Liturgia Verbi 2026-02-16 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa VI

Senin, 16 Februari 2026



Bacaan Pertama
Yak 1:1-11

"Ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan,
agar kamu menjadi sempurna dan utuh."

Pembacaan dari Surat Rasul Yakobus:

Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus,
kepada kedua belas suku di perantauan.

Saudara-saudaraku,
anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,
apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu,
bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,
supaya kamu menjadi sempurna dan utuh
dan tak kekurangan suatu apa pun.
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat,
hendaklah ia memintanya kepada Allah,
yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati
dan dengan tidak membangkit-bangkit;
maka hal itu akan diberikan kepadanya.
Hendaklah ia memintanya dalam iman,
dan sama sekali jangan bimbang,
sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut,
yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
Orang yang demikian janganlah berharap,
bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Bila seorang saudara berada dalam keadaan yang rendah
baiklah ia bermegah karena kedudukannya yang tinggi,
dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah
sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput;
Matahari terbit dengan panasnya yang terik
dan melayukan rumput itu
sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya.
Demikian jugalah halnya dengan orang kaya:
Di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 119:67.68.71.72.75.76,R:77a

Refren: Seomga rahmat-Mu sampai kepadaku, ya Tuhan,
supaya aku hidup.

*Sebelum aku tertindas, aku menyimpang,
tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.

*Engkau baik dan murah hati,
ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

*Memaang bai, bahwa aku tertindas,
supaya aku belajar memahami ketetapan-ketetapan-Mu.

*Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku,
lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak.

*Aku tahu, ya Tuhan, bahwa hukum-hukum-Mu adil,
dan memang tepat bahwa Engkau telah menyiksa aku.

*Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku,
sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.



Bait Pengantar Injil
Yoh 14:6

Aku ini jalan, kebenaran dan kehidupan. Sabda Tuhan.
Tiada orang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku.



Bacaan Injil
Mrk 8:11-13

"Mengapa angkatan ini meminta tanda?"

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi
dan bersoal jawab dengan Yesus.
Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya
suatu tanda dari surga.
Maka mengeluhlah Yesus dalam hati dan berkata,
"Mengapa angkatan ini meminta tanda?
Aku berkata kepadamu,
Sungguh,
kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda."
Lalu Yesus meninggalkan mereka.
Ia naik ke perahu dan bertolak ke seberang.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Injil hari ini sangat singkat, tetapi terasa keras dan tegas. Orang-orang Farisi datang kepada Yesus dan meminta suatu tanda dari surga. Mereka ingin melihat sesuatu yang spektakuler, sesuatu yang luar biasa, seolah-olah semua mukjizat yang sudah dilakukan Yesus belum cukup. Padahal sebelumnya Yesus telah menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, menggandakan roti, bahkan meredakan angin ribut. Mengapa sekarang Yesus justru mengeluh dalam hati dan menolak memberi tanda?

Kalau kita perhatikan, masalahnya bukan pada kurangnya tanda. Masalahnya ada pada sikap hati. Orang-orang Farisi itu tidak datang untuk mendengarkan, tidak datang untuk belajar, tidak datang untuk bertobat. Mereka datang untuk mencobai Yesus, mencari celah, mencari kesalahan. Mereka bukan mencari kebenaran, mereka mencari pembenaran bagi diri mereka sendiri. Maka sehebat apa pun tanda yang diberikan, tidak akan pernah cukup bagi orang yang memang tidak mau percaya.

Di Bacaan Pertama, Rasul Yakobus menulis, "Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan." [Yak 1:2] Menarik sekali, Farisi datang untuk mencobai Yesus, sementara Yakobus berbicara tentang pencobaan yang justru memurnikan iman. Pencobaan bisa membawa dua arah: bagi orang yang rendah hati, pencobaan membuat imannya semakin matang; bagi orang yang sombong, pencobaan justru menyingkapkan kekerasan hatinya. Yakobus juga mengingatkan bahwa orang yang mendua hati tidak akan menerima apa pun dari Tuhan. [Yak 1:7-8] Ini sangat relevan dengan Injil hari ini.

Saya kemudian bertanya pada diri sendiri, bagaimana sikap saya ketika datang kepada Tuhan dalam doa? Apakah saya datang untuk taat, atau untuk menguji? Apakah saya sungguh mencari kehendak Tuhan, atau sebenarnya ingin Tuhan mengikuti kehendak saya? Kadang-kadang tanpa sadar kita berkata, "Tuhan, beri aku tanda. Tuhan, buktikan bahwa Engkau mendengar." Padahal Tuhan sudah begitu banyak memberi tanda dalam hidup kita: kesehatan yang masih ada, keluarga yang masih bersama, kesempatan untuk memperbaiki diri, bahkan setiap hari kita masih bisa menghirup udara dan bangun dengan selamat. Masalahnya bukan pada kurangnya tanda, melainkan pada kurangnya kepekaan hati.

Yakobus juga menulis bahwa orang yang kaya jangan bermegah dalam kekayaannya, sebab semuanya akan layu seperti bunga rumput. [Yak 1:10-11] Hidup ini rapuh dan tidak ada yang benar-benar kita kuasai. Karena itu yang kita butuhkan sebenarnya bukan tanda, tetapi hikmat. Yakobus berkata, "Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah." [Yak 1:5] Bukan minta tanda, melainkan minta kebijaksanaan untuk memahami tanda yang sudah Tuhan berikan.

Yesus menolak memberi tanda kepada orang yang keras hati, tetapi Ia tidak pernah menolak orang yang sungguh mencari dengan iman. Perbedaannya ada pada sikap hati. Kalau kita datang dengan iman, walaupun kecil, Tuhan akan menumbuhkannya. Tetapi kalau kita datang dengan sikap menguji, kita bisa saja menyaksikan mukjizat tanpa pernah benar-benar percaya.

Hari ini saya belajar satu hal yang sangat sederhana: Tuhan tidak perlu membuktikan diri-Nya kepada saya. Justru saya yang perlu membuktikan iman saya melalui ketaatan. Karena tanda terbesar bukanlah mukjizat di langit, melainkan hati yang mau diubah.



Peringatan Orang Kudus
Santo Onesimus, Pelayan Filemon
Onesimus, (Yun: Onesimos) yang berarti "yang berguna", yang membawa keuntungan, yang bermanfaat", adalah seorang budak/pelayan Filemon di Kolose, Phrygia, Asia Kecil. Rupanya ia pernah melakukan suatu perbuatan curang terhadap Filemon, majikannya sehingga ia melarikan diri ke Roma karena takut. Di sana ia bertemu dengan Paulus. Pertemuan ini membawa berkat baginya. Paulus dengan sabar dan penuh pengertian mengajari dia kebenaran-kebenaran iman Kristiani, lalu membaptisnya menjadi pengikut Yesus Kristus. Perlakuan Paulus yang penuh kasih terhadapnya itu mendorong dia menjadi pelayan Paulus dan pengikut Yesus yang setia.
Filemon, majikan Onesimus, adalah orang yang terkenal di Kolose. la dipermandikan oleh Paulus di Kolose. Rumahnya di Kolose dijadikan sebagai tempat pertemuan dan pusat perkumpulan umat Kristen di bawah pimpinan Paulus. Menyaksikan peristiwa yang dialami Onesimus, Paulus segera mengirimkan sepucuk suratkepada Filemon dengan perantaraan muridnya Tichikus.
Dalam surat itu Paulus meminta kepada Filemon agar ia sudi menerima kembali Onesimus tidak lagi sebagai budak, melainkan sebagai saudara yang terkasih. Surat itu disambut Filemon dengan senang hati karena rasa hormatnya yang tinggi kepada Paulus. Hal itulah kiranya yang menggugah Onesimus untuk menjadi rasul Yesus yang setia. Cinta kasih dan kebaikan Paulus sungguh luar biasa: ia tidak hanya mendamaikan Filemon dan Onesimus secara lahiriah, melainkan juga mengajari mereka berdua tinggi dan dalamnya, luas dan lebarnya cinta kasih Yesus kepada manusia yang patut diteladani oleh semua pengikutNya. Dengan bijaksana Paulus dalam suratnya mengusahakan agar Filemon memberi kebebasan kepada Onesimus sambil berharap supaya Onesimus kembali kepada Paulus.
Menurut tradisi yang diwariskan Santo Hieronimus, Onesimus kemudian menjadi seorang pengkotbah dan penyebar iman Kristiani, lalu menjadi Uskup, mungkin di Efesus, menggantikan Santo Timoteus. Melihat keberhasilan Onesimus, maka Prokonsul di daerah itu menangkap dan menyiksanya, lalu mengirim dia kepada Tertule, Gubernur Romawi. Di sana, Onesimus dipenjarakan selama 18 hari. Setelah dibebaskan, Onesimus mengunjungi Ponzales, dan mulai mengajar dan berkotbah lagi. la berhasil memikat hati umat dan mempermandikan banyak orang. Karena keberhasilan itu, lagi-lagi Onesimus ditangkap dan dipaksa oleh Tertule untuk menyembah dewa-dewa kafir Romawi. Tetapi dengan tegas Onesimus menentang Tertule. Akibatnya, tangan dan kaki Onesimus dipotong, lalu dirajam hingga mati secara mengerikan.


Santo Porforios, Martir
Pelayan berusia 18 tahun ini ketahuan beragama Kristen ketika ia minta boleh menguburkan mayat-mayat para martir di sesarea, Palestian. Akibatnya ia disiksa dengan kejam dan dikubur hidup-hidup bersama orang-orang Kristen lain pada tahun 310.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-15 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Biasa VI 

Minggu, 15 Februari 2026



Bacaan Pertama
Sir 15:15-20

"Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik."

