Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa, Pekan Biasa XXI
Sabtu, 29 Agustus 2026
PW Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir
Bacaan Pertama
Yer 1:17-19
"Sampaikanlah kepada Yehuda
segala yang Kuperintahkan kepadamu.
Janganlah gentar terhadap mereka."
Pembacaan dari Kitab Yeremia:
Sekali peristiwa, Tuhan berkata kepadaku, Yeremia,
"Baiklah engkau bersiap!
Bangkitlah dan sampaikanlah kepada umat-Ku
segala yang Kuperintahkan kepadamu.
Janganlah gentar terhadap mereka,
supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!
Mengenai Aku,
sungguh, pada hari ini Aku membuat engkau
menjadi kota yang berkubu,
menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga
melawan seluruh negeri ini,
menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya,
menentang para imam dan rakyat negeri lain.
Mereka akan memerangi engkau,
tetapi tidak akan mengalahkan engkau,
sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau,
demikianlah firman Tuhan."
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan
Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15ab.17,R:15a
Refren: Berbahagialah bangsa
yang dipilih Tuhan menjadi milik-pusaka-Nya.
*Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung,
janganlah sekali-kali aku mendapat malu.
Lepaskan dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!
*Jadilah bagiku gunung batu tempat berteduh,
kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri;
sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku.
ya Allah, luputkanlah aku dari tangan orang fasik.
*Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan,
Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah.
Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan,
Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku.
*Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu,
dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang datang dari-Mu,
sebab aku tidak dapat menghitungnya.
Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku,
dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.
Bait Pengantar Injil
Mat 5:10
Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Bacaan Injil
Mrk 6:17-29
"Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku
kepala Yohanes Pembaptis."
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Sekali peristiwa
Herodeslah menyuruh orang menangkap Yohanes
dan membelenggunya di dalam penjara
berhubung dengan peristiwa Herodias,
yakni bahwa Herodes telah memperistri Herodias,
isteri Filipus saudaranya.
Yohanes pernah menegur Herodes,
"Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes,
dan bermaksud membunuh dia,
tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan terhadap Yohanes,
karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci;
jadi ia melindunginya.
Tetapi setiap kali mendengarkan Yohanes,
hati Herodes selalu terombang-ambing;
namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.
Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias,
yakni ketika Herodes - pada hari ulang tahunnya
mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesar,
para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea.
Pada waktu itu Puteri Herodias tampil lalu menari,
dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya.
Maka Raja berkata kepada gadis itu,
"Minta dari padaku apa saja yang kauingini,
maka akan kuberikan kepadamu!"
Lalu Herodes bersumpah kepadanya,
"Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu,
sekalipun itu setengah dari kerajaanku!"
Anak itu pergi dan menanyakan kepada ibunya,
"Apa yang harus kuminta?"
Jawab ibunya, "Kepala Yohanes Pembaptis!"
Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta,
"Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku
kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!"
Maka sangat sedihlah hati raja!
Tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya,
ia tidak mau menolaknya.
Raja segera menyuruh seorang pengawal
dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes.
Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.
Ia membawa kepala itu di sebuah talam
dan memberikannya kepada Herodias,
dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.
Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu,
mereka datang dan mengambil mayatnya,
lalu membaringkannya dalam kubur.
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan Injil
Kita sering mengira orang berbuat salah karena tidak tahu mana yang benar. Padahal tidak selalu demikian. Ada orang yang sebenarnya tahu persis mana yang benar, nuraninya sudah mengingatkan, bahkan mungkin ia sendiri mengakui kebenaran itu. Tetapi ketika kebenaran menuntut sebuah keputusan, ia justru memilih jalan lain karena gengsi, takut kehilangan muka, atau takut terhadap penilaian orang.
Herodes seperti itu.
Injil hari ini mengatakan bahwa Herodes sebenarnya takut kepada Yohanes Pembaptis karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci. Bahkan Herodes suka mendengarkan Yohanes, meskipun perkataan Yohanes membuat hatinya terombang-ambing.
Jadi persoalan Herodes bukan karena ia tidak tahu kebenaran.
Ia tahu Yohanes benar.
Ia tahu hubungan dengan Herodias yang ditegur Yohanes itu memang tidak benar.
Ia bahkan menghormati Yohanes.
Tetapi kemudian datanglah pesta ulang tahunnya. Putri Herodias menari dan menyenangkan hati Herodes serta para tamunya. Dalam suasana itu Herodes membuat janji besar di depan banyak orang: apa pun yang diminta gadis itu akan diberikan.
Lalu datang permintaan yang mengerikan: kepala Yohanes Pembaptis.
Herodes menjadi sangat sedih.
Kalimat ini penting. Ia sedih. Artinya, nuraninya masih berbicara. Ia tahu permintaan itu salah. Ia sebenarnya tidak ingin melakukannya.
Tetapi Injil mengatakan bahwa karena sumpahnya dan karena para tamunya, ia tidak mau menolaknya.
Di sinilah tragedinya.
Herodes lebih takut kehilangan muka di depan para tamunya daripada melakukan sesuatu yang ia tahu salah. Ia lebih memilih mempertahankan perkataannya daripada mempertahankan kebenaran. Gengsi akhirnya membungkam nurani.
Dan ternyata situasi seperti ini tidak hanya terjadi pada Herodes.
Kita pun bisa mengalaminya dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Kita sudah terlanjur mengatakan sesuatu, lalu sadar bahwa kita salah, tetapi gengsi membuat kita sulit berkata, “Saya keliru.” Kita tahu seharusnya meminta maaf, tetapi harga diri menahannya. Kita tahu keputusan kita tidak tepat, tetapi karena sudah disampaikan di depan orang banyak, kita merasa harus mempertahankannya.
