Liturgia Verbi 2026-02-01 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Biasa IV

Minggu, 1 Februari 2026

Ujud Gereja Universal: Anak-anak dengan penyakit tak tersembuhkan.
Semoga anak-anak yang menderita penyakit tak tersembuhkan beserta keluarga mereka menerima layanan medis dan dukungan yang dibutuhkan, tetap kuat dan berpengharapan.


Ujud Gereja Indonesia: Jurnalis.
Semoga para jurnalis memperoleh jaminan keamanan dalam mencari fakta dan mengungkap kebenaran suatu peristiwa.



Bacaan Pertama
Zef 2:3;3:12-13

"Di antaramu akan Kubiarkan hidup
suatu umat yang rendah hati dan lemah."

Pembacaan dari Nubuat Zafanya:

"Carilah Tuhan,
hai semua orang yang rendah hati di negeri,
hai semua yang melakukan hukum-Nya;
carilah keadilan, carilah kerendahan hati;
mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan Tuhan."

Dan Allah berfirman,
"Di antaramu akan Kubiarkan hidup
suatu umat yang rendah hati dan lemah,
yang akan mencari perlindungan pada nama Tuhan.
Mereka itulah sisa Israel.
Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong.
Dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu.
Sebaliknya mereka akan seperti kawanan domba
yang makan rumput dan berbaring tanpa ada yang mengganggunya."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 146:1.7.8-9a.9b-10,R:Mat 5:3

Refren: Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.

*Pujilah Tuhan, hai jiwaku!
Dialah yang menegakkan keadilan bagi orang yang diperas,
dan memberi roti kepada orang-orang yang lapar.
Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung,

*Tuhan membuka mata orang buta,
Tuhan menegakkan orang yang tertunduk,
Tuhan mengasihi orang-orang benar.
Tuhan menjaga orang-orang asing.

*Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali,
tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.
Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya,
Allahmu, ya Sion, turun-temurun!



Bacaan Kedua
1Kor 1:26-31

"Yang bodoh di mata dunia dipilih Allah."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
coba ingatlah bagaimana keadaanmu ketika dipanggil.
Menurut ukuran manusia
tidak banyak di antara kamu yang bijak,
tidak banyak yang berpengaruh,
tidak banyak yang terpandang.
Namun apa yang bodoh di mata dunia dipilih Allah
untuk mempermalukan orang-orang yang berhikmat,
dan apa yang lemah bagi dunia dipilih Allah
untuk mempermalukan yang kuat,
dan apa yang tidak terpandang dan hina bagi dunia,
bahkan apa yang tidak berarti,
dipilih Allah untuk meniadakan yang berarti,
supaya jangan ada seorang manusia pun
yang memegahkan diri di hadapan Allah.
Tetapi Allah telah membuat kamu berada dalam Kristus Yesus,
dan oleh Dia Kristus telah menjadi hikmat bagi kita.
Dialah yang membenarkan, menguduskan dan menebus kita.
Maka, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci,
"Barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan."

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 5:12a

Bersukacitalah dan bergembiralah,
karena besarlah ganjaranmu di Surga.



Bacaan Injil
Mat 5:1-12a

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa,
ketika melihat orang banyak,
naiklah Yesus ke atas bukit.
Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Lalu Yesus pun mulai berbicara
dan menyampaikan ajaran ini kepada mereka,
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah orang yang berdukacita,
karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut,
karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hati,
karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya,
karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah kamu,
jika demi Aku kamu dicela dan dianiaya
dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah,
sebab besarlah ganjaranmu di surga."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *The Power of Word* berikut ini:

"*Ketika Air Mata Menjadi Doa*"

Oleh Erna Kusuma
________________________________________
*Doa Pembuka*

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Tuhan yang Maharahim,
hari ini kami datang kepada-Mu
dengan hati yang rindu mendengarkan Sabda-Mu.
Di tengah banyaknya pesan dan pengajaran
yang Engkau sampaikan melalui bacaan hari ini,
bimbinglah kami untuk menangkap
apa yang ingin Engkau sampaikan secara pribadi kepada kami.
Bukalah hati dan budi kami,
agar Sabda-Mu menjadi terang,
penghiburan, dan kekuatan dalam hidup kami.
Amin.

________________________________________
*Renungan*

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Bacaan Liturgi hari ini sungguh kaya akan makna.
Dari Bacaan Pertama,
kita diajak melihat bagaimana Tuhan berkenan
kepada umat yang rendah hati dan lemah.
Dari Bacaan Kedua,
kita diingatkan bahwa Allah justru memilih
yang dianggap bodoh dan tidak terpandang oleh dunia.
Dan dalam Injil,
Yesus menyampaikan Sabda Bahagia
yang menjadi dasar hidup para pengikut-Nya.

Dari sekian banyak pesan indah dan mendalam itu,
hari ini saya memilih satu saja untuk kita renungkan bersama,
yaitu tentang "Air Mata yang menjadi Doa kita".

Dalam Bacaan Pertama dari Nubuat Zafanya,
Tuhan berfirman bahwa Ia akan membiarkan hidup
suatu umat yang rendah hati dan lemah,
umat yang mencari perlindungan pada nama Tuhan.
Mereka tidak digambarkan sebagai umat yang hebat dan kuat,
melainkan seperti kawanan domba
yang hidup tenang dalam penjagaan Tuhan.

Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua
menegaskan hal yang senada.
Allah tidak memilih yang hebat menurut ukuran dunia,
melainkan yang lemah, yang tidak berarti,
agar tidak ada seorang pun yang memegahkan diri di hadapan-Nya.
Semua yang kita miliki
adalah karena kasih karunia Tuhan.

Lalu dalam Injil hari ini,
Yesus menyampaikan Sabda Bahagia,
dan salah satu yang sangat menyentuh hati adalah:
"Berbahagialah orang yang berdukacita,
karena mereka akan dihibur." [Mat 5:4]

Yesus tidak berkata bahwa orang beriman
tidak akan pernah sedih atau menangis.
Sebaliknya,
Ia justru menjanjikan penghiburan
bagi mereka yang berdukacita.

Sebagai seorang ibu,
saya belajar bahwa air mata sering kali
tidak selalu mengalir di hadapan banyak orang.
Air mata itu hadir dalam keheningan,
dalam doa yang tak terucap,
dalam kekhawatiran akan anak-anak, keluarga,
dan masa depan yang belum pasti.

Namun air mata tidak hanya milik para ibu.
Para bapak, anak-anak,
dan siapa pun yang sedang berjuang dalam hidup
juga menyimpan air mata masing-masing.
Kadang kita tidak tahu harus berdoa apa.
Yang ada hanya diam, dan hati yang terasa penuh.

Hari ini Tuhan meneguhkan kita,
bahwa air mata itu tidak sia-sia.
Di hadapan Tuhan,
air mata dapat menjadi doa yang paling jujur.
Doa yang tidak dirangkai dengan kata-kata indah,
tetapi lahir dari hati yang tulus dan rapuh.

Justru dalam kelemahan itulah
Tuhan hadir paling dekat.
Ia mendengar tangisan kita,
Ia memahami isi hati kita,
dan Ia menjanjikan penghiburan
pada waktu-Nya yang tepat.

Refleksi hari ini mengajak kita
untuk berani datang kepada Tuhan
apa adanya.
Tidak perlu selalu kuat,
tidak perlu selalu terlihat baik-baik saja.
Tuhan tidak menolak hati yang hancur,
dan tidak menutup telinga
terhadap doa yang lahir dari air mata.

Semoga Sabda Tuhan hari ini
menolong kita untuk tetap berharap,
dan percaya bahwa
setiap air mata yang kita serahkan kepada Tuhan
selalu bermakna di hadapan-Nya.
Amin.
________________________________________

*Doa Penutup*

Marilah kita berdoa.

Tuhan yang penuh kasih,
kami bersyukur atas Sabda-Mu hari ini.
Terimalah air mata, keluh kesah, dan doa-doa kami,
baik yang terucap maupun yang tersembunyi di dalam hati.
Hiburkanlah kami dalam kelemahan,
kuatkanlah kami dalam pengharapan,
dan ajarlah kami untuk tetap setia berjalan bersama-Mu.

Semoga hidup kami menjadi kesaksian
bahwa Engkaulah sumber penghiburan sejati.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Brigida, biarawati
Brigida lahir di Umeras, Kildare, Irlandia pada tahun 453.  Ayahnya, Dubthach, adalah seorang pangeran yang masih kafir.  Sedangkan ibunya, Borcessa adalah seorang budak belian yang sudah menganut agama Kristen.  Brigida dibesarkan dan dididik menjadi seorang Kristen.  Setelah dewasa, ia bercita-cita menjadi biarawati.  Namun keinginannya ini mendapat banyak rintangan.  Pertama-tama karena pada waktu itu belum ada biara khusus untuk para wanita.  Lagi pula wanita budak belian dan anak-anaknya tidak mempunyai hak apa pun bahkan sering kali mereka tidak diperkenankan mengikuti ibadat.
Meskipun demikian, keinginannya tidak terpatahkan oleh rintangan-rintangan tersebut.  Ia berusaha mendirikan sebuah biara khusus untuk para wanita di Kildare.  Ia berhasil membujuk ayahnya untuk memberinya status sebagai wanita bebas (bukan lagi budak).  Ternyata ia menjadi seorang biarawati yang luar biasa.  Ia bersemangat tinggi dan rajin dalam karyanya, kuat ingatannya, ramah dan trampil.  Ia dapat bergaul dengan siapa saja dan siap menolong orang-orang yang datang kepadanya, bahkan menerima mereka di dalam biaranya.  Dengan demikian dia tidak lagi hidup sendirian di dalam biara.  Ia memusatkan perhatiannya pada para penderita kusta dan budak belian.
Kecuali itu, ia juga memulai usaha di bidang pendidikan.  Conleth, seorang imam, dipercayakan memimpin sekolahnya di Kildare.  Sekolah ini semenjak awal menjadi terkenal sebagai sebuah sekolah ketrampilan.  Di kemudian hari, setelah Brigida wafat pada tahun 523, sekolah ini dibagi menjadi dua, yang satu untuk pria dan yang lain untuk wanita.  Hal ini menampakkan suatu keistimewaan pada saat itu.
Penghormatan kepada Santa Brigida masih berlangsung hingga sekarang.  Di Irlandia, Brigida dikenal sebagai salah satu Orang Kudus terkenal selain Santo Patrik dan Columba.  Ia dihormati sebagai pelindung Negara Irlandia, dan tokoh teladan bagi para petani, artis dan pelajar.

