Liturgia Verbi (A-II)
PW Hati Tak Bernoda SP Maria
Sabtu, 13 Juni 2026
PW S. Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja
Bacaan Pertama
Yes 61:9-11
"Aku bersukaria di dalam Tuhan."
Pembacaan dari Kitab Yesaya:
Beginilah firman Tuhan:
Keturunan umat-Ku akan terkenal di antara bangsa-bangsa,
dan anak cucu mereka di tengah-tengah suku-suku bangsa,
sehingga semua orang yang melihat mereka akan mengakui,
bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati Tuhan.
Aku bersukaria di dalam Tuhan,
jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku,
sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku
dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran,
seperti pengantin pria yang mengenakan hiasan kepala
dan seperti pengantin wanita memakai perhiasannya.
Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan,
dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan,
demikianlah Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa.
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan
1Sam 2:1.4-5.6-7.8abcd,R:1a
Refren: Hatiku bersukaria karena Tuhan, Juru Selamatku.
*Hatiku bersukaria karena Tuhan,
tanduk kekuatanku ditinggikan oleh Tuhan;
mulutku mencemoohkan musuhku,
sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.
*Busur para pahlawan telah patah,
tetapi orang-orang lemah dipersenjatai kekuatan.
Orang yang dahulu kenyang kini harus mencari nafkah,
tetapi yang dulu laparkini boleh beristirahat.
Orang yang mandul melahirkan tujuh anak,
tetapi ibu yang banyak anaknya, menjadi layu.
*Tuhan berkuasa mematikan dan menghidupkan,
Ia berkuasa menurunkan ke dalam maut
dan mengangkat dari sana.
Tuhan membuat miskin dan membuat kaya,
Ia merendahkan dan meninggikan juga.
*Ia menegakkan orang hina dari dalam debu,
dan mengangkat orang miskin dari lumpur,
untuk mendudukkannya di antara para bangsawan,
dan memberi dia kursi kehormatan.
Bait Pengantar Injil
Berbahagialah engkau, Perawan Maria,
sebab sabda Allah kausimpan dalam hati,
kaurenungkan dan kauresapkan.
Bacaan Injil
Luk 2:41-51
"Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Tiap-tiap tahun, pada hari raya Paskah,
orang tua Yesus pergi ke Yerusalem.
Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun,
pergilah mereka ke Yerusalem
seperti lazimnya pada hari raya itu.
Selesai hari-hari perayaan itu,
ketika mereka berjalan pulang,
tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.
Karena mereka menyangka
bahwa Yesus ada di antara orang-orang seperjalanan mereka,
berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya,
lalu baru mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan.
Karena tidak menemukan Dia,
kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
Sesudah tiga hari,
mereka menemukan Yesus dalam Bait Allah;
Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama,
sambil mendengarkan mereka,
dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
Semua orang yang mendengar Dia
sangat heran akan kecerdasan
dan segala jawab yang diberikan-Nya.
Ketika Maria dan Yusuf melihat Dia, tercenganglah mereka.
Lalu kata ibu-Nya kepada-Nya,
"Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami?
Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau."
Jawab Yesus kepada mereka,
"Mengapa kamu mencari Aku?
Tidakkah kamu tahu
bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?"
Tetapi mereka tidak mengerti
apa yang dikatakan Yesus kepada mereka.
Lalu Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret;
dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.
Dan Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan Injil
Renungan *The Power of Word*
Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara se-iman dalam Kasih Kristus,
Hari ini Gereja memperingati Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria.
Peringatan ini sangat indah,
karena Gereja mengajak kita bukan hanya menghormati Maria,
tetapi juga belajar dari hati Maria.
Hati yang tak bernoda bukan berarti hati yang tidak pernah merasakan sedih.
Bukan juga hati yang selalu mengerti semua rencana Tuhan sejak awal.
Justru dalam Injil hari ini kita melihat,
Maria juga mengalami kegelisahan.
Maria dan Yusuf mencari Yesus selama tiga hari.
Bayangkan perasaan seorang ibu,
ketika anaknya tidak ditemukan.
Pastilah cemas, bingung, dan ada rasa takut.
Ketika akhirnya Yesus ditemukan di Bait Allah,
Maria berkata,
“Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami?
Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”
Kalimat ini sangat manusiawi.
Maria tidak berpura-pura tenang.
Maria tidak menyembunyikan kecemasannya.
Maria menyampaikan isi hatinya dengan jujur.
Tetapi yang luar biasa,ketika Yesus menjawab,
Maria belum sepenuhnya mengerti.
Namun Injil mencatat,
Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
Inilah yang saya rasa menjadi inti permenungan kita hari ini.
Iman tidak selalu berarti kita langsung mengerti.
Iman tidak selalu berarti semua menjadi terang seketika.
Kadang-kadang kita sudah berdoa, tetapi jawabannya belum jelas.
Kita sudah berusaha setia, tetapi jalan hidup masih terasa membingungkan.
Kita sudah mencari Tuhan, tetapi seolah-olah Tuhan diam.
Dalam situasi seperti itu,
Maria mengajar kita untuk tidak cepat-cepat menyimpulkan,
tidak cepat-cepat kecewa, dan tidak cepat-cepat meninggalkan Tuhan.
