Liturgia Verbi 2026-04-01 Rabu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Rabu Dalam Pekan Suci

Rabu, 1 April 2026

Ujud Gereja Universal: Para imam dalam krisis.
Semoga para imam yang mengalami momen krisis dalam panggilan dapat menemukan pendampingan yang mereka perlukan, dan semoga umat mendukung mereka dengan menerima dan mendoakan.

Ujud Gereja Indonesia: Tanggung jawab ekologis.
Semoga sekolah-sekolah mengajarkan tanggung jawab ekologis pada para murid, dengan mengenalkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.



Bacaan Pertama
Yes 50:4-9a

"Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku diludahi."

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid,
supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru
kepada orang yang letih lesu.
Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku
untuk mendengar seperti seorang murid.
Tuhan Allah telah membuka telingaku,
dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.
Aku memberi punggungku
kepada orang-orang yang memukul aku,
dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku.
Aku tidak menyembunyikan mukaku
ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan Allah menolong aku;
sebab itu aku tidak mendapat noda.
Maka aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu,
karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu.
Dia yang menyatakan aku benar telah dekat.
Siapakah yang berani berbantah dengan aku?
Marilah kita tampil bersama-sama!
Siapakah lawanku beperkara?
Biarlah ia mendekat kepadaku!
Sungguh, Tuhan Allah menolong aku;
siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 69:8-10.21bcd-22.31.33-34,R:14bc

Refren: Demi kasih setia-Mu yang besar, ya Tuhan,
jawablah aku pada waktu Engkau berkenan.

*Karena Engkaulah, ya Tuhan, aku menanggung cela,
karena Engkaulah noda meliputi mukaku.
Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku,
menjadi orang asing bagi anak-anak ibuku;
sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku,
dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.

*Cela itu telah mematahkan hatiku,
dan aku putus asa;
aku menantikan belas kasihan, tetapi sia-sia,
dan waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.

*Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian,
mengagungkan Dia dengan lagu syukur;
Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah;
biarlah hatimu hidup kembali, hai kamu yang mencari Allah!
Sebab Tuhan mendengarkan orang-orang miskin,
dan tidak memandang hina
orang-orang-Nya yang ada dalam tahanan.



Bait Pengantar Injil


Salam, ya Raja kami,
hanya Engkaulah yang mengasihani kesesatan-kesesatan kami.



Bacaan Injil
Mat 26:14-25

"Anak Manusia memang akan pergi
sesuai dengan apa yang tertulis tentang Dia,
tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!"

Inilah Injil Suci menurut Matius:

Sekali peristiwa
pergilah seorang dari kedua belas murid itu,
yang bernama Yudas Iskariot,
kepada imam-imam kepala.
Ia berkata, "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku,
supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?"
Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
Dan mulai saat itu Yudas mencari kesempatan yang baik
untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi
datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata,
"Di mana Engkau kehendaki
kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
Jawab Yesus, "Pergilah ke kota, kepada si Anu,
dan katakan kepadanya: Beginilah pesan Guru:
Waktu-Ku hampir tiba;
di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah
bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
Lalu murid-murid melakukan
seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka,
dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam,
Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata,
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
Dan dengan hati yang sangat sedih
berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya,
"Bukan aku, ya Tuhan?"
Yesus menjawab,
"Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini,
dialah yang akan menyerahkan Aku.
Anak Manusia memang akan pergi
sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia,
tetapi celakalah orang
yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!
Adalah lebih baik bagi orang itu
sekiranya ia tidak dilahirkan."
Yudas, yang hendak menyerahkan Yesus itu menyahut,
"Bukan aku, ya Rabi?"
Kata Yesus kepadanya, "Engkau telah mengatakannya."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Renungan hari ini dibawakan oleh Ibu Erna Kusuma untuk *The Power of Word* berikut ini:

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Dalam hidup ini,
kita tidak selalu berhadapan dengan orang-orang yang mudah untuk dikasihi.
Ada kalanya justru orang yang paling dekat dengan kita,
yang kita kasihi dan kita perjuangkan,
malah menjadi sumber luka dan kekecewaan.

Sebagai seorang ibu, pengalaman seperti ini sering kali hadir dalam keseharian.
Ketika kasih sudah diberikan dengan tulus,
tetapi yang kembali justru sikap yang tidak sesuai harapan.
Dan sering kali, semua itu kita simpan… dalam diam.

Dalam Injil hari ini, kita melihat Yesus yang tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya.
Ia tahu luka itu akan datang dari orang yang begitu dekat dengan-Nya.
Namun Yesus tidak menjauh.
Ia tidak menolak.
Ia tetap duduk makan bersama murid-murid-Nya.
Ia tetap mengasihi.

Inilah kesetiaan yang sejati.
Kesetiaan yang bukan sekadar bertahan,
tetapi kesetiaan yang memilih untuk tetap mengasihi.

Dalam Bacaan Pertama, kita mendengar nubuat dari Yesaya:
"Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku…
aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi" [Yes 50:6].

Kesetiaan seperti ini bukanlah tanda kelemahan.
Justru inilah kekuatan yang sesungguhnya.
Kekuatan untuk tetap berdiri dalam kasih,
meskipun hati terluka.

Bapak-Ibu dan Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Sering kali kita berpikir bahwa mengasihi itu mudah ketika semuanya berjalan baik.
Namun kasih yang sejati justru diuji ketika kita disakiti,
ketika kita tidak dimengerti,
ketika kita merasa sendiri.

Dan di situlah kita diundang untuk belajar dari Yesus:
bahwa kasih bukan hanya perasaan,
melainkan keputusan.
Keputusan untuk tetap mengasihi,
meskipun tidak mudah.

Kesetiaan untuk tetap mengasihi inilah
yang membuat hati kita semakin serupa dengan hati Kristus.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang lelah,
yang sedang menyimpan luka,
yang merasa kasihnya tidak dihargai.

Tuhan melihat semuanya itu.
Tidak ada satu pun kesetiaan yang tersembunyi
yang luput dari perhatian-Nya.

Setiap pengorbanan,
setiap air mata,
setiap kasih yang tetap kita berikan dalam diam…
semuanya berharga di hadapan Tuhan.

Maka hari ini, kita diajak untuk tidak berhenti.
Tetaplah mengasihi.
Tetaplah setia.
Karena di dalam kesetiaan itulah,
Tuhan sedang bekerja dalam hidup kita,
membentuk kita menjadi pribadi yang semakin penuh kasih.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Hugo, Uskup dan Pujangga
Hugo lahir pada tahun 1053. Dalam usia yang masih sangat muda ia diangkat menjadi Uskup Grenoble, Prancis pada tahun 1080. Semula ia tidak bersedia menerima tugas yang mulia itu mengingat usianya masih sangat muda dan masih sering tertarik pada hal-hal duniawi. Tetapi ia akhirnya menerima juga jabatan itu karena pilihan atas dirinya didukung oleh banyak orang.
Dalam pelaksanaan tugas kegembalaannya, ia dengan tegas menentang praktek simonia (pembelian jabatan gerejani dengan uang) dan praktek pernikahan imam-imam serta menghukum para pegawai tinggi yang menyita harta kekayaan Gereja. la juga giat membantu sahabatnya Santo Bruno dalam pembangunan biara Kartus pertama. Hugo meninggal dunia pada tahun 1132.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-03-31 Selasa.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Selasa Dalam Pekan Suci

Selasa, 31 Maret 2026



Bacaan Pertama
Yes 49:1-6

"Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa,
supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau,
perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh!
Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan,
telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.
Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam
dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya.
Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing,
dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.
Ia berfirman kepadaku, "Engkau adalah hamba-Ku, Israel,
dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku."

Tetapi aku berkata,
"Aku telah bersusah-susah dengan percuma,
dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia!
Namun, hakku terjamin pada Tuhan, dan upahku pada Allahku."
Maka sekarang berfirmanlah Tuhan
yang membentuk aku sejak dari kandungan
untuk menjadi hamba-Nya,
untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya;
yang karenanya aku dipermuliakan di mata Tuhan,
dan Allahku menjadi kekuatanku;
beginilah firman-Nya,
"Terlalu sedikit bagimu untuk hanya menjadi hamba-Ku,
hanya menegakkan suku-suku Yakub,
dan mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara.
Maka Aku akan membuat engkau
menjadi terang bagi bangsa-bangsa,
supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 71:1-2.3-4a.5-6ab.15.17,R:15

Refren: Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu, ya Tuhan.

*Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung,
janganlah sekali-kali aku mendapat malu.
Lepaskan dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!

*Jadilah padaku gunung batu tempat berteduh,
kubu pertahanan untuk menyelamatkan diri;
sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku.

*Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan,
Engkaulah kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah.
Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan,
Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku!

*Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu,
dan sepanjang hari mengisahkan keselamatan yang dari-Mu,
sebab aku tidak dapat menghitungnya.
Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku,
dan sampai sekarang
aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib.



Bait Pengantar Injil


Salam, ya Raja kami yang setia kepada Bapa;
Engkau dibawa untuk disalibkan,
tidak membuka mulut seperti domba yang dibawa ke pembantaian.



Bacaan Injil
Yoh 13:21-33.36-38

"Salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku...
Sebelum ayam jantan berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Di dalam perjamuan Paskah dengan murid-murid-Nya
Yesus sangat terharu, lalu bersaksi,
"Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."

Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain;
mereka bertanya-tanya siapa yang dimaksudkan-Nya.
Seorang di antara murid-murid Yesus,
yaitu murid yang dikasihi-Nya,
bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.
Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata,
"Tanyakanlah siapa yang dimaksudkan-Nya!"
Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling
dan berkata kepada Yesus,
"Tuhan, siapakah itu?"
Jawab Yesus, "Dia adalah orang,
yang kepadanya Aku akan memberikan roti,
sesudah Aku mencelupkannya.
"Sesudah berkata demikian, Yesus mengambil roti,
mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas,
anak Simon Iskariot.

Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis.
Maka Yesus berkata kepadanya,
"Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera."
Tetapi tidak ada seorang pun
dari antara mereka yang duduk makan itu
mengerti apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas.
Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka
bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa
yang perlu untuk perayaan itu,
atau memberi apa-apa kepada orang miskin.
Yudas menerima roti itu lalu segera pergi.
Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus,
"Sekarang Anak Manusia dipermuliakan,
dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.
Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia,
Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya,
dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.
Hai anak-anak-Ku,
tinggal sedikit waktu saja Aku bersama kamu.
Kamu akan mencari Aku,
dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi
'Ke tempat Aku pergi tidak mungkin kamu datang'
demikian pula Aku mengatakannya sekarang kepada kamu.

Simon Petrus berkata kepada Yesus,
"Tuhan, ke manakah Engkau pergi?"
Jawab Yesus,
"Ke tempat Aku pergi,
engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang,
tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."
Kata Petrus kepada-Nya,
"Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang?
Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!"
Sahut Yesus, "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku?
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu:
Sebelum ayam berkokok,
engkau akan menyangkal Aku tiga kali."

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Hari ini Injil membawa kita masuk ke suasana yang sangat manusiawi. Petrus tampak begitu "kepo" ingin tahu siapa murid yang akan menyerahkan Yesus.
Lalu ketika Yesus berkata, "Ke mana Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang," Petrus bertanya lagi, "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?"
Semua itu terjadi dalam Perjamuan Malam Terakhir.
Di situlah Yesus menubuatkan sesuatu yang sangat menampar hati Petrus: "Sebelum ayam berkokok, engkau akan menyangkal Aku tiga kali." [Yoh 13:38]

Yang menarik untuk direnungkan, Petrus begitu sibuk ingin tahu tentang orang lain, tetapi belum sungguh mengenal dirinya sendiri. Ia ingin tahu siapa pengkhianatnya. Ia ingin tahu ke mana Yesus akan pergi. Ia bahkan dengan penuh semangat berkata bahwa ia siap memberikan nyawanya bagi Yesus. Namun Yesus melihat lebih dalam daripada semangat sesaat itu. Yesus tahu bahwa Petrus mengasihi-Nya, tetapi juga tahu bahwa kasih Petrus saat itu masih rapuh, masih mudah goyah oleh rasa takut.
Dan benar, apa yang dinubuatkan Yesus itu sungguh terjadi. Malam itu juga, setelah Yesus ditangkap, di halaman Imam Besar, Petrus tiga kali menyangkal Yesus. Lalu berkokoklah ayam,
sebagaimana yang ditulis di ke-empat Injil.

Sering kali kita juga seperti Petrus. Kita cepat ingin tahu urusan orang lain. Kita ingin tahu siapa yang salah, siapa yang jahat, siapa yang akan berkhianat. Tetapi kita kurang jujur melihat hati kita sendiri. Kita mudah berkata, "Saya setia kok, saya tidak mungkin jatuh." Padahal dalam situasi tertentu, ketika tekanan datang, kita pun bisa menyangkal Tuhan — bukan selalu dengan kata-kata, tetapi dengan sikap: diam ketika harus membela kebenaran, menghindar ketika harus bersaksi, atau memilih aman daripada setia.

Ayam berkokok itu menjadi seperti lonceng peringatan. Tuhan sering mengizinkan ada "ayam berkokok" dalam hidup kita: kegagalan, teguran, atau peristiwa kecil yang menyadarkan kita. Itu bukan tanda Tuhan meninggalkan kita, justru tanda bahwa Tuhan masih mau menyelamatkan kita dari kesombongan rohani.

Petrus jatuh, tetapi tidak selesai. Ia menangis, bertobat, lalu dipulihkan. Maka sabda hari ini mengajak kita untuk tidak hanya penasaran tentang orang lain, tetapi berani melihat diri sendiri. Apakah kita sungguh mengenal kelemahan kita? Apakah kita setia hanya saat aman, atau juga saat tertekan?

Saya merasa sabda hari ini keras, tetapi penuh kasih. Yesus sudah tahu Petrus akan jatuh, tetapi tetap mengasihi dia. Itu berarti ketika Tuhan menyingkapkan kelemahan kita, tujuan-Nya bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk memulihkan.

Maka kalau hari ini ada "ayam berkokok" dalam hidup kita, jangan diabaikan. Mungkin itu saat di mana Tuhan sedang mengetuk hati kita untuk kembali.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Benyamin, Martir
Dalam Kisah Para Rasul, kita membaca kisah Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada Dewan Sanhendrin karena mereka mewartakan Injil Yesus Kristus dan menyembuhkan seorang lumpuh. Kedua rasul itu dilarang keras mengajar lagi atas nama Yesus. Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab: "Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah.  Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar" (Kis 4:19-20).
Kata-kata inilah yang mendorong Benyamin untuk mengorbankan hidupnya bagi Kristus dan Injil. Benyamin adalah seorang diakon, berkebangsaan Persia. la hidup kurang lebih pada permulaan abad kelima. Oleh karena kesalahan seorang Uskup bernama Abdas, penganiayaan terhadap umat Kristen mulai berkecamuk lagi. Uskup Abdas membakar kuil dewa utama orang-orang Persia. Perbuatan ini menimbulkan reaksi hebat di antara orang-orang Persia yang masih kafir itu. Mereka menangkap orang-orang Kristen dan menyiksa mereka hingga mati. Di antara orang-orang Kristen yang ditangkap itu ada diakon Benyamin yang sama sekali tidak terlibat di dalam tindakan pembakaran kuil kafir itu. Diakon Benyamin dianiaya dengan kejam.
Kebetulan ada seorang Romawi yang mengenal baik Benyamin. la memohon kepada raja Persia agar membebaskan Benyamin. Permohonan ini dikabulkan raja Persia, tetapi dengan syarat: Benyamin tidak boleh lagi mewartakan Injil atau menyebarkan agama Kristen di kalangan orang Persia.
Mendengar syarat pelepasan itu, Benyamin dengan gagah berani menolak persyaratan itu.  Seperti Santo Petrus dan Yohanes, Benyamin menjawab: "Tidak mungkin saya tidak mewartakan Kristus dan InjilNya". Karena jawaban ini, Benyamin dihukum mati pada tahun 424.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-03-30 Senin.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Senin Dalam Pekan Suci

Senin, 30 Maret 2026



Bacaan Pertama
Yes 42:1-7

"Ia tidak berteriak atau memperdengarkan suaranya di jalan."

