Liturgia Verbi 2026-11-05 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI

Kamis, 5 November 2026



Bacaan Pertama
Flp 3:3-8a

"Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku,
sekarang kuanggap merugikan karena Kristus."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:

Saudara-saudara, kitalah orang-orang bersunat,
yaitu kita yang beribadah oleh Roh Allah,
yang bermegah dalam Kristus Yesus
dan tidak menaruh kepercayaan pada hal-hal lahiriah.
Meskipun demikian sebenarnya aku mempunyai alasan
untuk menaruh kepercayaan pada hal-hal lahiriah.

Kalau orang lain menyangka dapat mengandalkan hal-hal lahiriah,
aku lebih lagi:
aku disunat pada hari kedelapan,
aku seorang Israel, dari suku Benyamin,
aku seorang Ibrani asli;
mengenai pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi;
mengenai kegiatanku dalam agama Yahudi aku penganiaya jemaat,
mengenai kebenaran dalam mentaati hukum Taurat
aku tidak bercacat.

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku,
sekarang kuanggap merugikan karena Kristus.
Malahan segala sesuatu kuanggap rugi
karena aku telah berkenalan dengan Kristus Yesus, Tuhanku,
sebab hal itu lebih mulia dari segala-galanya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 105:2-3.4-5.6-7,R:3b

Refren: Biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan.

*Bernyanyilah bagi Tuhan, bermazmurlah bagi-Nya,
percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!
Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus,
biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan.

*Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya,
carilah selalu wajah-Nya!
Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya,
mujizat dan ketetapan-ketetapan yang diucapkan-Nya,

*Hai anak cucu Abraham, hamba-Nya,
hai anak-anak Yakub, pilihan-Nya!
Dialah Tuhan, Allah kita,
ketetapan-Nya berlaku di seluruh bumi.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:28

Datanglah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat.
Aku akan memberikan kelegaan kepada kalian.



Bacaan Injil
Luk 15:1-10

"Akan ada sukacita di Surga karena satu orang berdosa yang bertobat."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa
biasanya datang kepada Yesus
untuk mendengarkan Dia.
Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat,
katanya,
"Orang ini menerima orang-orang berdosa
dan makan bersama dengan mereka."

Maka Yesus menyampaikan perumpamaan berikut kepada mereka,
"Siapakah di antaramu
yang mempunyai seratus ekor domba lalu kehilangan seekor,
tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun
dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
Dan kalau telah menemukannya,
ia lalu meletakkannya di atas bahu dengan gembira.
Setibanya di rumah
ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya
serta berkata,
'Bersukacitalah bersama aku,
sebab dombaku yang hilang telah kutemukan.'

Aku berkata kepadamu,
demikian juga akan ada sukacita di surga
karena satu orang berdosa yang bertobat,
lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar
yang tidak memerlukan pertobatan.

Atau wanita manakah yang mempunyai sepuluh dirham,
lalu kehilangan satu di antaranya,
tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah
serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?
Dan kalau telah menemukannya,
ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata,
'Bersukacitalah bersama aku,
sebab dirhamku yang hilang telah kutemukan.'

Aku berkata kepadamu,
demikian juga akan ada sukacita pada malaikat Allah
karena satu orang berdosa yang bertobat."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.jpeg



Renungan Injil
Tiap-tiap tanggal 5 dan 13 giliran saya membawakan renungan *The Power of Word*.

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara seiman dalam Kasih Kristus,
Pernahkah kita membayangkan, apa yang bisa membuat seisi Surga bersukacita?
Mungkin kita berpikir tentang sesuatu yang sangat besar dan luar biasa.
Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

*"Akan ada sukacita di Surga karena satu orang berdosa yang bertobat."*
Perhatikan, Yesus mengatakan *satu orang*.
Hanya satu orang berdosa yang bertobat, sudah mendatangkan sukacita di Surga.
Betapa berharganya pertobatan satu orang di mata Tuhan!

Dalam Injil, Yesus menceritakan tentang seorang gembala yang memiliki seratus ekor domba. Ketika satu ekor hilang, ia pergi mencarinya sampai ditemukan. Lalu dengan penuh kegembiraan, ia mengangkat domba itu ke bahunya dan membawanya pulang.

Seorang yang bertobat itu seperti seekor domba yang hilang dan ditemukan kembali. Betapa besar sukacita sang gembala ketika berhasil menemukan dombanya yang hilang. Demikian pula sukacita di Surga ketika seorang berdosa kembali kepada Tuhan melalui pertobatannya.

Yesus juga menceritakan seorang perempuan yang kehilangan satu dari sepuluh dirham miliknya. Ia menyalakan pelita, menyapu rumah, dan mencari dengan cermat sampai menemukannya.

Ketika domba dan dirham yang hilang itu ditemukan, pemiliknya begitu gembira sampai mengajak orang lain untuk ikut bersukacita.
Melalui kedua perumpamaan ini, Yesus ingin menunjukkan betapa berharganya setiap manusia di hadapan Allah.
Termasuk kita, dengan segala kelemahan dan dosa kita.

Adik-adik, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara seiman dalam Kasih Kristus,
Coba kita renungkan kehidupan kita sendiri.
Mungkin selama ini kita menyimpan penyesalan atas kesalahan yang pernah kita lakukan.
Mungkin kita sudah berkali-kali berusaha meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi masih saja jatuh dalam kesalahan yang sama.
Bahkan, mungkin ada di antara kita yang mulai berpikir, "Saya ini sudah terlalu banyak berdosa. Apakah Tuhan masih mau menerima saya?"

Melalui Injil hari ini, Yesus memberikan jawaban yang sangat menguatkan.
Tuhan begitu mengasihi kita. Ia menghendaki kita kembali kepada-Nya, dan pertobatan kita mendatangkan sukacita di Surga.

*Jangan pernah menganggap pertobatanmu tidak berarti. Ketika engkau sungguh bertobat, Surga bersukacita karenamu.*

Betapa luar biasanya kasih Tuhan!

Namun, ada satu hal penting yang perlu kita pahami.
Pertobatan membutuhkan lebih dari sekadar perasaan menyesal.
Kita perlu berani mengakui kesalahan, memohon pengampunan, dan sungguh-sungguh berusaha memperbaiki hidup, serta berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa yang sama.
Kalau selama ini kita mudah menyakiti orang lain melalui perkataan, mulailah menjaga ucapan kita.
Kalau kita pernah berlaku tidak jujur, beranilah memperbaikinya.
Kalau kita menyimpan kebencian, belajarlah mengampuni.
Dan kalau kita sudah lama menjauh dari Tuhan, kembalilah mendekat kepada-Nya, termasuk melalui Sakramen Tobat.

Mungkin perubahan itu tidak mudah. Mungkin kita masih harus berjuang menghadapi kelemahan yang sama.
Tetapi jangan menyerah. Teruslah memohon kekuatan Tuhan dan melangkah di jalan pertobatan.
Ada satu hal yang ingin saya ajak kita renungkan lebih dalam.

Kita sering ingin melakukan sesuatu yang besar untuk menyenangkan hati Tuhan. Padahal, mungkin yang paling Tuhan nantikan dari kita saat ini adalah kesediaan untuk meninggalkan satu dosa yang terus kita pertahankan.

Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing:
Dosa atau kebiasaan buruk apa yang selama ini paling sulit kita tinggalkan?
Sudah berapa lama Tuhan mengingatkan kita untuk berubah, tetapi kita terus menundanya?
Dan sampai kapan kita mau menunggu?

Ingatlah, kesempatan untuk bertobat masih terbuka selama kita hidup di dunia ini. Jangan menyia-nyiakannya.
Satu orang berdosa yang bertobat mendatangkan sukacita di Surga.
Dan satu orang itu bisa jadi adalah kita sendiri.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa dan Santo Elisabeth dan Zakarias
Elisabeth adalah istri Zakaria-seorang imam Israel dari kelompok Abia (bdk. 1Taw. 24:10, Luk. 1:5)-dan ibu kandung Santo Yohanes Pemandi. Keduanya berasal dari keturunan Harun (ay. 5) dan hidup pada masa pemerintahan Herodes di wilayah Yudea. Di hadapan Tuhan, mereka hidup saleh dan benar, tanpa cela menghayati dan melaksanakan hukum Musa. Sayangnya, mereka tidak dikaruniai anak hingga mereka lanjut usia. Dari sudut pandang Yahudi, hal ini merupakan aib bagi mereka. Namun, inilah rahasia Tuhan di luar batas pemahaman manusia. Karena melalui mereka Tuhan kemudian menunjukkan secara lebih tandas kuasa-Nya atas hidup manusia. Melalui mereka Tuhan mau melaksanakan rencana keselamatan- Nya atas manusia yang akan dijalankan sendiri oleh Putra-Nya. Ternyata dari kedua orang kudus ini, Tuhan mengaruniakan seorang nabi besar, Yohanes Pemandi, pendahulu Yesus, Sang Mesias.

