Liturgia Verbi 2026-04-27 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah IV

Senin, 27 April 2026



Bacaan Pertama
Kis 11:1-18

"Jadi kepada bangsa-bangsa lain pun
Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar,
bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.
Ketika Petrus tiba di Yerusalem,
orang-orang dari golongan bersunat berselisih pendapat dengan dia.
Kata mereka,
"Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat
dan makan bersama-sama dengan mereka."
Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:

"Ketika aku sedang berdoa di kota Yope,
tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi,
dan aku melihat suatu penglihatan:
Suatu benda berbentuk kain lebar
yang bergantung pada keempat sudutnya
diturunkan dari langit sampai di depanku.
Aku menatapnya,
dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat,
binatang liar, binatang melata dan burung-burung.

Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku:
Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!
Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak!
Belum pernah sesuatu yang haram dan tidak tahir
masuk ke dalam mulutku.
Akan tetapi untuk kedua kalinya
suara dari surga berkata kepadaku:
Apa yang dinyatakan halal oleh Allah,
tidak boleh engkau nyatakan haram!
Hal itu terjadi sampai tiga kali,
lalu semuanya ditarik kembali ke langit.
Dan saat itu juga tiga orang berdiri di depan rumah,
di mana kami menumpang;
mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.
Lalu kata Roh kepadaku:
Pergilah bersama mereka dengan tidak bimbang!
Dan keenam saudara ini menyertai aku.
Kami masuk ke dalam rumah Kornelius, perwira Romawi itu,
dan ia menceriterakan kepada kami,
bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya
dan berkata kepadanya:
Suruhlah orang ke Yope
untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.
Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu,
yang akan mendatangkan keselamatan
bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.

Dan ketika aku mulai berbicara,
turunlah Roh Kudus ke atas mereka,
sama seperti dahulu ke atas kita.
Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan:
Yohanes membaptis dengan air,
tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka
sama seperti kepada kita
pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus,
bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"

Ketika mereka mendengar hal itu,
mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya,
"Jadi kepada bangsa-bangsa lain pun
Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 42:2-3;43:3.4,R:Mzm 42:3a

Refren: Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup!

*Seperti rusa merindukan sungai yang berair,
demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup.
Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

*Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu datang,
supaya aku dituntun dan dibawa
ke gunung-gunung yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!

*Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah,
menghadap Allah, sukacita dan kegembiraanku,
dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi,
ya Allah, ya Allahku!



Bait Pengantar Injil
Yoh 10:14

Akulah gembala yang baik, sabda Tuhan,
Aku mengenal domba-domba-Ku
dan domba-domba-Ku mengenal Aku.



Bacaan Injil
Yoh 10:11-18

"Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang Farisi,
"Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;
sedangkan orang upahan yang bukan gembala,
dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri,
ketika melihat serigala datang,
meninggalkan domba-domba itu lalu lari,
sehingga serigala itu menerkam
dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
Ia lari karena ia seorang upahan,
dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

Akulah gembala yang baik.
Aku mengenal domba-domba-Ku,
dan domba-domba-Ku mengenal Aku
sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa,
dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

Ada lagi pada-Ku domba-domba lain,
yang bukan dari kandang ini;
domba-domba itu harus Kutuntun juga;
mereka akan mendengarkan suara-Ku
dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku
untuk menerimanya kembali.
Tidak seorang pun mengambilnya daripada-Ku,
melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri.
Aku berkuasa memberikannya
dan berkuasa mengambilnya kembali.
Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Ada banyak orang yang bisa menjadi penggembala, tetapi tidak semua orang mau menjadi penggembala yang baik.
Penggembala yang baik tidak memposisikan dirinya sebagai penguasa, melainkan sebagai pelayan bagi domba-dombanya. Ia tidak menggembalakan dengan ancaman, tidak mengandalkan cemeti, tidak memelihara dengan cara-cara keras, melainkan dengan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang.
Penggembala yang baik mengenal domba-dombanya satu per satu. Ia tahu mana domba yang kuat, mana yang lemah, mana yang mudah tersesat, mana yang sedang terluka, dan mana yang sedang memberontak karena sebenarnya sedang membutuhkan perhatian.

