Liturgia Verbi 2026-08-17 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
HR Kemerdekaan Republik Indonesia

Senin, 17 Agustus 2026

Menurut MAWI (sekarang KWI) 1972, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dirayakan sebagai hari raya (Sollemnitas). Namun, uskup setempat dapat memindahkannya ke hari lain sekitar tanggal tersebut.



Bacaan Pertama
Sir 10:1-8

"Para penguasa bertanggung-jawab atas rakyatnya."

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:

Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat,
pemerintah yang arif adalah yang teratur.
Seperti para penguasa,
demikian pula para pegawainya;
seperti pemerintah kota,
demikian pula semua penduduknya.
Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya,
tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.
Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi,
dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya.
Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seseorang,
dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat.
Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu,
apapun juga kesalahannya,
dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu.
Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia,
dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah.
Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain
akibat kelaliman, kekerasan dan uang.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 101:1a.2ac.3a.6-7,R:Gal 5:13

Refren: Kamu dipanggil untuk kemerdekaan,
maka abdilah satu sama lain dalam cintakasih.

*Tuhan, aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum,
aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela.
Aku hendak hidup dalam ketulusan hati,
tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila.

*Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan,
supaya mereka diam bersama-sama aku.
Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela,
akan melayani aku.

*Orang yang melakukan tipu daya
tidak akan diam di dalam rumahku,
orang yang berbicara dusta
tidak akan tegak di depan mataku.



Bacaan Kedua
1Ptr 2:13-17

"Berlakulah sebagai orang yang merdeka."

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:

Saudara-saudaraku yang terkasih,
demi Allah, tunduklah kepada semua lembaga manusia,
baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi,
maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya
untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat
dan mengganjar orang-orang yang berbuat baik.
Sebab inilah kehendak Allah,
yaitu supaya dengan berbuat baik
kamu membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh.
Hiduplah sebagai orang merdeka,
bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu
untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka,
tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
Hormatilah semua orang,
kasihilah saudara-saudaramu,
takutlah akan Allah,
hormatilah raja!

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Mat 22:21

Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar,
dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.



Bacaan Injil
Mat 22:15-21

"Berikanlah kepada kaisar
apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar,
dan kepada Allah
apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
orang-orang Farisi berunding
bagaimana mereka dapat menjerat Yesus
dengan suatu pertanyaan.
Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian
bertanya kepada Yesus,
"Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur,
dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah,
dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga,
sebab Engkau tidak mencari muka.
Katakanlah kepada kami pendapat-Mu:
Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka.
Maka Ia lalu berkata,
"Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu."
Mereka membawa suatu dinar kepada Yesus.
Maka Yesus bertanya kepada mereka,
"Gambar dan tulisan siapakah ini?"
Jawab mereka, "Gambar dan tulisan Kaisar."
Lalu kata Yesus kepada mereka,
"Berikanlah kepada Kaisar
apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar,
dan kepada Allah
apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Demikianlah sabda Tuhan.

image.png



Renungan Injil
Renungan hari ini saya ambilkan dari renungan Daily Fresh Juice yang dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma berikut ini.

*MERDEKA NEGERIKU, MERDEKAKAH HATIKU?*

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Hari ini kita merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dengan penuh rasa syukur, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, harta, bahkan nyawa mereka agar bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan.

Bendera Merah Putih dikibarkan. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Berbagai perayaan diadakan di seluruh negeri. Namun, di tengah sukacita kemerdekaan ini, marilah kita juga bertanya kepada diri sendiri:

*Setelah 81 tahun bangsa kita merdeka, apakah hati kita juga sudah sungguh-sungguh merdeka?*

Marilah kita terlebih dahulu mendengarkan Bacaan Injil hari ini, yang diambil dari Injil Matius, bab 22, ayat 15 sampai dengan ayat 21.

Inilah Injil Suci menurut Matius:
[Bacaan Injil]
Demikianlah Sabda Tuhan.

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Orang-orang Farisi dan Herodian datang kepada Yesus dengan kata-kata yang terdengar sangat baik. Mereka memanggil Yesus sebagai Guru. Mereka mengatakan bahwa Yesus adalah seorang yang jujur dan mengajarkan jalan Allah dengan benar.

Namun, di balik kata-kata yang manis itu, tersembunyi niat yang jahat. Mereka bukan datang untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menjebak Yesus.

Mereka tampak baik dari luar, tetapi hati mereka dikuasai oleh kemunafikan, iri hati, dan keinginan untuk menjatuhkan orang lain.
Inilah salah satu bentuk ketidakmerdekaan rohani.

Seseorang dapat terlihat bebas, dapat pergi ke mana saja dan melakukan banyak hal, tetapi hatinya belum tentu merdeka. Hatinya mungkin masih dikuasai oleh ego, kebencian, ketakutan, luka lama, atau kebiasaan dosa.

Kita dapat terlihat baik dan ramah di hadapan orang lain, tetapi di dalam hati masih menyimpan kejengkelan. Kita dapat mengucapkan kata-kata tentang kasih dan pengampunan, tetapi masih merasa senang ketika orang yang pernah menyakiti kita mengalami kesulitan.
Dari luar kita tampak bebas, tetapi sesungguhnya hati kita masih terikat.

Yesus kemudian meminta mereka menunjukkan sekeping uang dinar.
Yesus bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?”
Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.”
Lalu Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Uang dinar itu memuat gambar dan tulisan Kaisar. Karena itu, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar.
Lalu, apa yang harus kita berikan kepada Allah?

Tentu bukan hanya sebagian kecil dari waktu kita. Bukan hanya beberapa menit ketika kita berdoa. Bukan hanya satu atau dua jam ketika kita mengikuti perayaan Ekaristi. Yang seharusnya kita serahkan kepada Allah adalah seluruh hidup kita: hati, pikiran, perkataan, keputusan, dan perbuatan kita.
Namun, terkadang kita hanya memberikan sebagian dari hidup kita kepada Tuhan.

Kita memberikan waktu untuk berdoa, tetapi belum menyerahkan ego kita. Kita datang kepada Tuhan, tetapi tetap mempertahankan kebencian. Kita meminta agar Tuhan mengampuni dosa kita, tetapi kita sendiri tidak bersedia mengampuni kesalahan orang lain.

Bibir kita berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan, tetapi hidup kita masih dikuasai oleh ketakutan.

Kita ingin hidup benar, tetapi masih terikat oleh kebiasaan yang kita tahu tidak baik. Ada yang terikat oleh kemarahan, keinginan untuk selalu menang, kebohongan, kecanduan, atau keinginan untuk terus-menerus dipuji dan diakui.

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang dikasihi Tuhan,
Penjajahan rohani sering kali tidak tampak seperti rantai yang membelenggu tangan dan kaki. Kuasa jahat dapat bekerja dengan sangat halus. Kita dibuat merasa bebas, padahal keputusan-keputusan kita mulai dikendalikan oleh dosa.

Ketika kita tahu harus mengampuni, tetapi memilih memelihara dendam, kita belum merdeka.

Ketika kita tahu harus berkata jujur, tetapi memilih berbohong demi menyelamatkan diri, kita belum merdeka.

Ketika kebahagiaan kita bergantung pada pujian dan pengakuan orang lain, kita belum merdeka.

Ketika ketakutan membuat kita tidak lagi percaya kepada kebaikan Tuhan, kita belum merdeka.

Ketika kita ingin berhenti dari suatu kebiasaan buruk, tetapi selalu menyerah dan mengulanginya, kita belum merdeka.

Ketika ego membuat kita selalu ingin menang dan sulit mengakui kesalahan, kita belum merdeka.

Iblis ingin membuat manusia menjauh dari Allah. Ia tidak selalu menggoda kita untuk melakukan kejahatan yang besar. Terkadang ia hanya membisikkan agar kita menunda berbuat baik, mempertahankan sedikit kebencian, membenarkan sedikit kebohongan, atau terus memelihara luka lama.

