Liturgia Verbi 2018-01-01 Senin.

Liturgia Verbi (B-II)
HR Santa Maria Bunda Allah

Senin, 1 Januari 2018

Hari Perdamaian Sedunia

Ujud Misi/Evangelisasi - Para pengikut agama minoritas di Asia.
Semoga umat Kristiani dan para pengikut agama minoritas lain di negara-negara Asia dapat menjalankan praktik iman dan ibadahnya dalam kebebasan sepenuh-penuhnya.

Ujud Gereja Indonesia - Anak Muda.
Semoga Gereja menaruh perhatian serius dan mengambil langkah nyata untuk mengatasi masalah di mana banyak anak muda Katolik ragu, goyah, dan akhirnya meninggalkan imannya.



Bacaan Pertama
Bil 6:22-27

"Mereka harus meletakkan nama-Ku atas orang Israel;
maka Aku akan memberkati mereka."

Pembacaan dari Kitab Bilangan:

Sekali peristiwa Tuhan berfirman kepada Musa,
"Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya:
Beginilah harus kamu memberkati orang Israel,
katakanlah kepada mereka:
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya
dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu
dan memberi engkau damai sejahtera.
Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel;
maka Aku akan memberkati mereka."



Mazmur Tanggapan
Mzm 67:2-3.5.6.8,R:2a

Refren: Kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita.

*Kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita,
kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya,
kiranya jalan-Mu dikenal di bumi,
dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.

*Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai,
sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil,
dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.

*Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah,
kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.
Allah memberkati kita;
kiranya segala ujung bumi takwa kepada-Nya!



Bacaan Kedua
Gal 4:4-7

"Allah mengutus Anak-Nya
yang lahir dari seorang perempuan."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia:

Saudara-saudara,
setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya,
yang lahir dari seorang perempuan
dan takluk kepada hukum Taurat.
Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat,
supaya kita diterima menjadi anak.
Dan karena kamu adalah anak,
maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,
yang berseru: "Abba, ya Bapa!"
Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak;
dan kalau kamu anak,
maka kamu juga menjadi ahliwaris-ahliwaris, oleh karena Allah.



Bait Pengantar Injil
Ibr 1:1-2

Dahulu kala
dengan pelbagai cara Allah berbicara kepada leluhur kita
dengan perantaraan para nabi,
Pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita
dengan perantaraan Anak-Nya.



Bacaan Injil
Luk 2:16-21

"Mereka mendapati Maria, Yusuf dan Si Bayi. 
Pada hari ke delapan Ia diberi nama Yesus."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia,
para gembala cepat-cepat berangkat ke Betlehem,
dan mendapati Maria dan Yusuf
serta Bayi yang terbaring di dalam palungan.
Ketika melihat Bayi itu,
para gembala memberitahukan
apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
Dan semua orang yang mendengarnya
heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu.
Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati
dan merenungkannya.
Maka kembalilah gembala-gembala itu
sambil memuji dan memuliakan Allah
karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat;
semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Ketika genap delapan hari umurnya,
Anak itu disunatkan,
dan Ia diberi nama Yesus,
yaitu nama yang disebut oleh malaikat
sebelum Ia dikandung ibu-Nya.



Renungan Injil
Selamat Tahun Baru, dan
selamat merayakan HR Santa Maria Bunda Allah!

Intisari Bacaan Pertama hari ini:
Tuhan hendak memberkati kita melalui perantaraan para imam.
Oleh karenanya, Tuhan meminta para imam untuk meletakkan nama-Nya di atas umat.

Berkat seperti apakah yang hendak dikaruniakan oleh Tuhan?
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada kita, artinya tidak berpaling dari kita, face-to-face, maka kita pun mesti memandangi wajah-Nya agar wajah-Nya menyinari kita, memberi kasih karunia-Nya.
Kasih karunia Tuhan adalah perlindungan Tuhan agar kita selamat, serta anugerah damai sejahtera dalam hidup kita.

Berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan bagi kita yang menerima berkat-Nya.
Apakah bisa berupa kekayaan, kesehatan, keturunan, kesuksesan?
Maybe yes, maybe no.
Kekayaan, jika membawa kebaikan bagi kita, maka itu berkat.
Tetapi jika akan membawa kekisruhan atau perselisihan, atau akan membuat kita menjadi sombong, maka kekayaan bukanlah berkat.