Dalam Injil hari ini Yesus berkata, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya."  [Yoh 10:11]
Yesus tidak hanya menggembalakan dari kejauhan. Ia tidak hanya memberi perintah, lalu membiarkan domba-domba-Nya berjalan sendiri. Ia masuk ke dalam kehidupan domba-domba-Nya. Ia mengenal mereka, memanggil mereka, menuntun mereka, mencari mereka ketika tersesat, dan bahkan rela memberikan nyawa-Nya bagi mereka.

Di situlah bedanya gembala sejati dengan orang upahan. Orang upahan bekerja sebatas upahnya. Selama keadaan aman, ia masih tampak seperti gembala. Tetapi ketika serigala datang, ketika bahaya muncul, ketika domba-domba mulai merepotkan, ia pergi meninggalkan mereka. Sebab domba-domba itu bukan miliknya.
Yesus justru sebaliknya. Ia tidak meninggalkan domba-domba-Nya ketika serigala datang. Ia tidak menjauh ketika manusia jatuh dalam dosa. Ia tidak menyerah ketika manusia sulit diatur. Ia justru datang, mendekat, memanggul yang lemah, mencari yang hilang, dan menyelamatkan yang terancam binasa.

Yang menarik, Yesus juga berkata, "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga."  [Yoh 10:16]
Sabda ini menjadi sangat nyata dalam Bacaan Pertama hari ini. Petrus harus menjelaskan kepada saudara-saudara seiman dari kalangan Yahudi bahwa bangsa-bangsa lain pun menerima firman Allah. Bagi sebagian orang waktu itu, keselamatan seolah-olah hanya untuk kelompok mereka sendiri, hanya untuk “kandang” mereka sendiri. Tetapi Allah menunjukkan bahwa Roh Kudus juga dicurahkan kepada bangsa-bangsa lain.
Petrus akhirnya menyadari bahwa ia tidak boleh menghalangi karya Allah. Kalau Allah sendiri berkenan menerima mereka, siapa manusia sampai berani menolak mereka?

Inilah hati seorang penggembala menurut kehendak Kristus. Ia tidak mempersempit kandang Allah hanya sebatas kelompoknya sendiri. Ia tidak memilih-milih siapa yang layak diperhatikan. Ia tidak berkata, “Yang ini domba saya, yang itu bukan urusan saya.” Sebab di mata Tuhan, setiap orang adalah pribadi yang berharga.
Kita semua adalah domba-domba Kristus. Tetapi dalam hidup sehari-hari, kita juga sering ditempatkan sebagai penggembala bagi orang lain. Para imam adalah penggembala umat. Orangtua adalah penggembala bagi anak-anaknya. Guru adalah penggembala bagi murid-muridnya. Pemimpin perusahaan adalah penggembala bagi karyawannya. Ketua lingkungan, pengurus organisasi, pemimpin komunitas, bahkan kakak bagi adiknya, semuanya dapat menjadi penggembala dalam lingkupnya masing-masing.

Pertanyaannya, penggembala seperti apakah kita?
Apakah kita menggembalakan dengan kasih, atau dengan kuasa? Apakah kita menuntun dengan kesabaran, atau hanya menekan dengan aturan? Apakah kita mencari yang hilang, atau justru menyingkirkan yang dianggap merepotkan?

Ketika di SMA, saya bukan murid nakal, melainkan murid yang sangat nakal. Para guru mungkin sudah enggan berurusan dengan saya. Tetapi wali kelas saya waktu itu adalah seorang penggembala yang baik.
Ia tidak memanggil saya untuk dipermalukan di ruang guru. Ia tidak mendudukkan saya di “kursi panas” untuk dihakimi. Ia justru mengundang saya ke rumahnya.