Jika dibiarkan, sesuatu yang semula kita anggap kecil perlahan-lahan dapat menguasai hati kita.

Saya pun terkadang menyadari bahwa lebih mudah bersikap ramah dan sabar kepada orang lain daripada kepada orang-orang yang paling dekat dengan saya.

Ketika lelah, perkataan sederhana dapat terasa mengganggu. Kita menjadi mudah tersinggung. Kita merasa pendapat kita harus didengar dan keinginan kita harus dipahami. Kita ingin orang lain mengerti keadaan kita, tetapi lupa berusaha mengerti keadaan mereka.

Terkadang saya juga merasa sudah mengampuni. Namun, ketika suatu peristiwa kembali dibicarakan atau nama orang itu disebut, hati kembali terasa tidak nyaman. Dari sana saya menyadari bahwa mungkin pengampunan itu belum selesai. Masih ada luka yang belum sungguh-sungguh saya serahkan kepada Tuhan.

Kemerdekaan rohani bukan berarti kita tidak pernah lagi mengalami godaan. Kemerdekaan rohani berarti kita tidak membiarkan godaan, luka, ketakutan, dan dosa menentukan hidup kita.

Kita mungkin masih merasa marah, tetapi kita bebas memilih untuk tidak membalas.

Kita mungkin masih terluka, tetapi kita bebas memilih untuk mengampuni.

Kita mungkin masih takut, tetapi kita bebas memilih untuk tetap percaya kepada Tuhan.

Kita mungkin pernah jatuh dalam dosa, tetapi kita bebas untuk bertobat, bangkit, dan kembali kepada-Nya.

Inilah kemerdekaan yang Tuhan kehendaki: bukan kebebasan untuk melakukan apa saja yang kita inginkan, melainkan kebebasan untuk memilih yang benar dan melakukan kehendak Allah.

Hari ini Yesus berkata, “Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Maka, marilah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
"Apakah hidup saya sudah sungguh-sungguh menjadi milik Allah?"
"Adakah bagian hidup yang masih saya pertahankan dan belum saya serahkan kepada-Nya?"
"Apakah saya masih dijajah oleh ego, kebencian, ketakutan, kecanduan, atau kesulitan mengampuni?"

Kemerdekaan bangsa kita diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan. Kemerdekaan rohani juga membutuhkan perjuangan. Setiap hari kita perlu berani mengatakan tidak kepada dosa dan mengatakan ya kepada kehendak Tuhan.

Kita tidak harus memulainya dengan sesuatu yang besar. Kita dapat memulainya dengan meminta maaf, mengampuni seseorang, menghentikan kebiasaan yang tidak baik, belajar mengendalikan perkataan, atau kembali berdoa dengan sungguh-sungguh.

Bendera Merah Putih telah berkibar sebagai tanda negeri yang merdeka. Sekarang, marilah kita membiarkan kasih dan kehendak Allah berkibar di dalam hati kita.

Semoga kita bukan hanya menjadi warga dari bangsa yang merdeka, tetapi juga menjadi anak-anak Allah yang sungguh merdeka: tidak lagi dikuasai oleh dosa dan kuasa jahat, melainkan hidup dalam kasih, kebenaran, dan kehendak Tuhan.
Amin.

Para Pendengar setia Daily Fresh Juice yang terkasih, marilah kita berdoa.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Allah Bapa yang Mahakasih,
kami bersyukur atas rahmat kemerdekaan yang Engkau anugerahkan kepada bangsa Indonesia.

Kami mengenang dan berterima kasih atas perjuangan serta pengorbanan para pahlawan yang telah mendahului kami.

Berkatilah bangsa dan negara kami. Berilah kebijaksanaan kepada para pemimpin kami agar mereka bekerja dengan jujur, adil, dan mengutamakan kesejahteraan seluruh rakyat.

Persatukanlah kami dalam keberagaman dan jauhkanlah bangsa kami dari perpecahan, kebencian, kekerasan, serta segala bentuk ketidakadilan.

Bapa, merdekakanlah juga hati kami.
Bebaskanlah kami dari kuasa dosa, ego, kebencian, ketakutan, kecanduan, dendam, serta segala sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu.