Maria menyimpan semuanya di dalam hati.
Bukan menyimpan luka untuk dipelihara.
Bukan menyimpan kecewa untuk dibesarkan.
Tetapi menyimpan peristiwa hidup,
agar pelan-pelan diterangi oleh sabda Tuhan.
Di sinilah Hati Tak Bernoda Maria menjadi teladan bagi kita.
Hati Maria adalah hati yang bersih,
karena tidak dikuasai oleh prasangka buruk terhadap Tuhan.
Hati Maria adalah hati yang lembut,
karena tetap percaya meskipun belum mengerti.
Hati Maria adalah hati yang setia,
karena tetap berjalan bersama Yesus,
dari Nazaret sampai Kalvari.
Dalam hidup kita,
seringkali yang membuat hati kita menjadi keruh
bukan karena masalah yang kita hadapi, tetapi cara kita menyimpan masalah itu.
Ada orang menyimpan masalah sebagai kemarahan.
Ada yang menyimpannya sebagai dendam.
Ada yang menyimpannya sebagai kekecewaan yang terus diputar ulang.
Ada juga yang menyimpannya sebagai alasan untuk menjauh dari Tuhan.
Maria mengajarkan kita jalan yang berbeda.
Simpanlah dalam hati, tetapi bawalah kepada Tuhan.
Renungkanlah, tetapi jangan biarkan hati menjadi pahit.
Bertanyalah, tetapi tetaplah percaya.
Menangislah bila perlu, tetapi jangan berhenti mencari Yesus.
Mungkin hari ini ada di antara kita
yang sedang tidak mengerti jalan hidupnya sendiri.
Ada rencana yang berubah.
Ada doa yang belum dijawab.
Ada orang yang kita kasihi yang membuat kita cemas.
Ada pelayanan, keluarga, pekerjaan, atau pergumulan pribadi
yang membuat hati kita terasa penuh.
Hari ini Bunda Maria seakan berkata kepada kita,
jangan takut membawa semuanya ke dalam hati,
asal hati itu tetap terbuka kepada Tuhan.
Sebab hati yang terbuka kepada Tuhan, pelan-pelan akan disembuhkan.
Hati yang setia merenungkan sabda Tuhan, pelan-pelan akan dimurnikan.
Dan hati yang tidak berhenti mencari Yesus,
pada waktunya akan menemukan Dia kembali,
di tempat yang paling benar, yaitu di rumah Bapa.
Semoga pada Peringatan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria ini,
kita belajar memiliki hati yang lebih bening, lebih sabar, lebih percaya,
dan lebih siap dibentuk oleh Tuhan.
Amin.
Peringatan Orang Kudus
Santo Antonius dari Padua, Imam dan Pujangga Gereja
Sebelum masuk biara, Antonius bernama Ferdinand.
Ia lahir di Lisabon, Portugal pada tahun 1195.
Sejak masa mudanya, ia sangat tertarik pada doa, studi dan pekerjaan-pekerjaan rohani bagi kepentingan jiwajiwa.
la masuk Ordor Santo Agustinus di Koimbra dan ditahbiskan menjadi imam.
Setelah beberapa waktu berkarya, ia pindah ke Ordo Saudara-saudara Dina atau Fransiskan, terdorong oleh teladan para martir Fransiskan.
Ia menerima jubah Ordo Fransiskan dan mendapat nama baru Antonius.
Sebagai seorang Fransiskan muda, Antonius dikirim ke Afrika.
Tetapi karena kesehatannya terus terganggu, ia kemudian kembali lagi ke biara pusat. Di sana selain kegiatan doa dan belajar, ia dengan senang hati mengerjakan tugas-tugas rumah yang paling hina.
Pada tahun 1221 ia juga mengikuti kapitel di Asisi yang dipimpin langsung oleh Santo Fransiskus sendiri.
Pada kesempatan itu, ia diminta untuk berkhotbah. Semua saudaranya kagum akan khotbahnya yang menarik dan mendalam itu.
Sejak itulah, Antonius mulai dikenal sebagai seorang ahli ilmu ketuhanan dan pujangga yang pandai.
Ia diutus untuk berkhotbah kepada umat di Prancis, Italia dan Sisilia.
Paus Gregorius yang pernah mendengarkan khotbahnya sangat kagum dan lalu memberinya gelar "ahli Kitab Suci" karena khotbahnya yang bernafaskan ayat-ayat Kitab Suci yang mengena dan jitu.
Pengajarannya yang penuh semangat cinta kepada Tuhan dan sesama membawa hasil yang luar biasa.
Banyak penganut aliran sesat bertobat kembali oleh karena khotbah-khotbahnya.
Pada tahun 1231 ia meninggal dunia di Padua dalam usia 36 tahun.
Sejak wafatnya banyak orang beriman meminta bantuannya.
Mujizat-mujizat yang terjadi oleh perantaraannya terjadi di mana-mana.
Ketika Sri Paus Pius XII (1939-1958) meresmikan penggelaran Antonius sebagai "Pujangga Gereja", ia mengatakan bahwa semua ajaran yang disampaikan santo ini berjiwakan Injil suci.
Perantaraannya amat berkuasa menemukan kembali barang yang hilang terutama untuk kembalinya rahmat pengudus yang hilang karena dosa.