Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XIV
Senin, 6 Juli 2026
PF S. Maria Goretti, Perawan dan Martir
Bacaan Pertama
Hos 2:13.14b-15.18-19
"Aku akan menjadikan dikau isteriku untuk selama-lamanya."
Pembacaan dari Nubuat Hosea:
Inilah sabda Tuhan,
"Aku akan membujuk umat kesayangan-Ku
dan membawanya ke padang gurun,
dan berbicara menenangkan hatinya.
Di sana ia akan merelakan diri seperti pada masa mudanya,
seperti ketika ia berangkat keluar dari tanah Mesir.
Maka pada waktu itu, demikianlah firman Tuhan,
engkau akan memanggil Aku 'Suamiku',
dan tidak lagi memanggil Aku 'Baalku'.
Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya,
dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku
dalam keadilan dan kebenaran,
dalam kasih setia dan kasih sayang.
Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan,
sehingga engkau akan mengenal Tuhan."
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan
Mzm 145:2-3.4-5.6-7.8-9,R:8a
Refren: Tuhan itu pengasih dan penyayang.
*Setiap hari aku hendak memuji Engkau,
dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.
Besarlah Tuhan, dan sangat terpuji,
kebesaran-Nya tidak terselami.
*Angkatan demi angkatan akan memegahkan karya-karya-Mu
dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.
Semarak kemuliaan-Mu yang agung akan kukidungkan,
dan karya-karya-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.
*Kekuatan karya-karya-Mu yang dahsyat akan dimaklumkan,
dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.
Kenangan akan besarnya kebaikan-Mu akan dimasyhurkan,
orang akan bersorak-sorai tentang keadilan-Mu.
*Tuhan itu pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.
Tuhan itu baik kepada semua orang,
dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
Bait Pengantar Injil
2Tim 1:10b
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut
dan menerangi hidup dengan Injil.
Bacaan Injil
Mat 9:18-26
"Anakku baru saja meninggal; tetapi datanglah, maka ia akan hidup."
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa
datanglah kepada Yesus seorang kepala rumah ibadat.
Ia menyembah Dia dan berkata,
"Anakku perempuan baru saja meninggal,
tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya,
maka ia akan hidup."
Lalu Yesus pun bangun,
dan bersama-sama murid-murid-Nya mengikuti orang itu.
Pada waktu itu
seorang wanita yang sudah dua belas tahun lamanya
menderita pendarahan
maju mendekati Yesus dari belakang
dan menjamah jumbai jubah-Nya.
Karena katanya dalam hati,
"Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata,
"Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku,
imanmu telah menyelamatkan dikau."
Maka sejak saat itu juga sembuhlah wanita itu.
Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu,
dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak yang ribut,
berkatalah Ia, "Pergilah! Karena anak ini tidak mati, tetapi tidur!"
Tetapi mereka menertawakan Dia.
Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk.
Dipegang-Nya tangan si anak, lalu bangkitlah anak itu.
Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan Injil
Pada Bacaan Injil hari ini dikisahkan, Yesus melakukan sesuatu yang mustahil bagi manusia, yakni menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dunia.
Tentu kita tidak perlu mempersoalkan seolah-olah Yesus sedang melawan hukum kematian. Anak perempuan yang dibangkitkan itu tidak lalu menjadi manusia yang hidup kekal di dunia ini. Pada waktunya kelak, ia tetap akan meninggalkan dunia ini. Tetapi melalui peristiwa itu, Yesus menunjukkan kuasa Allah, sekaligus menghadirkan tanda bahwa Ia benar-benar datang dari Allah.
Maka menurut saya, daripada kita menghabiskan energi untuk mempersoalkan karya Yesus, apalagi mencari-cari kesalahan-Nya, jauh lebih berguna kalau kita melihat iman dari dua orang yang tampil dalam Injil hari ini: seorang kepala rumah ibadat dan seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan.
Kepala rumah ibadat itu memiliki iman yang sungguh luar biasa. Anaknya perempuan baru saja meninggal. Dalam keadaan seperti itu, biasanya orang sudah merasa semuanya selesai. Harapan sudah tertutup. Jalan sudah buntu. Tetapi orang ini datang kepada Yesus, menyembah Dia, lalu berkata, “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.”
Iman seperti ini tidak lahir dari pikiran yang dangkal. Justru sebaliknya, ia datang dari hati yang berani mempercayakan keadaan paling gelap kepada Tuhan. Ia tidak datang kepada Yesus ketika anaknya masih sakit saja. Ia datang ketika anaknya sudah meninggal. Bagi manusia, itu sudah terlambat. Bagi Tuhan, belum tentu.
Lalu di tengah perjalanan, tampil pula seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia tidak banyak bicara. Ia tidak meminta Yesus berhenti. Ia hanya berkata dalam hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Yesus mengetahui iman perempuan itu. Maka Yesus berpaling dan berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Dan sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Ini penting untuk kita renungkan. Yang menyelamatkan perempuan itu bukan sekadar sentuhan pada jubah Yesus, melainkan iman yang membuat ia datang mendekat kepada Yesus. Sentuhan itu adalah tanda dari kepercayaannya. Ia percaya bahwa Yesus tidak akan menolak orang yang datang dengan hati penuh harapan.
Dua orang ini berbeda keadaan. Yang satu sedang berduka karena anaknya meninggal. Yang satu lagi sudah lama menderita sakit. Tetapi keduanya sama-sama datang kepada Yesus dengan iman. Mereka tidak datang untuk menguji Yesus. Mereka tidak datang untuk berdebat. Mereka datang karena percaya.
Barangkali di situlah kita perlu memeriksa diri. Terkadang kita datang kepada Tuhan sambil membawa banyak syarat. Kita mau percaya kalau permohonan kita segera dikabulkan. Kita mau berharap kalau jalannya sesuai dengan yang kita mau. Kita mau berserah, tetapi hati masih terus menghitung kemungkinan buruknya.
Kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan itu mengajak kita untuk belajar percaya lebih dalam. Bukan percaya karena keadaan mudah, melainkan percaya ketika keadaan justru sangat sulit. Bukan percaya karena semua masih mungkin menurut perhitungan manusia, melainkan percaya karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.
Kuasa Tuhan itu tidak terbatas. Tetapi iman kitalah yang sering terbatas. Maka marilah kita terus belajar menebalkan iman, supaya dalam sakit, duka, kegagalan, kehilangan, dan keadaan yang menurut kita sudah buntu sekalipun, kita tetap berani datang kepada Yesus.
Sebab bagi Tuhan, tidak ada keadaan yang terlalu gelap untuk disinari. Tidak ada luka yang terlalu dalam untuk disentuh. Dan tidak ada orang yang datang dengan iman kepada-Nya akan dibiarkan pulang dengan sia-sia.
Amin.
Peringatan Orang Kudus
Santa Maria Goretti, Perawan dan Martir
Marietta, demikian nama panggilan Maria Goretti, lahir di Corinaldo, Italia pada tanggal 16 Oktober 1890. Kedua orang-tuanya, Luigi Goretti dan Assunta Carlini, adalah petani miskin di desa Corinaldo. Mereka miskin secara lahiriah tetapi kaya secara rohani karena mereka sesungguhnya orang beriman yang mempercayakan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Sepeninggal Luigi Goretti kesulitan hidup mereka semakin bertambah parah. Ibu Assunta Carlini bersama kelima anaknya terpaksa berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan lapangan kerja buat menyambung hidup. Akhirnya mereka menetap di Nettuno, sebuah kawasan penuh rawa-rawa sebagai petani penyewa tanah. Maria Goretti dengan rajin membantu ibunya bekerja di kebun dan merawat adik-adiknya.
Meskipun kesulitan hidup terus melilit mereka, namun semangat iman mereka tidak luntur. Maria Goretti tetap bersemangat mengikuti pelajaran agama menyongsong pesta Komuni pertama. la rindu sekali secepatnya menyambut Tubuh dan Darah Kristus, meskipun untuk itu ia harus berjalan kaki ke kota untuk mengikuti pelajaran agama. la tetap berusaha menata hidupnya dengan doa dan kerja serta berusaha sekuat tenaga agar tidak jatuh dalam dosa. Kepada ibunya ia mencetuskan kata-kata iman berikut: "Lebih baik mati seribu kali daripada berbuat dosa satu kali”. Ia tidak rela menghina Yesus yang dicintainya dengan berbuat dosa.
Ujian hidup terhadap kesucian hatinya demikian cepat datang. Adapun Alessandro, pemuda tetangga yang bekerja pada mereka sebagai pembantu untuk pekerjaan-pekerjaan kasar, menaruh hati pada Marietta. Telah berkali-kali ia membujuk Marietta untuk berbuat serong, tetapi tidak pernah ia berhasil menaklukkan keteguhan Marietta. Oleh karena nafsu berahi terus menguasai dirinya, ia tetap mencari kesempatan untuk merenggut kesucian Marietta. Kesempatan itu akhirnya tiba tatkala Marietta sendirian di rumah menjaga adiknya yang sakit, sedang ibunya berada di kebun. Alessandro, yang sedang bekerja di kebun, tahu bahwa Marietta sendirian di rumah. Dengan dalih hendak beristirahat di rumah karena letih, ia segera pulang ke rumah. Dalam hatinya ia telah bertekad bulat berhasil atau mati!
Sesampai di rumah ia terus melaksanakan niatnya. Sementara itu Marietta sedang menidurkan adiknya. Alessandro memanggil-manggil Marietta dan menyuruh membukakan pintu kamar. Tetapi Marietta yang tahu akan maksud jahat Alessandro tetap tidak membuka pintu itu. Sebaliknya ia berdoa meminta perlindungan Tuhan Yesus. Karena amarahnya dan dorongan nafsunya, Alessandro mendobrak pintu kamar Marietta. Ia masuk dan memaksa Marietta mengikuti dorongan berahinya. Tetapi dengan keras Marietta membela diri dan berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Alessandro. Karena Marietta tetap bersikeras menolak keinginannya maka dia menghunus pisau yang sudah lama disiapkannya dan mengancam Marietta. Ancaman ini pun tidak dihiraukan Marietta. Oleh karena itu, Alessandro dengan kalutnya menancapkan pisau tajam itu ke tubuh gadis tak berdosa itu sebanyak 14 kali. Senja hari tanggal 5 Juli 1902 itu benar-benar kabut gelap menimpa gadis suci ini. Keesokan harinya tanggal 6 Juli 1902, setelah mengakukan dosa-dosanya dan menerima Komuni Kudus, Marietta menghembuskan nafasnya dan meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, ia memaafkan dan mengampuni perbuatan keji Alessandro dengan berkata: "Aku ingin agar dia berada di dekatku di surga kelak". Alessandro yang melihat akibat perbuatannya yang keji itu, lari pontang-panting meniggalkan Marietta. Dia kemudian ditangkap polisi dan dihukum penjara selama 30 tahun. Setelah 8 tahun meringkuk di dalarn penjara, ia menyesali perbuatannya dan memperbaiki hidupnya.
Santa Godeliva, Pengaku Iman
Godeliva lahir pada tahun 1045. Beberapa bulan setelah pernikahannya, ia ditinggal pergi oleh suaminya. Kemudian ia diperlakukan dengan kasar dan kejam oleh mertuanya. Karena didesak oleh ayah Godeliva dan uskup setempat, maka suaminya pura-pura rujuk kembali dengannya. Godeliva kemudian dibunuh oleh pembunuh-pembunuh bayaran suaminya pada tahun 1070.