Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Prapaskah III
Minggu, 8 Maret 2026
Bacaan Pertama
Kel 17:3-7
"Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum."
Pembacaan dari Kitab Keluaran:
Sekali peristiwa,
setelah bangsa Insrael melewati padang gurun Sin,
dan berkemah di Rafidim,
kehausanlah mereka di sana.
Maka bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata,
"Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir,
untuk membunuh kami, anak-anak dan ternak kami dengan kehausan?"
Lalu berseru-serulah Musa kepada Tuhan, katanya,
"Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini?
Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!"
Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa,
"Berjalanlah di depan bangsa itu,
dan bawalah serta beberapa orang
dari antara para tua-tua Israel;
bawalah juga tongkatmu
yang kaupakai memukul sungai Nil, dan pergilah.
Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu
di atas gunung batu di Horeb;
pukulah gunung batu itu,
dan dari dalamnya akan keluar air,
sehingga bangsa itu dapat minum."
Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.
Maka dinamailah tempat itu Masa dan Meriba,
oleh karena orang Israel telah bertengkar,
dan oleh karena mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan,
"Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?"
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan
Mzm 95:1-2.6-7.8-9,R:8
Refren: Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan,
janganlah bertegar hati.
*Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan,
bersorak-sorai bagi Gunung Batu keselamatan kita.
Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur,
bersorak-sorai bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.
*Masuklah, mari kita sujud menyembah,
berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita.
Sebab Dialah Allah kita,
kita ini umat gembalaan-Nya dan kawanan domba-Nya.
*Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya,
Janganlah bertegar hati seperti di Meriba,
seperti waktu berada di Masa di padang gurun,
ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku,
padahal mereka melihat perbuatan-Ku.
Bacaan Kedua
Rom 5:1-2.5-8
"Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita
oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:
Saudara-saudara,
kita yang dibenarkan karena iman,
kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah
oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk
ke dalam kasih karunia Allah.
Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan bermegah
dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
Dan pengharapan tidak mengecewakan,
karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita
oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Karena waktu kita masih lemah,
Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka
pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar
tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati.
Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita,
oleh karena Kristus telah mati untuk kita,
ketika kita masih berdosa.
Demikianlah sabda Tuhan.
Bait Pengantar Injil
Yoh 4:42.15
Tuhan, Engkaulah juruselamat dunia.
Berilah aku air kehidupan, supaya aku tidak haus lagi.
Bacaan Injil
Yoh 4:5-42
"Mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal."
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Sekali peristiwa
sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria,
yang bernama Sikhar,
dekat tanah yang dahulu diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf.
Di situ terdapat sumur Yakub.
Yesus sangat letih oleh perjalanan,
karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu.
Hari kira-kira pukul dua belas.
Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.
Kata Yesus kepadanya, "Berilah Aku minum!"
Sebab murid-murid Yesus telah pergi membeli makanan.
Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya,
"Masakan Engkau, seorang Yahudi,
minta minum kepadaku, seorang Samaria?"
Maklum orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.
Jawab Yesus kepadanya,
"Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah
dan siapa Dia yang berkata kepadamu 'Berilah Aku minum'
niscaya engkau telah meminta kepada-Nya,
dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
Kata perempuan itu kepada-Nya,
"Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam;
dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub,
yang memberikan sumur ini kepada kami
dan ia sendiri telah minum dari dalamnya,
ia beserta anak-anak dan ternaknya?"
Jawab Yesus kepadanya,
"Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi!
Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya,
ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.
Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya,
akan menjadi mata air di dalam dirinya,
yang terus-menerus memancar sampai ke hidup yang kekal."
Kata perempuan itu kepada-Nya,
"Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus,
dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba."
Kata Yesus kepadanya,
"Pergilah, panggillah suamimu dan datanglah ke sini."
Kata perempuan itu, "Aku tidak mempunyai suami."
Kata Yesus kepadanya,
"Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
sebab engkau sudah mempunyai lima suami,
dan yang sekarang ada padamu pun bukanlah suamimu.
Dalam hal ini engkau berkata benar."
Kata perempuan itu kepada Yesus,
"Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini,
tetapi kamu katakan,
bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
Kata Yesus kepadanya,
"Percayalah kepada-Ku, hai perempuan,
saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa
bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal,
tetapi kami menyembah yang kami kenal,
sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Tetapi saatnya akan datang, dan sudah tiba sekarang,
bahwa para penyembah yang benar akan menyembah Bapa
dalam roh dan kebenaran,
sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian.
Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia,
harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Jawab perempuan itu,
"Aku tahu, bahwa Mesias, yang disebut juga Kristus, akan datang;
apabila datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
Kata Yesus kepadanya,
"Akulah Dia, yang sedang bercakap-cakap dengan engkau!"