Injil menceritakan bahwa Elisabeth adalah sanak Santa Maria, Bunda Yesus. Namun, hubungan itu tidak diketahui secara jelas dan pasti (ay. 36). Hubungannya dengan Maria, Ibu Yesus diceritakan di dalam kisah kunjungan Maria kepada Elisabeth sebelum kelahiran Yesus (ay. 39).



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-11-04 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI

Rabu, 4 November 2026

PW S. Karolus Borromues, Uskup



Bacaan Pertama
Flp 2:12-18

"Kerjakanlah keselamatanmu.
Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu
baik kemauan maupun pelaksanaan."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:

Saudara-saudara kekasih, kalian senantiasa taat.
karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu
dengan takut dan gentar,
bukan saja seperti waktu aku masih hadir,
tetapi lebih-lebih sekarang waktu aku tidak hadir.
Sebab Allahlah yang mengerjakan dalam dirimu
baik kemauan maupun pelaksanaan menurut kerelaan-Nya.

Lakukanlah segala sesuatu
tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,
supaya kalian tiada beraib dan tiada bernoda,
sebagai anak-anak Allah yang tak bercela
di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya
dan yang sesat ini.
Maka kalian akan bercahaya di antara mereka
seperti bintang-bintang di dunia,
sambil berpegang pada sabda kehidupan.
Dengan demikian aku dapat bermegah pada hari Kristus,
bahwa tidak sia-sialah aku berlomba dan berjerih-payah.
Tetapi
sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadah imanmu,
aku bergembira dan aku bersukacita bersama kalian.
Dan kalian pun hendaknya bergembira dan bersukacita bersama aku.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 27:1.4.13-14,R:1a

Refren: Tuhan adalah terang dan keselamatanku.

*Tuhan adalah terang dan keselamatanku,
kepada siapakah aku harus takut?
Tuhan adalah benteng hidupku,
terhadap siapakah aku harus gentar?

*Satu hal telah kuminta kepada Tuhan,
saatu inilah yang kuingini:
diam di rumah Tuhan seumur hidupku,
menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.

*Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan
di negeri orang-orang yang hidup!
Nantikanlah Tuhan!
Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!
Ya, nantikanlah Tuhan!



Bait Pengantar Injil
1Ptr 4:14

Berbahagialah kalian, bila dinista karena nama Kristus,
sebab Roh Allah ada padamu.



Bacaan Injil
Luk 14:25-33

"Yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya
tidak dapat menjadi murid-Ku."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Pada suatu ketika
orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Sambil berpaling Yesus berkata kepada mereka,
"Jika seorang datang kepada-Ku
dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya,
saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri,
ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku,
ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antaramu, yang mau membangun sebuah menara,
tidak duduk membuat anggaran belanja dahulu,
apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Jangan-jangan sesudah meletakkan dasar
ia tidak dapat menyelesaikannya.
Lalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata,
'Orang itu mulai membangun, tetapi tidak dapat menyelesaikannya.'

Atau raja manakah yang hendak berperang melawan raja lain,
tidak duduk mempertimbangkan dulu
apakah dengan sepuluh ribu orang ia dapat melawan musuh
yang datang menyerang dengan dua puluh ribu orang?
Jika tidak dapat, ia akan mengirim utusan selama musuh masih jauh
untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

Demikianlah setiap orang di antaramu
yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya,
tidak dapat menjadi murid-Ku."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan perkataan yang cukup mengejutkan. Barangsiapa ingin menjadi murid-Nya harus bersedia membenci ayah, ibu, istri, anak-anak, saudara-saudari, bahkan nyawanya sendiri. Mengapa Yesus yang selalu mengajarkan kasih justru meminta kita membenci orang-orang yang paling kita kasihi?

Kita perlu memahami perkataan Yesus ini dengan benar. Kata "membenci" merupakan ungkapan yang sangat tegas untuk menunjukkan prioritas kasih. Yesus menghendaki agar kita menempatkan kasih dan kesetiaan kepada-Nya di atas segala sesuatu, termasuk keluarga dan kepentingan pribadi.

Dalam Matius 10:37, Yesus memperjelas maksud-Nya. Barangsiapa mengasihi ayah, ibu, atau anak-anaknya melebihi Dia, tidak layak menjadi murid-Nya. Dengan demikian, kita diajak untuk memeriksa siapa yang sesungguhnya menempati tempat tertinggi dalam hati kita.

Mengasihi Tuhan di atas segalanya tidak mengurangi kewajiban kita mengasihi keluarga. Justru kasih kepada Tuhan seharusnya membuat kita semakin mampu mengasihi mereka dengan benar, membimbing mereka dalam kebaikan, dan berani mengingatkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi pilihan yang menguji kesetiaan kepada Tuhan.

Karena begitu menyayangi anak, orang tua terkadang selalu membela dan membenarkan kesalahannya. Mereka takut anaknya kecewa atau marah. Padahal, membiarkan anak terus melakukan kesalahan justru dapat merugikan masa depannya.

Demi menyenangkan pasangan, seseorang mungkin bersedia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Ada pula yang memilih menutupi ketidakjujuran demi menjaga nama baik keluarga. Kita merasa sedang melindungi orang yang kita kasihi, padahal sesungguhnya kita sedang membiarkan mereka semakin jauh dari kebenaran.

Bahkan terhadap diri sendiri, kita sering menghadapi pergumulan serupa. Kita mengetahui bahwa Tuhan menghendaki kita mengampuni, tetapi harga diri membuat kita terus menyimpan dendam. Kita mengetahui bahwa kita harus berlaku jujur, tetapi takut kehilangan keuntungan. Kita ingin mengikuti Tuhan, namun masih enggan meninggalkan kenyamanan dan kebiasaan buruk.

Yesus juga mengatakan bahwa siapa pun yang ingin mengikuti-Nya harus bersedia memikul salib. Artinya, menjadi murid Kristus membutuhkan kesungguhan dan kesiapan menghadapi konsekuensi dari pilihan kita. Terkadang kita harus berani mengecewakan orang yang kita kasihi demi tetap melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.

Kasih kita kepada Tuhan diuji ketika kita harus memilih antara menyenangkan orang yang kita kasihi dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Pilihan seperti ini memang tidak selalu mudah. Namun, kasih sejati juga membutuhkan keberanian untuk mengatakan yang benar, sekalipun kebenaran itu terasa menyakitkan.

Marilah kita memeriksa hati kita masing-masing. Selama ini, siapakah yang lebih kita utamakan? Sudahkah kehendak Tuhan menjadi pegangan utama dalam setiap keputusan kita? Ataukah kita masih lebih takut mengecewakan manusia daripada mengecewakan Tuhan?

Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Karolus Boromeus, Uskup dan Pengaku Iman
Karolus Boromeus lahir di Rocca d'Arona, tepi danau Maggiore pada tanggal 2 Oktober 1538. la adalah putera kedua dari Giberto Berromeo dan Margherita de'Medici, saudari Paus Pius IV (1846-1878). Di kemudian hari ia menjadi Kardinal dan Uskup Agung Milano serta tokoh utama usaha pembaharuan Tridentine. Dari seluruh kisah kehidupannya dan karyanya dapat dikatakan bahwa Karolus sudah ditentukan Tuhan sajak lahirnya untuk menjadi pelayan Allah bagi kemajuan GerejaNya.
Kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Reformasi Protestan, Tuhan menggerakkan Karolus Boromeus untuk membantu paus dalam usahanya menangkal segala sepak terjang para penganut Protestan. Dalam usia yang masih sangat muda (22 tahun), Karolus diangkat menjadi Kardinal oleh pamannya Paus Pius IV (1846-1878). la menjabat sebagai Sekretaris Negara dan menjadi orang terkuat di Kuria Roma. Ia tekun belajar hingga larut malam.
Setelah kakaknya meninggal mendadak, ia memutuskan mengikuti suatu retret khusus. Kemudian ia menjadi imam dan mulai hidup sangat sederhana. Sehari-hari ia berdoa berjam-jam dan menjalani matiraga keras. Kekayaannya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin; jumlah pelayanannya diperkecil, dan banyak dana disisihkannya untuk memberikan beasiswa.
Ia dikenal sebagai salah seorang pemeran utama Konsili Trente, bahkan keberhasilan Konsili itu merupakan hasil jerih payahnya. Ia berusaha keras meneruskan Konsili Trente dan mendesak agar keputusan-keputusan Konsili itu dilaksanakan. Dalam hubungan itu ia meminta paus agar ia dibebaskan dari tugasnya di Kuria Roma untuk membaharui keuskupannya, keuskupan Milano. Meskipun masih muda belia, Karolus sangat menyadari kebutuhan umatnya jaman itu. Di masa itu hidup keagamaan amat Parah: banyak anak tidak mengenal Tuhan, bahkan membuat tanda salib saja pun tidak bisa; gereja-gereja sepi dari kunjungan umat, bahkan ada gereja yang diubah menjadi toko atau bangsal pesta. Para imam tidak bisa berkotbah karena tak terdidik baik dalam hal pewartaan iman.
Karolus mengambil bagian di dalam sidang-sidang terakhir Konsili Trente, yang membahas pembaharuan Gereja. Lalu ia mulai bekerja sekuat tenaga untuk membaharui keuskupannya. Mula-mula ia menegaskan agar staf keuskupan menghayati suatu corak hidup yang lebih mencerminkan status mereka sebagai rohaniwan. Ia sendiri memberi teladan serta bersemangat doa, rajin mengaku dosa, berpuasa dan hidup sederhana. Berulang kali ia mengunjungi paroki-paroki, menyelenggarakan rapat dengan para pastor, mengajar agama dan berkhotbah.
Pada tahap awal, usahanya hampir kandas karena ia tidak bisa berbicara dengan lancar. Tetapi ia pantang menyerah dan senantiasa berbicara dengan penuh keyakinan. Untuk memberantas kebutaan anakanak dalam hal keagamaan, ia mendirikan 'sekolah-sekolah minggu'. Ia membuka seminari-seminari keuskupan untuk menggembleng para calon imam yang tangguh. Itulah seminari model pertama. Dengan usaha usahanya itu, ia berhasil menyalakan api semangat Kristiani dalam hati umatnya dan membuat Kristus dicintai lagi.
Pengaruhnya tidak terbatas di dalam wilayahnya sendiri. Terbukti pada tahun 1576, ketika Milano terserang wabah sampar yang ganas, tempat tinggalnya dijadikan sebagai rumah sakit. Ia sendiri melayani sebagai perawat dan pembimbing rohani para pasien. Selain itu, ia masih juga menangani tugas-tugas berat lainnya: ia banyak mengadakan kunjungan-kunjungan ke wilayah-wilayah yang lain seperti Italia, Switzerland dan lain-lain dalam usaha mengatasi kerisauan di dalam tubuh Gereja akibat Reformasi Protestan dan timbulnya bidaah-bidaah. Ia berusaha memekarkan kembali kehidupan menggereja di daerah-daerah yang telah lemah semangat imannya. Namun ada saja orang yang menentang kebijaksanaannya. Beberapa biarawan yang tidak mau ditertibkan berusaha melawan melalui pembunuh bayaran. Untunglah ia selamat. Ia disukai umat dan dianggap sebagai penyelamat kota Milano. Pemerintah sendiri, yang seharusnya merasa beruntung dan oleh sebab itu harus berterimakasih kepada Karolus, kurang menyukainya, malahan memfitnahnya. Untunglah ia dilindungi oleh paus. Memang berbuat baik amat banyak cobaan dan rintangannya. Dunia sepertinya iri hati atas semua keberhasilannya. Namun iman dan ketabahannya tetap membuat Karolus berdiri tegak dalam prinsipnya. Pekerjaan berat ditambah penderitaan-penderitaan tersebut merongrong kesehatannya. Ia wafat di Milano pada tanggal 3 Nopember 1584.

Santo Emerik, Pengaku Iman
Emerik adalah putera Raja Santo Stefanus dari Hungaria (997-1038). Ia lahir pada tahun 1007 dan meninggal dunia pada tahun 1031. Beliau adalah pewaris takhta kerajaan ayahnya. Namun sayang sekali karena ia meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda dalam suatu kecelakaan sewaktu berburu di hutan. Sangat sedikit berita diketahui tentang hidupnya, kecuali bahwa ia dikuburkan di Szekesfehervar, Hungaria dan dinyatakan 'kudus' bersama ayahnya pada tahun 1083.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-11-03 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXXI

Selasa, 3 November 2026

PF S. Martinus de Porres, Biarawan



Bacaan Pertama
Flp 2:5-11

"Yesus telah merendahkan diri, maka Ia diagungkan oleh Allah."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:

Saudara-saudara,
dalam hidup bersama
hendaklah kalian bersikap seperti Kristus Yesus.
Walaupun dalam rupa Allah,
Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan.
Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri
dan mengambil rupa seorang hamba
dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat,
bahkan sampai wafat di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia
dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lututlah
segala yang ada di langit, yang ada di atas dan di bawah bumi,
dan bagi kemuliaan Allah Bapa,
semua lidah mengakui "Yesus Kristus adalah Tuhan."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 22:26b-30a.31-32,R:26a

Refren: Aku melambungkan puji-pujian
di tengah jemaat yang besar, ya Tuhan.

*Nazarku akan kubayar di depan orang-orang yang takwa.
Orang miskin akan makan sampai kenyang,
orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia;
biarlah hati mereka hidup untuk selamanya!

*Segala ujung bumi akan menjadi sadar,
lalu berbalik kepada Tuhan;
segala rumpun bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.
Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan,
Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.
Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah
semua orang sombong di bumi.

*Dan aku akan hidup bagi Tuhan,
anak cucuku akan beribadah kepada-Nya.
Mereka akan menceritakan hal-ikhwal Tuhan
kepada angkatan yang akan datang.
Dan menuturkan keadilan-Nya
kepada bangsa yang akan lahir nanti.
Semua itu telah dikerjakan oleh Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:28

Datanglah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat.
Aku akan memberi kelegaan kepada kalian.



Bacaan Injil
Luk 14:15-24

"Pergilah ke semua jalan dan persimpangan
dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk,
karena rumahku harus penuh."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Pada waktu itu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi.
Sementara perjamuan berlangsung,
seorang dari tamu-tamu berkata kepada Yesus,
"Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."

Tetapi Yesus berkata kepadanya,
"Ada seorang mengadakan perjamuan besar.
Ia mengundang banyak orang.
Menjelang perjamuan dimulai,
ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan,
'Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.'
Tetapi mereka semua minta dimaafkan.
Yang pertama berkata,
'Aku baru membeli ladang dan harus pergi melihatnya;
aku minta dimaafkan.'
Yang lain berkata,
'Aku baru membeli lima pasang lembu kebiri
dan aku harus pergi mencobanya;
aku minta dimaafkan.'
Yang lain lagi berkata,
'Aku baru saja menikah,
dan karena itu aku tidak dapat datang.'

Maka kembalilah hamba itu
dan menyampaikan semua itu kepada tuannya.
Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya,
'Pergilah segera ke segala jalan dan lorong kota
dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan cacat,
orang-orang buta dan lumpuh.'
Kemudian hamba itu melaporkan,
'Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan.
Sekalipun demikian, masih ada tempat.'
Maka tuan itu berkata,
'Pergilah ke semua jalan dan persimpangan
dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk,
karena rumahku harus penuh.'

Sebab Aku berkata kepadamu,
Tidak ada seorang pun dari para undangan itu
akan menikmati jamuan-Ku."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan tentang seorang yang mengadakan perjamuan besar dan mengundang banyak orang. Ketika semuanya sudah siap, para undangan justru menyampaikan berbagai alasan untuk tidak hadir. Ada yang baru membeli ladang, ada yang baru membeli lembu, dan ada pula yang baru menikah.

Sekilas, alasan mereka terdengar masuk akal. Mereka mempunyai urusan yang perlu diselesaikan. Namun, melalui perumpamaan ini, Yesus mengingatkan kita tentang bahaya ketika berbagai kesibukan membuat kita mengabaikan undangan Tuhan.

Coba kita perhatikan kehidupan kita sendiri. Setiap hari kita disibukkan dengan pekerjaan, urusan keluarga, kegiatan sosial, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Sejak bangun pagi sampai menjelang tidur, seolah-olah selalu ada sesuatu yang harus kita kerjakan.

Terkadang kita begitu sibuk sampai tidak sempat berdoa. Membaca Kitab Suci terasa sulit karena banyak pekerjaan. Bahkan untuk mengikuti Ekaristi pun, kita bisa menemukan berbagai alasan untuk tidak hadir.

Padahal, untuk hal-hal yang kita anggap penting, biasanya kita berusaha menyediakan waktu. Kita rela bangun lebih pagi untuk mengejar penerbangan. Kita sanggup mengubah jadwal demi menghadiri pertemuan penting. Kita bahkan bisa meluangkan waktu berjam-jam untuk menikmati hiburan atau melakukan sesuatu yang kita sukai.

Lalu, mengapa untuk Tuhan kita sering merasa tidak punya waktu?

Pertanyaan ini layak kita renungkan dengan sungguh-sungguh. Mungkin persoalannya bukan terletak pada seberapa sibuknya kita, melainkan pada bagaimana kita menempatkan Tuhan dalam kehidupan kita.

Tuhan telah memberikan begitu banyak kepada kita. Kehidupan, kesehatan, keluarga, kemampuan bekerja, dan berbagai kesempatan yang kita nikmati adalah anugerah-Nya. Namun, terkadang kita justru lebih sibuk mengurus anugerah-anugerah itu sampai melupakan Dia yang memberikannya.

Melalui perumpamaan ini, Yesus juga menunjukkan bahwa undangan Tuhan sungguh berharga. Ketika para undangan pertama menolak, tuan rumah membuka pintunya bagi orang-orang lain. Perjamuan tetap berlangsung, tetapi mereka yang menolak kehilangan kesempatan untuk menikmatinya.

