Liturgia Verbi 2026-05-01 Jumat.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Paskah IV

Jumat, 1 Mei 2026

PF S. Yusuf, Pekerja

Ujud Gereja Universal: Agar semua orang memperoleh makanan sehat dan berkualitas.
Semoga semua orang, mulai dari produsen besar sampai konsumen kecil, berkomitmen untuk tidak membuang makanan, dan memastikan agar semua orang memperoleh makanan sehat dan berkualitas.

Ujud Gereja Indonesia: Anak-anak yang mengalami

pelakan.
Semoga anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya merasakan penerimaan penuh kasih dari Bunda Maria yang hatinya selalu terbuka.

1. Bulan Mei adalah *Bulan Maria* dengan tema permenungan tentang Maria sebagai Bunda Allah. Umat dianjurkan untuk mendalami misteri keallahan Kristus yang bangkit serta peranan Bunda-Nya yang adalah juga Bunda Gereja. - Kiranya baik kalau Bulan Maria dibuka dan ditutup dengan Perayaan Ekarisi untuk umat/lingkungan-lingkungan separoki.


2. Bulan Mei adalah *Bulan Liturgi Nasional (BLN)*. Diharapkan supaya selama bulan Mei liturgi mendapat perhatian khusus: didalami, dirancang, disiapkan, dan dilaksanakan dengan lebih baik. Untuk kegiatan pendalaman liturgi kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang disiapkan Komisi Liturgi KWL



Bacaan Pertama
Kis 13:26-33

"Janji telah digenapi Allah dengan membangkitkan Yesus."

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:

Dalam perjalanannya Paulus sampai di Antiokhia di Pisidia.
Di rumah ibadat Yahudi di sana Paulus berkata,
"Hai saudara-saudaraku,
baik yang termasuk keturunan Abraham,
maupun yang takut akan Allah,
kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.

Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya
tidak mengakui Yesus.
Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Yesus,
mereka menggenapi perkataan nabi-nabi
yang dibacakan setiap hari Sabat.
Dan meskipun mereka tidak menemukan sesuatu
yang dapat menjadi alasan untuk hukuman mati,
namun mereka telah meminta kepada Pilatus
supaya Yesus dibunuh.
Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu
yang ada tertulis tentang Dia,
mereka menurunkan Dia dari kayu salib,
lalu membaringkan-Nya di dalam kubur.

Tetapi Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati.
Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka
yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem.
Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini.

Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu,
yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita,
telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka,
dengan membangkitkan Yesus,
seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua:
Anak-Kulah Engkau!
Pada hari ini Engkau telah Kuperanakkan."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 2:6-7.8-9.10-11,R:7

Refren: Anak-Kulah engkau!
Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan.

*Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion,
gunung-Ku yang kudus!"
Aku mau menceritakan tentang ketetapan Tuhan:
Ia berkata kepadaku, "Anak-Kulah engkau!
Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan."

*Mintalah kepada-Ku,
maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu
menjadi milik pusakamu,
dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.
Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi,
dan memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk."

*Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana,
terimalah pengajaran, hai para hakim dunia!
Beribadahlah kepada Tuhan dengan takwa,
dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar.



Bait Pengantar Injil
Yoh 14:6

Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.



Bacaan Injil
Yoh 14:1-6

"Akulah jalan, kebenaran dan hidup."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Dalam amanat perpisahan-Nya
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Janganlah gelisah hatimu;
percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.
Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu.
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku,
supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana."
Kata Tomas kepada-Nya,
"Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi;
jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?"
Kata Yesus kepadanya,
"Akulah jalan, kebenaran dan hidup.
Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa,
kalau tidak melalui Aku.

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *The Power of Word*:

*Jangan Gelisah, Yesus Tidak Meninggalkan Kita*

*Doa Pembuka:*
Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.
Allah Bapa yang penuh kasih,
kami datang ke hadirat-Mu
untuk memohon ketenangan, kekuatan,
atas perasaan gelisah yang sering menyelimuti hati kami.
Semoga melalui sabda-Mu hari ini,
kami semakin percaya
bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan kami,
dan tidak pernah meninggalkan orang-orang
yang kami kasihi.
Amin.
________________________________________
*Renungan:*

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya,
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah,
percayalah juga kepada-Ku.” [Yoh 14:1]

Kalimat ini sangat menyentuh hati saya.
Sebab Yesus mengucapkannya ketika para murid sedang gelisah.
Mereka gelisah karena Yesus mulai berbicara tentang kepergian-Nya.
Selama ini mereka berjalan bersama Yesus.
Mereka mendengarkan pengajaran-Nya.
Mereka melihat mukjizat-Nya.
Mereka merasa aman karena Yesus ada di dekat mereka.
Tetapi sekarang, di saat malam perjamuan terakhir, Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi.
Tentu mereka menjadi takut.
Akan menjadi sangat berat, ketika orang yang selama ini menjadi pegangan, justru mengatakan bahwa Ia akan pergi.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih,
Sebagai seorang ibu,
saya merasa sabda ini sangat dekat dengan pengalaman hidup kita sehari-hari.
Saya pernah mengalami kegelisahan itu, terutama ketika harus merelakan anak-anak satu per satu meninggalkan rumah
untuk keperluan studi.

