saya sungguh mengikuti Dia?
Apakah saya sungguh hidup dalam kasih?
Apakah saya mau dikenal oleh Yesus apa adanya?
Apakah saya sungguh percaya bahwa di tangan-Nya saya aman?

Kita tidak perlu menjadi domba yang hebat.
Sebab domba memang tidak hebat.
Yang hebat adalah Gembalanya.
Mari kita menjadi domba Yesus yang sungguh-sungguh.
Domba yang mendengarkan suara-Nya, yang mau dituntun oleh-Nya,
dan yang hidup dalam kasih-Nya.

Di hadapan Yesus, jadilah domba yang rendah hati, lembut, dan mau dituntun.
Di hadapan dosa dan iblis, jadilah banteng yang tangguh,
jangan mau diseret ke mana-mana oleh kuasa kegelapan.
Sebab domba Yesus memang lembut di hadapan Gembalanya,
tetapi tidak boleh lemah di hadapan dosa.
Tuhan Yesus, Gembala yang baik,
jadikanlah kami domba-domba-Mu yang mendengarkan suara-Mu,
yang mengikuti jalan-Mu, dan yang tetap setia berada dalam tangan-Mu.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Louis Marie Grignon de Montfort, Pengaku Iman
Louis Grignion lahir di Montfort, Prancis, dari sebuah keluarga miskin pada tahun 1673, Di masa mudanya, ia dikenal lekas marah bila ada sesuatu yang tidak memuaskan hatinya. Namun ketika ia meningkat dewasa, ia mampu mengendalikan sifatnya itu dan berubah menjadi seorang yang penuh pengertian dan rendah hati. Perubahan ini menjadi suatu persiapan yang baik baginya untuk memasuki perjalanan hidup yang panjang sebagai seorang imam.
Pendidikannya yang berlangsung di Paris dirintangi oleh banyak kesulitan, terutama karena kekurangan uang, baik untuk biaya pendidikannya maupun untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hidupnya sungguh memprihatinkan. Biliknya sangat sempit, tanpa pemanas ruangan di musim dingin. Untuk memperoleh sedikit uang, ia berusaha bekerja, malam di sebuah rumah sakit sebagai penjaga jenazah-jenazah. Namun semua penderitaan yang menimpanya dihadapinya dengan penuh ketabahan demi mencapai cita-citanya yang luhur.
Setelah beberapa tahun berkarya sebagai imam misionaris di dalam negeri dan menjadi pembimbing rohani di sebuah rumah sakit, ia berziarah ke Roma untuk bertemu dengan Sri Paus Klemens XI (1700­1721). Di Roma ia diterima oleh Sri Paus. Melihat karya dan kepribadiannya, Sri Paus memberi gelar "Misionaris Apostolik" kepadanya. Oleh Sri Paus, ia ditugaskan untuk mentobatkan para penganut Yansenisme yang sudah merambat di seluruh Prancis. Tugas suci ini diterimanya dengan senang hati dan dilaksanakannya dengan sangat berhasil.
Di Poiters, ia meletakkan dasar bagi Kongregasi Suster-suster Putri Sapienta, sedangkan di Paris ia menyiapkan Anggaran Dasar bagi tarekat imam-imamnya. la menghayati kaul kemiskinan dengan sungguh­sungguh dengan menggantungkan seluruh hidupnya kepada kemurahan hati umatnya.
Dua kali ia lepas dari usaha pembunuhan oleh para penganut Yansenisme. Di Indonesia ia dikenal sebagai salah seorang pelindung Legio Maria. la mendirikan Tarekat Montfortan, yang anggota-anggotanya berkarya juga di Kalimamtan Barat. Tahun-tahun terakhir hidupnya dihabiskannya dengan berdiam di sebuah gua yang sunyi untuk berdoa dan berpuasa hingga menghembuskan nafasnya pada tahun 1716 dalam usia 43 tahun.


Santo Petrus Louis Chanel, Martir
Petrus Louis Chanel dikenal sebagai misionaris Prancis yang merintis pewartaan Injil di pulau Futuna, Lautan Teduh. Bersama beberapa misionaris lainnya, ia meninggalkan Prancis pada tahun 1837 menuju Futuna. Sesampai di Futuna, ia dengan giat mempelajari bahasa dan adat istiadat setempat agar bisa dengan mudah berkomunikasi dengan rakyat setempat. Usahanya ini berhasil menarik perhatian penduduk setempat.
Meskipun demikian, para pemimpin masyarakat tidak menyambut baik, bahkan menentang keras penyebaran iman kristen di antara penduduk Futuna. Musumusu, salah seorang kepala suku Futuna sangat menentang Petrus. Ia melancarkan aksi penangkapan dan penganiayaan terhadap orang-orang yang mengikuti pelajaran agama pada Petrus. Terhadap Petrus sendiri, ia merencanakan pembunuhan. Untuk maksudnya yang jahat itu, bersama beberapa orang pengawalnya, ia pergi kepada pastor Petrus untuk mengobati kakinya yang luka.
Dengan ramah Petrus menyambut mereka dan mengabulkan permohonannya. Tetapi tiba-tiba mereka menangkap Petrus dan menganiaya dia sampai mati. Lalu mereka dengan diam-diam menguburkan Petrus. Pada hemat mereka, kematian Petrus akan mengakhiri semua kegiatan pengajaran iman di Futuna. Tetapi perhitungan itu meleset karena kematian imam yang saleh itu ternyata semakin menyemangati orang-orang serani di seluruh pulau Futuna untuk tetap mempertahankan imannya. Tiga tahun setelah kematian Petrus, seluruh penduduk Futuna telah menjadi kristen, termasuk Musumusu yang telah membunuh Petrus.
Petrus Louis Chanel menjadi martir pertama dari Kongregasi Persekutuan Santa Perawan Maria dan martir pertama di Pasifik.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/