Di rumahnya saya melihat sisi lain dari seorang guru. Saya melihat ia bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai seorang ayah. Ia mempunyai anak yang sebaya dengan saya. Dan tanpa banyak kata-kata keras, saya seperti diajak melihat kehidupan keluarganya, kesederhanaannya, dan dedikasinya.
Kalau mau berpikir praktis, sebenarnya ia bisa saja berkata, “Apa urusan saya dengan kenakalan anak ini? Saya punya anak sendiri di rumah. Mengapa saya mesti membuang waktu mengurus murid seperti ini?”

Saya ini bisa dikatakan domba yang bukan dari kandangnya. Saya bukan anaknya. Saya hanya muridnya di sekolah. Tetapi ia tetap memberi perhatian kepada saya.
Padahal waktu itu mungkin jauh lebih mudah bagi sekolah untuk menghukum saya, membuat saya tidak naik kelas, atau bahkan mengeluarkan saya dari sekolah. Tetapi guru itu memilih jalan yang lebih sulit, jalan seorang penggembala. Ia menyediakan waktu, membuka pintu rumahnya, dan memperlihatkan kepada saya bahwa menegur tidak harus dengan mempermalukan, mendidik tidak harus dengan menekan, dan mengubah orang tidak harus dengan kekerasan.

Guru itu berhasil menaklukkan saya bukan dengan kuasa, bukan dengan ancaman, bukan dengan kewenangan untuk menghukum, melainkan dengan kelembutan dan kasih sayang.
Ia mungkin bukan guru yang banyak tampil sebagai tokoh hebat. Tetapi bagi saya, ia adalah penggembala yang baik. Sayang sekali, ia tidak sempat melihat seperti apa dombanya itu sekarang, karena ia telah meninggal dunia.

Pengalaman itu sering kembali dalam ingatan saya, terutama ketika melihat orang-orang yang diberi tanggung jawab untuk membimbing orang lain, tetapi cepat sekali menyerah terhadap mereka yang dianggap sulit.
Pernah suatu kali seorang guru yang jauh lebih muda dari saya berkeluh-kesah, “Waduh Pak, murid itu nakal sekali, sering bolos, sudah diatur tetap saja sulit, ditambah lagi orangtuanya tidak mau memperhatikan.”
Saya terenyuh mendengarnya. Bukan hanya karena saya dulu juga pernah menjadi murid yang nakal, melainkan karena guru itu adalah seorang pengikut Kristus. Dan sebagai pengikut Kristus, kita semestinya belajar dari Yesus, Sang Gembala yang baik.
Memang benar, ada murid yang sulit diatur. Ada anak yang keras kepala. Ada karyawan yang bandel. Ada umat yang menjauh. Ada anggota komunitas yang merepotkan. Tetapi justru di situlah kualitas seorang penggembala diuji.

Kalau semua domba sudah rapi, patuh, sehat, dan tidak pernah tersesat, mungkin semua orang bisa menjadi penggembala. Tetapi ketika ada domba yang terluka, tersesat, memberontak, atau tidak mau mendengar, barulah tampak apakah kita ini gembala sejati atau sekadar orang upahan.
Yesus tidak datang hanya untuk domba yang sudah baik. Yesus datang juga untuk domba yang hilang. Ia tidak hanya mencintai mereka yang sudah setia, tetapi juga mencari mereka yang tersesat. Ia tidak hanya memperhatikan “domba-domba di kandang sendiri”, tetapi juga domba-domba lain yang belum mengenal suara-Nya.