Berilah kami keberanian untuk mengakui kesalahan, kerendahan hati untuk meminta maaf, dan ketulusan untuk mengampuni.

Ajarlah kami menyerahkan seluruh hidup kami kepada-Mu, agar pikiran, perkataan, keputusan, dan perbuatan kami selalu mencerminkan kasih-Mu.

Jadikanlah kami pribadi-pribadi yang sungguh merdeka: merdeka untuk mengasihi, merdeka untuk melayani, dan merdeka untuk melakukan kehendak-Mu.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

*Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!*

Semoga bangsa Indonesia semakin maju, bersatu, adil, dan sejahtera. Semoga kita semua juga semakin merdeka dalam kasih dan kebenaran Tuhan.

Terima kasih.
Sampai jumpa bulan depan!



Peringatan Orang Kudus
Santo Hyasintus, Pengaku Iman
Hyasintus lahir tahun 1185 di Breslan, Silesia, Jerman Timur, dari keluarga bangsawan Odrowaz. Setelah menamatkan studinya, ia ditahbiskan menjadi imam. Karya imamatnya dimulai di Katedral Krakau, Polandia. Pada umur 35 tahun, bersama adiknya Seslaus, Hyasintus menemani uskupnya dalam perjalanan ke Roma.
Kesempatan itu dipakai untuk menemui Santo Dominikus, pendiri Ordo Pengkotbah. Semangat kerasulan dan kemiskinan para biarawan ordo itu sangat mereka kagumi. Pada pertemuan itu, Hyasintus meminta Dominikus agar mengutus beberapa biarawannya untuk mewartakan Injil di Eropa Utara. Permohonan itu tidak dikabulkan karena masalah kekurangan tenaga imam. Secara tak terduga, kedua bersaudara itu meminta Dominikus agar diterima dalam Ordo Pengkotbah. Dengan senang hati Dominikus menerima kedua bersaudara itu dalam pangkuan ordonya.
Hyasintus bersama Seslaus, meskipun sudah lama bekerja sebagai imam, bersedia menjalani lagi masa novisiat untuk melatih diri dan membentuk diri mengikuti semangat Ordo Pengkotbah dan semua keutamaan Kristen yang diperjuangkan ordo itu. Setelah mereka mengikrarkan kaul-kaul kebiaraan, Hyasintus dan Seslaus diutus ke Eropa Utara sebagai misionaris Dominikan pertama di wilayah itu.
Sebagai perintis Ordo Pengkotbah di Eropa Utara, kedua bersaudara itu mengalami banyak hambatan dalam karyanya. Namun Tuhan senantiasa menyertai mereka dengan banyak karunia mujizat. Mula-mula Hyasintus menjelajahi seluruh Polandia untuk mewartakan Injil. Ia berhasil mentobatkan banyak orang di semua kota. Selanjutnya ia berkotbah di wilayah-wilayah Jerman, Denmark, Swedia, Austria dan Rusia sampai ke Laut Hitam. Kehidupannya yang sederhana dan suci menjadi pendukung kuat bagi kotbah-kotbahnya dan hal ini berhasil menarik minat banyak pemuda.
Pemuda-pemuda yang dengan rela meneladani Hyasintus dibina untuk menjadi imam-imam Dominikan. Untuk itu Hyasintus mendirikan banyak biara Dominikan di berbagai tempat sebagai pusat pendidikan bagi semua pemuda yang mau menjadi imam dalam Ordo Dominikan.
Dikatakan bahwa Hyasintus sepanjang hidupnya (72 tahun) tidak pernah mengalami sakit, termasuk penyakit ketuaan dan semua penderitaan lain yang disebabkan oleh usia yang sudah lanjut. Ia akhirnya gugur sebagai seorang ksatria Kristus yang memberi kesaksian iman secara luar biasa. Pada tanggal 14 Agustus 1257, ia jatuh sakit dan meninggal pada tanggal 15 Agustus 1257, tepat dengan Pesta Maria Diangkat ke Surga.



https://liturgia-verbi.blogspot.com/