Liturgia Verbi 2026-03-01 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Prapaskah II

Minggu, 1 Maret 2026

Ujud Gereja Universal: Pelucutan senjata dan perdamaian.
Semoga bangsa-bangsa mengusahakan pelucutan senjata yang efektif, khususnya pelucutan senjata nuklir, dan pemimpin dunia memilih jalan dialog serta diplomasi daripada kekerasan.


Ujud Gereja Indonesia: Masyarakat adat.
Semoga masyarakat di pedalaman dapat mempertahankan kekayaan dan keluhuran budaya asli mereka, dalam kesela-rasan dengan alam dan perkembangan zaman.



Bacaan Pertama
Kej 12:1-4a

"Panggilan Abraham, bapa umat Allah."

Pembacaan dari Kitab Kejadian:

Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram,
"Tinggalkanlah negerimu, dari sanak saudaramu dan rumah bapamu ini,
dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar,
dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur;
dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau,
dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau.
Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau."
Maka berangkatlah Abram sesuai dengan sabda Tuhan.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 33:4-5.18-19.20.22,R:22

Refren: Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami,
seperti kami berharap kepada-Mu.

*Firman Tuhan itu benar,
segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
Ia senang kepada keadilan dan hukum;
bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

*Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa,
kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya;
Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut
dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

*Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan.
Dialah penolong dan perisai kita.
Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami,
seperti kami berharap kepada-Mu.



Bacaan Kedua
2Tim 1:8b-10

"Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus yang kedua kepada Timotius:

Saudaraku terkasih,
berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus!
Dialah yang menyelamatkan kita
dan memanggil kita dengan panggilan kudus,
bukan berdasarkan perbuatan kita,
melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri.
Semuanya ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus
sebelum permulaan zaman,
dan semua itu sekarang dinyatakan
oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut
dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 17:5c

Dari dalam awan yang terang terdengarlah suara Bapa,
"Inilah Anak yang Kukasihi; dengarkanlah Dia!"



Bacaan Injil
Mat 17:1-9

"Wajah-Nya bercahaya seperti Matahari."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya,
dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi.
Di situ mereka sendirian saja.
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka;
wajah-Nya bercahaya seperti matahari,
dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Maka nampak kepada mereka
Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus.
Kata Petrus kepada Yesus,
"Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini.
Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah,
satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."

Sementara Petrus berkata begitu,
tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka,
dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata,
"Inilah Anak yang Kukasihi,
kepada-Nyalah Aku berkenan,
dengarkanlah Dia!"
Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus
dan mereka sangat ketakutan.
Lalu Yesus datang kepada mereka.
Ia menyentuh mereka sambil berkata,
"Berdirilah, jangan takut!"
Dan ketika mengangkat kepala,
mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung,
Yesus berpesan kepada mereka,
"Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun
sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma, dari renungan The Power of Word:

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Dikisahkan dalam Injil hari ini,
Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke gunung yang tinggi.
Di sana Yesus berubah rupa.
Wajah-Nya bercahaya seperti matahari,
dan pakaian-Nya putih berkilau.

Para murid melihat sekilas kemuliaan Tuhan.
Sebuah pengalaman rohani yang begitu indah,
yang membuat Petrus berkata,
"Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini."

Tetapi pengalaman itu tidak lama.
Mereka harus turun kembali dari gunung.
Turun ke dalam kehidupan nyata.
Turun menuju jalan penderitaan.

Begitu pula pada Bacaan Pertama dari Kitab Kejadian 12:1-4a,
ditulis tentang Abrahaman yang diminta Allah untuk meninggalkan zona nyaman,
menuju negeri yang belum ia ketahui.
Tuhan berkata kepada Abraham,
"Pergilah dari negerimu… ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu."
Tidak ada penjelasan rinci, tidak ada kepastian yang terlihat.
Hanya janji Tuhan, tetapi Abraham percaya.
Ia melangkah.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
sering kali dalam kehidupan keluarga,
kita pun berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya kita pahami.

Sebagai seorang ibu,
ada saat-saat saya berdoa untuk anak-anak,
untuk masa depan mereka,
untuk keputusan-keputusan yang harus mereka ambil,
namun saya tidak melihat jawabannya secara langsung.