Pada waktu itu datanglah murid-murid Yesus,
dan mereka heran
bahwa Yesus sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.
Tetapi tak seorang pun berkata,
"Apa yang Engkau kehendaki?
Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?"
Sementara itu perempuan tadi meninggalkan tempayannya di situ,
lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ,
"Mari, lihat!
Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku
segala sesuatu yang telah kuperbuat.
Mungkinkah Dia itu Kristus?"
Maka mereka pun meninggalkan kota
lalu datang kepada Yesus.
Sementara itu murid-murid mengajak Yesus, katanya,
"Rabi, makanlah!"
Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka,
"Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal."
Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain,
"Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?"
Kata Yesus kepada mereka,
"Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Bukankah kamu mengatakan
'Empat bulan lagi tibalah musim menuai'?
Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu,
dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning
dan matang untuk dituai.
Sekarang juga penuai telah menerima upahnya,
dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal,
sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.
Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa
'Yang seorang menabur dan yang lain menuai'.
Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan.
Orang-orang lain berusaha,
dan kamu datang memetik hasil usaha mereka."
Banyak orang Samaria dari kota itu
telah menjadi percaya kepada Yesus
karena perkataan perempuan itu,
yang bersaksi,
"Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."
Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus,
mereka meminta kepada-Nya,
supaya Yesus tinggal pada mereka,
dan Yesus pun tinggal di situ dua hari lamanya.
Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya
karena perkataan Yesus,
dan mereka berkata kepada perempuan itu,
"Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan,
sebab kami sendiri telah mendengar Dia
dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."
Demikianlah sabda Tuhan.
ATAU BACAAN SINGKAT
Yoh 4:5-15.19b-26.39a.40-42
Inilah Injil Suci menurut Yohanes:
Sekali peristiwa
sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria,
yang bernama Sikhar,
dekat tanah yang dahulu diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf.
Di situ terdapat sumur Yakub.
Yesus sangat letih oleh perjalanan,
karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu.
Hari kira-kira pukul dua belas.
Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.
Kata Yesus kepadanya, "Berilah Aku minum!"
Sebab murid-murid Yesus telah pergi membeli makanan.
Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya,
"Masakan Engkau, seorang Yahudi,
minta minum kepadaku, seorang Samaria?"
Maklum orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.
Jawab Yesus kepadanya,
"Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah
dan siapa Dia yang berkata kepadamu 'Berilah Aku minum'
niscaya engkau telah meminta kepada-Nya,
dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
Kata perempuan itu kepada-Nya,
"Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam;
dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub,
yang memberikan sumur ini kepada kami
dan ia sendiri telah minum dari dalamnya,
ia beserta anak-anak dan ternaknya?"
Jawab Yesus kepadanya,
"Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi!
Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya,
ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.
Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya,
akan menjadi mata air di dalam dirinya,
yang terus-menerus memancar sampai ke hidup yang kekal."
Kata perempuan itu kepada-Nya,
"Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus,
dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba."
[Setelah Yesus menyinggung masalah pribadi perempuan itu]
perempuan itu berkata kepada Yesus,
"Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini,
tetapi kamu katakan,
bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
Kata Yesus kepadanya,
"Percayalah kepada-Ku, hai perempuan,
saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa
bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal,
tetapi kami menyembah yang kami kenal,
sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Tetapi saatnya akan datang, dan sudah tiba sekarang,
bahwa para penyembah yang benar akan menyembah Bapa
dalam roh dan kebenaran,
sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian.
Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia,
harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Jawab perempuan itu,
"Aku tahu, bahwa Mesias, yang disebut juga Kristus, akan datang;
apabila datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
Kata Yesus kepadanya,
"Akulah Dia, yang sedang bercakap-cakap dengan engkau!"
Banyak orang Samaria dari kota itu
telah menjadi percaya kepada Yesus
karena perkataan perempuan itu.
Dan ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus,
mereka meminta kepada-Nya supaya Yesus tinggal pada mereka,
dan Yesus pun tinggal di situ dua hari lamanya.
Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya
karena perkataan Yesus,
dan mereka berkata kepada perempuan itu,
"Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan,
sebab kami sendiri telah mendengar Dia
dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan Injil
Bangsa Israel di padang gurun mengalami krisis yang sangat mendasar: mereka kehausan.
Tidak ada air.
Tidak ada sumber kehidupan.
Kehausan itu membuat mereka mulai bersungut-sungut kepada Musa, bahkan mempertanyakan: apakah Tuhan sungguh ada di tengah mereka atau tidak.
Di tempat itulah Allah menunjukkan kuasa dan kasih-Nya.
Musa diperintahkan memukul gunung batu, dan dari batu yang keras itu keluar air yang menyelamatkan kehidupan umat.