Santo Severus, Uskup
Severus dikenal sebagai seorang penenun kain di Ravenna, Italia pada abad ke-4.  Ia beranak-istri dan menjabat sebagai diakon.  Sewaktu ia menghadiri pemilihan uskup baru, sekonyong-konyong seekor burung merpati hinggap di atas kepalanya.  Dan secara aklamasi umat memilihnya menjadi uskup.  Mayatnya dan mayat istrerinya, Santa Vinsensia dan anaknya, santo Inosensius dicuri pada tahun 836 dan dibawa ke Mainz, Jerman.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-01-31 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa III

Sabtu, 31 Januari 2026

PW S. Yohanes Bosko, Imam



Bacaan Pertama
2Sam 12:1-7a.10-17

"Daud mengaku telah berdosa terhadap Tuhan."

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel:

Pada waktu itu Daud melakukan yang jahat di hadapan Allah:
ia mengambil isteri Uria menjadi isterinya;
maka Tuhan mengutus Natan kepada Daud.
Natan datang kepada Daud dan berkata kepadanya,
"Ada dua orang dalam suatu kota:
yang seorang kaya, yang lain miskin.
Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;
si miskin tidak mempunyai apa-apa,
selain dari seekor anak domba betina yang kecil,
yang dibeli dan dipeliharanya.
Anak domba itu menjadi besar bersama dengan anak-anak si miskin,
makan dari suapannya, minum dari cawannya,
dan tidur di pangkuannya,
seperti seorang anak perempuan baginya.
Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu;
ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing domba atau lembunya
untuk dimasak bagi pengembara yang datang kepadanya itu.
Maka ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu,
dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."

Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu
dan ia berkata kepada Natan,
"Demi Tuhan yang hidup:
orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
Anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat,
karena orang yang melakukan hal itu tidak kenal belas kasihan."
Kemudian berkatalah Natan kepada Daud,
"Engkaulah orang itu!
Beginilah sabda Tuhan, Allah Israel:
Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu
sampai selamanya,
karena engkau telah menghina Aku
dan mengambil isteri Uria, orang Het itu,
untuk menjadi isterimu."
Beginilah sabda Tuhan:
Malapetaka yang datang dari kaum keluargamu sendiri
akan Kutimpakan ke atasmu.
Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu
dan memberikannya kepada orang lain;
dan orang itu akan tidur dengan isterimu di siang hari.
Engkau telah melakukannya secara tersembunyi,
tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel
secara terang-terangan."

Lalu berkatalah Daud kepada Natan,
"Aku sudah berdosa kepada Tuhan."
Dan Natan berkata kepada Daud,
"Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
Walaupun demikian, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati,
karena dengan perbuatan itu Engkau sangat menista Tuhan."

Kemudian pergilah Natan, pulang ke rumahnya.
Tuhan mencelakakan anak
yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud,
sehingga sakit.
Lalu Daud memohon kepada Allah bagi anak itu;
ia berpuasa dengan tekun
dan apabila ia masuk ke dalam,
semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.
Maka datanglah para tua-tua yang di rumahnya
untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi Daud tidak mau;
juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 51:12-13.14-15.16-17,R:12a

Refren: Ciptakanlah hati murni dalam diriku, ya Allah.

*Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah,
dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku.
Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu,
dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

*Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu,
dan teguhkanlah  roh yang rela dalam diriku.
Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu
kepada orang-orang durhaka,
supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

*Lepaskanlah aku dari hutang darah,
ya Allah, Allah penyelamatku,
maka lidahku akan memasyurkan keadilan-Mu!
Ya Tuhan, bukalah bibirku,
supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!



Bait Pengantar Injil
Yoh 3:16

Demikian besar kasih Allah kepada dunia,
sehingga Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal.
Setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki hidup abadi.



Bacaan Injil
Mrk 4:35-41

"Angin dan danau pun taat kepada Yesus."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada suatu hari, ketika hari sudah petang,
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Marilah kita bertolak ke seberang."
Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana
lalu bertolak,
dan membawa Yesus dalam perahu itu
di mana Ia telah duduk;
dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.
Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat
dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu,
sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan
di sebuah tilam.
Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya,
"Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"
Yesus pun bangun, menghardik angin itu
dan berkata kepada danau,
"Diam! Tenanglah!"
Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali.
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"

Mereka menjadi sangat takut
dan berkata seorang kepada yang lain,
"Siapa gerangan orang ini?
Angin dan danau pun taat kepada-Nya?"

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Hari ini kita diajak merenungkan panggilan untuk mewartakan Injil.
Mewartakan artinya menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Orientasinya bukan pada diri pewarta, melainkan pada mereka yang menerima pewartaan itu. Karena itu, seorang pewarta Injil pada dasarnya adalah orang yang terlebih dahulu menerima Sabda itu, menghayatinya, lalu menjalankannya dalam hidup sehari-hari. Sulit bagi orang lain untuk menerima pewartaan kita, bila apa yang kita sampaikan tidak tercermin dalam cara hidup kita sendiri.

Mewartakan Injil bukan soal kepandaian berbicara, bukan pula soal kemampuan berargumen. Lebih dari itu, pewartaan menuntut kerendahan hati. Sikap mendahulukan diri sendiri tidak pernah sejalan dengan panggilan sebagai pewarta. Mewartakan berarti memberi, bukan menerima, apalagi meminta. Dan kita hanya bisa memberi jika kita sendiri memiliki apa yang hendak kita bagikan. Tidak mungkin kita membagikan Injil, bila Injil itu sendiri belum sungguh hidup dalam diri kita.

Bacaan Pertama hari ini menyingkapkan hal yang sangat manusiawi. Daud dengan cepat tersentuh oleh kisah tentang orang miskin yang dirampas anak dombanya. Ia melihat ketidakadilan, ia marah, ia membela yang lemah. Semua itu tampak baik dan benar. Namun justru di situlah Nabi Natan menegurnya, "Engkaulah orang itu." Daud mampu melihat kesalahan orang lain, tetapi gagal melihat dosanya sendiri, dosa yang bahkan jauh lebih besar. Inilah cermin yang keras, tetapi jujur, tentang betapa mudahnya kita menghakimi orang lain sambil menutup mata terhadap kesalahan diri sendiri.

Hal yang serupa kita temukan dalam Injil. Ketika badai mengamuk dan perahu hampir tenggelam, para murid diliputi ketakutan. Mereka membangunkan Yesus dan berkata, "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" Dalam ketakutan itu, fokus mereka hanya pada diri sendiri. Mereka lupa siapa Yesus yang mereka ikuti, dan lupa pada panggilan yang telah mereka terima. Rasa takut membuat mereka lebih sibuk menyalahkan daripada percaya.

Sering kali kita pun seperti itu. Semut di seberang lautan terlihat, gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Kita cepat menunjuk kesalahan orang lain, tetapi lambat mengakui kekurangan diri sendiri. Jika pewartaan Injil dilakukan dengan semangat menyalahkan, dengan rasa paling benar, atau bahkan demi mengejar popularitas diri, maka Injil kehilangan daya hidupnya. Injil tidak lagi diwartakan, melainkan dimanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri.

Panggilan untuk mewartakan Injil adalah panggilan untuk bertobat terus-menerus, untuk mengarahkan diri keluar dari ego pribadi, dan sungguh peduli pada orang lain. Bukan kemampuan yang terutama dibutuhkan, melainkan ketulusan hati. Bukan kepandaian yang diutamakan, melainkan kesediaan untuk diubah oleh Sabda itu sendiri. Dari sanalah pewartaan yang sejati lahir, pewartaan yang meneguhkan, menyembuhkan, dan membawa orang semakin dekat kepada Tuhan.



Peringatan Orang Kudus
Santa Marcella, Martir
Marcella dikenal sebagai putri bangsawan Romawi yang beragama Kristen.  Ia menikah dengan seorang pangeran Roma.  Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena suaminya meninggal dunia beberapa bulan kemudian.
Pengalaman pahit ini membukakan bagi Marcella pintu masuk menuju suatu cara hidup baru yakni cara hidup religius-asketis.  Dengan cara hidup ini, Marcella bermaksud mengabdikn dirinya kepada Tuhan semata-mata dengan doa, puasa dan tapa sambil melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada para miskin dan melarat di kota Roma.  Cara hidup religius-asketis yang dijalaninya mengikuti pola yang dipraktekkan oleh para rahib di dunia Timur.
Dalam menjalani cara hidup ini, ia dibimbing oleh Santo Yerome.  Banyak wanita Roma lainnya mengikuti Marcella.  Mereka berdoa dan berpuasa serta mengenakan mode pakaian yang sama dengan yang dikenakan Marcella.  Bersama Marcella, mereka mengabdikan diri pada pelayanan orang-orang miskin dan terlantar.  Perkumpulan religius-asketis ini terus berkembang pesat.  Pengikut-pengikutnya semakin banyak.  Karena itu Marcella membangun beberapa biara di seluruh kota Roma.
Karena komunitas ini berpengaruh luas di seluruh kota, Marcella kemudian ditangkap dan dianiaya oleh orang-orang Goth (Jerman) yang pada waktu itu menguasai Roma.  Marcella meninggal sebagai seorang martir Kristus kira-kira pada akhir Agustus 410.