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Asal sungguh mau, engkau dapat menepati hukum,
dan berlaku setiapun dapat kaupilih.
Api dan air telah ditaruh Tuhan di hadapanmu,
kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu.
Hidup dan mati terletak di depan manusia,
apa yang dipilih akan diberikan kepadanya.
Sungguh besarlah kebijaksanaan Tuhan.
Dia kuat dalam kekuasaan-Nya
dan melihat segala-galanya.
Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takwa kepada-Nya.
Dan segenap pekerjaan manusia Ia kenal.
Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik,
dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 119:1-2.4-5.17-18.33-34,R:1b

Refren: Berbahagialah orang
yang hidup menurut Taurat Tuhan.

*Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela,
yang hidup menurut Taurat Tuhan.
Berbahagialah orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya,
yang mencari Dia dengan segenap hati.

*Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu,
supaya dipegang dengan sungguh-sungguh.
Kiranya hidupku mantap
untuk berpegang pada ketetapan-Mu!

*Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup,
dan aku hendak berpegang pada firman-Mu.
Singkapkanlah mataku,
supaya aku memandang keajaiban-keajaiban hukum-Mu.

*Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan,
petunjuk-petunjuk ketetapan-Mu,
aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.
Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu;
dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.



Bacaan Kedua
1Kor 2:6-10

"Sebelum dunia dijadikan,
Tuhan Allah telah menyediakan hikmat bagi kemuliaan kita."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang,
bukan hikmat yang dari dunia ini,
dan bukan hikmat yang dari penguasa-penguasa dunia ini,
yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan,
tetapi hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia,
yang sebelum dunia dijadikan
telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.
Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya,
sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya,
mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.
Tetapi seperti ada tertulis,
"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata,
dan tidak pernah didengar oleh telinga,
dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia:
Semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
Semua itu telah menyatakan Allah kepada kita
berkat Roh-Nya,
sebab Roh menyelidiki segala sesuatu,
bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:25

Aku Bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,
karena semuanya Engkau nyatakan kepada orang sederhana.



Bacaan Injil
Mat 5:17-37

"Lain yang diajarkan nenek moyang,
lain yang diajarkan Yesus."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit
Yesus mengajar murid-murid-Nya, kata-Nya,
"Janganlah kamu menyangka,
bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi.
Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya.
Karena Aku berkata kepadamu,
'Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini,
tidak satu iota atau satu titik pun
akan ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi.'

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat
sekalipun yang paling kecil,
dan mengajarkannya demikian kepada orang lain,
ia akan menduduki tempat yang paling rendah
di dalam Kerajaan Surga.
Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan
segala perintah Taurat,
ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.

Maka Aku berkata kepadamu:
Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kamu telah mendengar
apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita:
Jangan membunuh;
siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum!
Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, 'Kafir!' 
ia harus dihadapkan ke Mahkamah Agama,
dan siapa yang berkata, 'Jahil!'
harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Sebab itu,
jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah,
dan engkau teringat akan sesuatu
yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu,
dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,
lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu
selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan,
supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim,
dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya,
dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,
sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar firman, 'Jangan berzinah!'
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Barangsiapa memandang perempuan dengan menginginkannya,
dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya.
Maka, jika matamu yang kanan menyesatkan engkau,
cungkillah dan buanglah,
karena lebih baik bagimu satu anggota tubuhmu binasa,
daripada tubuhmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka.
Dan jika tangan kananmu menyesatkan engkau,
penggallah dan buanglah,
karena lebih baik bagimu jika satu anggota tubuhmu binasa,
daripada tubuhmu seutuhnya masuk neraka.
Telah difirmankan juga,
'Barangsiapa menceraikan isterinya,
ia harus memberikan surat cerai kepadanya.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
'Barangsiapa menceraikan isterinya kecuali karena zinah,
dia membuat isterinya berzinah.
Dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan,
dia pun berbuat zinah.

Kamu telah mendengar pula
yang difirmankan kepada nenek moyang kita,
'Jangan bersumpah palsu,
melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.'
Tetapi Aku berkata kepadamu,
'Janganlah sekali-kali bersumpah,
baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya,
ataupun demi Yerusalem,
karena Yerusalem adalah kota Raja Agung.
janganlah pula engkau bersumpah demi kepalamu,
karena engkau tidak berkuasa
memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya,
jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak.
Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat."

Demikianlah Sabda Tuhan.

ATAU BACAAN SINGKAT
Mat 5:20-22a.27-28.33-34a.37

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit
Yesus mengajar murid-murid-Nya, kata-Nya,
Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Kamu telah mendengar
apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita:
Jangan membunuh;
siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu:
'Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum! '

Kamu telah mendengar firman, 'Jangan berzinah!'
Tetapi Aku berkata kepadamu:
'Barangsiapa memandang perempuan dengan menginginkannya,
dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya.'
Kamu telah mendengar pula
apa yang difirmankan kepada nenek moyang kita,
'Jangan bersumpah palsu,
melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.'
Tetapi Aku berkata kepadamu,
'Janganlah sekali-kali bersumpah!
Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya,
jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak.
Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat."

Demikianlah Sabda Tuhan.




Renungan Injil
Injil hari ini membawa kita pada salah satu ajaran Yesus yang sangat radikal.
Yesus tidak lagi berhenti pada "jangan membunuh" seperti yang tertulis dalam hukum Taurat, tetapi masuk jauh lebih dalam, sampai ke akar dari pembunuhan itu sendiri, yaitu kemarahan, penghinaan, dan hati yang tidak berdamai.

"Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum."
"Barangsiapa berkata kepada saudaranya: kafir… jahil…"
Yesus tidak sedang berbicara soal ledakan emosi sesaat.

Kita semua pernah marah. Marah adalah perasaan spontan. Ia muncul begitu saja, kadang tanpa kita undang. Dalam arti tertentu, marah adalah reaksi manusiawi. Bahkan Yesus sendiri pernah menunjukkan kemarahan yang kudus ketika melihat Bait Allah diperdagangkan.

Jadi, marah seperti apa yang dimaksud Yesus?
Yang Yesus kecam bukan emosi sesaat yang muncul karena kekecewaan atau ketidakadilan, melainkan kemarahan yang dipelihara. Kemarahan yang berubah menjadi kebencian. Kemarahan yang membuat kita merendahkan martabat orang lain. Kemarahan yang membuat kita merasa lebih benar, lebih suci, lalu memandang saudara sebagai "tidak layak".

Ketika kemarahan berubah menjadi penghinaan, di situlah hati mulai membunuh.
Yesus menyebut kata-kata seperti "kafir" atau "jahil" bukan sekadar sebagai umpatan, tetapi sebagai simbol sikap hati yang meniadakan nilai seseorang. Kata-kata seperti itu memotong relasi, melukai harga diri, dan mencederai persaudaraan.

Dalam Bacaan Pertama, kita mendengar:
"Jika engkau mau, engkau dapat menuruti perintah-perintah; untuk tetap setia adalah pilihanmu."  [Sir 15:15]
Artinya jelas: kita selalu punya pilihan.

Marah mungkin tidak bisa kita cegah saat pertama kali muncul. Tetapi setelah itu, kita memilih:
mau memeliharanya atau melepaskannya?
mau membalas atau berdamai?
Di sinilah letak kedewasaan iman.
Yesus bahkan mengatakan sesuatu yang mengejutkan:
Jika engkau hendak mempersembahkan persembahan di mezbah, lalu teringat bahwa ada sesuatu dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkan persembahan itu. Pergilah berdamai dahulu.
Artinya apa?
Relasi dengan sesama tidak bisa dipisahkan dari relasi dengan Tuhan.
Kita tidak bisa datang dengan tangan terkatup rapi, tetapi hati masih penuh dendam.
Tidak pantas kita menghadap Tuhan dengan hati yang masih memelihara kemarahan.

Saya pribadi meyakini, marah boleh saja muncul sebagai reaksi spontan. Tetapi memaafkan harus segera menyusul. Jangan beri ruang terlalu lama bagi kemarahan untuk tinggal di dalam hati. Karena semakin lama ia tinggal, semakin ia mengeras, dan akhirnya menjadi kebencian.
Dan kebencian itu yang membakar.
Yesus tidak hanya melarang pembunuhan fisik, tetapi juga pembunuhan karakter, pembunuhan martabat, pembunuhan relasi.

Santo Paulus dalam 1Kor 2:9 mengatakan:
"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  [1Kor 2:9]
Allah menyediakan sesuatu yang indah bagi mereka yang mengasihi.
Bukan bagi mereka yang menyimpan dendam.
Kasih tidak mungkin tumbuh dalam hati yang penuh penghinaan.

Minggu ini, mungkin kita perlu bertanya dengan jujur:
adakah seseorang yang masih kita hindari?
adakah nama yang ketika disebut membuat hati kita mengeras?
adakah luka lama yang belum kita lepaskan?
Kalau ada, mungkin inilah saatnya kita "meninggalkan persembahan di mezbah" dan berdamai terlebih dahulu.
Karena bagi Yesus, ibadah sejati bukan hanya doa dan nyanyian, tetapi hati yang bersih dari kebencian.
Dan damai yang kita bangun dengan saudara
adalah persembahan yang paling harum di hadapan Tuhan.