Peristiwa ini sebenarnya bukan hanya tentang air secara fisik.
Ini adalah gambaran tentang keadaan manusia ketika mengalami *kehausan hidup*.
Ada kalanya manusia merasa seperti berjalan di padang gurun:
hidup terasa berat,
hati terasa kering,
harapan terasa menipis.
Dalam situasi seperti itu, sering kali yang muncul justru keluhan, kekecewaan, bahkan pertanyaan yang sama seperti bangsa Israel dahulu:
"Tuhan, apakah Engkau sungguh ada di tengah hidupku?"
Injil hari ini membawa kita kepada kisah yang sangat menarik:
Yesus bertemu dengan seorang perempuan Samaria di sebuah sumur.
Perempuan itu datang untuk menimba air, tetapi Yesus justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:
tentang *air hidup*.
Yesus berkata,
"Barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya." [Yoh 4:14]
Yang dimaksud Yesus bukanlah air biasa.
Yang dimaksud adalah anugerah Allah yang memuaskan kehausan terdalam manusia.
Perempuan Samaria itu sebenarnya bukan hanya haus air.
Ia haus kasih.
Haus penerimaan.
Haus kehidupan yang baru.
Dan Yesus tahu itu.
Menariknya, Yesus tidak menolak perempuan itu meskipun hidupnya penuh luka dan dosa.
Justru kepada dialah Yesus pertama-tama mengungkapkan bahwa Ia adalah Mesias.
Di sinilah kita melihat sesuatu yang sangat indah:
Allah sering memberikan "air hidup" justru ketika manusia sedang mengalami kehausan yang paling dalam.
Bacaan kedua dari Rasul Paulus menegaskan hal ini dengan sangat kuat:
"Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus." [Rom 5:5]
Kasih Allah itu seperti air yang mengalir.
Ia menyegarkan hati yang kering,
menghidupkan kembali harapan yang hampir mati.
Bahkan Paulus mengatakan sesuatu yang luar biasa:
Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa.
Artinya, rahmat Allah tidak diberikan setelah kita sempurna.
Rahmat itu diberikan justru ketika kita sedang haus, lemah, dan membutuhkan pertolongan.
Pengalaman hidup sering kali mengajarkan hal yang sama.
Justru pada saat-saat ketika kita merasa paling lemah, paling bingung, atau paling kehilangan arah, di situlah kita sering merasakan bagaimana Tuhan membuka jalan, memberi kekuatan, atau menghadirkan orang-orang yang menolong kita.
Seolah-olah Tuhan berkata:
ketika engkau haus, Aku akan memberi air.
Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita menyadari satu hal penting:
manusia selalu memiliki kehausan yang tidak bisa dipuaskan oleh hal-hal duniawi.
Jabatan, uang, keberhasilan, atau penghargaan tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia.
Hanya Tuhan yang dapat memberikan *air hidup* yang memuaskan kehausan jiwa kita.
Karena itu, ketika hidup terasa seperti padang gurun, jangan berhenti percaya.
Justru pada saat seperti itulah Allah sering membuka sumber air yang baru dalam hidup kita.
Allah memberi air ketika manusia mengalami kehausan hidup.
Amin.
Peringatan Orang Kudus
Santo Yohanes de Deo, Pengaku Iman
Perjalanan hidup Yohanes hingga meraih mahkota kekudusan sungguh mengagumkan. la lahir di Montemor o Novo, Lisabon Timur, Portugal pada tanggal 8 Maret 1495. Nama julukannya 'Yohanes a Deo', yang berarti 'Yohanes yang diutus Allah' diberikan oleh Uskup dari Tuy, Spanyol karena karya pengabdiannya yang tulus bagi orang-orang miskin dan orang-orang sakit.
Di masa mudanya, ia tidak memperlihatkan tanda-tanda yang menunjukkan kesuciannya di kemudian hari. la sebaliknya menjalani suatu cara hidup yang tidak terpuji. Semasa kecilnya, ia pernah kabur dari rumah orang-tuanya dan lari ke Spanyol. Di sana ia menjadi seorang gembala. Kemudian ia menjadi tentara dalam perang melawan Prancis. Seusai perang itu, Yohanes menjadi anggota sebuah kelompok tentara yang ditugaskan untuk menyerang Turki. Keterlibatannya dalam perang-perang ini membuatnya tidak lagi memperhatikan kewajiban-kewajiban imannya.