Kadang ada kekhawatiran, kadang ada pertanyaan dalam hati:
"Tuhan, Engkau sedang membawa kami ke mana?"

Namun di situlah iman bertumbuh.
Iman bukan soal melihat semuanya dengan jelas.
Iman adalah tetap percaya ketika jalan masih samar.
Iman adalah tetap berjalan meski belum tahu seluruh rencana Tuhan.

Para murid hanya diberi sekilas kemuliaan di gunung,
agar ketika mereka menghadapi salib,
mereka tetap ingat siapa Yesus yang mereka ikuti.

Begitu pula dalam hidup kita.
Kadang Tuhan memberi kita sekilas penghiburan.
Sekilas damai dalam doa.
Sekilas jawaban atas pergumulan.
Mungkin belum lengkap.
Belum seluruhnya.
Tetapi cukup untuk membuat kita terus percaya.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Mari kita refleksikan:
Apakah saya hanya percaya ketika semuanya sesuai dengan harapan saya?
Ataukah saya mau tetap percaya walau saya belum melihat hasilnya?

Percaya bukan berarti memahami semua rencana Tuhan.
Percaya berarti menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya.

Semoga kita belajar dari Abraham yang berani melangkah,
karena Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang setia menyertai.
Amin.

Doa Penutup:

Marilah kita berdoa.
Ya Allah Bapa yang setia,
kami bersyukur karena Engkau selalu berjalan bersama kami,
bahkan ketika kami belum melihat arah yang jelas.
Teguhkanlah iman kami dalam kehidupan keluarga kami,
agar kami tetap percaya dan setia mengikuti kehendak-Mu.
Ajarlah kami untuk berserah dan tidak takut melangkah bersama-Mu.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Felix III (II), Paus
Felix berasal dari sebuah keluarga berdarah Romawi. la menjadi paus menggantikan Paus Santo Simplisius pada tahun 483. la dinamakan Felix III (II) karena kira-kira pada tahun 365 ada seorang paus tandingan yang menamakan dirinya Felix lI.
Selama masa kepausannya, Felix menghadapi bidaah Monophysitisme yang menolak ajaran iman tentang kedwitunggalan kodrat Yesus Kristus: Ilahi sekaligus Manusiawi. Untuk memecahkan masalah itu, Kaisar Zeno mengeluarkan suatu rumusan kesatuan yang bermakna ganda, yang disebut Henotikon. Rumusan ini tidak disetujui baik oleh Sri Paus maupun oleh pengikut aliran bidaah Monophisitisme.
Demi pemecahan selanjutnya, Sri Paus Felix memanggil Acacius, Patriark Konstantinopel, penyusun rumusan itu. Acacius menolak datang ke Roma. Maka dia diekskomunikasikan oleh Felix III. Sejak berlakunya ekskomunikasi ini, skisma Acacian mulai tersebar dan terus berkembang hingga kematian Felix III pada tanggal 1 Maret 492.

Santo David, Pengaku Iman
David mungkin lahir di Cardigan, Wales, Inggris pada tahun 520 dari sebuah keluarga bangsawan. la terkenal sebagai seorang biarawan yang aktif mendirikan biara-biara: kurang lebih ada 12 biara yang didirikannya. Dari antara biara-biara itu, biara Menevia di bagian baratdaya Wales adalah biara pusat sekaligus menjadi tempat tinggalnya sebagai pimpinan tertinggi.
Dalam kedudukannya itu David memainkan peranan besar dalam perkembangan Gereja Keltik. Banyak perintis Gereja Irlandia dididik di Menevia; antara lain Santo Finnianus dari Clonard, yang dijuluki sebagai Bapa Monastik Irlandia. Ketenaran namanya pada zaman itu dapat dilihat dari begitu banyak gereja kuno - lebih dari 50 buah gereja - di bagian selatan Wales yang memilih dia sebagai pelindungnya. David meninggal dunia pada tahun 601 di Menevia. la digelari kudus pada tahun 1120 pada masa kepemimpinan Sri Paus Kalistus II (1119-1124), dan diangkat sebagai pelindung suci Wales.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/