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Beginilah firman Tuhan,
"Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang,
orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan.
Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya,
supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suaranya,
atau memperdengarkan suaranya di jalan.
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya,
dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya,
tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
Ia sendiri tidak akan menjadi pudar
dan tidak akan patah terkulai,
sampai ia menegakkan hukum di bumi;
segala pulau mengharapkan pengajarannya."

Beginilah firman Allah, Tuhan,
yang menciptakan langit dan membentangkannya,
yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya,
yang memberikan nafas kepada umat manusia yang menghuninya
dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya,
"Aku, Tuhan, telah memanggil engkau
untuk maksud penyelamatan.
Aku telah memegang tanganmu;
Aku telah membentuk engkau
dan membuat engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia,
menjadi terang untuk bangsa-bangsa,
untuk membuka mata yang buta,
untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan
dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap
dari rumah penjara."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 27:1.2.3.13-14,R:1a

Refren: Tuhan adalah terang dan keselamatanku.

*Tuhan adalah terang dan keselamatanku,
kepada siapakah aku harus takut?
Tuhan adalah benteng hidupku,
terhadap siapakah aku harus gemetar?

*Ketika penjahat-penjahat menyerang
untuk memangsa aku,
maka lawan dan musuh itu sendirilah
yang tergelincir dan jatuh.

*Sekalipun tentara berkemah mengepung aku,
tidak takutlah hatiku;
sekalipun pecah perang melawan aku,
dalam hal ini pun aku tetap percaya.

*Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan
di negeri orang-orang yang hidup!
Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!
Ya, nantikanlah Tuhan.



Bait Pengantar Injil


Salam, ya Raja kami.
Hanya Engkaulah yang mengasihi kesesatan-kesesatan kami.



Bacaan Injil
Yoh 12:1-11

"Biarkanlah Dia melakukan hal ini
mengingat hari penguburan-Ku."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania,
tempat tinggal Lazarus
yang Ia bangkitkan dari antara orang mati.
Di situ diadakan perjamuan untuk Dia.
Marta melayani,
dan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.

Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni
yang mahal harganya,
lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya;
dan bau minyak semerbak memenuhi seluruh rumah.
Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus,
yang akan segera menyerahkan Dia, berkata,
"Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar,
dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
Hal itu dikatakannya
bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin,
melainkan karena ia adalah seorang pencuri;
ia sering mengambil uang
yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
Maka kata Yesus,
"Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.
Karena orang-orang miskin selalu ada padamu,
tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu."

Banyak orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di Betania.
Maka mereka datang,
bukan hanya karena Yesus,
melainkan juga untuk melihat Lazarus,
yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati.
Lalu imam-imam kepala bermufakat
untuk membunuh Lazarus juga,
sebab karena dialah banyak orang Yahudi meninggalkan mereka
dan percaya kepada Yesus.

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Hari ini kita mendengar nubuat dari Kitab Yesaya tentang seorang hamba Tuhan yang begitu lembut, tetapi sekaligus begitu kuat. Dan saya meyakini bahwa sosok yang dimaksudkan oleh Yesaya ini adalah Yesus sendiri. Ia tidak berteriak, tidak menyaringkan suara, tidak mencari perhatian. Ia tidak mematahkan buluh yang terkulai, dan tidak memadamkan sumbu yang hampir padam. Namun justru dalam kelembutan itu, ia menghadirkan keteguhan yang luar biasa—ia tidak akan menjadi pudar sampai tugasnya tuntas.

Gambaran ini terasa begitu kontras dengan cara dunia kerja hari ini. Dunia sering mengajarkan kita untuk tampil, untuk menunjukkan diri, untuk "bersuara keras" agar diakui. Tetapi Yesaya justru memperkenalkan sosok yang berbeda: kuat tanpa harus keras, setia tanpa harus terlihat.

Dan ketika kita membaca Injil hari ini, kita menemukan gambaran itu nyata dalam diri Yesus. Di rumah Marta, Maria, dan Lazarus, Maria datang membawa minyak narwastu yang mahal, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Tindakan yang sunyi, tanpa kata-kata, tanpa panggung, tetapi penuh kasih yang mendalam.
Sebaliknya, Yudas bersuara keras. Ia mempertanyakan, bahkan seolah membela orang miskin. Tetapi Injil menyingkapkan bahwa di balik kata-kata itu, ada niat yang tidak tulus. Ada kepentingan diri.
Di sini kita belajar sesuatu yang sangat penting: tidak semua yang bersuara keras itu benar, dan tidak semua yang diam itu lemah. Justru seringkali, kasih yang sejati bekerja dalam keheningan.

Saya pribadi sangat tersentuh dengan gambaran dari Yesaya tadi. Ada kerinduan dalam hati saya untuk berjalan mengikuti jejak Yesus seperti itu—tidak perlu koar-koar, tidak perlu membanggakan diri, meskipun mungkin ada hal-hal yang secara manusiawi bisa saya banggakan. Ada keinginan untuk tetap setia, diam-diam, konsisten, tanpa harus mencari pengakuan.

Dan saya sadar, itu tidak mudah. Ada saat-saat kita ingin dihargai, ingin dilihat, ingin diakui. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan: kesetiaan tidak diukur dari seberapa keras kita bersuara, tetapi dari seberapa teguh kita berjalan bersama Tuhan.

Refleksi yang juga sangat kuat hari ini adalah tentang terang. Terang tidak pernah perlu berteriak untuk mengusir gelap. Ia cukup hadir—dan kegelapan pun lenyap dengan sendirinya. Tidak ada perdebatan antara terang dan gelap. Begitu terang hadir, gelap pasti pergi.

Demikian pula hidup kita. Ketika kita memilih untuk hidup dalam terang Kristus—dalam kasih, dalam ketulusan, dalam kesetiaan—maka tanpa banyak kata, hidup kita sendiri menjadi kesaksian. Kegelapan di sekitar kita, entah itu iri hati, kepalsuan, atau niat buruk, perlahan akan tersingkir.
Pertanyaannya untuk kita hari ini sederhana namun dalam: apakah saya siap menjadi seperti terang itu? Hadir dengan tenang, tetapi membawa perubahan? Setia, meskipun tidak selalu terlihat?

Semoga kita dimampukan untuk meneladani Yesus—tidak perlu berteriak, tetapi tetap teguh. Tidak mencari sorotan, tetapi tetap setia. Dan tidak pernah membiarkan terang dalam diri kita menjadi redup.
Karena selama kita tetap menyala, sekecil apa pun itu, terang Kristus akan selalu mengalahkan kegelapan.
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Yohanes Klimakus, Pertapa
Kisah masa kecil dan masa muda Yohanes Klimakus kurang diketahui dengan pasti. Banyak orang menduga bahwa ia berasal dari Palestina dan telah berkeluarga sewaktu memasuki biara pertapaan di gunung Sinai.
la dikenal sebagai orang yang mampu bertahan terhadap aneka macam cobaan. la mampu mengekang dirinya terhadap segala macam godaan. Setelah menyelesaikan masa novisiatnya selama 4 tahun, ia mengikrarkan kaulnya. Melihat kepribadiannya yang menarik, Abbas biara itu meramalkan bahwa Yohanes akan menjadi 'terang besar' bagi Gereja.
Beberapa tahun setelah kaulnya, Yohanes mengundurkan diri dari pertapaan di gunung Sinai itu dan memencilkan diri ke gurun pasir yang sunyi. Di sana ia mempelajari riwayat para kudus serta berbagai tulisan mereka. Usaha ini berhasil membentuk kepribadiannya menjadi seorang yang bijaksana dan suci. Banyak orang yang tertarik dengan kepribadiannya rajin datang memintai nasehat dan bimbingannya. la seridiri pun sangat sering mengunjungi para pertapa lain di Mesir.  Tentang para pertapa Mesir itu, Yohanes berkata: "Kebanyakan mereka sudah tua; rambut mereka sudah putih termakan usia; kulit mereka berkerut keriput; tetapi wajah mereka ceria dan memancarkan kebijaksanaan hidup yang mendalam; keramahan dan kegembiraan mereka membuat saya senang berada di antara mereka; hati mereka tertuju kepada Allah dalam kepolosan dan kemurnian".
Dalam usia 70 tahun Yohanes dipilih menjadi Abbas di tempat pertapaan gunung Sinai.  la menulis sebuah buku mengenai kesempurnaan hidup Kristiani, yang terkenal selama berabad-abad. Pada hari-hari menjelang kematiannya, ia mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk berdoa dan bertapa.  la meninggal pada tahun 649.