Peringatan Orang Kudus
Santo Klaudius de la Colombiere
Maria Margaretha menerima pesan dari Yesus untuk membangun devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus dan menyebarkannya kepada seluruh Gereja. Tetapi dia ragu-ragu untuk melaksanakan pesan ini, karena dia sendiri ragu akan kebenaran penglihatan-penglihatan yang dialaminya. la pun merasa diri tidak layak dan tidak sanggup untuk tugas mulia itu.
Tetapi tatkala terjadi suatu penglihatan lagi padanya, Yesus memberitahukan dia bahwa Ia akan mengutus seorang imam yang saleh untuk membantu dan membimbingnya. Imam saleh itu ialah Pater Klaudius de la Colombiere SJ.
Pada tahun 1675 Pater Klaudius diangkat menjadi Rektor rumah di Paray, di mana ada biara Suster-suster Visitasi. Klaudius adalah seorang imam yang saleh hidupnya dan setia menjalankan devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus. Di Paray, dia menjalankan tugasnya sebagai bapa pengakuan bagi Suster-suster Visitasi. Di sinilah, Klaudius bertemu dengan Suster Maria Margaretha.
Kepada Pater Klaudius, Suster Margaretha menceritakan semua penglihatan yang dialaminya. Klaudius membenarkan semua penglihatan itu. Karena terdapat suatu kesamaan dalam pengalaman-pengalaman religius, maka tumbuhlah suatu persahabatan yang dalam dan suci antara Klaudius dan Maria Margaretha, sebagaimana terjadi antara Santo Fransiskus dan Santa Clara. Klaudius sendiri akhirnya mempersembahkan dirinya secara utuh kepada Hati Yesus yang Mahakudus serta berjanji turut menjalankan pesan Yesus. Di Paray, Klaudius hanya tinggal setahun. Pada tahun 1676, ia dipindahkan ke London, Inggris. Ketika itu agama Katolik dilarang menyebarkan ajarannya. Tetapi Klaudius tetap yakin bahwa Yesus menyertainya dalam karyanya. Dengan gembira ia bekerja di antara orang-orang Katolik yang dihambat itu. Ia dengan tekun meneguhkan dan menghibur mereka serta mendorong mereka untuk menjalankan devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus.
Sesudah tiga tahun berkarya di London, ia ditangkap dan hendak dihukum mati. Tetapi dengan bantuan Duta Besar Prancis, Klaudius dibebaskan dan dipulangkan ke Paray. Di sana ia meninggal dunia pada tanggal 15 Februari 1682 dalam usia 41 tahun. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1684, kotbah-kotbahnya dan sejumlah tulisannya mengenai kebaktian kepada Hati Kudus Yesus diterbitkan dan disebarkan sebanyak empat jilid. Tulisan-tulisan inilah yang menjadi sarana yang berpengaruh dalam menyebarkan devosi yang indah itu ke seluruh dunia.


Santo Sigfridus, Uskup
Sigfridus adalah seorang misionaris Inggris yang berkarya di Swedia. Ia berhasil mempertobatkan banyak orang kafir menjadi Kristen, termasuk raja Olaf dari Swedia. Karena itu dia dihormati sebagai Rasul bangsa Swedia. Karyanya menyebarkan iman Kristen meluas hingga ke Norwegia dan Denmark.
Kisah tentang dirinya tidak banyak diketahui, bahkan kabur .Diceritakan bahwa sebelum ia menjadi misionaris di Swedia, ia sudah berkarya sebagai imam di York atau Glastonbury, Inggris. Kemudian setelah ditahbiskan menjadi Uskup, ia dikirim sebagai misionaris ke Norwegia, lalu ke Swedia.  Di  Swedia, ia mendirikan sebuah gereja di kota Vaxjo. Kota Vaxjo dijadikannya sebagai kota kediamannya dan pusat keuskupannya. Dari kota ini, ia mengelilingi seluruh wilayah Swedia untuk mewartakan iman Kristen. Pada tahun 1008, ia mempermandikan raja Olaf di Husaby, tempat terjadinya banyak mujizat. Sigfridus memnggal dunia pada tahun 1045.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-14 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa V

Sabtu, 14 Februari 2026

PW S. Sirilus, Rahib, dan Metodius, Uskup



Bacaan Pertama
1Raj 12:26-32;13:33-34

"Raja Yerobeam membuat dua anak lembu emas."

Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja:

Setelah menjadi raja, berkatalah Yerobeam dalam hatinya,
"Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud.
Jika bangsa itu tetap pergi mempersembahkan korban sembelihan
di rumah Tuhan di Yerusalem,
maka pastilah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka,
yaitu Rehabeam, raja Yehuda,
kemudian mereka akan membunuh aku
dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda."

Sesudah menimbang-nimbang,
raja membuat dua anak lembu jantan dari emas.
Lalu ia berkata kepada mereka,
"Sudah cukup kamu pergi ke Yerusalem!
Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu,
yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir."
Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel
dan yang lain ditempatkannya di Dan.

Maka hal itu menyebabkan orang berdosa.
Sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu
dan ke Dan menyembah patung yang lain.
Yerobeam membuat juga kuil-kuil
di atas bukit-bukit pengurbanan,
dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat
yang bukan dari bani Lewi.
Kemudian Yerobeam menentukan suatu hari raya
pada hari yang kelima belas bulan kedelapan,
sama seperti hari raya yang di Yehuda,
dan raja sendiri naik tangga mezbah itu.
Begitulah dibuatnya di Betel:
ia mempersembahkan kurban kepada anak-anak lembu
yang telah dibuatnya itu,
dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengurbanan yang telah diangkatnya.
Raja Yerobeam tidak berbalik dari kelakuannya yang jahat itu,
tetapi mengangkat pula imam-imam dari kalangan rakyat
untuk bukit-bukit pengurbanan.
Siapa saja yang mau
ditahbiskannya menjadi imam untuk bukit-bukit pengurbanan.
Dan tindakan itu menjadi dosa bagi keluarga Yerobeam,
sehingga mereka dilenyapkan dan dipunahkan dari muka bumi.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 106:6-7a.19-20.21-22,R:4a

Refren: Ingatlah akan daku, ya Tuhan,
demi kemurahan-Mu terhadap umat.

*Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa,
kami telah bersalah, telah berbuat fasik.
Nenek moyang kami di Mesir
tidak memahami perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.

*Mereka membuat anak lembu di Horeb,
dan sujud menyembah kepada patung tuangan;
mereka menukar Yang Mulia
dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput.

*Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka,
yang telah melakukan hal-hal yang besar di tanah Mesir;
yang melakukan karya-karya ajaib di tanah Ham,
dan perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.



Bait Pengantar Injil
Mat 4:4b

Manusia hidup bukan saja dari makanan,
melainkan juga dari setiap sabda Allah.



Bacaan Injil
Mrk 8:1-10

"Mereka semua makan sampai kenyang."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Sekali peristiwa sejumlah besar orang mengikuti Yesus.
Karena mereka tidak mempunyai makanan,
Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata,
"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.
Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku
dan mereka tidak mempunyai makanan.
Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar,
mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."
Murid-murid-Nya menjawab,
"Bagaimana di tempat yang sunyi ini
orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"
Yesus bertanya kepada mereka, "Berapa roti ada padamu?"
Jawab mereka, "Tujuh."

Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah.
Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya
dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan.
Dan mereka memberikannya kepada orang banyak.
Mereka mempunyai juga beberapa ikan.
Sesudah mengucap berkat atasnya,
Yesus menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.
Dan mereka makan sampai kenyang.
Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa,
sebanyak tujuh bakul.
Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang.
Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.
Akhirnya Yesus segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya
dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Hari ini kita kembali mendengar kisah Yesus memberi makan ribuan orang. Dalam Injil Markus 8:1–10 dikisahkan ada kira-kira empat ribu orang, dan Yesus meminta tujuh roti yang ada pada para murid. Tujuh roti itu menjadi titik awal dari mukjizat yang luar biasa.

Menarik sekali bahwa sebelum mukjizat terjadi, Yesus bertanya, "Berapa roti ada padamu?"

Yesus tentu tahu ada berapa roti yang dimiliki oleh para murid. Ia bukan tidak tahu. Ia tidak kekurangan informasi. Pertanyaan itu bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena Ia hendak mengajak para murid terlibat.

Yesus ingin mereka membantu orang lain bukan dari kelebihan, bukan dari sisa yang tak terpakai, melainkan dari kekurangan mereka sendiri. Dari apa yang sebenarnya juga mereka butuhkan.

Di situlah makna inisiasi menjadi sangat dalam.

Tujuh roti itu bukan jumlah yang besar. Bahkan bisa jadi pemiliknya pun sedang lapar. Sangat mungkin muncul pikiran: "Kalau saya berikan, saya sendiri nanti makan apa?" Tetapi justru dari situ mukjizat dimulai. Dari sesuatu yang kecil. Dari sesuatu yang mungkin terasa kurang. Dari sesuatu yang diserahkan dengan risiko.

Kalau kita membaca keseluruhan Injil, kisah memberi makan orang banyak ini tidak hanya sekali terjadi.

Dalam Mrk 6:30–44 dan Mat 14:13–21 serta Luk 9:10–17 dan Yoh 6:1–14, Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan. Itu peristiwa pertama.

Kemudian dalam Mrk 8:1–10 dan Mat 15:32–39, Yesus kembali memberi makan sekitar empat ribu orang dengan tujuh roti dan beberapa ikan kecil. Itu peristiwa kedua.

Jadi menurut Injil, Yesus melakukan mukjizat serupa ini sedikitnya dua kali dalam dua peristiwa berbeda.

Dan dalam kedua peristiwa itu, selalu ada pola yang sama:
Yesus bertanya dulu apa yang ada pada mereka.
Ada roti yang diserahkan.
Ada keterlibatan manusia.
Lalu mukjizat terjadi.

Di sini kita melihat satu prinsip rohani yang sangat penting: Allah tidak bekerja tanpa melibatkan kita.

Tuhan bisa saja melakukan semuanya sendiri. Tetapi Ia memilih untuk mengajak kita terlibat. Tujuh roti itu adalah simbol inisiasi. Simbol langkah pertama. Simbol kesediaan berkata, "Tuhan, ini yang ada pada saya. Tidak banyak. Bahkan mungkin kurang. Tetapi saya serahkan."

Pertolongan Tuhan, bahkan mukjizat sekalipun, sering kali dimulai dari usaha kecil kita.

Kadang kita menunggu sampai punya "banyak" baru mau memberi. Menunggu sampai merasa "cukup" baru mau melayani. Menunggu sampai benar-benar siap baru mau bergerak. Tetapi Yesus justru bertanya: apa yang ada padamu sekarang?

Mungkin hanya tujuh roti.
Mungkin hanya lima roti dan dua ikan.
Mungkin hanya sedikit waktu.
Mungkin hanya sedikit tenaga.
Mungkin hanya doa yang sederhana.

Tetapi ketika itu kita serahkan, Tuhan menggandakannya.

Inisiasi adalah tanda bahwa kita mau terlibat dalam karya Allah. Tanpa inisiasi, kita hanya menjadi penonton mukjizat. Dengan inisiasi, kita menjadi bagian dari mukjizat itu.

Sering kali kita meremehkan hal kecil yang kita miliki. Padahal Tuhan tidak pernah memulai dari ketiadaan partisipasi manusia. Ia memulai dari hati yang rela, bahkan ketika hati itu masih merasa kurang.

Mungkin hari ini Tuhan tidak sedang meminta tujuh roti dari kita. Tetapi Ia mungkin sedang bertanya:

Apa yang ada padamu?
Apa yang bisa engkau serahkan?
Apa inisiasimu hari ini?

Jangan tunggu sampai sempurna. Jangan tunggu sampai berlimpah. Mulailah dari yang kecil. Dari yang ada. Dari yang nyata.

Karena di tangan Tuhan, inisiasi kecil dari kekurangan kita sendiri bisa menjadi mukjizat besar bagi banyak orang.Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Valentinus, Martir
Daftar para martir Roma menetapkan dua orang Santo Valentinus.  Valentinus pertama ialah seorang imam yang disiksa dan dianiaya pada tahun 269 pada masa penganiayaan umat Kristen Roma oleh kaisar Klaudius (268-270). Valentinus ini dimakamkan di Jl. Flaminia. Di jalan ini dibangunlah sebuah basilik pada tahun 350 untuk menghor- mati dia.
Valentinus kedua adalah seorang Uskup dari Terni, sebuah dusun kecil di bagian utara kota Roma. Beliau juga mengalami nasib yang sama. la disiksa dan dianiaya hingga mati pada masa penganiayaan umat Kristen Roma oleh kaisar Klaudius pada tahun 269.


Santo Maro, Abbas
Maro dikenal sebagai seorang pertapa. la mendirikan beberapa biara pertapaan di Cyrrhus (dekat Kilis, Turki), Syria. Sebagai seorang pertapa, Maro lebih banyak menggunakan waktunya untuk berdoa dan menyendiri dalam kesunyian. Meskipun demikian, ia juga dengan senang hati menerima semua orang yang datang kepadanya untuk mendapat- kan bimbingan rohani.
Bimbingannya sangat menghibur. Kepada orang-orang yang datang meminta bimbingan, Maro selalu memberi banyak keterangan tentang tata cara hidup membiara, mendorong mereka untuk menjalani hidup membiara agar lebih dekat pada Tuhan. Para rahib yang dipimpinnya mendapat peneguhan iman yang sungguh berharga.
Ketika Maro meninggal dunia, ia dikuburkan di dekat sebuah sumber air di Orontes, tak jauh dari Apamea, Syria. Sebuah gereja dan biara, yaitu biara Bait Marun, didirikan di sana untuk menghormati Maro. Kaum Maronit, orang Katolik dari Gereja Timur yang sekarang lebih banyak berdiam di Lebanon, menghormati Santo Maro sebagai Patriark mereka.


Santo Syrilus dan Metodius, Uskup dan Rahib
Kedua kakak-beradik ini lahir di Saloniki, Yunani. Mereka menjalani pendidikan di Konstantinopel dengan hasil yang gilang-gemilang. Syrilus kemudian menjadi seorang filsuf yang masyhur. Oleh Theodora, permaisuri kaisar Konstantinopel, Syrilus ditugaskan untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa yang mendiami tepi sungai Donau. Sedangkan Metodius, adiknya mengasingkan diri dari dunia ramai dan menjadi seorang rahib.
Setelah meletakkan dasar iman yang kokoh bagi umat di tepi sungai Donau, Syrilus kembali ke Konstantinopel. Untuk memperkuat iman dan semangat kerasulannya, ia pergi ke biara adiknya Metodius. Sementara betada di sana, raja Radislaus dari Moravia mengundang para misionaris ke negerinya yang belum beragama Kristen. Metodius bersama Syrilus diutus ke sana untuk mewartakan Injil.
Di sana Syrilus dan Metodius merayakan liturgi dengan menggunakan bahasa Slavia dalam suasana yang semarak dan indah. Hasil karya kerasulannya sangat gemilang sehingga nama mereka tersebar hingga ke Roma. Mendengar berita tentang Syrilus dan Metodius, Paus Nikolas I (858-867) memanggil mereka ke Vatikan. Mereka disambut dengan meriah oleh Sri Paus. Tetapi oleh beberapa orang yang iri hati terhadap keberhasilan mereka, kedua kakak beradik itu diajukan ke pengadilan Sri Paus sebagai pengkhianat karena merayakan liturgi suci dengan menggunakan bahasa Slavia.
Tetapi setelah mendengar keterangan dari keduanya perihal karya kerasulannya, Sri Paus tidak saja menyetujui tindakan dan kebijakan mereka, tetapi bahkan menahbiskan mereka menjadi Uskup. Sayang, bahwa tidak lama kemudian Syrilus meninggal dunia di Roma. Metodius adiknya kembali ke Eropa Timur untuk melanjutkan karyanya di tengah bangsa Slavia. Metodius berhasil memperkokoh iman umat di Yugoslavia, Bulgaria dan Dalmasia. la kemudian pergi ke Karintia. Di sana ia menghadapi banyak tantangan terutama dari orang-orang yang irihati terhadapnya. Orang-orang ini melaporkan dia kepada Sri Paus dengan berbagai macam tuduhan yang memojokkan. Guna membela dirinya Metodius pergi ke Roma. Kali ini pun ia mengalahkan musuh-musuhnya. Sebagai penghormatan baginya, Sri Paus mengangkat dia menjadi Uskup Agung dan ditugaskan di Bohemia dan daerah-daerah lainnya di Eropa Timur. Menurut cerita, Metodiuslah yang mendirikan Keuskupan Kiev di Rusia.
Pada tahun 885 Metodius meninggal dunia di Cekoslovakia. Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1980 mengangkat Santo Syrilus dan Metodius menjadi Santo Pelindung untuk seluruh kawasan Eropa.


Beato Yohanes dari Almodovar, Pengaku Iman
Kepribadian Yohanes - seorang bekas budak belian - sangat dikagumi oleh Santa Theresia Avila. Kepadanya Santa Theresia mengungkapkan kata-kata ramalan ini: "Yan ...belajarlah rajin-rajin. Sekali kelak engkau akan mengikuti jejakku".
Kata-kata ramalan itu diturutinya dengan patuh. Sejak itu imamat dan rajin belajar menjadi cita-cita dan program hidupnya. Yan kecil kemudian menjadi sangat pandai. la meneladani Santa Theresia Avila dalam doa dan tapa. Kepada kawan-kawannya ia berkata: "Apabila tapa dan matiraga itu menyakitkan, maka itulah tanda bahwa tapa dan matiraga itu adalah sesuatu yang menyehatkan". Akhirnya terjadilah atas dirinya apa yang diramalkan Theresia: ia menjadi pembaharu disiplin hidup para rahib dalam ordonya, Ordo Tritunggal Mahakudus.
Semasa studinya, ia mengalami banyak sekali godaan. Namun semuanya itu tidak berhasil menggagalkan cita-citanya. Setelah menyelesaikan studinya, ia menjadi seorang rahib yang terkenal dalam Ordo Tritunggal Mahakudus. Kepandaiannya dan ilmunya yang tinggi tidak menjerumuskan dia ke dalam keangkuhan melainkan sebaliknya membuat dia semakin rendah hati. la terkenal sebagai pencinta orang-orang miskin dan sederhana. Cintanya kepada orang-orang itu terbukti ketika wabah pes merajalela pada tahun 1590. Tanpa mempedulikan segala kemungkinan bahaya atas dirinya, ia merawat orang-orang yang tertimpa penyakit yang berbahaya itu. Kesehatan badannya yang kurang baik tidak dihiraukannya. Selain itu sambil tetap menjalankan kerasulannya di Andalusia, ia berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan tata tertib hidup di dalam tarekatnya. Banyak kepahitan yang harus ditelannya karena usaha pembaharuannya ini, ia difitnah oleh rekan-rekannya setarekat dan dilaporkan kepada Sri Paus. Namun ia tidak mundur dari usahanya yang luhur itu. Santo Fransiskus dari Sales, Santo Kamilus serta beberapa orang suci lainnya mendampingi dia dengan hiburan dan dukungan moril.
Akhirnya Yohanes yang rendah hati dan sabar itu keluar sebagai pemenang yang jaya. Hati rekan-rekannya yang keras membatu lambat- laun dapat dilembutkannya. Usaha pembaharuannya diterima oleh semua rekannya. Sepotong doanya yang terkenal dan selalu didengungkannya ialah: "Ya Tuhan, bila aku masih Kau butuhkan untuk melaksanakan pekerjaan-Mu yang agung itu, aku tak menolaknya. Jadilah padaku menurut kehendakMu ". Yohanes Almodovar meninggal dunia pada tahun 1613.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-13 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa V

Jumat, 13 Februari 2026



Bacaan Pertama
1Raj 11:29-32;12:19

"Israel memberontak terhadap keluarga Daud."

Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja:

Pada waktu itu
Yerobeam, seorang pegawai Raja Salomo, keluar dari Yerusalem.
Di tengah jalan ia bertemu Nabi Ahia, orang Silo,
yang berselubung kain baru.
Hanya mereka berdua yang ada di padang.
Ahia memegang kain baru yang di badannya,
lalu dikoyakkannya menjadi dua belas koyakan;
Ia berkata kepada Yerobeam, "Ambillah bagimu sepuluh koyakan,
sebab beginilah sabda Tuhan, Allah Israel:
Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu
dari tangan Salomo
dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku.
Tetapi satu suku akan tetap padanya
oleh karena hamba-Ku Daud
dan oleh karena Yerusalem,
kota yang Kupilih dari segala suku Israel.
Demikianlah orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 81:10-11ab.12-13.14-15,

Refren: Akulah Tuhan Allahmu, dengarkanlah Aku.

*Janganlah ada di antaramu allah lain,
dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing.
Akulah Tuhan, Allahmu,
yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.

*Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku,
dan Israel tidak suka kepada-Ku.
Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya;
biarlah mereka berjalan mengikuti angan-angannya sendiri!

*Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku;
sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan,
seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan,
dan para lawan mereka Kupukul dengan tangan-Ku.



Bait Pengantar Injil
Kis 16:14b

Ya Allah, bukakanlah hati kami,
agar kami memperhatikan sabda Anak-Mu.



Bacaan Injil
Mrk 7:31-37

"Yang tuli dijadikan-Nya mendengar,
yang bisu dijadikan-Nya bicara."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Tirus,
dan lewat Sidon pergi ke Danau Galilea,
di tengah-tengah daerah Dekapolis.
Di situ orang membawa kepada-Nya seorang tuli dan gagap
dan memohon supaya Yesus meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
Maka Yesus memisahkan dia dari orang banyak,
sehingga mereka sendirian.
Kemudian Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu,
lalu meludah dan meraba lidah orang itu.
Kemudian sambil menengadah ke langit
Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya,
"Effata!", artinya: Terbukalah!
Maka terbukalah telinga orang itu
dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya,
lalu ia berkata-kata dengan baik.
Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ
supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga.
Tetapi makin dilarang-Nya mereka,
makin luas mereka memberitakannya.
Mereka takjub dan tercengang dan berkata,
"Ia menjadikan segala-galanya baik!
Yang tuli dijadikan-Nya mendengar,
yang bisu dijadikan-Nya berbicara."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambilkan dari renungan *TPoW (The Power of Word)* berikut ini:

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Dalam Injil hari ini kita mendengar kisah yang sangat menyentuh.
Bukan si tuli dan gagap itu yang datang sendiri kepada Yesus,
tetapi orang-oranglah yang membawa dia.
Mereka tidak berkata banyak.
Mereka hanya memohon agar Yesus menjamah dia.
Dan Yesus pun menyentuh telinganya,
menjamah lidahnya,
lalu berkata,
"Efata!" — terbukalah.
Dan terbukalah pendengarannya,
terlepaslah ikatan lidahnya,
dan ia pun dapat berkata-kata dengan baik.

Kalau kita perhatikan, mukjizat itu terjadi karena ada iman,
bukan hanya iman si sakit,
tetapi iman orang-orang yang mengantarnya.
Pada Injil Markus 2 Ayat 5 juga ditulis,
Seorang lumpuh diturunkan dari atap rumah,
"Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."
Ini bukan soal iman si lumpuh saja,
tetapi iman mereka — para sahabatnya.

Begitu pula yang ditulis pada Injil Matius 8 ayat 10.
Seorang perwira datang memohon kesembuhan hambanya,
dan Yesus berkata,
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel."
Anak buahnya sembuh, karena iman tuannya.

Begitu pula ketika Yairus memohon kesembuhan untuk anak perempuannya,
dan Yesus berkata, "Jangan takut, percaya saja!" [Mrk 5:36]
Anaknya dibangkitkan, karena iman ayahnya.

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
iman kita tidak pernah bersifat pribadi semata.
Iman kita bisa menjadi jembatan bagi orang lain.
Iman kita bisa menjadi pintu pertolongan bagi keluarga kita.
Iman kita bisa menjadi saluran rahmat bagi orang-orang yang kita kasihi.

Saya sering merenungkan ini dalam hidup saya sendiri.
Dulu, mendengarkan atau membaca Injil setiap hari rasanya seperti kewajiban.
Seperti tugas rohani.
Seperti checklist.
Sudah baca? Sudah.
Sudah doa? Sudah.

Tetapi lama-kelamaan saya menyadari sesuatu.
Ketika saya tidak mendengarkan sabda Tuhan,
ada yang terasa kurang.
Terasa seperti belum makan, atau belum minum, atau seperti belum mandi, atau seperti belum cukup tidur.
Awalnya terasa seperti kewajiban, tetapi sekarang terasa sebagai kebutuhan.
Dan saya merasakan sendiri,
ketika sabda Tuhan saya dengarkan setiap hari,
iman itu tidak melonjak drastis, tetapi menebal perlahan.
Seperti otot yang dilatih rutin.
Seperti akar yang makin menghujam ke dalam.
Dan ketika iman itu menebal,
tanpa saya sadari,
saya menjadi lebih tenang menghadapi persoalan.
Lebih sabar menghadapi orang.
Lebih bijak mengambil keputusan.
Lebih kuat ketika badai datang.
Saya tidak mengalami mukjizat besar.
Tetapi pasti, iman saya yang kecil dan berusaha setia itu,
menjadi jalan pertolongan bagi istri dan anak-anak saya, bagi keluarga saya, dan bagi orang-orang yang Tuhan percayakan kepada saya.

Iman yang kokoh itu menguatkan.
Iman yang kokoh itu membawa orang kepada Yesus,
seperti orang-orang yang membawa si tuli dan gagap itu.
Pertanyaannya sederhana:
apakah iman kita sudah cukup kokoh
untuk mengantar orang lain kepada Tuhan?
Ataukah kita sendiri masih perlu diantar?

Mari kita mulai dari hal yang sederhana, tetapi konsisten:
mendengarkan sabda Tuhan setiap hari.
Bukan sekadar mendengar, tetapi mendengarkan dengan seksama.
Membiarkan sabda itu berbicara.
Membiarkan sabda itu membentuk hati.
Karena dari iman itulah timbul pendengaran, oleh firman Kristus. [Rm 10:17]

Semoga iman kita, yang kita pupuk setiap hari,
dapat menjadi jembatan keselamatan bagi orang-orang yang kita kasihi.
Amin



Peringatan Orang Kudus
Santo Yulianus dari Antiokhia, Martir
Yulianus Antiokia adalah seorang warga kota Anazarbos, Silesia, Asia Kecil. Karena imannya, ia ditangkap oleh para musuh agama Kristen. Menurut cerita, Yulianus menderita berbagai macam siksaan badan. Meskipun demikian para musuhnya tidak berhasil memperoleh apa yang diharapkan dari Yulianus, yaitu penyangkalan imannya. Menyaksikan keteguhan hati Yulianus, gubernur kota itu akhirnya memutuskan untuk memperberat siksaan atas diri Yulianus.
Selama setahun Yulianus dibelenggu dan dipaksa berjalan mengikuti rombongan tentara mengelilingi kota dan desa. Sepanjang perjalanan, ia dihina dan diolok-olok oleh semua penduduk kota dan desa. Dengan cara penyiksaan seperti ini, mereka berharap agar Yulianus menyangkal Kristus yang diimaninya. Namun semua cara itu tidak memberi hasil apa-apa. Keteguhan hati dan iman Yulianus tak pernah goyah sedikit pun oleh semua bentuk siksaan itu.
Sebaliknya keteguhan dan ketabahannya menghibur semua umat Kristen di kota itu. Semangat iman yang ditunjukkannya menjadi suatu kesaksian iman yang kongkret, yang menjelaskan dengan lebih terang keikutsertaan orang-orang Kristen dalam misteri penderitaan Yesus. Sebagaimana Santo Paulus, Yulianus pun dengan penderitaannya mengatakan: " ...memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang- orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari manusia". (1 Kor 1:23-24). Gubernur yang menyadari ketidakberhasilan semua usahanya untuk menaklukkan Yulianus, akhirnya memutuskan untuk melenyapkan nyawa Yulianus. Yulianus dimasukkan ke dalam sebuah karung bersama ular-ular berbisa dan kala jengking, lalu ditenggelamkan ke dasar laut.
Dalam mata manusia kematian Yulianus merupakan akhir hidup yang mengerikan, tetapi bagi kaum beriman dan bagi Allah, kematian Yulianus merupakan benih iman yang ditanam dan akan menghasilkan banyak buah. Lebih dari itu, Yulianus yang telah menjadi saksi hidup penderitaan Yesus tentu akan memperoleh mahkota kemenangan di dalam surga, dan kematiannya menjadi suatu penghiburan bagi umat Kristen. la digelari julukan Santo Yulianus dari Antiokia, karena jenazahnya dimakamkan di kota tersebut. Santo Yohanes Krisostomus yang hidup pada abad keempat menulis: "Umat Kristen Antiokia mempunyai kubur seorang martir Kristus yang menjadi sumber rahmat dan karunia-karunia Allah".
Santa Kristina dari Spoleto, Janda
Kristina dari Spoleto, Italia ini hidup antara tahun 1435-1456. Beliau adalah janda muda yang bertobat dan bermatiraga keras untuk menebus dosa-dosanya karena kemewahan duniawi yang telah dinik matinya.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-12 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa V

Kamis, 12 Februari 2026



Bacaan Pertama
1Raj 11:4-13

"Salomo tidak berpegang pada perjanjian Tuhan
maka kerajaannya dikoyakkan."

Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja:

Ketika Raja Salomo menjadi tua,
isteri-isterinya mencondongkan hatinya kepada dewa-dewa,
sehingga ia tidak dengan sepenuh hati
berpaut kepada Tuhan, Allahnya,
seperti Daud, ayahnya.
Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon,
dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon.
Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan,
dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan,
seperti Daud, ayahnya.
Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengurbanan bagi Kamos,
dewa kejijikan sembahan orang Moab,
di gunung di sebelah timur Yerusalem
dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon.
Demikianlah dilakukannya bagi semua isterinya,
orang-orang asing itu,
yang mempersembahkan kurban ukupan dan kurban sembelihan kepada dewa-dewa mereka.