Demikian pula dalam kehidupan iman kita. Tuhan terus mengundang kita untuk semakin dekat dengan-Nya. Undangan itu hadir melalui Sabda-Nya, perayaan Ekaristi, suara hati, dan kesempatan untuk mengasihi sesama. Namun, tanggapan terhadap undangan itu memerlukan keputusan dari diri kita sendiri.

Kita perlu belajar mengatur kembali prioritas hidup. Pekerjaan tetap harus diselesaikan, keluarga tetap harus diperhatikan, dan tanggung jawab tetap harus dijalankan. Semuanya dapat kita lakukan sambil menjaga hubungan yang akrab dengan Tuhan.

Mulailah dari hal-hal sederhana. Sediakan waktu untuk berdoa setiap hari. Bacalah dan renungkan Sabda Tuhan. Usahakan mengikuti Ekaristi dengan setia. Ketika ada kesempatan untuk membantu sesama, jangan selalu menundanya dengan alasan terlalu sibuk.

Saudara-saudari terkasih, kesibukan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kita. Namun, jangan sampai seluruh waktu dan perhatian kita habis untuk mengejar berbagai urusan duniawi, sementara hubungan kita dengan Tuhan semakin terabaikan.

Ingatlah, kita selalu punya waktu untuk sesuatu yang kita anggap penting. Kalau untuk Tuhan kita terus mencari alasan, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri: **Seberapa pentingkah Tuhan dalam hidup kita?**

Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Martinus de Porrez, Pengaku Iman
Santo Martinus de Porrez lahir di kota Lima, Peru pada tanggal 9 Desember 1579. la anak tidak sah dari perkawinan gelap seorang lelaki bangsawan Spanyol yang tinggal di Peru dengan seorang wanita Negro. Lelaki itu tidak mengakuinya sebagai anak, sehingga semenjak kecil Martin bersama saudarinya dibesarkan oleh ibunya. Semenjak masa kecilnya, Martin sudah menunjukkan suatu cara hidup yang saleh. Ia rajin berdoa dan mempunyai keprihatinan besar pada orang-orang sakit dan miskin. Bahkan sejalan dengan perkembangannya, ia sudah mulai menyadari bahwa orang yang berkenan kepada Allah bukanlah yang berkulit putih melainkan yang berjiwa putih.
Mendengar tentang perkembangan Martin yang luar biasa itu, lelaki ayahnya itu kembali hidup bersama ibunya dan mengakui Martin sebagai anaknya. Ketika Martin berumur 12 tahun, ia menyekolahkan Martin. Karena Martin bercita-cita menjadi dokter, maka ia memperkenankan Martin bekerja sambil belajar pada seorang ahli bedah. Di kemudian hari setelah menjadi seorang biarawan, pengetahuan dan pengalaman medisnya itu memberi manfaat besar baginya dalam menolong orang-orang sakit. Sementara itu hidup rohaninya terus berkembang dewasa. Doa dan Kurban Misa merupakan santapan wajibnya setiap hari. Keprihatinan dan semangat pengabdiannya kepada sesama yang malang nasibnya tetap berkobar. Agar lebih banyak memusatkan perhatian pada kepentingan sesama, ia bercita-cita menjadi biarawan.
Dalam rangka mewujudkan cita-citanya itu, ia - pada umur 15 tahun - meminta bekerja sebagai pelayan di biara Rosario, Lima tanpa menerima gaji. Di sana ia menjadi anggota dari Ordo Ketiga Dominikan. Banyak orang, terutama pemimpin biara itu, tertarik pada kepribadian Martin yang saleh dan aktif bekerja. Setelah 9 tahun melayani umat, ia menjadi seorang bruder awam atas permintaan pemimpin biara itu. Ia diserahi tugas-tugas sosial yang sesuai dengan bakatnya: membagikan makanan, pakaian, dan obat-obatan kepada kaum miskin. Tanpa kenal lelah ia berusaha mengumpulkan dana untuk membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan keuangan. Tak mengherankan bahwa dalam waktu singkat ia sudah dikenal dan dicintai seluruh umat. Orang-orang kaya yang tergerak hatinya memberinya sejumlah besar uang untuk membangun sebuah panti asuhan bagi ratusan anak terlantar.
Di panti asuhan itu, Bruder Martin menjadi pendidik dan pembimbing anak-anak itu, sambil tetap menjalankan tugasnya sebagai pendamping dan penghibur orang-orang sakit, serta pembawa harapan bagi orang-orang yang bersusah. Dalam tugasnya itu, ia juga menyembuhkan banyak orang sakit secara ajaib, membantu memecahkan kesulitan perjodohan, dan memberikan nasehat kepada tokoh-tokoh masyarakat. Ia juga penyayang binatang-binatang termasuk cacing tanah. Tikus-tikus yang berkeliaran di dalam biara tidak lagi mengganggu karena perintahnya.
Meskipun ia sibuk dengan berbagai tugas itu, ia tetap memanfaatkan tujuh jam sehari untuk berdoa dan bermeditasi di hadapan Sakramen Mahakudus. Ia menjalankan devosi khusus kepada Santa Perawan Maria sehingga beberapa kali ia mengalami penampakan Bunda Maria. Bruder Martin terkenal karena kerendahan hatinya dan usahanya yang gigih untuk memperhatikan dan membela orang-orang Indian dan Negro. Hal ini ditentang keras oleh para bangsawan Spanyol di Peru. Karena perjuangannya itu, ia sering dihina dan dicerca sebagai anak tidak sah dan berdarah campur. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak merasa terhina, karena ia percaya bahwa semua yang dilakukannya berkenan pada Allah. Prinsipnya ialah semua manusia diciptakan Allah dan sama di hadapan Allah.
Selama menjalani kehidupan membiara, Martin tidak pernah meminta jubah baru. Ia hanya mempunyai satu jubah yang diberikan kepadanya ketika ia resmi menjadi seorang anggota di biara itu. Ketika ajalnya mendekat, ia dengan rendah hati meminta sehelai jubah baru. Katanya: "Inilah jubah kuburku yang akan kupakai untuk menghadap takhta pengadilan Allah." Tak lama berselang, bruder saleh ini menghembuskan nafasnya terakhir pada tanggal 3 Nopember 1639, dalam usia 59 tahun. Jenazahnya dipikul ke kubur oleh dua orang uskup, wakil raja Spanyol dan seorang pegawai tinggi kerajaan. Makamnya dikunjungi banyak pejabat gereja dan pejabat Kerajaan Peru. Ia digelari 'beato' pada tahun 1837 oleh Sri Paus Gregorius XVI (1831-1846) dan dinyatakan 'kudus' pada tanggal 6 Mei 1962 oleh Sri Paus Yohanes XXIII (1958-1963). Ia diangkat sebagai pelindung suci bagi para pejuang karya penghapusan diskriminasi rasial.

Santo Hubertus, Pengaku Iman
Dalam buku-buku para kudus terdapat sebuah lukisan yang mengisahkan pengalaman rohani Santo Hubertus. Tergambar seorang pemburu berlutut di hadapan seekor kijang jantan besar yang di antara tanduknya terdapat sebuah salib yang bersinar-sinar. Di bawah lukisan itu tertulis: Santo Hubertus:
Putera bangsawan ini lahir di Belgia. Ayahnya bernama Bertrandus, Pangeran Aquitaino, sedang ibunya bernama Hugberna. Sejak kecil Hubert dididik secara Kristiani oleh orangtuanya. Namun ia sendiri kurang memperhatikan perkembangan hidup rohaninya. Ia lebih sibuk dengan kegemarannya: berburu kijang di hutan. Banyak waktunya dihabiskan untuk berburu. Bila tiba hari minggu, ia sibuk dengan anjinganjingnya, menyandang panah dan busur untuk pergi berburu, meskipun kawan-kawannya mengajaknya ke gereja.
Pertobatannya berawal di hutan rimba, tempat ia menguber binatang-binatang buruannya. Hari itu, Hari Jumat Suci. Sepanjang hari itu umat merenungkan sengsara Kristus. Tetapi Hubert tak tergugah sedikit pun dengan hari raya besar itu. Ia malah menyiapkan anjing-anjingnya, menyandang panah dan busur lalu pergi ke hutan untuk berburu. Tetapi apa yang terjadi? Hari itu hari sial: ia sendirian di hutan yang lebat dan sunyi itu; seekor kijang pun tidak tampak. Sedang menyesali kesialan itu, tiba-tiba tampak seekor kijang jantan besar sedang berdiri menantangnya di antara semak-semak. Tubuh kijang itu kekar, dan tanduknya besar. Dengan gesit Hubertus segera mengejar mangsanya. Kijang itu berlari hingga letih lalu sekonyong-konyong berdiri menantangnya. Hubertus pun berdiri terpaku sambil melihat kijang itu dengan takut. Ia takut karena pada tanduk kijang itu terdapat sebuah salib yang bersinar-sinar.
Pengalaman ini aneh dan ajaib, mengherankan sekaligus menakutkan Hubert. Ia semakin takut ketika mendengar kijang itu berkata kepadanya: ""Mengapa engkau mengejar Aku? Tidakkah engkau merayakan Hari Jumat Suci? Hidupmu kausia-siakan dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bernilai.""  Mendengar itu Hubert gemetar ketakutan. Ia lalu berlutut dan berdoa menyesali dosa-dosanya. Semenjak itu ia berjanji membaharui hidupnya dan berniat untuk mengabdi Kristus. Kejadian ini barulah tersiar di kemudian hari setelah ia meninggal dunia.
Sesudah kejadian istimewa itu Hubert menjadi orang yang baik-baik. Ia memusatkan perhatiannya pada kehidupan rohaninya dengan lebih banyak berdoa dan bermatiraga. Kemudian ia menjadi rohaniwan yang melayani Uskup Lambertus di Maastricht, Nederland. Melihat cara hidupnya yang saleh, Uskup Lambertus menahbiskan dia menjadi imam, dan mengangkatnya menjadi pembantu Uskup. Tak lama kemudian Uskup Lambertus, yang lantang menentang tindakan asusila para pejabat istana, dibunuh secara keji. Hubert-lah yang dipilih menggantikan dia.
Sebagai uskup, Hubertus sangat aktif dalam karyanya. Ia berhasil mempertobatkan banyak orang kafir yang masih menyembah berhala di pegunungan Ardenne. Ia wafat pada tanggal 30 Mei 727 sementara dalam perjalanan pastoral ke berbagai desa di keuskupannya. Ia diangkat menjadi pelindung para pemburu. Mantol yang biasa dikenakannya masih tersimpan di Paris hingga sekarang. Konon, orang yang digigit anjing gila dapat sembuh kalau menyentuh mantel itu.

Santo Malakios dari Armagh, Pengaku Iman
Mengenai pribadi Malakios, Santo Bernardus menulis: "Di antara semua mujizat Santo Malakios, mujizat yang terbesar ialah dirinya sendiri." Kalimat ini berarti bahwa kemenangan paripurna atas dirinya merupakan keajaiban yang besar yang hanya dapat kita pahami sebagai karunia rahmat Allah.
Malakios O'More lahir di Armagh, Irlandia Utara, pada tahun 1095, dan meninggal dunia pada tanggal 2 Nopember 1148. Setelah ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1120, ia berusaha keras untuk membaharui tata tertib hidup Gereja Irlandia. Salah satu hal yang mencolok di dalam Gereja Irlandia pada masa itu ialah penerapan sistim klen di dalam hirarki Gereja. Jabatan tinggi dan rendah di dalam administrasi Gereja dikuasai oleh keluarga tertentu. Kecuali itu ciri khas monastik sangat kuat mewarnai kehidupan Gereja Keltik Irlandia. Pemimpin sekolah-sekolah biara adalah uskup dan orang-orang dari keluarganya sendiri. Ketika terjadi penggerebekan oleh para bajak laut Denmark, ribuan rahib dibunuh; ada yang melarikan diri ke luar negeri. Dalam situasi itu anggota keluarga uskup yang berstatus awam menjaga kekayaan biara. Kehidupan keagamaan merosot dan biara-biara tak terpelihara baik. Orang-orang awam yang menguasai kekayaan biara menganggap kepemimpinan biara sebagai hak turunan.
Salah satu biara yang terkenal ialah biara Bangor di County Down. Paman Malakios, seorang awam, memegang gelar kehormatan sebagai Abbas di biara itu. Pada tahun 1123 ia mengalihkan jabatan itu kepada Malakios. Dengan berbagai cara Malakios mulai membaharui kembali biara itu dan mengamankan semua miliknya termasuk tanah-tanah. Bersama 10 orang muridnya ia mulai membangun kembali rumah-rumah biara itu. Oleh karena keberhasilannya itu, ia ditahbiskan menjadi Uskup Down dan Connor. Dalam kedudukan itu ia mempunyai kekuatan untuk membaharui Gereja Irlandia dan kehidupan sakramental di antara umat serta menegakkan disiplin hidup para rohaniwan.
Sementara itu, Celsus, Uskup Armagh, meminta Malakios untuk menduduki takhta keuskupan Armagh, meskipun sanak keluarga Celsus yang telah menguasai keuskupan itu selama 100 tahun tidak menyetujui keputusan itu. Pada tahun 1139 ia pergi ke Roma untuk menerima pakaian kebesaran Uskup Agung untuk takhta keuskupan Armagh dan Cashel. Ia singgah di biara Clairvaux, Prancis. Di sana ia bertemu dan berkenalan dengan Santo Bernardus. Ia kagum akan cara hidup para biarawan di dalam biara Clairvaux itu. Baginya biara itu sungguh-sungguh menampakkan surga di dunia ini. Karena begitu terkesan maka ia mengajukan permohonan kepada paus untuk menetap di sana. Namun Paus Innosensius III (1198-1126) mengangkat dia menjadi utusannya ke Irlandia.
Dalam perjalanannya kembali ke Irlandia, ia singgah lagi di Clairvaux. Empat orang imamnya tetap tinggal di sana untuk mempelajari cara hidup membiara ala Clairvaux. Di kemudian hari bersama 4 orang imam itu, Malakios mendirikan biara Cistercian Mellifont, dekat Drogheda, Irlandia. Dengan demikian Malakios adalah pendiri dan perintis biara Clairvaux di Irlandia. Ketika semua tugas yang dibebankan Paus kepadanya selesai dilaksanakan, demikian juga semua urusan penting menyangkut pendirian biara itu, Malakios pergi lagi ke Roma untuk melaporkannya kepada Paus. Ia singgah lagi di biara Clairvaux. Tetapi di biara itu ia jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia pada tanggal 2 Nopember 1148 di pangkuan Santo Bernardus. Ia dinyatakan 'kudus' pada tahun 1190 oleh Paus Klemens III (1187-1191).
Malakios dikenal sebagai orang kudus yang menaruh hormat besar kepada orang-orang mati dan sangat rajin mendoakan keselamatan mereka. Ia berusaha agar jenazah mereka dimakamkan secara Kristiani.  Banyak orang menertawakan dia karena terlalu memperhatikan orang-orang yang sudah meninggal. Tak terkecuali saudarinya sendiri.
Hari kematiannya pada tanggal 2 Nopember itu tepat dengan hari peringatan Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Tanggal itu tepat benar bagi Malakios yang selalu mendoakan keselamatan Jiwa-jiwa di Api Penyucian.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-11-02 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman

Senin, 2 November 2026



Bacaan Pertama
2Mak 12:43-46

"Sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh memikirkan kebangkitan."

Pembacaan dari Kitab kedua Makabe:

Setelah menguburkan tentara yang gugur dalam pertempuran,
Yudas, panglima Israel, menyuruh mengumpulkan uang di tengah-tengah pasukan.
Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem
untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa.
Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat,
karena Yudas memikirkan kebangkitan.
Sebab jika tidak menaruh harapan
bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit,
niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.
Lagipula Yudas ingat bahwa
tersedialah pahala yang amat indah
bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh.
Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh.
Dari sebab itu disuruhnyalah
mengadakan kurban penebus salah
untuk semua orang yang sudah mati itu,
supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 143:1-2.5-6.7ab.8ab.10,R:1a

Refren: Ya Tuhan, dengarkanlah doaku.

*Ya Tuhan, dengarkanlah doaku,
berilah telinga kepada permohonanku!
Jawablahaku demi kesetiaan-Mu.
Jawablah aku demi keadilan-Mu.
Janganlah berperkara dengan hamba-Mu ini,
sebab di antara yang hidup
tidak seorang pun benar di hadapan-Mu.

*Aku teringat akan hari-hari dahulu kala,
aku merenungkan segala pekerjaan-Mu.
aku memikirkan perbuatan tangan-Mu.
Aku menadahkan tanganku kepada-Mu,
jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus.

*Jawablah aku dengan segera, ya Tuhan,
sedah habislah semangatku!
Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi,
sebab kepada-Mulah aku percaya!
Beritahukanlah kepadaku jalan yang harus kutempuh,
sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.

*Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu,
sebab Engkaulah Allahku!
Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku
di tanah yang rata!



Bacaan Kedua
1Kor 15:20-24a.25-28

"Semua orang akan dihidupkan kembali
dalam persekutuan dengan Kristus."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:

Saudara-saudara,
Kristus dibangkitkan dari antara orang mati
sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia,
demikian juga kebangkitan orang mati
datang karena satu orang manusia.

Karena sama seperti semua orang mati
dalam persekutuan dengan Adam,
demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali
dalam persekutuan dengan Kristus.
Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya;
Kristus sebagi buah sulung;
sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya
pada waktu kedatangan-Nya.

Kemudian tibalah kesudahan,
yaitu bilaman Kristus menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa.
Karena Kristus harus memegang pemerintahan sebagai Raja
sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.

Tetapi kalau dikatakan bahwa
'Segala sesuatu telah ditaklukkan',
sudah barang tentu Allah sendiri,
yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah Kristus,
tidak termasuk di dalamnya.

Dan kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus,
maka Kristus sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri
di bawah Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawh-Nya,
supaya Allah menjadi semua di dalam semua.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Yoh 6:40

Inilah kehendak Bapa-Ku,
yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku,
jangan ada yang hilang,
tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.



Bacaan Injil
Yoh 6:37-40

"Setiap orang yang percaya kepada Anak Allah
beroleh hidup yang kekal,
dan Tuhan akan membangkitkannya pada akhir zaman."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam rumah ibadat di Kapernaum
Yesus berkata kepada orang banyak,
"Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku,
dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Sebab Aku telah turun dari surga
bukan untuk melakukan kehendak-Ku,
tetapi untuk melakukan kehendak Dia
yang telah mengutus Aku.

Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku,
yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku
jangan ada yang hilang,
tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
Sebab inilah kehendak Bapa-Ku,
yaitu supaya setiap orang,
yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya
beroleh hidup yang kekal,
dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Pernahkah kita berdiri di depan makam seseorang yang sangat kita kasihi, lalu teringat begitu banyak hal yang ingin kita sampaikan kepadanya? Mungkin ada ucapan terima kasih yang belum sempat terucap, permintaan maaf yang tertunda, atau penyesalan karena dahulu kita kurang memberikan perhatian kepadanya. Kini, orang yang kita kasihi itu telah tiada. Kita hanya bisa mengenangnya.

Hari ini, Gereja memperingati Arwah Semua Orang Beriman. Kita diajak mengenang dan mendoakan mereka yang telah meninggal dunia, terutama orang tua, pasangan, anak, saudara, sahabat, dan siapa pun yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Kematian memang memisahkan kita secara jasmani. Kita tidak lagi dapat bertemu, berbicara, atau melakukan sesuatu bersama mereka. Namun, kasih kita kepada mereka tidak harus berhenti di makam.

Dalam Bacaan Pertama, kita mendengar bagaimana Yudas Makabe mengumpulkan persembahan untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Tindakan ini didasari keyakinan akan kebangkitan dan pengharapan bahwa dosa-dosa mereka diampuni.

Gereja Katolik meneruskan tradisi iman ini dengan mengajak kita mendoakan arwah orang-orang yang telah meninggal, khususnya mereka yang masih membutuhkan pemurnian. Melalui doa dan persembahan Ekaristi, kita memohon agar Allah, dalam kerahiman-Nya, mengampuni dosa-dosa mereka dan menyambut mereka dalam kebahagiaan abadi.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan kehendak Bapa agar semua yang telah diberikan kepada-Nya tidak ada yang hilang, melainkan dibangkitkan pada akhir zaman. Perkataan Yesus ini memberikan pengharapan yang begitu besar kepada kita yang percaya kepada-Nya.

Ketika seseorang yang kita kasihi meninggal dunia, kita menyerahkannya kepada kerahiman Tuhan. Kita percaya bahwa kasih Allah jauh lebih besar daripada kasih kita, dan bahwa Kristus telah membuka jalan menuju kehidupan kekal melalui wafat dan kebangkitan-Nya.

Namun, peringatan hari ini juga mengajak kita merenungkan kehidupan kita sendiri.

Terkadang kita begitu rajin mengunjungi makam orang yang kita kasihi, membawa bunga, menyalakan lilin, dan mendoakannya. Semua itu merupakan ungkapan kasih yang indah.

Tetapi bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang masih hidup di sekitar kita?

Masihkah kita menyempatkan diri mengunjungi orang tua yang sudah lanjut usia? Apakah kita cukup peduli kepada anggota keluarga yang sedang kesepian? Adakah seseorang yang telah lama menunggu permintaan maaf atau uluran tangan kita?

Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah ia meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Selama kita masih hidup, Tuhan memberikan kesempatan untuk mengasihi, mengampuni, memperbaiki hubungan, dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama. Kesempatan itu tidak akan selalu tersedia. Suatu hari, kita pun akan meninggalkan dunia ini.

Karena itu, marilah kita terus mendoakan mereka yang telah mendahului kita. Serahkanlah mereka kepada kasih dan kerahiman Allah. Semoga kelak kita semua dipersatukan kembali dalam kehidupan kekal bersama Kristus.

Dan kepada mereka yang masih berjalan bersama kita hari ini, tunjukkanlah kasih selagi masih ada kesempatan.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Peringatan Mulia Arwah Semua Orang Beriman
Kemarin, kita memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita. Hari ini kita mengenang saudara-saudara kita yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan Nopember ini kita khususkan untuk berdoa dan berkorban untuk memohon kerahiman Allah atas mereka. Hal ini kita lakukan karena di dalam Yesus Kristus, Penyelamat semua orang yang, merindukan keselamatan dari Allah dengan tulus hati, kita tetap bersatu padu dengan mereka. Dalam iman akan Kristus itu, kita percaya bahwa apa yang kita namakan Persekutuan para Kudus meliputi baik kita yang masih hidup di dunia ini, maupun semua Orang Kudus di surga, dan semua orang yang telah meninggal. Bersama-sama kita membentuk dan terhimpun di dalam satu Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus.
Hari ini kita secara khusus mengenang dan berdoa bagi arwah semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Maka kiranya ada baiknya kita menyadari makna peristiwa kematian menurut ajaran iman kita. Bagi kita orang Kristen saat kematian sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan kita di dunia ini selesai, tersedialah bagi kita kediaman abadi di surga. Kematian bagi kita merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus, kebangkitan dan kehidupan kita saat perjumpaan abadi dengan Dia, pokok pengharapan kita, yang mengantar kita pulang ke rumah Bapa.
Atas dasar iman itu, kita memohon agar saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, dan boleh menikmati kebahagiaan kekal di sisi kanan Allah, Bapa kita, serta boleh bersama-sama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukannya. Hari kenangan dan peringatan ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, bahwa kelak kita akan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita, untuk bersama Maria memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Kita pun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini dan pulang kepada Bapa di surga. Tetapi kita percaya bahwa hidup atau mati, kita tetap milik Kristus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-11-01 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
HR Semua Orang Kudus

Minggu, 1 November 2026

Ujud Gereja Universal: Penggunaan kekayaan secara bijaksana.
Semoga semua orang menggunakan kekayaannya secara bijaksana, tidak menggunakan kekayaan untuk kepentingan diri semata, tetapi juga untuk kepentingan umum dan solidaritas bagi mereka yang kurang mampu.

Ujud Gereja Indonesia: Korban kekerasan dalam rumah tangga.
Semoga mereka yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dianugerahi keberanian untuk mencari bantuan demi keselamatan hidupnya.

1) Dalam rangka "PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN" (tanggal 2 November besok), setiap orang Kristen dapat memperoleh indulgensi penuh bagi orang yang sudah meninggal.


2) Caranya: mengunjungi makam dan/atau mendoakan arwah orang yang meningga,
*yang menjalankan setiap hari dari tanggal 1 s/d 8 November memperoleh indulgensi penuh;
*yang menjalankan pd hari-hari lain, memperoleh indulgensi sebagian.



Bacaan Pertama
Why 7:2-4.9-14

"Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak
yang tidak terhitung jumlahnya;
mereka terdiri dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa."

Pembacaan dari Kitab Wahyu:

Aku, Yohanes, melihat seorang malaikat
muncul dari tempat matahari terbit.
Ia membawa meterai Allah yang hidup.
Dengan suara nyaring ia berseru kepada keempat malaikat
yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut,
katanya,
"Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon
sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami
pada dahi mereka!"

Dan aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu:
seratus empat puluh empat ribu
yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.

Kemudian dari pada itu
aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak
yang tidak terhitung jumlahnya,
dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa.
Mereka berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba,
memakai jubah putih,
dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.
Dengan suara nyaring mereka berseru,
"Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta,
dan bagi Anak Domba!"

Dan semua malaikat berdiri
mengelilingi takhta, tua-tua dan keempat makhluk
yang ada di sekeliling takhta itu.
Mereka tersungkur di hadapan takhta itu
dan menyembah Allah sambil berkata,
"Amin! Puji-pujian dan kemuliaan,
hikmat dan syukur,
hormat, kekuasaan dan kekuatan
bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"

Seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku,
"Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu,
dan dari manakah mereka datang?"
Maka kataku kepadanya,
"Tuanku, Tuan mengetahuinya!"
Lalu ia berkata kepadaku,
"Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan besar!
Mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih
di dalam darah Anak Domba."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6,R:6

Refren: Inilah angkatan orang-orang yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan.

*Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya,
jagat dan semua yang diam di dalamnya.
Sebab Dialah yang mendasarkannya bumi di atas lautan,
dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

*Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan?
Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?
Orang-orang yang bersih tangannya dan murni hatinya,
yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan.

*Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan
dan keadilan dari Allah, penyelamatnya.
Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan,
yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.



Bacaan Kedua
1Yoh 3:1-3

"Kita akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya."

Pembacaan dari Surat pertama Rasul Yohanes:

Saudara-saudara terkasih,
Lihatlah, betapa besar kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita,
sehingga kita disebut anak-anak Allah,
dan memang kita sungguh anak-anak Allah.
Karena itu dunia tidak mengenal kita,
sebab dunia tidak mengenal Dia.

Saudara-saudaraku yang kekasih,
sekarang kita ini sudah anak-anak Allah,
tetapi bagaimana keadaan kita kelak belumlah nyata.
Akan tetapi kita tahu bahwa,
apabila Kristus menyatakan diri-Nya,
kita akan menjadi sama seperti Dia,
sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya,
ia menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:28

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.



Bacaan Injil
Mat 5:1-12a

"Bersukacita dan bergembiralah,
karena besarlah ganjaranmu di surga."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
ketika melihat banyak orang yang datang,
Yesus mendaki lereng sebuah bukit.
Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya.
Lalu Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya,
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah orang yang berdukacita,
karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut,
karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hati,
karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya,
karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Berbahagialah kamu,
jika demi Aku kamu dicela dan dianiaya,
dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat;
bersukacita dan bergembiralah,
karena besarlah ganjaranmu di surga."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini diambil dari renungan *The Power of Word* yang dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma.

*DOA PEMBUKA*
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Mari kita awali permenungan kita dengan berdoa.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Allah Bapa yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau selalu menyertai hidup kami.

Bukalah hati kami agar mampu mendengarkan sabda-Mu dan memahami bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih selalu berharga di hadapan-Mu.

Bimbinglah kami agar semakin hari semakin mampu hidup dalam kasih dan kekudusan.
Amin.

*RENUNGAN*
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Pernahkah kita merasa lelah karena terus memberi, terus berusaha berbuat baik, tetapi sepertinya tidak ada yang memperhatikan?

Seorang ibu yang setiap hari mengurus keluarganya. Seorang anak yang dengan sabar merawat orang tuanya yang sudah lanjut usia. Atau seseorang yang diam-diam membantu sesamanya tanpa mengharapkan balasan.

Sering kali, semua itu berlangsung begitu saja. Tidak ada pujian, bahkan kadang tidak ada ucapan terima kasih.
Mungkin dalam hati kita pernah bertanya, "Apakah semua yang saya lakukan ini ada artinya?"

Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus.
Kita mengenang para santo dan santa yang telah menjadi teladan iman. Namun, kita juga diingatkan bahwa ada begitu banyak orang kudus yang tidak pernah kita kenal namanya.
Mereka mungkin menjalani kehidupan yang sederhana. Mereka mengasihi dengan tulus, tetap setia di tengah kesulitan, dan berusaha melakukan kehendak Tuhan sepanjang hidupnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus bersabda:
*"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."* (Mat 5:7)
Yesus juga menyebut berbahagia mereka yang suci hatinya dan yang membawa damai.

Ternyata, perjalanan menuju kekudusan bisa kita mulai dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita.
Ketika kita memilih bersabar menghadapi orang yang sulit, ketika kita mau mengampuni seseorang yang menyakiti hati kita, atau ketika kita tetap berbuat baik meskipun tidak mendapat penghargaan.
Semua itu adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam kekudusan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang terkasih,
Terkadang kita berpikir bahwa untuk menjadi kudus, kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa.
Padahal, Tuhan juga mengundang kita untuk menjadi kudus melalui kesetiaan dalam hal-hal kecil.

Memang tidak selalu mudah. Ada saatnya kita lelah, kecewa, bahkan merasa pengorbanan kita sia-sia.
Namun, janganlah kehilangan semangat untuk mengasihi.

*Tidak semua kebaikan terlihat oleh manusia, tetapi tidak ada kasih yang luput dari pandangan Tuhan.*
Tuhan mengetahui ketulusan hati kita. Dia melihat perjuangan kita, bahkan ketika orang lain tidak mengetahuinya.
Dan melalui rahmat-Nya, Tuhan terus membentuk kita menjadi pribadi yang semakin menyerupai Kristus.

Maka, pada Hari Raya Semua Orang Kudus ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kehadiran kita membawa kasih dan damai bagi orang-orang di sekitar kita?
Kita tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk melakukannya.
Mulailah dari rumah kita sendiri. Dari keluarga, dari pekerjaan, dan dari orang-orang yang kita jumpai setiap hari.
Karena kekudusan dapat bertumbuh melalui kasih yang kita hidupi dengan setia, hari demi hari.

*Kasih yang tulus mungkin tidak selalu mendapat perhatian manusia. Namun, di hadapan Tuhan, kasih itu tidak pernah sia-sia.*

*DOA PENUTUP*
Mari kita berdoa.

Allah Bapa yang Mahakasih,
Terima kasih karena Engkau memanggil kami semua untuk hidup dalam kekudusan.

Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih mengharapkan penghargaan manusia daripada melakukan segala sesuatu dengan tulus.

Ajarilah kami untuk tetap sabar, murah hati, dan setia mengasihi, terutama ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan.

Semoga melalui hal-hal sederhana yang kami lakukan setiap hari, kasih-Mu semakin nyata bagi orang-orang di sekitar kami.

Bimbinglah langkah kami agar kelak kami pun boleh menikmati kebahagiaan abadi bersama para kudus di surga.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.



Peringatan Orang Kudus
Hari Raya Semua Orang Kudus
Hari raya ini mula-mula dirayakan di lingkungan Gereja Timur untuk menghormati semua saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usahanya merambatkan iman Kristen. Di lingkungan Gereja Barat, khususnya di Roma, pesta ini bermula pada tahun 609 ketika Paus Bonifasius IV merombak Pantheon, yaitu tempat ibadat kafir untuk dewa-dewi Romawi, menjadi sebuah gereja. Gereja ini dipersembahkan kepada Santa Maria bersama para Rasul.
Dahulu di Roma hari raya ini biasanya dirayakan pada hari minggu sesudah Pentekosta.   Lama kelamaan pesta ini menjadi populer untuk menghormati para Kudus, baik mereka yang sudah diakui resmi oleh Gereja maupun mereka yang belum dan yang tidak diketahui. 
Pesta hari ini dirayakan untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat-jemaat perdana disebut "Persekutuan para Kudus", yakni persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Secara khusus pada hari raya ini kita memperingati rombongan besar orang yang berdiri di hadapan takhta Allah, karena mereka telah memelihara imannya dengan baik sampai pada akhir pertandingan di dunia ini, sehingga memperoleh ganjaran yang besar di surga. 
Di antara mereka yang berbahagia itu teristimewa tampil para Santo-santa, Beato-beata sebagai perintis jalan dan penuntun bagi kita. Para kudus yang berbahagia di surga itu bersama Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, mendoakan kita agar tekun dalam perjuangan dan tabah dalam penderitaan. Bersama mereka kita nantikan kebangkitan badan. Dan bila Kristus menyatakan diri dalam kemuliaan, kita akan menjadi serupa dengan Dia. Pada saat itulah terjalin kesatuan kita yang sempurna dengan Kristus dan dengan semua saudara kita. Para kudus itu berbahagia karena mereka telah mengikuti Kristus. 
Kebahagiaan dan kemuliaan mereka tak bisa kita lukiskan dengan kata-kata manusiawi.
Sehubungan dengan itu Santo Paulus berkata: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1Kor 2:9)
Ganjaran yang diterimanya dari Kristus adalah turut serta di dalam Perjamuan Perkawinan Anak Domba Allah. Air mata mereka telah dihapus sendiri oleh Yesus. Tentang itu Yohanes menulis: "Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan perkawinan Anak Domba." (Why 19:9) "Dan Dia akan menghapus segala air mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau berdukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Oleh sebab itu "Kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita meninggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita.   Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah." (Hibr 12:1-2).



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-10-31 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXX

Sabtu, 31 Oktober 2026



Bacaan Pertama
Flp 1:18b-26

"Bagiku hidup ialah Kristus dan mati keuntungan."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:

Saudara-saudara,
asal saja Kristus diwartakan, aku bersukacita karenanya.
Dan aku akan tetap bersukacita sebab aku tahu,
bahwa akhir dari semuanya ini ialah keselamatanku
berkat doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.
Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan,
ialah bahwa dalam segala hal aku tidak mendapat malu.
Kuharapkan bahwa seperti dahulu,
sekarang pun Kristus dengan nyata dimuliakan dalam tubuhku,
baik oleh hidup maupun oleh matiku.
Karena bagiku hidup ialah Kristus dan mati keuntungan.
Hidup di dunia bagiku berarti bekerja dan menghasilkan buah.
Maka aku tidak tahu, mana yang harus dipilih.
Aku didesak dari dua pihak:
aku ingin pergi dan diam bersama Kristus,
karena ini memang jauh lebih baik.
Tetapi demi kalian, lebih perlu aku tetap tinggal di dunia ini.
Dalam keyakinan ini tahulah aku
bahwa aku akan tetap tinggal
dan akan bersama-sama lagi dengan kalian semua,
supaya kalian makin maju dan bersukacita dalam iman.
Dengan demikian kemegahanmu dalam Kristus Yesus
makin bertambah karena aku,
yaitu apabila aku kembali kepadamu.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 42:2.3.5bcd,R:3a

Refren: Jiwaku haus akan Allah, Allah yang hidup.

*Seperti rusa yang merindukan sungai berair,
demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

*Jiwaku haus kepada Allah,
akan Allah yang hidup.
Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

*Bagaimana aku berjalan maju di tengah kepadatan manusia,
mendahului mereka melangkah ke rumah Allah
di tengah suara sorak-sorai dan nyanyian syukur,
di tengah keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.



Bait Pengantar Injil
Mat 11:29ab

Terimalah beban-Ku dan belajarlah pada-Ku,
sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.



Bacaan Injil
Luk 14:1.7-11

"Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; 
dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Pada suatu hari Sabat
Yesus masuk rumah seorang pemimpin orang-orang Farisi
untuk makan di situ.
Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
Melihat tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat terhormat,
Yesus lalu mengatakan perumpamaan berikut,
"Kalau engkau diundang ke pesta perkawinan,
janganlah duduk di tempat kehormatan.
Sebab mungkin ada undangan yang lebih terhormat daripadamu.
Jangan-jangan orang yang telah mengundang engkau dan tamu itu berkata kepadamu,
'Berilah tempat itu kepada orang ini.'
Lalu dengan malu engkau harus pindah ke tempat yang paling rendah!
Tetapi apabila engkau diundang,
duduklah di tempat yang paling rendah.
Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata,
'Sahabat, silakan duduk di depan.'
Dengan demikian engkau mendapat kehormatan
di mata semua tamu yang lain.

Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan;
dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
“Karena bagiku hidup ialah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Flp 1:21).
Pernyataan Rasul Paulus ini sungguh luar biasa. Bagaimana mungkin seseorang menganggap kematian sebagai keuntungan? Bukankah setiap manusia ingin hidup lebih lama, menikmati kebahagiaan bersama keluarga, dan melihat hasil perjuangannya selama di dunia?

Paulus memiliki cara pandang yang berbeda. Baginya, Kristus adalah pusat dan tujuan seluruh kehidupannya. Selama hidup, ia ingin terus berkarya dan melayani Tuhan. Ketika kematian tiba, ia percaya akan memperoleh kebahagiaan yang jauh lebih besar, yaitu hidup bersama Kristus untuk selama-lamanya.

Paulus tidak sedang mengharapkan kematian segera datang. Ia justru menyadari bahwa selama masih hidup, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Masih banyak orang yang membutuhkan pewartaan, bimbingan, dan pelayanannya.

Inilah yang menarik. Paulus merindukan kehidupan abadi bersama Kristus, namun ia juga bersedia tetap tinggal di dunia demi kepentingan orang lain.

Bagaimana dengan kita?
Terkadang kita begitu sibuk mengejar berbagai hal dalam kehidupan. Kita bekerja keras mengumpulkan kekayaan, membangun karier, mencari kedudukan, dan berusaha memperoleh pengakuan dari orang lain. Semua itu dapat menjadi bagian dari kehidupan yang baik. Namun, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: untuk apa sebenarnya semua itu kita perjuangkan?

Apakah keberhasilan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan? Apakah kedudukan membuat kita semakin mampu melayani sesama? Apakah kekayaan yang kita kumpulkan juga membawa berkat bagi orang lain?

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kerendahan hati melalui perumpamaan tentang orang yang memilih tempat terhormat dalam sebuah perjamuan. Yesus mengingatkan bahwa siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, sedangkan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Ajaran Yesus ini sejalan dengan sikap hidup Paulus. Ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, keinginan untuk dihormati dan diutamakan tidak lagi menguasai hati kita. Kita belajar menggunakan segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan untuk melayani, termasuk kemampuan, kekayaan, jabatan, dan kesempatan yang kita miliki.

Ada satu kenyataan yang tidak dapat kita hindari. Kehidupan di dunia ini memiliki batas waktu. Semua yang kita miliki suatu hari akan kita tinggalkan. Kita tidak tahu kapan saat itu tiba.

Karena itu, selama Tuhan masih memberikan kehidupan, jangan sia-siakan kesempatan untuk berbuat baik, memperbaiki hubungan yang rusak, mengampuni orang yang bersalah kepada kita, dan menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.

Kematian akan datang kepada setiap manusia. Iman kepada Kristus memberikan pengharapan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kita percaya akan kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya.

Marilah kita belajar dari Rasul Paulus. Jadikan Kristus sebagai pusat kehidupan kita. Gunakan waktu yang masih tersedia untuk menghasilkan buah-buah kebaikan, sehingga ketika saatnya tiba, kita dapat menghadap Tuhan dengan penuh iman dan pengharapan.

Semoga suatu hari kita pun dapat mengucapkan dengan sepenuh hati, “Bagiku hidup ialah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Bruder Alfonsus Rodriguez, Pengaku Iman
Alfonsus lahir di Segovia, Spanyol pada tahun 1531. Ayahnya, Rodriguez adalah seorang pedagang kain wol yang tergolong kaya raya di negeri itu. Sementara belajar di Universitas Alkala, ayahnya terkasih meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa memanggilnya pulang untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya.
Selang beberapa tahun ia menikah dan dikaruniai dua orang anak. Meskipun demikian, Tuhan yang menyelenggarakan hidup manusia, rupanya menginginkan sesuatu yang lain dari Alfonsus. Usaha dagangnya yang pada tahun-tahun awal berjalan begitu lancar tanpa masalah serius, lama-kelamaan berangsur-angsur merosot dan bangkrut. Isterinya terkasih tak terduga jatuh sakit keras lalu meninggal dunia. Lebih dari itu, kedua anaknya pun kemudian menyusul kepergian ibunya. Tinggallah Alfonsus seorang diri dalam bimbingan Tuhan secara rahasia. Tampaknya semua peristiwa ini sangat tragis dan menyayat hati. Tetapi Alfonsus yang sejak masa mudanya beriman teguh menerima segalanya dengan pasrah. Ia yakin bahwa Tuhan itu mahabaik dan penyelenggaraanNya terhadap hidup manusia tidak pernah mengecewakan manusia. Ia yakin bahwa Tuhan selalu memilih yang terbaik untuk manusia.
Lalu Tuhan menggerakkan hati Alfonsus untuk memasuki cara hidup bakti dalam suatu tarekat religius. Pada umur 40 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mengajukan permohonan menjadi seorang bruder dalam Serikat Yesus di Valencia, Spanyol. Setelah dipertimbangkan agak lama, akhirnya ia diterima dan ditempatkan di Kolese Montesion di Palma de Majorca. Di sinilah ia menekuni sisa-sisa hidupnya dengan melaksanakan tugas-tugas yang diserahkan kepadanya. Tugasnya sangat remeh dan sepele: membukakan pintu bagi tamu, memberitahu penghuni bila kedatangan tamu dan mengerjakan hal-hal kecil sembari menjaga pintu.
Tuhan yang mengenal baik Alfonsus mengaruniakan kepadanya karunia-karunia istimewa, antara lain ketekunan berdoa dan pengetahuan adikodrati. Karunia-karunia ini membuatnya dikenal banyak orang sebagai seorang yang diterangi Allah. Banyak orang datang kepadanya untuk minta nasehat, antara lain Santo Petrus Klaver sewaktu masih belajar. Oleh bimbingan Alfonsus, Petrus Klaver akhirnya tertarik untuk membaktikan dirinya bagi kepentingan jiwa orang-orang Negro yang menjadi budak belian di Amerika Selatan.
Cita-citanya ialah melupakan dirinya. Konon, pada suatu upacara besar semua kursi biara termasuk yang dipakai oleh para biarawan di kamarnya, diangkat ke dalam gereja. Sehabis upacara itu, kursi bruder Alfonsus tidak dikembalikan ke kamarnya. Bruder yang rendah hati itu tidak memintanya juga. Ia membiarkan kamarnya tanpa kursi selama setahun. Pada tahun berikutnya ketika akan diadakan lagi upacara besar di gereja, barulah diketahui bahwa bruder Alfonsus tidak mempunyai kursi sudah selama satu tahun. Pemimpin biara itu tertegun memandang bruder Alfonsus yang rendah hati itu. Ia tidak memberontak karena ia menganggap dirinya seorang pengemis malang yang tidak segan menerima hal-hal yang paling sederhana.
Pengalaman-pengalaman rohaninya dituangkan dalam sebuah tulisan yang menarik atas permintaan atasannya. Setelah menikmati jalan yang ditunjukkan Tuhan padanya, ia menghembuskan nafasnya di Palma de Majorca pada tahun 1617.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/