Santa Roswita, Pengaku Iman
Roswita hidup antara tahun 935-1000. Orang-tuanya yang kaya itu memasukkan dia dalam biara Gandersheim di Jerman untuk dididik oleh suster-suster di biara itu. Mereka berharap anaknya bisa memperoleh pendidikan yang baik. Sesudah dewasa, Roswita memutuskan untuk menjadi suster di biara itu. Suster Roswita pandai menggubah syair dan mengarang buku-buku roman dan buku-buku keagamaan.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-03-29 Minggu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Minggu Palma (Mengenangkan Sengsara Tuhan)

Minggu, 29 Maret 2026



Bacaan Pertama
Yes 50:4-7

"Pemberkatan Daun Palma dan Perarakan."

BACAAN SEBELUM PERARAKAN
Mat 21:1-11

Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.

Inilah Injil Yesus Kristus Menurut Matius:

Dalam perjalanan ke Yerusalem,
ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem
dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun,
Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan,
"Pergilah ke kampung yang di depanmu itu.
Di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat,
dan anaknya ada dekatnya.
Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku.
Jikalau orang menegur kamu,
katakanlah 'Tuhan memerlukannya.
Ia akan segera mengembalikannya'."

Hal itu terjadi
supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi:
   Katakanlah kepada puteri Sion:
   Lihat, Rajamu datang kepadamu!
   Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai,
   seekor keledai beban yang muda.

Maka pergilah kedua murid itu,
dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka.
Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya,
lalu mengalasinya dengan pakaian mereka,
dan Yesus pun naik ke atasnya.
Orang banyak yang sangat besar jumlahnya
menghamparkan pakaiannya di jalan;
ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon
dan menyebarkannya di jalan.
Dan orang banyak yang berjalan di depan dan di belakang Yesus berseru,
"Hosana bagi Anak Daud!
Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!
Hosana di tempat yang mahatinggi!"

Ketika Yesus masuk ke Yerusalem,
gemparlah seluruh kota itu,
dan orang berkata, "Siapakah orang ini?"
Dan orang banyak itu menyahut,
"Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

Demikianlah sabda Tuhan.

BACAAN PERTAMA PADA PERAYAAN EKARISTI
Yes 50:4-7

"Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai,
karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu."

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid,
supaya dengan perkataanku aku dapat memberi semangat baru
kepada orang yang letih lesu.
Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku
untuk mendengar seperti seorang murid.

Tuhan Allah telah membuka telingaku,
dan aku tidak memberontak,
tidak berpaling ke belakang.
Aku memberi punggungku
kepada orang-orang yang memukuli aku,
dan pipiku kepada orang-orang yang mencabuti janggutku.
Aku tidak menyembunyikan mukaku
ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan Allah menolong aku;
sebab itu aku tidak mendapat noda.
Maka aku meneguhkan hatiku seperti teguhnya gunung batu,
karena aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat malu.

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Mzm 22:8-9.17-18a.19-20.23-24,R:2a

Refren: Allahku, ya Allahku, mengapa Kautinggalkan daku?

*Semua yang melihat aku mengolok-olok;
mereka mencibirkan bibir dan menggelengkan kepala!
Mereka bilang, "Ia pasrah kepada Allah!
Biarlah Allah yang meluputkannya,
biarlah Allah melepaskannya!
Bukankah Allah berkenan kepadanya?"

*Sekawanan anjing mengerumuni aku,
gerombolan penjahat mengepung aku,
mereka menusuk tangan dan kakiku.
Segala tulangku dapat kuhitung.

*Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka,
dan membuang undi atas jubahku.
Tetapi Engkau, Tuhan, janganlah jauh;
ya kekuatanku, segeralah menolong aku!

*Maka aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku
dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat:
Hai kamu yang takut akan Tuhan, pujilah Dia,
hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia!
Gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!



Bacaan Kedua
Flp 2:6-11

"Yesus Kristus telah merendahkan diri;
maka Allah sangat meninggikan Dia."

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:

Saudara-saudara,
walau dalam rupa Allah,
Kristus Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan.
Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri,
dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia
dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lututlah
segala yang ada di langit, yang ada di atas bumi dan di bawah bumi,
dan bagi kemuliaan Allah Bapa
segala lidah mengaku 'Yesus Kristus adalah Tuhan!'

Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil
Flp 2:8-9

Kristus sudah taat bagi kita;
Dia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia
dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama.



Bacaan Injil
Mat 26:14-27:66

""

Inilah Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa,
pergilah seorang dari keduabelas murid Yesus,
yaitu yang bernama Yudas Iskariot,
kepada imam-imam kepala.
Ia berkata kepada mereka,
"Apa yang hendak kamu berikan kepadaku,
supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?"
Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
Dan mulai saat itu
Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
Pada hari pertama dari Hari Raya Roti Tidak Beragi
datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata,
"Di manakah Engkau kehendaki
kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
Jawab Yesus, "Pergilah ke kota, kepada si Anu,
dan katakan kepadanya: Beginilah pesan Guru:
Waktu-Ku hampir tiba;
di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah
bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
Lalu murid-murid melakukan
seperti apa yang ditugaskan Yesus kepada mereka,
dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam,
Yesus duduk makan bersama dengan kedua belas murid itu.
Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata,
"Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
Dan dengan hati yang sangat sedih
berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya,
"Bukan aku, ya Tuhan?"
Yesus menjawab,
"Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini,
dialah yang akan menyerahkan Aku.
Anak Manusia memang akan pergi
sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia,
tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!
Adalah lebih baik bagi orang itu
sekiranya ia tidak dilahirkan!"
Yudas, yang hendak menyerahkan Yesus itu menyahut,
"Bukan aku, ya Rabi?"
Kata Yesus kepadanya, "Engkau telah mengatakannya."

Ketika mereka sedang makan,
Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya,
lalu memberikannya kepada para murid-Nya seraya berkata,
"Ambillah dan makanlah,
inilah tubuh-Ku."
Sesudah itu Ia mengambil cawan,
mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka seraya berkata,
"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini!
Sebab inilah darah-Ku,
darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang
untuk pengampunan dosa.
Aku berkata kepadamu:
Mulai saat ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini
sampai pada hari Aku meminumnya yang baru
bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku."

Sesudah menyanyikan lagu pujian,
pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.
Maka berkatalah Yesus kepada mereka,
"Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku.
Sebab ada tertulis:
   Aku akan membunuh gembala
   dan kawanan domba akan tercerai-berai.
Akan tetapi sesudah bangkit,
Aku akan mendahului kamu ke Galilea."
Petrus menjawab,
"Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau,
aku sekali-kali tidak!"
Yesus berkata kepadanya,
"Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok,
engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
Kata Petrus kepada-Nya,
"Sekalipun harus mati bersama-sama Engkau,
aku takkan menyangkal Engkau."
Semua murid yang lain pun berkata demikian juga.

Maka sampailah Yesus bersama murid-murid-Nya ke suatu tempat
yang bernama Getsemani.
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
Yesus membawa Petrus, dan kedua anak Zebedeus serta-Nya.
Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
lalu kata-Nya kepada mereka,
"Hati-Ku sangat sedih,
seperti mau mati rasanya!
Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah bersama Aku."
Yesus maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya,
"Ya Bapa-Ku, sekiranya mungkin,
biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku,
tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki,
melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Setelah itu Yesus kembali kepada murid-murid-Nya,
dan mendapati mereka sedang tidur.
Maka Yesus berkata kepada Petrus,
"Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan!
Roh memang penurut, tetapi daging ini lemah!"
Lalu Yesus pergi untuk kedua kalinya dan berdoa,
"Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak dapat lalu
kecuali kalau Kuminum,
jadilah kehendak-Mu!"
Dan ketika kembali pula,
Ia mendapati murid-murid-Nya sedang tidur,
sebab mata mereka sudah berat.
Yesus membiarkan mereka,
lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya,
dan Ia mengucapkan doa yang sama.
Sesudah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya
dan berkata kepada mereka,
"Tidurlah sekarang, dan istirahatlah!
Lihat, saatnya sudah tiba
Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
Bangunlah, marilah kita pergi.
Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Waktu Yesus masih berbicara, datanglah Yudas,
salah seorang dari keduabelas murid Yesus,
dan bersama-sama dia datang pula serombongan besar orang
yang membawa pedang dan pentung;
mereka itu suruhan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

Orang yang menyerahkan Yesus
telah memberitahukan tanda ini kepada mereka,
"Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah!"
Segera Yudas maju mendapatkan Yesus dan berkata,
"Salam, ya Rabi!"
Lalu ia mencium Yesus.
Tetapi Yesus berkata kepadanya,
"Hai teman, untuk itukah engkau datang?"
Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.
Tetapi salah seorang dari mereka yang menyertai Yesus
mengulurkan tangan, menghunus pedang,
dan menetakkannya kepada hamba Imam Agung,
sehingga putuslah telinganya.
Maka kata Yesus kepadanya,
"Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya,
sebab barangsiapa menggunakan pedang,
ia akan binasa oleh pedang.
Atau kausangka, Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku,
supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat
untuk membantu Aku?
Tetapi kalau begitu,
bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci,
yang mengatakan bahwa harus terjadi demikian?"