Santo Yohanes Bosko, Imam
Yohanes Melkior Bosko lahir pada tanggal 16 Agustus 1815 di Becchi, sebuah desa dekat kota Torino, Italia.  Ketika menanjak remaja, anak petani sederhana ini tidak diperkenankan masuk sekolah oleh orang tuanya karena diharuskan bekerja di ladang.  Dalam situasi ini ia diajar oleh seorang imam tua yang baik hati.  Jerih payah imam tua ini menyadarkan orang tua Bosko akan pentingnya nilai pendidikan.  Oleh karena itu, sepeninggal imam tua itu, ibunya menyekolahkan dia ke Castelnuovo.  Pendidikan di Castelnuovo ini diselesaikannya dalam waktu satu setengah tahun.  Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di Seminari Chieri dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1841.
Karyanya sebagai imam diabdikan seluruhnya pada pendidikan kaum muda.  Ia membuka sebuah perkumpulan untuk menampung anak-anak muda yang terlantar, buta huruf dan miskin.  Cita-citanya ialah mendidik para kawula muda itu menjadi manusia-manusia yang berguna dan mandiri.  Ia berhasil mengumpulkan 1000 orang pemuda dari keluarga-keluarga yang miskin.  Dengan penuh kesabaran, pengertian dan kasih sayang, ia mendidik mereka hingga mereka menjadi manusia yang baik dan bertanggung jawab.  Salah seorang muridnya yang terkenal ialah Dominikus Savio, yang kemudian menjadi Orang Kudus.
Keberhasilannya itu terus membakar semangatnya untuk memperluas karyanya.  Untuk itu ia mendirikan sebuah rumah yatim piatu dan asrama.  Dengan demikian para pemuda itu dapat tinggal bersama dalam satu rumah untuk belajar dan melatih diri dalam ketrampilan-ketrampilan yang berguna untuk hidupnya.  Untuk pendidikan ketrampilan, Bosko merubah dapur di rumah ibunya menjadi sebuah bengkel sepatu dan bengkel kayu.  Bengkel inilah merupakan Sekolah Teknik Katolik yang pertama.  Sekolah ini tidak hanya menghindarkan pemuda-pemuda itu dari aksi-aksi kenakalan remaja, tetapi juga menciptakan pemimpin-pemimpin di bidang industri dan teknik.  Lebih dari itu, cara pendidikan dan cara hidup Bosko sendiri berhasil membentuk kepribadian pemuda-pemuda itu menjadi orang-orang Kristen yang taan agama bahkan saleh.
Pada tahun 1859 atas restu Paus Pius IX (1846-1878), Bosko mendirikan sebuah tarekat religius untuk para imam dan bruder, yang dinamakan Kongregasi Salesian.  Kemudian pada tahun 1872, bersama Santa Maria Mazzarello, Bosko mendirikan Serikat Puteri-puteri Maria yang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan kaum puteri.
Bosko mendirikan banyak perkumpulan dan sekolah.  Ia dikenal sebagai perintis penerbitan Katolik dan rajin menulis buku-buku dan pamflet.  Ia pun mendirikan banyak gereja dan membantu meredakan pertentangan antara Takhta Suci dan para penguasa Eropa.  Dalam karyanya yang besar ini, Bosko selalu menampilkan diri sebagai seorang imam yang saleh, penuh disiplin dan rajin berdoa.  Ia menjadi seorang Bapa Pengakuan yang terpercaya di kalangan kaum remaja.
Pada saat-saat terakhir hidupnya, ia menyampaikan pesan indah ini: "Katakanlah kepada anak-anakku, 'Aku menanti mereka di surga!' ".  Ia meninggal dunia pada tahun 1888 dalam usia 72 tahun.  Pada tanggal 2 Juni 1929, Yohanes Melkior Bosko dinyatakan sebagai 'Beato' (Yang Bahagia) dan pada tanggal 1 April 1934 ia digelari 'Santo' oleh teman dekatnya Paus Pius XI (1922-1929).

Santo Aidan, Uskup dan Pengaku Iman
Aidan tinggal di sebuah biara di pulau Iona yang didirikan oleh Santo Kolumbanus.  Biara inilah yang menghasilkan banyak imam misionaris untuk Skotlandia dan Inggris Utara.  Aidan terkenal ketika pada tahun 634 ia diutus sebagai misionaris di Kerajaan Umbria Utara atas permintaan Santo Oswaldus, Raja Umbria Utara.
Sebelumnya pernah seorang imam berkarya di daerah itu, namun ia kurang berhasil.  Kepada Aidan ia mengutarakan alasan kegagalannya: "Orang Umbria belum beradab, kepala batu bahkan masih liar.  Sangat sulit kita mempertobatkan mereka".  Aidan menjawab: "Menghadapi orang-orang kafir, kita hendaknya terlebih dahulu memberi kesaksian tentang seluruh ajaran iman Kristen dengan tingkah laku dan tutur kata kita yang sesuai dengan ajaran iman itu.  Mungkin Anda terlalu tegas terhadap mereka dan menyajikan ajaran-ajaran iman dengan cara yang sulit dipahami.  Seturut nasehat para Rasul, seharusnya Anda lebih dahulu menyajikan kepada mereka ajaran-ajaran yang mudah dicerna; kemudian apabila mereka sudah dikuatkan oleh Sabda Allah, barulah ajaran-ajaran yang lebih berat untuk dipahami dan dilaksanakan disajikan kepada mereka".
Aidan kemudian diutus ke Kerajaan Umbria.  Dengan cara hidupnya dan tutur katanya yang lemah lembut, ia bersama Raja Oswaldus berhasil mengkristenkan rakyat Umbria.  Ia menjadi gembala yang disenangi karena contoh dan teladan hidupnya.  Ia pun tidak segan-segan menegur para petinggi kerajaan jika tingkah laku mereka tidak sesuai dengan tuntutan ajaran Kristen.  Oswaldus bersama seluruh rakyat sangat senang dengan Aidan.
Setelah ditahbiskan menjadi uskup, Aidan menetap di pulau Lindisfarne yang kelak disebut 'Pulau Suci', karena biara yang didirikannya di sana menghasilkan banyak imam misionaris yang saleh.  Aidan meninggal dunia pada tahun 651 dan hingga kini dihormati sebagai rasul bangsa Inggris Utara, sebagai Santo Agustinus dari Canterbury untuk Inggris Selatan.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-01-30 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa III

Jumat, 30 Januari 2026



Bacaan Pertama
2Sam 11:1-4a.5-10a.13-17

"Daud menghina Allah dengan mengambil isteri Uria menjadi isterinya."

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel:

Pada pergantian tahun, raja-raja biasanya maju berperang.
Pada waktu itu Daud menyuruh Yoab
maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel.
Mereka memusnahkan bangsa Amon dan mengepung kota Raba,
sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem.

Sekali peristiwa pada waktu petang,
ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya,
ia berjalan-jalan di atas sotoh istana,
Maka tampaklah kepadanya dari atas sotoh itu
seorang perempuan sedang mandi;
wanita itu sangat elok rupanya.
Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata,
"Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu."
Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia.
Wanita itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia.
Kemudian pulanglah wanita itu ke rumahnya.
Lalu mengandunglah wanita itu,
dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud:
"Aku mengandung."

Lalu Daud mengirim utusan kepada Yoab mengatakan
"Suruhlah Uria, orang Het itu, datang kepadaku."
Maka Yoab menyuruh Uria menghadap Daud.
Ketika Uria masuk menghadap dia,
bertanyalah Daud tentang keadaan Yoab dan tentara
dan keadaan perang.
Kemudian berkatalah Daud kepada Uria,
"Pergilah ke rumahmu dan basuhlah kakimu."
Ketika Uria keluar dari istana,
maka orang menyusul dia dengan membawa hadiah raja.
Tetapi Uria membaringkan diri di depan pintu istana
bersama hamba-hamba tuannya
dan tidak pergi ke rumahnya.
Maka diberitahukan kepada Daud, demikian:
"Uria tidak pergi ke rumahnya."
Keesokan harinya Daud memanggil Uria
untuk makan dan minum dengannya,
dan Daud membuatnya mabuk.
Pada waktu malam
keluarlah Uria untuk berbaring di tempat tidurnya,
bersama hamba-hamba tuannya.
Ia tidak pergi ke rumahnya.

Paginya Daud menulis surat kepada Yoab
dan mengirimkannya dengan perantaraan Uria.
Ditulisnya dalam surat itu, demikian:
"Tempatkanlah Uria di barisan depan
dalam pertempuran yang paling hebat,
kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya,
supaya ia terbunuh mati."

Pada waktu Yoab mengepung kota Raba,
ia menyuruh Uria pergi ke tempat
yang diketahuinya ada lawan yang gagah perkasa.
Ketika orang-orang kota itu keluar menyerang
dan berperang melawan Yoab,
gugurlah beberapa orang dari tentara, dari anak buah Daud;
juga Uria, orang Het itu, mati.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 51:3-4.5-6a.6bc-7.10-11,R:3a

Refren: Kasihanilah kami, ya Tuhan,
karena kami orang berdosa.

*Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu,
menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku.
Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,
dan tahirkanlah aku dari dosaku!

*Sebab aku sadar akan pelanggaranku,
dosaku selalu terbayang di hadapanku.
Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa,
yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.