Maka renungan hari ini mengajak kita untuk melihat kembali cara kita menggembalakan orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Mungkin sebagai orangtua, kita perlu lebih banyak mendengarkan anak-anak kita, bukan hanya menuntut mereka menjadi seperti yang kita mau. Mungkin sebagai guru, kita perlu melihat murid yang nakal bukan semata-mata sebagai masalah, tetapi sebagai pribadi yang sedang membutuhkan perhatian. Mungkin sebagai pemimpin, kita perlu mengurangi gaya memerintah dan memperbanyak kehadiran yang menuntun. Mungkin sebagai umat, kita perlu belajar menerima bahwa kasih Allah tidak hanya untuk kelompok kita sendiri.
Sebab Yesus, Sang Gembala yang baik, tidak menggembalakan dengan tangan yang menekan, melainkan dengan hati yang mengasihi. Ia tidak menyelamatkan kita dari tempat yang aman dan jauh, melainkan dengan memberikan diri-Nya sendiri.

Kalau hari ini kita diberi tugas untuk menggembalakan siapa pun, marilah kita belajar dari Yesus. Jangan cepat menyerah terhadap domba yang sulit. Jangan buru-buru menyingkirkan domba yang merepotkan. Jangan hanya memperhatikan domba yang mudah diatur.
Sebab bisa jadi, justru domba yang paling sulit itulah yang paling membutuhkan hati seorang penggembala.
Dan mungkin, yang perlu diatur bukan hanya dombanya, melainkan juga hati kita sebagai penggembala.



Peringatan Orang Kudus
Santo Petrus Kanisius, Imam dan Pujangga Gereja
Petrus Kanisius lahir pada tanggal 8 Mei 1521 di Nijmegen, Belanda. Ketika itu Nijmegen masih termasuk bagian wilayah Keuskupan Agung Cologne dan berada di bawah kekuasaan Jerman. Petrus adalah putra tertua dari Yakob Kanis. Yakob Kanis, ayahnya menjabat sebagai Walikota Nijmegen, dan menjadi guru pribadi bagi anak-anak raja dari Lorraine. Semasa hidupnya Petrus menyaksikan pergolakan hebat dalam tubuh Gereja oleh munculnya gerakan Reformasi pimpinan Martin Luther.
Pada umur 14 tahun, Petrus masuk Universitas Cologne dan mencapai gelar Magister (Master of Arts) pada usia 19 tahun. la bercita-cita menjadi seorang ahli di bidang hukum. Untuk itu ia melanjutkan studinya di Universitas Louvain. Tetapi kemudian ia berubah haluan. Ia mulai tertarik dengan kehidupan membiara. Ketertarikannya pada kehidupan membiara ini berkaitan erat dengan cara hidup para pertapa di biara Kartusian yang disaksikannya sendiri selama belajar di Cologne. Karena itu, ia kembali ke Cologne untuk belajar Teologi. Di sana ia mengikuti latihan-latilan rohani Santo Ignasius Loyola, yang dipimpin oleh Petrus Faber, seorang imam Yesuit yang saleh. Latihan rohani ini sungguh meresap dalam hatinya sehingga Petrus memutuskan untuk menjadi seorang iman Yesuit juga. Niatnya untuk memasuki biara Kartusia dibatalkannya.
Ketika berumur 22 tahun, Petrus memasuki Serikat Yesuit. Di Cologne, Petrus turut mendirikan rumah Yesuit pertama, tempat ia menjalani masa novisiatnya. Pada tahun 1546, ia ditahbiskan menjadi imam dan segera terkenal sebagai seorang pengkhotbah ulung. Kardinal Otto Truchsess von Waldburg, Uskup Augsburg, memilihnya menjadi teolog pribadinya pada Konsili Trente. Dalam konsili itu, Petrus mendapat kesempatan untuk berbicara, baik di Trente maupun di Bologna. Kemudian ia dipangil ke Roma oleh Santo Ignasius sendiri, dan pada tahun 1548 ia dikirm untuk mengajar retorik di sekolah Yesuit pertama di Messina, Sisilia.
Sebagai jawaban terhadap permohonan raja William 1V dari Bavaria, yang membutuhkan profesor-profesor Katolik untuk melawan ajaran­ajaran bidaah, Paus Paulus III (1534-1549) mengirim Petrus dan dua orang imam Yesuit lainnya ke Ingolstadt untuk mengajar di sebuah universitas yang ada di sana. Pada tahun 1550, setahun setelah Petrus mengucapkan kaul kekal dalam Serikat Yesus, Petrus diangkat menjadi rektor universitas Ingolstadt. Melalui khotbah-khotbah dan katekesenya, ia berhasil membangkitkan lagi semangat hidup keagamaan di kalangam umat di wilayah itu. Pada tahun 1552, atas permohonan Raja Ferdinand I dari Austria, ia pergi ke Vienna untuk menjalankan misi yang sama. Di Vienna, Raja Ferdinand menawarkan kepadanya jabatan Uskup Vienna, tetapi selalu ditolaknya.
Pada tahun 1554, atas permintaan Paus Yulius III, Ignasius Loyola mengizinkan Petrus menjadi administrator Takhta Suci yang mengalami kekosongan. Di sini ia menyusun buku katekismusnya yang terkenal: Ringkasan Ajaran Kristen, yang dipakai di seluruh Eropa selama beberapa abad sebagai buku pegangan. Kemudian ia menyusun lagi dua buah buku katekismus yang lebih singkat untuk sekolah-sekolah. Kemudian Petrus diangkat sebagai pemimpin serikat untuk sebuah wilayah kerja Yesuit yang meliputi Jerman Selatan, Austria dan Bohemia. Dalam masa kepemimpinannya, ia membuka sebuah kolese di Munich dan Praha dan bertanggungjawab atas pembaharuan sekolah-sekolah di Augsburg. Pada tahun 1562, ia mendirikan sebuah kolese di Insbruck dan mengambil bagian sebagai pembicara dalam Konsili Trente sebagai Teolog Kepausan.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai pemimpin serikat ia mengajar di Universitas Dillingen di Bavaria. Di sini ia giat menulis suatu seri buku sebagai tanggapan terhadap sebuah buku yang diterbitkan sekelompok penulis Protestan dari Magdeburg. Karyanya yang terakhir diselesaikannya di Frieburg, Switzerland, tempat ia mendirikan sebuah universitas dan membantu membangun sebuah penerbitan Katolik pada tahun 1580. Pada tahun 1591 ia jatuh sakit tetapi terus menulis hingga kematiannya pada tanggal 21 Desember 1597 di Frierbuxg. Oleh Paus Pius XI (1922-1939) Petrus digelar sebagai seorang Pujangga Gereja yang mashyur.