Yang menarik untuk kita fahami, berkat Tuhan bukan hanya satu kali lalu sudah, tidak seperti itu.
Berkat Tuhan mengalir berulang-ulang kali, dan takkan pernah berhenti, kecuali kalau kita yang menghentikannya.
Perbuatan dosa adalah sumbat, yang menghambat aliran berkat Tuhan, atau bisa jadi malah menghentikannya.
Berdoa adalah saluran berkat, karena dari situlah berkat itu mengalir: mintalah, carilah, ketoklah.
Persis seperti doa yang telah diajarkan oleh Yesus, "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."  [Mat 6:11] yang kemudian kita daraskan begini, "Berilah kami rejeki pada hari ini."

Nah, sekarang menjadi jelas: rejeki adalah bagian dari berkat.
Rejeki juga pemberian Tuhan yang dapat kita gunakan untuk memelihara hidup kita, entah itu makanan, keuntungan, kesempatan, dan sebagainya.
Tetapi rejeki hanya akan menjadi berkat jika membawa kebaikan bagi kita.
Jika tidak membawa kebaikan, rejeki hanyalah kesialan yang malah menyengsarakan hidup kita, bukan lagi rejeki namanya.

Marilah sekarang kita bersiap-siap, menerima berkat dari Tuhan, melalui penumpangan tangan imam yang memimpin perayaan Ekaristi atau pun yang sengaja diletakkan di atas kita untuk menyalurkan berkat Tuhan.



Peringatan Orang Kudus
Yesus dari Nazaret: Oktaf Natal
Delapan hari setelah kelahiran-Nya, Kanak-kanak Yesus disunat sesuai aturan hukum Taurat Musa (Im 12:3; Luk 2:21; Kis 7:8; Flp 3:5), dan diberi nama Yesus (Yun.: Iesous; Ibr.: Yesyua, Yehosyua,  yang berarti “Yahweh menyelamatkan”.  Nama ini sebelum Yesus dari Nazaret sudah dipakai oleh Yosua, pengganti Musa.  Melalui Yesus dari Nazaret, umat manusia diselamatkan (Kis 4:12; Flp 2:9 – 11).  Dia-lah Al-Masih yang dijanjikan Yahweh kepada Israel, bangsa terpilih, dan kelahiran-Nya melalui Perawan Maria menjadikan Dia seorang warga suku bangsa Israel.  Sunat, sebagai upacara keagamaan di kalangan orang Ibrani dan lambang keanggotaan seseorang dalam masyarakat, menjadikan Yesus anggota masyarakat Yahudi.
Dengan demikian Yesus, yang adalah Al-Masih, menjadi batu pengunci antara Perjanjian Lama dan Baru, antara nubuat-nubuat nabi dan pemenuhannya, antara perumpamaan dan penetapannya, antara janji dan pelaksanaannya, antara Kerajaan Daud, leluhurnya dan Kerajaan-Nya sendiri yang bersifat universal dan abadi.

Santa Maria, Bunda Allah (Hari Raya Santa Perawan Maria)
Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah mengingatkan kita akan bidaah (ajaran sesat) tentang Kebundaan Ilahi Maria, yang muncul pada abad ke 5.  Pokok ajaran bidaah ini ialah bahwa Maria memang Bunda Yesus, tetapi bukan Bunda Allah.
Dalam Konsili Efesus pada tahun 431, ajaran sesat ini dikutuk.  Konsili tetap dengan teguh mempertahankan ajaran yang benar, yaitu bahwa Maria adalah Bunda Allah (Theotokos), karena Yesus Anaknya adalah sungguh-sungguh Allah.  Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah ditetapkan oleh Paus Pius XI pada hari ulang tahun ke-1500 Konsili Efesus tersebut.
Pada kesempatan ini, ada baiknya kita merenungkan makna nubuat nabi Yesaya: “Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia, Imanuel” (Yes 7:14), dan makna salam Elisabeth kepada Maria yang mengunjunginya: “Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.  Siapakah aku ini, sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:42-43).
Merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah juga berarti bahwa kita mengakui Yesus sebagai “sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh Manusia”.  Kemuliaan Maria sebagai Bunda Allah adalah cerminan kemulian Anaknya, yaitu Yesus, Tuhan dan Penebus umat manusia.

Santo Almakios atau Telemakus
Almakios adalah seorang biarawan. Tatkala ia mengunjungi kota Roma, ia berusaha menghentikan pertunjukan gladiator yang sering menimbulkan korban jiwa. Dalam usaha ini ia sendiri akhirnya terbunuh. Namun usahanya yang memuncak pada kematiannya itu membawa suatu perubahan, yakni bahwa sejak saat itu kaisar melarang pertunjukan berbahaya itu.



http://liturgia-verbi.blogspot.co.id/
https://www.facebook.com/groups/liturgiaverbi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar