Liturgia Verbi 2026-01-01 Kamis.

Liturgia Verbi (A-II)
HR SP Maria Bunda Allah

Kamis, 1 Januari 2026

Ujud Gereja Universal: Praktik berdoa menggunakan Sabda Tuhan.
Semoga pengalaman berdoa menggunakan Sabda Tuhan menjadi sumber kehidupan dan harapan bagi pribadi dan komunitas kita, serta membantu kita untuk membangun Gereja yang lebih bersaudara dan misioner.


Ujud Gereja Indonesia: Korban kejahatan daring.

Semoga Gereja, masyarakat, dan aparat keamanan dapat bersatu padu mencegah dan memberantas penipuan dan kejahatan daring, dengan memberikan edukasi dan pendampingan bagi para korban.

Hari Perdamaian Sedunia



Bacaan Pertama
Bil 6:22-27

"Mereka harus meletakkan nama-Ku atas orang Israel;
maka Aku akan memberkati mereka."

Pembacaan dari Kitab Bilangan:

Sekali peristiwa Tuhan berfirman kepada Musa,
"Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya:
Beginilah harus kamu memberkati orang Israel,
katakanlah kepada mereka:
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya
dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu
dan memberi engkau damai sejahtera.
Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel;
maka Aku akan memberkati mereka."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 67:2-3.5.6.8,R:2a

Refren: Kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita.

*Kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita,
kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya,
kiranya jalan-Mu dikenal di bumi,
dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.

*Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai,
sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil,
dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.

*Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah,
kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.
Allah memberkati kita;
kiranya segala ujung bumi takwa kepada-Nya!



Bacaan Kedua
Gal 4:4-7

"Allah mengutus Anak-Nya
yang lahir dari seorang perempuan."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia:

Saudara-saudara,
setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya,
yang lahir dari seorang perempuan
dan takluk kepada hukum Taurat.
Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat,
supaya kita diterima menjadi anak.
Dan karena kamu adalah anak,
maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,
yang berseru: "Abba, ya Bapa!"
Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak;
dan kalau kamu anak,
maka kamu juga menjadi ahliwaris-ahliwaris, oleh karena Allah.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Ibr 1:1-2

Dahulu kala
dengan pelbagai cara Allah berbicara kepada leluhur kita
dengan perantaraan para nabi,
Pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita
dengan perantaraan Anak-Nya.



Bacaan Injil
Luk 2:16-21

"Mereka mendapati Maria, Yusuf dan Si Bayi. 
Pada hari ke delapan Ia diberi nama Yesus."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia,
para gembala cepat-cepat berangkat ke Betlehem,
dan mendapati Maria dan Yusuf
serta Bayi yang terbaring di dalam palungan.
Ketika melihat Bayi itu,
para gembala memberitahukan
apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
Dan semua orang yang mendengarnya
heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu.
Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati
dan merenungkannya.
Maka kembalilah gembala-gembala itu
sambil memuji dan memuliakan Allah
karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat;
semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Ketika genap delapan hari umurnya,
Anak itu disunatkan,
dan Ia diberi nama Yesus,
yaitu nama yang disebut oleh malaikat
sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan di hari pertama tahun 2026 ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *The Power of Word* berikut ini.

"*Memulai Tahun yang Baru Bersama Bunda Maria*"
Bil 6:22-27, Mzm 67:2-3.5.6.8,R:2a, Gal 4:4-7, Luk 2:16-21

Oleh Erna Kusuma

*Doa Pembuka*:
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Allah Bapa yang Maharahim,
pada awal tahun yang baru ini kami datang kepada-Mu dengan hati terbuka.
Engkau telah mengaruniakan kepada kami Santa Perawan Maria sebagai Bunda Allah dan juga sebagai Bunda kami.
Melalui renungan ini, bukalah hati dan budi kami agar kami semakin mengenal Putra-Mu, Yesus Kristus,
dan belajar meneladan iman, ketaatan, serta kerendahan hati Maria.
Semoga sabda-Mu yang kami dengarkan hari ini menjadi terang yang menuntun langkah kami sepanjang tahun ini.
Amin.

________________________________________
*Renungan*:

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Mengawali tahun baru, Gereja tidak langsung berbicara tentang rencana, target, atau resolusi hidup.
Gereja justru mengajak kita menoleh kepada seorang ibu.
Bukan sembarang ibu, melainkan Maria, yang kita imani sebagai *Bunda Allah*.

Sebutan "Bunda Allah" ini sering menimbulkan polemik.
Bagaimana mungkin Maria disebut Bunda Allah?
Bukankah Allah itu kekal, ada sebelum segalanya?
Bukankah Maria hanyalah manusia?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sejak awal bergulir dalam Gereja perdana.
Pada abad ke-5, muncul ajaran yang mengatakan bahwa Maria hanyalah "Bunda Yesus sebagai manusia", bukan Bunda Allah.
Yesus dipandang seakan-akan terbagi dua: Yesus manusia dan Yesus ilahi.
Maria dipandang hanya melahirkan manusia Yesus, bukan Yesus Ilahi, Sang Sabda yang menjadi manusia.

Gereja menanggapi ajaran ini dengan serius.
Maka pada tahun 431, para bapa Gereja berkumpul dalam *Konsili Efesus*.
Di sanalah Gereja menegaskan iman yang kita pegang sampai hari ini:
Yesus Kristus adalah satu Pribadi, Ia sungguh Allah dan sungguh manusia.
Tidak terbagi, tidak terpisah.
Dan karena Maria melahirkan Yesus Kristus yang adalah Allah sejati, maka Maria sungguh layak disebut *Theotokos*—Bunda Allah.

Gelar ini bukan untuk mengangkat Maria di atas Allah, melainkan justru untuk melindungi iman kita akan siapa Yesus itu.
Ketika Gereja menyebut Maria Bunda Allah, Gereja sedang bersaksi: Allah sungguh masuk ke dalam sejarah manusia.
Ia sungguh lahir, sungguh rapuh, sungguh membutuhkan seorang ibu.

Barangkali kemudian menjadi pertanyaan: mengapa perayaan ini ditempatkan tepat di awal tahun, tanggal 1 Januari?
Karena di awal tahun, Gereja ingin mengingatkan kita:
perjalanan hidup tidak dimulai dari kehendak kita sendiri, melainkan dari rahmat Allah.
Bacaan dari Kitab Bilangan hari ini berbicara tentang berkat: "Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau."
Dan dalam Injil, kita melihat Maria yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Tahun baru bukan pertama-tama soal apa yang akan kita capai, tetapi tentang di tangan siapa kita meletakkan hidup kita.
Gereja menempatkan Maria di awal tahun agar kita belajar memulai segala sesuatu bersama Allah,
seperti Maria yang memulai panggilannya dengan satu kata sederhana: "Ya."

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Lalu, apa maknanya gelar *Bunda Allah* ini bagi kita, terutama bagi para ibu?

Maria tidak mengandung Allah dengan kekuatannya sendiri.
Ia mengandung karena ketaatan, karena kerendahan hati, karena kepercayaannya kepada Allah.
Maria mengajarkan bahwa menjadi ibu bukan hanya soal melahirkan, tetapi tentang menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Para bunda meneladani Maria ketika mereka menghadirkan kasih Allah di tengah keluarga.
Ketika mereka mendoakan anak-anaknya dalam diam.
Ketika mereka menyimpan kekhawatiran dalam hati, namun tetap setia.
Ketika mereka mungkin tidak selalu dimengerti, tetapi tetap mencintai tanpa syarat.

Seperti Maria, para ibu dipanggil untuk *menyimpan dan merenungkan*, bukan mengeluh dan menghakimi.
Dipanggil untuk membesarkan anak-anak bukan hanya agar berhasil di dunia, tetapi agar mengenal Tuhan dan hidup dalam kasih.

Hari ini, di awal tahun, kita semua—bukan hanya para ibu—belajar dari Maria.
Belajar menyerahkan hidup kepada Allah.
Belajar percaya bahwa Allah bekerja bahkan ketika kita belum memahami segalanya.
Belajar berkata "ya" dalam situasi yang mungkin tidak ideal, tidak mudah, bahkan penuh ketidakpastian.

Semoga di sepanjang tahun yang baru ini, kita berjalan dengan hati seperti Maria:
terbuka, percaya, dan setia.
Dan semoga melalui hidup kita, Allah sungguh hadir dan dikenal oleh dunia.
Amin.
________________________________________
*Doa Penutup*:

Marilah kita berdoa.

Allah Bapa yang penuh kasih,
kami bersyukur atas teladan iman Santa Perawan Maria, Bunda Allah.
Di awal tahun ini, kami menyerahkan seluruh perjalanan hidup kami ke dalam tangan-Mu.
Ajarilah kami untuk memulai setiap langkah bersama Engkau,
untuk menyimpan dan merenungkan kehendak-Mu di dalam hati,
dan untuk menghadirkan kasih-Mu di tengah keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kami.
Secara khusus kami berdoa bagi para ibu dan para bunda,
semoga mereka dikuatkan dalam panggilannya untuk menghadirkan kasih, pengharapan, dan iman di tengah keluarga.
Bimbinglah kami semua agar sepanjang tahun ini hidup kami sungguh menjadi saluran berkat bagi sesama.
Kami serahkan doa dan hidup kami ini ke dalam tangan-Mu,
dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santa Maria, Bunda Allah (Hari Raya Santa Perawan Maria)
Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah mengingatkan kita akan bidaah (ajaran sesat) tentang Kebundaan Ilahi Maria, yang muncul pada abad ke 5.  Pokok ajaran bidaah ini ialah bahwa Maria memang Bunda Yesus, tetapi bukan Bunda Allah.
Dalam Konsili Efesus pada tahun 431, ajaran sesat ini dikutuk.  Konsili tetap dengan teguh mempertahankan ajaran yang benar, yaitu bahwa Maria adalah Bunda Allah (Theotokos), karena Yesus Anaknya adalah sungguh-sungguh Allah.  Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah ditetapkan oleh Paus Pius XI pada hari ulang tahun ke-1500 Konsili Efesus tersebut.
Pada kesempatan ini, ada baiknya kita merenungkan makna nubuat nabi Yesaya: "Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia, Imanuel" (Yes 7:14), dan makna salam Elisabeth kepada Maria yang mengunjunginya: "Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.  Siapakah aku ini, sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?" (Luk 1:42-43).
Merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah juga berarti bahwa kita mengakui Yesus sebagai "sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh Manusia".  Kemuliaan Maria sebagai Bunda Allah adalah cerminan kemulian Anaknya, yaitu Yesus, Tuhan dan Penebus umat manusia.

Santo Almakios atau Telemakus
Almakios adalah seorang biarawan. Tatkala ia mengunjungi kota Roma, ia berusaha menghentikan pertunjukan gladiator yang sering menimbulkan korban jiwa. Dalam usaha ini ia sendiri akhirnya terbunuh. Namun usahanya yang memuncak pada kematiannya itu membawa suatu perubahan, yakni bahwa sejak saat itu kaisar melarang pertunjukan berbahaya itu.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2025-12-31 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Ketujuh dalam Oktaf Natal

Rabu, 31 Desember 2025

PF S. Silvester I, Paus



Bacaan Pertama
1Yoh 2:18-21

"Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus
dan dianugerahi pengetahuan."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir,
dan seperti yang telah kamu dengar,
seorang antikristus akan datang,
bahkan sekarang telah bangkit banyak antikristus.
Itulah tandanya
bahwa waktu ini benar-benar waktu yang terakhir.

Memang mereka berasal dari antara kita,
tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita;
sebab jika mereka sungguh termasuk pada kita,
niscaya mereka tetap bersama-sama kita.
Tetapi hal itu terjadi supaya menjadi nyata
bahwa tidak semua orang sungguh termasuk pada kita.
Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus,
dan dengan demikian kamu semua dianugerahi pengetahuan.
Aku menulis kepadamu,
bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran,
tetapi justru karena kamu mengetahuinya,
dan karena kamu juga mengetahui,
bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 96:1-2.11-12.13,R:11a

Refren: Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai.

*Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan,
menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi!
Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya,
kabarkanlah dari hari ke hari.
keselamatan yang datang dari pada-Nya.

*Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai,
biar gemuruhlah laut serta segala isinya!
Biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya,
dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.

*Biarlah mereka bersorak-sorai di hadapan Tuhan,
sebab ia datang,
sebab Ia datang untuk menghakimi bumi.
Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan,
dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.



Bait Pengantar Injil
Yoh 1:14.12b

Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,
Semua orang yang menerima Dia,
diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.



Bacaan Injil
Yoh 1:1-18

"Firman telah menjadi manusia."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Pada awal mula adalah Firman.
Firman itu ada bersama-sama dengan Allah
dan Firman itu adalah Allah.
Firman itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia,
dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi
dari segala yang telah dijadikan.
Dalam Dia ada hidup,
dan hidup itu adalah terang bagi manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan,
tetapi kegelapan tidak menguasainya.

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes.
ia datang sebagai saksi
untuk memberi kesaksian tentang terang itu,
supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
Ia sendiri bukan terang itu,
tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,
sedang datang ke dalam dunia.

Terang itu telah ada di dalam dunia,
dan dunia dijadikan oleh-Nya,
tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya,
tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
Tetapi semua orang yang menerima Dia
diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah,
yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya,
orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau daging,
bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki,
melainkan dari Allah.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,
dan kita telah melihat kemuliaan-Nya,
yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya
sebagai Anak Tunggal Bapa,
penuh kasih dan kebenaran.
Tentang Dia Yohanes memberi kesaksian dan berseru,
"Inilah Dia yang kumaksudkan ketika aku berkata:
Sesudah aku akan datang Dia yang telah mendahului aku,
sebab Dia telah ada sebelum aku."
Karena dari kepenuhan-Nya
kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa,
tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus.

Tidak seorang pun pernah melihat Allah;
tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa,
Dialah yang menyatakan-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Hari ini adalah hari penutup tahun 2025.
Besok, atau tepatnya nanti malam, kita akan memasuki tahun yang baru.

Setiap kali kita menerima sesuatu yang baru, hampir selalu ada harapan yang menyertainya.
Entah itu harapan yang benar-benar baru, atau harapan lama yang sempat memudar lalu kembali bergairah.
Pengikut Kristus adalah orang yang tidak pernah hidup tanpa harapan.
Setiap pergantian tahun selalu kita terima sebagai anugerah harapan yang diperbarui.

Harapan adalah sesuatu yang ingin dicapai tetapi belum diperoleh, sesuatu yang diyakini akan terwujud, meskipun belum terlihat hasilnya.
Karena itu, harapan bukan sekadar angan-angan, melainkan arah hidup.

Mari kita torehkan di dalam lubuk hati kita masing-masing apa yang ingin kita capai di tahun yang akan segera datang ini.
Sesuatu yang belum kita peroleh di tahun ini.
Sesuatu yang gagal diraih.
Atau mungkin sesuatu yang sama sekali baru, yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya.
Apa pun itu, semuanya adalah harapan.

Harapan adalah asa.
Dan asa harus dipelihara, supaya tidak putus dan berubah menjadi keputusasaan.
Asa adalah mesin pendorong kehidupan.
Tanpa asa, hidup berhenti berjalan.
Dengan asa, hidup terus bergerak menuju tujuan yang kita yakini.

Namun harapan yang sejati tidak lahir dari perasaan optimistis semata.
Harapan menuntut keyakinan.
Jika kita sendiri tidak yakin bahwa sesuatu akan terjadi, maka itu bukanlah harapan, melainkan sekadar keinginan kosong.

Dalam Bacaan Pertama hari ini [1Yoh 2:18-21], Rasul Yohanes mengingatkan bahwa kita telah menerima pengurapan dari Yang Kudus.
Artinya, kita tidak berjalan sendirian, tidak dibiarkan meraba-raba dalam ketidakpastian.
Pengurapan itu memampukan kita mengenali kebenaran, membedakan terang dari gelap, dan menaruh harapan pada dasar yang kokoh.

Dasar itulah yang ditegaskan kembali dalam Injil hari ini [Yoh 1:1-18].
Firman itu bukan sekadar kata-kata, bukan hanya ajaran, bukan pula sekadar nilai moral.
Firman itu adalah Allah sendiri, dan Firman itu telah menjadi manusia.

Firman yang menjadi manusia itulah terang sejati.
Terang yang tidak hanya bersinar di kejauhan, tetapi hadir di tengah hidup manusia, masuk ke dalam sejarah, ke dalam keterbatasan, bahkan ke dalam kerapuhan hidup kita.
Terang itu tidak menghapus malam secara ajaib, tetapi menuntun langkah kita supaya kita tidak tersesat.

Karena itu, harapan kita tidak bertumpu pada situasi yang ideal, pada kondisi yang sempurna, atau pada kekuatan kita sendiri.
Harapan kita bertumpu pada Terang itu.
Firman yang telah menjadi manusia, yang telah berjalan bersama manusia, dan yang terus menyertai manusia sampai hari ini.

Jika kita melandasi harapan-harapan kita dengan sabda Tuhan, maka harapan itu tidak berjalan dalam kegelapan.
Firman yang sama yang telah menerangi dunia, juga akan menerangi setiap usaha kita, setiap langkah kita, dan setiap keputusan kita di tahun yang baru.
Firman itu membuat jalan menjadi terang benderang, meskipun belum tentu menjadi mudah.

Menutup tahun ini, kita tidak hanya menoleh ke belakang dengan rasa syukur, tetapi juga menatap ke depan dengan keyakinan.
Terang itu sudah ada.
Firman itu sudah hadir.
Harapan itu sudah diletakkan di dalam hati kita.

Maka marilah kita melangkah memasuki tahun yang baru dengan harapan yang berakar pada Terang Kristus,
dan dengan keyakinan bahwa Firman yang telah menjadi manusia akan terus menyertai perjalanan hidup kita.



Peringatan Orang Kudus
Santa Melania, Martir
Melania Muda adalah cucu Santa Melania Tua dan anak dari Publicola dan Albina. Ia lahir di Roma dari sebuah keluarga Kristen yang kaya raya. Ayahnya seorang senator yang ambisius sekali. Demi harta dan nama baik keluarganya, ayahnya menikahkan Melania dengan saudara sepupunya: Pinianus. Melania tidak setuju, namun ia yang baru berusia 13 tahun itu tak berdaya menghadapi ambisi orang-tuanya. Dengan berat hati ia mengiakan juga perkawinan itu. Mereka dikaruniai 2 orang putra.  Melania sangat baik, penuh pengabdian, dan berjiwa sosial. Sifat sosialnya itu membuatnya tidak disenangi oleh kaum kerabatnya. Sepeninggal kedua putranya, sikap sosial Melania baru diterima, bahkan ditiru oleh mereka. Melania sangat disenangi oleh kaum miskin karena karya amalnya kepada mereka dan kepada Gereja. Bersama suaminya, Melania menolong membebaskan ratusan budak belian dengan harga tebusan yang sangat mahal.
Tahun-tahun terakhir hidupnya penuh dengan cobaan. Ketika Roma diserang bangsa Visigoth, mereka terpaksa mengungsi ke Afrika. Di sana mereka memiliki tanah yang luas. Pada tahun 417 mereka pindah ke Yerusalem dan tinggal dekat makam suci Yesus. Terpengaruh oleh corak hidup pertapaan di padang gurun Mesir, maka mereka mulai menghayati cara hidup bertapa itu. Di situ ia berjumpa dengan kemenakannya: Santa Paula dan menjalin hubungan baik dengan Santo Hieronimus. Pada tahun 432 suaminya Pianus meninggal dunia. Ia tidak putus asa. Sebagai janda ia menghimpun para wanita untuk mendirikan satu biara di bukit Zaitun. Usahanya diperluas hingga ke Afrika dengan 2 buah biara di sana. Tahun-tahun terakhir hidupnya dimanfaatkannya di dalam kelompok orang-orang kudus seperti Santo Hieronimus, Agustinus, Paulinus, dll, dengan menyalin buku-buku rohani. Ia wafat pada tahun 439 di Betlehem, seminggu setelah merayakan Natal.

Santo Silvester , Paus
Paus Silvester adalah paus dan orang kudus pertama yang wafat bukan sebagai martir. Sayang bahwa sedikit sekali informasi yang diketahui tentang kehidupannya.Silvester menjadi paus antara tahun 314-335 pada masa pemerintahan Kaisar Konstantin Agung. Pada masa itu sesuai ketetapan kaisar di dalam Edikta Milano, agam Kristen menjadi agama resmi yang berlaku di seluruh kekaisaran. Dengan itu orang-orang Kristen mulai keluar dari tempat persembunyiannya di katakombe-katakombe dan tidak takut-takut lagi melakukan kegiatan-kegiatan  keagamaan di hadapan umum. Posisi hukum Gereja menjadi sangat kuat di bawah Kaisar Konstantin Agung. Istana Lateran dihadiahkan kepada Tachta Suci oleh Konstantin. Oleh Paus Silvester, istana itu dirobah menjadi gereja Katedral Keuskupan Roma. Gereja Katedral ini menjadi lambang kemerdekaan Gereja dari penguasaan Kaisar-kaisar Romawi semenjak kelahirannya. Pada masa kepemimpinannya, Silvester juga mendirikan Gereja Santo Petrus di Vatikan dan rumah-rumah ibadat lainnya di seluruh kota Roma. Bersama Kaisar, Silvester mengambil bagian juga di dalam penyelenggaraan Konsili Ekumenis Pertama di Nicea pada tahun 325 untuk menghukum ajaran sesat Arianisme. Selama masa pontifikatnya buku "Para Martir Romawi" (Martyrology Romanum) dikerjakan. Ia juga berjuang memajukan kehidupan liturgi dan mendirikan Sekolah Seni Suara di Roma.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2025-12-30 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Keenam dalam Oktaf Natal

Selasa, 30 Desember 2025



Bacaan Pertama
1Yoh 2:12-17

"Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Aku menulis kepadamu, hai anak-anak,
         sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama Yesus.
Aku menulis kepadamu, hai para bapak,
         sebab bapak-bapak telah mengenal Dia yang ada dari mulanya.
Aku menulis kepadamu, hai orang-orang muda,
         sebab kamu telah mengalahkan yang jahat.
Aku menulis kepadamu, hai anak-anak,
         sebab kamu mengenal Bapa.
Aku menulis kepadamu, hai para bapak,
         sebab bapak-bapak telah mengenal Dia yang ada dari mulanya.
Aku menulis kepadamu, hai orang-orang muda,
         sebab kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu,
         dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya.
Jikalau orang mengasihi dunia,
maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
Sebab semua yang ada di dalam dunia,
yaitu keinginan daging dan keinginan mata
serta keangkuhan hidup,
bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Dan dunia ini sedang melenyap bersama keinginannya,
tetapi orang yang melakukan kehendak Allah
tetap hidup selama-lamanya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 96:7-8a.8b-9.10,R:11a

Refren: Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak.

*Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa,
kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan!
Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya.

*Bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya,
Sujudlah menyembah kepada Tuhan
dengan berhiaskan kekudusan,
gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!

Katakanlah di antara bangsa-bangsa, "Tuhan itu Raja!
Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah.
Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran."



Bait Pengantar Injil


Inilah hari yang suci! 
Marilah, hai para bangsa, sujudlah di hadapan Tuhan,
sebab cahaya gemilang menyinari seluruh muka bumi.



Bacaan Injil
Luk 2:36-40

"Hana berbicara tentang kanak-kanak Yesus."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Ketika kanak-kanak Yesus dipersembahkan di Bait Allah,
ada di Yerusalem seorang nabi perempuan,
anak Fanuel dari suku Asyer. Namanya Hana.
Ia sudah sangat lanjut umurnya.
Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya,
dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah,
dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Pada hari kanak-kanak Yesus dipersembahkan di Bait Allah,
Hana pun datang ke Bait Allah dan mengucap syukur kepada Allah,
serta berbicara tentang kanak Yesus kepada semua orang
yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan
menurut hukum Tuhan,
kembalilah Maria dan Yusuf beserta Kanak Yesus
ke kota kediaman mereka,
 yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *The Power of Word*:

"*Menutup Tahun dengan Hati yang Tidak Lelah Berharap*"

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Kita sudah berada di penghujung tahun.
Sebentar lagi, satu tahun akan kita tutup, dan lembaran baru akan terbuka.

Di akhir tahun seperti ini, saya sering merenung dalam diam.
Setahun itu rasanya panjang, penuh dengan hal-hal kecil yang menguras tenaga dan hati.
Ada hari-hari ketika saya merasa kuat dan bersyukur,
tetapi ada juga hari-hari ketika lelah,
ketika doa terasa sunyi, dan harapan seperti berjalan sangat pelan.

Namun justru di saat-saat seperti itulah, Tuhan mengajak saya belajar setia.
Injil hari ini menghadirkan sosok Nabi Hanna, seorang perempuan yang sangat menyentuh hati saya.
Ia sudah lanjut usia. Hidupnya panjang, dan penantiannya juga panjang.
Hanna tidak hidup dalam kemewahan, tidak dikelilingi oleh sorotan orang banyak.
Ia hanya setia berada di hadapan Tuhan, berdoa, berpuasa, dan menunggu dengan sabar.

Ketika saya merenungkan sosok Hanna, saya melihat banyak ibu di zaman sekarang.
Ibu-ibu yang setiap hari bangun lebih pagi, memikirkan keluarga, anak-anak, dan rumah tangga.
Doa-doanya sering tidak terdengar oleh siapa pun, kecuali oleh Tuhan.
Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Hanna tidak menuntut Tuhan dengan kata-kata keras.
Ia tidak mengukur imannya dengan cepat atau lambatnya jawaban doa.
Ia setia, dan setia itu ia jalani sepanjang hidupnya.

Dan pada saat yang mungkin tidak pernah ia duga,
Hanna dipertemukan dengan Yesus yang masih kecil.
Dalam diri bayi itulah, seluruh perjalanan hidupnya menemukan makna.
Bukan karena semua keinginannya terpenuhi,
tetapi karena ia akhirnya melihat bahwa Tuhan setia pada janji-Nya.

Saya bersyukur berkesempatan belajar dari Hanna
bahwa harapan sejati bukanlah harapan yang selalu terlihat hasilnya,
tetapi harapan yang tetap dijaga dalam hati.
Kadang kita berdoa untuk anak-anak kita, untuk keluarga kita,
untuk masa depan, dan belum melihat jawabannya hari ini.
Tetapi belajar dari Hana, saya pun meyakini kalau Tuhan tidak pernah lupa.

Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita untuk tidak mencintai dunia dan segala keinginannya,
karena semuanya itu akan berlalu.
Firman ini sangat menegur saya.
Dalam kesibukan hidup, mudah sekali hati kita terikat pada hal-hal duniawi:
keberhasilan, kenyamanan, atau pengakuan.

Padahal, kita hidup di dunia ini bukan untuk mengejar semuanya,
tetapi untuk menjalani hidup dengan hati yang terarah kepada Tuhan.
Kita bekerja, mengurus rumah, mendampingi anak-anak, tetapi hati kita tetap berpaut pada Allah.

Menutup tahun tidak berarti semua masalah sudah selesai.
Menutup tahun juga tidak berarti semua doa sudah terjawab.
Tetapi menutup tahun dengan baik berarti kita memilih untuk tetap berharap,
dan tidak membiarkan hati kita dikuasai oleh dunia.

Seperti Hanna, mungkin kita telah lama menunggu.
Mungkin ada doa-doa yang masih kita simpan dalam hati.
Namun hari ini Tuhan mengingatkan kita:
yang penting bukan seberapa cepat doa itu dijawab, tetapi seberapa setia kita berjalan bersama Tuhan.

Mari kita menutup tahun ini dengan hati yang tidak lelah berharap.
Hati yang sederhana, setia, dan tidak terikat pada dunia.
Dan dengan hati seperti itulah,
kita melangkah ke tahun yang baru dengan damai dan penuh kepercayaan kepada Tuhan.
Amin.

*Doa Penutup*:

Marilah kita berdoa.
Allah Bapa yang penuh kasih,
Kami serahkan seluruh perjalanan hidup kami sepanjang tahun ini ke dalam tangan-Mu.
Apa pun yang belum terjawab, apa pun yang masih kami nantikan, kami percayakan kepada kasih dan rencana-Mu.
Kuatkan kami agar melangkah ke tahun yang baru dengan iman yang teguh dan harapan yang tidak pernah padam.
Amin.
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Sabinus, Uskup dan Martir
Sabinus adalah uskup kota Asisi. Bersama beberapa orang imamnya, ia ditangkap dan dipenjarakan di kala Kaisar Diokletianus dan Maksimianus melancarkan penganiayaan terhadap umat Kristen pada tahun 303. Pengadilan atas diri Sabinus bersama imam-imamnya dan seluruh umatnya ditangani langsung oleh Gubernur Venustian di kota Umbria. Mengikuti kebiasaan yang berlaku pada setiap pengadilan terhadap orang-orang Kristen, Venustian memerintahkan Sabinus bersama imam-imam dan seluruh umatnya menyembah sujud patung dewa Yupiter, dewa tertinggi bangsa Romawi. Mereka harus menyembah Yupiter karena Yupiterlah yang menurunkan hujan dan memberikan cahaya matahari kepada manusia, terutama karena Yupiter adalah pembela ulung kekuasaan Romawi di seluruh dunia.
Mendengar perintah sang Gubernur Venustian, Sabinus tampil ke depan seolah-olah hendak menyembah patung dewa Yupiter. Ia menyentuh patung itu dengan jarinya dan patung itu sekonyong-konyong hancur berkeping-keping dan berserakan di atas tanah. Semua orang yang hadir di situ tercengang keheranan. Melihat keajaiban itu, Venustian marah dan segera memerintahkan agar tangan Sabinus dipotong. Sementara itu imam-imamnya disiksa hingga mati.
Para serdadu yang diperintahkan memotong tangan Sabinus menggiring Sabinus ke hadapan Venustian untuk dihukum. Ketika berada di hadapan Venustian, Sabinus tergerak hatinya oleh belaskasihan atas Venustian yang sudah lama menderita penyakit mata yang membahayakan. Ia berdoa kepada Yesus lalu menyentuh mata Venustian. Seketika itu juga sembuhlah mata Venustian.
Mengalami kebaikan hati Sabinus, Venustian terharu dan melepaskan Sabinus. Ia sendiri pun kemudian bertobat dan minta dipermandikan. Tak lama kemudian Venustian yang sudah menjadi Kristen itu ditangkap dan dipenggal kepalanya oleh kaki tangan gubernur Asisi yang baru. Hal yang sama dilakukan pula atas diri Uskup Sabinus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2025-12-29 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Kelima dalam Oktaf Natal

Senin, 29 Desember 2025

PF S. Tomas Becket, Uskup dan Martir



Bacaan Pertama
1Yoh 2:3-11

"Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Saudara-saudara terkasih,
inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah,
yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
Barangsiapa berkata "Aku mengenal Allah"
tetapi tidak menuruti perintah-Nya,
ia adalah seorang pendusta,
dan tidak ada kebenaran di dalam dia.
Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya,
di dalam orang itu kasih Allah sungguh sudah sempurna;
dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Allah.
Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Allah,
ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Saudara-saudara kekasih,
bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu,
melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya.
Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.
Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu;
perintah ini telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu;
sebab kegelapan sedang melenyap
dan terang yang benar telah bercahaya.
Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang,
tetapi membenci saudaranya,
ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
Barangsiapa mengasihi saudaranya,
ia tetap berada di dalam terang,
dan di dalam dia tidak ada penyesatan.
Tetapi barangsiapa membenci saudaranya,
ia berada di dalam kegelapan
dan hidup di dalam kegelapan.
Ia tidak tahu ke mana ia pergi,
karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 96:1-2a.2b-3.5b-6,R:11a

Refren: Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai.

*Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan,
menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi!
Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya!

*Kabarkanlah dari hari ke hari
keselamatan yang datang dari pada-Nya,
ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa,
kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.

*Tuhanlah yang menjadikan langit,
keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya,
kekuatan dan hormat ada di tempat kudus-Nya.



Bait Pengantar Injil
Luk 2:32

Kristus cahaya yang menerangi pada bangsa,
Dialah kemuliaan bagi umat allah.



Bacaan Injil
Luk 2:22-35

"Kristus cahaya para bangsa."

Inilah Injil Suci menurut Lukas:

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat,
Maria dan Yusuf membawa kanak-kanak Yesus ke Yerusalem
untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan,
seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan:
"Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah."
Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban
menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon.
Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya,
yang menantikan penghiburan bagi Israel.
Roh Kudus ada di atasnya,
dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus,
bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias,
yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah.
Ketika kanak-kanak Yesus dibawa masuk oleh orang tua-Nya
untuk melakukan apa yang ditentukan hukum Taurat,
Simeon menyambut Anak itu
dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya,
"Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini
pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firman-Mu,
sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu
yang dikatakan tentang Kanak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
"Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
-- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Waktu pentahiran adalah masa yang harus dijalani seorang ibu setelah melahirkan anak. Menurut hukum Taurat, masa ini berlangsung empat puluh hari setelah persalinan [Im 12], dan pada masa itu seorang perempuan belum boleh masuk ke tempat kudus. Dalam cara pandang zaman itu, hal tersebut dikaitkan dengan keadaan "tidak tahir", bukan karena melahirkan itu dosa, melainkan karena adanya pengeluaran darah yang secara ritual dianggap menghalangi seseorang untuk beribadah secara penuh.

Sampai sekarang pun masih ada sebagian orang yang memahami persoalan ini secara keliru, seolah-olah persalinan atau bahkan haid adalah sesuatu yang najis secara moral. Padahal, persalinan dan juga haid adalah proses biologis semata, sesuatu yang kodrati, bahkan luhur, karena justru melalui proses itulah kehidupan manusia dilanjutkan. Proses ini berlaku secara eksklusif bagi perempuan, bukan untuk merendahkan, melainkan untuk melengkapi laki-laki. Dalam hal keturunan, perempuan dan laki-laki saling membutuhkan; tidak ada yang bisa berjalan sendiri tanpa kerja sama.

Bersamaan dengan masa pentahiran itu, Maria dan Yusuf juga membawa Yesus ke Bait Allah untuk dikuduskan bagi Tuhan. Menurut hukum Taurat, setiap anak laki-laki sulung adalah milik Tuhan dan harus dipersembahkan kepada-Nya [Kel 13]. Setelah itu, anak tersebut boleh "ditebus kembali" dengan pembayaran tertentu sebagai tanda bahwa hidupnya berasal dari Allah.

Injil tidak secara eksplisit menyebutkan apakah Yesus ditebus atau tidak. Namun ketika kita membaca tanggapan Simeon yang menerima Yesus di Bait Allah, kita segera menyadari bahwa penebusan dalam arti biasa menjadi tidak relevan. Simeon menyebut Yesus sebagai keselamatan yang disediakan Allah bagi semua bangsa, terang bagi bangsa-bangsa lain dan kemuliaan bagi Israel. Yang datang ke Bait Allah hari itu bukan sekadar anak sulung yang perlu ditebus, melainkan Sang Penebus itu sendiri.

Persembahan sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati bukanlah persembahan untuk menebus Yesus, melainkan syarat pentahiran bagi Maria. Hukum Taurat memberi kelonggaran bagi keluarga miskin untuk mempersembahkan burung, bukan domba. Dari sini kita tahu bahwa keluarga Nazaret adalah keluarga yang hidup sederhana, jauh dari kemewahan. Mereka tidak "menambah-nambahi" persembahan demi gengsi, tetapi juga tidak menguranginya dengan alasan apa pun.

Prinsip ini sangat relevan bagi kita. Tidak sepantasnya kita mempersembahkan sesuatu secara berlebihan dengan maksud pamer atau mencari kehormatan. Namun sebaliknya, juga tidak pantas bila seseorang yang hidup berkecukupan memberi kepada Tuhan sekadarnya saja, sementara untuk kepentingan duniawi ia rela mengeluarkan biaya yang sangat besar. Persembahan sejati selalu lahir dari hati yang jujur, bukan dari hitung-hitungan untung rugi.

Lalu apa yang dapat kita petik dari Injil hari ini?
Yesus, Maria, dan Yusuf sesungguhnya tidak "wajib" tunduk pada hukum Taurat dalam arti teologis yang sempit. Yesus adalah Tuhan. Namun justru di sinilah letak keindahannya. Mereka memilih untuk taat, tanpa "mentang-mentang", tanpa "sok-sokan". Kepatuhan itu dijalani dengan rendah hati, bukan sebagai beban, melainkan sebagai teladan.

Yesus disunat pada hari kedelapan. Maria menjalani pentahiran. Anak sulung dipersembahkan kepada Tuhan. Semua ketentuan Taurat dipatuhi tanpa banyak alasan. Kepatuhan keluarga Kudus ini menunjukkan bahwa ketaatan bukan soal status, melainkan soal sikap hati.

Namun Simeon juga mengingatkan bahwa ketaatan itu tidak otomatis menghapus penderitaan. Yesus akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan, dan bagi Maria sendiri akan ada sebilah pedang yang menusuk jiwa. Artinya, hidup setia kepada kehendak Allah tidak menjamin hidup bebas dari luka dan air mata.

Karena itu, janganlah kita mengaitkan ketaatan pada Injil dengan janji-janji duniawi semata. Jangan berpikir bahwa karena kita taat, maka hidup pasti mulus. Yesus sendiri telah mengingatkan, "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah."  [Yoh 12:24]

Bacaan Pertama hari ini menegaskan hal yang sama dari sudut yang lain. Mengasihi Allah bukan sekadar soal berkata "aku mengenal Dia", melainkan hidup dalam terang. Orang yang sungguh mengenal Allah akan tampak dari caranya mengasihi sesama. Ketaatan yang sejati selalu berbuah kasih, dan kasih itu membuat kita berjalan dalam terang, bukan dalam kegelapan.

Maka, melalui peristiwa sederhana di Bait Allah ini, kita diajak belajar satu hal penting: taatlah pada kehendak Tuhan dengan rendah hati, hiduplah dalam kasih yang nyata, dan jangan takut bila ketaatan itu menuntun kita melewati jalan salib. Dari situlah buah kehidupan justru akan lahir.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Thomas Becket dari Canterbury, Uskup dan Martir
Thomas Becket lahir di London pada tahun 1118. Orang-tuanya berkebangsaan Normandia. Semenjak kecilnya, Thomas menunjukkan bakat-bakat yang luar biasa. Ia belajar di biara Merton di Surrey, kemudian di London dan Paris. Pada usia 21 tahun ia sudah berkecimpung di dunia politik di London. Kepandaiannya menarik hati Theobaldus, Uskup Agung Canterbury sehingga ia ditahbiskan menjadi diakon dan dibebani macam-macam tugas.
Akhirnya namanya yang harum itu terdengar juga oleh Raja Henry II. Atas rekomendasi Uskup Theobaldus, Raja Henry II mengangkat Thomas menjadi penasehatnya. Sebagai seorang abdi sekaligus sahabat Raja, Thomas mendampingi Raja dalam berbagai urusan kenegaraan. Ia menyusun dan mengatur perjanjian damai dengan Prancis pada tahun 1160. Sepeninggal Uskup Theobaldus pada tahun 1161, Raja Henry mengangkat dia menjadi Uskup Agung Canterbury, karena ia membutuhkan seorang pendamping yang mampu membantunya dalam urusan-urusan kerajaan. Thomas sendiri sangat segan menerima jabatan mulia itu. Tetapi demi kelangsungan kepemimpinan di dalam Gereja, Thomas akhirnya dengan rendah hati menerima juga jabatan itu. Setelah ditahbiskan menjadi Uskup Agung Canterbury, Thomas mengundurkan diri dari jabatan penasehat raja agar supaya ia lebih leluasa menjalankan tugas-tugas kegembalaan. Ia meninggalkan gelanggang politik, meninggalkan segala kemewahan duniawi, lalu mulai lebih memusatkan perhatian pada bidang kerohanian, kasih amal dan studi teologi. Hidupnya ditandai dengan kesederhanaan. Ia gigih membela hak-hak Gereja dari rongrongan pihak mana pun. Dengan tegas ia menolak menandatangani Konstitusi Klarendon, suatu dokumen yang memberikan hak kepada pemerintah untuk campur-tangan di dalam urusan-urusan Gerejawi. Karena itu Henry mulai mengambil tindakan keras terhadapnya. Dalam suatu pertemuan di Northampton pada tanggal 13 Oktober 1164, Thomas secara terbuka menentang Henry dengan meninggalkan pertemuan itu.
Ia naik banding kepada paus dan mengasingkan diri ke Prancis. Raja Louis VII menyambut baik kedatangannya dan mengizinkan dia tinggal di sana selama 6 tahun. Raja Henry mengambil alih seluruh kekayaan keuskupannya. Namun paus tidak mengizinkan Thomas meletakkan jabatannya. Pada tahun 1170 Henry menawarkan perdamaian dengan Thomas dan mengizinkan dia kembali ke Inggris.
Pada bulan Desember 1170, Thomas kembali ke Inggris dan diterima dengan meriah oleh seluruh umat. Namun ia tidak mau mengampuni uskup-uskup yang memihak raja sebelum mereka bersumpah setia kepada paus. Ia bahkan memanfaatkan isinan Paus Aleksander III yang diberikan pada tahun 1166, untuk mengekskomunikasikan uskup-uskup itu. Tindakan ekskomunikasi ini membuat raja sangat kesal dan marah. Empat orang perwiranya segera diperintahkan ke Canterbury untuk membunuh Thomas. Ketika itu Thomas sedang melakukan ibadat sore di dalam katedralnya. Empat perwira itu segera menyergap dan membunuh Uskup Thomas di depan Sakramen Mahakudus. Peristiwa sadis ini terjadi pada tanggal 29 Desember 1170.
Thomas dari Canterbury segera dihormati sebagai orang kudus oleh seluruh umat dan tempat di mana ia dibunuh dihormati sebagai tempat keramat. Raja Henry merasa puas dengan pembunuhan itu. Namun suara hatinya terus mengusik batinnya sehingga pada tahun 1172 ia membatalkan Konstitusi Clarendon dan melakukan pertobatan di hadapan seluruh umat. Pada tanggal 21 Februari 1173, Aleksander III secara resmi mengumumkan kanonisasi Thomas. Tempat pembunuhannya menjadi salah satu tempat ziarah terkenal di Eropa sampai Raja Henry VIII membongkarnya dan mengambil alih kekayaannya pada tahun 1538. Kata-katanya terakhir sebelum menghembuskan nafasnya ialah: "Aku bersedia mati demi nama Yesus dan Gereja-Nya."

Santo Kaspar Del Bufalo, Pengaku Iman
Kaspar Del Bufalo yang dikenal sebagai pendiri Kongregasi Misionaris Darah Mulia, lahir pada tahun 1786 di Roma, Italia. Pada tahun 1808 ia ditahbiskan menjadi imam di Roma. Pada waktu tentara-tentara Napoleon I menduduki kota Roma, Kaspar ditangkap dan dipenjarakan tetapi ia kemudian berhasil meloloskan diri dari penjara dan melarikan diri dari Roma.
Dengan dukungan kuat dari Kardinal Cristaldi dan Paus Pius VII (1800-1823), Kaspar mendirikan Kongregasi Misionaris Darah Mulia pada tahun 1815 di Giano. Sambil mendirikan pusat biara di Albano Laziale, dekat Roma, dan di seluruh Kerajaan Napoli, Italia Selatan, kongregasi itu berjuang membangun kembali Italia yang diporak-porandakan oleh perang dan berbagai pertikaian. Kaspar dikenal sebagai seorang pengkotbah yang berhasil terutama di daerah-daerah pedesaan. Selain aktif dalam karya pewartaan dan karya karitatif untuk menolong orang-orang miskin, Kaspar mendirikan perkumpulan-perkumpulan doa untuk adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus.  Ia meninggal dunia di Roma pada tanggal 28 Desember karena terserang penyakit kolera yang menyerang kota Roma. Pada tahun 1954, Kaspar digelari 'kudus' oleh Paus Pius XII (1939-1958).

Daud, Raja Israel Yang Terbesar
Daud (Yunani: Dauid; Ibrani: Dawid) artinya "Yang terkasih" adalah Raja Israel kedua dan yang terbesar sekitar tahun 1010 sampai 970 seb.M (1 Sam 16-1 Raj 2; Kis 7:45). Tanggal kelahirannya tidak diketahui pasti; tetapi ia meninggal dunia di Israel pada tahun 973 seb.M. Ia, seorang Efrata dari Betlehem dan anak bungsu Isai (1 Sam 16:11; 17: 12; 1 Taw 2:15; Mat 1:5-6; Luk 3:31). Kecintaan umat Israel kepada Daud terutama karena ia berhasil membunuh Goliath, panglima perang bangsa Filistin.
Sebagai seorang pejuang muda, Daud diagungkan sebagai seorang pahlawan. Cinta dan puji-pujian rakyat ini membangkitkan amarah dan kecemburuan Raja Saul. Saul kemudian berusaha membunuh Daud. Daud tetap tenang dan bersikap jantan menghadapi rencana jahat Saul. Ia mengungsi ke padang gurun Yudea dan berhasil memikat hati suku-suku bangsa yang berdiam di sana. Ia menikahi Aninoam, Abigail dan akhirnya dengan Mikhal. Dari sana ia menyusun rencana dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menggulingkan Saul yang dianggap sebagai "Orang yang diurapi Tuhan."
Setelah Saul meninggal dunia, Daud diurapi sebagai raja atas Yuda di Hebron, sektor selatan Israel. Sekitar tujuh tahun kemudian, setelah Abner meninggal dunia, Daud diakui sebagai raja untuk seluruh Israel sampai ia mati. Manufer politik pertama yang dilancarkan Daud sebagai raja ialah menaklukkan suku bangsa Yebusi dan merebut Yerusalem yang dikuasai oleh suku itu. Tempat tinggal raja dipindahkan ke Yerusalem. Di sana ia menikah dengan Batsyeba. Untuk mempertahankan kedudukkannya, ia harus menaklukkan setiap kota Kanaan atau mengintegrasikannya ke dalam suku-suku Israel. Sebaliknya Daud juga harus mempersatukan suku-suku yang masih berdiri sendiri-sendiri, terutama suku-suku Utara dan Selatan, menjadi satu bangsa. Oleh sebab itu, ia bersikap lunak sekali terhadap keluarga Saul (2 Sam l:1-16; 3:13-16), memilih tempat tinggal di daerah yang tidak dikuasai oleh bangsa Israel, memindahkan Tabut Perjanjian Allah (2 Sam 6:1-9), membuat persiapan untuk membangun kenisah pusat (2 Sam 7; 24:18-25), dan membentuk suatu pasukan yang tangguh (1 Taw 27:1-15). Hampir seluruh daerah Barat sungai Yordan dikalahkan oleh Daud. Para bangsa Edom; Aram, Moab dan Ammon ditaklukkannya. Tetapi kerajaannya yang begitu gemilang dikeruhkan oleh kejadian-kejadian dan intrik-intrik pribadi: tingkahnya sendiri terhadap Uria dan Batsyeba (2 Sam 11), penodaan oleh Ammon terhadap Tamar puterinya (2 Sam 13:1-22); pemberontakan dan kematian Absalom (2 Sam 15; 18:1 - 19:9) dan intrik-intrik untuk mewarisi takhta.
Kitab Raja-raja mengisahkan keinginan Daud untuk mendirikan satu kediaman yang pantas untuk menyimpan Tabut Perjanjian Yahweh, namun ia meninggal dunia sebelum melaksanakan niatnya itu. Kemudian Solomon, puteranya sendiri merealisir rencananya yang luhur itu dengan mendirikan sebuah kenisah. Daud meninggal dunia dalam keadaan sakit tua pada tahun 973 seb. M., kira-kira dalam usia 70 tahun. Makamnya masih dikenal pada zaman Nehemia (2 Sam 3;16) dan pada zaman Kristus (Kis 2:29). Daud adalah leluhur Yesus melalui Yusuf (Mat 1:17; 20; Luk 1:27,32; 2:4; Why 5:5; 22:16); ia juga seorang nabi karena dalam Mazmur-mazmur yang diciptakannya ia menubuatkan kedatangan Kristus (Sir 47:8; Kis 1:16; 2:25,34;4:25; Rom 4:6;11:9; Ibr 4:7), serta kebangkitan Kristus (Kis 2:29-36; 13:34-37).



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2025-12-28 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, Yusuf

Minggu, 28 Desember 2025



Bacaan Pertama
Sir 3:2-6.12-14

"Barangsiapa takwa pada Tuhan,
ia menghormati orangtuanya."

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Anak-anakku, dengarkanlah aku:
Tuhan telah memuliakan bapa di atas anak-anaknya,
dan hak ibu atas para anaknya Ia teguhkan.
Barangsiapa menghormati bapanya, ia memulihkan dosa,
dan siapa memuliakan ibunya,
ia sama dengan orang yang mengumpulkan harta.
Barangsiapa menghormati bapanya,
ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya,
dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan.
Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya,
dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan hati ibunya.

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya,
dan jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya.
Kalau akalnya sudah berkurang, hendaklah kaumaafkan,
jangan menistakan dia sewaktu engkau masih berjaya.
Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak akan terlupakan;
sebaliknya akan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 128:1-2.3.4-5,

Refren: Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan,
yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.

*Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan,
yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!
Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu,
berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!

*Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur
di dalam rumahmu;
anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun
di sekeliling mejamu!

*Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan
orang laki-laki yang takwa hidupnya.
Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion:
boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.



Bacaan Kedua
Kol 3:12-21

"Tata hidup keluarga di dalam Tuhan."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose:

Saudara-saudara,
kalianlah orang pilihan Allah,
yang dikuduskan dan dikasihi-Nya.
Maka kenakanlah belas kasihan,
kemurahan dan kerendahan hati,
kelemahlembutan dan kesabaran.
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain,
dan hendaknya kalian saling mengampuni
bila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain;
sebagaimana Kristus mengampuni kalian,
demikian pula kalian hendaknya.

Dan di atas semuanya itu kenakanlah cintakasih,
tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
Semoga damai sejahtera Kristus menguasai hatimu,
karena untuk itulah kalian dipanggil menjadi satu tubuh.
Dan bersyukurlah.
Semoga sabda Kristus dengan segala kekayaannya
tinggal di antara kamu.
Hendaknya kalian saling mengajar dan menasehati
dengan segala hikmat.
Nyanyikanlah mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani,
untuk mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Dan segala sesuatu
yang kalian lakukan dengan perkataan atau perbuatan,
lakukanlah itu demi nama Tuhan Yesus Kristus,
dan dengan perantaraan-Nya
bersyukurlah kepada Allah, Bapa kita.

Hai para isteri,
tunduklah kepada suamimu,
sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
Hai para suami,
kasihilah isterimu,
dan janganlah berlaku kasar terhadapnya.
Hai anak-anak,
taatilah orangtuamu dalam segala hal,
karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
Hai para bapa,
janganlah sakiti hati anakmu,
supaya jangan tawar hatinya.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Kol 3:15a:16a

Semoga damai sejahtera Kristus menguasai hatimu,
semoga sabda Kristus dengan segala kekayaannya tinggal di antara kamu.



Bacaan Injil
Mat 2:13-15.19-23

"Ambillah Anak itu serta ibu-Nya,
dan larilah ke Mesir."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Setelah orang-orang majus
yang mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem pulang,
nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi.
Malaikat itu berkata,
"Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya!
Larilah ke Mesir dan tinggallah di sana
sampai Aku berfirman kepadamu,
karena Raja Herodes akan mencari Anak itu untuk dibunuh."
Maka Yusuf pun bangun.
Malam itu juga diambilnya Anak itu serta ibu-Nya,
lalu menyingkir ke Mesir,
dan tinggal di sana hingga Herodes mati.
Hal itu terjadi
supaya genaplah yang difirmankan Tuhan lewat nabi-Nya,
"Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."

Setelah Herodes mati,
nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf di Mesir dalam mimpi.
Kata malaikat itu,
"Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya,
dan berangkatlah ke tanah Israel,
karena mereka yang hendak membunuh Anak itu sudah mati."
Lalu Yusuf pun bangunlah.
Diambilnya Anak itu serta ibu-Nya,
dan pergilah mereka ke tanah Israel.
Tetapi setelah mendengar
bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea
menggantikan Herodes, ayahnya,
Yusuf takut ke sana.
Setelah dinasihati dalam mimpi,
pergilah Yusuf ke daerah Galilea.
Setibanya di sana ia tinggal di sebuah kota
yang bernama Nazaret.
Hal itu terjadi supaya genaplah firman
yang disampaikan oleh nabi-nabi,
bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Berikut ini renungan Daily Fresh Juice:

Para Pendengar dan Pewarta Daily Fresh Juice,
Mengapa begitu banyak keluarga ingin menjadi seperti Keluarga Nazaret: Yesus, Maria, dan Yusuf?
Apa sebenarnya yang kita dambakan, ketika kita menyebut Keluarga Kudus sebagai teladan hidup berkeluarga?
Apakah kita menginginkan keluarga yang rapi, tenang, tanpa konflik, tanpa guncangan?
Atau, sesungguhnya kita sedang mencari rasa aman, kepastian, dan jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja?

Sering kali, tanpa kita sadari, kita membayangkan Keluarga Kudus sebagai keluarga yang ideal menurut ukuran dunia.
Tertata, Stabil, Damai.
Tetapi… benarkah demikian gambaran yang diberikan Kitab Suci?

Kalau kita sungguh-sungguh membaca Injil hari ini, gambaran keliru itu langsung terbongkar.
Keluarga Nazaret bukan hanya "tidak bahagia" menurut ukuran dunia.
Mereka hidup dalam ketidakpastian.
Sejak awal, hidup mereka berada dalam ancaman.
Seorang bayi yang baru lahir, sudah diburu untuk dibunuh.
Dan Yusuf, sebagai kepala keluarga, harus mengambil keputusan besar dalam waktu yang sangat singkat.
Bangun. Ambil Maria dan Yesus. Lalu bergegas Pergi, untuk mengungsi ke Mesir.
Perjalan jauh yang tanpa rencana matang, tanpa jaminan masa depan, dan tanpa kepastian apakah bisa kembali atau tidak.
Mereka meninggalkan segalanya, meninggalkan tanah air, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan rasa aman.

Yusuf tidak tahu, berapa lama mereka harus tinggal di negeri asing.
Ia tidak tahu, bagaimana kelangsungan hidup keluarganya.
Tetapi ia tahu satu hal, dan itu cukup baginya:
keselamatan anak yang dipercayakan Tuhan kepadanya, tidak boleh dikompromikan.

Ketika Herodes wafat, masalah masih belum selesai.
Ancaman masih ada.
Rencana harus diubah.
Mereka tidak kembali ke Yudea, melainkan menetap di Nazaret,
sebuah kota kecil yang nyaris tak diperhitungkan orang.

Hidup Keluarga Kudus yang terus diwarnai keputusan-keputusan sulit, Yang bukan kenyamanan, bukan stabilitas, bukan kepastian.
Kalau diukur dengan standar dunia, keluarga ini pun jauh dari kata berhasil.
Garis keturunan mereka terputus.
Yesus tidak menikah. Tidak ada anak. Tidak ada cucu.
Silsilah panjang itu berhenti pada satu salib.

Jadi, kalau kita jujur, Keluarga Kudus itu jauh dari ideal dunia.
Namun justru di sanalah letak kekuatan mereka,
yakni mereka dekat dengan kehendak Allah.

Apa yang membuat mereka dimampukan bertahan dan terus melangkah di tengah hidup yang tidak ideal itu?

Pertama, ketaatan yang lahir dari kepercayaan penuh kepada Tuhan.
Yusuf mendengarkan kehendak Allah, dan bertindak.
Ia tidak menunggu agar semuanya jelas.
Ia tidak menuntut jaminan kepastian.
Ia taat karena ia percaya.
Ketaatan seperti ini bukan ketaatan yang nyaman, melainkan ketaatan yang berani.

Berani melangkah saat peta belum lengkap.
Berani memutuskan saat masa depan belum terlihat.