Lalu Yesus berkata kepada orang banyak itu,
"Sangkamu Aku ini penyamun,
sehingga kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung
untuk menangkap Aku?
Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah,
dan kamu tidak menangkap Aku.
Akan tetapi semua ini terjadi
supaya genaplah apa yang tertulis dalam kitab nabi-nabi."
Lalu semua murid meninggalkan Yesus dan melarikan diri.

Sesudah menangkap Yesus,
mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Agung.
Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua.
Petrus mengikuti Yesus dari jauh,
sampai masuk ke halaman Imam Agung.
Setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal
untuk melihat kesudahan perkara itu.

Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama,
mencari kesaksian palsu terhadap Yesus,
supaya Ia dapat dihukum mati.
Tetapi mereka tidak memperolehnya,
walaupun tampil banyak saksi dusta.
Akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan,
"Orang ini berkata:
Aku dapat merobohkan Bait Allah
dan membangunnya kembali dalam tiga hari."
Lalu Imam Agung itu berdiri dan berkata kepada Yesus,
"Tidakkah Engkau memberi jawab
atas tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"
Tetapi Yesus tetap diam.
Lalu kata Imam Agung itu kepada-Nya,
"Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami,
apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau atau bukan?"
Jawab Yesus, "Engkau telah mengatakannya.
Aku berkata kepadamu,
mulai sekarang kamu akan melihat
Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa
dan datang di atas awan-awan di langit."
Maka Imam Agung itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata,
"Ia menghujat Allah!
Untuk apa kita cari saksi lagi?
Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.
Bagaimana pendapatmu?"
Mereka menjawab, "Ia harus dihukum mati!"

Lalu mereka meludahi wajah Yesus dan meninju-Nya;
orang-orang lain memukul Dia dan berkata,
"Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias,
siapakah yang memukul Engkau?"
Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman.
Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, dan berkata,
"Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu."
Tetapi Petrus menyangkalnya di depan semua orang, katanya,
"Aku tidak tahu apa yang engkau maksud!"
Ketika Petrus pergi ke pintu gerbang,
seorang perempuan lain melihat dia
dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ,
"Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu."
Dan Petrus menyangkalnya pula dengan bersumpah,
"Aku tidak kenal orang itu!"
Tidak lama kemudian
orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata,
"Pasti engkau pun salah seorang dari mereka!
Ini jelas dari bahasamu!"
Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah,
"Aku tidak kenal orang itu!"
Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya,
"Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedih.

Ketika hari mulai siang,
semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul,
dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.
Mereka membelenggu Dia,
lalu menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Yesus melihat,
bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati,
menyesallah ia.
Lalu ia mengembalikan uang tiga puluh perak itu
kepada imam-imam kepala dan kaum tua-tua sambil berkata,
"Aku telah berdosa
karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah."
Tetapi jawab mereka,
"Apa urusan kami dengan itu?
Itu urusanmu sendiri!"
Maka Yudas pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci,
lalu pergi dari situ dan menggantung diri.
Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata,
"Tidak boleh memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan,
sebab ini uang darah!"
Sesudah berunding,
mereka membeli dengan uang itu tanah
yang disebut Tanah Tukang Periuk
untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.
Itulah sebabnya
sampai hari ini tanah itu disebut Tanah Darah.
Dengan demikian
genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:
   "Mereka menerima tiga puluh uang perak,
   yaitu harga yang ditetapkan untuk satu orang
   menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,
   dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk,
   seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku."

Lalu Yesus dihadapkan kepada walinegeri, yakni Pilatus.
Dan walinegeri bertanya kepada Yesus,
"Benarkah Engkaukah raja orang Yahudi?"
Jawab Yesus, "Engkau sendiri mengatakannya!"
Tetapi atas tuduhan
yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap diri-Nya,
Yesus tidak memberi jawab apa pun.
Maka kata Pilatus kepada-Nya,
"Tidakkah Engkau dengar
betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"
Tetapi Yesus tidak menjawab sepatah kata pun,
sehingga walinegeri itu sangat heran.
Telah menjadi kebiasaan bagi walinegeri
untuk membebaskan seorang hukuman pada tiap-tiap hari raya
atas pilihan orang banyak.
Pada waktu itu
ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya,
namanya Barabas.
Karena mereka sudah berkumpul di sana,
Pilatus bertanya kepada mereka,
"Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu,
Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"
Pilatus sebenarnya tahu
bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan,
isterinya mengirim pesan kepadanya,
"Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu,
sebab dalam mimpi tadi malam
aku sangat menderita karena Dia."

Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan kaum tua-tua,
orang banyak bertekad meminta supaya Barabas dibebaskan,
dan Yesus dihukum mati.
Walinegeri menjawab dan bertanya lagi kepada mereka,
"Siapa di antara kedua orang itu
yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?"
Kata mereka, "Barabas!"
Kata Pilatus kepada mereka,
"Kalau begitu,
apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut Kristus?"
Mereka semua berseru, "Ia harus disalibkan!"
Kata Pilatus,
"Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?"
Namun semakin keras mereka berteriak,
"Ia harus disalibkan!"
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia,
malah sudah mulai timbul kekacauan,
ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak,
seraya berkata,
"Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini!
Itu urusan kamu sendiri!"
Dan seluruh rakyat itu menjawab,
"Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami
dan atas anak-anak kami!"
Lalu Pilatus membebaskan Barabas bagi mereka,
tetapi Yesus disesahnya,
lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Serdadu-serdadu walinegeri membawa Yesus ke gedung pengadilan,
lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul di sekeliling Yesus.
Mereka menanggalkan pakaian Yesus
dan mengenakan jubah ungu pada-Nya.
Mereka menganyam sebuah mahkota duri,
dan menaruhnya di atas kepala Yesus,
lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya.
Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya
dan mengolok-olokkan Dia,
"Salam, hai Raja orang Yahudi!"
Mereka meludahi-Nya,
dan mengambil buluh itu, dan memukulkannya ke kepala-Nya.
Sesudah mengolok-olokkan Dia,
mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya,
dan mengenakan kembali pakaian-Nya sendiri.
Kemudian mereka membawa Yesus ke luar untuk disalibkan.

Ketika berjalan ke luar kota,
mereka berjumpa dengan orang dari Kirene yang bernama Simon.
Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota,
artinya: Tempat Tengkorak.
Lalu mereka memberi Yesus minum anggur bercampur empedu.
Setelah mengecapnya, Yesus tidak mau meminumnya.

Sesudah menyalibkan Yesus,
para serdadu membagi-bagi pakaian Yesus dengan membuang undi.
Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.
Di atas kepala Yesus terpasang tulisan
yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum:
"Inilah Yesus Raja orang Yahudi."

Bersama Dia disalibkan dua orang penyamun,
seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.
Orang-orang yang lewat di sana menghujat Yesus,
dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata,
"Hai Engkau yang mau merobohkan Bait Suci
dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,
selamatkanlah diri-Mu!
Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib!"
Demikian juga imam-imam kepala bersama ahli Taurat dan tua-tua
mengolok-olokkan Yesus dan berkata,
"Orang lain Ia selamatkan,
tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!
Dia Raja Israel?
Baiklah Ia turun dari salib,
dan kami akan percaya kepada-Nya!
Ia menaruh harapan-Nya pada Allah:
biarlah Allah menyelamatkan Dia,
jikalau Allah berkenan kepada-Nya!
Karena Ia telah berkata, 'Aku adalah Anak Allah'."
Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama dengan Yesus,
mencela-Nya demikian juga.

Mulai dari jam dua belas
kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring,
"Eli, Eli, lama sabakhtani?
Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata,
"Ia memanggil Elia!"
Dan segera mendekatlah seorang dari mereka;
ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam,
lalu mencucukkannya pada sebatang buluh
dan memberi Yesus minum.
Tetapi orang-orang lain berkata,
"Jangan, baiklah kita lihat,
apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia."
Yesus berseru pula dengan suara nyaring,
lalu menyerahkan nyawa-Nya.

--Semua hening sejenak merenungkan wafat Tuhan--

Dan lihatlah,
tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah,
dan terjadilah gempa bumi.
Bukit-bukit batu terbelah, kubur-kubur terbuka,
dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.
Dan sesudah kebangkitan Yesus,
mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus,
dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Ketika menyaksikan gempa bumi dan apa yang telah terjadi,
kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus
lalu berkata, "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah."

Ada pula di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh,
yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia.
Di antara mereka terdapat Maria Magdalena,
Maria ibu Yakobus dan Yusuf,
dan ibu anak-anak Zebedeus.

Menjelang malam,
datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf,
yang telah menjadi murid Yesus juga.
Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta jenazah Yesus.
Pilatus memerintahkan supaya jenazah Yesus diserahkan kepadanya.
Yusuf pun mengambil jenazah itu,
mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih,
lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru,
yang digalinya di dalam bukit batu.
Sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu,
pergilah ia.
Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ,
duduk di depan kubur.
Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan,
datanglah imam-imam kepala bersama orang-orang Farisi menghadap Pilatus.
Kata mereka kepada Pilatus,
"Tuan, kami ingat,
bahwa si penyesat itu, sewaktu hidup-Nya berkata:
Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.
Karena itu perintahkanlah
untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga;
jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang mencuri Dia,
lalu mengatakan kepada rakyat:
Ia telah bangkit dari antara orang mati.
Penyesatan yang terakhir ini akan lebih buruk akibatnya
daripada yang pertama."
Kata Pilatus kepada mereka,
"Ini penjaga-penjaga bagimu,
pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya."
Maka pergilah mereka,
dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu
mereka memeterai kubur Yesus dan menjaganya.

Demikianlah sabda Tuhan.


ATAU BACAAN INJIL SINGKAT
Mat 27:11-54

Inilah Kisah Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus menurut Matius:

Sesudah ditangkap dan dihadapkan ke Mahkamah Agama Yahudi,
Yesus lalu dihadapkan kepada walinegeri, yakni Pilatus.
Dan walinegeri bertanya kepada Yesus,
"Benarkah Engkau raja orang Yahudi?"
Jawab Yesus, "Engkau sendiri mengatakannya!"

Tetapi atas tuduhan
yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap diri-Nya,
Yesus tidak memberi jawab apa pun.
Maka kata Pilatus kepada-Nya,
"Tidakkah Engkau dengar
betapa banyak tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"
Tetapi Yesus tidak menjawab spatah kata pun,
sehingga walinegeri itu sangat heran.

Telah menjadi kebiasaan bagi walinegeri
untuk membebaskan seorang hukuman pada tiap-tiap hari raya
atas pilihan orang banyak.
Pada waktu itu
ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya
namanya Barabas.
Karena mereka sudah berkumpul di sana,
Pilatus berkata kepada mereka,
"Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu,
Barabas atau Yesus yang disebut Kristus?"
Pilatus sebenarnya tahu
bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan,
isterinya mengirim pesan kepadanya,
"Jangan engkau mencampuri perkara Orang benar itu,
sebab dalam mimpi tadi malam aku sangat menderita karena Dia."

Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua,
orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan
dan Yesus dihukum mati.
Walinegeri menjawab dan bertanya lagi kepada mereka,
"Siapa di antara kedua orang itu
yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?"
Kata mereka, "Barabas!"
Kata Pilatus kepada mereka,
"Kalau begitu,
apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus yang disebut Kristus?"
Mereka semua berseru, "Ia harus disalibkan!"
Kata Pilatus,
"Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?"
Namun semakin keras mereka berteriak, "Ia harus disalibkan!"
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia,
malah sudah mulai timbul kekacauan,
ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak seraya berkata,
"Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini!
Itu urusan kamu sendiri!"
Dan seluruh rakyat itu menjawab,
"Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami
dan atas anak-anak kami!"
Lalu Pilatus membebaskan Barabas bagi mereka,
tetapi Yesus disesahnya, lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Serdadu-serdadu walinegeri membawa Yesus ke gedung pengadilan,
lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.
Mereka menanggalkan pakaian Yesus
dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.
Mereka menganyam sebuah mahkota duri,
dan menaruhnya di atas kepala Yesus,
lalu memberi Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya.
Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya
dan mengolok-olokkan Dia,
"Salam, hai raja orang Yahudi!"
Mereka meludahi-Nya,
lalu mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.
Sesudah mengolok-olokkan Dia,
mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya,
dan mengenakan kembali pakaian-Nya sendiri.

Kemudian mereka membawa Yesus ke luar untuk disalibkan.
Ketika berjalan ke luar kota,
mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon.
Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota,
artinya: Tempat Tengkorak.
Lalu mereka memberi Yesus minum anggur bercampur empedu;
setelah mengecapnya, Yesus tidak mau meminumnya.

Sesudah menyalibkan Yesus,
para serdadu membagi-bagikan pakaian Yesus dengan membuang undi.
Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.
Di atas kepala Yesus terpasang tulisan
yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum:
Inilah Yesus Raja orang Yahudi.

Bersama dengan Yesus disalibkan dua orang penyamun,
seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.
Orang-orang yang lewat di sana menghujat Yesus,
dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata,
"Hai Engkau yang mau merobohkan Bait Suci
dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,
selamatkanlah diri-Mu!
Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib!"
Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat dan tua-tua
mengolok-olokkan Yesus dan berkata,
"Orang lain Ia selamatkan,
tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!
Dia Raja Israel?
Baiklah Ia turun dari salib,
dan kami akan percaya kepada-Nya.
Ia menaruh harapan-Nya pada Allah;
biarlah Allah menyelamatkan Dia,
jikalau Allah berkenan kepada-Nya!
Karena Ia telah berkata, Aku adalah Anak Allah."
Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama dengan Yesus mencela-Nya demikian juga.
 
Mulai dari jam dua belas
kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring,
"Eli, Eli, lama sabakhtani?"
Artinya: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata,
"Ia memanggil Elia!"
Dan segera mendekatlah seorang dari mereka;
ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam,
lalu mencucukkannya pada sebatang buluh
dan memberi Yesus minum.
Tetapi orang-orang lain berkata,
"Jangan, baiklah kita lihat,
apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia."
Yesus berseru pula dengan suara nyaring,
lalu menyerahkan nyawa-Nya.

---Semua hening sejenak merenungkan wafat Tuhan---

Dan lihatlah,
tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah
dan terjadilah gempa bumi.
Bukit-bukit batu terbelah, kubur-kubur terbuka,
dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.
Dan sesudah kebangkitan Yesus,
mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus,
dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Ketika menyaksikan gempa bumi dan apa yang telah terjadi,
kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus lalu berkata,
"Sungguh, Orang ini adalah Anak Allah!"

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Minggu ini kita memasuki Pekan Suci, yang ditandai dengan Minggu Palma, sebuah gerbang menuju misteri terbesar dalam iman kita: sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Tema yang kita renungkan adalah bagaimana manusia menyambut Yesus sebagai Raja… tetapi kemudian menolak-Nya ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan mereka.

Waktu itu, telah santer berita tentang kehebatan Yesus yang melakukan banyak mukjizat, terutama ketika Ia membangkitkan Lazarus. Maka ketika Yesus datang ke Yerusalem, orang banyak menyambut-Nya dengan gegap gempita. Mereka menghamparkan daun palma, berseru, "Hosana bagi Anak Daud!" Mereka melihat Yesus sebagai raja yang akan membebaskan mereka dari penjajahan, seorang pemimpin kuat yang akan membawa kemenangan secara duniawi.

Namun Yesus tidak datang seperti yang mereka bayangkan. Ia masuk ke Yerusalem dengan menunggang keledai, bukan kuda perang. Tidak ada pasukan, tidak ada kekuatan militer. Ia datang dalam kerendahan hati, seperti yang dinubuatkan para nabi. Inilah kontras yang sangat tajam antara harapan manusia dan rencana Allah.

Dalam Bacaan Kedua, Rasul Paulus menegaskan bahwa Yesus "mengosongkan diri-Nya" dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib  [Flp 2:6-11]. Inilah jalan yang dipilih Yesus: bukan kekuasaan, melainkan pengorbanan; bukan kemenangan instan, melainkan ketaatan total kepada kehendak Bapa.

Selama beberapa hari di Yerusalem, Yesus justru melakukan hal-hal yang semakin membingungkan bagi banyak orang. Ia mengusir para pedagang dari Bait Allah, mengecam kemunafikan para pemimpin agama, dan tidak berpihak pada kepentingan politis mana pun. Ia tidak memenuhi ekspektasi sebagai "raja dunia" yang mereka harapkan.

Dan di sinilah titik baliknya.
Orang-orang yang sebelumnya berseru "Hosana", dalam waktu singkat berubah menjadi "Salibkan Dia". Mengapa? Karena Yesus tidak sesuai dengan harapan mereka. Mereka tidak mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran atas keinginan mereka sendiri.

Bacaan Pertama menggambarkan sikap seorang hamba Tuhan yang setia: "Aku tidak memberontak dan tidak berpaling ke belakang… aku meneguhkan hatiku seperti batu"  [Yes 50:4-7]. Inilah gambaran Yesus yang tetap teguh, meskipun harus menghadapi penderitaan dan penolakan.

Refleksi bagi kita menjadi sangat jelas dan tajam.
Bukankah sering kali kita juga seperti orang banyak itu? Kita mudah memuji Tuhan saat hidup berjalan sesuai harapan, tetapi mulai kecewa bahkan menjauh ketika jalan hidup kita tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita ingin Tuhan mengikuti rencana kita, bukan kita yang mengikuti rencana-Nya.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa dengan mudah terbawa arus opini, terpengaruh oleh suara mayoritas, ikut-ikutan menghakimi, tanpa sungguh-sungguh mencari kebenaran. Hari ini bersorak, besok bisa saja ikut "menyalibkan".
Minggu Palma mengajak kita untuk jujur melihat hati kita sendiri: apakah kita benar-benar mengikuti Yesus, atau hanya mengikuti harapan kita tentang Yesus?

Memasuki Pekan Suci ini, marilah kita menyiapkan hati, bukan hanya untuk mengenang sengsara Tuhan, tetapi juga untuk mengalami pembaruan hidup. Belajar dari Yesus yang taat, setia, dan rela berkorban.
Dan mari kita bertanya dalam hati:
ketika harapan kita tidak terpenuhi, apakah kita tetap berseru "Hosana"… atau justru tanpa sadar mulai berteriak "Salibkan Dia"?
"Hosana bagi Anak Daud!
Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!
Hosana di tempat yang mahatinggi!"
Amin.



Peringatan Orang Kudus
Santo Bertold, Rahib
Bertold dikenal sebagai seorang rahib. Bersama kawannya Brokard, Bertold bertapa di gunung Karmel, Palestina dan mendirikan Ordo Karmel pada awal abad ke-13. Brokard sangat dihormati oleh orang Islam.


Santo Yonah dan Berikjesu, Martir
Martir kakak beradik ini disiksa hingga mati karena meneguhkan iman banyak orang Kristen di berbagai penjara di Persia. Yonah ditindih dengan press sampai mati, sedangkan adiknya Berikjesu menemui ajalnya setelah dituangkan ter panas ke dalam mulutnya. Keduanya tak gentar sedikitpun menghadapi siksaan yang ditimpakan atas mereka. Mereka bahkan bersyukur karena turut serta bersama Kristus dalam penderitaannya untuk menyelamatkan manusia.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/


Liturgia Verbi 2026-03-28 Sabtu.

Liturgia Verbi (A-II)
Hari Biasa Pekan Prapaskah V

Sabtu, 28 Maret 2026



Bacaan Pertama
Yeh 37:21-28

"Aku akan menjadikan mereka satu bangsa."

Pembacaan dari Nubuat Yehezkiel:

Beginilah firman Tuhan Allah,
"Sungguh, Aku menjemput orang Israel
dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi;
Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru
dan akan membawa mereka ke tanah mereka.

Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka,
di atas gunung-gunung Israel,
dan satu orang raja memerintah mereka seluruhnya;
mereka tidak lagi menjadi dua bangsa,
dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan.

Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhala,
atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan,
atau dengan semua pelanggaran mereka.
Tetapi Aku akan melepaskan mereka,
dari segala penyelewengan mereka,
dengan mana mereka berbuat dosa.
Aku akan mentahirkan mereka,
sehingga mereka akan menjadi umat-Ku
dan Aku akan menjadi Allahnya.

Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya,
dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala.
Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku
dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia.
Mereka akan tinggal
di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub,
di mana nenek moyang mereka tinggal;
Sungguh, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka
akan tinggal di sana untuk selama-lamanya,
dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya.

Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka,
dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka.
Aku akan memberkati mereka dan melipat gandakan mereka,
dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka
untuk selama-lamanya.
Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka;
Aku akan menjadi Allah mereka
dan mereka akan menjadi umat-Ku.
Maka bangsa-bangsa akan mengetahui,
bahwa Aku, Tuhan, menguduskan Israel,
pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka
untuk selama-lamanya."

Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan
Yer 31:10.11-12ab.13,R:10d

Refren: Tuhan Allah menjaga kita
seperti gembala menjaga kawanan dombanya.

*Dengarlah firman Tuhan, hai bangsa-bangsa,
beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh,
katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel
akan mengumpulkannya kembali,
dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya!

*Sebab Tuhan telah membebaskan Yakub,
telah menebusnya
dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya.
Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion,
muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan Tuhan.

*Pada waktu itu
anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai,
orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira.
Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan,
akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan.



Bait Pengantar Injil
Yeh 18:31

Buanglah dari padamu
segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku
dan perbaharuilah hati serta rohmu.



Bacaan Injil
Yoh 11:45-56

"Yesus akan mati untuk mengumpulkan dan mempersatukan
anak-anak Allah yang tercerai berai."

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria,
dan yang menyaksikan sendiri
apa yang telah dibuat Yesus terhadap Lazarus
percaya kepada-Nya.
Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi,
dan menceriterakan kepada mereka,
apa yang telah dibuat Yesus itu.

Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi
memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul.
Mereka berkata, "Apakah yang harus kita buat?
Sebab orang itu membuat banyak mujizat.
Apabila kita biarkan Dia,
maka semua orang akan percaya kepada-Nya,
lalu orang-orang Roma akan datang,
dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita."

Tetapi seorang di antara mereka,
yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu,
berkata kepada mereka, "Kamu tidak tahu apa-apa!
Kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu,
jika satu orang mati untuk bangsa kita
dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."

Hal itu dikatakan Kayafas bukan dari dirinya sendiri.
Tetapi, sebagai Imam Besar pada tahun itu, ia bernubuat
bahwa Yesus akan mati untuk seluruh bangsa;
bukan untuk bangsa itu saja,
tetapi juga untuk mengumpulkan dan
mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.
Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum
di antara orang-orang Yahudi.
Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun,
ke sebuah kota yang bernama Efraim.
Di situ Ia tinggal bersama murid-murid-Nya.

Waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat,
dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem
untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu.
Mereka mencari Yesus, dan sambil berdiri di dalam Bait Allah,
mereka berkata seorang kepada yang lain,
"Bagaimana pendapatmu?
Akan datang jugakah Ia ke pesta?"

Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan Injil
Yang sering paling berbahaya bukanlah kebencian yang meledak-ledak, melainkan ketakutan yang dibungkus dengan alasan yang kelihatannya masuk akal. Itulah yang tampak pada bacaan hari ini. Setelah banyak orang mulai percaya kepada Yesus karena kebangkitan Lazarus, imam-imam kepala dan orang-orang Farisi merasa situasi sudah tidak aman lagi bagi mereka. Mereka lalu memanggil Mahkamah Agama. Mereka tidak datang dengan hati yang terbuka untuk mencari kebenaran, melainkan dengan pikiran yang sudah dipenuhi kecemasan, kepentingan, dan niat untuk menghentikan Yesus.

Di situlah Kayafas berbicara. Kata-katanya terdengar tegas, bahkan seolah-olah bijaksana: lebih berguna kalau satu orang mati untuk bangsa itu daripada seluruh bangsa binasa. Kalimat ini sangat kuat, tetapi sekaligus sangat mengerikan. Sebab di balik kalimat itu tersembunyi logika yang sesat: demi menyelamatkan keadaan, orang benar boleh dikorbankan; demi menjaga stabilitas, kebenaran boleh disingkirkan; demi melindungi kepentingan bersama, orang yang dianggap mengganggu boleh dilenyapkan.

Inilah wajah niat busuk yang sering tidak tampil sebagai niat busuk. Ia datang dengan bahasa yang rapi, dengan argumentasi yang tampak rasional, dengan alasan demi lembaga, demi ketertiban, demi organisasi, demi masyarakat, demi nama baik, demi keamanan. Padahal sesungguhnya yang sedang bekerja adalah rasa terancam. Orang-orang itu takut kehilangan pengaruh, takut kehilangan posisi, takut kehilangan kontrol, takut kehilangan kenyamanan. Dan karena takut, mereka mulai merancang yang salah. Karena merasa terancam, mereka lalu membenarkan perbuatan jahat.

Bacaan Pertama dari Yehezkiel justru menunjukkan arah yang sebaliknya. Tuhan berbicara tentang penyatuan, tentang pemulihan, tentang perjanjian damai, tentang kehadiran-Nya di tengah umat. Tuhan menghendaki kehidupan yang utuh, bukan persekongkolan yang menghancurkan. Tuhan menghendaki penggembalaan, bukan manipulasi. Tuhan menghendaki damai yang lahir dari kebenaran, bukan ketenangan semu yang dibangun di atas pengorbanan orang lain.

Kalau direnungkan lebih dalam, semangat Kayafas itu ternyata tidak mati sampai sekarang. Di zaman sekarang pun hal yang sama masih sering terjadi. Ada orang yang karena merasa tersaingi, lalu mulai menyebarkan isu. Ada yang karena takut pengaruhnya berkurang, lalu membangun opini negatif terhadap orang lain. Ada yang karena khawatir posisinya digeser, lalu menghasut, membentuk kubu, memelintir fakta, dan mencari dukungan untuk menjatuhkan seseorang. Semua itu biasanya tidak dimulai dari tindakan besar. Mulainya sering dari hati yang gelisah, ego yang terluka, dan rasa takut kehilangan tempat.

Bahkan kadang-kadang penghasutan dilakukan dengan sangat halus. Bukan dengan teriakan, melainkan dengan bisikan. Bukan dengan tuduhan terbuka, melainkan dengan kalimat-kalimat yang diarahkan. Bukan dengan kebohongan yang kasar, melainkan dengan potongan-potongan fakta yang disusun untuk menggiring kesimpulan tertentu. Di permukaan tampak seperti diskusi, seperti keprihatinan, seperti kewaspadaan. Tetapi di bawahnya, ada rencana yang tidak lurus.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk waspada terhadap hal seperti itu, bukan hanya pada orang lain, tetapi terutama pada diri sendiri. Jangan-jangan kita pun pernah bersikap seperti itu. Ketika merasa terancam, kita mulai mencari pembenaran untuk melukai. Ketika merasa tidak nyaman, kita mulai mengumpulkan orang-orang yang sepaham agar bisa menekan orang lain. Ketika merasa kalah, kita tergoda memakai cara-cara yang tidak benar supaya keadaan kembali berpihak kepada kita.

Yesus menghadapi persekongkolan itu bukan karena Ia salah, tetapi justru karena Ia benar. Kebenaran-Nya membuat banyak orang gelisah. Terang-Nya membongkar isi hati yang gelap. Dan memang begitulah sering terjadi: orang yang hidup lurus kadang dianggap ancaman oleh mereka yang tidak mau bertobat.

Maka renungan hari ini mengajak kita memeriksa hati dengan jujur. Apakah saya sedang memperjuangkan kebenaran, atau sedang membela kepentingan diri dengan memakai bahasa kebenaran? Apakah saya sungguh mencari jalan yang benar, atau sedang menyusun alasan-alasan yang kelihatan baik untuk menutupi niat yang salah? Apakah saya membawa damai, atau justru menambah panas suasana lewat bisikan, prasangka, dan penghasutan?

Tuhan tidak pernah membangun keselamatan melalui tipu daya. Tuhan tidak pernah memulihkan umat dengan cara mengorbankan orang benar demi ambisi orang-orang tertentu. Jalan Tuhan adalah jalan kebenaran, sekalipun kadang tidak mudah. Karena itu, ketika kita merasa terancam, jangan biarkan ketakutan berubah menjadi niat busuk. Jangan biarkan kegelisahan berubah menjadi persekongkolan. Jangan biarkan rasa tidak aman membuat kita merencanakan sesuatu yang salah.

Lebih baik kehilangan gengsi daripada kehilangan hati nurani. Lebih baik mundur dari niat jahat daripada menang dengan cara yang salah. Sebab pada akhirnya, yang Tuhan kehendaki bukan kemenangan kelompok kita, melainkan keselamatan dan damai yang lahir dari kebenaran.



Peringatan Orang Kudus
Santo Doroteus dari Gaza, Pengaku Iman
Selagi dalam pendidikan Doroteus bosan dengan segala macam pelajaran di sekolah. "Lebih baik aku memegang ular daripada membolak- balik buku pelajaran" katanya. Tetapi lama kelamaan ia merobah sikapnya yang konyol itu dan berjuang menghilangkannya. Hasilnya ialah ia kemudian menjadi orang yang amat rajin dan suka belajar dan membaca.
Semangat baru ini kemudian menghantar dia ke dalam kehidupan membiara pada tahun 530 di sebuah biara di Palestina. Kepada rekan-rekannya ia mengatakan: "Jika kita dapat mengalahkan perasaan bosan dan segan belajar sehingga kita menjadi orang yang suka belajar, maka tentunya kita juga dapat mengalahkan hawa nafsu dan menjadi orang kudus". Kata-kata ini menunjukkan tekadnya yang keras membaja untuk mencapai kesempumaan hidup lewat cara hidup membiara. Salah satu caranya ialah senantiasa bersikap terus terang, dan terbuka hati dan pikiran kepada atasan dan rekan-rekannya. Dengan cara ini ia memperoleh ketenangan batin dan semangat dalam menjalani cara hidup membiara. Dalam bukunya ia menulis: "Barangsiapa rajin berdoa dan bermati-raga serta berusaha sungguh-sungguh menguasai kehendaknya, ia akan mencapai ketenteraman batin yang membahagikan".
Doroteus mencapai kemajuan pesat dalam kehidupan rohaninya dan kemudian mendirikan dan memimpin sebuah biara pertapaan di Gaza. la berusaha memajukan pertapaannya dengan menjalankan pekerjaan- pekerjaannya dengan baik dan menciptakan persaudaraan antar para rahibnya. la selalu berlaku ramah terhadap rekan-rekannya. Tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengalami banyak masalah. Godaan dan penyakit merupakan pencobaan besar baginya. Namun ia tetap riang. Kepada rekan-rekannya ia mengatakan: "Tidaklah sukar mencari dan menemukan sebab-musabab dari semuanya itu. Baiklah kalau kita mempercayakan diri kepada Tuhan sebab la tahu apa yang penting dan berguna bagi kita ". Tulisan-tulisan rohaninya sangat bagus, sehingga pada abad ke-17 tulisan-tulisan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Inggris.
Bagi Doroteus, kesucian tidak sama dengan mengerjakan mujizat- mujizat dan/atau menjalankan puasa dan tapa. Semuanya itu memang baik dan berguna, kesucian itu suatu tindakan menyangkal diri sendiri dan menundukkan kehendak pribadi pada kehendak Tuhan atau menghendaki semata-mata apa yang dikehendaki Tuhan, demi cinta kasih akan Dia. Dengan berusaha mencapai tujuan inilah, maka Doroteus akhirnya menjadi orang kudus.




https://liturgia-verbi.blogspot.com/