Ketika berumur 40 tahun, ia bertobat dan kembali menjalankan kewajiban-kewajiban imannya. Untuk menebus dosa-dosanya ia pergi ke Afrika untuk membebaskan orang-orang Kristen yang dipenjarakan oleh orang-orang Moor. la bermaksud menjadi martir bagi orang-orang itu. Tetapi atas nasihat bapa pengakuannya, ia kembali ke Spanyol. la pergi ke Gilbraltar dan menyebarkan Injil dengan menjual buku-buku rohani dan gambar-gambar kudus. Dari Gilbraltar, ia berpindah ke Granada. Di sana ia mendirikan sebuah toko kecil yang menjual barang-barang kudus, dan rajin menjalankan kewajiban-kewajiban agama.
Awal kehidupannya sebagai 'manusia baru' di dalam Allah berawal dari sentuhan kotbah beato Yohanes dari Avilla. Kotbah ini sungguh menyadarkan dia akan kebejatan hidupnya di masa lampau. la sungguh menyesal bahkan sampai sakit dan harus berbaring di rumah sakit selama beberapa waktu.
Setelah sembuh, ia memutuskan untuk mengabdikan seluruh sisa hidupnya bagi kepentingan orang-orang miskin dan sakit di Granada. Untuk itu ia mengumpulkan orang-orang miskin dan sakit di rumahnya di bawah tanggungan dan perawatannya. Dengan bantuan para penderma lainnya, ia sungguh berhasil dalam karyanya. Semua orang mengakui pengabdiannya yang tulus itu, termasuk Uskup Agung Granada dan Uskup dari Tuy, Spanyol, yang memberinya julukan 'Yohanes a Deo'.
Sekali peristiwa, ia mendapati seorang orang miskin yang terkapar hampir mati di jalan yang dilaluinya. Segera ia membawa orang itu ke rumah sakit untuk merawatnya. Ketika ia memandikan orang itu, ia tertegun heran karena luka-luka tembusan paku pada kedua kaki orang itu memancarkan cahaya. Sementara itu ia mendengar seseorang berkata: "Yohanes, apa yang kaulakukan untuk orang-orang sakit dan miskin ini, kaulakukan juga untuk Aku". Lalu serta-merta orang sakit itu lenyap dari pandangannya. Orang sakit itu ternyata Yesus yang menampakkan diri pada Yohanes sebagai seorang sakit yang tak berdaya.
Yohanes meninggal pada tanggal 8 Maret 1550 di Granada, Spanyol Selatan. la digelari 'beato' pada tanggal 21 September 1638 oleh Paus Urbanus VIII, dan ditetapkan 'kudus' pada tanggal 16 Oktober 1690 oleh Paus Aleksander VIII, Kemudian pada tahun 1886 Paus Leo XIII mengangkatnya sebagai 'pelindung surgawi semua rumah sakit dan orang-orang sakit'.
Santo Filemon dan Apolonios, Martir
Menurut kisah kuno Filemon disuap oleh diakon Apolonios yang takut akan hukuman mati yang dijatuhkan atas dirinya, untuk membawa persembahan kepada dewa-dewa dengan mengenakan pakaiannya. Hal ini kiranya dapat mengelabui mata penguasa. Di pihak lain, Filemon sendiri tentu tidak berkeberatan karena ia masih kafir dan biasa membawa korban kepada dewa-dewa itu. Filemon menerima suap itu dan bersedia melakukan apa yang diminta Apolonios. Namun di muka mezbah dewa, Filemon tergerak oleh rahmat Allah sekonyong-konyong berubah pendiriannya dan mengaku beriman kepada Kristus. Menyaksikan hal itu Apolonios menyesali perbuatannya lalu bertobat. Mereka berdua kemudian dibunuh bersama karena imannya.
Santo Yulianus dari Toledo, Uskup
Semenjak masa mudanya, Yulianus mengikuti pendidikan di Toledo di bawah bimbingan Santo Eugenius II. Pendidikan itu berhasil menanamkan dalam dirinya benih panggilan hidup membiara.
la kemudian masuk biara di Agli, dekat Toledo. Pendidikan lanjutan di biara ini menghantarnya menjadi seorang ahli ilmu ketuhanan dan seorang pemimpin yang bijaksana. Bakat-bakatnya berkembang pesat. Di antara rekan-rekannya sebiara, ia dikenal rajin, ramah dan rendah hati. Karena itu, ia kemudian diangkat menjadi pemimpin biara Agli.
Pada tahun 680, Yulianus ditahbiskan menjadi Uskup Agung Toledo, Spanyol Tengah. la adalah uskup pertama yang memimpin seluruh negeri Spanyol. Sebagai seorang uskup dan ahli ilmu ketuhanan, ia memiliki kuasa dan pengaruh yang besar di seluruh Spanyol. Keuskupannya diaturnya dengan bijaksana. Selama masa kepemimpinannya, ia mengikuti beberapa konsili Gereja. Liturgi Mazarabic yang dipakai oleh semua orang Kristen Moor diperbaharuinya sehingga lebih berkenan di hati umat. la meninggal pada tahun 690.