*Maka, Engkau adil bila menghukum aku,
dan tepatlah penghukuman-Mu.
Sungguh, dalam kesalahan aku diperanakkan,
dalam dosa aku dikandung ibuku.

*Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita,
biarlah tulang yang Kauremukkan bangkit menari-nari!
Palingkanlah wajah-Mu dari dosaku,
hapuskanlah segala kesalahanku!



Bait Pengantar Injil
Mat 11:25

Terpujilah Engkau, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi,
sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.



Bacaan Injil
Mrk 4:26-34

"Kerajaan Surga seumpama orang yang menaburkan benih.
Benih itu tumbuh, namun orang itu tidak tahu."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada suatu ketika Yesus berkata,
"Beginilah hal Kerajaan Allah:
Kerajaan Allah itu seumpama orang
yang menaburkan benih di tanah,
malam hari ia tidur, siang hari ia bangun,
dan benih itu mengeluarkan tunas
dan tunas itu makin tinggi!
Bagaimana terjadinya, orang itu tidak tahu!
Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah,
mula-mula tangkai, lalu bulir,
kemudian butir-butir yang penuh isi pada bulir itu.
Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit,
sebab musim menuai sudah tiba."
Yesus berkata lagi,
"Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu?
Atau dengan perumpamaan manakah
kita hendak menggambarkannya?
Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah.
Memang biji itu yang paling kecil
daripada segala jenis benih yang ada di bumi.
Tetapi apabila ia ditaburkan,
ia tumbuh dan menjadi lebih besar
daripada segala sayuran yang lain
dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar,
sehingga burung-burung di udara
dapat bersarang dalam rimbunannya."

Dalam banyak perumpamaan semacam itu
Yesus memberitakan sabda kepada mereka
sesuai dengan pengertian mereka,
dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka.
Tetapi kepada murid-murid-Nya
Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini kita ambil dari Bacaan Pertama  [2Sam 11:1-4a.5-10a.13-17] tentang "Daud menghina Allah dengan mengambil isteri Uria menjadi isterinya."

Salah satu tantangan terberat dalam hidup beriman justru bukan penderitaan, melainkan kenyamanan.
Ketika hidup terasa aman, mapan, dan penuh nikmat dunia, di situlah iman sering kali diuji dengan cara yang paling halus.
Nikmat dunia mampu menggoda iman, karena manusia pada dasarnya sulit merasa cukup.
Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menyusul. Tidak ada kata selesai.

Daud mengalami hal itu.
Ia telah menjadi raja, disegani, dihormati, dan hampir selalu menang dalam peperangan.
Kemuliaan dan kuasa sudah berada di tangannya.
Namun ternyata semua itu belum cukup.
Alih-alih bersyukur dan menjaga hati, Daud justru membiarkan hasratnya menguasai dirinya.

Ketika melihat Batsyeba, Daud tahu betul bahwa perempuan itu adalah istri orang, istri Uria, salah satu prajuritnya sendiri.
Namun akal bulus mulai bekerja.
Hasrat yang tidak dikendalikan mendorong Daud melangkah semakin jauh, dari dosa ke dosa yang lebih besar.
Uria "diatur" sedemikian rupa agar gugur di medan perang, demi satu tujuan: agar Daud bisa memiliki perempuan yang diinginkannya.
Di titik inilah Daud bukan sekadar jatuh dalam dosa, tetapi telah menghina Allah, dengan menyalahgunakan kuasa yang dipercayakan kepadanya.

Kisah Daud menjadi cermin yang jujur bagi kita.
Justru ketika hidup terasa subur, nyaman, dan penuh berkat, godaan sering kali datang lebih agresif.
Iblis tidak selalu datang dengan penderitaan, tetapi dengan kenikmatan yang tampak wajar, masuk akal, bahkan seolah pantas kita miliki.
Hasrat akan kenikmatan duniawi menjadi celah masuk yang sangat disadari oleh kuasa jahat.

Jika kita tidak mawas diri, kita bisa perlahan melupakan panggilan Yesus untuk bertumbuh secara rohani.
Kita tidak lagi mau menyangkal diri dan memikul salib, seperti yang diajarkan Yesus  ["Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."  [Luk 9:23]].
Tanpa sadar, kita berhenti menjadi murid dan hanya tinggal sebagai pengagum.

Karena itu, kisah Daud mengingatkan kita untuk selalu berjaga, terutama saat hidup terasa baik-baik saja.
Marilah kita saling mendoakan, agar iman kita tetap teguh, hati kita tetap rendah, dan hidup kita tidak dikuasai oleh hasrat, melainkan oleh ketaatan kepada Allah.



Peringatan Orang Kudus
Santo Gerardus, Pengaku Iman
Gerardus adalah kakak santo Bernardus.  Ia mula-mula tidak mau masuk biara.  Tetapi setelah terluka dalam perang, ditawan dan secara ajaib dibebaskan, ia ikut adiknya dalam kehidupan membiara dalam pertapaan yang menganut aturan yang keras.  Ia meninggal dunia pada tahun 1138.

Santa Batildis, Pengaku Iman
Ketika masih gadis, ia dijual kepada seorang pejabat istana, tetapi kemudian ia dinikahi oleh raja.  Sepeninggal suaminya, ia memerintah sampai putranya dewasa dan menggantikannya sebagai raja.  Batildis kemudian menjadi suster biasa di Chelles, Prancis.  Ia meninggal dunia pada tahun 680.

Santa Maria Ward, Pengaku Iman
Maria Ward hidup antara tahun 1585-1645.  Puteri bangsawan Inggris ini berkali-kali terpaksa mengungsi karena ingin mengikuti Misa Kudus.  Sebab perayaan Ekaristi dilarang oleh Ratu Elisabeth.  Pada umur 20 tahun, ia melarikan diri ke Belgia untu masuk biara Klaris.  Ia mencoba dua kali, tetapi selalu gagal walaupun berusaha hidup setaat mungkin pada aturan biara.  Akhirnya ia mendirikan kumpulan wanita yang hidup bersama tanpa klausura atau pakaian biara.  Sebab, mereka mau kembali ke Inggris untuk memperkuat iman umat yang dianiaya.  Beberapa kali ia pulang, dikejar-kejar, dipenjarakan dan dihukum mati, namun dibebaskan lagi.  Ia kemudian kembali ke Belgia memimpin 'Putri-putri Inggris' dan berusaha mendapatkan pengakuan dari Sri Paus di Roma.  Di Munchen ia dipenjarakan sebagai orang bidaah, dan pada tahun 1631 'Suster-suster Jesuit'-nya dilarang oleh Paus.  Namun akhirnya direhabilitir dan perjuangannya supaya kaum wanita boleh merasul sama seperti pria diterima oleh pejabat Gereja yang masih berpikiran kolot.

Beato Sebastianus, Imam
Sebastianus berasal dari keluarga miskin.  Keluarganya sangat mengharapkan agar dia membantu menghidupi keluarganya.  Tetapi cita-citanya untuk menjadi seorang imam lebih menggugah dan menarik hatinya daripada keadaan keluarganya yang serba kekurangan itu.  Ia masuk Seminari dan mengikuti pendidikan imamat.  Banyak sekali tantangan yang ia hadapi selama masa pendidikan itu, terutama karena ia kurang pandai untuk menangkap semua mata pelajaran yang diajarkan.  Ia sendiri sungguh-sungguh insyaf akan kelemahannya.  Satu-satunya jalan keluar baginya untuk mengatasi kelemahannya dan dengan demikian bisa meraih keberhasilan ialan melipatgandakan usaha belajarnya.Perjuangannya yang gigih itu akhirnya memberikan kepadanya hasil akhir yang menyenangkan.  Ia mencapai cita-citanya menjadi imam.  Karyanya sebagai imam dimulainya di Torino.  Sebagaimana biasa, ia selalu melakukan tugasnya dengan rajin, sabar, bijaksana dan penuh cinta kepada umatnya.  Tarekatnya sungguh senang karena mendapatkan seorang anggota yang sungguh menampilkan diri sebagai tokoh teladan dalam perbuatan-perbuatan baik.  Selama 60 tahun ia mengabdikan diri kepda Tuhan, Gereja dan umatnya.Tuhan berkenan mengaruniakan kepadanya rahmat luar biasa yaitu kemampuan membuat mujizat.  Jabatan Uskup Torino yang ditawarkan kepadanya ditolaknya dengan rendah hati.  Ia lebih suka menjadi seorang imam biasa di antara umatnya.  Tentang hal ini Sebastianus berkata: "Apa artinya menjadi Abdi-abdi Tuhan? Artinya, mengutamakan kepentingan Tuhan daripada kepentingan pribadi; memajukan karya penyelamatan Allah dan kerajaanNya di antara manusia.  Semuanya itu harus dilakukan di tengah-tengah umat". Imannya yang kokoh pada Allah dan kesetiaannya pada panggilan imamatnya, membuat dirinya menjadi satu terang dan kekuatan kepada sesamanya manusia, terlebih rekan-rekan imamnya se-tarekat.  Ia meninggal dunia pada tahun 1740.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-01-29 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa III

Kamis, 29 Januari 2026



Bacaan Pertama
2Sam 7:18-19.24-29

"Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku?"