Kedua, kesediaan untuk mengalahkan kepentingan diri sendiri.
Yusuf dan Maria tidak mempertahankan kenyamanan pribadi.
Mereka rela melepaskan rasa aman, demi menjalankan kehendak Allah atas keluarga mereka.

Dalam keluarga, sering kali kasih sejati tampak bukan dalam kata-kata indah, melainkan dalam pengorbanan yang tidak selalu terlihat.

Ketiga, kesetiaan dalam proses yang panjang.
Tidak ada jalan pintas, tidak ada mukjizat instan yang menghapus semua persoalan.
Yang ada adalah perjalanan sulit, kerja keras, penantian, dan kesabaran, hari demi hari.
Nilai-nilai inilah yang ditegaskan oleh bacaan-bacaan hari ini.
Sirakh mengingatkan kita bahwa keluarga adalah tempat pertama menumbuhkan hormat dan kasih.
Bukan hanya ketika semuanya berjalan baik, tetapi justru ketika orangtua menua, ketika anak-anak berbeda pandangan, ketika kesalahpahaman mudah terjadi.

Dan Rasul Paulus pada Bacaan Kedua, mengajak setiap anggota keluarga untuk mengenakan belas kasih, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan.
Semua kebajikan itu, tidak lahir dalam situasi nyaman.
Justru kebajikan itu diuji, diasah, dan dimurnikan dalam kesulitan hidup.

Keluarga-keluarga kita hari ini pun menghadapi berbagai persoalan:
Masalah ekonomi yang membuat masa depan terasa tidak pasti.
Relasi yang retak karena komunikasi yang tidak lagi jujur.
Perbedaan pandangan yang membuat rumah terasa dingin.
Penyakit yang datang tanpa permisi.
Kegagalan yang menggoyahkan rasa percaya diri.
Ketidakpastian masa depan yang melelahkan batin.

Dalam situasi seperti itu,
Pesta Keluarga Kudus mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:
apakah kita sedang mengejar keluarga yang tampak sempurna menurut ukuran dunia?
Ataukah kita sedang belajar menjadi keluarga yang setia menurut kehendak Allah?
Meneladani Keluarga Kudus bukan berarti meniadakan masalah,
bukan berarti hidup bebas dari luka, bukan berarti semuanya akan selalu berjalan mulus.
Meneladani Keluarga Kudus berarti belajar setia di tengah ketidakpastian, berani mengambil keputusan sulit demi kebaikan bersama, dan tetap berjalan bersama Tuhan, sekalipun hidup jauh dari ideal dunia
sebab kekudusan keluarga tidak lahir dari hidup yang bebas masalah.
Kekudusan keluarga lahir dari kesetiaan untuk tetap dekat dengan kehendak Allah.

Justru di situlah, perlahan-lahan, Tuhan membentuk keluarga kita menjadi tempat di mana kasih-Nya tinggal dan bertumbuh.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Pesta Para Kanak-kanak Suci Betlehem, Martir
Kelahiran Yesus yang konon akan menjadi 'Raja Israel' membawa kegoncangan bahkan ancaman terhadap kekuasaan Herodes Agung. Kemarahan Herodes semakin menjadi-jadi karena Tiga Raja dari Timur, yang disuruh kembali ke Yerusalem untuk memberitahukan kepadanya tempat kelahiran bayi Yesus, pulang ke negerinya masing-masing melalui jalan lain. Ia segera memerintahkan agar bayi Yesus dibunuh dan semua bayi yang ada di Betlehem. Tanpa mempedulikan ratap tangis ibu-ibu, disuruhnya membunuh semua kanak-kanak di daerah Betlehem. Maksudnya gagal karena Kanak-kanak Yesus sudah dibawa lari orangtua-Nya ke Mesir.
Herodes memang dikenal sebagai penguasa yang berhasil membangun Yerusalem dengan berbagai monumen, namun ia sebenarnya adalah boneka mainan kaisar Romawi. Namanya sendiri busuk karena ke bengisan dan kebejatan hidupnya. Ia membunuh banyak orang termasuk tiga orang puteranya sendiri. Isterinya ada 10 orang. Dengan melihat pada kepribadiannya yang bejat ini, kita dapat memahami tindakannya.
Pada hari ini Gereja bukan saja menghormati kanak-kanak itu sebagai martir-martir Kristus, melainkan juga terutama menekankan nilai kesucian hidup dan kemurnian hati sebagai suatu cita-cita iman semua orang Kristen. Pesta hari ini menghimbau semua orang Katolik untuk terus berjuang mewujudkan kesucian dan kemurnian hidup sebagai saksi-saksi Kristus, meskipun kerap harus mengorbankan nyawa, menumpahkan darah karena cinta kasih kepada Allah dan sesama. Di dalam diri kanak-kanak Suci dan tak bersalah itu dapat dibaca cita-cita Kristen pada masa Gereja perdana. Marilah kita meneladani pula cita-cita iman yang luhur itu agar kita pun suci dari semua yang menentang kehendak Tuhan serta menghadapi Bapa kita di surga dalam keadaan yang se-sempurna-sempurnanya.

Santa Fabiola, Janda
Fabiola Iahir di Roma pada pertengahan abad ke-4 dari sebuah keluarga ningrat.
Masa mudanya sangat tidak terpuji.
Mula-mula ia menikah dengan seorang pemuda yang bejat hidupnya.
Karena tidak tahan maka ia berusaha cerai.
Setelah ia berhasil secara sipil, ia menikah Iagi dengan lelaki lain.
Sebagai orang Kristen, tindakannya ini sangat tidak terpuji dan mencoreng nama baik Gereja.
Namun Tuhan rupanya tidak sudi membiarkan Fabiola bertindak semakin sembrono. Tuhan mulai campur tangan.
Tidak lama kemudian dua laki-laki yang menjadi suaminya itu meninggal dunia.
Fabiola sendiri menyesali sikap hidupnya dan bertobat.
Ia menaati aturan hidup sebagai anggota Gereja, melakukan silih di hadapan seluruh umat sehingga diterima kembali sebagai anggota Gereja.
Pertobatannya secara terbuka dilakukannya di muka basilik Lateran.
Paus Santo Siricius menerimanya kembali dalam pangkuan ibu Gereja.

Corak hidupnya yang baru diwarnai dengan pengabdian tulus dalam karya-karya cinta kasih.
Harta bendanya ia manfaatkan untuk kepentingan Gereja Roma.
Ia mendirikan rumah sakit khusus untuk membantu orang-orang miskin.
Para pasiennya adalah gelandangan-gelandangan yang ditemuinya di jalan-jalan atau yang meringkuk di dalam penjara.
Rumah sakit ini menampung siapa saja sehingga menjadi semacam rumah sakit umum pertama dalam sejarah Barat.

Pada tahun 395 Fabiola berziarah ke Yerusalem dan mengunjungi Santo Hieronimus, Santa Paula dan Santa Eustakium.
Ketika itu Hieronimus sedang bermusuhan dengan Uskup Rufinus berkenaan dengan ajaran Origenes yang ditentangnya.
Orang berusaha mempengaruhi Fabiola agar memihak Rufinus.
Namun Fabiola tetap mendukung Hieronimus, gurunya.
Fabiola mendirikan sebuah biara dan membantu Hieronimus dalam usaha menerjemahkan Kitab Suci.
Tetapi kemudian ia pindah dari biara itu: biara itu menjadi tempat ziarah yang sangat ramai; kondisi hidup umat sangat tidak menyenangkan: umat Kristen terpecah-pecah, dan dari luar ada ancaman serangan bangsa Hun, dll.
Untuk sementara Fabiola dengan kawan-kawannya mengungsi ke Jaffa, sambil menantikan ketenteraman di Yerusalem.
Setelah keadaan pulih dan aman, Fabiola pulang ke Roma dan kawan-kawannya kembali ke Yerusalem.
Di Roma masih terdapat banyak masalah. Meskipun demikian, Fabiola tetap meneruskan karya cintakasihnya selama tahun-tahun terakhir hidupnya.
Bersama Santo Pammachius, ia mendirikan rumah sakit umum besar di Porto untuk peziarah yang miskin dan sakit.
Dalam satu tahun saja rumah sakit itu terkenal dari Parthia sampai ke Britania. Fabiola wafat pada tahun 399. Ia sangat dicintai dan dihormati.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2025-12-27 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Pesta S. Yohanes, Rasul dan Penulis Injil

Sabtu, 27 Desember 2025



Bacaan Pertama
1Yoh 1:1-4

"Apa yang telah kami lihat dan kami dengar,
itulah yang kami tuliskan kepada kamu."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes:

Saudara-saudara terkasih,
apa yang telah ada sejak semula,
yang telah kami dengar dan kami lihat dengan mata kami,
yang telah kami saksikan, dan kami raba dengan tangan kami;
yakni Firman hidup,
itulah yang kami tuliskan kepada kamu.
Hidup telah dinyatakan,
dan kami telah melihatnya!
Dan sekarang kami bersaksi serta memberitakan kepada kamu
tentang hidup kekal,
yang ada bersama-sama dengan Bapa,
dan yang telah dinyatakan kepada kami.

Apa yang telah kami lihat dan kami dengar itu,
kami beritakan kepada kamu juga,
supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami.
Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa
dan dengan Anak-Nya, yakni Yesus Kristus.
Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu,
supaya sukacita kami menjadi sempurna.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 97:1-2.5-6.11-12,R:12a

Refren: Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar.

*Tuhan adalah Raja, biarlah bumi bersorak-sorai,
biarlah banyak pulau bersukacita.
Awan dan kekelaman ada sekelilingnya,
keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.