Sebagai orang tua, apalagi sebagai seorang ibu, tidak pernah mudah melepas anak pergi jauh.
Di satu sisi, saya tahu, anak-anak harus bertumbuh,  harus belajar mandiri, harus menempuh jalan hidup mereka sendiri, belajar menghadapi dunia dengan kaki mereka sendiri.
Tetapi di sisi lain, hati seorang ibu tetap saja berat.
Rumah yang biasanya ramai, perlahan-lahan menjadi lebih sepi.
Kamar yang biasanya dipakai, mulai kosong.
Meja makan yang biasanya penuh cerita,tidak lagi selalu lengkap.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, baru terasa sangat berharga
ketika anak-anak mulai tinggal jauh dari rumah.
Dan ketika mereka sudah pergi, mulailah muncul banyak pertanyaan di dalam hati.
Apakah mereka baik-baik saja?
Apakah mereka bisa menjaga diri?
Apakah mereka punya teman yang baik?
Apakah mereka sanggup menghadapi kesulitan?
Apakah mereka tetap ingat untuk berdoa?
Apakah mereka tetap dekat dengan Tuhan?
Sering kali, kekhawatiran itu muncul begitu saja.
Padahal, yang kita khawatirkan belum tentu terjadi.
Bahkan mungkin, apa yang kita takutkan itu
tidak akan pernah terjadi.

Tetapi hati seorang ibu memang sulit menghindarkan diri
dari kekhawatiran, apalagi terhadap anak yang harus merantau, jauh dari rumah, dan tidak lagi bisa dilihat setiap hari.

Di mata seorang ibu, anak tetaplah anak.
Hati seorang ibu tetap ingin memastikan bahwa mereka aman, sehat, dan tidak sendirian.
Di sinilah saya merasakan sabda Yesus ini, “Janganlah gelisah hatimu.”
Kekhawatiran seorang ibu lahir dari kasih.
Tetapi Yesus mengingatkan, jangan sampai kasih itu
berubah menjadi kegelisahan yang menguasai hati.
Jangan sampai rasa sayang membuat kita lupa percaya.
Jangan sampai perhatian kita berubah menjadi ketakutan
yang tidak ada habisnya.
Bisa saja anak-anak yang tidak lagi berada di depan mata kita,
tetap berada dalam pandangan Tuhan.
Anak-anak yang tidak lagi selalu dapat kita dampingi,
tetap dapat dituntun oleh Yesus.
Anak-anak yang tidak lagi setiap hari pulang ke rumah kita,
tetap mempunyai tempat di dalam hati Tuhan.

Mereka memang tidak lagi selalu bersama kita secara fisik.
Tetapi kasih tetap ada.
Doa tetap menyertai.
Dan yang paling penting, Tuhan tetap bersama mereka.

Sebagai orang tua, kita selalu ingin memegang erat tangan anak-anak kita.
Tetapi ada waktunya, kita harus belajar melepaskan.
Bukan melepaskan karena tidak peduli, melainkan melepaskan sambil menyerahkan.
Menyerahkan mereka kepada Tuhan.
Menyerahkan perjalanan mereka kepada penyertaan Yesus.
Menyerahkan kekhawatiran kita ke dalam tangan Bapa.
Karena ada bagian yang dapat kita lakukan sebagai orang tua.
Tetapi ada bagian yang memang harus kita serahkan kepada Tuhan.
Kita tidak bisa selalu tahu apa yang mereka hadapi.
Kita tidak bisa selalu hadir di tempat mereka berada.
Tetapi Tuhan bisa.
Tuhan bisa melihat mereka.
Tuhan mengetahui langkah mereka.
Tuhan sanggup menjaga mereka di tempat-tempat yang tidak dapat kita jangkau.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih,
Marilah kita teguhkan iman kita, percaya sepenuhnya kepada Yesus.
Percaya, bukan berarti kita tidak pernah khawatir.
Percaya, bukan berarti hati kita selalu tenang.
Percaya, bukan berarti kita tidak pernah menangis
ketika melepas anak pergi.