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel:

Pada waktu itu
Nabi Natan menyampaikan sabda Allah kepada Daud.
Sesudah mendengar seluruh sabda itu,
masuklah Raja Daud ke dalam,
kemudian duduk di hadapan Tuhan sambil berkata,
"Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku,
sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?
Ini pun masih kurang di mata-Mu, ya Tuhan Allah!
Sebab itu Engkau telah bersabda juga
tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh
dan telah memperlihatkan kepadaku
serentetan manusia yang akan datang!
Engkau telah mengokohkan Israel
menjadi umat-Mu untuk selama-lamanya,
dan Engkau, ya Tuhan, menjadi Allah mereka.
Dan sekarang, ya Tuhan Allah,
tetaplah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan
mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluargaku,
dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu.
Maka nama-Mu akan menjadi besar untuk selama-lamanya,
sehingga orang berkata:
Tuhan semesta alam ialah Allah atas Israel!
Maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu.
Tuhan semesta alam, Allah Israel,
Engkau telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, demikian:
Aku akan membangun keturunan bagimu.
Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri
untuk memanjatkan doa ini kepada-Mu.
Oleh sebab itu, ya Tuhan Allah,
Engkaulah Allah dan segala firman-Mu adalah kebenaran;
Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.
Kiranya Engkau sekarang
berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini,
supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.
Sebab, ya Tuhan Allah, Engkau sendirilah yang bersabda,
dan oleh karena berkat-Mu
keluarga hamba diberkati untuk selama-lamanya."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 132:1-2.3-5.11.12.13-14,R:Luk 1:32b

Refren: Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya
takhta Daud, bapa leluhur-Nya.

*Ingatlah, ya Tuhan, akan Daud
dan akan segala penderitaannya.
Ingatlah bagaimana ia telah bersumpah kepada Tuhan,
dan telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub:

*Sungguh, aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku,
dan tidak akan berbaring di ranjang petiduranku;
aku tidak akan membiarkan mataku tertidur
atau membiarkan kelopak mataku terlelap;
sampai aku mendapat tempat bagi Tuhan,
kediaman bagi Yang Mahakuat dari Yakub.

*Tuhan telah menyatakan sumpah setia kepada Daud,
Ia tidak akan memungkirinya:
"Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu;
jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku,
dan pada peraturan yang Kuajarkan kepada mereka,
maka selamanya anak-anak mereka
akan duduk di atas takhtamu."

*Sebab Tuhan telah memilih Sion,
dan mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya:
"Inilah tempat peristirahatan-Ku selama-lamanya,
di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya."



Bait Pengantar Injil
Mzm 119:105

Sabda-Mu itu pelita bagi langkahku,
dan cahaya bagi jalanku.



Bacaan Injil
Mrk 4:21-25

"Pelita dipasang untuk ditaruh di atas kaki dian.
Ukuran yang kamu pakai akan dikenakan pula padamu."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Orang memasang pelita bukan supaya ditempatkan
di bawah gantang atau di bawah tempat tidur,
melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi
yang tidak akan dinyatakan,
dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.
Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah ia mendengar!"
Lalu Ia berkata lagi,
"Camkanlah apa yang kamu dengar!
Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur
akan dikenakan pula padamu;
dan malah akan ditambah lagi!
Karena siapa yang mempunyai, akan diberi lagi,
tetapi siapa yang tidak mempunyai,
apa pun juga yang ada padanya akan diambil."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Berangkat dari Injil hari ini, Yesus memakai gambaran yang sangat sederhana namun tajam: pelita.
Pelita tidak pernah dinyalakan untuk disembunyikan.
Ia dinyalakan justru supaya cahayanya menerangi ruang di sekitarnya.
Karena itu Yesus berkata, "Orang tidak menaruh pelita di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan di atas kaki dian." [Mrk 4:21].

Pesan Yesus ini bukan sekadar soal keberanian berbicara atau tampil di depan umum.
Ini soal kesadaran akan *untuk apa* terang itu diberikan.
Injil memang mesti diwartakan, bukan agar pewartanya dikenal, dipuji, atau dianggap hebat, melainkan agar semakin banyak orang menemukan jalan keselamatan.
Terang tidak pernah bersinar hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga dan terutama untuk orang lain.

Yesus bahkan menegaskan, "Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan." [Mrk 4:22].
Artinya, iman yang hidup tidak mungkin terus-menerus disimpan rapat-rapat.
Kalau sungguh menjadi terang di dalam hati, pada waktunya terang itu akan tampak juga dalam sikap hidup, cara bicara, cara mengambil keputusan, dan cara memperlakukan sesama.
Yesus di tempat lain berkata dengan nada yang serupa, "Kamu adalah terang dunia. Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang." [Mat 5:14.16].

Namun Injil hari ini juga memberi rambu penting.
Yesus mengingatkan, "Perhatikanlah apa yang kamu dengar." [Mrk 4:24].
Artinya, sebelum menjadi pelita bagi orang lain, kita sendiri harus terus-menerus mau diterangi oleh Sabda.
Terang yang tidak lagi disuplai minyak akan redup, lalu padam.
Pewartaan tanpa kedalaman iman mudah berubah menjadi rutinitas, kewajiban, atau bahkan ambisi rohani yang melelahkan.

Di sinilah Bacaan Pertama tentang Daud menjadi cermin yang sangat indah.
Daud sudah menjadi raja, sudah mengalami kemenangan dan kejayaan, tetapi ia tidak terjebak pada rasa besar diri.
Justru dalam doanya ia berkata dengan rendah hati, "Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah kaum keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?" [2Sam 7:18].
Daud sadar, semua terang dalam hidupnya bukan hasil kehebatannya sendiri, melainkan anugerah Allah semata.

Menjadi raja bagi Daud bukan sekadar soal kuasa, tetapi soal tanggung jawab perutusan.
Ia tidak lupa asal-usulnya.
Ia bukan keturunan raja, hanyalah seorang gembala dari Betlehem, seorang "anak kampung" yang diangkat Tuhan seturut kehendak-Nya.
Kesadaran inilah yang menjaga Daud tetap rendah hati, tetap tahu diri, dan tetap bersyukur.

Hal yang sama berlaku bagi kita.
Apa pun peran yang kita terima, entah dalam keluarga, Gereja, pekerjaan, atau masyarakat, terang itu bukan milik kita.
Kuasa, kemampuan, dan kesempatan yang kita miliki berasal dari Roh Allah.
Kalau kita menyadari hal ini, kita tidak akan tinggi hati ketika dipakai Tuhan, dan tidak pula minder ketika merasa kecil.
Kita hanya akan setia menempatkan pelita itu di atas kaki dian, di tempat yang semestinya, agar cahayanya sungguh berguna.

Kerendahan hati menjadi kunci dalam mengemban tugas perutusan.
Bagaimana mungkin kita membanggakan sesuatu yang sesungguhnya bukan berasal dari diri kita sendiri?
Dan bagaimana mungkin terang Allah bisa memancar dengan jernih, jika wadahnya dipenuhi kesombongan?

Semoga Sabda hari ini menolong kita untuk berani menjadi pelita,
namun tetap rendah hati seperti Daud,
sadar bahwa terang itu adalah anugerah,
dan tugas kita hanyalah menjaganya tetap menyala,
agar semakin banyak orang menemukan jalan menuju terang sejati.



Peringatan Orang Kudus
Santo Gildas Yang Bijaksana, Pengaku Iman
Gildas terkenal di dareah Celtic selama abad ke enam.  Ia mempunyai suatu pengaruh yang besar dan tetap terhadap perkembangan kehidupan monastik di negeri Irlandia.
Finnian dari Clonard (470-552) bersama banyak pemimpin Irlandia belajar di bawah bimbingan Gildas di Inggris.  Kemudian Gildas dibawa dari Wales ke Irlandia untuk mengajar di Sekolah Armagh.  Setelah mengajar beberapa tahun, ia diangkat sebagai rektor disekolah itu.  Pada tahun 540 ia kembali lagi ke Wales dan tinggal di pulau Flatholm, Inggris.
Gildas adalah seorang yang tulus dan beriman teguh.  Ia menuduh teman-temannya sebagai orang-orang yang menyangkal kebenaran iman Kristen.  Mereka dinamainya sebagai 'Pastor tak beriman yang menjual imamatnya dan pemimpin buta bagi para orang buta menuju kehancuran'.  Karyanya "De Ercidio Brutanniae" (Kehancuran Inggris) melukiskan pula pengetahuannya akan Kitab Suci dan karya-karya klasik.
Tahun-tahun terakhir kehidupannya, ia habiskan di sebuah pulau kecil, Morbihan Bay, Inggris.  Di sana ia meninggal dunia pada tahun 570.