Santa Zita, Pengaku Iman
Santa Zita dilahirkan di Monte Sagrati, Italia Tengah pada tahun 1218. Pada umur 12 tahun ia menjadi pelayan/pembantu rumah pada keluarga Pagano Di Fatinelli, seorang pengusaha tekstil yang kaya.
Zita juga bekerja di pabrik tuannya. Sebagai buruh, ia memperlihatkan perilaku yang saleh dan murah hati. Hal ini menimbulkan amarah dari pelayan-pelayan yang lain. Selain itu, ia pun dimarahi oleh tuannya karena mengambil sejumlah besar makanan dan pakaian untuk dibagikan kepada para miskin. Namun keluarga Fatinelli memahami maksud Zita dan turut menambahkan bantuan kepadanya untuk melanjutkan karya-karya cinta kasih.
Setelah beberapa tahun, ia dibiarkan membantu anak-anak dan menjadi pengurus rumahtangga Fatinelli. Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, keluarga Fatinelli membebaskan dia dari tugas-tugas rumah dan membiarkan dia mengunjungi orang-orang sakit dan para tawanan di penjara.
Setelah kematiannya, jenazahnya dikuburkan di gereja Santo Frediano di Lucca. la meninggal pada tanggal 27 April 1278 di Lucca, dekat tempat kelahirannya. Pada tahun 1696, ia digelari 'kudus' oleh Sri Paus Innocentio XII (1691-1700).