Percaya berarti, di tengah kekhawatiran itu, kita tetap membawa semuanya kepada Tuhan.
Percaya berarti, kita tidak membiarkan rasa takut mengalahkan iman.
Percaya berarti, kita berani berkata, “Tuhan, anakku memang jauh dari mataku, tetapi ia tidak jauh dari kasih-Mu.”

Maka, janganlah gelisah.
Yesus tidak meninggalkan kita.
Yesus tidak meninggalkan anak-anak kita.
Amin.
________________________________________
*Doa Penutup:*

Allah Bapa yang penuh kasih,
kami bersyukur atas sabda-Mu hari ini.
Engkau mengetahui setiap kegelisahan di dalam hati kami.
Engkau mengetahui betapa sulitnya bagi seorang ibu untuk melepas anak-anaknya pergi jauh, meninggalkan rumah,
dan belajar hidup mandiri.

Kami mohon, tenangkanlah hati setiap orang tua yang sedang mencemaskan anak-anaknya.
Kuatkanlah para ibu yang diam-diam menyimpan kekhawatiran, walau sering tersenyum di depan anak-anaknya, tetapi tetap berdoa dengan air mata di hadapan-Mu.

Kami berdoa dalam nama Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus,
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yusuf Pekerja, Pelindung para Karyawan
Tradisi melukiskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth. Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai isterinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat di dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat.
Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah Gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkannya sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. (Lihat juga kisah tentang Santo Yusuf pada Pestanya tanggal 19 Maret).


Yeremia, Nabi
Yeremia lahir kira-kira pada tahun 650 seb. Masehi di Anathoth, dekat kota Yerusalem, termasuk wilayah Kerajaan Yehuda. Keluarganya adalah sebuah keluarga imam yang saleh. Panggilannya sebagai Nabi di Israel diterimanya dari Allah pada tahun 627 seb. Masehi, dalam tahun ketigabelas pemerintahan raja Yosias (Yer 1:2). Meskipun panggilan ini terjadi pada usia mudanya, namun Yeremia sebenarnya telah ditentukan Allah sebagai Nabi ketika masih ada di dalam rahim ibunya (Yer 1:5) untuk mewartakan Sabda Allah kepada Israel, umat pilihan Allah. Tatkala Allah memanggilnya, ia menolak karena merasa tidak layak untuk mengemban tugas mulia itu. Tetapi akhirnya ia pun menerima panggilan itu karena Allah berjanji akan selalu menyertai dia dalam tugasnya. Yeremia adalah Nabi Israel terakhir sebelum pembuangan ke Babylonia.
Karya perutusannya sebagai Nabi dimulainya pada usia mudanya (Yer 1:6) sampai pada saat kejatuhan Yerusalem di tangan bangsa Babylonia pada tahun 587 seb. Masehi. Selama 40 tahun karyanya, Yeremia tanpa mengenal lelah memperingatkan para penguasa bangsa dan pemimpim agama serta seluruh umat Israel akan bahaya kejatuhan mereka karena dosa-dosa Yerusalem dan Yehuda.
Sejalan dengan itu, Yeremia terus menerus terlibat di dalam berbagai perselisihan dan pertentangan. Ia dengan gigih melawan Raja Yoakim dan Yoakin (609-597 seb. Masehi) yang memutarbalikkan kebijakan keagamaan dari Raja Yosia. Pada masa pemerintahan Raja Sedekia (597 -587 seb. Masehi), nada pewartaannya mulai berubah. Ia tidak lagi mengeluh tentang tugas perutusannya tetapi mulai lebih sungguh-sungguh membuktikan dirinya pada tugas yang dibebankan Allah padanya. Dengan gigih ia berusaha meyakinkan Yehuda akan penguasaan bangsa Babylonia. Meskipun demikian ia tetap tidak diterima, bahkan dituduh sebagai pengkhianat bangsanya oleh orang-orang yang menginginkan Raja Sedekia bersekutu dengan Mesir dan memberontak (Yer 37:17­21). Karena itu, Yeremia mengalami penderitaan batin dan frustrasi yang hebat.
Walaupun ia menderita, ia tetap pasrah dan taat pada kehendak Allah. Cintanya akan Allah dan keakraban hubungannya dengan Allah menumbuhkan dalam dirinya suatu sikap iman yang kokoh. Sikap iman ini mendorong dia untuk mendalami lebih jauh teologi tradisional Israel tentang Perjanjian. Imannya itu berdasar pada pengetahuan yang mendalam akan Perjanjian Cinta Allah dengan Israel, Umat PilihanNya, yang memperkenankan Israel mengambil bagian dalam kekudusanNya. Dalam Perjanjian Cinta itu, Allah menuntut dari Israel ketaatan penuh pada kehendakNya sebagaimana diwahyukan di dalam perintah-perintahNya dan dinyatakan melalui Nabi-nabiNya. Menolak mengakui kebaikan dan cinta Allah yang diwahyukan adalah dosa. Dan dosa bagi Israel merupakan perbuatan melawan kesucian perkawinan antara Allah dan bangsa Israel (Yer 2:20, 25). Dosa mengakibatkan pengadilan Allah atas Israel untuk memurnikan mereka. Yeremia menyadari bahwa pengadilan Allah merupakan tahap awal pengampunan dan pembaharuan (Yer :3:1-4:4).  Ia menyadari bahwa Israel, yang dicekik oleh legalisme agama dan nasionalime, membutuhkan suatu pembaharuan batin yang radikal.
Dalam pewartaan tentang malapetaka yang akan terjadi atas Israel, Yeremia menubuatkan suatu 'Sisa Kecil', suatu kelompok kecil umat yang tetap setia pada Allah (Yer 23:3, 4; 30:10, 11; 31:10-14). Sisa Kecil ini adalah benih harapan di masa yang akan datang, kepadanya Allah mencurahkan pengampunan dan belaskasihanNya, dan dengannya Allah akan mengadakan suatu Perjanjian Baru (Yer 31:31-34). Allah akan menciptakan Iagi Israel suatu hubungan spiritual yang baru dan mendalam, dan akan menuliskan hukumNya di dalam hati mereka serta tinggal di dalam hati mereka.
Yeremia dengan tekun membantu perkembangan Sisa Kecil Israel yang saleh dari suku Yehuda ini karena mereka dengan sabar menantikan tibanya Hari Tuhan yang menyelamatkan. Penderitaan Yeremia yang demikian hebat menjadikan dia sebagai tokoh lambang bagi Yesus Kristus. Yeremia, yang hidup penuh penderitaan, namun tetap pasrah dan taat pada kehendak Allah yang mengutusnya, menjadi lambang gambaran Hamba Yahweh yang menderita sebagaimana diramalkan Yesaya (Yes 35).