Beato Joseph Freinademetz, Imam
Freinademetz lahri pada tanggal 15 April 1852 di Abtei, Tyrol Selatan, sebuah daerah di lembah pegunungan Alpen.  Semenjak kecil, ia bercita-cita menjadi imam.  Kedua orang tuanya merestui cita-citanya yang luhur itu.  Maka ia masuk Seminari untuk mengikuti pendidikan imamat.  Ia berhasil meraih cita-citanya tatkala ditahbiskan imam di Brixen pada tanggal 25 Juli 1875.
Karier imamatnya dimulai dengan menjadi Pastor di paroki Santo Martinus hingga tahun 1878.  Pada waktu itu Beato Arnold Janssen mendirikan sebuah serikat religius baru, yang dinamakan Societas Verbi Divini, Serikat Sabda Allah.  Serikat yang berkedudukan di Steyl, Belanda ini mengabdikan diri pada pendidikan iman-imam misionaris.  Freinademetz yang memiliki semangat missioner bergabung bersama Arnold Janssen untuk mengembangkan serikat ini.  Dia sendiri bercita-cita menjadi seorang misionaris di Tiongkok.  Untuk itu ia mempelajari bahasa Tionghoa dan adat istiadat bangsa Cina.
Cita-citanya ini terwujud ketika ia diutus sebagai misionaris ke negeri Tiongkok bersama rekannya Pater Anzer.  Pada tanggal 20 April 1879 mereka tiba di Hongkong.  Uskup Raymondi yang memimpin Gereja di Hongkong menerima mereka.  Tak lama kemudian Freinademetz ditempatkan di Propinsi Shantung.  Di sana ia bekerja bersama bruder Antonio, seorang biarawan Fransiskan.
Kemahirannya dalam berbahasa Tionghoa sungguh membantunya dalam pergaulan dengan umat setempat.  Ia dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan umat di Shantung.  Kepribadiannya yang menarik, sifatnya yang rendah hati, rajin, sederhana dan berkemauan keras membuat dia sangat dicintai oleh umat baik yang dewasa maupun anak-anak.  Semuanya itu sungguh memudahkan dia dalam karya pewartaannya.
Ia dengan tekun mengunjungi desa-desa untuk mewartakan Injil dan melayani Sakramen, ditemani oleh seorang katekis.  Kepadanya selalu diberitahukan agar berhati-hati terhadap segala bahaya.  Tetapi ia tidak gentar sedikit pun terhadap bahaya apa saja, karena ia yakin bahwa Tuhan senantiasa menyertainya.
Ketia ia dengan gigih membela umatnya dari rongrongan kaum revolusioner, ia ditangkap dan disiksa secara kejam.  Tetapi semua penderitaan yang dialaminya tidak mengendurkan semangatnya untuk terus meneguhkan iman umatnya dan terus mewartakan Injil.  Dalam keadaan sengsara hebat itu, ia bahkan terus berkotbah untuk menyadarkan para penyiksanya akan kejahatan mereka.  Akhirnya dia dilepaskan kembali dan dibiarkan menjalankan tugasnya seperti biasa.  Setelah peristiwa itu, ia dipindahkan ke Shashien, sebuah paroki yang subur dan ramah penduduknya.  Di sana ia berhasil mempertobatkan banyak orang dengan kotbah dan pengajarannya.
Karena kepribadiannya dan keberhasilan yang diraihnya, ia diminta untuk menjadi Uskup.  Tetapi hal ini ditolaknya.  Akhirnya ia meninggal dunia pada tanggal 28 Januari 1908 karena serangan penyakit Typhus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-01-28 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa III

Rabu, 28 Januari 2026

PW S. Tomas dari Aquino, Imam dan Pujangga Gereja



Bacaan Pertama
2Sam 7:4-17

"Aku akan membangkitkan keturunanmu,
dan Aku akan mengokohkan kerajaannya."

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel:

Waktu itu Raja Daud ingin mendirikan rumah bagi Tuhan.
Maka datanglah sabda Tuhan kepada Natan, demikian:
"Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud:
Beginilah firman Tuhan:
Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku?
Tidak pernah Aku diam dalam rumah
sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini,
tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman.
Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel,
pernahkah kepada salah seorang hakim orang Israel,
yang Kuperintahkan menggembalakan umat-Ku,
Aku bersabda:
Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras?
Oleh sebab itu, katakanlah begini kepada hamba-Ku Daud:
Beginilah sabda Tuhan semesta alam:
Akulah yang mengambil engkau dari padang,
ketika menggiring kambing domba!
Engkau Kuambil untuk Kujadikan raja atas umat-Ku Israel.
Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani,
dan telah melenyapkan segala musuhmu dari hadapanmu.
Aku membuat besar namamu
seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi.
Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya,
sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri
dengan tidak lagi dikejutkan atau pun ditindas
oleh orang-orang lalim seperti dahulu,
sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel.
Aku mengaruniakan keamanan kepadamu
terhadap semua musuhmu.
Juga diberitahukan Tuhan kepadamu:
Tuhan akan memberikan keturunan kepadamu.
Apabila umurmu sudah genap
dan engkau telah mendapat perhentian
bersama dengan nenek moyangmu,
maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian,
anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.
Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku
dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya
untuk selama-lamanya.
Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi Putra-Ku.
Apabila ia melakukan kesalahan,
maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang
dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.
Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya,
seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul,
yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.
Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh
untuk selama-lamanya di hadapan-Ku,
takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."

Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini
Natan berbicara kepada Daud.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 89:4-5.27-28.29-30,R:29a

Refren: Bagi dia Aku akan memelihara kasih setia-Ku
untuk selama-lamanya.

*Engkau berkata,
"Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku,
Aku hendak bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:
Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya
dan membangun takhtamu turun-temurun."

*Dia pun akan berseru kepada-Ku, "Bapakulah Engkau,
Allahku dan gunung batu keselamatanku."
Aku pun akan mengangkat dia menjadi anak sulung,
menjadi yang tertinggi di antara raja-raja bumi.

*Untuk selama-lamanya
Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia,
dan perjanjian-Ku dengannya akan Kupegang teguh.
Aku akan menjamin kelestarian anak cucunya sepanjang masa,
dan takhtanya seumur langit.



Bait Pengantar Injil


Benih itu melambangkan sabda Allah
penaburnya ialah Kristus.
Semua orang yang menemukan Kristus akan hidup selamanya.



Bacaan Injil
Mrk 4:1-20

"Seorang penabur keluar untuk menabur."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada suatu hari Yesus mengajar di tepi danau Galilea.
Maka datanglah orang yang sangat besar jumlahnya
mengerumuni Dia,
sehingga Ia terpaksa naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh,
lalu duduk di situ,
sedangkan semua orang banyak itu ada di darat,
di tepi danau itu.
Dan Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka
dalam bentuk perumpamaan.
Dalam ajaran-Nya itu Yesus berkata kepada mereka:
"Dengarlah! Ada seorang penabur keluar untuk menabur.
Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,
lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,
yang tidak banyak tanahnya,
lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
Tetapi sesudah matahari terbit,
layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri,
lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati,
sehingga benih itu tidak berbuah.
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik,
lalu tumbuh dengan subur dan berbuah,
hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat,
ada yang enam puluh kali lipat,
ada yang seratus kali lipat."
Dan Yesus bersabda lagi,
"Siapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah ia mendengar!"
Ketika Yesus sendirian,
pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid
menanyakan arti perumpamaan itu.
Jawab-Nya, "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah,
tetapi kepada orang-orang luar
segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,
supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menangkap,
sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti,
biar mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."
Lalu Yesus berkata kepada mereka,
"Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini?
Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami
semua perumpamaan yang lain?
Penabur itu menaburkan sabda.
Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat sabda itu ditaburkan,
ialah mereka yang mendengar sabda,
lalu datanglah Iblis dan mengambil sabda
yang baru ditaburkan di dalam mereka.
Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu,
ialah orang-orang yang mendengar sabda itu
dan segera menerimanya dengan gembira,
tetapi sabda itu tidak berakar dan tahan sebentar saja.
Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan
karena sabda itu, mereka segera murtad.
Dan yang lain, yang ditaburkan di tengah semak duri,
ialah yang mendengar sabda itu,
tetapi sabda itu lalu dihimpit oleh kekuatiran dunia,
tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain
sehingga sabda itu tidak berbuah.
Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik,
ialah orang yang mendengar dan menyambut sabda itu lalu berbuah,
ada yang tiga puluh kali lipat,
ada yang enam puluh kali lipat,
dan ada yang seratus kali lipat."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambilkan dari renungan *Fresh Juice* yang dibawakan oleh Ibu Erna  kusuma berikut ini.

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Injil hari ini mengajak kita untuk berhenti sejenak
dan bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: tanah apakah aku ini?
Bukan tanah orang lain, bukan tanah di sekitar kita,
melainkan tanah hati kita sendiri, tempat sabda Tuhan ditaburkan setiap hari.
Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan sabda yang ditaburkan:

Inilah Injil Suci menurut Markus:
[Bacaan Injil]
Demikianlah sabda Tuhan.
________________________________________
*Renungan*

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Dalam Injil hari ini,
Yesus bercerita tentang seorang penabur yang keluar untuk menabur benih.
Benihnya sama, penaburnya sama, tetapi hasilnya berbeda-beda.
Yang membedakan bukan benihnya, melainkan *tanah* tempat benih itu jatuh.
Yesus mengajak kita bercermin pada diri kita masing-masing:
*Tanah apakah aku ini?*

Ada tanah di pinggir jalan.
Benih jatuh, tetapi tidak pernah benar-benar masuk ke dalam tanah.
Terkadang kita pun bisa seperti ini.
Sabda Tuhan kita dengar sekilas, tetapi langsung hilang tertelan kesibukan, kekhawatiran, atau lelahnya rutinitas harian.
Belum sempat sabda itu tinggal di hati, sudah habis oleh pikiran lain.

Ada tanah berbatu.
Benih tumbuh cepat, tetapi tidak berakar.
Ini seperti semangat rohani yang mudah berkobar, tetapi juga cepat padam ketika menghadapi masalah, konflik keluarga, atau kekecewaan.
Tentu saja kita selalu ingin sabar, ingin setia, tetapi ketika emosi datang,
akar iman terasa dangkal.

Ada tanah yang ditumbuhi semak duri.
Benih sebenarnya hidup, tetapi terhimpit oleh hal-hal duniawi.
Sabda Tuhan ada di hati, tetapi tercekik oleh banyak hal: tuntutan peran, kekhawatiran akan anak, tekanan ekonomi, luka batin, dan rasa tidak dihargai.
Iman tidak mati, tetapi sulit bertumbuh bebas.

Dan Yesus juga berbicara tentang *tanah yang baik*.
Tanah yang menerima benih, menyimpannya, merawatnya dengan sabar, hingga akhirnya berbuah.
Tanah ini tidak instan.
Tanah yang baik adalah tanah yang *diolah*, dibersihkan, disiram, dan dijaga setiap hari.

Sebagai seorang ibu, saya belajar bahwa menyiapkan tanah yang baik itu mirip dengan membesarkan anak.
Tidak ada hasil yang instan.
Butuh kesabaran, konsistensi, dan ketekunan.
Sabda Tuhan pun demikian.
Ia perlu waktu untuk bertumbuh dalam diri kita: melalui doa sederhana, melalui kesetiaan dalam hal kecil, melalui kasih yang terus diupayakan meski lelah.