Maka Tuhan menunjukkan murka-Nya kepada Salomo,
sebab hatinya telah menyimpang dari pada Tuhan, Allah Israel,
yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya,
dan yang telah memerintahkan kepadanya
supaya jangan mengikuti dewa-dewa lain.
Akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan Tuhan.

Lalu besabdalah Tuhan kepada Salomo,
"Oleh karena engkau tidak berpegang pada perjanjian
dan segala ketetapan yang telah Kuperintahkan kepadamu,
maka Aku akan mengoyakkan kerajaanmu
dan akan memberikannya kepada hambamu.
Hanya saja, demi Daud ayahmu,
Aku belum mau melakukannya selama engkau masih hidup.
Dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya.
Namun demikian,
tidak seluruh kerajaan akan Kurenggut daripadanya.
Satu suku akan Kuberikan kepada anakmu
demi hamba-Ku Daud dan demi Yerusalem yang telah Kupilih."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 106:3-4.35-36.37.40,R:4a

Refren: Ingatlah aku, ya Tuhan,
demi kemurahan terhadap umat.

*Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum,
yang melakukan keadilan di setiap saat!
Ingatlah akan aku, ya Tuhan,
demi kemurahan terhadap umat,
perhatikanlah aku,
demi keselamatan yang datang dari pada-Mu.

*Mereka malah bercampur baur dengan bangsa-bangsa itu,
dan meniru kebiasaan mereka.
Mereka beribadah kepada berhala-berhala para bangsa,
yang menjadi perangkap bagi mereka.

*Mereka mengurbankan anak-anak lelaki mereka,
dan anak-anak perempuan mereka kurbankan
kepada roh-roh jahat.
Maka berkobarlah murka Tuhan terhadap umat-Nya,
dan Ia jijik kepada milik pusaka-Nya.



Bait Pengantar Injil
Yak 1:21

Terimalah dengan lemah lembut
sabda Allah yang tertanam dalam hatimu,
sebab sabda itu berkuasa menyelamatkan kamu.



Bacaan Injil
Mrk 7:24-30

"Anjing-anjing pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Galilea
dan berangkat ke daerah Tirus.
Ia masuk ke sebuah rumah
dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya.
Tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.
Malah di situ ada seorang ibu,
yang anak perempuannya kerasukan roh jahat.
Begitu mendengar tentang Yesus,
Ibu itu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.
Ibu itu seorang Yunani berkebangsaan Siro-Fenisia.
Ia mohon kepada Yesus supaya mengusir setan itu dari anaknya.

Yesus berkata kepadanya,
"Biarlah anak-anak kenyang dahulu!
Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak
dan melemparkannya kepada anjing."

Tetapi ibu itu menjawab, "Benar, Tuhan!
Tetapi anjing di bawah meja pun
makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."
Lalu Yesus berkata kepada ibu itu,
"Karena kata-katamu itu, pulanglah,
sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."
Ibu itu pulang ke rumah
dan mendapati anaknya terbaring di tempat tidur,
sedang setan itu sudah keluar.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Sekilas, Injil hari ini terasa mengusik perasaan kita.
Yesus tampak berbicara sangat keras kepada seorang ibu keturunan Yunani, bahkan seolah menyamakan dia dengan anjing.
Kalau kita membaca sepintas, wajar kalau muncul pertanyaan, bahkan kegelisahan: apakah Yesus menghina perempuan ini?
Namun Injil hampir selalu mengundang kita untuk tidak berhenti pada bunyi kata, melainkan masuk ke dalam makna.

Pertama-tama, kita perlu melihat konteksnya.
Yesus sedang berada di wilayah non-Yahudi.
Ibu ini bukan bagian dari umat pilihan menurut pemahaman zaman itu.
Ia datang membawa luka yang sangat pribadi: anaknya kerasukan roh jahat.
Ia datang bukan untuk berdebat teologi, melainkan untuk memohon keselamatan bagi anaknya.

Jawaban Yesus terdengar keras, tetapi sesungguhnya itu adalah cara Yesus membuka ruang dialog iman.
Yesus tidak mengusirnya.
Yesus tidak mengabaikannya.
Yesus justru menguji kedalaman imannya.

Yang luar biasa adalah respons ibu ini.
Ia tidak tersinggung.
Ia tidak pergi dengan marah.
Ia tidak menuntut klarifikasi.
Ia menangkap makna di balik kata-kata Yesus, lalu menjawab dengan kerendahan hati dan kecerdasan iman.
"Anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."

Di sini kita melihat iman yang dewasa.
Iman yang tidak sensitif.
Iman yang tidak sibuk membela harga diri, tetapi fokus pada belas kasih Tuhan.
Iman yang tidak merasa paling layak, tetapi percaya bahwa kasih Allah selalu punya celah bagi siapa pun yang datang dengan rendah hati.

Dan Yesus melihat itu.
Yesus tidak sedang "kalah argumen".
Yesus sedang menyingkapkan iman yang sejati, iman yang melampaui batas etnis, status, dan label agama.
Karena iman seperti inilah yang membuka pintu mukjizat.

Sering kali dalam hidup, kita juga mengalami doa yang terasa "ditolak".
Jawaban Tuhan terasa keras.
Keheningan Tuhan terasa menyakitkan.
Kita merasa seperti tidak diperhatikan.

Injil hari ini mengajak kita bertanya: apakah kita berhenti karena tersinggung, atau kita bertahan karena percaya?

Iman sejati bukan iman yang selalu diberi jawaban manis.
Iman sejati adalah iman yang tetap percaya bahkan ketika kata-kata Tuhan terasa berat, karena kita yakin bahwa di balik semuanya, Tuhan tetap adalah Allah yang penuh belas kasih.

Dan seperti ibu itu, ketika iman bertemu dengan kerendahan hati, Tuhan selalu membuka jalan keselamatan.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Gaudensius, Uskup dan Pengaku Iman
Gaudensius lahir di kota Brescia, Italia pada pertengahan abad ke empat. Keluarganya termasuk keluarga Kristen yang saleh. Semenjak kecil, Gaudensius memperoleh pendidikan iman yang baik secara teratur dari Philaster, seorang Uskup yang kemudian menjadi Orang Kudus. Ketika menanjak dewasa, Gaudensius menjadi seorang pemuda yang bijaksana, saleh dan cakap, sehingga orang-orang sekotanya sangat mencintai dan menghormati dia. Ketertarikannya pada hal-hal rohani sangat tinggi.
Untuk perkembangan hidup rohaninya, Gaudensius meninggalkan daerah asalnya dan berangkat ke Tanah Suci untuk berziarah ke tempat- tempat suci di mana Yesus hidup. Maksudnya ialah membebaskan diri dari semua pujian orang sekotanya. Tetapi maksudnya ini tidak seluruhnya tercapai. Karena para imam dan seluruh umat Brescia dengan suara bulat memilih dia untuk menjadi Uskup Brescia menggantikan Uskup Philaster yang telah meninggal. Semua Uskup yang lain di bawah pimpinan Uskup Agung Ambrosius berkumpul untuk mensahkan pilihan itu. Mereka mengirim surat kepada Gaudensius yang sedang berada di Kapadokia, Asia Kecil, agar segera pulang untuk memangku jabatan sebagai Uskup Brescia. Mendengar berita itu, Gaudensius tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa hormatnya yang besar kepada Uskup Agung Ambrosius. Ia lalu pulang ke tanah airnya dan ditahbiskan menjadi Uskup Brescia pada tahun 397.
Sebagai gembala umat, Gaudensius memusatkan perhatiannya pada hal pengajaran agama dan pendidikan iman bagi umatnya. Kotbah-kotbahnya mengandung pengajaran iman yang jelas dan kongkret sehingga menarik simpatik umat padanya. la tidak segan-segan mencela semua orang Kristen yang hidup tidak sesuai dengan ajaran iman. Dengan penuh pengertian ia menasehati orang-orang itu agar kembali kepada hidup yang sesuai dengan ajaran iman. Gaudensius meninggal dunia pada tahun 420 di kota kelahirannya Brescia.


Santo Benediktus dari Aniane, Abbas
Benediktus dari Aniane lahir di Languedoc, Prancis, pada tahun 750. Pada masa mudanya, ia bekerja di istana raja Pepin (751-768), dan di istana Karel Agung (768-814). Keinginannya yang besar untuk menjadi seorang rahib akhimya mendesak diakeluar dari istana. la lalu menjadi seorang rahib di biara Santo Seine, dekat Dijon.
Di biara ini, Benediktus dengan rajin menata hidupnya sebagai seorang rahib dengan doa dan tapa yang keras. la juga dengan tekun mempelajari semua aturan yang ditulis oleh Benediktus dari Nursia, Pachomius dan Basilius menyangkut cara hidup membiara.
Ketika Abbas biara Santo Seine meninggal dunia, para rahib biara itu memilih dia menjadi pemimpin mereka. Tetapi ia menolak pilihan itu. Sebaliknya ia pergi dari biara itu dan tinggal di rumahnya sendiri di Aniane sambil tetap menjalankan cara hidup membiara. Lama kelamaan banyak juga pemuda yang datang menjadi muridnya. la dengan senang menerima mereka dan membimbing mereka dalam disiplin hidup yang ketat. Mereka bekerja di sawah sambil menghayati kaul kemiskinan dengan sungguh-sungguh dan berpuasa.
Ketika Louis Pious (814-840) naik takhta menggantikan Karel Agung, ia mengajak Benediktus agar kembali tinggal di dalam istana. Untuk maksud itu, Louis memanggil dia ke Maurmunster di Alsace dan membangunkan baginya sebuah rumah. Benediktus ditempatkan di rumah ini dengan tugas memimpin dan membaharui semua biara yang ada di seluruh wilayah kerajaan. Untuk itu ia menyusun aturan-aturan hidup membiara yang mampu menghantar seorang rahib menjadi benar- benar abdi Allah. la berhasil dalam tugas pembaharuan hidup membia- ra yang dipercayakan Louis Pious kepadanya. Keberhasilan ini mem- buat dia menjadi satu tokoh penting dalam sejarah kehidupan monastik Barat. Pengaruhnya menyamai Benediktus dari Nursia dalam sejarah kehidupan monastik.