Terkadang kita bahkan mengetahui seseorang berkata benar kepada kita, tetapi karena cara penyampaiannya menyinggung harga diri, kita justru melawan orangnya dan tidak lagi mau mendengar pesannya.
Di situlah kita perlu berhati-hati.
Sebab semakin sering nurani kita dikalahkan oleh gengsi, semakin lama suara nurani itu bisa semakin lemah. Awalnya masih ada rasa tidak nyaman. Kemudian kita mulai mencari pembenaran. Setelah itu kita merasa tindakan kita biasa saja. Pada akhirnya kita bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan akan kita lakukan.
Herodes mungkin tidak pernah merencanakan membunuh Yohanes pada malam itu. Tetapi satu keputusan untuk menjaga gengsi membawanya sampai ke sana.
Sebaliknya, Yohanes Pembaptis menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda.
Yohanes mengetahui risiko mengatakan kebenaran kepada Herodes. Ia tahu Herodes memiliki kekuasaan. Ia tahu perkataannya dapat membuat dirinya dipenjara, bahkan kehilangan nyawa. Tetapi Yohanes tidak mengubah kebenaran hanya supaya dirinya aman.
Ia memilih tetap setia kepada kebenaran, sekalipun harus membayar mahal.
Bacaan pertama hari ini juga mengatakan kepada Yeremia, “Janganlah gentar terhadap mereka.” Tuhan tidak menjanjikan bahwa mengatakan kebenaran selalu membuat hidup menjadi mudah. Tetapi Tuhan menjanjikan penyertaan kepada orang yang tetap berdiri dalam kebenaran.
Maka hari ini kita bisa memeriksa diri kita sendiri.
Ketika nurani mengatakan bahwa kita salah, apakah kita masih berani mengakuinya?
Ketika kita perlu meminta maaf, apakah kita berani merendahkan hati?
Ketika sebuah keputusan ternyata keliru, apakah kita berani memperbaikinya meskipun orang lain sudah mengetahuinya?
Dan ketika kita harus memilih antara terlihat benar di depan orang lain atau sungguh-sungguh melakukan yang benar di hadapan Tuhan, mana yang kita pilih?
Mengakui kesalahan tidak membuat kita menjadi kecil. Meminta maaf tidak membuat kita kalah. Mengubah keputusan yang salah juga bukan tanda kelemahan.
Justru diperlukan keberanian besar untuk berkata, “Saya salah. Saya akan memperbaikinya.”
Jangan sampai karena ingin menjaga muka di hadapan manusia, kita akhirnya mengorbankan suara Tuhan yang berbicara melalui nurani kita.
Sebab gengsi mungkin dapat menjaga citra kita untuk sementara, tetapi hanya kebenaran yang menjaga hidup kita tetap berada di jalan Tuhan.
Amin.
Peringatan Orang Kudus
Santo Wafatnya Santo Yohanes Pembaptis
Pada tanggal 24 Juni Gereja merayakan pesta Kelahiran Yohanes Pembaptis; sedangkan pada hari ini, 29 Agustus, Gereja mengajak seluruh umat untuk memperingati kemartirannya.
Kemartiran Yohanes berkaitan erat dengan tegurannya yang pedas kepada Raja Herodes karena ia memperisteri Herodias, isteri Filipus, saudaranya secara tidak sah. Herodes marah dan mencampakkan Yohanes ke dalam penjara. Herodias pun marah dan tak henti-hentinya berusaha mencari kesempatan untuk membunuh Yohanes.
Kesempatan emas itu akhirnya tiba juga. Pada hari ulang tahunnya, Herodes mengadakan jamuan makan untuk para petinggi kerajaan di seluruh Galilea. Kesempatan ini dimanfaatkan Herodias untuk melaksanakan niat jahatnya atas diri Yohanes. Ia menyuruh puterinya menari dihadapan para tamu. Tariannya sungguh menawan hati para tamu yang sudah mulai mabuk itu. Herodes tampak bangga dan gembira. Terdorong oleh kebanggaannya itu, Herodes berkata kepada gadis itu: "Mintalah kepadaku apa saja seturut kehendakmu. Aku akan memberikannya kepadamu". Herodes bahkan bersumpah di hadapan para tamu: "Apa saja yang kauminta, akan kuberikan, sekalipun separuh dari kerajaanku". Gadis itu tidak tahu apa yang harus dimintanya. Karena itu ia berlari kepada ibunya Herodias untuk memintai pendapatnya. Tanpa banyak pikir, Herodias berkata: "Kepala Yohanes Pembaptis!"
Gadis itu segera menghadap Herodes dan berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di dalam sebuah talam". Herodes sedih tetapi karena sumpahnya dan karena malu kepada tamu-tamunya, ia segera memerintahkan pengawal-pengawalnya untuk memenggal kepala Yohanes pada hari itu juga. Injil Mateus 14 mengatakan bahwa kepala Yohanes itu diletakkan di dalam sebuah talam dan diberikan kepada puteri Herodias itu.
Karena kesetiaannya kepada Allah dan panggilannya sebagai nabi pendahulu Yesus, Yohanes mati di bawah kuasa kelaliman Herodes. Ia mati dibunuh pada tahun 31.
Santa Sabina, Martir
Sabina adalah isteri seorang bangsawan Romawi Kristen bernama Valentinus. Ia menjadi Kristen di bawah bimbingan Seraphia, seorang gadis Kristen yang saleh. Sabina-lah yang mengurusi pemakaman Seraphia ketika ia dibunuh oleh kaki-tangan Kaisar Hadrianus pada abad kedua. Perbuatannya ini akhirnya juga menyebabkan dia ditangkap dan dibunuh. Sabina dihormati sebagai pelindung ibu rumah tangga dan anak-anak.