Yesus berkata,
"Benih yang ditaburkan di tanah yang baik,
ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah,
ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat,
dan ada yang seratus kali lipat." [Mrk 4:20]

Tuhan tidak menuntut hasil yang sama dari setiap orang.
Ia hanya menghendaki satu hal: *hati yang mau menjadi tanah yang baik*.
Hati yang mau dibuka, dirawat, dan diserahkan kepada-Nya.

Mungkin hari ini kita merasa tanah hati kita belum sepenuhnya subur.
Tidak apa-apa.
Yang penting, kita mau *mulai* mengolahnya.
Membersihkan batu-batu ego, mencabut duri kekhawatiran,
dan memberi ruang bagi sabda Tuhan untuk tinggal.

Tanah hati kita tidak seketika menjadi subur.
Tetapi selama kita mau mengolah hati, membersihkannya,
dan menyerahkannya kepada Tuhan,
sabda itu akan tetap bertumbuh dan berbuah pada waktunya.
Amin.

Marilah kita berdoa untuk menutup renungan kita hari ini.

*Doa Penutup*:
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Allah Bapa yang Mahakasih,
kami bersyukur atas sabda-Mu yang hari ini kami dengarkan.
Engkau mengenal hati kami lebih dari siapa pun.
Engkau tahu bahwa hati kami kadang keras, kadang berbatu,
kadang dipenuhi semak duri,
namun kami rindu agar hati kami semakin menjadi tanah yang baik bagi sabda-Mu.

Tolonglah kami, agar di tengah kesibukan dan kelelahan hidup sehari-hari,
kami tetap setia mengolah hati, mendengarkan sabda-Mu,
dan membiarkannya bertumbuh
serta berbuah dalam kasih bagi keluarga dan sesama.

Kami serahkan seluruh hidup kami ke dalam tangan-Mu,
dan kami percaya Engkau akan menyempurnakan karya-Mu di dalam diri kami.
Amin.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Terimakasih.
Sampai jumpa bulan depan!



Peringatan Orang Kudus
Santo Thomas dari Aquino, Imam dan Pujangga Gereja
Thomas lahir di Aquino, dekat Monte Cassino, Italia pada tahun 1225. Keluarganya adalah sebuah keluarga bangsawan yang kaya raya. Ayahnya, Pangeran Landulph, berasal dari Aquino, sedang ibunya, Theodora, adalah putri bangsawan dari Teano. Ketika berusia 5 tahun, Thomas dikirim belajar pada para rahib Benediktin di biara Monte Cassino. Di sana Thomas memperlihatkan suatu kepandaian yang luar biasa. Ia rajin belajar dan tekun berefleksi serta tertarik pada segala sesuatu tantang Tuhan. Ketika berusia 14 tahun, Abbas Monte Cassino, yang kagum atas kecerdasan Thomas, mengirim dia belajar di Universitas Napoli.  Di universitas itu, Thomas berkembang pesat dalam pelajaran filsafat, logika, tatabahasa, retorik, musik dan matematika. Ia bahkan jauh lebih pintar dari guru-gurunya pada masa itu. Di Napoli, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan karya-karya Aristoteles yang sangat mempengaruhi pandangan-pandangannya di kemudian hari. Thomas yang tetap menjauhi semangat duniawi dan korupsi yang merajalela di Napoli, segera memutuskan untuk menjalani kehidupan membiara. Ia tertarik pada corak hidup dan karya pelayanan para biarawan Ordo Dominikan yang tinggal di sebuah biara dekat kampus universitas, tempat dia belajar. VERITAS ("Kebenaran") yang menjadi motto para biarawan Dominikan sangat menarik hati Thomas. Keluarganya berusaha menghalang-halangi dia agar tidak menjadi seorang biarawan Dominikan. Mereka lebih suka kalau Thomas menjadi seorang biarawan Benediktin di biara Monte Cassino. Untuk itu berkat pengaruh keluarganya, dia diberi kedudukan sebagai Abbas di Monte Cassino. Tetapi Thomas dengan gigih menolak hal itu. Agar bisa terhindar dari campurtangan keluarganya, ia pergi ke Paris untuk melanjutkan studi. Tetapi di tengah jalan, ia ditangkap oleh kedua kakaknya dan dipenjarakan di Rocca Secca selama dua tahun. Selama berada di penjara itu, keluarganya memakai berbagai cara untuk melemahkan ketetapan hatinya. Meskipun demikian Thomas tetap teguh pada pendirian dan panggilannya. Di dalam penjara itu, Thomas menceritakan rahasianya kepada seorang sahabatnya, bahwa ia telah mendapat rahmat istimewa. Ia telah berdoa memohon kemurnian budi dan raga pada Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan permohonannya dengan mengutus dua orang malaekat untuk meneguhkan dia dan membantunya agar tidak mengalami cobaan-cobaan yang kotor dan berat. selama berada di penjara, Thomas diijinkan membaca buku-buku rohani dan terus mengenakan jubah Ordo Dominikan. Ia menggunakan waktunya untuk mempelajari Kitab Suci, Metafisika Aristoteles dan buku-buku dari Petrus Lombardia. Ia sendiri membimbing saudarinya dalam merenungkan Kitab Suci hingga akhirnya tertarik juga  menjadi seorang biarawati. Akhirnya keluarganya menerima kenyataan bahwa Thomas tidak bisa dipengaruhi. Mereka membebaskan Thomas dan membiarkan dia meneruskan panggilannya sebagai seorang biarawan Dominikan. Untuk sementara Thomas belajar di Paris. Ia kemudian melanjutkan studinya di Cologna, Jerman di bawah bimbingan Santo Albertus Magnus, seorang imam Dominikan yang terkenal pada masa itu.  Di Cologna, Thomas ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1250. Pada tahun 1252 ia diangkat menjadi professor di Universitas Paris dan tinggal di biara Dominikan Santo Yakobus.  Ia mengajar Kitab Suci dan lain-lainnya di bawah bimbingan seorang professor kawakan. Tak seberapa lama Thomas terkenal sebagai seorang pujangga yang tak ada bandingannya pada masa itu. Ia jauh melebihi Albertus Magnus pembimbingnya di Cologna dalam pemikiran dan kebijaksanaan.  Tulisan-tulisannya menjadi harta Gereja yang tak ternilai hingga saat ini. Taraf kemurnian hatinya tidak kalah dengan ketajaman akal budinya yang mengagumkan; kerendahan hatinya tak kalah dengan kecerdasan budi dan kebijaksanaannya. Oleh karena itu, Thomas diberi gelar " Doctor Angelicus", yang berarti "Pujangga Malaekat". Pada tahun 1264 ia ditugaskan oleg Sri Paus Urbanus IV (1261-1264) untuk menyusun teks liturgi Misa dan Ofisi pada pesta Sakramen Mahakudus. lagu-lagu hymne (pujian) antara lain "Sacris Solemniis" dan "Lauda Sion" menunjukkan keahliannya dalam Sastra Latin dan Ilmu Ketuhanan. Dalam suatu penampakan, Yesus Tersalib mengatakan kepadanya : "Thomas, engkau telah menulis sangat baik tentang DiriKu. Balasan apakah yang kauinginkan daripadaKu?" Thomas menjawab : "Tidak lain hanyalah DiriMu!" Dalam perjalanannya untuk menghadiri konsili di Lyon, Prancis, Thomas meninggal dunia di Fossa Nuova pada tahun 1274.

Santo Karolus Agung, Raja dan Pengaku Iman
Karolus hidup antara tahun 742-814.  Ia dikenal sebagai seorang negarawan dan kaisar Franken yang gigih membela kepausan.  Sebagai ahli perang ia berhasil menyatukan hampir seluruh Eropa Barat dan Tengah di bawah pemerintahannya.  Karolus Agung memajukan banyak biara Benediktin dan sekolah, katedral serta mendirikan keuskupan-keuskupan.  Ia menarik para ilmuwan ke istana dan memberikan semangat kepada para seniman.  Hidup pribadinya tidak begitu mulus, namun ia dihormati sebagai 'santo' di keuskupan Aachen, Jerman.

Santo Petrus Nolaskus, Pengaku Iman
Petrus lahir tahun 1182 dari keluarga bangsawan Nolasco.  Menjelang umur 25 tahun, ia dipaksa menikahi gadis pilihan orang tuanya namun dengan tegas ia menolak paksaan itu karena ia sudah menjanjikan kemurnian dirinya dan mempercayakan segala harta miliknya kepada Tuhan.
Di masa hidupnya bangsa Moor yang beragama Islam menguasai sebagian besar negeri Spanyol.  Perdagangan budak belian yang diambil dari Afrika Utara merupakah salah satu praktek kekafiran yang paling mencolok dari bangsa ini.  Petrus menaruh keprihatinan besar pada nasib orang-orang Afrika Utara yang menjadi budak belian itu, terutama mereka yang telah menjadi Kristen.  Semangat imannya untuk membebaskan orang-orang itu dari cengkeraman orang Moor bergejolak kuat dalam batinnya.  Akhirnya didorong oleh suatu penglihatan ajaib, Petrus bersama Raymundus Penafort dan raja Yakobus dari Aragon mendirikan 'Ordo Pembebas Hamba Sahaya'.  Mereka mempersembahkan ordo ini kepada perlindungan Santa Perawan Maria.  Dengan semangat iman dan cinta kasih sejati, ia bersama rekan-rekannya berhasil membebaskan banyak orang Kristen (tercatat 890 orang) dari belenggu perbudakan dan dari penjara-pernjara Islam.  Petrus bahkan mempertobatkan pemimpin-pemimpin Moor.
Semangat kerasulannya menarik banyak orang awam untuk turut serta bersamanya membebaskan sesamanya dari belenggu perbudakan dan belenggu dosa.  Selama 25 tahun Petrus mengabdikan dirinya dalam karya pembebasan budak belian itu.  Semangatnya yang meluap-luap dalam karyanya itu akhirnya terbentur dengan keadaan kesehatannya yang terus merosot karena termakan usia dan beratnya tugas penyelamatan itu.  Setelah ia mengamalkan iman dan cinta kasih Kristiani melalui tindakan serta teladan hidupnya, Petrus Nolaskus meninggal dunia tepat pada hari raya Natal tahun 1256.