*Gunung-gunung luluh laksana lilin di hadapan Tuhan,
di hadapan Tuhan semesta alam.
Langit memberitakan keadilan-Nya
dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.

*Terang sudah terbit bagi orang benar,
dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati.
Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar,
dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.



Bait Pengantar Injil


Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan,
kepada-Mu paduan para rasul bersyukur.



Bacaan Injil
Yoh 20:2-8

"Murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus
sehingga lebih dahulu sampai di kubur."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Pada hari Minggu Paskah,
setelah mendapati makam Yesus kosong,
Maria Magdalena berlari-lari mendapatkan Simon Petrus
dan murid yang lain yang dikasihi Yesus.
Ia berkata kepada mereka,
"Tuhan telah diambil orang dari kuburnya,
dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.
Keduanya berlari bersama-sama,
tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus,
sehingga ia lebih dahulu sampai di kubur.
Ia menjenguk ke dalam,
dan melihat kain kapan terletak di tanah;
tetapi ia tidak masuk ke dalam.
Maka tibalah Simon menyusul dia,
dan masuk ke dalam kubur itu.
Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus
tidak terletak dekat kain kapan itu,
tetapi agak di samping di tempat yang lain,
dan sudah tergulung.
Maka masuklah juga murid yang lain,
yang lebih dahulu sampai di kubur itu;
dan ia melihatnya dan percaya.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Yohanes, Rasul dan Penulis Injil.

Dalam Bacaan Pertama dari suratnya, Yohanes dengan sengaja menggunakan kata *"kami"*. Itu bukan kebetulan. Yohanes tidak menempatkan dirinya sebagai saksi tunggal, melainkan sebagai bagian dari komunitas para saksi hidup — mereka yang melihat dengan mata kepala sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, dan mengalami secara nyata persekutuan dengan Allah Bapa melalui Yesus Kristus.

Persekutuan dengan Allah Bapa yang diwartakan Yohanes bukanlah persekutuan yang eksklusif, bukan milik segelintir orang kudus saja. Persekutuan itu bersifat inklusif, terbuka bagi semua orang yang berkenan kepada-Nya — termasuk kita, di sini dan sekarang.

Kalau ditanya, hampir bisa dipastikan tidak ada seorang pun yang tidak ingin bersekutu dengan Allah. Kita semua ingin menjadi orang baik, orang yang hidupnya benar di hadapan Tuhan. Saya belum pernah mendengar ada anak kecil yang bercita-cita menjadi penjahat. Keinginan untuk hidup benar itu ada dalam diri setiap orang.

Namun, keinginan saja ternyata tidak cukup. Keinginan harus diikuti dengan upaya. Persekutuan tidak terjadi dengan sendirinya. Ia perlu diusahakan, dipelihara, dan dilatih — bahkan lewat langkah-langkah kecil. Justru dari inisiasi-inisiasi kecil itulah persekutuan itu mulai terbangun dan bertumbuh.

Di sinilah kita belajar dari Rasul Yohanes. Yohanes adalah sosok yang tidak pernah meragukan Yesus. Ia bahkan berani menyebut dirinya sebagai *murid yang dikasihi Yesus*. Dan keyakinan itu tidak lahir dari kesombongan, melainkan dari kedekatan. Yohanes selalu memilih untuk berada dekat dengan Yesus.

Dalam setiap persekutuan, kedekatan adalah kunci — baik kedekatan secara fisik maupun secara rohani. Memang, hari ini kita tidak lagi bisa berada dekat dengan Kristus secara fisik seperti para rasul dahulu. Karena itulah Gereja membenarkan penggunaan simbol-simbol suci sebagai sarana untuk menumbuhkan kedekatan batin dengan Tuhan dan para kudus-Nya.

Di depan meja kerja saya di rumah, ada salib Yesus lengkap dengan corpus-Nya. Tetapi itu bukan berhala. Saya tidak menyembah kayu atau patung. Saya menyembah Yesus Kristus yang hidup. Salib itu bukan pajangan, melainkan pengingat — sebuah cara sederhana agar saya selalu merasa dekat dengan Dia yang telah lebih dahulu mendekat kepada kita.

Masih ada satu hal penting lagi yang bisa kita pelajari dari Rasul Yohanes: *kesigapannya dalam merespons karya Allah*.

Dalam Injil hari ini, Yohanes berlari lebih cepat dari murid-murid lainnya ketika mendengar kabar bahwa jenazah Yesus tidak lagi berada di kubur. Ia tidak menunda, tidak menunggu, tidak berspekulasi terlalu lama. Yohanes selalu mengambil kesempatan pertama ketika Allah mulai berkarya.

Ia berlari, melihat, dan akhirnya percaya.

Kiranya sikap itulah yang juga kita hidupi. Tidak menunda ketika Tuhan menggerakkan hati kita. Tidak ragu ketika Dia memanggil kita untuk terlibat dalam karya-Nya. Berani melangkah lebih cepat, lebih sigap, dan lebih percaya.

Seperti Yohanes, mari kita memilih untuk dekat, tanggap, dan setia dalam persekutuan dengan Kristus.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yohanes, Rasul dan Penulis Injil
Santo Yohanes Rasul, anak Zebedeuz (Mrk 1:19 dst) berasal dari Betsaida, sebuah dusun nelayan di pantai tasik Genesareth. Ia sendiri seorang nelayan Galilea. Ayahnya Zebedeus, seorang nelayan yang tergolong berkecukupan. Ibunya Salome tergolong wanita pelayan dan pengiring setia Yesus, bahkan sampai ke bulit Kalvari dan kubur Yesus.
Bersama dengan saudaranya Yakobus dan Petrus, Yohanes termasuk kelompok rasul inti dalam bilangan keduabelasan; ia bahkan disebut sebagai murid kesayangan Yesus (Yoh 21:20). Mereka bertiga (Yohanes, Yakobus dan Petrus) adalah saksi peristiwa pembangkitan puteri Yairus (Mrk 5:37 dst); saksi peristiwa perubahan rupa Yesus di gunung Tabor (Mrk 9:2 dst) dan saksi peristiwa sakratul maut dan doa Yesus di taman Getzemani (Mrk 14:33). Bersama Andreas, Yohanes adalah murid Yohanes Pemandi (Yoh 1:40). Yohanes Pemandi-lah yang menyuruh mereka berdua pergi kepada Yesus dan bertanya: "Rabbi, di manakah Engkau tinggal?  (Yoh 1:36-39).
Putera-putera Zebedeus itu terbilang kasar. oleh karena itu mereka dijuluki 'putera-putera guntur'. Bersama Yakobus kakaknya, Yohanes meminta kepada Yesus dengan perantaraan ibunya, agar mereka boleh duduk di sisi kanan-kiri Yesus di dalam kerajaan-Nya nanti. Keduanya pun berani berjanji akan meminum piala sengsara untuk memperoleh hal yang dipintanya itu; tetapi Yesus menjawab bahwa hal itu adalah urusan Bapa-Nya di surga (Mrk 10:35-41).
Nama Yohanes tidak disebutkan di dalam Injil ke-4. Hanya di dalam bab 21, yang secara umum dianggap sebagai tambahan dari waktu kemudian, ditemukan ungkapan "para putera Zebedeus." Demikian pula ungkapan yang mengatakan "murid yang dicintai Yesus" (ay. 20) baru muncul pada bab 13. Di dalam jemaat purba, Yohanes menempati satu kedudukan sebagai pemimpin (Kis 3-8). Paulus menjuluki dia sebagai "tiang agung/sokoguru Gereja" (Gal 2:9). Di dalam daftar keduabelasan rasul, kedudukannya langsung berada di belakang Petrus. Di dalam tradisi yang lebih muda, ia dikenal sebagai penulis Kitab Wahyu dan Surat-surat pertama sampai Ketiga Yohanes. Menurut Wahyu 1:9 ia tinggal di pulau Patmos. Ireneus menulis bahwa Yohanes tinggal dan wafat di Efesus.
Yohanes adalah murid Yesus yang paling setia, bahkan berani mengikuti Yesus sampai ke gunung Kalvari dan mendampingi Bunda Maria sampai di bawah kaki salib Yesus. Di bawah kaki salib itulah ia diserahi tugas oleh Yesus menjadi pengawal Bunda Maria (Yoh 19:27). Sejak Pentekosta ia bekerja bersama dengan Petrus, baik di Yerusalem maupun di Samaria untuk mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang yang baru dipermandikan.
Kira-kira pada tahun 60 ia pergi ke Asia Kecil dan menjadi Maha uskup di kota Efese. Dalam Kitab Wahyu diterangkannya bahwa la dibuang ke pulau Patmos karena agama dan ajarannya. Sepulangnya ke Efese ia mengarang Injilnya. Dari buah karangannya kita dapat mengatakan bahwa Yohanes adalah seorang teolog yang karangan-karangannya berisi refleksi dan ajaran teologis yang mendalam tentang Yesus dan karya perutusan-Nya.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, kotbah Yohanes hanyalah berupa wejangan-wejangan singkat yang sama saja: "Anak-anakku, cobalah kamu saling mencintai." Atas pertanyaan orang-orang serani, mengapa ajarannya selalu yang sama saja, ia menjawab: "Sebab itulah perintah Tuhan yang utama dan jikalau kamu melakukannya, sudah cukuplah yang kamu perbuat." Santo Yohanes adalah Rasul terakhir yang meninggal dunia kira-kira pada tahun 100, pada masa pemerintahan Kaisar Trayanus.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/