Santo Peregrinus Laziosi, Pengaku Iman
Peregrinus Laziosi lahir di kota Forli, Italia pada tahun 1260. Ia menaruh kebencian besar terhadap Gereja Katolik. la pun termasuk salah seorang yang memusuhi Sri Paus di Roma. Dengan sifatnya yang keras dan kasar, ia melancarkan serangan terhadap Gereja Katolik di wilayah Romagna.
Awal kehidupannya sebagai 'manusia baru' dalam iman Kristiani bermula dari tindakannya yang brutal terhadap Pastor Filipus Benizi (1225-1285). Diceritakan bahwa pada suatu kesempatan kotbah dalam rangka misi perdamaian yang dicanangkan Sri Paus, Pastor Filipus ditinju hingga roboh oleh Peregrinus. Tetapi Pastor yang saleh ini tidak memberikan suatu perlawanan balik terhadap Peregrinus. Ia bahkan bangkit dan berdoa untuk Peregrinus serta memaafkan dia.
Sikap Pastor Filipus ini menyentuh hati Peregrinus yang keras membatu itu. "Belum pernah aku menjumpai orang seperti dia ini" kata Peregrinus dalam hatinya. Ia lalu berlutut di hadapan Pastor Filipus dan meminta maaf atas perlakuannya yang kasar itu. Semenjak itu ia bertobat dan bertekad menjalani suatu kehidupan baru dengan doa dan matiraga. Rahmat Tuhan semakin hebat mempengaruhi hidupnya. Pada suatu hari, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan menyuruh dia pergi ke Siena. Di Siena ia diterima oleh Pastor Filipus sebagai salah seorang anggota Ordo Servit Santa Maria.
Di dalam ordo itu Tuhan terus melaksanakan rencanaNya atas diri Peregrinus. Pada suatu hari, Peregrinus jatuh sakit. la diserang penyakit kanker ganas pada kakinya. Dokter yang merawatnya menganjurkan agar kakinya dipotong demi menyelamatkan nyawanya. Sebelum ia tidur malam, ia berdoa kepada Yesus Tersalib hingga tertidur. Dalam mimpinya, ia melihat Yesus mengulurkan tanganNya dari atas salib dan menyentuh kakinya yang sakit itu. Ketika bangun dari tidur didapatinya kakinya sudah sembuh. Peristiwa ajaib ini semakin mengokohkan imannya akan kebenaran ajaran Gereja.
Rahmat kesembuhan ini mengobarkan semangatnya untuk tetap membaktikan dirinya kepada Tuhan dan Gereja dengan menjadi imam. Selama 62 tahun ia berkarya dengan penuh semangat diperkuat oleh doa dan matiraga yang mendalam. la meninggal dunia pada tahun 1345 dan diangkat Gereja sebagai pelindung para penderita sakit bernanah dan kanker.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/