Manfredus, Pengaku Iman
Manfredus gemar membaca riwayat hidup para pertapa dan rahib sehingga sesudah ditahbiskan menjadi imam – dengan berkat uskupnya – ia menjadi pertapa di sebuah gua di pegunungan Alpen.  Ia berpuasa keras dan berdoa terus menerus, sehingga banyak orang minta didoakan olehnya.  Manfredus meninggal dunia pada tahun 1430.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-01-27 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa III

Selasa, 27 Januari 2026

PF S. Angela Merici, Perawan



Bacaan Pertama
2Sam 6:12b-15.17-19

"Daud dan segenap orang Israel mengarak tabut perjanjian
dengan sorak sorai."

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel:

Pada waktu itu Daud pergi mengangkut tabut Allah
dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.
Setiap kali para pengangkat tabut Tuhan itu maju enam langkah,
Daud mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu tambun.
Daud menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga;
ia mengenakan baju efod dari kain lenan.
Daud dan segenap orang Israel mengangkut tabut Tuhan
diiringi sorak-sorai dan bunyi sangkakala.
Tabut Tuhan itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya,
yakni di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu,
kemudian Daud mempersembahkan kurban bakaran
dan kurban keselamatan di hadapan Tuhan.
Setelah Daud selesai mempersembahkan kurban bakaran
dan kurban keselamatan,
diberkatinyalah bangsa itu demi nama Tuhan semesta alam.
Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu,
kepada seluruh khalayak ramai Israel,
baik laki-laki maupun perempuan,
masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging,
dan sepotong kue kismis.
Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu,
masing-masing ke rumahnya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 24:7.8.9.10,R:8a

Refren: Siapakah itu Raja Kemuliaan?
Tuhanlah raja kemuliaan.

*Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang,
dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi,
supaya masuklah Raja Kemuliaan!

*Siapakah itu Raja Kemuliaan?
Tuhan, yang jaya dan perkasa,
Tuhan, yang perkasa dalam peperangan!

*Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang,
dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi,
supaya masuklah Raja Kemuliaan!

*Siapakah itu Raja Kemuliaan?
Tuhan semesta alam,
Dialah Raja Kemuliaan!



Bait Pengantar Injil
Mat 11:25

Terpujilah Engkau, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi,
sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.



Bacaan Injil
Mrk 3:31-35

"Barangsiapa melaksanakan kehendak Allah, dialah saudara-Ku."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Sekali peristiwa datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus
ke tempat Ia sedang mengajar.
Mereka berdiri di luar, lalu menyuruh orang memanggil Yesus.
Waktu itu ada orang banyak duduk mengelilingi Dia;
mereka berkata kepada Yesus,
"Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar,
dan berusaha menemui Engkau."
Jawab Yesus kepada mereka,
"Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?"
Yesus memandang orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu,
lalu berkata, "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!
Barangsiapa melakukan kehendak Allah,
dialah saudara-Ku laki-laki,
dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Dari Bacaan Injil hari ini kita mengetahui bahwa ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya. Sebelumnya, mereka juga pernah datang dengan maksud mengajak Yesus pulang, karena mereka menganggap Yesus sudah tidak waras lagi. Kali ini, Bunda Maria turut datang bersama rombongan keluarga-Nya.

Nampaknya Yesus memandang perlu untuk memberikan penegasan tentang maksud dan tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini. Yesus datang bukan hanya untuk sanak-saudara-Nya menurut daging, bukan hanya untuk orang Yahudi, melainkan untuk semua manusia, bahkan untuk orang-orang berdosa. Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus melampaui batas-batas keluarga, suku, bangsa, dan latar belakang manusia.

Yesus tahu bahwa sebagian, bahkan mungkin sebagian besar, dari sanak-saudara-Nya belum sungguh percaya kepada-Nya. Karena itu mereka ingin mencegah apa yang telah dan akan diperbuat oleh Yesus. Maka Yesus menegaskan bahwa relasi dengan diri-Nya tidak diukur semata-mata dari garis keturunan biologis, melainkan dari relasi rohani yang dibangun melalui ketaatan kepada kehendak Allah. "Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Artinya, siapa saja, dari suku dan bangsa mana saja, berpeluang menjadi saudara Yesus ketika ia melakukan kehendak Allah.

Yesus sendiri tidak dapat menghindarkan diri dari kewajiban untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Sebagai manusia, Yesus mesti menyangkal diri, tidak memberi prioritas kepada kepentingan pribadi atau keluarga sedarah, bahkan ketika itu menyangkut ibu yang mengandung dan melahirkan-Nya. Ketaatan kepada kehendak Bapa menjadi pusat hidup dan pelayanan-Nya.

Apa yang umum terjadi dalam sebuah keluarga? Seringkali terjadi selisih, perbedaan pandang, perbedaan kepentingan, bahkan pertikaian. Namun seringkali pula, di antara sesama saudara lebih mudah terjadi rujuk dibandingkan dengan orang lain yang bukan saudara. Dari penegasan Yesus hari ini, kita belajar bahwa relasi persaudaraan biologis saja belum cukup untuk menyatukan keluarga yang rentan perselisihan. Diperlukan ikatan yang lebih solid di antara anggota keluarga, yakni kesamaan iman yang diwujudkan dalam ketaatan kepada kehendak Allah, bukan sekadar mengikuti kehendak masing-masing.

Jika setiap anggota keluarga berusaha melaksanakan kehendak Allah, niscaya akan terjalin persaudaraan yang sejati, persaudaraan rohani yang kokoh mempersatukan para anggota keluarga. Oleh sebab itu, marilah kita sungguh-sungguh menjadi saudara Yesus dengan terus mengupayakan untuk melaksanakan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari.



Peringatan Orang Kudus
Santa Angela Merici, Perawan
Angela Merici lahir di Desenzano del Garda, Lombardia, Italia Utara pada tanggal 21 Maret 1474.  Sepeninggal ibunya, Angela bersama kakaknya dipelihara oleh pamannya.  Ketika itu Angela berumur 10 tahun.  Bimbingan pamannya berhasil membentuk Angela dan kakaknya menjadi orang-orang yang patuh dan taat agama.
Sepeninggal kakaknya, Angela masuk Ordo Ketiga Santo Fransiskus.  Kemudian ia kembali ke Desenzano setelah pamannya meninggal dunia pada tahun 1495.  Di Desenzano ia mengalami suatu penglihatan di mana ia sedang mengajar agama kepada pemudi-pemudi.  Penglihatan ini memberi semangat baginya untuk mendirikan sebuah perkumpulan untuk para pemudi.  Untuk maksud itu, ia mengumpulkan beberapa kawannya untuk mengajar anak-anak gadis.  Pada tahun 1516, Angela pindah ke Brescia dan mendirikan sebuah sekolah.  Karya pendidikannya berkembang pesat dan disenangi banyak orang.
Banyak kaum wanita diajaknya untuk membantu dia dalam karya pendidikan itu.  Bersama wanita-wanita ini, Angela mendirikan sebuah perkumpulan di bawah perlindungan Santa Ursula.  Wanita-wanita yang menjadi anggota perkumpulannya dibiarkan tetap tinggal dengan keluarganya, agar supaya mereka tetap berhubungan dengan dunia luar.  Hal yang dituntut dari mereka ialah kesediaan melaksanakan tugas-tugas dengan penuh semangat.
Pengesahan dari Takhta Suci atas perkumpulan yang didirikan Angela tidak cepat diberi.  Sambil menanti pengesahan Sri Paus, Angela berziarah ke Tanah Suci Yerusalem.  Dalam perjalanannya itu, ia mengalami kejadian pahit ini: kedua matanya tiba-tiba menjadi buta.  Namun peristiwa ini tidak mengendurkan semangatnya untuk mengunjungi Tanah Suci.  Ia melanjutkan perjalanannya sambil meyerahkan diri sepenuhnya pada penyelenggaraan ilahi.  Imannya dibalas Tuhan dengan suatu mujizat.  Penglihatannya pulih kembali ketika kembali dari ziarah itu, tepat di tempat mana dia mengalami kebutaan.
Kira-kira pada tahun 1533, datang lagi 12 orang wanita untuk membantu Angela dalam usaha pendidikan anak-anak miskin dan buta huruf.  Mereka berpindah ke sebuah rumah dekat gereja Santa Afra di Brescia.  Di sini ia mulai membentuk sebuah Ordo baru, yang disebutnya Ordo Ursulin.
Sri Paus Paulus III (1534-1549) mengesahkan ordo ini pada tanggal 25 November 1535.  Angela sendiri diangkat menjadi pemimpin ordo hingga hari kematiannya pada tanggal 27 Januari 1540 di Brescia, dekat Desenzano.  Pada tanggal 30 April 1768, Sri Paus Klemens XIII (1758-1769) menggelari dia 'Beata' (=Yang Bahagia) dan kemudian digelari 'Santa' pada tanggal 31 Mei 1807 oleh Sri Paus Pius VII (1800-1823).



https://liturgia-verbi.blogspot.com/