Santa Marina, Pengaku Iman
Dengan mengenakan pakaian laki-laki, gadis ini bersama ayahnya masuk biara di Siria. la dituduh menghamili puteri pemilik penginapan. Tanpa membela diri, ia berpenitensi selama lima tahun sampai kemudian diterima kembali. Baru sesudah ia mati diketahui bahwa ia seorang wanita dan tak mungkin berbuat dosa seperti yang dituduhkan kepadanya.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-02-11 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa V

Rabu, 11 Februari 2026

PF S.P. Maria dari Lourdes

Hari Orang Sakit Sedunia



Bacaan Pertama
1Raj 10:1-10

"Ratu Syeba melihat segala hikmat Salomo"

Pembacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja:

Pada suatu ketika
Ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo,
berhubung dengan nama Tuhan.
Maka datanglah ia hendak menguji Salomo dengan teka-teki.
Ia datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring
yang sangat besar,
dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah,
sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal.
Setelah ia sampai kepada Salomo,
dikatakannyalah segala apa yang ada dalam hatinya kepada Salomo.
Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu;
bagi raja tidak ada yang tersembunyi,
yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu.
Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo
dan rumah yang telah didirikannya,
makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya,
cara pelayan-pelayan melayani dan berpakaian,
minumannya,
dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah Tuhan,
maka tercenganglah ratu itu.
Dan ia berkata kepada raja,
"Benar juga kabar yang kudengar di negeriku
tentang engkau dan tentang hikmatmu!
Tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu
sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri;
sungguh setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku.
Dalam hal hikmat dan kemakmuran,
engkau melebihi kabar yang kudengar.
Berbahagialah para isterimu!
Berbahagialah para pegawaimu,
yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!
Terpujilah Tuhan, Allahmu,
yang telah berkenan kepadaku sedemikian,
hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel!
Karena Tuhan mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya,
maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja
untuk melakukan keadilan dan kebenaran."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 37:5-6.30-31.39-40,R:30a

Refren: Mulut orang benar menuturkan hikmat.

*Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya,
maka Ia akan bertindak;
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang,
dan menampilkan hakmu seperti siang.

*Mulut orang benar menuturkan kebijaksanaan,
dan lidahnya mengatakan kebenaran.
Taurat Allah ada di dalam hatinya,
langkah-langkahnya tidaklah goyah.

*Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan;
Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan;
Tuhan menolong dan meluputkan mereka
dari tangan orang-orang fasik ;
Tuhan menyelamatkan mereka,
sebab mereka berlindung pada-Nya.



Bait Pengantar Injil
Yoh 17:17ba

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.
Kuduskanlah kami dalam kebenaran.



Bacaan Injil
Mrk 7:14-23

"Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya."

Inilah Injil Suci menurut Markus:

Pada suatu hari, Yesus memanggil orang banyak
dan berkata kepada mereka,
"Dengarkanlah Aku dan camkanlah ini!
Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang,
tidak dapat menajiskan dia!
Tetapi apa yang keluar dari seseorang,
itulah yang menajiskannya!"
Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!

Sesudah itu Yesus masuk ke sebuah rumah
untuk menyingkir dari orang banyak.
Maka murid-murid bertanya kepada Yesus
tentang arti perumpamaan itu.
Yesus menjawab, "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya?
Camkanlah! Segala sesuatu yang dari luar
masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskan dia,
karena tidak masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya,
lalu dibuang di jamban?"
Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal.
Yesus berkata lagi,
"Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya!
Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat,
percabulan, pencurian, pembunuhan,
perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan,
hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Sebagai umat Katolik, kita tidak mengenal larangan untuk menyantap makanan tertentu. Semua makanan boleh disantap, tentu dengan tetap memperhatikan kesehatan dan kebersihan. Yesus sendiri menegaskan bahwa semua makanan jasmani adalah halal. Dalam Injil hari ini, Yesus berkata dengan sangat jelas: "Apa pun dari luar yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia. Camkanlah! Segala sesuatu yang dari luar masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskan dia, karena tidak masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?"

Dengan pernyataan ini, Yesus menggeser fokus kita. Persoalan utama hidup rohani bukanlah apa yang masuk ke dalam tubuh kita, melainkan apa yang masuk ke dalam hati kita. Dan justru di sinilah kewaspadaan kita sering kali melemah. Di zaman sekarang, begitu banyak hal dari luar yang mencoba masuk ke dalam hati kita: informasi yang menyesatkan, ujaran kebencian, provokasi, fitnah, dan nilai-nilai yang perlahan tapi pasti mengikis nurani. Semua itu tidak masuk lewat perut, tetapi lewat mata, telinga, dan pikiran, lalu berdiam di hati.

Yesus kemudian mengingatkan sesuatu yang jauh lebih serius. Bukan apa yang masuk, melainkan apa yang keluar dari diri kitalah yang menajiskan manusia. Secara jasmani, tubuh kita memang menghasilkan berbagai "limbah": keringat, air mata, air liur, ingus, dahak, urine, dan sebagainya. Semua itu harus dibuang dengan cara yang benar agar tidak mengganggu dan membahayakan orang lain. Tetapi Yesus tidak sedang berbicara tentang limbah jasmani. Ia sedang menunjuk pada "limbah batin" yang jauh lebih berbahaya.

Yesus berkata: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya! Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan." Semua ini berasal dari dalam, dari hati manusia, dan justru inilah yang menajiskan, merusak relasi, melukai sesama, dan pada akhirnya membawa dosa serta penderitaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Bacaan Pertama hari ini menghadirkan gambaran yang sangat kontras. Ratu Syeba datang dari jauh untuk menemui Salomo, bukan karena kekuatan militer, bukan karena kekayaan semata, melainkan karena kebijaksanaan yang berasal dari Tuhan. Ketika ia melihat hikmat Salomo, tata kehidupannya, cara ia berbicara, dan cara ia memimpin, Ratu Syeba terpesona dan memuliakan Tuhan. Apa yang keluar dari diri Salomo bukanlah kejahatan, melainkan kebijaksanaan, ketertiban, dan terang yang membuat orang lain semakin dekat kepada Allah.

Di sinilah kita diajak bercermin. Apa yang keluar dari diri kita setiap hari? Ketika kita berbicara, apakah yang terpancar adalah keluhan, kemarahan, sindiran, dan penghakiman? Ataukah yang keluar adalah kata-kata yang menenangkan, menguatkan, dan membangun? Ketika kita bersikap, apakah orang lain merasakan beban, atau justru merasakan kehadiran yang menyejukkan?

Yesus menghendaki agar hati kita menjadi sumber yang baik, sehingga yang keluar dari diri kita pun membawa kebaikan. Ia mau kita menjadi pembawa Terang Kristus, terang yang memancar ke sekitar kita melalui sikap, perkataan, dan perbuatan. Terang itu bukan berasal dari kemampuan kita sendiri, melainkan dari hati yang terbuka dan dibentuk oleh Tuhan.

Maka, marilah kita menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya menjaga apa yang kita konsumsi secara jasmani, tetapi terlebih menjaga apa yang kita izinkan masuk ke dalam hati kita. Dan marilah kita belajar agar yang keluar dari diri kita adalah kasih Kristus: belas kasih, perhatian, penghiburan, dan pertolongan bagi siapa pun yang kita jumpai. Sebab kita dipanggil menjadi terang dunia, terang yang bersumber dari Tuhan, dan yang kehadirannya membuat orang lain memuliakan Allah.