Santa Lydia Longley, Pengaku Iman
Lydia Longley lahir pada tahun 1674 di Groton, sebuah daerah koloni lnggris di Amerika Serikat. Keluarga Longley penganut agama Protestan Puritan, yang keras sekali pandangan hidupnya. Ibunya meninggal dunia ketika Lydia bersama tiga orang adiknya: Will, Jemina dan John masih kecil. Dalam usia remajanya, Lydia terpaksa menggantikan ibunya dalam mengurusi adik-adiknya. Hai ini dilakukannya sampai saat ayahnya William Longley menikah lagi dengan Crips Deliverance, seorang janda muda. Semenjak itu, Crips mengambil alih lagi tugas-tugas Lydia sebagai ibu rumah tangga.
Dari perkawinan kedua ini, William memperoleh lagi empat orang anak: Yosef, Betty, Richard dan Mathaniel. William mendidik anak-anaknya penuh disiplin bahkan keras. Mereka dilatih untuk bekerja, berdoa dan menulis.  Lydia dibebani tugas mendampingi adik-adiknya dalam melaksanakan tugas-tugas itu. Setiap hari Minggu, mereka bersama-sama pergi ke Gereja untuk berdoa bersama orang kristen lainnya, dan mendengarkan khotbah pendeta Hobart. Selain itu, William melatih anak-anaknya menggunakan senjata untuk membela diri bila ada suatu bahaya. Bahaya besar yang selalu mengancam hidup mereka ialah serangan orang-orang Indian yang masih biadab.
Pada tahun 1694, daerah Groton diserang oleh orang-orang Indian Abenaki. Ayah dan ibunya bersama beberapa orang lainnya mati terbunuh dalam peristiwa itu. Tinggallah Lydia, Betty dan John dibiarkan hidup oleh orang-orang Indian itu. Mereka dibawa sebagai tawanan ke New France, daerah koloni Prancis. Di tengah perjalanan itu, Betty meninggal dunia dan John dipisahkan dari Lydia.
Setiba di New France, Lydia dihadapkan ke depan Penguasa Prancis setempat. Di sana hadir juga Tuan Le Ber, seorang duda yang beragama Katolilk. Oleh Tuan Le Ber, Lydia ditebus dan diangkat menjadi anaknya sendiri. Semenjak itu, kehidupan Lydia tergantung sepenuhnya pada kebaikan hati Tuan Le Ber dan anak-anaknya Pierre dan Jeanne. Ia merasa senang karena diperlakukan sebagai anak kandung dengan cara hidup Katolik dari keluarga Le Ber, maupun dari segenap warga kota New France. Lydia kemudian berkenalan dengan Pastor Pere Meriel, imam di New France dan Suster-suster Notre Dame. Atas permintaan Tuan Le Ber, seorang suster datang mengajarkan bahasa Prancis kepada Lydia. Pada suatu hari, Lydia diperkenalkan pada Suster Mere Bourgooys, pendiri kongregasi tersebut. Pertemuannya dengan Suster Mere Bourgooys menumbuhkan dalam hatinya keinginan untuk menjadi suster juga.
Atas pengaruh keluarga Le Ber, suster-suster dan pastor Pere Meriel, Lydia kemudian dipermandikan menjadi Katolik pada tanggal 24 April 1696 dengan nama Magdalena. Kemudian ia diterima menjadi suster dengan nama Suster Magdalena. Pada tanggal 19 September 1699, ia mengikrarkan kaul kekal. Setelah bertugas di New France selama beberapa tahun, Lydia dikirim ke pulau Orleans untuk menjadi superior biara Keluarga Kudus di sana. Ia meninggal dunia pada tanggal 21 Juni 1758 dan dimakamkan di kapela Kanak-kanak Yesus di Montreal.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/