Peringatan Orang Kudus
Santa Perawan Maria dari Lourdes
Hari ini kita merayakan peristiwa Maria menampakkan diri kepada Bemadetha Soubirous di gua Masabielle, Lourdes, Prancis pada tanggal 11 Februari 1858. Kiranya perayaan ini semakin mempertebal iman kepercayaan kita kepada Bunda Maria dan semakin menyemangati kita untuk turut serta di dalam karya penyelamatan Kristus. Untuk itu baiklah kalau kita kembali menyimak makna peristiwa itu dengan mengikuti kisah terjadinya peristiwa iman itu.
Bemadetha Soubirous adalah seorang gadis desa yang sederhana, miskin dan buta huruf. Ketika ia sedang menggembalakan domba-dom- banya, tiba-tiba ia melihat seorang wanita cantik berdiri di mulut gua itu. Wanita itu tersenyum manis dan tampak sangat ramah kepadanya. Dalam keheranan dan ketakutannya, Bemadetha pun merasakan suatu kegembiraan yang sungguh dalam. Tak lama kemudian wanita itu menghilang dari pandangannya. Bemadetha pun pulang ke rumah dengan gembira bercampur takut.
Pada tanggal 25 Februari, wanita cantik itu menampakkan diri lagi kepada Bemadetha. Kali ini wanita itu menyuruhnya minum dan membasuh mukanya. Tetapi dari manakah ia mendapatkan air untuk minum dan membasuh mukanya? la sendiri pun tidak membawa air dari rumah. Sumber-sumber air pun tak ada di bukit yang kering dan berbatu- batu itu. Bemadetha bingung dan berdiri terpaku melihat wanita cantik yang ramah itu. Lalu wanita itu menyuruhnya menggali tanah didepan gua itu. Bemadetha pun mengikuti saja suruhan wanita tak dikenal itu. Belum seberapa dalam lubang galian itu, mengalirlah air dari lubang itu. Dengan air itu Bemadetha membasuh mukanya dan minum. Tak lama kemudian wanita itu menghilang dari pandangannya.
Pada tanggal 25 Maret, Bernadetha kembali lagi ke gua Masabielle. Di sana ia menyaksikan lagi penampakan wanita cantik itu. Kali ini Bernadetha memberanikan diri untuk menanyakan nama wanita cantik itu. "Siapakah engkau?" tanya Bernadetha. Jawab wanita itu: "Akulah yang dikandung tanpa noda dosa asal ".
Maria menampakkan diri kepada Bernadetha sebanyak 18 kali. Kepada Bernadetha, Bunda Maria berpesan agar semua orang Kristen berdoa untuk orang-orang berdosa agar mereka bertobat dari cara hidupnya yang sesat itu. Bunda Maria pun meminta agar di tempat itu didirikan sebuah gereja dan diadakan ziarah.
Atas perintah Uskup Lourdes, kejadian ini diselidiki dengan saksama. Akhirnya pada tahun 1862 peristiwa penampakan itu dinyatakan benar dan sah. Pada tahun 1864 sebuah patung Maria ditempatkan di gua itu, dan pada tahun 1876 dibangunkan di situ sebuah gereja yang megah.
Setiap tahun lebih dari satu juta orang berziarah ke Lourdes. Banyak orang sakit yang berziarah ke sana menjadi sembuh secara ajaib. Demikian pun setiap peziarah yang mengunjungi Lourdes sungguh merasakan suatu kedamaian jiwa dan kebahagiaan batin. Sebuah biro penyelidikan didirikan untuk meneliti penyembuhan-penyembuhan yang terjadi atas orang-orang sakityang berkunjung ke sana.
Semoga hari raya penampakan Bunda Maria di Lourdes ini mendorong kita untuk menghormati Bunda Maria dengan lebih tulus sebagai Bunda yang senantiasa menghendaki keselamatan kita.


Santo Gregorius II, Paus
Gregorius lahir di Roma pada tahun 669 dan meninggal dunia pada tanggal10 Januari 731. la dikenal sebagai seorang Paus abad kedelapan yang mendukung sekaligus melawan kuasa negara, serta gigih mempertahankan hak-hak Paus. Sebelum menjadi Paus, ia bertugas sebagai bendaharawan Takhta Suci dan kemudian ditempatkan sebagai kepala perpustakaan kepausan. Ia adalah pustakawan pertama dari Takhta Suci. Masa kepausannya berlangsung dari tahun 715 sampai tahun 731.
Sebagai Paus, Gregorius melakukan banyak hal untuk memajukan misi Gereja. Pada tahun 719, ia mengutus Bonifasius Winfrid, seorang pertapa dari Saxon yang kemudian menjadi Santo untuk mempertobat- kan suku-suku bangsa Jerman yang masih kafir. Bonifasius memperoleh sukses besar dalam misinya itu. Pada tahun 722 Paus Gregorius menah- biskan dia menjadi Uskup untuk memimpin umat Jerman yang ditobat- kannya. Kepadanya Gregorius memberikan sepucuksurat rekomendasi untuk diserahkan kepada Charles Martel, seorang raja berkebangsaan Prancis yang beragama Kristen dan menjadi penguasa atas suku-suku Jerman. Atas permohonan Paus, Martel melindungi Bonifasius dalam karyanya mempertobatkan suku-suku Jerman itu.
Meskipun ada banyak keberhasilari dalam kepemimpinannya sebagai Paus, Gregorius pun tidak luput dari banyak tantangan. Kekuatan kaum Lombardia bangkit lagi dan menguasai Hongaria, Austria hingga Italia Utara. Persahabatan baik antara Gregorius dengan Liutprand, raja Lom- bardia tergoncang bahkan putus ketika Liutprand memulaipropaganda- nya untuk menguasai Italia. Nafsu kuasa Liutprand semakin menjadi ketika kaum Lombardia berhasil menguasai kota Cumae, bagian wilayah kekuasaan Adipati Napoli. Paus Gregorius tidak berdaya untuk mengusir mereka keluar dari sana. Akhimya Yohanes dari Napoli bangkit melawan Liutprand dan berhasil menghalau kaum Lombardia dari Cumae. Kepahlawanan Yohanes dihargai Paus Gregorius dengan pujian dan pemberian berupa emas.
Sekali lagi pada tahun 725, orang-orang Lombardia berusaha menguasai Italia karena melihat gejala menurunnya kewibawaan penguasa- penguasa di bagian barat kekaisaran Romawi. Mereka mengincar tanah- tanah kekaisaran di Italia Utara meliputi Rayenna sebagai ibukota pro- pinsi-propinsi di bagian barat kekaisaran. Mereka berhasil menguasai kota Ravenna. Tetapi kemudian dengan pertolongan orgng-orang Venesia, Paus bersama kaisar berhasil mengusir orang-orang Lombardia itu dari kota Ravenna.
Bersamaan dengan peristiwa penyerangan kaum Lombardia itu, Paus Gregorius dihadapkan pada masalah serangan terhadap Gereja dari kekaisaran Konstantinopel dalam hal penghormatan gambar-gambar kudus di dalam gereja. Perlawanan ini telah dimulai sejak awal abad ke- delapan oleh hasutan seorang kafilah dari Damaskus. Kafilah ini dalam tahun 722 mengeluarkan suatu peraturan yang melarang penghormatan gambar-gambar kudus di dalam gereja-gereja yang berada di wilayah- wilayah kekuasaan Islam. Oleh larangan ini gambar-gambar kudus di dalam gereja-gereja itu dirusakkan baik oleh orang-orang Islam maupun oleh orang-orang Kristen itu sendiri.
Gerakan pengrusakan gambar-gambar kudus ini didukung oleh kai- sar Byzantium, Leo III, dengan dekrit yang dikeluarkannya pada tahun 726. Dekrit ini berhasil dengan gemilang. Tetapi Paus Gregorius sangat gigih menentang dekrit ini. Sebagai reaksi terhadap dekrit Kaisar Leo III itu, Paus Gregorius mengeluarkan suatu instruksi yang menentang dekrit itu. Leo III mulai menyusun suatu rencana pembunuhan atas diri Paus Gregorius. Tetapi rencana ini gagal karena sebagian besar orang Italia mendukung Paus dan melancarkan perlawanan terhadap kekaisar- an Konstantinopel.
Sebagai tindakan lanjutan dari pertentangan itu, Paus -melalui sepucuk surat kepada Leo III menerangkan posisi Gereja dan tradisinya dalam hal penghormatan terhadap gambar-gambar kudus. la pun mendesak Leo III agar segera mencabut kembali dekrit itu sambil mene- gaskan agar kaisar tidak mencampuri urusan-urusan intern Gereja. Masalah Gereja adalah urusan pejabat-pejabat Gereja, bukan kaisar. Kaisar sebaiknya memusatkan perhatiannya pada urusan-urusan kenegaraan.
Leo III, yang merasa mempunyai kuasa di wilayah kekuasaannya, menolak mengikuti keinginan-keinginan Paus. Karena itu Paus sekali lagi menegaskan pandangan-pandangannya dan dengan tegas melarang kaisar mencampuri urusan-urusan Gereja. Surat yang dikirimkan kepada Leo itu ditutupnya dengan sebuah untaian doa bagi pertobatan kaisar Leo III.
Sementara masalah ini belum tuntas penyelesaiannya, tahun beri- kutnya (728), Eutychius, wakil kaisar di Italia, yang pernah didukung oleh Gregorius dalam perlawanan terhadap serangan kaum Lombardia, berusaha mempersatukan orang-orang Roma dan Lombardia untuk melawan Paus. Usaha Eutychius ini menemui kegagalan karena orang- orang Roma bangkit melawan dia dan membela Paus. Hal ini semakin memperbesar kuasa dan pengaruh Paus sebagai pemimpin Gereja, dan semakin menunjukkan bahwa Paus-lah pemimpin kota Roma yang se- benarnya.
Dalam mempertahankan kepemimpinannya dan iman yang benar, Paus Gregorius senantiasa berhasil membebaskan Gereja dan iman dari semua rongrongan. Satu hal yang patut dicatat ialah bahwa Paus Grego- rius tetap menunjukkan hormat dan menunjukkan pengakuannya pada kekaisaran Konstantinopel, karena ia menganggap bahwa kekaisaran itu adalah sah. la melawan kaum Lombardia yang berusaha melemahkan kekaisaran, tetapi ia juga melawan kekaisaran bila kekaisaran melawan dan melanggar hak-hak Gereja. Gereja merasa sungguh kehilangan Gregorius ketika ia menutup mata pada tanggal10 Januari 731. Gregorius telah berhasil meletakkan dasar-dasar pijak yang kokoh bagi Gereja. Setelah masa kepausannya, kuasa Paus di dunia Barat menjadi semakin kuat, sementara kuasa imperial di Timur melorot dengan deras.


Santo Satuminus, Martir
Satu sumber informasi terpercaya mengenai martir Santo Satuminus ialah suatu tulisan batu nisan yang digoreskan oleh Sri Paus Damasus I (366-384) di atas makam sang martir. Menurut tulisan batu nisan itu, Saturninus adalah seorang imam dari Kartago yang datang ke Roma. la diyakini mengalami penderitaan hebat pada masa penganiayaan orang-orang Kristen di kala Maximianus berkuasa dan meninggal dunia pada tahun 309. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Thraso di Jl. Salaria, satu jalan kuno Romawi.
Di jalan itu didirikan sebuah basilik untuk menghormati dia. Basilik .ini kemudian djbumi-hanguskan oleh api pada abad keenam dan diperbaiki lagi oleh Sri Paus Adrianus I (772-795) dan Sri Paus Gregorius IV (827-844).




https://liturgia-verbi.blogspot.com/